JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mengumumkan neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia berbalik surplus 4 miliar dollar AS atau 1,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III 2025.
Banyak pelaku pasar langsung menafsirkan ini sebagai kabar baik untuk ketahanan eksternal negara.
Surplus neraca transaksi berjalan ini menjadi yang pertama dalam 10 kuartal, setelah sejak awal 2023 Indonesia berkutat dengan defisit beruntun.
SHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank IndonesiaNamun, di saat yang sama, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan justru masih defisit karena derasnya arus keluar modal portofolio.
Gambaran ini menunjukkan bahwa neraca transaksi berjalan hanyalah satu bagian dari “raport eksternal” Indonesia, tetapi bagian yang sangat penting untuk stabilitas rupiah, cadangan devisa, dan ruang kebijakan ekonomi.
Apa itu neraca transaksi berjalan?
Secara sederhana, neraca transaksi berjalan adalah catatan seluruh transaksi ekonomi Indonesia dengan luar negeri yang sifatnya “berjalan” (berulang) dalam periode tertentu.
Dalam kerangka Neraca Pembayaran Indonesia, transaksi berjalan terdiri dari empat komponen utama:
Ekspor barang (misalnya batu bara, CPO, manufaktur) dikurangi impor barang (bahan baku, barang modal, konsumsi).
2. Neraca jasa
Penerimaan dan pembayaran jasa seperti transportasi, pariwisata, asuransi, logistik, layanan profesional, dan lain-lain.
PIXABAY/AWADPALESTINE Ilustrasi ekspor. Ekspor China ke Amerika Serikat (AS) turun tajam sebesar 33 persen pada Agustus 2025, di tengah melambatnya pertumbuhan perdagangan luar negeri Negeri Tirai Bambu.3. Pendapatan primer
Arus keluar-masuk imbal hasil modal: dividen, bunga obligasi, kupon, dan laba perusahaan asing di Indonesia.
4. Pendapatan sekunder (transfer berjalan)
Transaksi sepihak seperti remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI), hibah, dan bantuan sosial lintas negara.
Jika semua komponen ini dijumlahkan dan hasilnya:
- Surplus → Indonesia menerima lebih banyak devisa dari yang keluar.
- Defisit → Indonesia mengeluarkan devisa lebih besar dari yang diterima, dan selisihnya harus ditutup dari arus modal (utang luar negeri, investasi portofolio, dan penanaman modal asing) atau dari cadangan devisa.
Dalam jangka panjang, defisit transaksi berjalan yang besar dan berlarut-larut dapat membuat ekonomi rentan terhadap gejolak eksternal, terutama jika pembiayaannya sangat bergantung pada aliran dana portofolio yang mudah keluar masuk.
Sebaliknya, surplus atau defisit yang kecil dan terkelola sering dipandang pasar sebagai sinyal ketahanan eksternal yang baik.
Posisi neraca transaksi berjalan Indonesia sepanjang 2025
1. Dari defisit kecil ke defisit melebar
Memasuki 2025, Indonesia sebenarnya masih membawa “PR” dari 2024. Dikutip dari Reuters, BI mencatat defisit transaksi berjalan 2024 sebesar 8,9 miliar dollar AS atau 0,6 persen PDB, melebar dibanding 0,1 persen dari PDB pada 2023.
Memasuki 2025, tren itu berlanjut namun dengan dinamika yang lebih berliku.
2. Kuartal I 2025: defisit mengecil
SHUTTERSTOCK/AVIGATOR FORTUNER Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.Defisit transaksi berjalan hanya sekitar 0,2 miliar dollar AS atau 0,1 persen PDB, lebih rendah dibanding defisit 1,1 miliar dollar AS atau 0,3 persen PDB) pada kuartal IV 2024.
Penurunan defisit ini terutama ditopang:
- Surplus neraca perdagangan barang yang masih cukup besar.
- Permintaan impor yang belum pulih sepenuhnya.
3. Kuartal II 2025: defisit melebar lagi
Pada kuartal II, tekanan mulai meningkat. BI melaporkan, defisit transaksi berjalan melebar menjadi 3,0 miliar dollar AS atau 0,8 persen PDB, dari 0,2 miliar dollar AS pada kuartal sebelumnya.
BI menjelaskan, surplus neraca perdagangan nonmigas mengecil karena perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas, sementara:
Defisit pendapatan primer membesar seiring pembayaran dividen dan bunga sesuai pola musiman.
Surplus jasa dan pendapatan sekunder belum cukup menutup pelemahan di sisi perdagangan barang.
Secara keseluruhan, enam bulan pertama 2025 menggambarkan defisit transaksi berjalan yang masih dalam kisaran “terkendali” alias di bawah 1 persen PDB, tetapi trennya mengarah melebar dibanding 2023.
4. Kuartal III 2025: berbalik surplus setelah 10 kuartal
Momentum baru muncul pada kuartal III 2025. Dalam siaran pers resminya, BI menegaskan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia tetap baik, dengan poin penting bahwa transaksi berjalan mencatat surplus ditopang oleh kenaikan ekspor nonmigas.
Rinciannya, surplus transaksi berjalan tercatat sebesar 4,0 miliar dollar AS atau 1,1 persen PDB,
berbalik dari defisit 2,7 miliar dollar AS (0,8 persen PDB) di kuartal II 2025.
Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ilustrasi wisatawan di Bali. DItjen Imigrasi akan mendeportasi ratusan WNA karena melanggar izin tinggal.Pendorong utama:
- Surplus perdagangan barang meningkat, terutama dari ekspor nonmigas.
- Defisit jasa menurun, seiring bangkitnya pariwisata dan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara.
- Defisit pendapatan primer menyempit setelah berlalunya periode pembayaran dividen dan kupon obligasi.
Dilansir Antara, capaian ini merupakan surplus transaksi berjalan pertama sejak kuartal I 2023 sekaligus yang terbesar sejak kuartal III 2022.
Meskipun begitu, dari sisi keseluruhan NPI, Indonesia masih mencatat defisit 6,4 miliar dollar AS pada kuartal III 2025 karena transaksi modal dan finansial defisit 8,1 miliar dollar AS, mencerminkan derasnya arus keluar portofolio di tengah ketidakpastian pasar global.
5. Proyeksi sepanjang 2025
Baik BI maupun para ekonom memperkirakan bahwa transaksi berjalan Indonesia pada 2025 akan tetap dalam kisaran defisit kecil.
BI memprakirakan defisit neraca transaksi berjalan 2025 berada pada kisaran 0,5 sampai 1,3 persen dari PDB, ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas dan arus investasi langsung yang berlanjut.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede yang dikutip Reuters memperkirakan defisit transaksi berjalan bisa melebar hingga sekitar 1,18 persen PDB pada 2025, seiring risiko melemahnya ekspor dan kenaikan impor akibat stimulus fiskal domestik.
Artinya, meski sempat mencatat surplus besar pada kuartal III, secara tahunan Indonesia masih berpotensi mencatat defisit transaksi berjalan, namun dalam skala yang dinilai masih aman oleh otoritas.
Mengapa neraca transaksi berjalan penting bagi ekonomi Indonesia?
1. Barometer ketahanan eksternal
Current account sering disebut sebagai indikator ketahanan eksternal karena:
- Menunjukkan seberapa besar kebutuhan pembiayaan dari luar negeri.
- Menggambarkan keseimbangan antara tabungan domestik dan investasi.
- Menentukan seberapa rentan perekonomian terhadap pembalikan arus modal.
PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.BI berulang kali menegaskan bahwa kinerja NPI dan transaksi berjalan yang masih dalam kisaran defisit rendah menjadi faktor penting yang menopang stabilitas rupiah dan kecukupan cadangan devisa.
Selama defisit transaksi berjalan dibiayai dengan aliran modal jangka panjang (investasi langsung) dan cadangan devisa tetap kuat, risiko krisis neraca pembayaran cenderung lebih kecil.
2. Pengaruh ke nilai tukar rupiah
Surplus atau defisit transaksi berjalan sangat berpengaruh terhadap kekuatan rupiah.
Surplus transaksi berjalan berarti net inflow devisa dari ekspor, jasa, dan pendapatan; ini mendukung ketersediaan valas dan bisa mengurangi tekanan depresiasi rupiah.
Defisit transaksi berjalan berarti net outflow devisa, sehingga rupiah lebih rentan melemah jika tidak diimbangi aliran modal masuk.
“Data yang menunjukkan surplus besar pada neraca transaksi berjalan Indonesia kemarin masih mendukung rupiah," jelas analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, dikutip dari Antara.
Pernyataan tersebut muncul setelah data BI kuartal III 2025 menunjukkan surplus 4 miliar dollar AS, dan rupiah sempat menguat tipis pada perdagangan harian.
Dengan kata lain, surplus transaksi berjalan kuartal III 2025 menjadi “angin penyejuk” bagi rupiah, di tengah tekanan global akibat tingginya suku bunga di negara maju dan volatilitas pasar keuangan.
3. Dampak ke pasar keuangan domestik
Selain rupiah, pasar saham juga merespons positif. Laporan Antara dari Bursa Efek Indonesia menyebut IHSG ditutup menguat pada Kamis (20/11/2025) seiring kabar neraca transaksi berjalan Indonesia kembali surplus di kuartal III 2025.
Bagi investor, surplus transaksi berjalan dapat dimaknai sebagai berikut.
- Mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan eksternal yang bisa memicu pelemahan rupiah dan capital outflow lebih besar.
- Menjadi sinyal bahwa fundamental eksternal Indonesia tetap terjaga, meski NPI secara keseluruhan masih defisit akibat faktor portofolio.
SHUTTERSTOCK/TIPPAPATT Ilustrasi ekonomi, perekonomian.Implikasi neraca transaksi berjalan terhadap kebijakan ekonomi
1. Ruang gerak kebijakan moneter BI
Bagi bank sentral, kondisi transaksi berjalan dan NPI menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan suku bunga acuan (BI Rate).
Reuters mencatat, dengan NPI yang berpotensi defisit dan transaksi berjalan yang cenderung melebar, ruang penurunan suku bunga BI menjadi terbatas karena bank sentral perlu menjaga stabilitas rupiah dan menahan tekanan inflasi impor.
Hal ini tercermin dalam keputusan terbaru BI yang menahan BI Rate di 4,75 persen pada November 2025, dengan penekanan bahwa stabilitas nilai tukar dan ketahanan eksternal tetap menjadi prioritas di tengah ketidakpastian global.
Dalam konteks ini, surplus transaksi berjalan kuartal III 2025 memberi sedikit ruang bernapas, namun belum cukup untuk mengubah sikap hati-hati BI secara drastis, mengingat:
- NPI masih defisit
- Arus keluar portofolio masih terjadi
- Proyeksi tahunan transaksi berjalan masih defisit kecil.
2. Hubungan dengan kebijakan fiskal dan struktural
Di sisi pemerintah, defisit transaksi berjalan yang terjaga rendah memberi ruang bagi:
SHUTTERSTOCK/AUN PHOTOGRAPHER Ilustrasi impor.Pertama, kebijakan fiskal ekspansif yang terukur (misalnya stimulus belanja infrastruktur dan bantuan sosial) tanpa memicu lonjakan impor yang berlebihan. Kedua, agenda industrialisasi dan hilirisasi yang bertujuan:
- Meningkatkan nilai tambah ekspor,
- Mengurangi ketergantungan pada impor barang modal dan bahan baku tertentu,
- Memperbaiki struktur transaksi berjalan secara jangka panjang.
Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa defisit transaksi berjalan berpotensi melebar jika:
- Permintaan domestik naik tajam sementara kapasitas produksi lokal belum mampu memenuhi
- Harga komoditas ekspor utama kembali melemah
- Atau terjadi hambatan dagang dari mitra utama.
Karena itu, reformasi struktural, mulai dari penguatan industri pengolahan, pengembangan pariwisata, hingga promosi ekspor jasa, menjadi kunci agar transaksi berjalan semakin sehat dan tidak terlalu bergantung pada siklus komoditas.
Apakah surplus atau defisit lebih baik untuk Indonesia?
Dalam diskursus publik, surplus transaksi berjalan sering diasosiasikan sebagai kabar baik, sementara defisit dipandang negatif. Kenyataannya lebih kompleks.
Surplus besar dan berkelanjutan
Ini menandakan bahwa Indonesia menjadi net lender ke dunia (lebih banyak menabung dari pada berinvestasi). Selain itu, bisa mencerminkan lemahnya permintaan domestik atau terbatasnya kesempatan investasi produktif di dalam negeri.
Defisit kecil dan terkelola (misalnya kurang dari 2 persen PDB)
SHUTTERSTOCK Ilustrasi ekonomi Indonesia.Dalam banyak literatur ekonomi, defisit moderat justru bisa sehat untuk negara berkembang yang sedang mengejar pembangunan infrastruktur dan industrialisasi.
Selama dibiayai oleh investasi langsung jangka panjang dan cadangan devisa kuat, defisit ini dapat mencerminkan importasi barang modal untuk mendukung pertumbuhan.
Untuk Indonesia, BI dan ekonom berkali-kali menekankan bahwa kisaran defisit transaksi berjalan 1 sampai 3 persen PDB masih dianggap wajar bagi negara berkembang yang sedang tumbuh.
Risiko baru muncul jika:
- Defisit mendekati atau melampaui 3 persen PDB
- Pembiayaannya lebih banyak mengandalkan portofolio asing jangka pendek
- Ditambah cadangan devisa yang menipis.
Dengan proyeksi defisit 2025 berada dalam kisaran 0,5 sampai 1,3 persen PDB, posisi Indonesia saat ini masih dinilai relatif aman, terlebih cadangan devisa stabil di kisaran 148 miliar hingga 153 miliar dollar AS atau jauh di atas standar internasional tiga bulan impor.
Tantangan ke depan: menjaga surplus, mengelola risiko
Surplus neraca transaksi berjalan kuartal III 2025 memberi pesan penting bagi perekonomian Indonesia:
1. Ketahanan eksternal masih terjaga
Surplus pada kuartal III 2025 menunjukkan bahwa ketika ekspor nonmigas menguat dan pariwisata pulih, transaksi berjalan Indonesia bisa kembali surplus meski global penuh ketidakpastian.
2. RIsiko belum hilang
NPI masih defisit karena arus keluar portofolio dan pembayaran utang luar negeri. Prospek global 2026 masih dibayangi ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat, perlambatan China, dan perang dagang.
Ke depan, tantangan utama bagi otoritas adalah menjaga neraca transaksi berjalan tetap dalam kisaran sehat, dengan kombinasi:
- Kebijakan moneter berhati-hati untuk menstabilkan rupiah dan mengendalikan inflasi impor.
- Kebijakan fiskal yang selektif agar stimulus tidak langsung melejitkan impor tanpa memperkuat kapasitas produksi lokal.
- Reformasi struktural untuk memperdalam basis ekspor manufaktur dan jasa, serta mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.
Pada akhirnya, neraca transaksi berjalan bukan hanya angka di laporan Bank Indonesia, tetapi cerminan apakah Indonesia sedang hidup “sesuai kemampuan” di panggung ekonomi dunia, atau justru terlalu bergantung pada pembiayaan luar negeri.
Tahun 2025 menunjukkan bahwa, di tengah dinamika global, Indonesia masih mampu menjaga “raport eksternal” relatif baik, meski pekerjaan rumah untuk memperkuat fondasi ekspor bernilai tambah dan menarik investasi berkualitas tetap panjang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang