#30 tag 24jam
BI sebut kenaikan kepemilikan nonresiden SRBI bantu penguatan rupiah
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan peningkatan kepemilikan nonresiden (asing) terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi ... [409] url asal
#sekuritas-rupiah-bank-indonesia #imbal-hasil-srbi #yield-srbi #nilai-tukar-rupiah
Posisi SRBI pada 15 Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.021,1 triliun dengan kepemilikan nonresiden yang meningkat menjadi Rp238,1 triliun, atau 23,3 persen dari total outstanding
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan peningkatan kepemilikan nonresiden (asing) terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi Rp238,09 triliun memberikan dampak positif terhadap penguatan nilai tukar rupiah.
“Posisi SRBI pada 15 Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.021,1 triliun dengan kepemilikan nonresiden yang meningkat menjadi Rp238,1 triliun, atau 23,3 persen dari total outstanding, sehingga turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ucap Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis.
Ia menuturkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (17/6) tercatat sebesar Rp17.730 per dolar AS, atau menguat 0,76 persen point-to-point (ptp) dibandingkan dengan level akhir Mei 2026.
Peningkatan jumlah kepemilikan SRBI serta penguatan kurs rupiah tersebut, lanjut dia, dipengaruhi oleh respons kebijakan stabilisasi yang dilakukan pihaknya untuk meredam dampak dari tingginya ketidakpastian global serta besarnya permintaan valuta asing korporasi di dalam negeri.
Sejumlah kebijakan tersebut antara lain kenaikan suku bunga SRBI tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut pengumuman hasil lelang SRBI pada 17 Juni, Rate Rata-rata Tertimbang Pemenang (Weighted Average Accepted Rate) atau suku bunga final yang dibayarkan oleh BI kepada para pemenang lelang nantinya ditetapkan sebesar 7,12 persen untuk tenor 6 bulan, 7,33 persen untuk tenor 9 bulan, dan 7,59 persen untuk tenor 12 bulan.
Perry menyatakan, pihaknya juga meningkatkan intensitas intervensi terhadap arus valuta asing, baik melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (offshore) maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri.
Ia mengatakan, BI juga memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10 persen agar semakin meningkatkan daya tarik bagi investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.
Selain itu, bank sentral Indonesia tersebut turut memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) atau yuan terhadap rupiah, sejalan dengan semakin luasnya penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” imbuh Perry.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Ekonom: Tren penguatan IHSG tergantung imbal hasil obligasi pemerintah
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) Rully Arya Wisnubroto mengatakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah ... [347] url asal
#imbal-hasil-obligasi #obligasi-pemerintah #yield-sbn #nilai-tukar-rupiah #level-ihsg
Jakarta (ANTARA) - Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) Rully Arya Wisnubroto mengatakan imbal hasil (yield)obligasi pemerintah merupakan salah satu faktor penentu tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ia mengatakan, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah.
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN (Surat Berharga Negara) tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun,” ucapnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.
“Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” lanjut Rully.
Menurut data yang dihimpun ANTARA, IHSG pada pembukaan perdagangan selama seminggu terakhir tercatat berada di posisi 5.344,69 pada Selasa (9/6), lalu menjadi 5.744,06 pada Rabu (10/6), 5.899,27 pada Kamis (11/6), 5.960,27 pada Jumat (12/6), dan kemudian 6.118,73 pada Senin (15/6).
Rully menyatakan, penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh faktor technical rebound berkat dukungan implementasi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang lebih tegas serta deeskalasi ketegangan geopolitik.
BI menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen per 9 Juni lalu.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan damai dan akan menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada 19 Juni mendatang.
Hal tersebut turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah, sehingga kondisi fundamental perekonomian Indonesia berkembang menjadi lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Meskipun demikian, Rully memperkirakan pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik.
Ia menuturkan, walaupun tanda-tanda perbaikan mulai terlihat, investor masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan sebelum optimisme terhadap pasar kembali menguat.
“Arus modal asing masih cenderung selektif,” imbuh Rully Arya Wisnubroto.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Ekonom: Kenaikan yield obligasi sinyal positif bagi pasar keuangan
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ... [343] url asal
Yield di atas 7 persen mulai membuat pasar obligasi Indonesia kembali kompetitif. Investor membutuhkan kompensasi risiko yang memadai untuk menempatkan modalnya
Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir merupakan perkembangan positif dan mencerminkan proses normalisasi pasar keuangan domestik.
Menurut dia, setelah periode panjang kurva imbal hasil yang relatif datar, pasar kini mulai bergerak ke arah yang lebih sehat dengan mencerminkan risiko yang dihadapi perekonomian secara lebih realistis.
“Selama beberapa bulan terakhir kurva imbal hasil terlalu datar dan tidak sepenuhnya mencerminkan risiko ekonomi domestik maupun global. Kenaikan yield saat ini justru merupakan proses pemulihan fungsi pasar yang sehat,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan normalisasi yield penting untuk menjaga daya tarik pasar obligasi Indonesia di mata investor global. Saat ini, sebagian besar tenor Surat Berharga Negara (SBN) telah kembali bergerak di atas level 7 persen.
“Yield di atas 7 persen mulai membuat pasar obligasi Indonesia kembali kompetitif. Investor membutuhkan kompensasi risiko yang memadai untuk menempatkan modalnya,” ujarnya.
Fakhrul memandang proses penyesuaian tersebut masih dapat berlanjut secara bertahap hingga pasar mencapai titik keseimbangan baru. Investor dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap ketika yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di atas kisaran 7,3 persen.
Yang terpenting saat ini bukan mempertahankan biaya pendanaan pemerintah serendah mungkin, melainkan memastikan pasar keuangan Indonesia berfungsi secara kredibel dan mampu mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Meski demikian, ia menekankan kenaikan yield saja tidak cukup untuk menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang. Pemerintah juga perlu memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan fiskal ke depan.
Dalam konteks tersebut, Fakhrul menilai pemerintah perlu menunjukkan komitmen menjaga kredibilitas fiskal, termasuk melalui evaluasi dan penyesuaian terhadap program-program prioritas agar tetap berkelanjutan.
Ke depan, ia meyakini kombinasi normalisasi yield obligasi, stabilisasi rupiah, dan kebijakan fiskal yang kredibel dapat menjadi fondasi untuk menarik kembali arus modal masuk ke Indonesia.
“Pada akhirnya investor tidak mencari yield yang rendah. Investor mencari negara yang kredibel, pasar yang berfungsi, dan kebijakan yang konsisten,” kata Fakhrul.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Ekonom: BSF efektif jika tekanan pasar bersifat teknis dan sementara
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) dapat efektif menjaga stabilitas ... [539] url asal
#obligasi #surat-utang #sbn #yield-sbn #rupiah #bond-stabilization-fund
Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemerintah sebagai pembeli bisa membantu menghentikan kepanikan dan mengembalikan likuiditas pasar,
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) dapat efektif menjaga stabilitas pasar surat utang negara apabila tekanan pasar bersifat teknis dan sementara.
Tekanan dimaksud seperti terjadinya aksi jual karena investor mengalami kerugian harga jangka pendek, aksi jual berantai yang sebenarnya tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
“Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemerintah sebagai pembeli bisa membantu menghentikan kepanikan dan mengembalikan likuiditas pasar,” kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Instrumen ini juga dinilai efektif ketika pasar mengalami kekeringan pembeli akibat sikap wait and see. Selain itu, BSF penting untuk mencegah risiko rambatan ke sistem keuangan yang lebih luas, mengingat kepemilikan SBN yang besar oleh bank, asuransi, dan dana pensiun.
“Tetapi saya juga harus jujur, efektivitas BSF menjadi jauh lebih terbatas kalau sumber tekanannya berasal dari fundamental,” imbuh Yusuf.
Ia mencontohkan, jika pasar mulai khawatir terhadap arah fiskal, beban bunga utang, atau konsistensi kebijakan ekonomi, maka pembelian obligasi di pasar sekunder tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran investor.
Menurutnya, sebagian tekanan saat ini mengarah ke arah tersebut, dengan pasar mencermati pelebaran defisit, pelemahan primary balance, serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Dengan kata lain, kekhawatiran pasar tidak lagi sekadar volatilitas jangka pendek, melainkan arah kebijakan ke depan.
“Belum lagi faktor global. Selama suku bunga AS masih tinggi, yield US Treasury tetap menarik, dan dolar masih kuat, emerging market memang akan menghadapi tekanan. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan BSF juga terbatas karena ia tidak bisa melawan gravitasi pasar global,” katanya.
Secara umum, Yusuf memandang BSF sebagai instrumen yang dapat disiapkan sebagai “payung” stabilisasi sebelum risiko membesar.
Menurutnya, akan lebih baik apabila instrumen tersebut sudah tersedia dan siap digunakan meski tidak selalu diaktifkan, dibandingkan baru disiapkan saat pasar telah memasuki fase kepanikan.
“Tekanan di pasar memang ada. Yield SBN 10 tahun naik cukup cepat dari sekitar 5,9 persen di akhir tahun lalu ke kisaran 6,7 persen pada April 2026. Arus keluar dana asing dari pasar obligasi juga mulai terlihat dan ikut memberi tekanan ke rupiah. Tetapi kalau dibandingkan episode krisis sebelumnya, skalanya sebenarnya masih relatif terkendali,” jelas dia.
Belajar dari pengalaman negara lain, menurutnya, Korea Selatan menjadi contoh paling relevan dalam penggunaan BSF. Negara tersebut pernah memanfaatkan BSF setelah krisis Asia dan kembali menyiapkannya saat krisis global 2008.
“Instrumen itu cukup efektif meredam kepanikan jangka pendek. Tetapi yang menarik, Korea tidak hanya mengandalkan stabilisasi pasar,” ujar Yusuf.
Ia menjelaskan, Korea Selatan juga melakukan reformasi besar di sektor keuangan dan korporasi. BSF, dalam hal ini, hanya digunakan sebagai instrumen sementara sambil melakukan pembenahan fundamental.
“Dan justru setelah situasi lebih stabil, dana stabilisasi itu lebih sering hanya diumumkan keberadaannya tanpa benar-benar digunakan besar-besaran. Artinya, efek psikologis dan kredibilitas kebijakan sering kali lebih penting daripada intervensinya sendiri,” imbuh dia.
Yusuf menambahkan bahwa sebaliknya, Indonesia juga dapat mengambil pelajaran dari Jepang dan China. Jepang terlalu lama menopang pasar obligasinya melalui pengendalian yield sehingga pada akhirnya mengalami kesulitan untuk melakukan normalisasi ketika siklus global berubah.
Sementara itu, China pernah terlalu agresif menopang pasar sahamnya, yang kemudian menimbulkan distorsi karena harga aset tidak lagi sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Ekonom ingatkan risiko BSF, moral hazard hingga ketergantungan pasar
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemerintah mengenai sejumlah risiko dalam rencana pengaktifan kembali bond ... [439] url asal
#bond-stabilization-fund #pasar-obligasi #surat-utang #rupiah #yield-sbn #stabilisasi-surat-utang
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemerintah mengenai sejumlah risiko dalam rencana pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) mulai dari moral hazard hingga ketergantungan pasar.
"Saya melihat BSF ini efektif sebagai alat stabilisasi jangka pendek, tetapi tidak bisa dijadikan solusi permanen. Yang juga perlu diperhatikan adalah risikonya," kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Pada risiko moral hazard, Yusuf menjelaskan bahwa ekspektasi investor terhadap kehadiran pemerintah yang selalu menjaga harga obligasi dapat mendorong perilaku pengambilan risiko yang lebih agresif.
Dalam kondisi tersebut, sebagian pelaku pasar cenderung masuk saat imbal hasil (yield) tinggi dan keluar ketika pasar kembali stabil, sehingga pada akhirnya negara berpotensi menjadi penyangga bagi perilaku spekulatif.
Risiko kedua adalah distorsi harga. Yusuf mengingatkan bahwa pasar obligasi seharusnya berfungsi sebagai sarana pembacaan risiko yang jujur melalui pergerakan yield.
Namun, jika intervensi dilakukan secara terlalu dominan, maka harga obligasi berpotensi tidak lagi sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi
"Dalam jangka pendek mungkin terlihat tenang, tetapi pasar kehilangan fungsi price discovery-nya," ujar dia.
Kemudian, risiko ketiga adalah tekanan fiskal. Ia menilai terdapat paradoks bahwa pemerintah bisa saja menambah beban fiskal demi menjaga stabilitas pasar utang, sehingga jika BSF digunakan secara agresif justru berpotensi menambah tekanan terhadap APBN.
Selanjutnya, Yusuf juga menyoroti risiko kaburnya batas antara kebijakan fiskal dan moneter.
Meskipun BSF berada di ranah fiskal, dampaknya menyerupai operasi pasar bank sentral.
"Kalau koordinasinya tidak jelas, pasar bisa mulai membaca adanya dominasi fiskal terhadap kebijakan moneter, dan itu justru bisa menaikkan premi risiko," kata dia.
Selain itu, ia menilai terdapat risiko ketergantungan pasar, yakni ketika investor menganggap intervensi pemerintah sebagai hal yang normal.
Dalam kondisi tersebut, ketika dukungan dikurangi, pasar dapat bereaksi negatif, sehingga strategi keluar (exit strategy) perlu dirancang sejak awal.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan BSF guna menjaga pasar surat utang tetap stabil dan tidak mudah digoyang investor asing.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dana ini disiapkan untuk menstabilkan pasar surat utang dengan membeli kembali (buyback) SBN di pasar sekunder yang dilepas oleh investor.
Strategi itu dilakukan untuk menjaga yield SBN agar tetap stabil, sehingga investor asing yang menyimpan surat utang tidak mengalami kerugian modal (capital loss).
Purbaya juga menyebut BSFdapat melibatkan sumber pendanaan dari lembaga di bawah Kementerian Keuangan, termasuk special mission vehicle (SMV).
"Kalau fund betulan kan, desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh SMV yang di bawah Kementerian Keuangan, itu bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu utamanya. Jadi, bukan SAL saja," kata Purbaya.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Ekonom: BSF sebaiknya jadi bantalan stabilisasi jangka pendek
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) oleh pemerintah sebaiknya ... [617] url asal
#bond-stabilization-fund #pasar-obligasi #surat-utang #imbal-hasil-sbn #yield-sbn #capital-outflow
pada akhirnya investor tetap melihat kredibilitas fiskal, stabilitas ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah
Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) oleh pemerintah sebaiknya diposisikan sebagai bantalan stabilisasi jangka pendek untuk menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN).
Ia mengingatkan bahwa efektivitas BSF akan terbatas jika tekanan berasal dari faktor fundamental. Jika defisit fiskal melebar, beban bunga utang meningkat, rupiah terus melemah, atau kepercayaan investor turun, maka BSF tidak akan cukup kuat menahan tekanan pasar.
“Karena pada akhirnya investor tetap melihat kredibilitas fiskal, stabilitas ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah,” kata Rizal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Rizal juga mengingatkan risiko moral hazard dan distorsi pasar yang perlu dijaga agar investor tidak bergantung pada intervensi pemerintah.
“Fondasi utamanya tetap memperkuat fiskal, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar keuangan dan basis investor domestik,” kata dia.
Meski begitu, Rizal memandang pembentukan BSF cukup relevan di tengah tekanan pasar keuangan saat ini.
Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp17.400 per dolar AS, sementara imbal hasil (yield) SBN 10 tahun bergerak di kisaran 6,7-7 persen.
Di sisi lain, kepemilikan asing di SBN turun menjadi sekitar 12,7 persen per April 2026, jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun lalu yang sempat di atas 30 persen.
Kondisi ini membuat pasar obligasi domestik lebih sensitif terhadap capital outflow dan gejolak global.
Rizal menjelaskan bahwa BSF dapat menjadi shock absorber ketika terjadi tekanan jual berlebihan di pasar SBN. Instrumen ini membantu menjaga agar lonjakan yield tidak terlalu ekstrem sehingga biaya utang pemerintah tetap terkendali.
“Bahkan hingga April 2026, Bank Indonesia tercatat sudah membeli SBN sekitar Rp111,5 triliun untuk menjaga stabilitas pasar dan rupiah, sehingga kebutuhan instrumen stabilisasi tambahan memang mulai terlihat,” kata Rizal.
Dihubungi terpisah, Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto juga memandang pembentukan BSF merupakan langkah positif untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara, terutama saat kondisi pasar keuangan bergejolak dan kapasitas intervensi Bank Indonesia (BI) terbatas.
“Kalau untuk BSF ini boleh saja, menurut saya. Ini bisa menjadi suatu solusi. Jadi tidak hanya BI yang kelihatannya terus-terusan intervensi secara aktif,” kata Myrdal.
Ia menilai BSF efektif digunakan saat terjadi turbulensi kuat di pasar keuangan, sehingga pemerintah dapat meminimalkan dampak aksi jual investor di pasar obligasi dan menjaga stabilitas yield SBN.
Namun, Myrdal mengingatkan efektivitas BSF sangat bergantung pada kapasitas fiskal pemerintah dan ketersediaan dana, baik dari saldo anggaran lebih (SAL) maupun sumber lainnya. Jika tekanan pasar tinggi sementara alokasi dana BSF terbatas, intervensi dinilai berisiko tidak optimal.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan kapasitas fiskal tetap terjaga agar inisiatif BSF tidak justru membebani keuangan negara. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi pemerintah dengan BI dan otoritas lain dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam pelaksanaan BSF.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan bond stabilization fund guna menjaga pasar surat utang tetap stabil dan tidak mudah digoyang investor asing.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dana ini disiapkan untuk menstabilkan pasar surat utang dengan membeli kembali (buyback) SBN di pasar sekunder yang dilepas oleh investor.
Strategi itu dilakukan untuk menjaga yield SBN agar tetap stabil, sehingga investor asing yang menyimpan surat utang tidak mengalami kerugian modal (capital loss).
Purbaya juga menyebut, bond stabilization fund dapat melibatkan sumber pendanaan dari lembaga di bawah Kementerian Keuangan, termasuk special mission vehicle (SMV).
"Kalau fund betulan kan, desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh SMV yang di bawah Kementerian Keuangan, itu bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu utamanya. Jadi, bukan SAL saja," kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5).
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Rupiah berpotensi menguat seiring arus masuk asing ke pasar saham RI
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menguat seiring arus masuk asing ke pasar saham domestik.“Investor ... [307] url asal
#pasar-saham-hari-ini #rupiah #rupiah-hari-ini #fomc #the-fed #yield-sbn
Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menguat seiring arus masuk asing ke pasar saham domestik.
“Investor asing mencatatkan beli bersih sebesar 27,31 juta dolar AS (pada Selasa, 2/12),” ujar dia kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Di sisi lain, yield Surat Berharga Negara (SBN) Rupiah diperdagangkan beragam pada hari Selasa (2/12).
Yield SBN acuan 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun masing-masing berada di level 5,76 persen (-6 basispoints/bps), 6,30 persen (+2 bps), 6,47 persen (+1bps), dan 6,56 persen (0bps).
Adapun volume perdagangan obligasi pemerintah mencapai Rp33,80 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan volume perdagangan hari Senin (1/12), yang mencapai sebesar Rp17,12 triliun.
Kepemilikan investor asing turun Rp590 miliar menjadi Rp872 triliun per 1 Desember 2025, mewakili 13,35 persen dari total outstanding.
Pada lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (2/12), Kementerian Keuangan berhasil meraup Rp25 triliun dari total penawaran masuk sebesar Rp69,64 triliun, melampaui target indikatif sebesar Rp23 triliun.
Meninjau sentimen dari global, belum ada rilis data ekonomi utama AS dan periode blackout The Fed (para pejabat tak memberikan pernyataan apapun menjelang pertemuan Federal Open Market Committee/FOMC pekan depan).
“Investor tetap berhati-hati terhadap arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan FOMC minggu depan, meskipun ada ekspektasi kuat untuk penurunan suku bunga acuan. Probabilitas penurunan suku bunga pada Desember 2025 mencapai sekitar 89 persen pagi ini,” kata Josua.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah pada hari ini diperkirakan berkisar Rp16.575–Rp16.675 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak stagnan 0 poin atau 0,0 persen menjadi tetap Rp16.625 per dolar Amerika Serikat (AS) sama seperti penutupan hari sebelumnya yakni Rp16.625 per dolar AS.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2025
Perang Data Bikin Tegang: BI Rate, Transaksi Berjalan-Kabar Genting AS
Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini [3,323] url asal
#rupiah #ihsg #yield-sbn #pasar-saham #bank-indonesia #suku-bunga #investasi #volatilitas-pasar #ekonomi-indonesia #laporan-pasar #newsletter #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 15/11/25 19:04
v/40050/
- Pasar keuangan Indonesia dan rupiah melemah sementara harga SBN nyaris stagnan
- Wall Street ditutup bervariasi menunggu rapor Nvidia dan data ekonomi AS
- Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar di Indonesia bergerak beragam pada akhir pekan lalu. Penguatan dapat dilihat pada nilai tukar rupiah, imbal hasil obligasi stagnan tetapi di lain sisi bursa saham melemah pasar Jumat (14/11/2025)
Pasar keuangan Indonesia diproyeksikan akan mengalami volatilitas pada hari ini hingga satu pekan ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melandai di 8.370,43 (-0,02%) pada perdagangan Jumat pekan lalu (14/11/2025) dengan total market cap menyentuh angka Rp 3.591 triliun pada penutupan pasar.
Terjadi net foreign sell sebesar Rp 73,42 milyar. Pasar saham Indonesia pada saat ini ditopang besar oleh investor domestik hingga kurang lebih 76% dari saham keseluruhan pasar dikuasai oleh investor dalam negeri.
Terdapat 480 saham mengalami pelemahan, 241 saham mengalami penguatan, dan 245 saham tidak bergerak dengan nilai transaksi mencapai Rp 20,82 triliun pada Jumat (14/11/2025).
Pasar ditopang oleh kinerja saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang beberapa hari ke belakang tengah rally sampai dengan double digit persen akibat dari sisi indikator, serta adanya sentimen selesainya akuisisi BUMI dalam akuisisi perusahaan pertambangan emas dan tembaga di Australia bernama Wolfram senilai hampir 100% dengan nilai transaksi mencapai hampir Rp 700 milyar.
Selain itu PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) +70 (+15.91%), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) +50 (+0,6%), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) +150 (+5,19%), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) +525 (+3,70%) menjadi saham dengan nilai transaksi tertinggi pada Jumat (14/11/2025)
Kemudian DSSA, MORA, dan TLKM menjadi tiga perusahaan tertinggi penggerak naiknya IHSG, sementara AMMN, BREN, dan BRMS menjadi tiga perusahaan dengan penggerak turunnya IHSG hingga penutupan pasar pada sore hari.
Beralih ke pasar rupiah, mata uang ditutup ditutup di Rp16.690/US$ atau mengalami penguatan sebesar 0,18%.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan tipis bahkan hampir stagnan ke angka 6.1196% dari hari sebelumnya yang ditutup pada level 6,1123%.
Stagnasi pada imbal hasil ini diakibatkan oleh adanya investor yang masih wait and see dan menentukan arah kebijakan dan data penting yang akan keluar pada beberapa waktu mendatang.
Berdasarkan hasil dari perdagangan pasar saham di Wall Street pada Jumat (14/11/2025), masing-masing ditutup bervariasi.
Nasdaq ditutup pada level 22.900 naik sebesar 30,23 poin (+0,13%). Sementara S&P 500 ditutup sedikit melemah sebesar 0,05% ke level 6.734,11.
Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) menjadi index yang tertekan pada penutupan pasar mengalami penurunan sebesar -0,65% ke level 47.147 bahkan tidak pernah menyentuh area hijau pada waktu perdagangan.
Sesi perdagangan terakhir ini diwarnai oleh kehati-hatian investor yang menimbang ulang ekspektasi mereka terhadap pemotongan suku bunga The Fed lebih lanjut di bulan Desember. Terhentinya rilis data ekonomi penting seperti inflasi dan ketenagakerjaan akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang terjadi sebelumnya, membuat bank sentral AS kekurangan data acuan untuk mengambil keputusan.
Data Index yang bervariasi ini mengindikasikan adanya kebingungan dalam pasar walaupun pada saat ini Fear and Greed Index pada pasar saham di Amerika masih berada pada level 20-an (Extreme Fear) selama beberapa minggu ini.
Hal ini dipacu oleh adanya ketakutan pada AI Bubble yang semakin hari semakin nyata dirasakan oleh pasar akibat valuasi perusahaan-perusahaan AI di AS yang semakin tidak terkendali akibat pergerakan harga sahamnya yang ekspansif.
Di tengah kebimbangan pasar ini, dua berita besar dari Washington dan Omaha menyita perhatian investor.
Pertama, dari sisi kebijakan, Presiden Donald Trump secara mengejutkan menandatangani perintah eksekutif pada Jumat untuk memotong atau menghapus apa yang disebutnya tarif "resiprokal" pada berbagai komoditas impor, terutama bahan pangan.
Langkah ini mencakup produk-produk utama seperti daging sapi, kopi, pisang, tomat, dan berbagai buah-buahan tropis.
Ini juga merupakan sebuah pengakuan implisit bahwa kebijakan tarifnya selama ini turut berkontribusi pada kenaikan harga, sebuah sentimen yang santer terdengar pasca-kemenangan Demokrat dalam pemilihan sela (off-year elections) baru-baru ini di mana isu ekonomi menjadi faktor penentu.
Kedua, dari jagat korporasi, investor legendaris Warren Buffett kembali membuat gebrakan. Dalam laporan terbarunya, Berkshire Hathaway mengungkap kepemilikan saham baru senilai US$ 4,3 miliar di Alphabet, induk perusahaan Google.
Ini adalah taruhan besar yang mengejutkan, mengingat Buffett secara historis dikenal menghindari saham-saham teknologi yang tumbuh cepat, meski Apple telah lama menjadi portofolio terbesarnya.
Banyak analis meyakini langkah ini didorong oleh manajer investasinya, Todd Combs dan Ted Weschler, yang lebih terbuka pada sektor teknologi.
Pada saat yang sama, Berkshire juga terlihat kembali memangkas kepemilikan sahamnya di Apple, meskipun raksasa iPhone itu masih menjadi investasi terbesarnya. Langkah ini menjadi sorotan karena diambil menjelang akhir era kepemimpinan Buffett selama 60 tahun di Berkshire.
Kembali ke pasar, dengan sentimen yang masih rapuh, investor kini mencari katalis baru. Laporan pendapatan dari raksasa teknologi menjadi fokus utama minggu depan.
Pasar tengah menyoroti laporan keuangan Nvidia sebagai pemantik potensial yang akan dipublikasikan pada Rabu (19/11/2025) mendatang.
Dengan saham Nvidia yang berhasil pulih dari tekanan jual pada hari Jumat, laporan yang kuat dari raksasa AI ini diyakini dapat menjadi pemicu yang dibutuhkan pasar untuk memulai reli yang lebih luas, dan menarik sektor teknologi keluar dari bayang-bayang kekhawatiran valuasi.
Namun potensi eskalasi geopolitik kian memanas antara Jepang dan juga China akibat perkataan yang dilontarkan oleh PM Sanae Takaichi pada akhir pekan lalu, dibahas pada halaman selanjutnya.
Fokus utama pasar domestik pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan juga ucapan PM Jepang Takaichi yang berpotensi meningkatkan tensi geopolitik di lautan China.
Dari Amerika Serikat, keputusan Trump membatalkan tarif impor sejumlah komoditas pertanian menjadi kabar positif. Berikut sejumlah sentimen pasar pekan depan:
Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) September 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode September pada hari ini, Senin (17/11/2025).
Sebagai catatan, pada Agustus 2025 utang luar negeri tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$ 431,9 miliar , atau secara tahunan tumbuh 2,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,2% (yoy) pada Juli 2025.
Perkembangan ini terutama bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN sektor swasta.
Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$213,9 miliar dolar AS, tumbuh sebesar 6,7% (yoy), atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan 9,0% (yoy) pada Juli 2025.
Posisi ULN swasta tercatat sebesar US$194,2 miliar dolar, atau mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,1% (yoy) pada Agustus 2025, lebih besar dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,2% (yoy)
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI)
Bank Indonesia akan menggelar RDG pada Selasa dan Rabu pekan ini (18-19/11/2025) dan akan mengumumkan kebijakan pada Rabu.
Berbeda dengan RDG-RDG sebelumnya yang sarat akan tekanan eksternal, pertemuan kali ini digelar di tengah lanskap makroekonomi global yang secara signifikan lebih menguntungkan bagi aset emerging markets, termasuk Indonesia.
Narasinya telah bergeser 180 derajat. Pertanyaan pasar kini bukan lagi "apakah BI akan menaikkan suku bunga untuk bertahan?" melainkan "seberapa besar ruang kebijakan yang kini dimiliki BI di tengah sinyal pivot The Fed, yang akan menghentikan reducing balance sheetnya pada Desember mendatang?"
Ini adalah inti dari perubahan paradigma pasar. Bank Indonesia saat ini mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Di seberang Pasifik, Federal Reserve AS (The Fed) memiliki suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada rentang 3,75% - 4,00%.
Secara matematis, ini menempatkan Indonesia pada posisi interest rate differential (spread) positif yang atraktif sebesar 75 hingga 100 basis poin (bps). Skenario ini secara fundamental sangat menguntungkan.
Spread positif yang solid ini berfungsi sebagai insentif kuat bagi capital inflow ke instrumen SBN (Surat Berharga Negara) dan menjadi 'jangkar' alami untuk stabilitas, bahkan potensi apresiasi, nilai tukar Rupiah ke depan apabila Bi-Rate tetap ditahan pada level saat ini.
Posisi superior ini memberikan kemewahan bagi BI untuk tidak perlu reaktif terhadap kebijakan The Fed dan dapat lebih fokus pada mandat stabilitas domestik, apabila kondisi pasar tetap berjalan sesuai dengan rencana.
Dari sisi domestik, data-data terbaru justru memberi BI justifikasi untuk tetap prudent (hati-hati). Pertumbuhan Kredit (Loan Growth) per Oktober tercatat melambat ke level 7,7% (YoY).
Moderasi ini mengindikasikan bahwa transmisi kebijakan moneter BI-pasca kenaikan terakhir ke 4,75%-sudah berjalan efektif dan mulai mendinginkan permintaan kredit di sektor riil, sehingga mengurangi risiko overheating.
Rilis FOMC, Sinyal 'Pivot' The Fed Semakin Kuat?
Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan merilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (20/11/2025). Rilis ini akan menjadi pegangan bagi pelaku pasar mengenai arah kebijakan The Fed ke depan.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini terbelah (split) dalam memproyeksikan langkah The Fed.
Meskipun 55,6% pelaku pasar masih berekspektasi The Fed akan menahan (hold) suku bunga, porsi yang signifikan 44,4% justru telah melakukan pricing-in atas skenario pemangkasan suku bunga (rate cut).
Chairman The Fed Jerome Powell bulan lalu mengatakan pemangkasan Desember belum pasti. Namun, data ekonomi menunjukkan pemburukan.
Pasar meyakini The Fed akan segera melakukan berbagai cara untuk menghindari hard landing ekonomi imbas dari kebijakan pada masa Covid beberapa tahun ke belakang.
Bagi Indonesia, sinyal dovish The Fed adalah katalis bullish primer, yang berpotensi menekan Indeks Dolar (DXY) dan membuka ruang penguatan Rupiah lebih lanjut. Namun tetap harus waspada terhadap adanya ancam di mana The Fed yang akan mempertahankan suku bunganya pada FOMC mendatang.
Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan
Pada Kamis (21/11), Bank Indonesia mengumumkan data NPI dan Transaksi Berjalan kuartal III-2025. Data ini sangat penting dan ditunggu pelaku pasar dan publik karena menjadi cerminan seberapa kekuatan fundamental Indonesia di tengah tekanan eksternal.
Sebagai catatan, NPI Kembali mengalami defisit pada kuartal II-2025. Defisit dipicu derasnya arus keluar modal asing di saham dan obligasi. Kondisi ini membuat defisit neraca transaksi finansial membengkak.
Data Bank Indonesia mencatat defisit NPI pada kuartal II-2025 tercatat mencapai US$6,74 miliar,sekaligus menjadi defisit yang tertinggi sejak kuartal II-2023.
Bila dibandingkan dengan periode kuartal pertama tahun ini, terjadi kenaikan defisit yang sangat besar, dimana pada kuartal I-2025 defisit NPI tercatat sebesar US$800 juta. Artinya terjadi kenaikan deficit NPI sebesar US$5,94 miliar.
Transaksi berjalan membukukan defisit sebesar US$3,01 miliar pada kuartal II-2025 atau 0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut adalah yang tertinggi sejak kuartal I-2020 yang tercatat sebesar US$3,36 miliar.
Defisit pada transaksi berjalan ditengarai oleh meningkatnya defisit pada pendapatan primer, yang tercatat defisit sebesar US$35,87 miliar di kuartal II-2025, naik dari defisit di periode sebelumnya yakni US$9,04 miliar.
Kondisi ni diperparah dengan menurunnya surplus pada neraca perdagangan barang. Pada kuartal II- 2025, tercatat surplus US$10,6 milia turun dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat surplus US$13 miliar.
Perkembangan Uang Beredar Oktober 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data uang beredar pada Oktober 2025 pada Jumat (21/11/2025). Data ini akan menjadi pegangan seberapa besar belanja masyarakat di awal kuartal IV-22025.
Data ini juga menjadi indikator penting bagi likuiditas perbankan dan permintaan kredit. Kenaikan likuiditas dapat mendukung aktivitas ekonomi, namun pasar juga mempertimbangkan implikasinya terhadap inflasi dan strategi kebijakan BI ke depan.
Sebagai catatan, uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh lebih tinggi.Pertumbuhan M2 pada September 2025 sebesar 8,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,6% (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun. Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2% (yoy).
Faktor Penopang Kebijakan Akomodatif China
People's Bank of China (PBoC) akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis (20/11/2025). PBoC diperkirakan akan menahan Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun di level 3,0%.
Kebijakan moneter China yang tetap akomodatif ini krusial untuk menjaga harga komoditas global. Bagi Indonesia, ini membantu menjaga floor price untuk ekspor andalan (batu bara, CPO, nikel), yang pada gilirannya menopang surplus neraca perdagangan dan memberi fondasi kuat bagi stabilitas Rupiah.
Di lain sisi, China saat ini memfokuskan kebijakannya pada penjagaan nilai tukar CNY seperti yang terjadi pada pekan sebelumnya di mana CNY ditekan untuk tetap berada di level rendah guna meningkatkan ketergantungan dagang dan stabilitas akibat tarif yang kian ditetapkan oleh Amerika.
Stagflasi Jepang dan Ancaman Repatriasi Yen
Jepang akan mengumumkan sejumlah data penting mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 pada hari ini, Senin (17/11/2025), neraca perdagangan Oktober pada Rabu (19/11/2025) dan inflasi pada Jumat (21/11/2025).
ata ekonomi Jepang menunjukkan dilema stagflasi yang sempurna. Pertumbuhan melambat sementara inflasi tinggi.
Ini menempatkan Bank of Japan (BoJ) dalam posisi terjepit. Risiko terbesarnya adalah jika BoJ terpaksa mengorbankan pertumbuhan dan mulai menormalisasi suku bunga negatifnya untuk memerangi inflasi. Jika ini terjadi, 'pesta' Yen Carry Trade akan berakhir.
Ini berpotensi memicu repatriasi modal (capital outflow) besar-besaran dari investor Jepang-salah satu pemegang SBN terbesar-yang menarik dana mereka kembali ke Yen. Ini adalah risiko eksternal utama yang kini menggantikan The Fed.
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia) |
Hancurnya Hubungan Jepang dan China
Seluruh rencana di atas dapat berubah karena satu perbuatan yang dilakukan oleh PM Baru Jepang Sanae Takaichi yang baru menjabat beberapa waktu ini. Suatu perkataan krusial baru saja dilontarkan pada akhir pekan lalu.
Takaichi mengucapkan sinyal buruk terkait potensi naiknya tensi geopolitik di Taiwan ini menjadikan suatu ancaman besar bagi perekonomian dunia. Hal ini membentuk suatu kekhawatiran di pasar akibat respon balik oleh China untuk rakyatnya tidak datang ke Jepang terlebih dahulu.
Hal ini mampu membentuk suatu gangguan supply chain di kawasan Taiwan, terutama TSMC yang merupakan perusahaan pembuat semi-conductor terbesar di dunia. Gangguan ini berpotensi menghilangkan momentum rally AI yang sekarang tengah terjadi pada Wall Street.
Diproyeksikan penutupan pasar saham di Amerika pada pagi esok hari nanti akan berisi pelemahan terutama ditopang oleh sektor teknologi dan juga AI.
Selain itu, konflik ini juga mengganggu potensi pendapatan perusahaan-perusahaan AI yang berada di Amerika sehingga forecast investasi juga akan berubah dan terganggu dalam waktu dekat apabila hal ini tidak berkepanjangan.
Tensi geopolitik ini sangat krusial bagi Amerika dan China karena masa depan dunia dan AI sangat bergantung pada produksi chip yang dibuat oleh TSMC yang memiliki weight market share terbesar di dunia.
Data Ekonomi Amerika
Dengan berakhirnya shutdown pemerintahan terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, berbagai lembaga statistik utama kini mengumumkan rencana untuk menerbitkan jadwal terbaru bagi rilis data ekonomi yang tertunda.
Namun ketidakpastian masih ada, karena beberapa laporan kunci kemungkinan pada akhirnya dibatalkan jika lembaga terkait tidak dapat menyelesaikannya akibat terganggunya proses pengumpulan data. Meski begitu, serangkaian indikator swasta dan regional tetap akan memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi ekonomi AS.
Penjualan rumah existing diperkirakan tidak banyak berubah pada Oktober. Indeks Pasar Perumahan NAHB diperkirakan turun sedikit, sementara Indeks Manufaktur Empire State New York kemungkinan melemah lebih lanjut.
Data lain mencakup S&P Global Flash PMI, laporan pekerjaan mingguan ADP, pembacaan akhir Sentimen Konsumen Michigan, serta survei manufaktur Fed Philadelphia dan Kansas. Dari sisi laba perusahaan, beberapa perusahaan besar yang akan melaporkan kinerjanya minggu depan termasuk Nvidia dan Walmart.
Trump Berikan Pengecualian Tarif
Presiden Donald Trump pada hari Jumat mengecualikan sejumlah impor pertanian utama seperti kopi, kakao, pisang, dan produk daging sapi tertentu dari tarif tinggi yang ia berlakukan.
Langkah ini diambil saat Trump menghadapi tekanan politik akibat tingginya harga di toko bahan makanan AS. Sejumlah distributor daging sapi, kopi, cokelat, dan bahan pangan umum lainnya telah menaikkan harga sejak tarif Trump diberlakukan tahun ini, menambah tekanan pada anggaran rumah tangga yang sudah terpukul oleh inflasi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Tindakan Trump pada Jumat itu juga mengecualikan berbagai jenis buah, termasuk tomat, alpukat, kelapa, jeruk, dan nanas. Selain kopi, penurunan tarif juga mencakup teh hitam dan hijau, serta rempah-rempah seperti kayu manis dan pala.
Langkah ini menandai perubahan sikap bagi Trump, yang sebelumnya bersikeras bahwa tarif diperlukan untuk melindungi bisnis dan pekerja AS. Ia mengklaim bahwa konsumen AS pada akhirnya tidak akan menanggung beban tarif yang lebih tinggi tersebut.
Pengecualian tarif ini muncul hanya sehari setelah Trump mencapai kerangka kesepakatan dagang dengan empat negara Amerika Latin-termasuk tarif 10% untuk sebagian besar barang dari Argentina, Guatemala, dan El Salvador, serta 15% untuk barang dari Ekuador. Kebijakan ini juga menghapus bea masuk untuk produk yang tidak ditanam atau diproduksi dalam jumlah cukup di AS, seperti pisang dan kopi.
Harga pangan yang terus naik telah membebani rumah tangga AS selama beberapa tahun terakhir. Data Indeks Harga Konsumen menunjukkan harga bahan makanan di rumah meningkat sekitar 2,7% secara tahunan pada September. (Data terbaru tertunda akibat shutdown pemerintah).
Pengecualian tarif ini bertujuan membantu meredam kenaikan harga bahan makanan, meskipun para ahli memperingatkan bahwa faktor lain seperti kekurangan pasokan global juga memengaruhi harga, terutama untuk kopi dan daging sapi.
Dalam setahun terakhir, AS telah memberlakukan tarif tinggi terhadap pemasok utama termasuk Brasil, Australia, Selandia Baru, dan Uruguay. Brasil-produsen daging sapi terbesar kedua di dunia-menghadapi tarif efektif yang mencapai lebih dari 75%, sehingga menurunkan volume impor ke AS pada saat populasi ternak di negara tersebut berada di level terendah dalam hampir 75 tahun.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- GDP Growth Jepang
- Industrial Production Jepang
- FDI YoY China
Pertemuan Menteri Perdagangan dengan Menteri UMKM dengan agenda pembahasan "Isu Thrifting" di Gedung Utama, Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.
Press conference Orange Forum 2025 "From The South To The Future: Financing Global Sustainability Through Inclusion" di Main Hall BEI, Jakarta Selatan.
National Seminar & FEB UI Tax Clinic Launch - Reinventing Tax Compliance: From Enforcement to Cooperative Comliance di Auditorium FEB UI, Depok, Jawa Barat. Turut hadir Direktur Jenderal Pajak dan Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan.
13th US-Indonesia Investment Summit dengan tema "Turning Headwinds into Opportunities: Unlocking Investment Potential to Power Indonesia's Growth" di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Konferensi pers Indonesia AI Day for Higher Education bertema "Experience The Shift: From Traditional to Tech-Driven Education" di Meeting Room MX Center, Gedung Indosat, Jakarta Pusat. Narasumber: Director & Chief Business Officer Indosat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interims Darya Varia Laboratoria Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
Bos BI Sentil Perbankan Soal Special Rate Buat Nasabah Besar
Gubernur BI Perry Warjiyo mengeluhkan transmisi kebijakan suku bunga acuan yang belum diikuti penurunan bunga deposito, meski BI Rate sudah dipangkas 6 kali. [269] url asal
#bank-indonesia #suku-bunga #deposito #bi-rate #perry-warjiyo #perbankan #special-rate #kebijakan-moneter #yield-sbn #rapat-kerja-dpr-ri
(CNBC Indonesia - Market) 12/11/25 13:04
v/36272/
Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengeluhkan perihal transmisi kebijakan suku bunga acuan BI Rate terhadap penurunan deposito.
Sayangnya, Perry menilai transmisi kebijakan suku bunga ini belum dibarengi oleh penurunan bunga deposito. Padahal, Perry mengatakan BI Rate telah dipangkas sebanyak 6 kali sejak September 2024. Penurunannya mencapai 150 basis poin (bps).
"Yang menjadi issue penurunan BI Rate belum diikuti bunga deposito di perbankan karena ada spesial rate oleh deposan besar. Penurunan suku bunga kredit juga belum turun searah BI Rate," kata Perry, dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI, Rabu (12/11/2025).
Namun, di sisi lain, Perry melihat penurunan BI Rate telah memberikan dampak ke suku bunga pasar uang. Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) saat ini mencapai 6%.
"Penurunan suku bunga BI Rate menurunkan biaya bunga pemerintah dan mendukung fiskal," katanya.
Sebagai catatan, ini bukan kali pertama, Perry menegur perbankan soal special rate. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI September lalu, Perry juga mengungkapkan soal special rate deposan besar.
Saat itu, Perry mengungkapkan jumlah DPK yang mendapatkan special rate atau bunga di atas penjaminan LPS mencapai Rp2.380,4 triliun.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Wall Street Rontok, BI Rem Bunga, Pemerintah Guyur Stimulus: RI Aman?
Keputusan Bank Indonesia serta kebijakan ekonomi dalam negeri menjadi penggerak pasar hari ini [2,569] url asal
#ihsg #suku-bunga-acuan #bank-indonesia #yield-sbn #rupiah #pasar-saham #investasi #ekonomi-indonesia #laporan-pasar #analisis-keuangan #newsletter #bi-rate #saham #pasar-modal
(CNBC Indonesia - Research) 22/10/25 21:10
v/13459/
- Pasar Indonesia berakhir beragam kemarin: IHSG ditutup berdarah-darah, yield SBN juga naik tetapi rupiah menguat
- Wall Street ambruk berjamaah karena meningkatnya kekhawatiran hubungan China-AS
- Keputusan Bank Indonesia serta kebijakan ekonomi dalam negeri menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan kemarin, Rabu (22/10/2025). Pasar saham ambruk sementara rupiah menguat.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile pada hari ini. Selengkapnya mengenai pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi dalam pada perdagangan kemarin, Rabu (22/10/2025) usai keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang memutuskan untuk menahan suku bunga acuan.
Pada penutupan perdagangan, indeks melemah 1,04% ambruk 85,53 poin ke level 8.152,55.
Sebanyak 321 saham naik, 349 turun, dan 139 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin terbilang ramai, yakni Rp 23,02 triliun, melibatkan 29,56 miliar saham dalam 2,44 juta kali transaksi.
Dari sisi foreign, asing mencatatkan nilai transaksi net buy sebesar Rp 170 milyar dengan nilai paling besar di PT Bank Central Asia (BBCA) berada di level Rp 235 milyar, PT Astra International (ASII) di 167 milyar, dan PT Petrosea (PTRO) di Rp 97 milyar. Sementara dari sisi net sell terdapat PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) di Rp 241 milyar, PT Aneka Tambang (ANTM) Rp 57 milyar dan PT Bank Mandiri (BMRI) Rp 55 milyar hingga akhir penutupan pasar sesi II.
Mayoritas sektor perdagangan melemah, dengan hanya sektor properti dan industri yang menguat. Sedangkan koreksi sektoral terbesar dicatatkan oleh oleh barang baku, finansial dan teknologi.
Pemberat utama kinerja IHSG kemarin adalah deretan saham blue chip kapitalisasi pasar besar yang sempat menguat pada perdagangan kemarin.
Saham emiten perbankan kompak melemah, dengan saham BBCA ambruk lebih dari 3% dan menyumbang pelemahan 19,71 indeks poin.
Sementara itu kebalikannya dari hari kemarin, BBCA (-3,24%) menjadi penopang penurunan IHSG dengan menyumbang -25.71 poin, kemudian PT Telkom Indonesia (TLKM) yang melemah -3,96% dengan penurunan -14.17 popin dan, BBRI (-1,60%) menyumbang -9.78 poin di IHSG hingga penutupan kemarin.
ASII (+2,92%) pada perdagangan kemarin menjadi penopang kenaikan IHSG dengan menyumbang poin sebesar 7.43, dilanjutkan oleh PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) (+19,86%) dengan poin sebesar 5.46 poin, dilanjutkan dengan kenaikan 3.89 poin oleh PTRO (+3,89%).
Berpindah ke mata uang, rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya.
Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan kemarin, Rabu (22/10/2025) atau pasca pengumuman suku bunga BI, rupiah tercatat menguat 0,09% di posisi Rp16.570/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan arah setelah sempat dibuka melemah 0,03% di level Rp16.590/US$ pada awal perdagangan.
Sementara itu, DXY berada pada level 99.014 naik sebesar 0.283 dari hari sebelumnya di 98.731, melanjutkan kenaikannya selama tiga hari berturut - turut.
Pasar Surat Berharga Negara (SBN) acuan 10-tahun masih ditutup tegang di level 5,994% pada perdagangan terakhir, nyaris menembus batas psikologis 6%.
Ketegangan yield ini terjadi di tengah langkah Bank Indonesia (BI) yang kembali menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75%.
Langkah BI untuk "tetap diam" ini adalah sebuah strategi yang disengaja. Ini bukan karena BI takut, melainkan karena bank sentral sedang memanfaatkan momentum tren kebijakan Bank Sentral AS, The Fed.
Seperti diketahui, The Fed saat ini sudah berada dalam siklus pelonggaran moneter (tren dovish) berdasarkan pembicaraan Fed Chair Powell terakhir yang akan mengurangi efek quantitative tighteningnya dan telah menurunkan suku bunganya beberapa kali. Pasar kini berekspektasi The Fed akan kembali memangkas suku bunganya dalam waktu dekat untuk terus menopang ekonomi AS.
Di sinilah letak jurus BI. Dengan menahan BI-Rate di 4,75% sementara The Fed terus bergerak turun, selisih imbal hasil (spread) antara SBN Indonesia dan US Treasury akan otomatis semakin melebar.
Spread yang kian "gemuk" inilah yang menjadi magnet utama bagi investor asing. Arus modal masuk (capital inflow) diprediksi akan terus berlanjut. Aksi borong SBN ini akan menaikkan harganya, dan pada akhirnya, "memaksa" yield SBN yang kini tertahan di 5,994% untuk melandai (turun) lebih dalam.
Dari bursa saham Amerika Serikat (AS0, bursa Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Saham ambruk setelah muncul perkembangan baru dari Washington yang memperburuk kekhawatiran investor terkait hubungan dagang AS-China. Laporan laba yang mengecewakan dari sejumlah perusahaan besar seperti Texas Instruments dan Netflix juga menekan kinerja indeks utama.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 334,33 poin atau 0,71% ke level 46.590,41.
Indeks S&P 500 melemah 0,53% menjadi 6.699,40, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 0,93% ke 22.740,40.
Pada titik terendah sesi, Dow sempat turun lebih dari 400 poin (sekitar 1%), sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat turun 1,2% dan 1,9%.
Tekanan jual meningkat setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor ke China untuk produk yang dibuat menggunakan perangkat lunak asal AS.
Langkah ini muncul sekitar dua minggu setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS akan memberlakukan pembatasan ekspor terhadap "seluruh perangkat lunak kritis" mulai 1 November.
Sejak awal perdagangan, pasar saham sudah berada di bawah tekanan setelah Texas Instruments merosot 5,6% akibat laba kuartalannya yang lebih lemah dari perkiraan. Proyeksi laba perusahaan untuk kuartal keempat juga dinilai lesu.
Kinerja buruk Texas Instruments ikut menyeret sektor semikonduktor secara keseluruhan. On Semiconductor turun hampir 6%, Advanced Micro Devices (AMD) melemah lebih dari 3%, sedangkan Micron Technology dan ETF VanEck Semiconductor (SMH) masing-masing turun sekitar 2%.
Saham Netflix juga menekan pasar setelah anjlok 10% karena laba perusahaan meleset dari ekspektasi akibat sengketa pajak dengan otoritas Brasil.
Namun ada sedikit kabar positif dari Intuitive Surgical, yang sahamnya melonjak hampir 14% berkat hasil laba dan pendapatan yang kuat.
Fokus Selanjutnya: Laporan "Magnificent Seven"
Investor kini menanti laporan keuangan berikutnya yang berpotensi memberikan dorongan pada pasar saham. Salah satu yang paling dinanti adalah hasil kinerja Tesla, yang dijadwalkan rilis setelah penutupan pasar pada Rabu malam.
Laporan ini akan menjadi pembuka bagi musim laporan keuangan dari kelompok teknologi raksasa yang dijuluki "Magnificent Seven."
Hingga saat ini, menurut data FactSet, lebih dari tiga perempat perusahaan di indeks S&P 500 yang telah melaporkan hasil keuangannya berhasil melampaui ekspektasi pasar.
"Meski hasil laba perusahaan AS untuk kuartal III jauh lebih baik dari perkiraan, kekhawatiran mungkin masih muncul terkait panduan dari manajemen seiring musim laporan keuangan meluas ke lebih banyak saham dan sektor," kata Thierry Wizman, ahli strategi valas dan suku bunga global di Macquarie Group, dalam sebuah catatan kepada CNBC International.
"Beberapa laporan besar yang dirilis semalam (seperti Netflix dan Texas Instruments) bernada negatif," tambahnya.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile hari ini seiring meningkatnya ketidakpastian. Ambruknya Wall Street bisa menjadi sentimen negatif untuk pasar saham Indonesia.
Pelaku pasar juga akan mempertimbangkan sejumlah sentimen lain, terutama suku bunga BI.
BI Tahan Bunga 4,75% di Tengah Ketidakpastian Global
Di tengah pasar yang masih "wait and see" terhadap arah kebijakan The Fed, Bank Indonesia (BI) akhirnya mengambil langkah untuk menahan suku bunga. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berakhir Rabu (22/10) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI-Rate) tetap di level 4,75%.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pre-emptive dan forward looking untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak rambat ketidakpastian global.
Langkah "menahan" ini diambil sebagai jurus untuk menyeimbangkan antara upaya menjaga stabilitas eksternal dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. BI memandang level suku bunga saat ini masih memadai untuk mengendalikan inflasi agar tetap sesuai target sasaran.
Namun, BI tidak hanya "diam". Perry menegaskan bank sentral akan terus memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market, terutama melalui intervensi di pasar valas, untuk meredam volatilitas Rupiah. Di saat yang sama, kebijakan makroprudensial longgar tetap dipertahankan untuk mendorong kredit perbankan agar terus mengalir ke dunia usaha.
Purbaya Siapkan Rp 20 T 'Putihkan' Tunggakan BPJS
Gebrakan signifikan datang dari Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran jumbo senilai Rp 20 triliun untuk program penghapusan tunggakan iuran BPJS Kesehatan.
Langkah ini merupakan realisasi dari janji Presiden Prabowo Subianto untuk "membersihkan" data kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Purbaya menegaskan, alokasi tersebut sudah difinalisasi setelah pembicaraan intensif dengan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti.
"Tadi minta yang ngerekam berapa, Rp 20 triliun, sesuai janji Presiden, itu sudah dianggarkan," ungkap Purbaya di kantornya, Rabu (22/10).
Program pemutihan ini tidak untuk semua peserta. Sasaran utamanya adalah peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau peserta yang didaftarkan Pemda (PBU Pemda) yang datanya menjadi non-aktif akibat menunggak. Kebijakan ini akan menghapus tunggakan iuran mereka, dengan batas maksimal tunggakan 24 bulan. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan status kepesertaan jutaan warga dan memastikan mereka kembali mendapat akses layanan kesehatan.
Foto: Menkeu RI Purbaya dan Menkes RI Budi Gunadi Sadikin membahas langkah memperkuat sistem jaminan kesehatan nasional, termasuk mengenai pengelolaan BPJS Kesehatan. (Instagram/MenkeuRI) |
BLT Rp 30 T Mulai Cair, 14 Juta Penerima Baru Disasar
Tak hanya memutihkan tunggakan BPJS, pemerintah juga jor-joran menggelontorkan stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat di akhir tahun. Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan total anggaran Rp 30 triliun dipastikan mulai cair pada Triwulan IV tahun ini.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mendesak pemerintah daerah (Pemda) untuk 'pasang mata' dan bergerak cepat melakukan verifikasi data. Pasalnya, data penerima kali ini diperluas secara signifikan.
Selain 20,8 juta KPM (Keluarga Penerima Manfaat) reguler, terdapat 14 juta KPM baru yang sebelumnya belum pernah masuk sebagai penerima bantuan reguler. Data baru ini, yang diambil dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), memerlukan verifikasi kilat. Gus Ipul memberi target verifikasi data tuntas dalam lima hari ke depan.
"Kita ingin waktunya 5 hari ke depan," tegasnya. KPM baru ini dijadwalkan menerima total Rp 900 ribu. Percepatan penyaluran ini sesuai arahan Presiden untuk menopang konsumsi rumah tangga dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Revolusi Pupuk Era Prabowo: Harga Dipangkas 20%, 7 Pabrik Baru Dibangun
Kabar gembira akhirnya datang untuk para petani. Sesuai perintah langsung Presiden Prabowo Subianto, pemerintah secara resmi menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk sebesar 20%, berlaku efektif mulai hari ini, Rabu (22/10).
Penurunan harga ini mencakup dua jenis pupuk utama yang paling dibutuhkan petani, yakni Urea dan NPK. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut ini sebagai langkah bersejarah yang dimungkinkan berkat efisiensi besar-besaran di BUMN pupuk, sehingga diklaim tidak menambah beban subsidi di APBN.
Namun, gebrakan di sektor pertanian tidak berhenti di situ. Pemerintah mencanangkan revitalisasi industri pupuk nasional secara masif. Tak tanggung-tanggung, Indonesia bakal membangun 7 pabrik pupuk baru dengan total nilai investasi mencapai Rp 50 triliun. Proyek raksasa ini ditargetkan berjalan dalam 5-10 tahun ke depan, dengan 5 pabrik di antaranya ditargetkan sudah beroperasi di era pemerintahan Prabowo, atau sebelum 2029.
Sambut PM Baru Jepang, Indonesia Incar Peluang Investasi
Dari panggung global, pemerintah Indonesia buka suara mengenai terpilihnya Perdana Menteri perempuan pertama Jepang, Sanae Takaichi. Seperti diketahui, Takaichi berasal dari faksi konservatif di partainya dan dikenal memiliki pandangan politik yang keras.
Meski demikian, Jakarta memilih melihat transisi kepemimpinan ini sebagai sinyal positif. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa terpilihnya PM Takaichi justru dilihat sebagai "kesempatan baru" untuk meningkatkan hubungan bilateral yang lebih baik.
Pemerintah menyatakan bahwa hubungan Indonesia dan Jepang secara tradisional sudah sangat mapan dan kuat. Latar belakang konservatif pemerintahan baru Jepang diyakini tidak akan mengubah arah kebijakan luar negeri Jepang secara signifikan terhadap mitra strategis seperti Indonesia. Saat ini, Indonesia tengah mengincar peningkatan peluang investasi dan kerja sama ekonomi, memanfaatkan stabilitas kawasan dan hubungan historis yang telah terjalin lama dengan Negeri Sakura.
7 Gerbang Tol Pulih, Listrik Dikebut ke Desa
Kabar baik datang dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) bagi pengguna jalan tol di Jakarta. Emiten pengelola tol ini memastikan bahwa tujuh Gerbang Tol (GT) di Ruas Tol Dalam Kota (Cawang-Tomang-Pluit) kini telah beroperasi normal 100%. Ketujuh gerbang tol tersebut sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat insiden kerusuhan massa pada akhir Agustus lalu. Setelah melalui proses perbaikan dan pemulihan sistem transaksi, kini seluruh gardu di gerbang tol tersebut telah berfungsi optimal melayani pengguna jalan.
Sementara itu, dari sektor energi, pemerintah mengklaim rasio elektrifikasi nasional telah mencapai angka yang sangat tinggi, yakni 99,74%. Meski nyaris sempurna, pemerintah berjanji akan mempercepat program "listrik masuk desa". Fokus utama saat ini adalah mengebut penyetruman listrik di wilayah-wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal) yang masih belum terjangkau jaringan PLN, demi mencapai target rasio elektrifikasi 100% di seluruh penjuru negeri.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini:
Berikut sejumlah agenda dan rilis data pada hari ini:
Coffee Morning "Kupas Tuntas Cara Prabowo Benahi Tata Kelola Tambang" di Queens Head Kemang, Jakarta Selatan.
Presiden menerima kunjungan kenegaraan Presiden Brasil di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Konferensi pers Koalisi Serikat Pekerja dan Partai Buruh via zoom meeting.
Press background Kementerian Perhubungan "Transportasi Berkelanjutan Untuk Masa Depan" di Ruang Nanggala, kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat.
Menteri Keuangan menggelar pertemuan dengan Menteri Koperasi di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.
Konferensi pers virtual paparan kinerja kuartal III PT Unilever Indonesia Tbk.
Indonesia Pension Fund Summit di Hotel Tentrem, Alam Sutera, Kota Tangerang Selatan. Turut hadir antara lain Ketua DK OJK.
Landbank Strategic Partnership Forum di Wisma BNI 46, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Direktur Kelembagaan BNI.
Sesi edukasi media "Kenali dan Pahami: Kanker Hati Tipe HCC" di Waroeng Sunda Restaurant, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
- Core CPI Singapura
- CPI Singapura
- CPI Hong Kong
- Initial Job Claims Amerika
- Penjualan Rumah Amerika
- Core Retai Sales Canada
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini :
- RUPS Medikaloka Hermina Tbk
- RUPS Energi Mega Persana Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interim Teladan Prima Agro Tbk
- Tanggal DPS dividen tunai interim Formosa Ingredient Factory Tbk
- Tanggal ex dividen tunai interim Plaza Indonesia Realty Tbk
- Tanggal cum dividen tunai interim Central Omega Resources Tbk
- TAnggal cum saham bonus Multi Medika Internasional Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Semua Mata Tertuju ke BI: Suku Bunga Kembali Dipangkas Hari Ini?
Kebijakan suku bunga dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini. [2,453] url asal
#ihsg #npl #rupiah #skandal-impor #pasar-saham #bank-indonesia #kebijakan-moneter #yield-sbn #depresiasi #investor-asing #newsletter #depresiasi-rupiah #investor #impor #ekspor
(CNBC Indonesia - Research) 21/10/25 17:05
v/11713/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, saham berpesta tetapi rupiah melemah
- Wall Street ditutup beragam menjelang musim laporan keuangan
- Kebijakan suku bunga dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini.
Jakarta,CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak anomali pada penutupan perdagangan Selasa (21/10/2025). Di satu sisi, pasar saham domestik berpesta pora dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melesat tinggi. Namun di sisi lain, nilai tukar rupiah dan pasar obligasi justru kompak tertekan.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini.Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG pada perdagangan kemarin, Selasa (21/10/2025) ditutup 'ngamuk' dengan penguatan tajam 1,84% dan berhasil parkir di level 8.238,08. Penguatan signifikan ini membawa indeks kembali ke level psikologis barunya, didukung oleh nilai transaksi yang tergolong sangat ramai.
Data perdagangan mencatat nilai transaksi hari ini mencapai Rp 21,67 triliun, sebuah angka yang menunjukkan gairah beli investor sedang tinggi. Volume perdagangan melibatkan 31,06 miliar lembar saham yang ditransaksikan sebanyak 2,3 juta kali.
Adapun kekuatan pasar kemarin ditopang oleh mayoritas saham yang menguat. Sebanyak 447 saham berhasil naik, berbanding dengan 232 saham yang turun, dan 135 saham lainnya stagnan atau tidak bergerak.
Saham PT Bank Sentral Asia (BBCA) tercatat menyumbang 43,04 indeks poin, diikuti oleh saham Telkom Indonesia (TLKM) yang menguat 11,56% ke Rp 3.280 per saham dengan sumbangsih 38,98 indeks poin dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang naik 2,17% ke Rp 3.760 per saham dengan kontribusi 13,25 indeks poin.
Net foreign buy juga mencatatkan bahwa investor asing membeli saham BBCA dengan nilai Rp 1,30 triliun, diiringi oleh TLKM di Rp 226,47 milyar, dan ADRO di Rp140,9 milyar pada kemarin. BMRI mencatatkan net sell terbesar mencapai Rp 117,22 milyar, CUAN di Rp 104,58 milyar, dan BBNI Rp 102,14 milyar.
Sejumlah emiten blue chip lainnya yang ikut menjadi penopang IHSG termasuk Bank Mandiri (BMRI) hingga Astra International (ASII).
Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (21/10/2025).
Melansir data Refinitiv, rupiah Garuda harus mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 0,09% ke posisi Rp16.585/US$.
Padahal, di awal perdagangan, rupiah sempat dibuka menguat tipis 0,06% ke level Rp16.570/US$. Namun, seiring berjalannya perdagangan, tekanan jual kembali muncul sehingga rupiah berbalik arah dan ditutup di zona pelemahan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul tengah mengalami penguatan 0,14 ke level 98,731. Sekaligus melanjutkan kenaikan yang telah terjadi dalam dua hari beruntun.
Getaran serupa juga terasa di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Imbal hasil (yield) SBN Indonesia tenor 10 tahun terpantau mengalami kenaikan 0,13% (13 basis poin) dan ditutup di level 5,955% pada perdagangan kemarin.
Kenaikan yield ini mengindikasikan bahwa harga obligasi negara sedang mengalami penurunan, yang berarti investor cenderung melepas kepemilikan SBN mereka. Ini adalah sebuah anomali jika dibandingkan dengan pasar saham yang sedang berpesta.
Pelemahan di pasar SBN ini berjalan beriringan dengan depresiasi rupiah dan menjadi sinyal kegelisahan investor menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Ada divergensi yang jelas antara ekspektasi pasar saham dan pasar obligasi.
Di satu sisi, investor ekuitas (saham) berharap BI akan memberikan sentimen akomodatif (dovish), seperti menahan suku bunga rendah, untuk terus menyiram bensin pada pertumbuhan ekonomi yang menopang kinerja emiten.
Kenaikan yield SBN kemarin merefleksikan aksi wait and see dan risk-off dari pelaku pasar surat utang, yang mengantisipasi risiko bahwa BI mungkin terpaksa mengeluarkan pernyataan yang lebih hawkish (ketat) dari perkiraan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks Dow Jones naik 218,16 poin atau 0,47% dan ditutup di level 46.924,74, sempat menembus angka 47.000.
Indeks S&P 500 ditutup nyaris stagnan di 6.735,35. Sementara itu, Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melemah 0,16% ke 22.953,67.
Indeks Dow Jones mencatat rekor baru didorong oleh laporan laba kuat dari sejumlah perusahaan seperti Coca-Cola dan 3M.
Saham Coca-Cola dan 3M menopang penguatan Dow setelah laporan keuangan terbarunya melampaui perkiraan Wall Street, masing-masing naik 4,1% dan 7,7%.
Saham industri lama lainnya, General Motors (GM), melonjak 14,9% setelah menaikkan proyeksi laba setahun penuh dan melaporkan hasil di atas ekspektasi.
Produsen mobil asal Detroit itu juga menurunkan estimasi dampak tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump, dengan mengatakan bahwa mereka memperkirakan dapat menekan sekitar 35% dari beban tersebut.
Sementara itu, saham Zions Bancorp naik lebih dari 1% setelah bank regional itu melaporkan laba kuartal ketiga yang meningkat dibanding tahun sebelumnya.
"Ini pertanda baik bahwa perusahaan multinasional besar mencatat hasil yang lebih baik dari perkiraan," ujar Louis Navellier, pendiri sekaligus Chief Investment Officer di Navellier & Associates, dikutip dari CNBC International.
Namun, saham-saham teknologi sempat tertekan pada perdagangan Selasa setelah Trump menimbulkan ketidakpastian terkait rencana pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping minggu depan.
"Mungkin pertemuan itu tidak akan terjadi," kata Trump.
Investor teknologi kini berharap hubungan AS-China menjadi lebih bersahabat agar tarif perdagangan bisa turun dan industri semikonduktor terhindar dari ketegangan politik.
Musim Laporan Keuangan Dimulai
Investor tengah mencermati pekan penting laporan keuangan kuartal III, yang akan semakin ramai dengan Netflix dijadwalkan melaporkan hasil setelah penutupan perdagangan Selasa dan Tesla pada Rabu.
Awal musim laporan yang kuat sejauh ini tampak mendukung reli pasar yang lebih luas, terlebih di tengah minimnya data ekonomi akibat shutdown pemerintahan.
Lebih dari tiga perempat perusahaan di indeks S&P 500 yang telah merilis laporan sejauh ini berhasil melampaui ekspektasi.
Perusahaan teknologi besar diperkirakan akan menjadi penyumbang utama laba, seiring kuatnya sentimen terhadap perdagangan berbasis AI. Kelompok "Magnificent Seven" diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba tahunan sebesar 14,9%, dibandingkan 6,7% untuk 493 perusahaan lainnya dalam indeks tersebut.
Sentimen pasar juga ditopang oleh ekspektasi akan adanya pemangkasan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase pada pertemuan The Federal Reserve akhir Oktober mendatang. Data indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis pada Jumat diharapkan memberikan petunjuk terkait laju inflasi.
Pelaku pasar keuangan perlu mencermati sejumlah sentimen yang akan mengegrakkan pasar hari ini, terutama dari dalam negeri.
Berikut sejumlah sentimen pasar hari Ini.
Keputusan Suku Bunga BI
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil keputusan suku bunga pada hari ini. Berdasarkan hasil polling yang dihimpun CNBC Indonesia, pandangan pasar menilai BI akan kembali memangkas suku bunga acuannya pada periode Oktober ini.
Berdasarkan hasil dari konsensus yang telah dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi pasar berekspektasi akan kembali menurunkan suku bunga ke level 4,50%.
Sebanyak sembilan lembaga memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga sementara empat institusi lainnya memproyeksikan BI akan menahan suku bunga.
Pada keputusan pemangkasan di bulan lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5 plus minus 1% dan stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya
.
Dalam RDG BI terakhir yakni pada 16-17 September 2025, BI kembali memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Suku bunga deposit facility bahkan dipangkas sebesar 50 bps menjadi 3,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps ke 5,50%.
Sepanjang 2025 ini, BI telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak lima kali. Suku bunga dipangkas masing-masing 25 bps pada Januari, Mei, dan Juli, Agustus, dan September, dari level 6,00% di Desember 2024 menjadi 4,75% saat ini.
BBM RI Dicampur 10% Etanol Tahun 2027
Pemerintah Indonesia tengah menyusun peta jalan untuk mengimplementasikan program mandatori pencampuran 10% etanol ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin, atau dikenal sebagai E10. Rencana yang telah mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto ini ditargetkan untuk mulai diterapkan pada tahun 2027 atau 2028, tergantung hasil kajian kesiapan infrastruktur.
Alasan utama di balik kebijakan ini adalah untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap impor minyak mentah. Selain itu, program ini bertujuan untuk memberdayakan perekonomian rakyat dan pertanian domestik, karena bahan baku etanol akan berasal dari sumber daya lokal seperti tebu, singkong, dan jagung.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menekankan bahwa kebijakan ini bersifat wajib (mandatori), bukan sukarela, dengan harapan tidak ada lahan pertanian yang menganggur karena semuanya akan memiliki nilai ekonomi.
Pemerintah juga menyoroti bahwa banyak negara lain telah sukses menerapkan kebijakan serupa. Nantinya, SPBU akan diberi keleluasaan untuk menerapkan E10 atau bahkan lebih, sesuai pengaturan aditif masing-masing badan usaha.
Pemerintah Setop Sementara Impor Besi Bekas
Pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara impor besi bekas (scrap metal), yang sebagian besar disebut berasal dari negara-negara maju seperti China dan Amerika Serikat (AS).
Langkah ini diambil sebagai antisipasi setelah temuan kontaminasi zat radioaktif cesium-137 (Cs-137) pada produk udang ekspor Indonesia.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa impor diduga menjadi salah satu sumber kontaminasi, meskipun penyelidikan oleh Bareskrim masih mendalami dua kemungkinan: apakah dari impor scrap besi baja atau dari kebocoran limbah komersial cesium di dalam negeri.
Penghentian impor ini akan berlaku sampai seluruh pelaku usaha atau importir memasang sistem Radiation Portal Monitoring (RPM) di pelabuhan. Alat ini wajib ada untuk mendeteksi zat berbahaya pada barang impor sebelum diizinkan masuk ke wilayah Indonesia.
Sementara itu, pemerintah juga tengah merelokasi warga yang tinggal di area terdampak paparan cesium (Titik E dan F) untuk memudahkan proses pembersihan atau dekontaminasi, yang ditargetkan selesai dalam satu bulan.
Pertamina-SPBU Swasta Sepakat Diskusi Pembelian BBM
PT Pertamina Patra Niaga (PPN) dan para pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta telah mencapai titik kesepakatan untuk melanjutkan negosiasi terkait mekanisme jual beli base fuel atau bahan bakar murni.
Proses diskusi ini melibatkan seluruh badan usaha swasta penyalur BBM. Meskipun kesepakatan untuk bernegosiasi terkait kebutuhan, teknis operasional, dan aspek komersial telah dicapai, pembahasan detail untuk menuangkannya dalam aspek teknis pelaksanaan saat ini masih sedang berlangsung (on progress).
Negosiasi ini menjadi krusial setelah sebelumnya muncul isu terkait spesifikasi BBM. Beberapa SPBU swasta sempat ragu untuk membeli dari Pertamina karena adanya kandungan etanol dalam produk yang ditawarkan, yang dinilai belum tentu sesuai dengan spesifikasi produk masing-masing merek.
Pihak SPBU swasta menyatakan bersedia melanjutkan negosiasi jika pada kargo selanjutnya konten bahan bakar disesuaikan dengan karakteristik spesifikasi produk mereka. Pertamina sendiri berkomitmen untuk menyediakan BBM tanpa etanol bagi SPBU swasta dan menekankan pentingnya sinergi ini untuk memperkuat layanan energi nasional.
Ancaman Kredit Macet dari Bankir Top Dunia
CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, yang sering dianggap sebagai bankir nomor satu di dunia, mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi "ledakan" kredit macet (NPL).
Dalam pandangannya, berakhirnya era suku bunga nol (ZIRP) dan transisi cepat ke suku bunga yang lebih tinggi (higher-for-longer), ditambah dengan inflasi yang masih sticky, menciptakan tekanan signifikan pada konsumen dan dunia usaha.
Dimon bahkan menyebut lingkungan saat ini sebagai salah satu yang "paling berbahaya" yang pernah ia saksikan, diperburuk oleh ketidakpastian geopolitik global seperti perang di Ukraina dan konflik Timur Tengah.
Meskipun bank-bank besar seperti JPMorgan masih mencatatkan laba yang kuat berkat margin bunga yang lebih tinggi, mereka telah mulai mengambil langkah antisipatif. JPMorgan tercatat telah meningkatkan dana pencadangan (provisi) untuk kerugian kredit menjadi $2,9 miliar pada kuartal ketiga. Ini adalah sinyal bahwa bank mengantisipasi peningkatan risiko gagal bayar di masa depan, terutama dari pinjaman kartu kredit dan sektor real estat komersial.
Harga Minyak Anjlok Dihantam Isu Kelebihan Pasokan
Sementara itu, di pasar komoditas, harga minyak mentah (baik Brent maupun WTI) bergerak merosot. Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar akan terjadinya kelebihan pasokan (oversupply).
Ada dua faktor utama yang menekan harga yaitu :
- Investor berspekulasi bahwa aliansi OPEC+ (terutama Arab Saudi dan Rusia) mungkin akan mulai melonggarkan pemangkasan produksi sukarela mereka yang dijadwalkan berakhir pada akhir tahun. Di saat yang sama, produksi minyak mentah AS terus bertahan di level rekor tertinggi, membanjiri pasar.
- Terdapat tanda-tanda pelemahan permintaan, terutama dari China sebagai importir minyak terbesar dunia dan AS sebagai konsumen terbesar.
Kombinasi dari ancaman melimpahnya pasokan dan melemahnya permintaan ini menekan harga minyak, mengabaikan premi risiko geopolitik yang sebelumnya sempat memanas.
Melemahnya harga minyak ini akan befdampak pada sejumlah emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA).
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini:
Berikut sejumlah agenda dan rilis data pada hari ini:
CNBC Indonesia Coffee Morning, dengan tema "Cukai Rokok Tidak Naik: Keputusan Tepat untuk Jaga Stabilitas dan Tenaga Kerja" yang akan diselenggarakan di The Glass Gallery Mega Kuningan, Jakarta Selatan
Konferensi pers Menteri Pertanian terkait satu tahun kinerja sektor pertanian Kabinet Merah Putih di Ruang SAS, Gedung A, kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan
Media briefing Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah di kantor Kementerian UMKM, Jakarta Selatan
Direktur Network and Retail Funding BTN menghadiri Prospera Padel Media Day di Athletiqs Airdome, Jakarta
Press Briefing Pre Event KTT ASEAN dan KTT APEC di Ruang Palapa, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat. Narasumber: Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN dan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika.
- Suku Bunga Bank Indonesia
- Core CPI Inggris
- Core PPI Inggris
- CPI Inggris
- PPI Inggris
- Cadangan Minyak Amerika
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini :
- Tanggal ex dividen tunai interim Formosa Ingredient Factory Tbk
- Tangga cum dividen tunai interim Plaza Indonesia Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Menkeu: "Yield" SBN rendah tunjukkan kepercayaan ke fondasi ekonomi RI
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang saat ini tercatat rendah menandakan kepercayaan ... [345] url asal
#menkeu #purbaya #sbn #imbal-hasil-sbn #yield-sbn #outstanding-sbn
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang saat ini tercatat rendah menandakan kepercayaan investor asing dan domestik terhadap fondasi ekonomi Indonesia ke depan.
“Yield-nya rendah kan berarti kita bagus. Orang lain percaya sama kita. Domestik sama asing,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin malam.
Ia menambahkan bahwa saat ini yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 5,9 persen. Angka ini disebut pasar merupakan level terendah dalam 20 tahun terakhir. Kondisi ini, menurut Purbaya, menjadi bukti bahwa pasar menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan prospektif.
“Kalau tidak ada kepercayaan, yield tidak mungkin bisa turun seperti ini,” kata Purbaya.
Sebagai informasi, imbal hasil SBN 10 tahun menunjukkan tren penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Merujuk rilis "Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah" dari Bank Indonesia, imbal hasil tercatat 5,94 persen pada Kamis (16/10).
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Note) 10 tahun berada di level 3,975 persen pada hari yang sama.
Selisih (spread) imbal hasil antara SBN dan US Treasury pun semakin menyempit, tercatat sebesar 1,97 persen atau 197 basis poin (bps).
Sejak awal tahun hingga 16 Oktober 2025, investor nonresiden tercatat melakukan beli neto sebesar Rp17,28 triliun di pasar SBN. Sebaliknya, pasar saham dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatatkan jual neto masing-masing sebesar Rp51,24 triliun dan Rp132,75 triliun.
Berdasarkan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI), total outstanding SBN tercatat sebesar Rp6.592 triliun per akhir September 2025, terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) Rp5.301 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp1.290 triliun.
Rincian SUN terdiri dari Obligasi Negara (SUN jangka panjang) sebesar Rp5.243 triliun dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN, jangka pendek) Rp58,7 triliun.
Berdasarkan kepemilikan, SUN mayoritas dipegang oleh bank swasta nasional Rp526 triliun, diikuti bank pemerintah/BUMN Rp316,5 triliun dan bank asing Rp74,9 triliun. Sementara pada SPN, kepemilikan terbesar adalah bank pemerintah Rp3,45 triliun dan bank asing Rp2,58 triliun.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia)
Foto: Menkeu RI Purbaya dan Menkes RI Budi Gunadi Sadikin membahas langkah memperkuat sistem jaminan kesehatan nasional, termasuk mengenai pengelolaan BPJS Kesehatan. (Instagram/MenkeuRI)