Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah tingginya kebutuhan tenaga kerja global, PT Triputra Edukasi Nusantara (TEN) mengembangakan jalur bagi tenaga kerja Indonesia untuk menembus pasar Jepang melalui pengembangan TEN Learning Center (TLC).
CEO TEN Yohanes Tan menjelaskan, TLC dirancang sebagai pusat pelatihan yang terintegrasi dengan kebutuhan industri global. Fasilitas yang baru diresmikan pada 20 April 2026 itu bahkan memanfaatkan hotel yang dikonversi menjadi lembaga pelatihan kerja (LPK) dengan kapasitas sekitar 175 peserta.
Di tempat ini, peserta tidak sekadar belajar di ruang kelas. Mereka tinggal, berlatih, dan dibentuk dalam satu ekosistem yang dirancang menyerupai “miniatur dunia kerja” yang akan mereka hadapi di Jepang.
“Ini bukan hanya pelatihan, tapi jalur lengkap dari pendidikan, pelatihan, sampai penempatan kerja,” ujar Yohanes, Kamis (30/4/2026).
Lokasi TLC terletak di Kopeng, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang juga merupakan kaki Gunung Merbabu. Lokasi yang dingin menjadi pilihan agar peserta pelatihan terbiasa dengan cuaca tersebut saat bekerja nanti di Negeri Sakura.
Fokus utama program saat ini adalah sektor caregiver—pekerjaan perawatan lansia—yang dinilai memiliki permintaan besar di Jepang.
Secara keseluruhan, Yohanes menyebut kebutuhan tenaga kerja di negara tersebut mencapai sekitar 820.000 orang, sementara tenaga kerja Indonesia yang mengisi baru sekitar 200.000 orang.
Melihat peluang tersebut, TEN memilih strategi realistis, yakni menyiapkan peserta agar cepat terserap pasar kerja. Alih-alih langsung menargetkan profesi dengan standar sangat tinggi seperti perawat, perusahaan memulai dari caregiver yang membutuhkan kompetensi bahasa Jepang tingkat menengah.
Peserta menjalani pelatihan intensif selama 6 bulan, termasuk pembelajaran bahasa Jepang hingga level tertentu, keterampilan teknis, serta pemahaman budaya kerja.
Setelah itu, mereka masih harus melewati tahapan ujian, wawancara dengan pengguna di Jepang, hingga proses administrasi sebelum diberangkatkan.
“Kalau semua lancar, total prosesnya sekitar 9 sampai 12 bulan sampai benar-benar bekerja di Jepang,” jelas Yohanes.
Namun, yang membedakan TLC TEN dengan lembaga pelatihan lain bukan hanya pada kurikulum. Yohanes menekankan pentingnya pembentukan karakter dan kesiapan mental sebagai bagian utama dari pelatihan.
Peserta dibekali nilai-nilai yang disebut sebagai Triputra DNA, mulai dari integritas, kepedulian, hingga keunggulan. Selain itu, mereka juga diajarkan detail budaya Jepang—mulai dari cara berinteraksi, etika kerja, hingga kebiasaan sehari-hari.
“Hal-hal kecil seperti cara menyapa, cara makan, sampai sikap di tempat kerja itu penting. Kami ingin mereka benar-benar siap, bukan hanya bisa kerja,” ujarnya.
TEN juga membangun ekosistem penempatan yang terintegrasi. Perseroan menggandeng mitra di Jepang melalui Overseas Partner Academy (OPA) untuk memastikan peserta tidak hanya tersalurkan, tetapi juga mendapatkan pendampingan selama bekerja.
Model ini membuat TEN tidak berhenti pada tahap pengiriman tenaga kerja. Perusahaan tetap memantau kondisi peserta di Jepang, bahkan menyiapkan dukungan jika terjadi masalah, termasuk perlindungan asuransi.
“Banyak lembaga hanya fokus kirim. Kami ingin memastikan mereka aman, bekerja dengan baik, dan bisa kembali ke Indonesia dengan pengalaman yang bernilai,” kata Yohanes.
Dengan pendekatan tersebut, TLC menjadi bagian dari rantai pengembangan sumber daya manusia yang dibangun TEN—dari pendidikan, pelatihan, hingga penempatan kerja global.
Ke depan, perusahaan melihat peluang pasar tenaga kerja global masih sangat terbuka, tidak hanya di Jepang tetapi juga di negara lain di Asia dan Eropa.
Bagi TEN, pengembangan TLC bukan sekadar bisnis pelatihan, melainkan upaya membuka jalan yang lebih jelas bagi tenaga kerja Indonesia untuk naik kelas—dari pencari kerja lokal menjadi talenta yang mampu bersaing di panggung internasional.