PEMERINTAH baru-baru ini mengumumkan rencana menyiapkan Rp 8 triliun untuk mencetak 500.000 tenaga kerja baru di sektor welder dan hospitality.
Program ini muncul setelah Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/10), mengungkapkan bahwa jutaan tenaga kerja Indonesia sangat diminati berbagai negara di dunia, salah satunya Eropa.
Setiap tahun, menurut Presiden Prabowo, Eropa membutuhkan sekitar satu juta tenaga kerja, terutama untuk sektor perhotelan, kafe, dan restoran.
Selain sektor perhotelan dan restoran, Presiden Prabowo juga menyoroti kebutuhan tenaga kerja Indonesia di sektor kesehatan. Misalnya, sebagai perawat atau pendamping profesional (caregiver) di rumah sakit maupun fasilitas perawatan pribadi.
Presiden menilai, orang Indonesia terkenal dengan sifat ramah sehingga disukai di luar negeri. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing dalam pendidikan di Indonesia sebagai bagian dari peningkatan kualitas tenaga kerja.
Menindaklanjuti hal tersebut, pemerintah berencana membangun akses pendidikan yang lebih luas, termasuk rencana pembangunan sekolah terintegrasi di setiap kecamatan dengan fasilitas memadai, guna mendukung penguasaan bahasa dan keterampilan lain yang relevan dengan kebutuhan global.
Kemudian, Kementerian Koordinator Perekonomian pada Rabu (22/10/2025), menindaklanjuti dengan menyiapkan Rp 8 triliun untuk program pencetakan 500.000 tenaga kerja baru.
Koordinasi program ini akan berada di bawah Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Angka fantastis ini tentu menarik perhatian publik. Namun pertanyaannya, apakah diperlukan anggaran sebesar itu untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja maupun memenuhi kebutuhan pasar kerja luar negeri?
Dalam pengalaman saya mengamati dunia ketenagakerjaan, terutama ketenagakerjaan migran, anggaran sebesar itu terasa tidak rasional dan kurang efektif dalam menjawab perintah Presiden Prabowo. Anggaran ini seolah mengabaikan pertimbangan efisiensi dan relevansi strategi.
Anggaran Rp 8 triliun untuk 500.000 tenaga kerja baru setara dengan biaya rata-rata Rp 16 juta per orang. Angka ini terdengar besar jika dibandingkan dengan biaya pelatihan vokasi di lembaga pemerintah atau Balai Latihan Kerja, yang biasanya berkisar Rp 5 juta hingga 10 juta per orang untuk program beberapa bulan, termasuk materi, instruktur, dan fasilitas dasar.
Pelatihan bersertifikasi industri, yang menuntut standar lebih tinggi, bisa menelan biaya hingga Rp 10–15 juta per orang, tergantung kompleksitas keterampilan.
Besarnya angka ini kemungkinan mencakup pembangunan infrastruktur, peralatan latihan, gaji instruktur dan administrasi, fasilitas peserta, serta koordinasi lintas kementerian.
Meskipun sah secara administratif, banyak komponen ini bisa ditekan melalui kemitraan dengan industri, program magang langsung, atau pemanfaatan teknologi digital untuk sebagian materi pelatihan, sehingga biaya menjadi lebih efisien.
Kualitas lebih penting daripada kuantitas
Yang paling menentukan keberhasilan program bukanlah jumlah peserta yang dicetak, melainkan efektivitas dalam menyiapkan tenaga kerja yang benar-benar siap pakai.
Fokus semata pada kuantitas seringkali membuat biaya per orang tampak tinggi, sementara hasil yang dicapai tidak maksimal.
Sebaliknya, menekankan kualitas, sertifikasi yang relevan, dan kemampuan bersaing global membuat alokasi anggaran menjadi lebih masuk akal dan berdampak nyata.
Keberhasilan program seharusnya diukur dari kesesuaian keterampilan peserta dengan kebutuhan industri serta kemampuan mereka untuk terserap di pasar kerja, baik domestik maupun internasional.
Dengan pendekatan yang menekankan kualitas, pemerintah dapat memastikan setiap tenaga kerja yang dilatih memiliki nilai tambah nyata, siap bersaing di tingkat global, dan memberikan kontribusi ekonomi signifikan.
Perintah Presiden Prabowo di sektor perhotelan, kafe, restoran, serta sektor kesehatan menunjukkan bahwa keterampilan yang dibutuhkan tenaga kerja Indonesia sebagian besar sudah tersedia di bangku SMK dan bersifat serba guna.
Banyak lulusan SMK telah memiliki kompetensi dasar yang siap langsung digunakan di lapangan, sehingga kebutuhan akan pelatihan massal untuk keterampilan dasar relatif terbatas.
Pelatihan tambahan yang paling penting saat ini terutama berkaitan dengan penguasaan bahasa asing, seperti Inggris, Jepang dan Korea Selatan, yang menjadi syarat utama untuk bersaing di pasar kerja internasional.
Sementara itu, untuk keterampilan khusus seperti welder, pelatihan memang diperlukan. Namun fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) pemerintah sudah tersedia luas, lengkap dengan program sertifikasi industri yang diakui.
Dengan demikian, fokus program pelatihan seharusnya menyesuaikan kebutuhan spesifik, memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, dan mengoptimalkan sertifikasi serta pelatihan tambahan yang relevan, daripada mengalokasikan anggaran besar untuk pelatihan massal yang sebagian besar materi sudah tersedia.
Selain tantangan teknis, program ini menghadapi risiko konflik kepentingan yang tidak bisa diabaikan. Menko Perekonomian yang memimpin penganggaran berasal dari partai tertentu, sementara KP2MI, yang bertanggung jawab atas koordinasi, memiliki afiliasi partai yang sama.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah alokasi anggaran benar-benar ditujukan untuk efektivitas dan kebutuhan tenaga kerja, atau justru dipengaruhi pertimbangan politik dan kepentingan partai?
Tanpa mekanisme pengawasan dan transparansi yang ketat, potensi tumpang tindih, pemborosan, dan keputusan yang lebih mengutamakan kepentingan politik daripada hasil nyata bagi tenaga kerja menjadi sangat besar.
Program sebesar ini seharusnya fokus pada strategi yang efisien dan manfaat langsung bagi pekerja, bukan hanya sekadar proyek besar yang terlihat gemilang di atas kertas.
Kebutuhan nyata pekerja migran
Yang sesungguhnya dibutuhkan oleh pekerja migran bukanlah anggaran besar untuk pelatihan massal, melainkan fasilitas administratif yang efisien, termasuk paspor, izin kerja, dan pengurangan atau penggratisan biaya birokrasi yang kerap menjadi penghambat utama.
Banyak calon pekerja migran yang siap dan memiliki keterampilan dasar, tapi proses birokrasi yang panjang dan mahal sering menunda atau bahkan membatalkan keberangkatan mereka.
Dengan pendekatan pragmatis dan berbasis kebutuhan nyata, pemerintah dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di pasar global, mempermudah proses keberangkatan, dan memastikan setiap pekerja terserap di pasar kerja internasional tanpa hambatan yang tidak perlu.
Fokus pada administrasi juga lebih cepat memberikan hasil konkret dibandingkan pelatihan massal. Pasalnya, sebagian besar keterampilan dasar sudah tersedia di bangku SMK atau BLK, dan pelatihan tambahan seperti bahasa asing atau sertifikasi khusus dapat disesuaikan dengan permintaan industri.
Selain itu, efisiensi administratif memungkinkan pemerintah mengalokasikan sumber daya secara lebih bijak. Misalnya untuk program magang, sertifikasi internasional, atau kemitraan dengan industri yang langsung menyerap tenaga kerja.
Dengan strategi ini, tenaga kerja Indonesia tidak hanya siap bekerja, tetapi juga dihargai dan dicari di pasar global, sementara anggaran negara dapat digunakan secara lebih produktif dan berdampak nyata.
Melihat skema anggaran sebesar Rp 8 triliun untuk mencetak 500.000 tenaga kerja baru, jelas bahwa besarnya dana bukan jaminan keberhasilan. Biaya per orang yang mencapai Rp 16 juta menimbulkan pertanyaan serius terkait efisiensi dan prioritas.
Pelatihan vokasi, baik di SMK maupun Balai Latihan Kerja, sudah menyediakan keterampilan dasar yang dibutuhkan di sektor perhotelan, kafe, restoran, dan kesehatan.
Bahkan sebagian besar keterampilan ini bersifat serba guna dan dapat langsung terserap di pasar kerja. Sementara yang tersisa hanyalah pelatihan tambahan seperti bahasa asing atau sertifikasi khusus untuk sektor welder.
Fokus hanya pada kuantitas, tanpa strategi yang tepat, berisiko menghabiskan dana besar untuk hasil yang minimal.
Padahal, pekerja migran sejatinya membutuhkan fasilitas administratif yang efisien, termasuk paspor, izin kerja, dan pengurangan biaya birokrasi yang sering menjadi penghambat utama.
Menyediakan anggaran besar untuk pelatihan massal bukan solusi paling efektif, apalagi jika koordinasi program menghadapi potensi konflik kepentingan dan mekanisme yang tumpang tindih antar kementerian.
Yang dibutuhkan adalah pendekatan strategis dan berbasis kebutuhan nyata, di mana pemerintah mengutamakan kualitas, relevansi keterampilan, dan kesiapan peserta untuk bersaing secara global.
Pemanfaatan kemitraan dengan industri, program magang, dan teknologi digital dapat menekan biaya tanpa mengurangi kualitas hasil. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus memberikan dampak nyata, bukan sekadar angka besar di atas kertas.
Dengan strategi seperti ini, pemerintah tidak hanya mencetak tenaga kerja baru, tetapi juga memastikan bahwa tenaga kerja Indonesia benar-benar siap bersaing, terserap di pasar global, dan memberi kontribusi ekonomi yang nyata.
Anggaran besar bukan tujuan akhir; efektivitas, relevansi, dan keberlanjutan program adalah hal yang jauh lebih penting.
Jika pendekatan ini diterapkan, kita tidak hanya menghemat dana negara, tetapi juga menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia Indonesia adalah investasi jangka panjang yang cerdas, bukan sekadar proyek sesaat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang