OJK Cirebon menggandeng kampus untuk meningkatkan literasi keuangan mahasiswa, mendorong mereka menjadi investor cerdas dan menghindari investasi ilegal. [485] url asal
Bisnis.com, CIREBON- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan investor muda di tengah meningkatnya partisipasi generasi muda di pasar modal.
Kampus kini dipandang bukan hanya sebagai tempat mencetak lulusan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi yang memiliki kemampuan mengelola keuangan dan berinvestasi secara rasional.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, mengatakan tantangan sektor jasa keuangan saat ini tidak lagi sebatas menambah jumlah investor baru. Yang lebih penting, menurut dia, adalah memastikan pertumbuhan investor berjalan seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat, risiko, dan karakteristik investasi.
“Mahasiswa merupakan generasi yang akan menentukan arah pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan. Karena itu mereka harus dibekali literasi keuangan yang kuat agar mampu menjadi investor yang cerdas, rasional, serta tidak mudah terpengaruh investasi ilegal maupun berbagai modus penipuan keuangan digital,” kata Agus, Rabu (1/7/2026).
Menurut Agus, perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah industri keuangan dan pasar modal. Akses investasi yang sebelumnya identik dengan kalangan tertentu kini semakin mudah dijangkau oleh masyarakat, termasuk mahasiswa.
Melalui berbagai platform digital, pembukaan rekening investasi dan transaksi pasar modal dapat dilakukan dengan cepat dan praktis.
Kemudahan tersebut mendorong munculnya tren baru di kalangan generasi muda. Jika sebelumnya kelompok usia muda lebih banyak menempatkan dana pada tabungan konvensional, kini semakin banyak yang mulai mengenal instrumen investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Namun di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru berupa maraknya penawaran investasi ilegal, perdagangan aset tanpa izin, hingga berbagai bentuk penipuan berkedok investasi yang menyasar generasi muda.
Karena itu, peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting untuk menciptakan masyarakat yang tangguh secara finansial.
Agus menegaskan, investasi seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses membangun kesejahteraan secara bertahap, bukan sarana memperoleh keuntungan instan.
Pemahaman mengenai profil risiko, tujuan keuangan, serta karakteristik produk investasi menjadi hal yang harus dimiliki setiap investor sebelum menempatkan dananya.
“Investasi bukan sekadar mengejar keuntungan dalam waktu singkat. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu menyusun perencanaan keuangan yang matang dan berinvestasi sesuai kebutuhan serta kemampuan masing-masing,” ujarnya.
OJK juga mengingatkan masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum memutuskan berinvestasi. Masyarakat diminta memastikan legalitas perusahaan atau pelaku usaha jasa keuangan melalui kanal resmi OJK serta mempertimbangkan secara rasional skema keuntungan yang ditawarkan.
Di sisi lain, perguruan tinggi dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam memperluas basis investor domestik. Kampus memiliki posisi strategis karena menjadi tempat berkumpulnya generasi muda yang sedang berada pada fase pembentukan pola pikir, termasuk dalam mengelola keuangan pribadi.
Kepala Pengelolaan Wilayah I Bursa Efek Indonesia, Thasrif Murhadi, menilai generasi muda memiliki potensi besar menjadi penggerak pertumbuhan investor pasar modal di daerah. Namun pertumbuhan tersebut harus dibarengi dengan pemahaman yang memadai mengenai risiko investasi.
Menurut Thasrif, investor muda yang berkualitas akan menjadi modal penting bagi penguatan pasar modal nasional.
“Selain meningkatkan partisipasi masyarakat dalam investasi, keberadaan investor yang memahami prinsip pengelolaan risiko juga dapat menciptakan ekosistem pasar modal yang lebih sehat dan berkelanjutan,” kata Thasrif.
Literasi keuangan Gen Z masih tertinggal dari tingkat inklusi. Kesenjangan ini memicu FOMO investasi, sementara AI dinilai dapat memberi bantuan. [661] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan pesat jumlah investor muda di Indonesia ternyata menyimpan tantangan serius. Di balik tingginya inklusi keuangan kalangan Gen Z dan milenial, masih terdapat kesenjangan literasi yang memicu fenomena fear of missing out (FOMO) dalam berinvestasi.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto, menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius mengingat generasi muda kini mendominasi basis investor di Indonesia.
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025, tingkat inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun telah mencapai 89,96%. Namun, tingkat literasi keuangannya baru berada di level 73,22%. Artinya, terdapat kesenjangan sebesar 16,74% yang menunjukkan masih banyak anak muda yang berinvestasi tanpa memahami risiko secara memadai.
"Kesenjangan ini menjadi alarm keras. Satu dari lima anak muda berinvestasi tanpa memahami risiko yang ada, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap rendahnya tingkat keaktifan pasar," ujarnya dalam pernyataan tertulisnya, Senin (22/6/2026).
Saat ini, lanjutnya, hanya satu dari 14 investor terdaftar yang aktif bertransaksi setiap bulan.
Melihat fenomena tersebut, dia menilai perusahaan sekuritas harus bertransformasi dan menggabungkan literasi keuangan, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan edukasi investasi bagi generasi muda.
Moleonoto menegaskan bahwa teknologi AI kini tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu analisis, tetapi juga menjadi sarana untuk membentuk perilaku investasi yang lebih disiplin.
"Melalui edukasi dan teknologi AI, kami ingin membantu generasi muda mengubah kemampuan membaca data, disiplin, dan pengambilan keputusan cepat yang mereka miliki di dunia eSports menjadi fondasi untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik," katanya.
Selain itu menurutnya terdapat irisan yang sangat besar antara komunitas eSports, khususnya Mobile Legends, dengan investor muda dari kalangan Gen Z dan milenial.
Strategi Investasi Ala Mobile Legends
Equity Analyst IPOT Brigita Kinari menjelaskan bahwa kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi pemain Mobile Legends yang andal ternyata memiliki banyak kesamaan dengan keterampilan yang diperlukan dalam berinvestasi.
"Di era AI, yang tertinggal bukan orang yang tidak punya uang, tetapi orang yang tidak tahu cara mengelola uangnya," terangnya.
Menurutnya, jika teknologi AI mampu membuat seseorang menjadi lebih hebat dalam ketangkasan digital seperti bermain game, maka teknologi yang sama seharusnya dapat membantu mereka menjadi lebih cerdas dalam membangun masa depan finansial.
Brigita mengajak para gamer untuk menerjemahkan kemampuan yang mereka gunakan dalam permainan menjadi empat keterampilan utama atau smart money skills.
Pertama, Map Awareness atau kemampuan membaca kondisi. Dalam permainan, pemain harus memahami posisi musuh, sumber daya, dan objektif permainan. Di dunia investasi, kemampuan ini diterjemahkan menjadi keterampilan membaca tren ekonomi, laporan keuangan, hingga risiko pasar.
Kedua, Timing, yaitu menentukan waktu yang tepat untuk menyerang, bertahan, atau mundur. Dalam investasi, hal ini setara dengan menentukan momentum membeli, menahan, atau menjual aset.
Ketiga, Item Build, yakni kemampuan memilih kombinasi perlengkapan terbaik sesuai peran karakter. Dalam investasi, konsep ini diwujudkan melalui diversifikasi dan alokasi aset sesuai profil risiko.
Keempat, Disiplin atau No All In, yaitu tidak mengambil keputusan emosional dan menghindari menempatkan seluruh modal pada satu instrumen tanpa perhitungan matang.
Untuk memudahkan pemahaman investor pemula, IPOT juga menggunakan analogi populer dari Mobile Legends dalam menjelaskan fungsi berbagai instrumen investasi.
Saham diibaratkan sebagai Blade of Despair, item dengan daya serang tinggi yang menawarkan potensi keuntungan besar melalui capital gain dan dividen, namun memiliki risiko fluktuasi yang tinggi.
Sementara itu, Exchange Traded Fund (ETF) dianalogikan sebagai Top Country Pro Build, yakni racikan portofolio yang memberikan diversifikasi instan layaknya strategi yang digunakan pemain profesional.
Adapun reksa dana berfungsi seperti karakter Tank atau Support yang memberikan keseimbangan dan perlindungan bagi portofolio, sedangkan obligasi disamakan dengan Defense Build yang menjaga stabilitas investasi melalui pendapatan tetap yang relatif lebih aman.
Menurut Brigita, membangun kekayaan juga membutuhkan proses bertahap layaknya perkembangan karakter dari early game menuju late game dalam permainan.
Investor pemula dianjurkan memulai dengan menyiapkan dana likuid, kemudian secara konsisten mengumpulkan aset dari instrumen yang dipahami sebelum memanfaatkan efek bunga berbunga (compounding) untuk mempercepat pertumbuhan kekayaan.
Melalui pendekatan yang dekat dengan dunia anak muda dan dukungan teknologi AI, IPOT berharap dapat mengubah generasi digital dari sekadar pengguna teknologi menjadi investor yang lebih cerdas, disiplin, dan mandiri secara finansial.
Ledakan investor muda di pasar saham Indonesia menimbulkan risiko tinggi akibat keputusan berbasis FOMO, bukan analisis fundamental, yang dapat memicu kerugian besar. [286] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Ledakan jumlah investor ritel yang menembus 20,3 juta single investor identification (SID) hingga akhir 2025 justru memperlihatkan rapuhnya fondasi pasar karena dipenuhi pelaku dengan pemahaman investasi yang masih terbatas.
Masuknya generasi muda melalui aplikasi digital dan media sosial mempercepat pertumbuhan tersebut. Akses yang semakin mudah membuat investasi kian populer dan menjangkau masyarakat dalam waktu relatif singkat.
Namun, kemudahan itu juga mengubah cara investor mengambil keputusan. Banyak transaksi dilakukan tanpa analisis yang memadai, melainkan hanya mengikuti arus informasi yang sedang ramai diperbincangkan.
Founder Cak Investment Cakra Praditya melihat pola tersebut semakin dominan di kalangan investor ritel.
“Banyak keputusan beli retail hari ini bukan berdasarkan analisis, tapi berdasarkan siapa yang bilang,” ujarnya.
Menurut dia, investor kini lebih sering membeli nama saham dibanding memahami bisnis yang berada di baliknya. Fokus utama bergeser pada momentum pergerakan harga, bukan pada nilai fundamental perusahaan.
Dalam kondisi pasar yang volatil, perilaku tersebut membuat investor mudah masuk pada harga yang sudah tinggi. Banyak pembelian terjadi setelah saham mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat.
Sementara itu, pengamat pasar modal Budi Frensidy menilai kondisi ini memperbesar risiko kerugian. Investor ritel cenderung membeli saham di puncak harga dan masuk ke saham-saham dengan likuiditas rendah.
Ketika pasar berbalik arah, investor menghadapi kesulitan untuk keluar. Tekanan jual yang meningkat sering kali tidak diimbangi oleh likuiditas yang memadai.
Situasi tersebut kemudian memicu panic selling di kalangan investor pemula. Keputusan menjual dilakukan secara cepat tanpa mempertimbangkan kualitas aset yang dimiliki.
Menurut Budi, fenomena ini tidak terlepas dari perilaku berbasis fear of missing out (FOMO) yang semakin kuat. Investor terdorong masuk karena takut tertinggal tren, bukan karena keyakinan terhadap prospek dan kinerja perusahaan.
“Risiko investor muda sangat besar karena mereka sering membeli berdasarkan FOMO, bukan fundamental,” katanya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Hingga pukul 09.09 WIB, IHSG turun 19,52 poin atau 0,31 persen ke level 6.298,98 di tengah tekanan jual yang masih membayangi pasar saham domestik.
Volatilitas pasar yang tinggi membuat perusahaan sekuritas mulai mengubah cara investor bertransaksi. Sistem trading konvensional dengan tampilan statis dinilai tidak lagi cukup responsif menghadapi pergerakan pasar yang berubah cepat dalam hitungan detik.
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), misalnya, meluncurkan pembaruan aplikasi trading berbasis AI real time dengan tampilan dinamis yang menyasar investor muda. Perusahaan menilai sistem trading konvensional dengan tampilan statis mulai sulit mengikuti perubahan pasar yang bergerak dalam hitungan detik.
“Ketika market berubah dalam hitungan detik, UI statis dan indikator terlambat hanya menghasilkan satu hal: keputusan yang lambat, reaksi yang tertinggal, dan proteksi trading yang lemah,” kata President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The dalam keterangan, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, investor muda saat ini lebih menyukai aplikasi yang personal, responsif, dan tidak rumit. Karena itu, IPOT menghadirkan fitur pengaturan tampilan sesuai kebutuhan pengguna, mulai dari investor pemula hingga trader aktif.
Persaingan aplikasi investasi juga semakin ketat seiring tingginya aktivitas investor ritel di tengah pasar yang volatil. Sejumlah sekuritas mulai mengandalkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk membantu investor membaca arah pasar, memantau pergerakan saham, hingga mengatur strategi transaksi secara lebih cepat.
IPOT juga menambahkan fitur proteksi otomatis melalui sistem ROBO yang memungkinkan investor memasang strategi seperti stop loss, trailing stop, hingga take profit secara otomatis. Fitur tersebut dirancang untuk menekan keputusan emosional saat pasar bergerak liar.
Selain itu, data fundamental emiten kini dikemas dalam bentuk visual dan grafik agar lebih mudah dipahami investor muda yang terbiasa dengan tampilan digital interaktif.
“IPOT menyadari bahwa generasi muda jauh lebih cepat menangkap pola tren melalui pendekatan grafis dibandingkan tabel angka yang membosankan,” ujar Moleonoto.
JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan perilaku investor muda mendorong platform investasi menyesuaikan tampilan dan fitur aplikasi mereka.
Gen Z dinilai semakin mengutamakan aplikasi yang cepat, visual, personal, dan mudah digunakan untuk mendukung aktivitas investasi maupun trading harian.
Di tengah kondisi pasar yang bergerak fluktuatif, kebutuhan terhadap aplikasi dengan respons real time juga semakin meningkat.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The mengatakan, tampilan aplikasi yang statis dinilai tidak lagi cukup untuk membantu investor mengambil keputusan secara cepat.
“Ketika market berubah dalam hitungan detik, UI statis dan indikator terlambat hanya menghasilkan satu hal: keputusan yang lambat, reaksi yang tertinggal, dan proteksi trading yang lemah,” ujar Moleonoto dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, investor saat ini tidak hanya membutuhkan aplikasi transaksi, tetapi juga sistem yang dapat membantu proses pengambilan keputusan secara lebih personal dan efisien.
Ia mengatakan, generasi muda terbiasa menggunakan aplikasi yang responsif dengan navigasi sederhana dan tampilan visual yang lebih dinamis.
“Gen Z terbiasa dengan aplikasi yang cepat, personal, visual, dan responsif. Mereka tidak mau aplikasi trading yang penuh tabel kaku dengan menu tersembunyi,” kata dia.
Meski demikian, Moleonoto menyebut kebutuhan tampilan modern tetap harus diimbangi dengan fungsi trading yang lengkap. Menurut dia, data fundamental, manajemen order, hingga fitur analisis tetap menjadi kebutuhan utama investor aktif.
Perubahan pola penggunaan aplikasi investasi juga terlihat dari meningkatnya kebutuhan personalisasi fitur. Investor muda disebut cenderung ingin mengatur sendiri tampilan aplikasi sesuai gaya investasi mereka.
Melalui fitur seperti My Workspace dan My Dock di aplikasi IPOT, pengguna dapat memilih mode aplikasi sesuai kebutuhan, mulai dari Simple Investor, Active Trader, hingga Expert Execution.
Selain itu, fitur EZ Mode, horizontal toggle, dan quick access di bagian atas aplikasi disebut dirancang agar pengguna lebih cepat berpindah mode tampilan saat memantau pergerakan pasar.
Di sisi lain, pusat aktivitas trading dipusatkan dalam menu Trade Desk+ yang memungkinkan investor memantau stocklist dalam mode ringkas maupun detail tanpa harus berpindah banyak layar.
Dalam sistem tersebut, sejumlah indikator seperti AI Live Trade, LADI, dan Bid Offer ditempatkan dalam satu alur kerja untuk mempermudah pemantauan pasar.
Fitur proteksi jadi perhatian
Selain tampilan dan kecepatan akses, fitur pengelolaan risiko juga menjadi perhatian di tengah tingginya volatilitas pasar saham.
Pada menu Portfolio dan Orders, investor dapat melihat status saham yang dapat diperluas untuk memantau harga rata-rata maupun posisi profit dan loss secara lebih cepat.
Aplikasi juga menyediakan fitur Cancel All Orders untuk membantu investor menghentikan seluruh pesanan secara instan.
Sementara itu, fitur ROBO disiapkan sebagai sistem otomatis untuk membantu investor menjalankan strategi trading berdasarkan parameter tertentu.
Melalui fitur tersebut, pengguna dapat mengatur strategi otomatis seperti Breakout Buy, Stop Loss, Trailing Stop, hingga Take Profit.
Menurut Moleonoto, sistem otomatis tersebut diharapkan dapat membantu investor mengurangi keputusan emosional saat pasar bergerak cepat.
“Sistem ROBO di dalam aplikasi ini bekerja otomatis sebagai sabuk pengaman digital investor untuk meminimalkan intervensi emosi seperti FOMO atau panik,” ujarnya.
IPOT juga memperbarui sejumlah istilah dalam sistem ROBO agar lebih mudah dipahami investor muda. Istilah Buy on Low diubah menjadi Buy on Dip, sementara Buy on Reversal diperbarui menjadi Trailing Buy.
Data fundamental dikemas lebih visual
Selain fitur trading, penyajian data fundamental perusahaan juga mulai dikembangkan dalam bentuk visual.
Pada menu Financials, pengguna dapat melihat ringkasan performa perusahaan, detail laporan keuangan, hingga tabel komparasi rasio lintas periode.
Data tersebut juga dapat ditampilkan dalam bentuk grafik visual untuk mempermudah investor membaca tren pertumbuhan pendapatan maupun laba per saham (EPS).
“IPOT menyadari bahwa generasi muda jauh lebih cepat menangkap pola tren melalui pendekatan grafis dibandingkan tabel angka yang membosankan,” tutur Moleonoto.
Di sisi lain, aplikasi juga menyediakan menu Insights yang memuat pembaruan pasar, riset, komunitas, hingga materi edukasi investasi dalam satu ruang navigasi.
Moleonoto mengatakan, pendekatan tersebut ditujukan agar investor tidak hanya berfokus pada aktivitas beli dan jual saham, tetapi juga memahami konteks pasar dan data yang mendasari keputusan investasi.
Adapun pembaruan tampilan aplikasi berbasis AI Real Time tersebut resmi diluncurkan oleh IPOT pada Selasa. Perusahaan menyebut pengembangan UI/UX terbaru itu ditujukan untuk menghadirkan pengalaman investasi yang lebih personal, cepat, dan adaptif bagi investor muda.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Anak muda belajar investasi terencana dengan reksa dana untuk mengelola risiko dan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian pasar modal. [1,430] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Senja baru turun di kawasan Sudirman ketika Bisnis dan dua pekerja muda yang juga berinvestasi di pasar modal bertemu di sebuah rumah makan kecil tak jauh dari Stasiun Sudirman akhir April lalu. Di jalanan, lampu kendaraan memantul seperti grafik saham yang naik-turun tanpa arah.
Ardi (31) tampak lebih diam. Jemarinya sesekali mengulir layar ponsel yang penuh warna merah. Portofolio sahamnya kembali longsor saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari itu Kamis (30/4/2026) tergelincir dan ditutup di bawah level 7.000.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang biasanya menjadi salah satu kebanggannya hari itu turut jatuh ke level 5.850, terendah dalam setahun terakhir. Selama ini BBCA menjadi salah satu andalannya menjaga portofolio.
“Awalnya saya pikir investasi di perbankan itu bakal aman, ternyata tetap saja bikin panik,” ujar Ardi bercerita.
Saham bank bukanlah satu-satunya aset yang ia miliki. Ardi termasuk tipe investor yang agresif. Ia rajin membeli saham-saham yang cukup likuid di pasar modal. Biasanya sektor tambang, energi, serta teknologi.
Menurut Ardi, saham-saham di sektor itu biasanya bergerak cepat sehingga peluang meraih keuntungan juga lebih besar. Tapi kali ini di tengah gejolak pasar yang tinggi akibat perang dan pergeseran poros ekonomi, ia justru mendapat kerugian cukup besar. Bahkan saham perbankan yang biasanya relatif aman di kala goncangan pun tak cukup kuat menahan badai di pasar modal.
Kepanikan yang dirasakan Ardi tak berdiri sendiri. Data Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing membukukan jual bersih Rp45,38 triliun sepanjang tahun berjalan hingga akhir April 2026. Pasar saham Indonesia pun terperosok ke papan bawah bursa global dengan penurunan sekitar 19% sepanjang tahun berjalan.
“Ini namanya enggak rugi lagi, tapi sudah jadi donatur dan dermawan di pasar modal,” ujar Ardi sembari tertawa kecil menyindir posisi portofolionya yang sudah rugi dalam.
Demografi investor di Bursa Efek Indonesia./Sumber: KSEI
Di pasar modal, euforia memang sering membuat orang lupa bahwa grafik tidak selalu naik. Banyak investor baru mengenal risiko justru ketika pasar mulai runtuh. Apalagi bagi mereka yang tak cukup jeli dalam memilih investasi dan lebih banyak didorong faktor eksternal.
Namun pengalaman investor muda tak selalu sama seperti Ardi. Di hadapannya, Putra (36 tahun) tertawa kecil. Bukan karena merasa lebih hebat, melainkan karena pernah berada di posisi serupa beberapa tahun lalu. Bedanya, kali ini kerugian Putra tidak sedalam sahabatnya.
Sebagian uangnya memang tetap terseret penurunan pasar saham. Namun gejolak itu tak sampai membuat seluruh portofolionya babak belur. Hal itu lantaran ia menaruh sebagian besar dananya di reksa dana.
Sejak dua tahun silam, Putra mengaku mulai mendiversifikasi aset investasinya. Tak hanya saham, ia juga berinvestasi di emas dan reksa dana. Bahkan untuk reksa dana ia membagi dua pilihan, reksa dana saham untuk pertumbuhan jangka panjang hingga reksa dana pasar uang untuk menjaga likuiditas.
“Kalau semua ditaruh di saham, mental bisa habis duluan,” ujar Putra sambil menyeruput kopi hitamnya. “Makanya saya pecah risikonya.”
Ardi membenarkan pernyataan Putra. Namun ia sudah terlanjur rugi dalam. Saat ini ia hanya berharap ruginya menipis dan kembali menata portofolio investasi. Menurut Ardi, ketidakpastian di pasar modal memberi ia satu pelajaran. Investasi harus didiversifikasi.
Tak hanya Ardi, saat ini banyak investor pemula masuk pasar modal dengan ekspektasi tinggi, tetapi tanpa pemahaman memadai mengenai risiko. Ketika pasar sedang naik, semua tampak mudah. Namun saat IHSG terkoreksi tajam, banyak investor baru sadar bahwa investasi bukan sekadar soal mengejar keuntungan, melainkan juga mengelola risiko.
Belajar Mengelola Risiko
Pengalaman Ardi bukan kasus tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, ledakan investor muda membuat pasar modal dipenuhi investor pemula dengan ekspektasi tinggi. Kemudahan membuka rekening efek lewat aplikasi digital membuat investasi terasa semakin dekat. Namun di saat bersamaan, banyak investor belajar dari media sosial, mengikuti influencer, atau sekadar ikut arus saham yang sedang ramai dibicarakan.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan jumlah investor pasar modal telah menembus lebih dari 26 juta single investor identification (SID) per April 2026. Mayoritas berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Perencana keuangan independen sekaligus Founder Oneshildt dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia Mohamad Andoko mengatakan banyak investor muda terjebak pada pola pikir ingin cepat kaya. Mereka masuk ke instrumen berisiko tinggi tanpa memahami profil risiko maupun tujuan keuangan pribadi.
“Jangan FOMO. Pelajari produknya, analisa, analisa, dan analisa,” kata Andoko saat berbincang dengan Bisnis.
Menurut dia, investasi sebaiknya dimulai sejak pertama kali memiliki penghasilan. Faktor waktu menjadi kunci karena berkaitan dengan efek bunga majemuk atau compounding interest.
“Kalau sudah mulai punya penghasilan, misalnya usia 22–23 tahun, wajib mulai investasi. Rumus utama investasi itu waktu,” ujarnya.
Andoko menyarankan alokasi investasi dilakukan di awal saat menerima penghasilan, bukan dari sisa belanja. Selain itu, investor juga perlu menyiapkan dana darurat dan memahami pentingnya diversifikasi agar seluruh aset tidak terpapar pada satu jenis risiko.
Menurut Andoko, reksa dana menjadi salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan investor pemula karena dikelola oleh manajer investasi profesional dengan modal yang relatif terjangkau. Meski begitu, komposisi investor menurut dia masih didominasi instrumen pendapatan tetap dan pasar uang.
“Sekitar 77% investor Indonesia masih memilih fixed income dan money market karena tidak terlalu pusing, dikelola profesional,” katanya.
Besaran investasi di pasar modal Tanah Air./Sumber: KSEI
Di sisi lain, meski dikelola profesional dan ditempatkan di bank kustodian, Andoko mengingatkan reksa dana tetap memiliki risiko, termasuk biaya pengelolaan dan kinerja manajer investasi yang bisa berada di bawah benchmark. Karena itu, investor diminta tetap selektif memilih produk dan manajer investasi.
“Jangan sampai waktu habis, return jelek, waktu habis untuk menunggu,” ujarnya.
Selain itu diversifikasi menjadi penting untuk menjaga aset sekaligus memaksimalkan imbal hasil. Reksa dana pasar uang, misalnya, relatif stabil dan likuid karena ditempatkan pada deposito dan obligasi jangka pendek. Sementara reksa dana saham menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi, tetapi mengikuti fluktuasi pasar saham.
Seiring pertumbuhan investasi reksa dana, Otoritas Jasa Keuangan mencatat total dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana mencapai Rp1.084 triliun per Maret 2026. Direktur Pengawasan dan Pengelolaan Investasi 1 OJK Sujanto mengatakan nilai tersebut tumbuh dibandingkan posisi Desember 2025. Meski demikian, kontribusi industri reksa dana terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.
“Jadi masih banyak ketimpangan, banyak yang sebenarnya masih bisa dikejar,” ujar Sujanto dalam acara edukasi wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), total penduduk Indonesia mencapai 287 juta jiwa dengan sekitar 196 juta jiwa di antaranya masuk dalam kategori usia produktif (15-64 tahun).
“Artinya kalau dibandingkan dengan yang 23 juta investor tadi, peluang kita mengejar kelompok produktif menjadi investor masih banyak sekali,” tuturnya.
Guna mengoptimalkan potensi tersebut, OJK terus menekankan pentingnya penguatan edukasi dan literasi keuangan. Industri reksa dana dipandang sebagai instrumen investasi yang inklusif karena dapat diakses dengan modal yang sangat terjangkau, bahkan mulai dari Rp10.000 bagi investor pemula.
Investasi Terencana dengan Reksa Dana
Lebih jauh OJK menilai pemahaman masyarakat mengenai investasi menjadi tantangan besar di tengah derasnya pertumbuhan investor ritel. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan peningkatan jumlah investor harus diiringi penguatan kualitas literasi keuangan.
“Pendalaman pasar tidak hanya diukur dengan peningkatan angka jumlah investor, akan tetapi juga upaya memperkuat kualitas ekosistem pasar. Pelaku industri diharapkan terus berperan aktif sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata Hasan.
Karena itu, OJK meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana atau Pintar Reksa Dana pada April 2026. Program ini ditujukan untuk memperluas partisipasi masyarakat di pasar modal sekaligus membangun kebiasaan investasi rutin sejak dini.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pasar modal Indonesia sebagai sumber pembiayaan jangka panjang ekonomi nasional.
“Program ini juga menjadi bagian dari reformasi sistemik untuk memperkuat peran pasar modal sebagai pilar pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional,” kata Friderica.
Sementara Ketua Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Liliana mengatakan budaya investasi sehat perlu dibangun melalui kebiasaan menabung dan berinvestasi secara rutin, bukan sekadar mengejar keuntungan instan.
“Program Pintar Reksa Dana diharapkan dapat menggerakkan masyarakat agar mulai berinvestasi rutin dan terencana untuk mencapai tujuan keuangan masa depan,” kata Lolita.
Selain itu, Lolita menyampaikan bahwa pertumbuhan yang kuat ini mencerminkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional. Menurut dia momentum pertumbuhan perlu dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, khususnya di kalangan generasi muda yang saat ini mendominasi komposisi investor.
Sementara itu dari kawasan Sudirman, Ardi mulai menata niat. Angka merah di layar ponselnya memang belum berubah hijau. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pasar saham yang mudah berayun, semakin banyak investor muda mulai belajar bahwa ketenangan juga memiliki nilai. Bagi sebagian dari mereka, reksa dana bukan lagi sekadar alternatif investasi, melainkan cara menjaga mimpi keuangan tetap berjalan tanpa harus terus-menerus dihantui kepanikan pasar.
Platform advisory (konsultasi) investasi Recompound mengusung konsep “Your Personal Chief Investment Officer (CIO)” untuk memfasilitasi para ... [434] url asal
Kami melihat ada kelompok investor yang tetap ingin membangun aset secara serius, namun juga sadar bahwa waktu dan perhatian mereka terbatas
Jakarta (ANTARA) - Platform advisory (konsultasi) investasi Recompound mengusung konsep “Your Personal Chief Investment Officer (CIO)” untuk memfasilitasi para investor muda, terutama kelompok usia 20-30 tahun, agar dapat berinvestasi secara konsisten dalam jangka panjang.
Co-Founder Recompound Toby Limanto menyatakan saat ini semakin banyak investor individu yang masuk ke pasar modal, tapi tidak semuanya memiliki waktu untuk fokus mengembangkan portofolio mereka.
“Kami melihat ada kelompok investor yang tetap ingin membangun aset secara serius, namun juga sadar bahwa waktu dan perhatian mereka terbatas,” ujar Toby Limanto dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.
Ia menyatakan kelompok tersebut umumnya merupakan para pekerja yang tetap ingin serius membangun portofolio aset mereka, tapi memilih mendelegasikan proses analisis investasi kepada profesional terkait untuk mendapatkan saran yang tepat sebagai landasan pengambilan keputusan investasi mereka nantinya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pihaknya menempatkan diri sebagai mitra pengambilan keputusan yang lebih terstruktur, berbasis riset dan berorientasi jangka panjang, bukan menawarkan stock tips atau mengikuti gejolak pasar sehari-hari.
“Di situlah Recompound hadir untuk membantu para profesional sibuk menghemat waktu dalam berinvestasi, sehingga mereka bisa mengalihkan fokus ke karier utama dan hal lainnya yang paling penting bagi mereka,” kata Roby.
Dengan mekanisme tersebut, pihaknya memastikan klien tetap memegang kendali atas aset mereka masing-masing. Platform hanya memperoleh imbalan ketika portofolio klien melampaui titik tertinggi sebelumnya.
Sebaliknya, jika portofolio tidak menunjukkan kinerja yang baik maka penyedia jasa tidak menerima imbalan.
Co-Founder Recompound Budi Ryan menuturkan, pihaknya menekankan proses, hasil jangka panjang, akuntabilitas, dan realisme terhadap ketidakpastian pasar.
Ia mengatakan filosofi investasi pihaknya berfokus pada jangka panjang dan proses, bukan prediksi, dengan cara pandang bahwa membeli saham berarti membeli bagian dari bisnis riil.
Oleh karena itu, perhatian investasi diarahkan pada kualitas bisnis, kewajaran harga, kemampuan menghasilkan laba, dan margin of safety, bukan pada narasi pasar jangka pendek.
“Bagi kami, keberhasilan bukan hanya soal kinerja portofolio, tetapi juga apakah klien menjadi lebih tenang, lebih disiplin, dan lebih rasional dalam menyikapi pasar,” ucap Budi Ryan.
“Ketika investor bisa tetap fokus pada pekerjaan, keluarga, dan prioritas hidupnya tanpa terus-menerus terseret fluktuasi harian, di situlah pendampingan yang terstruktur benar-benar memberi nilai,” imbuhnya.
Dari sisi perkembangan bisnis, Recompound telah menerima seed investment dari Genesia Ventures, STRIVE, dan lima angel investor pada Oktober 2024.
Portofolio yang didampingi mencatatkan rata-rata pertumbuhan sekitar 15-20 persen per tahun. Angka ini secara konsisten berada di atas performa rata-rata bursa saham Indonesia (IHSG) maupun indeks LQ45 dalam tiga tahun terakhir.
OJK dan BEI dorong investasi berkelanjutan untuk transisi energi, dengan fokus pada keuangan hijau dan ESG, melibatkan masyarakat dan generasi muda. [474] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar modal memiliki peran strategis sebagai motor penggerak investasi yang mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Deden Firman Hendarsyah mengatakan perubahan iklim kini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga merambah aspek sosial dan ekonomi, bahkan menjadi risiko sistemik bagi stabilitas keuangan.
“Perubahan iklim bukan semata risiko lingkungan, namun berkembang menjadi risiko ekonomi dan risiko keuangan yang mengancam stabilitas,” ujarnya saat menjadi keynote speaker dalam Sustainable Finance Fest 2026 di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Deden menegaskan, transisi menuju keuangan berkelanjutan merupakan upaya mitigasi risiko iklim yang bersifat kolektif dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Bagi industri jasa keuangan, langkah tersebut bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa proses transisi perlu dilakukan secara hati-hati dengan tata kelola yang baik. Menurutnya, risiko akibat stagnasi justru dapat lebih besar dibandingkan risiko dalam proses perubahan.
“Yang dibutuhkan adalah keberanian yang prudent untuk berinovasi dalam merancang produk keuangan hijau dan berkelanjutan, namun tetap disertai kehati-hatian dan tata kelola yang baik,” jelasnya.
Deden juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berperan aktif dalam mendorong transformasi sektor keuangan. Ia menekankan pentingnya menjadi investor yang tidak hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga mempertimbangkan dampak dari investasi yang dilakukan.
“Setiap rupiah yang diinvestasikan adalah suara untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan bumi,” katanya.
Dalam mendorong ekosistem keuangan berkelanjutan, OJK telah menerbitkan berbagai kebijakan, seperti taksonomi keuangan berkelanjutan Indonesia dan panduan manajemen risiko iklim.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Berkelanjutan OJK R. Joko Siswanto menyampaikan bahwa regulasi tersebut bertujuan mengubah paradigma pelaku industri dari sekadar kepatuhan menjadi kesadaran.
“Nantinya, pasar atau publik yang akan menghukum atau mengapresiasi pelaku usaha dalam menjalankan praktik berkelanjutan,” ujarnya.
Dari sisi pasar modal, Kepala Divisi Pengembangan 2 Bursa Efek Indonesia (BEI) Ignatius Denny Wicaksono menegaskan bahwa bursa berperan sebagai penghubung antara investor dan instrumen investasi hijau.
Menurutnya, pasar modal dapat menjadi motor utama dalam menavigasi investasi berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), sekaligus mempercepat aliran dana ke sektor berkelanjutan.
“Tugas kita adalah menavigasi ESG investment, yaitu bagaimana caranya supaya investor berinvestasi ke sektor yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
BEI telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong investasi hijau, antara lain melalui peningkatan keterbukaan informasi, kerja sama dengan lembaga pemeringkat ESG, peluncuran enam indeks ESG, serta pengembangan beragam produk investasi berkelanjutan.
Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, memaparkan bahwa transisi sektor keuangan ke arah yang lebih berkelanjutan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial.
Transisi energi kerap mengabaikan dampak sosialnya, seperti hilangnya lapangan kerja di sektor energi dan pertambangan. Ketika pensiun dini PLTU, misalnya, pemangku kepentingan perlu memperhitungkan berapa banyak pekerjaan yang ikut hilang.
"Ketimpangan manfaat juga perlu menjadi perhatian. Banyak investasi hijau yang hanya menguntungkan korporasi, sementara masyarakat lokal justru menanggung dampaknya—baik dari sisi mata pencaharian maupun konflik lahan," tutur Victoria.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja positif pada industri reksa dana yang ditandai dengan pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) sebesar 5,18 persen ... [370] url asal
Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja positif pada industri reksa dana yang ditandai dengan pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) sebesar 5,18 persen dalam tahun kalender berjalan (year-to-date/ytd) menjadi Rp710,29 triliun per 23 April 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa OJK Hasan Fawzi menyatakan momentum pertumbuhan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan inisiatif pendalaman pasar secara terintegrasi melalui sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan industri, salah satunya melalui Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana (PINTAR Reksa Dana).
“Peluncuran program PINTAR Reksa Dana ini akan menjadi momentum strategis dalam upaya kita bersama untuk mendorong dan mempercepat inklusi investasi, khususnya di kalangan generasi muda,” kata Hasan Fawzi di Jakarta, Senin.
Selain peningkatan NAB, ia menyampaikan bahwa kinerja positif pasar modal dalam negeri juga terlihat dari jumlah investor yang melonjak signifikan mencapai 26,12 juta, dengan porsi 24,86 juta investor berada di industri pengelolaan investasi.
Mengingat 54,71 persen di antaranya adalah generasi muda berusia di bawah 30 tahun, ia menilai pendekatan Systematic Investment Plan (SIP) atau metode investasi rutin diharapkan mampu membentuk kebiasaan disiplin berinvestasi secara berkelanjutan.
Hasan mengatakan, pendalaman pasar modal diharapkan dapat berkontribusi sebesar 3,81 persen, atau Rp1,81 kuadriliun, terhadap kebutuhan investasi nasional selama 2025-2029 yang diproyeksikan mencapai Rp47,57 kuadriliun.
Untuk mendukung pendalaman pasar modal, pihaknya bersama sejumlah Self-Regulatory Organization (SRO) pun terus mendorong implementasi delapan Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia guna memperkuat integritas pasar dan kesesuaian praktik dengan standar global.
Ia mengatakan sejumlah aksi reformasi pasar modal yang telah direalisasikan hingga April 2026 mencakup peningkatan batas minimum free float, penyempurnaan transparansi klasifikasi investor, serta penguatan transparansi atas catatan kepemilikan saham perusahaan tercatat.
Selain melibatkan peran SRO, Hasan juga mengajak asosiasi industri pengelola investasi untuk aktif menjalankan mekanisme kontrol mandiri (self-control) untuk mengidentifikasi dan mencegah potensi praktik perilaku pasar (market conduct) yang merugikans.
Ia juga mengimbau perusahaan pengelola investasi untuk terus memperluas jangkauan layanan produk-produk investasi di seluruh Indonesia.
“Janganlah Jakarta atau Pulau Jawa semata hanya menjadi hot spot investasi kita, tapi kita terus sebarkan inklusivitas dari kesempatan berinvestasi masyarakat Indonesia secara luas tanpa kecuali di berbagai wilayah,” ujar dia.
Investor pasar modal tercatat 26,12 juta orang. Namun dari total tersebut, kata Hasan, sebanyak 54,71% merupakan investor berusia di bawah 30 tahun. [201] url asal
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menilai partisipasi generasi muda di pasar modal Indonesia membawa peluang besar sekaligus tantangan dalam aspek literasi dan perlindungan investor.
Hingga 24 April 2026, diketahui jumlah investor pasar modal tercatat telah mencapai 26,12 juta investor. Namun dari total tersebut, kata Hasan, sebanyak 54,71% merupakan investor berusia di bawah 30 tahun.
"Tentu di satu sisi menunjukkan bagaimana peran strategis generasi muda sebagai penggerak utama pasar modal kita ke depan," kata Hasan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/4/2026).
Tapi di sisi lain, dominasi investor muda juga menghadirkan tantangan tersendiri. Hasan menilai sebagian besar investor baru masih memiliki keterbatasan informasi serta pemahaman investasi,
"Keterbatasan informasi dan pemahaman sebagai investor pemula ini menjadi amanah yang harus kita pegang bersama," tegas Hasan.
Hasan menekankan, bahwa setiap dana yang diinvestasikan masyarakat, sekecil apa pun nilainya, merupakan aset berharga yang harus dikelola secara profesional dan berintegritas tinggi.
Karena itu, seluruh pelaku industri pasar modal diingatkan untuk selalu mengedepankan prinsip tata kelola yang baik serta perlindungan investor.
"Tentu pengelolaannya diamanahkan untuk dilakukan dengan integritas yang tinggi dengan mengedepankan kepentingan pelindungan kepada investor kita," pungkas dia.
Gen Z diingatkan untuk tidak terjebak investasi sesaat yang mengikuti tren. Investor muda diminta mulai membangun strategi jangka panjang [634] url asal
KOMPAS.com – Chief Executive Officer (CEO) Capital Group, Mike Gitlin, mengingatkan investor muda dari generasi Z (Gen Z) untuk tidak terjebak pada pola investasi sesaat atau sekadar mengikuti minat pribadi (hobby investing). Ia menekankan pentingnya membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Menurut Gitlin, investor muda seharusnya mulai memandang pasar keuangan sebagai sarana membangun kekayaan jangka panjang, bukan sekadar ajang mencoba-coba atau mengikuti tren.
“Investor muda harus mendekati pasar dengan pola pikir membangun kekayaan jangka panjang, bukan sekadar ‘hobby investing’,” ujarnya, dikutip dari CNBC, Rabu (22/4/2026).
Dorong Gen Z fokus ke fundamental
Gitlin menyampaikan hal tersebut merespons pertanyaan seorang ayah yang mengaku anak-anak remajanya menolak rencananya memindahkan investasi dari emas ke minyak. Mereka menilai langkah itu sebagai upaya “mengambil keuntungan dari perang”.
Survei informal di sekolah anak tersebut bahkan menunjukkan sekitar 80 persen Gen Z memiliki pandangan serupa.
Menanggapi hal itu, Gitlin menilai baik emas maupun minyak bukanlah instrumen utama yang seharusnya menjadi fokus investor muda dalam merencanakan investasi jangka sangat panjang.
“Baik emas maupun minyak bukan tempat mereka seharusnya berpikir untuk menempatkan uang selama 75 tahun ke depan,” kata Gitlin.
Ia menambahkan, mencoba menebak waktu yang tepat untuk masuk dan keluar dari pasar komoditas sangat sulit, bahkan bagi investor profesional.
“Menentukan waktu pasar komoditas itu sangat sulit, bahkan bagi profesional, apalagi untuk anak usia 13 tahun,” ujarnya.
Sebagai gantinya, Gitlin menyarankan investor muda mulai membangun “paper portfolio” atau portofolio simulasi yang berisi sejumlah saham.
Ia juga mendorong mereka melakukan riset mendalam (due diligence), termasuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.
Fokus utama, kata dia, seharusnya pada fundamental perusahaan, bukan fluktuasi pasar jangka pendek.
“Buat mereka tertarik pada saham dan obligasi, kondisi makro yang lebih luas, serta apa yang sedang terjadi di dunia,” ucapnya.
Gen-Z diingatkan untuk tidak terjebak investasi sesaat yang mengikuti tren. Investor muda diminta mulai membangun strategi jangka panjang dengan fokus pada fundamental dan pertumbuhan kekayaan berkelanjutan.
Kepercayaan Gen Z ke lembaga keuangan menurun
Pandangan Gitlin muncul di tengah tren menurunnya kepercayaan Gen Z terhadap institusi keuangan tradisional.
Berdasarkan laporan World Economic Forum bertajuk Global Retail Investor Outlook, kepercayaan generasi ini terhadap lembaga keuangan turun dalam dua tahun terakhir.
Hampir 20 persen responden yang belum berinvestasi menyebut ketidakpercayaan terhadap institusi keuangan sebagai alasan utama mereka menjauh dari pasar.
Sebagian kecil, namun terus bertambah, bahkan mengadopsi apa yang disebut sebagai “financial nihilism”, yakni penolakan terhadap konsep-konsep tradisional dalam membangun kekayaan.
Meski demikian, mayoritas responden menyatakan mereka akan lebih aktif berinvestasi jika tingkat kepercayaan terhadap platform investasi meningkat.
Pasar dinilai tetap tangguh di tengah konflik
Pernyataan Gitlin juga disampaikan di tengah kondisi pasar global yang dinilai tetap tangguh meski konflik antara AS, Israel, dan Iran berlangsung hampir dua bulan.
Indeks saham global seperti MSCI World Index telah kembali ke level sebelum perang. Indeks ini bahkan berhasil menghapus penurunan 3,29 persen pascakonflik dan kini diperdagangkan hampir 2 persen di atas posisi penutupan 2 Maret, hari pertama setelah konflik pecah.
“Pasar sangat tangguh. Investor melihat ke depan, sekitar tiga sampai lima tahun, pada kinerja laba dan profitabilitas perusahaan,” kata Gitlin.
Ia menekankan pentingnya melihat prospek jangka panjang di tengah gejolak jangka pendek.
Sejumlah pasar saham dengan kinerja terbaik tahun ini justru berasal dari negara importir energi. Indeks Kospi Korea Selatan naik 50 persen, sementara indeks acuan Taiwan menguat 30 persen, jauh melampaui kenaikan S&P 500 yang hanya sekitar 3 persen.
Harga minyak jadi faktor kunci
Meski demikian, Gitlin mengingatkan satu faktor yang patut diwaspadai, yakni pergerakan harga minyak.
Menurut dia, jika harga minyak bertahan tinggi dalam jangka panjang, dampaknya bisa memicu inflasi lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
“Jika minyak tetap tinggi dalam waktu lama, inflasi akan naik dan pertumbuhan melambat. Pasar akan bereaksi terhadap kondisi itu,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Transaksi Surat Utang Negara (SUN) melalui kanal digital menembus lebih dari 80 persen sepanjang 2025, menandai percepatan pergeseran perilaku investasi masyarakat ke platform daring. Kondisi ini mendorong perbankan memperkuat distribusi digital guna menjangkau investor lebih luas.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih mengatakan, penguatan kanal digital menjadi kunci untuk meningkatkan partisipasi investor domestik. “Kami akan terus mendorong peningkatan partisipasi investor domestik melalui optimalisasi kanal distribusi dan edukasi pasar,” ujarnya dalam keterangan, Jumat (17/4/2026).
Lonjakan tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah investor yang meningkat lebih dari 20 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan paling tinggi berasal dari generasi milenial dan Gen Z yang tumbuh lebih dari 50 persenyoy, memperlihatkan dominasi investor muda dalam instrumen pembiayaan negara.
Dominasi kanal digital menunjukkan kemudahan akses menjadi faktor utama dalam menarik minat masyarakat. Proses investasi yang semakin sederhana, mulai dari pemesanan di pasar perdana hingga transaksi di pasar sekunder, mendorong SUN kian diminati sebagai instrumen investasi ritel.
Perubahan ini sekaligus memperkuat basis investor domestik dalam pembiayaan negara. Dengan meningkatnya partisipasi masyarakat, ketahanan pasar keuangan dinilai semakin terjaga di tengah dinamika global.
BCA juga memfasilitasi transaksi SUN melalui platform digital seperti myBCA dan KlikBCA Individu, serta jaringan kantor cabang. Peran ini tidak hanya memperluas akses investasi, tetapi juga menjaga likuiditas pasar obligasi domestik.
Seiring capaian tersebut, BCA meraih empat penghargaan dari Kementerian Keuangan, meliputi kinerja terbaik sebagai Dealer Utama SUN secara keseluruhan, di pasar perdana dan sekunder, serta sebagai mitra distribusi SUN ritel terbaik sepanjang 2025.