JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah perlambatan ekspor Indonesia pada Mei 2026, Jawa Barat masih mempertahankan posisinya sebagai penyumbang ekspor terbesar nasional.
Namun, di balik dominasi provinsi tersebut, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) juga memperlihatkan perubahan menarik dalam peta perdagangan Indonesia.
Sejumlah provinsi berbasis industri pengolahan dan hilirisasi sumber daya alam kini semakin memperkuat perannya sebagai motor ekspor nasional.
SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.BPS dalam laporan terbarunya yang dirilis pada Rabu (1/7/2026) mencatat, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 115,36 miliar dollar AS atau tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut sepenuhnya ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat 3,89 persen menjadi 110,19 miliar dollar AS, sementara ekspor migas turun 12,71 persen menjadi 5,17 miliar dollar AS.
Meski secara kumulatif masih tumbuh, kinerja ekspor pada Mei 2026 menunjukkan perlambatan. Nilai ekspor bulan tersebut tercatat sebesar 23,20 miliar dollar AS atau turun 5,73 persen dibandingkan Mei 2025.
Ekspor nonmigas juga turun 4,50 persen menjadi 22,45 miliar dollar AS.
Di tengah perlambatan tersebut, Jawa Barat tetap menjadi daerah dengan kontribusi terbesar terhadap ekspor nasional. Nilai ekspor provinsi ini mencapai 15,97 miliar dollar AS atau setara 13,85 persen dari total ekspor Indonesia sepanjang lima bulan pertama tahun ini.
Posisi tersebut menempatkan Jawa Barat di atas Sulawesi Tengah yang mencatat ekspor 10,40 miliar dollar AS dan Kepulauan Riau sebesar 10,01 miliar dollar AS.
PIXABAY/AWADPALESTINE Ilustrasi ekspor.Ketiga provinsi tersebut secara bersama-sama menyumbang 31,53 persen dari total ekspor nasional.
Jawa Barat tetap menjadi lokomotif ekspor Indonesia
Dominasi Jawa Barat menunjukkan, kawasan industri manufaktur di provinsi tersebut masih menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Indonesia.
Berdasarkan data BPS, sebagian besar ekspor Jawa Barat berasal dari pelabuhan yang berada di provinsi lain. Dari total ekspor 15,97 miliar dollar AS, hanya sekitar 588,8 juta dollar AS yang dikirim melalui pelabuhan di Jawa Barat.
Sementara sekitar 15,38 miliar dollar AS atau lebih dari 96 persen diekspor melalui pelabuhan di luar provinsi tersebut.
Pola tersebut memperlihatkan asal barang ekspor tidak selalu sama dengan lokasi pelabuhan pengapalan.
Sebagai salah satu pusat industri nasional, Jawa Barat menghasilkan berbagai produk ekspor yang kemudian dikirim melalui pelabuhan-pelabuhan besar di provinsi lain.
Dominasi Jawa Barat juga sejalan dengan struktur ekspor nasional yang masih didominasi hasil industri pengolahan. Sepanjang Januari-Mei 2026, sektor industri pengolahan menyumbang 94,62 miliar dollar AS atau 82,03 persen dari total ekspor Indonesia.
Nilai tersebut meningkat 6,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebaliknya, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 24,95 persen, sementara ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun 8,14 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa manufaktur masih menjadi penyangga utama ekspor Indonesia, sekaligus menjelaskan mengapa provinsi dengan basis industri yang kuat seperti Jawa Barat tetap berada di posisi teratas.
Sulawesi Tengah muncul sebagai kekuatan baru
UNSPLASH/ANDY LI Ilustrasi ekspor.Di sisi lain, data BPS juga memperlihatkan perubahan peta kekuatan ekspor nasional. Sulawesi Tengah kini menempati posisi kedua sebagai provinsi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai mencapai 10,40 miliar dollar AS atau sekitar 9,01 persen dari total ekspor nasional.
Capaian tersebut menempatkan Sulawesi Tengah di atas Kepulauan Riau, Jawa Timur, Riau, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, dan Maluku Utara yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan kontribusi ekspor besar.
Kuatnya posisi Sulawesi Tengah juga sejalan dengan perubahan komoditas ekspor nasional.
Dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar selama Januari-Mei 2026, nikel dan barang daripadanya menjadi komoditas dengan kenaikan paling tinggi, yakni mencapai 2,05 miliar dollar AS atau melonjak 60,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan tersebut menjadikan nikel sebagai salah satu motor pertumbuhan ekspor Indonesia pada awal tahun ini, sekaligus memperkuat kontribusi daerah-daerah penghasil dan pengolah nikel terhadap perdagangan nasional.
Kepulauan Riau hingga Kalimantan Timur tetap menjadi penopang ekspor Indonesia
Selain Jawa Barat dan Sulawesi Tengah, sejumlah provinsi lain juga masih menjadi tulang punggung ekspor Indonesia.
Data BPS menunjukkan Kepulauan Riau berada di posisi ketiga dengan nilai ekspor mencapai 10,01 miliar dollar AS atau berkontribusi 8,67 persen terhadap total ekspor nasional sepanjang Januari-Mei 2026.
Di bawahnya terdapat Jawa Timur dengan nilai ekspor 9,87 miliar dollar AS atau 8,56 persen, Riau sebesar 8,63 miliar dollar AS atau 7,48 persen, Kalimantan Timur sebesar 8,06 miliar dollar AS atau 6,99 persen, DKI Jakarta sebesar 7,33 miliar dollar AS atau 6,35 persen, serta Maluku Utara sebesar 7,27 miliar dollar AS atau 6,31 persen.
Shutterstock Ilustrasi kawasan industri.Masuknya sejumlah provinsi tersebut ke jajaran penyumbang ekspor terbesar menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan Indonesia tidak hanya bertumpu pada satu wilayah.
Daerah dengan basis manufaktur, kawasan industri, hingga wilayah yang mengandalkan komoditas tambang sama-sama memberikan kontribusi besar terhadap perdagangan luar negeri.
BPS juga mencatat terdapat perbedaan pola pengapalan barang antardaerah. Kepulauan Riau, misalnya, hampir seluruh ekspornya dikirim melalui pelabuhan di provinsi tersebut.
Dari total ekspor sebesar 10,01 miliar dollar AS, sekitar 10,00 miliar dollar AS berasal dari pelabuhan di Kepulauan Riau.
Pola serupa juga terlihat di Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Riau, dan Maluku Utara yang sebagian besar ekspornya diberangkatkan dari pelabuhan di wilayah masing-masing.
Berbeda dengan Jawa Barat dan Banten yang sebagian besar barang ekspornya dikapalkan melalui pelabuhan di provinsi lain.
Kondisi tersebut mencerminkan adanya keterhubungan antardaerah dalam rantai logistik nasional, di mana lokasi produksi tidak selalu berdekatan dengan lokasi pelabuhan ekspor.
Manufaktur tetap mendominasi ekspor Indonesia
Besarnya kontribusi Jawa Barat dan Kepulauan Riau juga sejalan dengan struktur ekspor nasional yang masih didominasi sektor industri pengolahan.
Sepanjang Januari-Mei 2026, ekspor hasil industri pengolahan mencapai 94,62 miliar dollar AS atau setara 82,03 persen dari total ekspor Indonesia. Nilai tersebut meningkat 6,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi satu-satunya sektor utama yang mencatat pertumbuhan positif.
Sebaliknya, ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 24,95 persen, sedangkan ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 8,14 persen.
PIXABAY/JANNO NIVERGALL Ilustrasi manufaktur, industri manufaktur.Dominasi sektor industri pengolahan juga tercermin dari komoditas ekspor utama Indonesia. Sepuluh golongan barang terbesar memberikan kontribusi 64,60 persen terhadap total ekspor nonmigas selama Januari-Mei 2026.
Di antara kelompok tersebut, nikel dan barang daripadanya mencatat pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 60,88 persen atau bertambah 2,05 miliar dollar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain nikel, peningkatan juga terjadi pada ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati, berbagai produk kimia, kendaraan dan bagiannya, mesin dan peralatan mekanis, serta alas kaki.
Sementara itu, logam mulia dan perhiasan mengalami penurunan terbesar, disusul besi dan baja.
Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekspor Indonesia pada awal 2026 ditopang oleh kombinasi produk manufaktur dan komoditas hasil hilirisasi, sementara beberapa komoditas lain masih mengalami tekanan.
Tujuan ekspor masih didominasi pasar Asia
Di sisi tujuan ekspor, China masih menjadi pasar utama bagi produk Indonesia.
BPS mencatat nilai ekspor nonmigas ke China selama Januari-Mei 2026 mencapai 28,54 miliar dollar AS atau sekitar 25,90 persen dari total ekspor nonmigas.
Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan nilai 12,73 miliar dollar AS, disusul India sebesar 7,43 miliar dollar AS. Ketiga negara tersebut menyerap 44,20 persen ekspor nonmigas Indonesia.
Komoditas utama yang diekspor ke China meliputi besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, ekspor ke kawasan ASEAN mencapai 22,13 miliar dollar AS dan ke Uni Eropa sebesar 7,99 miliar dollar AS sepanjang Januari-Mei 2026.
SHUTTERSTOCK/EVGHENY_V Ilustrasi nikel, penambangan nikel.Masih besarnya kontribusi pasar Asia terhadap ekspor Indonesia menunjukkan kawasan tersebut tetap menjadi tujuan utama berbagai produk nasional, baik yang berasal dari kawasan industri di Pulau Jawa maupun daerah penghasil komoditas di luar Jawa.
Pusat ekspor nasional semakin tersebar
Meski Jawa Barat masih mempertahankan status sebagai penyumbang ekspor terbesar nasional, data BPS memperlihatkan kekuatan ekspor Indonesia kini semakin tersebar di berbagai wilayah.
Provinsi berbasis manufaktur seperti Jawa Barat, Kepulauan Riau, dan Jawa Timur tetap menjadi kontributor utama.
Di saat yang sama, daerah seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara memperlihatkan peran yang semakin besar dalam menopang ekspor nasional, seiring meningkatnya nilai ekspor komoditas hasil hilirisasi seperti nikel.
Sementara provinsi seperti Riau dan Kalimantan Timur tetap menjadi penopang melalui ekspor komoditas berbasis sumber daya alam.
Peta tersebut menunjukkan bahwa struktur perdagangan Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada satu kawasan. Berbagai pusat produksi di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga kawasan timur Indonesia kini bersama-sama membentuk fondasi ekspor nasional.
Di tengah perlambatan ekspor pada Mei 2026, keberagaman pusat ekspor tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana aktivitas perdagangan Indonesia ditopang oleh kombinasi sektor manufaktur, hilirisasi mineral, serta komoditas berbasis sumber daya alam yang tersebar di berbagai daerah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang