#30 tag 24jam
OJK Bidik Kampus di Cirebon sebagai Basis Modal
OJK Cirebon menggandeng kampus untuk meningkatkan literasi keuangan mahasiswa, mendorong mereka menjadi investor cerdas dan menghindari investasi ilegal. [485] url asal
#ojk-cirebon #kampus-cirebon #investor-muda #literasi-keuangan #investasi-mahasiswa #pasar-modal #investasi-digital #investasi-ilegal #penipuan-investasi #profil-risiko #perencanaan-keuangan #prinsip-2
(Bisnis.Com - Terbaru) 02/07/26 08:20
v/265867/
Bisnis.com, CIREBON- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan investor muda di tengah meningkatnya partisipasi generasi muda di pasar modal.
Kampus kini dipandang bukan hanya sebagai tempat mencetak lulusan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi yang memiliki kemampuan mengelola keuangan dan berinvestasi secara rasional.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, mengatakan tantangan sektor jasa keuangan saat ini tidak lagi sebatas menambah jumlah investor baru. Yang lebih penting, menurut dia, adalah memastikan pertumbuhan investor berjalan seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat, risiko, dan karakteristik investasi.
“Mahasiswa merupakan generasi yang akan menentukan arah pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan. Karena itu mereka harus dibekali literasi keuangan yang kuat agar mampu menjadi investor yang cerdas, rasional, serta tidak mudah terpengaruh investasi ilegal maupun berbagai modus penipuan keuangan digital,” kata Agus, Rabu (1/7/2026).
Menurut Agus, perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah industri keuangan dan pasar modal. Akses investasi yang sebelumnya identik dengan kalangan tertentu kini semakin mudah dijangkau oleh masyarakat, termasuk mahasiswa.
Melalui berbagai platform digital, pembukaan rekening investasi dan transaksi pasar modal dapat dilakukan dengan cepat dan praktis.
Kemudahan tersebut mendorong munculnya tren baru di kalangan generasi muda. Jika sebelumnya kelompok usia muda lebih banyak menempatkan dana pada tabungan konvensional, kini semakin banyak yang mulai mengenal instrumen investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Namun di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru berupa maraknya penawaran investasi ilegal, perdagangan aset tanpa izin, hingga berbagai bentuk penipuan berkedok investasi yang menyasar generasi muda.
Karena itu, peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting untuk menciptakan masyarakat yang tangguh secara finansial.
Agus menegaskan, investasi seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses membangun kesejahteraan secara bertahap, bukan sarana memperoleh keuntungan instan.
Pemahaman mengenai profil risiko, tujuan keuangan, serta karakteristik produk investasi menjadi hal yang harus dimiliki setiap investor sebelum menempatkan dananya.
“Investasi bukan sekadar mengejar keuntungan dalam waktu singkat. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu menyusun perencanaan keuangan yang matang dan berinvestasi sesuai kebutuhan serta kemampuan masing-masing,” ujarnya.
OJK juga mengingatkan masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum memutuskan berinvestasi. Masyarakat diminta memastikan legalitas perusahaan atau pelaku usaha jasa keuangan melalui kanal resmi OJK serta mempertimbangkan secara rasional skema keuntungan yang ditawarkan.
Di sisi lain, perguruan tinggi dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam memperluas basis investor domestik. Kampus memiliki posisi strategis karena menjadi tempat berkumpulnya generasi muda yang sedang berada pada fase pembentukan pola pikir, termasuk dalam mengelola keuangan pribadi.
Kepala Pengelolaan Wilayah I Bursa Efek Indonesia, Thasrif Murhadi, menilai generasi muda memiliki potensi besar menjadi penggerak pertumbuhan investor pasar modal di daerah. Namun pertumbuhan tersebut harus dibarengi dengan pemahaman yang memadai mengenai risiko investasi.
Menurut Thasrif, investor muda yang berkualitas akan menjadi modal penting bagi penguatan pasar modal nasional.
“Selain meningkatkan partisipasi masyarakat dalam investasi, keberadaan investor yang memahami prinsip pengelolaan risiko juga dapat menciptakan ekosistem pasar modal yang lebih sehat dan berkelanjutan,” kata Thasrif.
Universitas sebagai Mesin Kepanikan Kelas Menengah
Kebahagiaan anak diterima di universitas segera berubah jadi perhitungan matang keluarga untuk menyiapkan seluruh biaya kuliah dan hidup yang membeludak. [1,377] url asal
#universitas #kelas-menengah #pendidikan #mahasiswa #biaya-kuliah #uang-kuliah-tunggal #perencanaan-keuangan #keluarga-indonesia #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 26/06/26 07:05
v/260215/
Kabar itu datang lewat layar gawai. Anak mereka diterima di universitas. Bapak membaca pengumuman dua kali. Ibu memanggil saudara. Grup WhatsApp keluarga ramai oleh ucapan selamat. Untuk beberapa jam, rumah itu terasa lapang.
Lalu keluarga membuka rincian biaya.
Uang Kuliah Tunggal harus dibayar. Kos harus dicari. Tiket keberangkatan perlu dibeli. Laptop lama sering mati. Buku, paket internet, uang makan, praktikum, organisasi, dan biaya pulang kampung masuk senarai baru. Keluarga itu tidak sedang membahas cita-cita. Mereka sedang menyusun cara agar bulan depan tetap cukup.
Di banyak rumah kelas menengah Indonesia, pendidikan tinggi hadir dengan wajah ganda. Ia membawa kebanggaan. Ia juga membawa kepanikan. Universitas membuka pintu bagi anak, lalu menyerahkan beban hitungan kepada keluarga.
Caitlin Zaloom, dalam Indebted: How families make college work at any cost (Princeton University Press), menunjukkan bahwa biaya kuliah mengubah hidup keluarga kelas menengah. Kuliah memberi kemungkinan masa depan, tetapi cara membayarnya membuat keluarga merasa tidak aman, berwalang hati, dan terikat oleh kewajiban moral (Zaloom, 2019, hlm. 1-2).
Indonesia tidak sama dengan Amerika Serikat. Kita tidak mengenal utang mahasiswa sebesar Amerika. Namun rasa takutnya mulai dekat. Banyak orang tua Indonesia tidak meminjam ke bank untuk membayar kuliah. Mereka memakai tabungan, meminjam kepada saudara, mengambil uang koperasi, menjual perhiasan, menunda renovasi rumah, atau menambah jam kerja.
Kelas Menengah yang Tampak Aman
Kelas menengah Indonesia sering tampak cukup. Mereka punya gaji bulanan. Mereka punya sepeda motor. Sebagian punya rumah cicilan. Anak mereka punya ponsel. Mereka bisa membayar sekolah, membeli seragam, menghadiri undangan keluarga, dan sesekali makan di luar. Namun rasa cukup itu mudah retak.
Satu anggota keluarga sakit, anggaran berubah. Satu orang tua kehilangan pekerjaan, rencana kuliah terganggu. Dua anak masuk perguruan tinggi pada waktu berdekatan, rumah mulai sesak oleh hitungan. Harga indekos naik, ongkos transportasi naik, biaya makan naik, keluarga mulai mengurangi kebutuhan lain.
Masalahnya, keluarga seperti ini sering tidak terlihat miskin. Mereka tidak selalu masuk prioritas bantuan penuh. Tetapi mereka juga tidak kaya. Kampus membaca mereka dari slip gaji. Negara membaca mereka dari data administrasi. Hidup sehari-hari membaca mereka dari cicilan, tanggungan keluarga besar, dan rasa malu untuk berkata, kami hampir tidak sanggup.
Di titik itulah universitas berubah menjadi mesin kepanikan kelas menengah. Ia tidak selalu menolak anak mereka. Ia menerima anak itu, lalu menempatkan orang tua di depan keputusan sulit. Membayar dengan mengurangi kebutuhan lain. Meminta anak memilih kampus lebih murah. Meminjam. Menjual aset kecil. Menunda pengobatan. Bekerja lebih lama. Diam.
Sejarah Kampus dan Seleksi Sosial
Sejarah pendidikan tinggi Indonesia tidak pernah lepas dari seleksi sosial. Pada masa kolonial, sekolah modern hanya membuka jalan bagi sedikit orang bumiputra. Sekolah dokter, hukum, teknik, dan administrasi melahirkan kelompok terdidik. Sebagian dari mereka kemudian memakai ilmu untuk menantang kolonialisme. Walakin sistem pendidikan itu tetap memilih. Ia menentukan siapa yang boleh masuk ruang ilmu dan siapa yang harus tetap berada di luar.
Setelah kemerdekaan, republik memberi arti baru kepada universitas. Kampus menjadi jalan bagi anak petani, anak guru, anak pegawai kecil, anak pedagang, dan anak buruh untuk membayangkan hidup yang berbeda. Gelar sarjana menjadi simbol naik kelas. Keluarga menyebutnya asa. Negara menyebutnya pembangunan.
Akan tetapi janji itu kiwari makin mahal. Kemdiktisaintek menyebut Angka Partisipasi Kasar pendidikan tinggi Indonesia berada pada 31,45%. Pemerintah menargetkan angka itu naik menjadi 38,04% pada 2029 (Kemdiktisaintek, 2025). Angka ini penting. Ia menunjukkan banyak lulusan sekolah menengah belum masuk perguruan tinggi.
Namun pertanyaan liyan perlu kita ajukan. Siapa yang masuk kampus dengan tenang? Siapa yang masuk kampus sambil takut menunggak? Siapa yang tidak pernah mendaftar karena keluarga menyerah sebelum mencoba?
Kuliah sebagai Taruhan Keluarga
Zaloom menyebut social speculation untuk menjelaskan keluarga yang membayar kuliah sebagai taruhan atas masa depan. Orang tua dan anak membayar hari ini karena berharap gelar memberi hidup yang lebih baik. Mereka tidak memegang jaminan. Mereka hanya memegang kemungkinan (Zaloom, 2019, hlm. 5-6).
Keluarga Indonesia mengenal taruhan itu. Mereka menjual hasil kebun. Mereka mengambil pinjaman koperasi. Mereka menunda memperbaiki rumah. Mereka meminta kakak bekerja lebih cepat. Mereka meminta adik menunggu giliran kuliah. Mereka tahu sarjana bisa menganggur. Mereka tahu ijazah tidak otomatis menjadi pekerjaan. Mereka tahu jaringan, kota asal, kemampuan bahasa, dan modal keluarga ikut menentukan jalan hidup.
Walakin mereka tetap membayar. Mereka bukan tidak rasional. Mereka tahu risikonya. Mereka memilih kuliah karena tidak membiayai anak terasa seperti kegagalan moral. Orangtua merasa kalah jika anak berhenti di depan gerbang universitas. Anak merasa bersalah jika biaya kuliah membuat rumah makin sempit.
BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 sebesar 4,68% dan rata-rata upah buruh sebesar Rp3,29 juta (BPS, 2026). Data ini tidak merendahkan nilai gelar. Data ini mengingatkan bahwa pasar kerja tidak selalu membalas pengorbanan keluarga dengan cepat.
Ketika Cinta Menjadi Transfer
Kita jarang membicarakan luka kecil di balik kuliah. Orangtua sering menyembunyikan kesulitan. Mereka berkata kepada anak, belajar baik-baik. Mereka tidak mengatakan bahwa uang bulan ini hampir habis. Anak juga sering menyembunyikan kekurangan. Ia tidak selalu berkata bahwa uang makan tidak cukup. Ia mengurangi makan, menunda membeli buku, mengambil kerja malam, atau menolak kegiatan kampus yang membutuhkan biaya tambahan.
Zaloom mendedah bahwa keluarga sering menganggap pembiayaan kuliah sebagai urusan pribadi. Mereka jarang melihatnya sebagai masalah publik. Akibatnya, beban struktural terasa seperti kegagalan rumah tangga (Zaloom, 2019, hlm. 4-5).
Indonesia mengenal rasa diam itu. Banyak orang tua merasa malu mengaku tidak sanggup. Banyak mahasiswa merasa bersalah meminta tambahan uang. Banyak kampus baru bergerak tatkala mahasiswa menunggak, cuti, atau hilang dari kelas.
Kampus perlu membaca tunggakan sebagai tanda sosial. Tunggakan tidak selalu berarti lalai. Kadang ia berarti ada keluarga yang sedang ungah-angih.
Dekolonisasi Cara Kampus Melihat Mahasiswa
Dekolonisasi pendidikan tinggi tidak berarti menolak ilmu modern, akreditasi, riset, teknologi, atau standar internasional. Dekolonisasi berarti menolak cara pandang yang melihat mahasiswa hanya sebagai angka, konsumen, input, output, atau calon tenaga kerja murah.
Warisan kolonial tidak hanya hidup dalam arsip. Ia hidup dalam cara kampus menilai pengetahuan. Ada ilmu yang dianggap tinggi. Ada pengalaman lokal yang dianggap rendah. Ada bahasa akademik yang dianggap sah. Ada bahasa keluarga, kampung, pasar, kebun, pesisir, dan madrasah yang dianggap kurang penting.
Kampus pascakolonial harus mengubah cara melihat mahasiswa. Mahasiswa tidak datang sebagai nomor pendaftaran. Ia datang membawa sejarah keluarga. Ia membawa bahasa ibu, asal daerah, pengalaman sosial, dan kecemasan ekonomi. Kampus yang adil tidak cukup membuka pintu masuk. Kampus harus memastikan mahasiswa dapat bertahan tanpa kehilangan martabat.
Langkah yang Bisa Dimulai
Perubahan tidak selalu harus menunggu pidato besar. Kampus dapat memulainya dari kebijakan semenjana.
Pertama, kampus harus menjelaskan dasar penetapan UKT. Keluarga berhak tahu mengapa mereka membayar angka tertentu.
Kedua, kampus perlu membuat banding UKT yang cepat dan manusiawi. Mahasiswa tidak perlu membuktikan kesulitan dengan cara yang merendahkan.
Ketiga, negara perlu memperkuat bantuan biaya hidup. Kartu Indonesia Pintar Kuliah penting. Pada 2026, alokasi KIP Kuliah mencapai Rp15,32 triliun dengan sasaran 1.047.221 mahasiswa (Kemdiktisaintek, 2026). Walakin mahasiswa tidak hidup dari UKT saja. Mereka perlu kos, makan, transportasi, internet, dan perangkat belajar.
Keempat, kampus perlu menyediakan kerja mahasiswa yang aman. Asisten riset, tutor sebaya, staf perpustakaan, pendamping laboratorium, dan kerja digital kampus dapat membantu mahasiswa tanpa merusak waktu belajar.
Kelima, universitas perlu mengembalikan pendidikan sebagai latihan berpikir. Mahasiswa memang membutuhkan pekerjaan. Namun republik juga membutuhkan warga yang mampu membaca kekuasaan, memahami sejarah, merawat lingkungan, dan bekerja dengan etika.
Hak atas Masa Depan
Zaloom menyebut right to the future sebagai hak anak muda untuk hidup layak, mengejar minat, dan tidak terkunci oleh beban masa lalu serta tekanan finansial keluarga (Zaloom, 2019, hlm. 190-193). Gagasan ini penting bagi Indonesia.
Pendidikan tinggi harus menjadi hak atas masa depan. Hak itu tidak berarti semua biaya hilang. Hak itu berarti negara dan kampus tidak boleh menyerahkan risiko pendidikan kepada keluarga secara diam-diam. Hak itu berarti mahasiswa tidak masuk kelas dengan kepala penuh tagihan. Hak itu berarti orangtua tidak membeli masa depan anak dengan rasa takut.
Arkian, bangsa ini sering berwicara tentang sumber daya manusia. Namun manusia tidak tumbuh baik dalam kepanikan. Jika universitas membuat keluarga kelas menengah bawah gemetar setiap semester, kita tidak sedang memperluas ilmu. Kita sedang menyempitkan republik.
Tolok ukur keberhasilan pendidikan tinggi tidak cukup dilihat dari jumlah mahasiswa baru, kampus unggul, atau peringkat global. Ukur juga berapa mahasiswa yang bisa makan layak. Ukur berapa keluarga yang tidak perlu menjual aset kecil. Ukur berapa anak muda yang bisa belajar tanpa merasa menjadi beban.
Universitas tidak boleh menjadi mesin kepanikan kelas menengah. Ia harus menjadi tempat keluarga biasa menitipkan harapan tanpa kehilangan harga diri.
Tips Membangun Kesiapan Finansial
Kesadaran finansial penting untuk kesejahteraan jangka panjang. Kelola arus kas dengan metode 50/30/20, siapkan dana darurat, dan investasi rutin. [385] url asal
#kesiapan-finansial #perencanaan-keuangan #investasi-jangka-panjang #edukasi-keuangan #pengembangan-karakter #kesuksesan-finansial #pola-pikir-sukses #pengelolaan-keuangan #literasi-keuangan #arus-kas
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 25/06/26 19:30
v/261258/
Bisnis.com, JAKARTA - Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keuangan dan investasi menjadi salah satu faktor utama dalam mewujudkan kesejahteraan finansial jangka panjang.
Di tengah semakin tingginya minat masyarakat untuk mengembangkan diri dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik, kebutuhan akan edukasi keuangan yang mudah diakses dan relevan menjadi semakin penting.
Founder ESQ Corporation, Ary Ginanjar Agustian, menyampaikan berdasarkan berbagai riset dan pengalaman yang dilakukan selama bertahun-tahun dalam pengembangan karakter manusia, dari 100 orang yang ingin berhasil, hanya sekitar 5% yang benar-benar mencapai kesuksesan, sementara 95% lainnya gagal tanpa pernah mengetahui ataupun menyadari apa yang menjadi penyebabnya.
"Banyak orang memiliki mimpi dan tujuan yang besar, tetapi tidak semua memahami faktor yang menentukan keberhasilan mereka. Sering kali yang menghambat bukanlah kemampuan, melainkan pola pikir, karakter, kebiasaan, dan kurangnya persiapan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Karena itu, katanya, penting menemukan potensi terbaik dalam diri agar mampu mencapai kehidupan yang lebih sukses dan bermakna," ujar Ary Ginanjar Agustian.
Direktur PT Generasi Paham Investasi (Ayovest), Sonny Afriansyah, menyampaikan, orang perlu memiliki kesiapan finansial yang lebih baik.
Karena baginya, kesuksesan jangka panjang perlu didukung oleh pengelolaan keuangan yang sehat dan kebiasaan investasi yang konsisten.
"Kami ingin mengajak lebih banyak masyarakat untuk memahami investasi sesuai profil risiko, kebutuhan, dan tujuan keuangan masing-masing," kata dia terkait digelarnya The Amazing You 6 Unlock Your Power.
Dia juga menyoroti pentingnya literasi keuangan nasional sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki visi serupa dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera secara finansial.
Membangun kesiapan finansial yang kokoh dapat dicapai dengan mengatur arus kas menggunakan metode 50/30/20, menyiapkan dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran, serta memulai investasi reksa dana secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Langkah Membangun Kesiapan Finansial menurut Ayovest
1. Kelola Arus Kas (Cashflow)
Gunakan metode penganggaran 50/30/20. Alokasikan 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk gaya hidup (hiburan), dan 20% untuk tabungan serta investasi masa depan.
2. Evaluasi Rutin
Lakukan pengecekan kesehatan keuangan berkala menggunakan fitur Ayovest Financial Checkup untuk mengetahui apakah kondisi keuangan Anda dalam keadaan sehat atau butuh perbaikan.
3. Siapkan Dana Darurat
Sisihkan dana likuid yang cukup untuk menutupi 3 hingga 6 bulan pengeluaran rutin Anda, sehingga Anda siap menghadapi risiko tak terduga tanpa harus berutang.
4. Tentukan Tujuan Keuangan
Susun resolusi keuangan yang spesifik (seperti dana menikah, dana pensiun, atau dana pendidikan) dan pantau perkembangannya.
Biaya Sekolah Kian Mahal, Dana Pendidikan Anak Perlu Disiapkan Sejak Dini
Kebutuhan biaya pendidikan yang terus meningkat mendorong pentingnya perencanaan keuangan keluarga sejak dini. [657] url asal
#biaya-pendidikan #pendidikan-anak #perencanaan-keuangan #ifg-life
(Kompas.com - Money) 24/06/26 13:32
v/258401/
JAKARTA, KOMPAS.com – Kebutuhan biaya pendidikan yang terus meningkat mendorong pentingnya perencanaan keuangan keluarga sejak dini.
Orang tua dinilai perlu mempersiapkan dana pendidikan anak jauh sebelum memasuki usia sekolah agar kebutuhan pendidikan di masa depan dapat terpenuhi tanpa mengganggu kondisi keuangan rumah tangga.
Berdasarkan publikasi Statistik Penunjang Pendidikan 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata biaya pendidikan pada jenjang sekolah dasar (SD) sederajat mencapai Rp 4,56 juta per tahun ajaran.
freepik.com Ilustrasi pendidikan.Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat pada jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) sederajat, yakni mencapai Rp 10,19 juta per tahun ajaran.
Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan menjadi salah satu kebutuhan jangka panjang yang membutuhkan perencanaan keuangan secara matang sejak dini.
PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) menilai perencanaan dana pendidikan perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga agar orang tua lebih siap menghadapi kebutuhan pendidikan anak pada masa mendatang.
Biaya pendidikan berbeda di setiap kelompok rumah tangga
Selain meningkat seiring jenjang pendidikan, besaran biaya pendidikan juga berbeda pada setiap kelompok rumah tangga.
Data BPS menunjukkan rata-rata biaya pendidikan SD sederajat pada kelompok 20 persen rumah tangga dengan pengeluaran tertinggi mencapai Rp 8,88 juta per tahun ajaran.
Sementara itu, pada kelompok 40 persen rumah tangga dengan pengeluaran terendah, rata-rata biaya pendidikan SD tercatat sebesar Rp 3,28 juta per tahun ajaran.
SHUTTERSTOCK Pelajar di sekolah seharusnya sudah diajarkan kemampuan 5C yang meliputi communication (komunikasi), collaboration (bekerja sama), critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), dan computational learning (penggunaan teknologi) untuk menunjang masa depannya.Perbedaan tersebut mencerminkan variasi kemampuan finansial dan pilihan pendidikan yang diambil masing-masing keluarga. Meski demikian, kebutuhan untuk mempersiapkan pendidikan anak tetap menjadi prioritas.
Direktur Bisnis Individu merangkap Pelaksana Tugas Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita, mengatakan setiap orang tua memiliki harapan untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
"Setiap orang tua tentu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Karena itu, perencanaan dana pendidikan sebaiknya tidak menunggu hingga anak memasuki usia sekolah, melainkan dipersiapkan sejak dini sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga. Dengan persiapan yang lebih matang, keluarga akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan cita-cita pendidikan anak tanpa mengganggu kebutuhan finansial lainnya," ujar Fabiola dalam keterangan resmi, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, selain menyiapkan dana pendidikan, keluarga juga perlu memperhatikan aspek perlindungan keuangan terhadap berbagai risiko yang dapat memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga.
"Pada saat yang sama, keluarga juga perlu mempersiapkan perlindungan terhadap berbagai risiko yang dapat memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga agar rencana pendidikan anak tetap dapat berjalan sesuai harapan," kata dia.
Relevan di tengah bonus demografi
IFG Life menilai kebutuhan perencanaan pendidikan sejak dini semakin relevan di tengah bonus demografi Indonesia.
Dengan mayoritas penduduk berada pada usia produktif, semakin banyak keluarga yang berada dalam fase membangun masa depan dan mempersiapkan berbagai kebutuhan jangka panjang, termasuk pendidikan anak.
Di sisi lain, tingkat literasi dan inklusi asuransi di Indonesia masih relatif rendah.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi asuransi masyarakat Indonesia tercatat sebesar 45,45 persen. Sementara tingkat inklusi asuransi berada pada level 28,50 persen.
KOMPAS.com/M Latief Ilustrasi pendidikanData tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai instrumen perlindungan keuangan, termasuk pemanfaatannya sebagai bagian dari perencanaan masa depan keluarga dan pendidikan anak.
Dorong literasi keuangan keluarga
Sebagai perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan, IFG Life menyatakan terus mendorong peningkatan literasi keuangan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan masa depan keluarga.
Perusahaan menilai pendidikan merupakan salah satu tujuan penting yang perlu dipersiapkan dan dijaga keberlangsungannya.
Karena itu, IFG Life berkomitmen menghadirkan perlindungan yang membantu keluarga menjaga berbagai rencana masa depan ketika menghadapi risiko yang tidak terduga.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya perusahaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk dalam mempersiapkan dana pendidikan anak sejak dini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Permintaan Emas Tetap Tinggi, Galeri 24 Catat Penjualan hingga 3 Kg di BIJF
Minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat. [366] url asal
#investasi-emas #harga-emas #investasi-logam-mulia #tren-investasi-emas #emas-batangan #aset-safe-haven #literasi-keuangan #perencanaan-keuangan #pengelolaan-aset #investasi-jangka-panjang #bandung-int
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Minat masyarakat terhadap investasi emas tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan. Tren tersebut tercermin dari penjualan emas Galeri 24 yang mencapai lebih dari 3 kilogram selama ajang Bandung International Jewellery Fair (BIJF) 2026 pada 11-14 Juni 2026.
Capaian tersebut diraih pada tahun pertama keikutsertaan Galeri 24 dalam pameran perhiasan yang digelar di Sudirman Grand Ballroom, Bandung. Penjualan tersebut sekaligus menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen penyimpan nilai dan diversifikasi aset.
Selama empat hari penyelenggaraan, stan Galeri 24 menjadi salah satu area yang ramai dikunjungi. Pengunjung tidak hanya melakukan transaksi pembelian, tetapi juga mencari informasi mengenai produk emas dan berkonsultasi terkait investasi.
Selain menawarkan berbagai produk emas batangan dan perhiasan, Galeri 24 menghadirkan sejumlah program promosi, aktivitas interaktif, serta edukasi investasi yang mendapat respons positif dari pengunjung.
Regional Manager Bandung Galeri 24 Yogianda Aprilindo mengatakan, minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
"Kami melihat antusiasme masyarakat Bandung terhadap investasi emas terus meningkat dari tahun ke tahun. Melalui partisipasi Galeri 24 di Bandung International Jewellery Fair 2026, kami juga memberikan edukasi agar masyarakat semakin memahami pentingnya investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan masa depan," ujar Yogianda dalam siaran pers, Sabtu (20/6/2026).
Menurut dia, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan aset turut mendorong pertumbuhan minat investasi emas. Kondisi tersebut terlihat dari tingginya jumlah pengunjung yang memanfaatkan sesi konsultasi dan edukasi selama pameran berlangsung.
Tidak hanya berfokus pada penjualan, Galeri 24 juga menggelar talkshow mengenai investasi emas dan perencanaan keuangan jangka panjang. Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat agar lebih memahami manfaat dan risiko berbagai instrumen investasi.
Menjelang penutupan acara, total penjualan emas Galeri 24 tercatat melampaui 3 kilogram. Capaian tersebut menjadi indikator tingginya kepercayaan masyarakat terhadap produk emas sebagai salah satu instrumen investasi.
"Respons positif yang kami terima selama empat hari acara ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga nilai aset melalui investasi emas,” katanya.
Ia menambahkan, pencapaian tersebut akan menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus memperluas edukasi investasi kepada masyarakat.
"Kami mengapresiasi seluruh pengunjung yang telah berpartisipasi dan berharap edukasi yang kami berikan dapat mendorong semakin banyak masyarakat Indonesia untuk memulai investasi secara bijak dan berkelanjutan," ujarnya.
Era QRIS Bikin Pengeluaran Tak Terasa, Coba Cara Atur Keuangan Ini
Masyarakat perlu waspada dengan pengeluaran yang sering kali menjadi lebih sulit dikendalikan di era kemudahan transaksi melalui QRIS. [569] url asal
Kemudahan transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard alias QRIS, dompet digital, dan berbagai layanan pembayaran cashless membuat aktivitas belanja semakin praktis. Namun di balik kemudahan tersebut, masyarakat perlu waspada karena pengeluaran sering kali menjadi lebih sulit dikendalikan.
Certified Financial Planner sekaligus Founder Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan, transaksi digital menghilangkan berbagai hambatan atau friction yang dulu ada saat masyarakat masih banyak menggunakan uang tunai.
Menurut dia, pada era transaksi tunai, seseorang harus pergi ke ATM, mengambil uang, hingga mendatangi toko untuk berbelanja. Proses tersebut secara tidak langsung membuat orang lebih mempertimbangkan pengeluarannya.
"Ketika semuanya ada di handphone kita, mau beli makanan, mau belanja apa pun tinggal pencet. Tidak ada lagi friksi. Semuanya jadi seamless dan gampang untuk transaksi," kata Melvin dalam acara diskusi OVOFinTalk bersama Finansialku di Jakarta, Rabu (17/6).
Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat lebih mudah mengeluarkan uang tanpa banyak berpikir. Apalagi, berbagai platform digital juga terus menawarkan promo dan diskon yang mendorong konsumen berbelanja lebih banyak dari kebutuhan sebenarnya.
"Kadang-kadang kita menambah belanjaan hanya karena ingin mendapat potongan yang lebih besar. Ketika dijumlahkan, ternyata tambahan-tambahan kecil itu justru yang membuat pengeluaran membengkak," katanya.
Selain promo, fenomena fear of missing out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan tren juga menjadi faktor yang memengaruhi perilaku konsumtif. Melvin mencontohkan, banyak orang membeli barang baru karena melihat teman atau lingkungan sekitarnya melakukan hal yang sama.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukanlah pengeluaran besar yang biasanya mudah disadari, tetapi transaksi-transaksi kecil yang dilakukan berulang kali melalui QRIS atau dompet digital.
"PR-nya bukan pengeluaran besar. Pengeluaran besar pasti kita alert. Justru pengeluaran kecil yang sering tidak kita sadari jalan terus," ujarnya.
Terapkan Formula 3A
Untuk mengendalikan keuangan di era digital, Melvin memperkenalkan formula 3A yakni Atur, Awasi, dan Aman.
Pertama, atur, yaitu dengan membuat batasan atau pos anggaran yang jelas untuk setiap kebutuhan, termasuk belanja harian dan jajan. Ia menyarankan masyarakat menerapkan konsep amplop digital dengan menetapkan limit pengeluaran sebelum melakukan top up dompet digital.
"Kalau tidak punya limit untuk pos belanja, akhirnya top up lagi, belanja lagi, top up lagi. Itu sudah mulai tidak mindful," kata Melvin.
Kedua, awasi, yakni rutin memeriksa riwayat transaksi digital. Dengan mengecek histori pengeluaran, seseorang dapat mengetahui pola belanja yang mulai berlebihan dan melakukan evaluasi lebih cepat.
"Kebiasaan mengecek histori transaksi bisa merefleksikan apakah kebiasaan kita masih sehat atau tidak," ujarnya.
Ketiga, aman yaitu menjaga keamanan transaksi digital dengan lebih berhati-hati terhadap tautan mencurigakan, pesan penipuan, hingga penyalahgunaan data pribadi yang semakin marak terjadi.
Utamakan Mindful Spending
Melvin menekankan, pentingnya menerapkan konsep mindful spending atau belanja secara sadar di tengah kondisi ekonomi yang membuat harga berbagai kebutuhan terus meningkat.
Menurut dia, mindful spending bukan berarti hanya membeli kebutuhan dan menghindari keinginan. Namun, setiap keputusan mengeluarkan uang harus dilakukan dengan kesadaran penuh dan memahami konsekuensinya terhadap kondisi keuangan.
"Kamu mau beli kebutuhan boleh, keinginan juga boleh. Yang penting benar-benar sadar bahwa kamu akan mengeluarkan uang dan sudah mempertimbangkan konsekuensinya," kata Melvin.
Menurut dia, masyarakat juga perlu mengubah pola pikir lama soal menabung. Jika selama ini banyak orang terbiasa menyisihkan tabungan dari sisa uang belanja, Melvin justru menyarankan untuk menabung atau berinvestasi terlebih dahulu saat menerima penghasilan.
"Begitu punya uang, tabung dulu atau investasikan dulu, sisanya baru dibelanjakan. Karena masalahnya bukan di persentase, tapi di prioritasnya," ujarnya.
Dengan disiplin mengatur anggaran, memantau pengeluaran, dan membiasakan diri berbelanja secara sadar, masyarakat dinilai dapat tetap menikmati kemudahan transaksi digital tanpa harus terjebak menjadi lebih boros.
Harapan Hidup Naik hingga 74 Tahun, Ini Pentingnya Perlindungan Finansial Berlapis
Angka harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat berkat teknologi medis. Namun biaya pengobatan yang mahal membuat perlindungan finansial semakin penting. [486] url asal
#perlindungan-finansial #asuransi-kesehatan #penyakit-kritis #biaya-kesehatan #angka-harapan-hidup-indonesia #penyakit-jantung-usia-muda #stroke-usia-produktif #perencanaan-keuangan #proteksi-k
Jakarta: Kemajuan teknologi kesehatan membuat banyak penyakit yang dulu sulit ditangani kini memiliki peluang kesembuhan yang jauh lebih baik.Orang Indonesia pun hidup lebih lama dibandingkan beberapa dekade lalu. Namun di balik kabar baik tersebut, ada tantangan baru yang mulai muncul, yakni meningkatnya biaya pengobatan yang harus dipersiapkan sejak dini.
Di tengah perkembangan teknologi medis yang semakin canggih, para ahli mengingatkan bahwa perlindungan kesehatan saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu membangun perlindungan finansial berlapis agar tidak kewalahan saat menghadapi risiko penyakit kritis.
Penyakit kritis kini banyak menyerang usia produktif
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan penyakit tidak menular kini menjadi tantangan kesehatan yang semakin serius di Indonesia.Menurutnya, penyakit seperti serangan jantung dan stroke tidak lagi identik dengan usia lanjut. Saat ini, banyak pasien berusia 30 hingga 40 tahun bahkan 20-an tahun yang mulai mengalami gangguan kesehatan serius.
Fenomena ini dipicu oleh berbagai faktor gaya hidup modern, seperti kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, pola hidup sedentari, hingga tingginya angka perokok.
"Jadi saya ketemu pasien bukan lagi umur 50-60 tahun, tapi umur 20-30 tahun, itu udah mulai sering. Ya, paling sering 30-40 tahun. Jadi, penyakit tidak menular, ini bukan lagi penyakit orang tua. Penyakit pada orang-orang yang masih produktif," katanya dalam media workshop, Rabu, 17 Juni 2026.
"Strategi pertahanan melalui perlindungan finansial berlapis sebagai solusi sistematis," imbuhnya.
Angka harapan hidup naik berkat teknologi medis
Di tengah meningkatnya kasus penyakit kritis, ada satu fakta menarik yang terjadi di Indonesia, yaitu meningkatnya angka harapan hidup masyarakat.Menurut dr. Bayushi, usia harapan hidup masyarakat Indonesia kini telah mencapai sekitar 74 tahun. Angka tersebut meningkat dibandingkan beberapa dekade lalu berkat kemajuan teknologi kesehatan yang sangat pesat.
"Walaupun kasus penyakit jantung naik, walaupun dia menyerang pada usia muda. Tapi yang menarik ini adalah angka harapan hidup orang Indonesia pun juga menariknya ikut naik. Sampai 74 tahun," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan alat kesehatan, metode pengobatan, hingga teknologi medis modern berkontribusi besar dalam meningkatkan peluang hidup pasien.
"Karena kemajuan teknologi, karena tindakan medis yang makin berkembang, itu berkontribusi keras untuk menjaga kita tetap hidup," ucapnya.
Peluang hidup lebih tinggi, biaya pengobatan ikut meningkat
Kemajuan teknologi medis memang membawa harapan baru bagi pasien. Namun di sisi lain, inovasi tersebut juga menghadirkan konsekuensi finansial yang tidak bisa diabaikan.Dibandingkan dua atau tiga dekade lalu, tingkat keberhasilan pengobatan penyakit jantung meningkat sangat signifikan. Obat-obatan modern, teknologi pemasangan ring jantung, hingga berbagai prosedur medis terbaru mampu meningkatkan peluang kesembuhan dan mengurangi risiko komplikasi.
"Obat-obatan baru, alat-alat baru, teknologi yang makin baru, tentu pasti punya konsekuensi finansial,"
Artinya, semakin canggih teknologi kesehatan yang digunakan, semakin besar pula biaya yang harus dipersiapkan oleh pasien maupun keluarganya.
Karena itu, konsep perlindungan finansial berlapis menjadi semakin relevan. Perlindungan ini dapat berupa dana darurat, asuransi kesehatan, asuransi penyakit kritis, investasi jangka panjang, hingga perencanaan keuangan yang matang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)
Pakar: Biaya Kesehatan Bisa Ganggu Kondisi Finansial Jika Tidak Dipersiapkan
Masyarakat wajib membangun kebiasaan siapkan dana kesehatan sejak usia produktif [463] url asal
#biaya-kesehatan #usia-produktif #perencanaan-keuangan #financial-expert #u-by-prodia #blu-by-bca-digital #aliyah-natasya
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak masyarakat masih menganggap biaya kesehatan sebagai pengeluaran yang hanya muncul ketika sakit. Padahal, tanpa perencanaan yang baik, kebutuhan kesehatan dapat menjadi salah satu faktor yang mengganggu kondisi keuangan keluarga maupun individu.
Financial Expert Aliyah Natasya mengatakan biaya kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Menurut dia, risiko kesehatan dapat terjadi kapan saja dan sering kali datang tanpa dapat diprediksi.
“Banyak orang fokus menyiapkan dana untuk kebutuhan konsumsi, pendidikan, atau investasi, tetapi belum menjadikan kesehatan sebagai prioritas dalam perencanaan keuangan. Padahal ketika kondisi kesehatan terganggu, dampaknya tidak hanya pada fisik tetapi juga kondisi finansial,” ujar Aliyah dalam peluncuran fitur U-aang di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Aliyah menjelaskan biaya pemeriksaan kesehatan, pengobatan, hingga perawatan medis cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, masyarakat perlu mulai membangun kebiasaan mengalokasikan dana kesehatan sejak usia produktif.
Menurut dia, generasi muda sering merasa masih sehat sehingga menunda persiapan dana kesehatan. Padahal, semakin dini seseorang mempersiapkan kebutuhan tersebut, semakin ringan beban finansial yang harus ditanggung di kemudian hari.
“Menyiapkan dana kesehatan bukan berarti menunggu sakit. Justru persiapan dilakukan ketika kondisi masih sehat agar ketika risiko muncul, kita tidak perlu mengorbankan kebutuhan finansial lainnya,” katanya.
Aliyah menilai pengelolaan kesehatan dan keuangan kini semakin saling berkaitan. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga pola hidup sehat, serta memiliki perencanaan keuangan yang baik dapat membantu masyarakat mengurangi risiko pengeluaran besar yang tidak terduga.
Ia menambahkan biaya kesehatan yang tidak dipersiapkan berpotensi mengganggu stabilitas keuangan keluarga, mulai dari penggunaan dana darurat secara berlebihan hingga penundaan berbagai tujuan keuangan lainnya.
Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan mencatat kebutuhan kesehatan dalam anggaran bulanan, memiliki perlindungan kesehatan yang memadai, serta menyisihkan dana khusus untuk kebutuhan medis di masa mendatang.
“Perencanaan keuangan yang sehat tidak hanya berbicara tentang menambah aset, tetapi juga bagaimana kita mengantisipasi risiko yang dapat mengganggu kondisi finansial. Salah satunya adalah risiko kesehatan,” ujar Aliyah.
Dalam kesempatan yang sama, PT Prodia Digital Indonesia bersama blu by BCA Digital meluncurkan fitur pembayaran digital U-aang yang terintegrasi dalam aplikasi U by Prodia. Fitur ini memungkinkan pengguna melakukan pembayaran berbagai layanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan laboratorium, vaksinasi, konsultasi kesehatan, hingga pembelian produk kesehatan secara lebih praktis dalam satu aplikasi.
AVP Product PT Prodia Digital Indonesia Christian Christopher mengatakan kehadiran U-aang merupakan bagian dari upaya mempermudah masyarakat mengakses layanan kesehatan digital tanpa proses yang rumit. Menurut dia, kemudahan transaksi diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih rutin memantau dan menjaga kondisi kesehatannya.
Sementara itu, Head of Digital Business PT Bank Digital BCA Edwin Tirta mengatakan kolaborasi melalui layanan Bank-as-a-Service (BaaS) memungkinkan integrasi antara layanan kesehatan dan keuangan digital dalam satu ekosistem. Melalui fitur tersebut, pengguna tidak hanya dapat melakukan pembayaran layanan kesehatan, tetapi juga memanfaatkan berbagai layanan perbankan digital secara lebih mudah dan terintegrasi.
Retirement planning Concept of miniature old couple people figure standing on coin stack
BRI hadirkan solusi masa pensiun sebagai awal baru dengan menyiapkan usaha dan investasi sejak dini untuk kualitas hidup yang lebih baik. [495] url asal
#bri #persiapan-pensiun #manajemen-keuangan #perencanaan-keuangan #finansial-pensiun #bank-rakyat-indonesia #google-play-store #huawei-appgallery #bri-multiguna-pra-purna #brimo #kesehatan #persiap
(CNN Indonesia - Ekonomi) 16/06/26 11:31
v/251213/
Masa pensiun sering kali dipandang sebagai akhir dari perjalanan karier seorang pekerja. Padahal, fase ini dapat menjadi awal baru untuk mengembangkan usaha atau menekuni aktivitas produktif.
Sebagian besar pekerja baru mulai memikirkan masa tua saat waktu pensiun tinggal beberapa tahun lagi. Padahal, persiapan yang dilakukan lebih awal memberikan peluang lebih besar untuk menjaga kualitas hidup.
Idealnya, seorang pegawai dapat mempersiapkan usaha keluarga atau investasi produktif sejak lima tahun sebelum masa pensiun tiba. Langkah ini krusial untuk memastikan adanya sumber penghasilan baru setelah berhenti bekerja.
"Tanpa persiapan yang memadai, masa pensiun dapat menimbulkan berbagai tantangan, mulai dari berkurangnya penghasilan bulanan, meningkatnya biaya kesehatan, hingga hilangnya aktivitas produktif yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," bunyi keterangan tertulis, Selasa (16/2).
Langkah awal dalam menyusun strategi finansial adalah menentukan target atau tujuan masa pensiun secara spesifik. Setiap individu memiliki preferensi berbeda, mulai dari membuka usaha hingga fokus pada aktivitas sosial.
Tujuan yang jelas akan memudahkan pekerja dalam menghitung kebutuhan dana dan menyusun instrumen keuangan. Rencana usaha, misalnya, memerlukan modal awal yang harus disiapkan sebelum masa pensiun dimulai.
Setelah menentukan tujuan, tahap berikutnya adalah menghitung estimasi dana pensiun secara terperinci. Perhitungan ini wajib mencakup biaya hidup harian, dana darurat, serta proteksi kesehatan jangka panjang.
Informasi estimasi dana tersebut membantu pekerja menentukan porsi tabungan atau investasi yang harus dialokasikan saat ini. Dengan demikian, target finansial masa tua dapat dicapai secara lebih terukur.
Menjelang masa tua, pekerja juga perlu mencari alternatif sumber pendapatan tambahan yang berkelanjutan. Pendapatan ini bisa bersumber dari pengelolaan aset produktif maupun praktik profesional sesuai keahlian.
Memulai persiapan usaha sejak masih aktif bekerja memberikan waktu lebih panjang untuk membangun fondasi bisnis. Hal ini meminimalkan risiko kegagalan saat pekerja sudah tidak menerima gaji bulanan tetap.
Manajemen kewajiban dan utang juga menjadi faktor penentu kesehatan finansial menjelang hari tua. Pekerja disarankan menyelesaikan segala bentuk pinjaman komersial sebelum memasuki masa purnabakti.
Evaluasi keuangan berkala membantu mendeteksi potensi masalah finansial lebih awal. Melalui pengelolaan yang terencana, masa tua dapat dijalani dengan tenang tanpa beban utang yang menumpuk.
Kebutuhan modal untuk membangun aset produktif atau membuka usaha sering kali memerlukan dukungan dana segar. Oleh karena itu, pemilihan solusi pembiayaan yang tepat menjadi langkah strategis bagi calon pensiunan.
Merespons kebutuhan tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyediakan layanan BRI Multiguna Pra Purna. Fasilitas pembiayaan ini dirancang khusus bagi pegawai aktif yang sedang mempersiapkan masa pensiun.
"Melalui fasilitas ini, nasabah dapat merencanakan berbagai kebutuhan menjelang masa pensiun secara lebih matang sehingga tetap dapat menjalani kehidupan yang aktif, produktif, dan sejahtera setelah memasuki masa pensiun," terang keterangan resmi.
Kesejahteraan di masa tua merupakan hasil dari perencanaan matang yang dieksekusi sejak dini. Persiapan yang terarah membuat masa pensiun tetap berjalan produktif dan mandiri.
Masyarakat yang membutuhkan informasi pembiayaan ini dapat mendatangi Kantor Cabang BRI terdekat. Layanan konsultasi juga tersedia melalui Relationship Manager BRI di kota Anda.
Selain itu, transaksi keuangan dan pemantauan rekening dapat dilakukan praktis melalui aplikasi BRImo. Aplikasi ini dapat diunduh di Apple App Store, Google Play Store, dan Huawei AppGallery.
Selepas Pensiun Masih Bisa Berkarya, Ini Tips Jaga Kualitas Hidup di Usia Emas
Menikmati masa pensiun yang nyaman membutuhkan dukungan finansial memadai. [586] url asal
#bri #masa-pensiun #aktivitas-baru #dukungan-finansial-memadai #perencanaan-keuangan #interaksi-sosial #kondisi-keuangan-terencana #dukungan-pembiayaan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masa pensiun sering dipandang sebagai waktu untuk beristirahat setelah bertahun-tahun bekerja. Namun, kini semakin banyak orang yang melihat masa pensiun sebagai kesempatan menjalani aktivitas baru yang lebih fleksibel dan sesuai minat pribadi.
Namun tak sedikit pensiunan yang menghadapi tantangan baru setelah berhenti bekerja. Mulai dari berkurangnya penghasilan rutin, meningkatnya kebutuhan kesehatan, hingga keinginan untuk tetap produktif tanpa memiliki dukungan finansial memadai.
Banyak yang memilih tetap berkarya melalui usaha kecil, mengembangkan hobi, mengikuti komunitas, atau menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Dengan perencanaan yang tepat, masa pensiun produktif bisa menjadi fase menyenangkan sekaligus penuh peluang.
Menikmati masa pensiun yang nyaman membutuhkan dukungan finansial memadai. Karena itu, penting bagi para pensiunan memiliki perencanaan keuangan yang bisa membantu mewujudkan berbagai rencana di masa depan.
Kehidupan Setelah Pensiun Tetap Bisa Produktif
Banyak orang kini menyadari, kehidupan setelah pensiun tak harus identik dengan berkurangnya aktivitas. Sebaliknya, masa ini bisa menjadi waktu yang tepat mengejar impian yang selama ini tertunda karena kesibukan bekerja.
Ada yang memilih menjalankan usaha setelah pensiun, seperti bisnis kuliner rumahan, toko kelontong, atau usaha berbasis hobi. Ada pula yang aktif mengikuti kegiatan sosial dan komunitas untuk memperluas relasi sekaligus menjaga kesehatan mental.
Beragam aktivitas pensiunan tersebut, tidak hanya membantu mengisi waktu luang, juga membuat para pensiunan aktif tetap merasa produktif dan memiliki tujuan dalam menjalani keseharian.
Tips Pensiun Nyaman dan Berkualitas
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk menjaga kualitas hidup di usia pensiun agar bisa menjalani kegiatan sehari-hari dengan tetap optimal.
Menjaga Kesehatan dan Kebugaran
Kesehatan merupakan modal utama untuk tetap aktif di masa pensiun. Karena itu, penting untuk rutin berolahraga, menjaga pola makan seimbang, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Selain itu, penggunaan peralatan penunjang gaya hidup sehat juga membantu menjaga kebugaran sehingga aktivitas sehari-hari dapat dilakukan dengan lebih nyaman.
Tetap Aktif Bersosialisasi
Bergabung dengan komunitas atau kegiatan sosial dapat menjadi cara untuk menjaga semangat dan memperluas jaringan pertemanan. Interaksi sosial yang positif juga membantu menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kualitas hidup.
Mengelola Keuangan dengan Bijak
Salah satu kunci utama menikmati masa pensiun adalah memiliki kondisi keuangan terencana. Dengan pengelolaan yang baik, berbagai kebutuhan seperti kesehatan, renovasi rumah, hingga modal usaha bisa dipersiapkan secara lebih matang.
BRI Multiguna Purna, Solusi Keuangan untuk Pensiunan
BRI menghadirkan BRI Multiguna Purna sebagai solusi keuangan pensiunan yang dirancang khusus untuk memenuhi beragam kebutuhan. Untuk mewujudkan beragam kebutuhan tersebut, dukungan finansial yang sesuai kebutuhan menjadi salah satu faktor penting agar pensiunan tetap bisa aktif dan produktif.
BRI Multiguna Purna hadir untuk pensiunan ASN, BUMN, swasta, orang-orang yang memasuki usia 55 tahun ke atas serta individu yang tetap aktif dan mandiri setelah pensiun agar rencana masa tua terwujud dengan baik.
Sebagai salah satu pilihan kredit pensiunan, BRI Multiguna Purna dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Mulai dari pembelian peralatan penunjang gaya hidup sehat, kebutuhan kesehatan, pengembangan usaha setelah pensiun, renovasi rumah, hingga kebutuhan produktif lainnya.
Dukungan pembiayaan yang tepat, membantu para pensiunan lebih leluasa menjalankan aktivitas yang diinginkan. Jadi, masa pensiun tak hanya menjadi waktu untuk beristirahat tetapi juga kesempatan untuk terus berkembang dan menikmati hidup lebih maksimal.
Melalui BRI Multiguna Purna, para pensiunan memiliki akses ke solusi keuangan yang dapat membantu menjaga kualitas hidup sekaligus mendukung berbagai rencana yang ingin diwujudkan.
Masa pensiun bukan akhir dari produktivitas. Dengan perencanaan yang tepat dan dukungan finansial sesuai kebutuhan, menikmati masa pensiun yang aktif, nyaman, dan produktif menjadi lebih mudah untuk diwujudkan.
Nikmati masa pensiun yang tetap aktif, nyaman, dan produktif bersama BRI Multiguna Purna. Dapatkan informasi lebih lanjut melalui kantor cabang BRI terdekat atau website resmi BRI di https://bbri.id/brimultigunapurna.
Dana Darurat Penting Saat Ekonomi Tak Pasti, Ini Alasannya
Dana darurat menjadi salah satu fondasi utama dalam perencanaan keuangan pribadi karena berfungsi sebagai bantalan pengeluaran tak terduga. [902] url asal
#perencanaan-keuangan #dana-darurat #rekening-tabungan #dana-darurat-adalah #dana-cadangan
(Kompas.com - Money) 25/05/26 08:18
v/230934/
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketidakpastian ekonomi, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), biaya kesehatan yang terus meningkat, hingga kebutuhan mendesak seperti perbaikan rumah atau kendaraan membuat dana darurat semakin penting bagi kondisi keuangan rumah tangga.
Dana darurat menjadi salah satu fondasi utama dalam perencanaan keuangan pribadi karena berfungsi sebagai bantalan ketika pengeluaran tak terduga muncul.
Tanpa dana cadangan itu, banyak orang terpaksa menggunakan kartu kredit, pinjaman berbunga tinggi, atau bahkan mengorbankan tabungan jangka panjang untuk menutup kebutuhan mendesak.
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.Dikutip dari laman Investopedia, dana darurat adalahrekening tabungan yang secara khusus disiapkan untuk menghadapi pengeluaran tidak terduga seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis, atau perbaikan rumah dan kendaraan.
Dana darurat idealnya cukup untuk menutup kebutuhan hidup selama tiga hingga enam bulan.
Konsep dana darurat semakin relevan ketika kondisi ekonomi tidak menentu.
Ketika penghasilan terganggu atau pengeluaran mendadak muncul, dana darurat menjadi penyangga agar kondisi keuangan tidak langsung terguncang.
Dana darurat dinilai penting sebelum mulai investasi
Membangun dana darurat sebaiknya menjadi prioritas sebelum seseorang fokus pada investasi atau melakukan pembelian besar.
Dana darurat dianggap sebagai langkah awal untuk membangun fondasi keuangan yang sehat.
Sebelum Anda fokus berinvestasi atau melakukan pembelian besar, penting untuk memiliki dana darurat tersedia.
SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumahDana darurat juga dinilai memberi rasa aman secara finansial. Ketika kondisi mendadak terjadi, seseorang tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar tanpa harus mengganggu tujuan keuangan jangka panjang.
Menurut Investopedia, bahkan dana darurat dalam jumlah kecil tetap dapat memberikan perbedaan besar dalam menghadapi situasi darurat. Dana tersebut bisa digunakan untuk menghindari utang berbunga tinggi ketika pengeluaran mendadak muncul.
Pentingnya dana darurat juga terlihat ketika ekonomi melambat.
Reuters dalam laporannya menyebutkan, lebih dari 20 persen warga Amerika Serikat tidak memiliki tabungan darurat, sementara hanya 46 persen yang siap menanggung biaya hidup selama tiga bulan.
Padahal, para perencana keuangan menyebut tiga hingga enam bulan pengeluaran sebagai standar minimum dana darurat.
Dana darurat mencegah ketergantungan pada utang
Salah satu manfaat utama dana darurat adalah mencegah ketergantungan pada pinjaman ketika kondisi mendesak terjadi.
Tanpa dana darurat, pengeluaran tak terduga berisiko berubah menjadi beban utang yang sulit dilunasi.
Perencana keuangan dari Abundo Wealth, Jeremy Zuke, mengatakan dana darurat menjadi pembatas antara seseorang dengan utang berbunga tinggi ketika masalah mendadak muncul.
“Dana darurat adalah hal yang melindungi Anda dari utang berbunga tinggi ketika hal-hal buruk tak terhindarkan terjadi pada rumah, mobil, kesehatan, atau kehidupan Anda secara umum,” ujar Zuke.
Menurut dia, pengeluaran darurat sebenarnya bukan soal kemungkinan terjadi atau tidak, melainkan soal kapan situasi tersebut datang.
“Bagian terpenting adalah memulai, karena keadaan darurat berikutnya bukanlah pertanyaan tentang apakah akan terjadi, tetapi kapan akan terjadi,” kata Zuke.
SHUTTERSTOCK/TINNAKORN JORRUANG Ilustrasi dana darurat, menabung dana darurat.Dana darurat juga dapat menjaga seseorang tetap berada pada jalur tujuan keuangan jangka panjang.
Ketika terjadi pengeluaran mendadak, seseorang tidak perlu mencairkan investasi, mengambil dana pensiun, atau menjual aset produktif.
Dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang mudah diakses dan minim risiko, misalnya rekening tabungan berbunga tinggi, deposito, hingga reksa dana pasar uang.
Memulai dana darurat dari nominal kecil
Besarnya target dana darurat sering kali membuat sebagian orang enggan mulai menabung.
Namun, sejumlah perencana keuangan menilai konsistensi jauh lebih penting dibanding nominal awal. Anda dapat memulai dana darurat dengan setoran kecil per bulan, lalu meningkatkannya secara bertahap.
Target dana darurat juga tidak perlu langsung besar. Anda dapat memulai dari target kecil, kemudian meningkat, hingga akhirnya mencapai kebutuhan tiga sampai enam bulan pengeluaran rutin.
Strategi tersebut dinilai membantu proses menabung terasa lebih realistis dan tidak membebani kondisi keuangan sehari-hari.
Vox dalam laporannya juga menyebutkan, memiliki tabungan darurat dalam jumlah kecil tetap lebih baik dibanding tidak memiliki dana sama sekali.
Anda dapat mulai membangun kebiasaan menabung dengan mengurangi pengeluaran variabel seperti makan di luar atau menjual barang yang tidak digunakan.
Otomatisasi menjadi cara menjaga konsistensi
Salah satu tantangan terbesar dalam membangun dana darurat adalah menjaga konsistensi menabung.
SHUTTERSTOCK/MOZAKIM Ilustrasi dana darurat.Karena itu, banyak perencana keuangan merekomendasikan sistem otomatis agar dana langsung tersisih sebelum digunakan untuk konsumsi.
Otomatisasi transfer bulanan dapat membantu seseorang tetap disiplin membangun dana darurat.
“Saya sangat menyarankan untuk mengotomatiskan kontribusi bulanan Anda karena ketika Anda tidak pernah melihat uang itu, akan lebih mudah untuk menghindari pengeluaran yang tidak disengaja,” ujar Zuke.
Menurut dia, metode yang lebih efektif adalah mengarahkan sebagian gaji langsung ke rekening tabungan darurat melalui sistem payroll perusahaan.
“Dengan cara itu, Anda benar-benar tidak pernah melihat uang itu tersedia untuk dibelanjakan,” kata Zuke.
Selain otomatisasi, pemisahan rekening dana darurat juga dianggap penting. Reuters menyebutkan, menyimpan dana darurat di rekening terpisah dapat mengurangi godaan untuk menggunakan dana tersebut bagi kebutuhan non-darurat.
Dana darurat tidak hanya untuk krisis besar
Banyak orang menganggap dana darurat hanya dibutuhkan ketika terjadi bencana besar atau kehilangan pekerjaan.
Padahal, pengeluaran kecil yang muncul mendadak juga dapat mengganggu kondisi keuangan jika tidak diantisipasi.
Dana darurat dapat digunakan untuk kebutuhan seperti biaya medis, perbaikan kendaraan, perbaikan rumah, hingga perjalanan mendesak yang tidak direncanakan.
Keberadaan dana darurat dinilai tidak hanya penting untuk menghadapi krisis besar, tetapi juga menjaga stabilitas keuangan sehari-hari.
Inti dari membangun dana darurat bukan terletak pada besarnya nominal awal, melainkan kebiasaan untuk memulai dan melanjutkan proses menabung secara konsisten.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Ilustrasi dompet berisi uang rupiah
Apakah formula penempatan keuangan 50/30/20 persen masih relevan dipakai saat kondisi ekonomi sekarang? [974] url asal
#edukasi-keuangan #biaya-hidup #pengelolaan-keuangan #tabungan #investasi #perencanaan-keuangan #budgeting #cnnindonesia-com #mre #mitra-rencana-edukasi #andi-nugroho #edukasi #keuangan-saat-bi
(CNN Indonesia - Ekonomi) 23/05/26 08:50
v/229720/
Mengatur keuangan pribadi kini terasa semakin menantang di tengah biaya hidup yang terus naik.
Harga makan, sewa tempat tinggal, transportasi, hingga tagihan bulanan membuat banyak orang merasa gaji cepat habis bahkan sebelum akhir bulan tiba.
Kondisi itu membuat formula budgeting klasik 50/30/20 kembali dipertanyakan relevansinya. Metode yang membagi pendapatan menjadi 50 persen kebutuhan, 30 persen keinginan, dan 20 persen tabungan itu dinilai mulai sulit diterapkan, terutama bagi masyarakat dengan penghasilan pas-pasan.
Di sisi lain, sebagian orang justru merasa porsi tabungan 20 persen terlalu kecil jika ingin mengejar target besar seperti membeli rumah atau mempersiapkan dana pensiun.
Lalu, apakah formula 50/30/20 masih relevan dipakai saat kondisi ekonomi sekarang?
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai metode tersebut sebenarnya masih relevan, selama tidak diperlakukan sebagai aturan baku yang kaku.
"Konsep 50/30/20 ataupun konsep-konsep pengaturan keuangan pribadi yang lain masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Harus dipahami adalah agar semakin relevan dengan kondisi kita, maka angka-angka tersebut harus fleksibel mengikuti situasi dan kondisi, bukan sekadar angka baku yang tidak boleh berubah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (22/5).
Menurut Andi, ketika pengeluaran kebutuhan pokok membesar sementara pemasukan tidak bertambah, pos yang sebaiknya lebih dulu dikurangi adalah pengeluaran kesenangan atau hiburan.
Ia menilai kebutuhan hiburan masih bisa ditunda dibandingkan tabungan yang tetap diperlukan sebagai cadangan menghadapi kebutuhan besar di masa depan.
"Sebaiknya dikurangi terlebih dahulu adalah pengeluaran untuk kesenangan. Alasannya kebutuhan kesenangan sifatnya sebenarnya tidak terlalu penting dan urgent, dan masih bisa untuk ditunda konsumsinya," katanya.
Meski begitu, ia mengakui kondisi di lapangan sering kali berbeda. Banyak orang justru memilih mengurangi tabungan demi mempertahankan gaya hidup atau hiburan karena secara psikologis hasil dari pengeluaran hiburan bisa langsung dirasakan saat ini, sedangkan manfaat menabung baru terasa di masa depan.
Andi juga menilai porsi tabungan atau investasi sebesar 20 persen sebenarnya sudah termasuk ideal. Namun, angka itu tetap bisa diperbesar apabila kondisi keuangan memungkinkan, terutama bagi mereka yang memiliki target finansial besar seperti membeli rumah.
"Kalau target finansialnya besar dan kondisinya memungkinkan, maka tidak ada salahnya bila porsinya juga diperbesar sampai semaksimal yang mampu kita penuhi," ujarnya.
Ia mencontohkan kelompok lajang tanpa tanggungan atau mereka yang penghasilannya jauh di atas kebutuhan bulanan memiliki ruang lebih besar untuk memperbesar porsi investasi.
Sebaliknya, bagi masyarakat yang penghasilannya terbatas, Andi menilai pengurangan porsi tabungan sementara juga bukan hal yang tabu selama kebutuhan dasar tetap bisa terpenuhi.
"Bukan hal yang haram juga apabila perlu mengurangi porsi menabung atau berinvestasinya misal jadi 10 persen. Jangan menabung dulu bila karena menabung justru bikin kita jadi kesulitan makan," katanya.
Untuk masyarakat dengan gaji pas-pasan, Andi menyarankan tetap menabung dengan nominal atau persentase yang tidak memberatkan.
"Menabung dengan persentase yang tidak memberatkan mereka, sehingga meskipun menabung mereka masih bisa makan dan berbagai kebutuhan lainnya yang penting dan wajib masih dapat terpenuhi dengan baik," ujarnya.
Selain formula 50/30/20, Andi juga menawarkan beberapa alternatif budgeting yang dinilai lebih fleksibel untuk kondisi saat ini.
Salah satunya pembagian 55 persen untuk kebutuhan sehari-hari dan cicilan, 10 persen tabungan atau investasi, 10 persen pengembangan diri, 10 persen hiburan, 10 persen dana darurat, dan 5 persen dana amal.
Ada pula metode 10/20/30/40 yang membagi pengeluaran menjadi 10 persen dana amal, 20 persen tabungan, 30 persen kewajiban, dan 40 persen kebutuhan sehari-hari.
"Konsep manapun yang dipilih, sesuaikan dengan kemampuan dan kondisi kita, dan disiplin dalam menjalankannya," kata Andi.
Pandangan serupa disampaikan perencana keuangan Mike Rini Sutikno. Menurut dia, metode 50/30/20 masih relevan, tetapi lebih tepat diposisikan sebagai framework dasar, bukan aturan wajib yang harus diterapkan sama oleh semua orang.
"Yang penting bukan angkanya yang tepat atau harus exactly 50/30/20, tapi prinsip dasarnya yaitu memisahkan kebutuhan, keinginan, dan tabungan," kata Mike.
Ia menjelaskan metode tersebut pertama kali dipopulerkan Senator Amerika Serikat Elizabeth Warren pada 2005. Namun, kondisi ekonomi saat ini sudah jauh berubah karena dipengaruhi inflasi, kenaikan biaya hidup, hingga tekanan suku bunga.
Mike mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan masyarakat bukan langsung memangkas pos tertentu, melainkan melakukan audit pengeluaran lebih dulu.
Semua pengeluaran perlu dipetakan mana yang benar-benar kebutuhan primer dan mana yang sebenarnya sekadar gaya hidup.
Ia mencontohkan makan merupakan kebutuhan, tetapi frekuensi makan di restoran adalah pilihan. Begitu pula tagihan listrik yang memang kebutuhan, tetapi penggunaan AC berlebihan masih bisa dioptimalkan agar pengeluaran lebih efisien.
"Kalau kita mau melakukan penghematan, kita perlu tahu dulu mana yang sebenarnya kebutuhan dan mana yang keinginan," ujarnya.
Mike juga menilai pendekatan berbasis persentase sering kali tidak cukup untuk target finansial tertentu. Karena itu, ia menyarankan masyarakat menggunakan metode goal-based budgeting atau budgeting berdasarkan tujuan keuangan.
Dalam metode tersebut, seseorang menentukan lebih dulu target yang ingin dicapai, misalnya membeli rumah dalam jangka waktu tertentu. Setelah target dan waktunya ditetapkan, baru dihitung kebutuhan tabungan per bulan untuk mencapainya.
"Kalau 20 persen enggak cukup berarti perlu ditambah. Jadi pendekatannya jangan persentase, tetapi berdasarkan tujuan keuangan," katanya.
[Gambas:Photo CNN]
Menurut Mike, masyarakat dengan penghasilan rendah juga perlu memakai pendekatan berbeda.
Jika sebagian besar pendapatan sudah habis untuk kebutuhan dasar, fokus utama sebaiknya diarahkan pada upaya meningkatkan pendapatan, misalnya lewat pelatihan keterampilan tambahan atau usaha sampingan.
Meski begitu, ia menilai kebiasaan menabung tetap perlu dibangun meski nominalnya kecil dan dilakukan bertahap sesuai kemampuan.
"Daripada target 20 persen, mulai dengan yang lebih realistis. Contoh nabung Rp50 ribu per bulan, kalau enggak sanggup ya Rp20 ribu. Intinya membangun kebiasaannya dulu," ujarnya.
Selain goal-based budgeting, Mike menyebut metode budgeting kini jauh lebih beragam. Ada zero-based budgeting yang mengalokasikan setiap rupiah secara detail sejak awal bulan, hingga metode amplop digital lewat aplikasi perbankan.
Menurut dia, tidak ada formula budgeting yang benar-benar universal karena kondisi keuangan dan psikologis tiap orang berbeda-beda.
"Metode budgeting mau 50/30/20, 30/30/10, atau bahkan 50/50, prinsip dasarnya sebenarnya membantu orang untuk menjadi lebih mindful spending," katanya.
[Gambas:Youtube]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56