Rupiah Ditutup Ambrol ke Rp16.949 per Dolar AS, Greenback Perkasa

Rupiah Ditutup Ambrol ke Rp16.949 per Dolar AS, Greenback Perkasa

Rupiah melemah ke Rp16.949 per dolar AS akibat lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik. Pemerintah perlu efisiensi anggaran dan fokus pada energi terbarukan.

(Bisnis.Com) 09/03/26 15:33 159281

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Senin (9/3/2026). Sejalan dengan itu, sebagian besar mata uang lain di Asia ditutup melemah terhadap greenback.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,14% ke Rp16.949. Sementara itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS bergerak menguat 0,27% ke level 99,24.

Selain rupiah, yen Jepang juga bergerak melemah 0,40%, dolar Singapura melemah 0,20%, dolar Taiwan melemah 0,67%, won Korea Selatan melemah 0,50%, peso Filipina melemah 0,82%, dan rupee India melemah 0,58%.

Selain itu, pelemahan juga dialami oleh yuan China yang terkoreksi 0,15%, ringgit Malaysia melemah 0,42%, dan baht Thailand melemah 0,58%. Penguatan hanya dialami oleh dolar Hong Kong yang naik 0,11%.

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi, menerangkan bahwa kinerja perkasa indeks dolar AS hari ini terjadi lantaran harga minyak yang melonjak hingga melampaui US$100 per barel. Hal itu disebut mendekati level tertinggi sejak perang Rusia—Ukraina 2022.

Lonjakan harga minyak itu disebut terjadi lantaran Iran memblokir Selat Hormuz, yang menjadi selat dengan jalur distribusi minyak utama untuk sebagian besar negara Asia, sehingga potensi penutupannya akan menyebabkan gangguan pasokan bagi sebagian besar wilayah Asia.

“Selain itu, Iran pada hari Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel,” katanya dalam rilis yang dipublikasikan, Senin (9/3/2026).

Selain itu, inflasi indeks harga konsumen China juga tumbuh 1,3% YoY pada Februari. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,9%, dan juga tumbuh dengan laju tercepat dalam tiga tahun.

Ibrahim menilai, angka inflasi tersebut terutama didorong oleh peningkatan pengeluaran selama liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang, karena permintaan untuk perjalanan, jasa, dan barang-barang diskresioner meningkat tajam.

Dari dalam negeri, harga minyak dunia yang telah menyentuh level tertinggi sejak 2020 telah melampaui asumsi makro APBN 2026 yang mematok harga di kisaran US$70 per barel.

“Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui US$ 100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4%,” katanya.

Menurutnya, dalam menghadapi situasi ini, pemerintah perlu melakukan efisiensi anggaran secara signifikan, sehingga hanya fokus untuk keperluan yang langsung berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Selain itu, pemerintah dinilai perlu menggencarkan program konversi energi ke energi baru dan terbarukan. Terakhir, stimulus ekonomi mesti digencarkan agar ekonomi tidak terpuruk dengan program deregulasi.

“Belanja pemerintah harus difokuskan hanya untuk kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan,” katanya.

Ibrahim memprediksi, rupiah akan bergerak fluktuatif dan cenderung ditutup melemah, pada perdagangan besok, pada level Rp16.950—Rp17.000.

#rupiah-melemah #nilai-tukar-rupiah #dolar-as-menguat #greenback-perkasa #mata-uang-asia #harga-minyak-melonjak #inflasi-china #apbn-2026 #defisit-fiskal #konversi-energi #stimulus-ekonomi #belanja-pem

https://market.bisnis.com/read/20260309/93/1958989/rupiah-ditutup-ambrol-ke-rp16949-per-dolar-as-greenback-perkasa