JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah kembali menggulirkan rencana konversi energi di sektor rumah tangga melalui program pembagian kompor listrik mulai 2027.
Program ini disiapkan sebagai salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG) yang selama ini masih mendominasi pasokan nasional.
Untuk merealisasikan program tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan anggaran sebesar Rp 815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
KOMPAS.COM/BAYU APRILIANO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pasokan batubara untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional dalam kondisi aman hal itu disampaikan Bahlil saat berkunjung di Kabupaten Purworejo pada Jumat (19/6/2026).Usulan tersebut disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Bahlil mengatakan, pengadaan kompor listrik menjadi bagian dari upaya pemerintah mencari alternatif energi rumah tangga di tengah tingginya ketergantungan terhadap LPG.
"Karena ini untuk mengurangi kebutuhan LPG, kita mencari untuk bauran energi lain. Jadi energi yang kita dorong ke depan, kompor listrik, CNG, macam-macam. Yang kita buat itu (kompor listrik) sebesar Rp 815,56 miliar," ujar Bahlil.
Menurut dia, sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional saat ini masih dipenuhi melalui impor. Kondisi tersebut membuat Indonesia harus mengeluarkan devisa dalam jumlah besar setiap tahunnya.
"Nah kalau kondisi ini terus kita biarkan tanpa mencari diversifikasi bauruan energi, itu akan menjadi soal. Maka salah satu alternatifnya adalah kita dorong kompor listrik," kata Bahlil.
Ia menyebut, nilai impor LPG mencapai sekitar Rp 120 triliun per tahun. Angka tersebut bahkan bisa meningkat menjadi sekitar Rp 130 triliun ketika harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berada pada level tinggi.
ANTARA/HO - Pertamina Patra Niaga Ilustrasi elpiji 5,5 kg dan 12 kg. Harga elpiji 5,5 kg dan 12 kg per 1 Januari 2026 di seluruh Indonesia.Selain biaya impor, pemerintah juga harus menanggung subsidi LPG yang nilainya telah melampaui Rp 80 triliun.
Menyasar rumah tangga berdaya listrik rendah
Meski telah mengusulkan anggaran, pemerintah belum menetapkan jumlah pasti kompor listrik yang akan dibagikan kepada masyarakat.
Bahlil mengatakan, jumlah unit yang akan disediakan diperkirakan baru dapat diumumkan pada Agustus mendatang.
Sebagai tahap awal, pemerintah akan menyiapkan kompor listrik yang dapat digunakan oleh rumah tangga dengan daya listrik di bawah 900 volt ampere (VA) atau watt. Sasaran utama program ini adalah masyarakat di daerah dan pedesaan yang umumnya memiliki kapasitas listrik terbatas.
"Sebagai tahap awal, karena ada beberapa model kompor listrik, yang sekarang kami minta itu di sekitar di bawah 900 VA, supaya rakyat yang di daerah-daerah, di desa itu bisa pakai," ujar Bahlil usai rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Ia menegaskan, pemilihan spesifikasi tersebut dilakukan agar masyarakat dapat menggunakan kompor listrik tanpa harus menambah daya listrik rumah tangga mereka.
"Supaya rakyat kita yang di daerah-daerah, yang di kecamatan, di desa itu bisa dipakai dengan listrik kapasitas daya mereka yang ada," kata Bahlil.
Program kompor listrik ini juga menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi impor.
Wacana lama yang kembali mencuat
Wacana konversi kompor LPG ke kompor listrik sebenarnya bukan hal baru.
SHUTTERSTOCK/BRIZMAKER Ilustrasi kompor listrik.Program serupa pernah digagas pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Namun, pada September 2022, PT PLN (Persero) memutuskan membatalkan program pengalihan kompor gaselpiji 3 kilogram ke kompor listrik.
Saat itu, keputusan tersebut diambil untuk menjaga kenyamanan masyarakat di tengah proses pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.
Belakangan, isu transisi energi kembali mengemuka setelah lonjakan harga energi global yang dipicu konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno sebelumnya juga mendorong pemerintah untuk kembali mengkaji peralihan penggunaan kompor gas ke kompor listrik.
Menurut Eddy, biaya yang dibutuhkan untuk program konversi kompor listrik dinilai lebih efisien dibandingkan besarnya subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan LPG.
Ia menilai ketergantungan terhadap LPG impor membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga minyak dunia yang pada akhirnya berimbas pada besaran subsidi energi.
Dinilai lebih murah dibanding LPG
Di tengah rencana pemerintah tersebut, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai biaya penggunaan kompor listrik dibandingkan kompor gas.
Guru Besar Bidang Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Deendarlianto menilai program kompor listrik merupakan langkah yang masuk akal untuk diterapkan di Indonesia.
"Itu sangat masuk akal (program kompor listrik). Tinggal bagaimana rantai pasok batu bara (untuk PLTU) ini berjalan," kata Deendarlianto saat dihubungi Kompas.com, Kamis (18/6/2026).
SHUTTERSTOCK/OLEK LU Ilustrasi kompor listrik.Menurut dia, masyarakat tidak perlu langsung khawatir bahwa penggunaan kompor listrik akan membuat tagihan listrik melonjak.
Ia menilai, jika dihitung berdasarkan konversi energi yang digunakan, biaya memasak dengan listrik justru dapat lebih murah dibandingkan LPG.
"Karena listrik itu per kWh lebih murah dibanding kompor gas (LPG). Jika hitungan per bulan, jatuhnya tetap murah," ujar dia.
Data Kementerian ESDM menunjukkan, rumah tangga pengguna LPG 3 kilogram umumnya membutuhkan sekitar tiga hingga lima tabung per bulan.
Biaya yang dikeluarkan untuk membeli isi ulang maupun tabung baru berbeda-beda di tiap daerah, tetapi dapat mencapai ratusan ribu rupiah setiap bulan.
Sementara itu, pengeluaran untuk listrik dinilai lebih terukur karena mengikuti tarif yang telah ditetapkan. Untuk rumah tangga non-subsidi, tarif listrik berkisar Rp 1.352 hingga Rp 1.699 per kilowatt hour (kWh).
Di sisi lain, kompor listrik tersedia dalam berbagai pilihan daya, mulai dari 300 watt hingga 1.000 watt.
Dengan demikian, masyarakat dapat menyesuaikan jenis kompor dengan kapasitas listrik yang tersedia di rumah.
"Bagi kalangan rumah tangga dengan kapasitas daya terbatas, misalnya menggunakan kompor listrik di bawah 500 watt saja biaya per bulannya tak sampai ratusan ribu," kata Deendarlianto.
"Kalau memasak, kan kebutuhan energinya dari segi biaya dibandingkan LPG, tetap saja listrik justru lebih murah," lanjut dia.
Tantangan pasokan listrik
PEXELS/KATERINA HOLMES Ilustrasi kompor listrik, memasak dengan kompor listrik.Meski mendukung program tersebut, Deendarlianto mengingatkan pemerintah untuk memastikan kesiapan sektor hulu, terutama terkait pasokan energi bagi pembangkit listrik.
Menurut dia, peningkatan penggunaan listrik di sektor rumah tangga harus diikuti dengan jaminan pasokan bahan bakar untuk pembangkit agar tetap aman dan stabil.
"Tentu bisa saja dikejar dengan perbaikan tata kelola rantai pasok batu bara untuk kebutuhan PLTU," ujarnya.
Ia mengatakan, tantangan infrastruktur kelistrikan di Indonesia juga berbeda antarwilayah karena kondisi geografis.
Di Pulau Jawa, sebagian besar listrik masih dipasok oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.
Sementara di luar Jawa, banyak daerah yang masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang menggunakan solar sebagai sumber energi utama.
Meski demikian, Deendarlianto menilai pemerintah saat ini terus mendorong penggantian PLTD dengan sumber energi terbarukan.
Transisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap keekonomian listrik dalam jangka panjang.
"Biayanya dibanding dengan PLTU yang menggunakan batu bara, memang lebih murah. Terutama bila fokusnya deradialisasi, bakal lebih murah lagi," kata dia.
Melalui pemerataan akses energi baru terbarukan dan stabilitas pasokan listrik dari sisi hulu, Deendarlianto menilai konsep penggunaan kompor listrik dapat diterapkan di berbagai wilayah Indonesia.
Ia berharap seluruh pihak dapat bergerak cepat menyiapkan regulasi dan ekosistem pendukung agar program tersebut dapat berjalan sesuai rencana.
"Kalau (kebijakan) ini saling tunggu-tunggu program ini enggak jalan," ucap Deendarlianto. (Penulis: Sandra Desi Caesaria, Erlangga Djumena, Yohana Artha Uly | Editor: Andika Aditia, Resa Eka Ayu Sartika)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang