Bisnis.com, BATAM — Batam memasuki babak baru pembangunan. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai kota industri manufaktur, kini Batam bertransformasi menjadi pusat infrastruktur digital dan energi dengan gelombang investasi pusat data (data center) senilai sekitar Rp140 triliun.
Perubahan tersebut ditandai masuknya sejumlah investor global dari Singapura, Hong Kong, dan China yang membangun pusat data berkapasitas besar di berbagai kawasan, terutama Nongsa dan Kabil. Lokasi Batam yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia menjadi daya tarik utama di tengah meningkatnya kebutuhan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), dan komputasi di Asia Tenggara.
Salah satu proyek terbesar adalah AI Data Center Equator Gate System Batam (EGSB) yang dikembangkan bersama perusahaan asal China, Range IDC, dengan nilai investasi sekitar US$5 miliar atau setara Rp88 triliun di Teluk Mata Ikan, Nongsa. Batam bahkan menjadi lokasi ekspansi internasional pertama Range IDC di luar China.
Di Kabil Industrial Tech Park (KITP), DayOne juga membangun kampus data center hyperscale dengan kebutuhan pasokan listrik mencapai 511 MVA atau sekitar 450 MW. Sementara itu, NeutraDC bersama Nxera mengembangkan pusat data berkapasitas hingga 100 MW untuk melayani kebutuhan cloud, AI, dan layanan digital regional.
Nama Oracle juga sempat dikaitkan dengan rencana pengembangan pusat layanan cloud di Batam. Meski masih dalam tahap penjajakan dan belum ada keputusan investasi final, minat perusahaan teknologi global tersebut memperkuat posisi Batam sebagai salah satu calon hub infrastruktur digital Asia Tenggara.
Besarnya investasi digital turut mendorong peningkatan kebutuhan energi. Grup Salim disebut tengah mengkaji pembangunan pembangkit listrik berkapasitas sekitar 1.050 MW guna menopang permintaan listrik dari industri data center, AI, dan kawasan industri modern.
Pergeseran struktur ekonomi tersebut menempatkan pasokan listrik sebagai faktor kunci. Jika proyek-proyek strategis itu terealisasi, Batam berpeluang mempercepat transformasi dari basis manufaktur menjadi pusat industri berteknologi tinggi sekaligus hub ekonomi digital di Indonesia bagian barat.
Data Center Jadi Jantung Baru Ekonomi
Transformasi tersebut mulai tercermin dalam realisasi investasi Batam. Masuknya proyek-proyek data center dan infrastruktur energi tidak lagi sebatas rencana, tetapi telah menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru yang menopang kinerja investasi kawasan.
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam mencatat realisasi investasi sebesar Rp69,30 triliun sepanjang 2025, melampaui target Rp60 triliun yang ditetapkan untuk tahun tersebut. Capaian itu turut menopang pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 6,76%.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan realisasi investasi tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap sejumlah sektor unggulan di Batam, terutama sektor digital dan energi.
"Capaian ini bukan hanya angka. Ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekosistem yang sedang kami bangun di Batam," kata Amsakar, belum lama ini.
Berdasarkan data BP Batam, sektor jasa menjadi kontributor terbesar dengan realisasi investasi Rp9,99 triliun. Sektor ini mencakup berbagai aktivitas berbasis digital. Selanjutnya, investasi di sektor industri mesin, elektronik, dan peralatan listrik mencapai Rp6,08 triliun, sedangkan sektor listrik, gas, dan air mencatatkan realisasi Rp5,80 triliun.
Khusus sektor digital, nilai investasi sepanjang 2025 mencapai Rp8,557 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa atau Nongsa Digital Park (NDP) yang menjadi lokasi pengembangan pusat data dan aktivitas ekonomi digital. Amsakar menilai perkembangan NDP menunjukkan meningkatnya aktivitas investasi dan kemitraan di sektor teknologi.
"Nongsa Digital Park menjadi indikator awal yang positif karena menunjukkan adanya minat investasi, kemitraan lintas negara, serta tumbuhnya aktivitas di bidang data center, pengembangan teknologi, dan ekonomi digital," tambahnya.
Pada triwulan IV/2025, KEK Nongsa tercatat menyerap 836 tenaga kerja. Selain itu, kawasan tersebut juga dinilai memberikan efek berganda melalui aktivitas rantai pasok dan layanan pendukung. Dari sisi investor, Singapura masih menjadi salah satu negara dengan kontribusi terbesar.
Selain itu, investasi juga datang dari Hong Kong, Amerika Serikat, dan Malaysia, terutama untuk sektor digital. Menurut Amsakar, daya tarik Batam tidak hanya berasal dari efisiensi biaya, tetapi juga faktor geografis dan konektivitas yang mendukung aktivitas bisnis lintas negara.
"Yang lebih kuat adalah kombinasi faktor strategis: kedekatan geografis dengan Singapura, konektivitas yang cepat, dan peluang membangun model operasi lintas batas untuk mendukung kebutuhan regional," ujarnya.
Infrastruktur Energi Hijau
Seiring pesatnya pembangunan data center yang membutuhkan pasokan listrik besar, BP Batam turut memperkuat infrastruktur energi, termasuk mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Hal itu tercermin dari realisasi investasi sektor listrik, gas, dan air yang mencapai Rp5,80 triliun sepanjang 2025. Investasi tersebut menjadi fondasi untuk memenuhi kebutuhan energi industri digital yang terus meningkat sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan pengembangan energi hijau merupakan bagian dari strategi menjadikan Batam sebagai tujuan investasi digital yang kompetitif.
"Transformasi digital kita nyata. Kami berkomitmen menjadikan Batam sebagai lokasi investasi yang kompetitif, terukur, dan investor-friendly, khususnya untuk sektor digital yang berkelanjutan," ujarnya.
Di tengah berkembangnya kawasan ekonomi baru di Asia Tenggara, termasuk Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ), BP Batam justru melihat peluang kolaborasi dibanding persaingan.
"Kami melihat ini bukan sekadar kompetisi, melainkan peluang membangun komplementaritas. Singapura kuat sebagai pusat HQ dan layanan global, Johor menawarkan perluasan kapasitas, sementara Batam memiliki keunggulan FTZ/SEZ, ekosistem industri, maritim-logistik, serta kedekatan operasional dengan Singapura," kata Amsakar.
Mandiri Tanpa APBN
Di sisi lain, transformasi Batam juga tercermin dari tata kelola pembiayaan kawasan. BP Batam mampu menjalankan pembangunan tanpa tambahan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Kinerja tersebut mendapat apresiasi dari Komisi VI DPR RI dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Rabu (17/6/2026). Komisi VI menilai BP Batam berhasil menjaga pembangunan kawasan tetap berjalan dengan mengandalkan pendapatan yang dikelola secara mandiri.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mengatakan pengelolaan BP Batam sepanjang 2025 hingga triwulan I/2026 menunjukkan kinerja positif, baik dari sisi tata kelola anggaran maupun penguatan investasi. Menurutnya, optimalisasi PNBP menjadi bukti meningkatnya kapasitas BP Batam dalam membiayai pembangunan kawasan secara mandiri.
“Pengelolaan anggaran dan kinerja BP Batam saat ini patut mendapat apresiasi. BP Batam mampu menunjukkan tata kelola yang baik dengan mengoptimalkan PNBP untuk mendukung pembangunan kawasan. Ini menjadi contoh bagi badan atau lembaga lainnya dan kami berharap Batam bisa terus maju menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Andre.
Capaian tersebut menunjukkan pembangunan Batam semakin ditopang oleh aktivitas ekonomi kawasan, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada dukungan fiskal pemerintah pusat.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari dukungan Komisi VI DPR RI serta berbagai pembenahan yang dilakukan bersama Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra selama setahun terakhir. Menurutnya, meningkatnya realisasi investasi menjadi indikator tumbuhnya kepercayaan investor terhadap Batam.
“Kami berterima kasih atas dukungan Komisi VI DPR RI yang selama ini menjadi mitra strategis BP Batam. Capaian investasi yang terus meningkat menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan investor terhadap Batam semakin meningkat. Hal ini juga relevan dengan berbagai upaya BP Batam yang terus melakukan pembenahan, khususnya pada sektor simplifikasi perizinan,” ujar Amsakar.
Ia menambahkan, percepatan pembangunan infrastruktur akan terus menjadi prioritas agar sejalan dengan pertumbuhan investasi dan pengembangan kawasan ekonomi.
Ruang Kota Ditata Lebih Nyaman dan Kompetitif
Selain memperkuat infrastruktur digital dan energi, BP Batam juga membenahi wajah kota melalui penataan kawasan strategis, pembangunan ruang publik, peningkatan infrastruktur perkotaan, hingga penanganan titik banjir. Langkah tersebut ditempuh untuk meningkatkan daya saing Batam sekaligus kualitas hidup masyarakat.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mengatakan kota yang tertata menjadi nilai tambah dalam menarik investasi karena investor kini tidak hanya mempertimbangkan biaya usaha, tetapi juga kualitas lingkungan pendukung.
"Perubahan wajah kota ini menjadi pelengkap transformasi ekonomi. Sebab investor saat ini tidak hanya mempertimbangkan biaya usaha, tetapi juga kenyamanan, konektivitas, dan kesiapan lingkungan pendukung," kata Li.
Menurut Li, pembangunan infrastruktur dasar harus berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
"Setiap progres pembangunan harus memiliki manfaat yang jelas bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami ingin memastikan seluruh program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan warga dan mendukung pertumbuhan Batam sebagai kota madani yang modern," ujarnya.
Transformasi Batam pun tidak lagi sekadar ditopang kawasan industri. Kota ini tengah membangun ekosistem yang mengintegrasikan infrastruktur digital, energi, konektivitas, dan kualitas perkotaan dalam satu arah pembangunan. Ambisinya bukan hanya menjadi pusat manufaktur, melainkan tumbuh sebagai salah satu simpul ekonomi digital dan industri berteknologi tinggi di Indonesia.