#30 tag 24jam
Wall Street Melemah Sehari Setelah Catatkan Kuartal Terbaiknya dalam Enam Tahun
Wall Street pada Rabu (1/7/2026) ditutup melemah, sehari setelah menutup kuartal kedua dan paruh pertama tahun ini dengan keuntungan luar biasa. [841] url asal
#wall-street #pasar-saham #the-fed #pasar-tenaga-kerja
(IDX-Channel - Market News) 02/07/26 06:59
v/265802/
IDXChannel - Wall Street pada Rabu (1/7/2026) ditutup melemah dalam sesi yang bergejolak, sehari setelah menutup kuartal kedua dan paruh pertama tahun ini dengan keuntungan yang luar biasa.
Saham dibuka dengan catatan negatif karena investor mencerna berbagai data pasar tenaga kerja dan komentar publik pertama dari Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh sejak perubahan haluan bank sentral yang agresif bulan lalu.
Suasana membaik tak lama setelah pembukaan setelah rilis data manufaktur AS dan karena Meta memperluas keuntungannya setelah laporan bahwa perusahaan induk Facebook tersebut berencana untuk memasuki pasar infrastruktur cloud. Saham kemudian berfluktuasi sepanjang hari dengan cara yang beragam sebelum kehilangan lebih banyak poin pada jam terakhir perdagangan.
Para pelaku pasar juga memperhatikan perundingan perdamaian yang tidak pasti antara Washington dan Teheran, dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa denuklirisasi Iran berjalan dengan baik.
Indeks acuan S&P 500 turun 0,2 persen menjadi 7.484,47 poin, sementara indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,7 persen menjadi 26.040,03 poin. Indeks Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham unggulan ditutup sedikit di bawah angka datar pada 52.306,22 poin.
"Saham-saham sedang beristirahat sejenak setelah kuartal kedua yang luar biasa. Ingat, bahkan sektor dan saham terpanas pun tidak selalu naik setiap hari, jadi kita melihat aksi ambil untung hari ini,” kata kepala strategi di Interactive Brokers, Steve Sosnick, kepada Investing.com.
“Perhatikan bahwa penjualan sebagian besar berfokus pada sektor teknologi, dengan NDX turun lebih dari 1 persen dan SOX turun lebih dari 6 persen. Selain itu, kita memiliki keseimbangan umum antara sektor yang menang dan kalah, dan saham yang naik lebih banyak daripada yang turun," sambungnya.
Sosnick melanjutkan, alasan lain untuk stabilitas di pasar modal yaitu rilis data pekerjaan pada Juni yang akan datang besok. Tidak banyak alasan bagi para pedagang untuk mengambil terlalu banyak risiko menjelang serangkaian statistik ekonomi yang besar dan akhir pekan yang panjang.
PHK Reda, Pertumbuhan Pekerjaan Swasta Melambat
Para pengamat kebijakan moneter minggu ini telah fokus pada sejumlah indikator pasar tenaga kerja AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang suku bunga. Pada Rabu, Challenger, Gray & Christmas melaporkan 45.849 pemutusan hubungan kerja di AS pada bulan Juni, turun 53 persen dari 97.006 PHK pada Mei dan menandai total bulanan terendah sejak Desember 2025.
Segera setelah itu, ADP mengatakan pemberi kerja swasta AS menambahkan 98 ribu pekerjaan pada bulan Juni, lebih rendah dari angka yang diharapkan sebesar 118 ribu dan angka 122 ribu pada bulan Mei.
Data Challenger dan ADP muncul sehari setelah data lowongan kerja AS yang kuat, yang melonjak ke level tertinggi dua tahun pada bulan Mei, dan sehari sebelum laporan penggajian non-pertanian Juni yang banyak dinantikan. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan lalu mengindikasikan bahwa mereka hanya fokus pada bagian inflasi dari mandat ganda mereka, karena pasar tenaga kerja secara keseluruhan tetap kuat.
"Kami memperkirakan penggajian non-pertanian tumbuh sekitar 85.000 pada bulan Juni karena lebih banyak konsumen melaporkan bahwa pekerjaan sulit didapatkan dan bisnis tidak menambah jumlah karyawan secepat tahun-tahun sebelumnya. Lebih lanjut, ketua FOMC Kevin Warsh kemungkinan akan tetap bersikap hawkish tetapi akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan 29 Juli," kata kepala ekonom di LPL Financial, Jeffrey Roach.
Meskipun indikator tenaga kerja pada Rabu menunjukkan hasil yang beragam, data dari Institute for Supply Management (ISM) lebih positif. Indeks manajer pembelian manufaktur utama ISM turun menjadi 53,3 pada Juni dari 54 pada Mei dan berada di bawah perkiraan konsensus 53,8, tetapi indikatornya yang mengukur perubahan bulanan dalam biaya bahan baku yang dibayarkan oleh produsen turun secara signifikan menjadi 73 pada Juni dari 82,1 pada Mei.
"Indeks (harga yang dibayarkan) mengalami penurunan terbesar dalam empat tahun, turun dari 82,1 pada Mei menjadi 73,0 pada Juni (di bawah konsensus 77,5). Penurunan tajam ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi (dorongan biaya) — meskipun masih signifikan — sedang mereda," kata mantan CEO PIMCO, Mohamed El-Erian,
Warsh berbicara di Sintra
Selain kalender ekonomi, para pengikut kebijakan moneter juga memperhatikan penampilan publik pertama Ketua The Fed Kevin Warsh di forum Bank Sentral Eropa (ECB) di Sintra, Portugal, sejak berbicara kepada wartawan pada konferensi pers pasca-keputusan suku bunga bulan lalu.
Warsh, pilihan Presiden Trump untuk menggantikan mantan Ketua Fed Jerome Powell, telah mengindikasikan bahwa ia dapat mengambil pendekatan yang berbeda terhadap panduan suku bunga ke depan dibandingkan pendahulunya, termasuk berpotensi menghapus sama sekali pemberian petunjuk kebijakan untuk pasar.
Dalam konferensi pers pasca-keputusan, Warsh telah menguraikan rencana untuk membentuk gugus tugas untuk meninjau bagaimana bank sentral mendekati segala hal mulai dari komunikasi hingga penilaian ekonomi.
Pada Rabu, Warsh kembali menolak untuk memberikan panduan ke depan tentang suku bunga, hanya mengatakan bahwa FOMC siap untuk "pertarungan keluarga yang baik" ketika bertemu lagi pada Juli.
"Risiko inflasi telah menurun," Warsh juga mencatat. Meskipun tekanan harga yang didorong oleh energi telah menjadi fokus utama para pejabat The Fed sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari, penandatanganan perjanjian internasional terkait kesepakatan damai sementara antara AS dan Teheran bulan lalu telah menyebabkan harga minyak kembali ke level sebelum konflik dan meredakan kekhawatiran inflasi.
(Febrina Ratna Iskana)
IHSG Rebound ke 5.695, Saham Energi Angkat Bursa Indonesia
IHSG hari ini ditutup menguat 0,92 persen pada perdagangan Rabu (1/7/2026), melanjutkan tren positif sejak awal sesi. [740] url asal
#bursa-asia #pasar-saham #ihsg-menguat #ihsg-hari-ini #ihsg-naik #bursa-efek-indonesia
(Kompas.com - Money) 01/07/26 17:00
v/265267/
JAKARTA, KOMPAS.com – IHSG hari ini ditutup menguat 0,92 persen pada perdagangan Rabu (1/7/2026), melanjutkan tren positif sejak awal sesi.
Penguatan IHSG hari ini ditopang oleh mayoritas sektor yang bergerak di zona hijau, meski pelemahan rupiah terhadap dollar AS masih membayangi sentimen pasar.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 51,92 poin atau 0,92 persen ke level 5.695,11.
Sejak pembukaan perdagangan, indeks konsisten berada di wilayah positif hingga penutupan.
Indeks LQ45 juga mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan kenaikan 0,66 persen ke level 556,75.
Aktivitas perdagangan di bursa saham Indonesia berlangsung cukup ramai. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 10,16 triliun dengan volume perdagangan sekitar 18,33 miliar saham yang berpindah tangan. Frekuensi transaksi tercatat sekitar 1,55 juta kali.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 378 saham menguat, 248 saham melemah, sedangkan 157 saham bergerak stagnan.
Saham-saham dengan nilai transaksi terbesar masih didominasi emiten berkapitalisasi besar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memimpin dengan nilai transaksi Rp 826,99 miliar disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 804,85 miliar.
Kemudian saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 700,51 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp 540,92 miliar, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) senilai Rp 537,08 miliar.
Sementara itu, dari sisi volume perdagangan, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi yang paling aktif dengan transaksi mencapai 20,73 juta lembar saham.
Posisi berikutnya ditempati PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI).
Di luar saham-saham berkapitalisasi besar, penguatan tertinggi atau top gainers dicatat oleh PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) yang melonjak 34,38 persen ke level 172.
Kenaikan juga terjadi pada saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM), PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI), PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF), serta PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI).
Sebaliknya, saham yang mengalami penurunan terdalam atau top losers dipimpin PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) yang merosot 14,92 persen.
Pelemahan juga dialami saham PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), PT Metropolitan Land Tbk (MTLA), PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY), dan PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY).
Pada kelompok saham unggulan LQ45, penguatan terbesar dibukukan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang naik 16,98 persen. Disusul PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang menguat 10,39 persen dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang naik 7,39 persen.
Sementara itu, pelemahan terdalam di indeks LQ45 dialami PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang turun 6,76 persen, PT United Tractors Tbk (UNTR) yang melemah 4,24 persen, serta PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang terkoreksi 2,78 persen.
Mayoritas Sektor Menguat
Penguatan IHSG ditopang oleh mayoritas sektor yang berakhir di zona hijau. Tercatat tujuh dari 11 indeks sektoral ditutup menguat.
Sektor energi menjadi penopang utama dengan kenaikan 2,61 persen. Selanjutnya, sektor barang baku menguat 2,60 persen, sedangkan sektor infrastruktur naik 1,38 persen.
Di sisi lain, empat sektor masih mengalami pelemahan. Penurunan terdalam terjadi pada sektor transportasi yang turun 0,91 persen.
Kemudian sektor keuangan terkoreksi 0,38 persen dan sektor barang konsumen non-siklikal juga melemah 0,38 persen.
Bursa Asia Bergerak Variatif
Pergerakan bursa saham Asia pada penutupan perdagangan berlangsung beragam sehingga mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global.
Berdasarkan data Yahoo Finance, indeks Shanghai Composite (SSE Composite) menguat 0,44 persen menjadi 4.112,45. Indeks Nikkei 225 Jepang juga naik 0,59 persen ke level 70.474,96.
Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,63 persen menjadi 22.881,02. Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,64 persen, sedangkan KOSPI Korea Selatan terkoreksi cukup dalam sebesar 2,04 persen. The Asia Dow juga ditutup turun 1,04 persen.
Pergerakan yang bervariasi di kawasan Asia tersebut menunjukkan sentimen investor regional masih cenderung berhati-hati meskipun sebagian pasar berhasil mencatatkan penguatan.
Di pasar valuta asing, rupiah terhadap dollar AS ditutup melemah pada perdagangan Rabu sore.
Nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.936,2 per dollar AS, atau turun 65,5 poin setara 0,37 persen dibandingkan posisi pembukaan di Rp 17.870,7 per dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Indeks MSCI World Melemah di Awal Kuartal III, Pasar Menanti Data Ekonomi AS
Pasar saham global melemah tipis di awal kuartal III. Investor menunggu data tenaga kerja AS, negosiasi Iran, dan arah suku bunga The Fed. [756] url asal
#pasar-saham #suku-bunga-the-fed #msci
(Kompas.com - Money) 01/07/26 15:33
v/265168/
KOMPAS.com – Pasar saham global memulai kuartal III 2026 dengan pergerakan hati-hati.
Investor memilih menunggu sejumlah sentimen penting, mulai dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), negosiasi AS dan Iran, hingga peluang intervensi Jepang setelah yen menyentuh level terlemah dalam 40 tahun.
Indeks saham dunia MSCI World turun 0,1 persen pada awal perdagangan di Eropa. Pelemahan terjadi setelah indeks tersebut membukukan kenaikan sekitar 13 persen sepanjang kuartal II.
Capaian itu menjadi yang terbaik dalam hampir enam tahun, ditopang reli saham teknologi dan produsen semikonduktor.
Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan di Timur Tengah. Iran pada Selasa (30/6/2026) menyatakan tidak akan bertemu dengan utusan utama AS yang telah tiba di kawasan tersebut.
Kedua negara masih memiliki perbedaan besar terkait kerangka kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ketidakpastian itu mendorong sebagian investor beralih ke obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik menjelang rilis data Non Farm Payroll (NFP) pada Kamis. Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Perhatian pasar juga tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam forum Bank Sentral Eropa.
Investor menunggu petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS, meski Warsh selama ini dikenal jarang memberikan panduan mengenai kebijakan ke depan.
Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka suku bunga, peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan akhir bulan diperkirakan sekitar 33 persen. Peluang kenaikan pada September berada di kisaran 67 persen hingga 88 persen.
Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 0,2 persen. Meski begitu, indeks tersebut masih bertahan setelah menguat sekitar 10 persen sepanjang kuartal II. Kinerja itu menjadi yang terbaik sejak akhir 2020.
Harga minyak yang turun setelah gencatan senjata Iran dan Israel membantu menopang pasar saham Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, investor masih meragukan apakah kondisi itu cukup untuk menggeser dominasi saham teknologi di AS dan Asia.
"Data PDB kuartal kedua tidak akan bagus. Tetapi jelas prospek pembukaan Selat Hormuz dan harga minyak yang lebih rendah merupakan faktor positif utama bagi Eropa," kata anggota Komite Investasi Carmignac Kevin Thozet.
"Saham-saham Eropa juga telah menjadi pendana perdagangan AI, jadi setiap pelemahan di sana diperkirakan akan menjadi pendorong relatif juga," lanjutnya.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang naik 0,6 persen setelah melonjak 37 persen sepanjang kuartal II. Penguatan didukung tingginya permintaan produk teknologi yang mengangkat optimisme produsen ke level tertinggi dalam delapan tahun. Aktivitas manufaktur Jepang juga mencatat kinerja kuartalan terbaik sejak 2014.
Sebaliknya, indeks utama Korea Selatan turun 2 persen setelah sebelumnya melonjak 68 persen sepanjang kuartal. Reli tersebut didorong euforia saham semikonduktor berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Booming industri chip juga mendorong ekspor Korea Selatan pada Juni menembus 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.795,5 triliun, dengan asumsi kurs Rp 17.955 per dollar AS. Nilai tersebut menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam hampir 50 tahun.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq masing masing turun sekitar 0,4 persen hingga 0,5 persen.
Investor kini menunggu musim laporan keuangan yang dimulai pada pertengahan Juli. Kinerja perusahaan teknologi dinilai menjadi faktor penting untuk mendukung valuasi saham yang sudah berada di level tinggi.
Goldman Sachs mencatat konsensus pasar memperkirakan laba per saham perusahaan tumbuh 22 persen dibandingkan tahun lalu. Sekitar 60 persen kenaikan laba diperkirakan berasal dari perusahaan pemasok infrastruktur AI.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,46 persen. Kenaikan tersebut meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap dan berpotensi membatasi penguatan pasar saham.
Penguatan imbal hasil obligasi juga mendorong dolar AS naik ke level 162,84 yen, tertinggi dalam empat dekade.
Pergerakan itu kembali memunculkan spekulasi intervensi pemerintah Jepang. Sebelumnya, Tokyo menghabiskan hampir 12 triliun yen atau sekitar 73,8 miliar dollar AS, setara Rp 1.325 triliun, untuk menopang mata uangnya pada April dan Mei, meski dampaknya dinilai terbatas.
Euro turun 0,2 persen menjadi 1,1398 dollar AS menjelang rilis data inflasi zona euro. Data tersebut diperkirakan menunjukkan tekanan harga terus mereda sehingga memperkuat ekspektasi Bank Sentral Eropa segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunga.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik tipis 0,1 persen menjadi 73,02 dollar AS atau sekitar Rp 1,31 juta per barel. Harga tersebut masih jauh di bawah puncak yang sempat dicapai pada Mei.
Harga emas turun 0,9 persen menjadi 3.970 dollar AS atau sekitar Rp 71,28 juta per ons, melanjutkan pelemahan yang terjadi sepanjang kuartal II.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,83 Persen ke Level 5.689
IHSG dibuka menguat pada perdagangan Rabu (1/7/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup anjlok lebih dari 3 persen. [470] url asal
#pasar-saham #ihsg-menguat #ihsg-hari-ini #ihsg-naik #bursa-efek-indonesia #ihsg-dibuka-menguat
(Kompas.com - Money) 01/07/26 09:13
v/264666/
JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (1/7/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup anjlok lebih dari 3 persen.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada awal perdagangan IHSG naik 46,68 poin atau 0,83 persen ke level 5.689,87.
Aktivitas perdagangan pada awal sesi mencatat volume transaksi mencapai 1,182 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 971,3 miliar. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 112.800 kali.
Sebanyak 339 saham menguat, 164 saham melemah, dan 456 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai Rp 9.984 triliun.
Meski dibuka di zona hijau, analis memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan hari ini.
Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, secara teknikal IHSG diperkirakan bergerak pada area support 5.619 dan resistance 5.722.
Menurut dia, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi Indonesia yang dijadwalkan pada Rabu. Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga masih menjadi perhatian investor.
"Untuk Rabu kami perkirakan akan ada rilis data inflasi Indonesia dan juga investor masih mengamati pergerakan nilai tukar rupiah. Untuk IHSG sendiri masih rawan koreksi dengan support 5.619 dan resist 5.722," ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam (30/6/2026).
Mayoritas Indeks Menguat
Sejalan dengan penguatan IHSG, mayoritas indeks utama di BEI juga bergerak di zona hijau pada awal perdagangan.
Indeks LQ45 naik 5,50 poin atau 0,99 persen ke level 558,61. Indeks Kompas100 menguat 6,82 poin atau 0,94 persen menjadi 734,73, sedangkan IDX30 naik 2,75 poin atau 0,88 persen ke level 317,02.
Sementara itu, Jakarta Islamic Index (JII) naik tipis 0,15 poin atau 0,05 persen ke posisi 331,30. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) juga menguat 0,94 poin atau 0,48 persen menjadi 197,53.
Dok. Bursa Efek Indonesia (BEI) Bursa Efek Indonesia (BEI).Bursa Asia Bergerak Variatif
Pergerakan pasar saham Indonesia berlangsung di tengah kinerja bursa Asia yang bervariasi.
Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 358,46 poin atau 0,51 persen ke level 70.420,78. Indeks Shanghai Composite (SSE Composite) China juga naik 9,53 poin atau 0,23 persen menjadi 4.103,92.
Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong turun 145,66 poin atau 0,63 persen ke posisi 22.881,02. Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 32,70 poin atau 0,37 persen menjadi 8.746,00.
Pelemahan terdalam terjadi pada indeks Kospi Korea Selatan yang turun 172,78 poin atau 2,04 persen ke level 8.303,70. Sementara itu, The Asia Dow berbasis dollar AS terkoreksi 66,05 poin atau 1,04 persen menjadi 6.311,60.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangWaspada Kinerja Emiten Melambat di Akhir 2026, Mirae Asset Beri Sinyal
Mirae Asset memprediksi perlambatan kinerja emiten di semester II/2026 akibat rupiah melemah dan suku bunga tinggi, mempengaruhi IHSG dan pasar SBN. [324] url asal
#mirae-asset #kinerja-fundamental #emiten-melambat #semester-ii-2026 #rupiah-lesu #perlambatan-ekonomi #suku-bunga-tinggi #target-ihsg #pasar-saham #melemahnya-rupiah #pasar-sbn #inverted-yield-curve
(Bisnis.Com - Market) 30/06/26 16:39
v/263977/
Bisnis.com, JAKARTA – Mirae Asset Sekuritas memprediksi bakal terjadi perlambatan kinerja earnings emiten pada paruh kedua 2026. Kondisi rupiah yang lesu, telah membuat potensi perlambatan ekonomi semakin nyata ke depan.
Head of Research/Chief Economist of PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, menilai kondisi melambatnya kinerja fundamental perusahaan telah terjadi sejak triwulan kedua 2026.
Pasalnya, sebagian besar pengeluaran pemerintah dan masyarakat telah terlaksana pada momentum Lebaran 2026 yang jatuh pada kuartal I. Memasuki paruh kedua 2026, perlambatan kinerja emiten diprediksi terjadi lantaran suku bunga yang tinggi pada periode ini.
”Secara seasonal mungkin sudah enggak ada. Terus yang coba ditopang oleh pemerintah melalui stimulus, ini kan lebih ditargetkan ke masyarakat bawah untuk menopang aja sebenarnya. Cuma untuk impact ke ekonomi untuk bisa rebound, saya kira agak susah,” katanya saat ditemui di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Melihat kondisi itu, Mirae Asset berencana merevisi turun target Indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga akhir 2026. Saat ini pihaknya masih melakukan kajian mengenai target anyar IHSG.
”Target sudah kami review. Sebagian besar [sentimen] memang sudah priced in, kenaikan suku bunga, kemudian potensi slow down, potensi adanya earnings yang akan melambat dari sisi emiten,” katanya.
Selain terhadap pasar saham, melemahnya rupiah juga dinilai menjadi penghambat terbesar laju pasar SBN RI. Bahkan, fenomena inverted yield curve yang belakangan sempat menghantui pasar SBN, berisiko kembali terjadi jika rupiah bergerak di dekat level Rp18.000 per dolar AS.
Rully menilai, investor saat ini masih mencermati sejumlah faktor domestik, mulai dari stabilitas nilai tukar rupiah, kondisi fiskal, hingga meningkatnya perhatian terhadap potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal I 2026.
”Tapi rembetannya ke mana-mana. Rupiah melemah, terus suku bunga naik, ekonomi melambat, dan ekspektasi kinerja perusahaan kita memburuk,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
Sebagai bagian dari mitigasi ancaman siber di sektor finansial, khususnya pasar bursa atau efek, ADIGSI menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan... | Halaman Lengkap [500] url asal
#keamanan-siber #serangan-siber #ancaman-siber #pasar-saham
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/06/26 22:58
v/263188/
JAKARTA - Bagian dari mitigasi ancaman siber di sektor finansial, khususnya pasar bursa atau efek, Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI). Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto mengingatkan, ancaman kejahatan siber yang terus berkembang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.Berdasarkan laporan, proyeksi kerugian global akibat serangan siber mencapai sekitar USD10,5 triliun per tahun pada tahun 2025. "Ini peningkatan yang mengejutkan dari USD3 triliun pada tahun 2015," terang Firlie saat berbicara di Capital Market Cyber Resilience Forum, di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Firlie mengungkapkan, sebagian besar kerugian ini berasal dari ransomware dan pelanggaran data, dengan sektor jasa keuangan, perawatan kesehatan, dan manufaktur menjadi yang paling terdampak. Akibatnya, selain kerugian finansial, sektor-sektor ini juga menghadapi pengeluaran pemulihan sistem dan pertanggungjawaban hukum.
ADIGSI Bersama Kedubes Inggris Perkuat Keamanan Siber
"Tentu itu belum termasuk juga kerusakan reputasi dari sebuah brand yang tentu berkaitan dengan perlindungan data nasabah atau konsumen," urainya.
Ia mengungkapkan, kerja sama ini bersifat strategis mengingat peran penting pasar bursa dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Di saat yang sama, ADIGSi sebagai ekosistem keamanan siber nasinal baru saja menjalin kemitraan dengan CREST International dan menetapkan standar global di bidang ini.
"Keamanan siber tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab fungsi teknologi informasi, tapi bagian dari tata kelola, manajemen risiko, keberlangsungan usaha, perlindungan konsumen, dan reputasi perusahaan yang tentu berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi," kata Firlie.
Melalui kolaborasi ini, ADIGSI akan menyiapkan Executive Cyber Resilience Assessment Program sebagai langkah awal bagi perusahaan efek untuk mengukur kesiapan sibernya. Termasuk menyediakan konseling bagi perusahaan efek untuk memperkuat keamanan sibernya serta kolaborasi pembentukan Computer Security Incident Response Team (CSIRT) atau tim khusus yang untuk mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan sistem dari insiden serangan siber di pasar bursa.
"Ini akan menjadi referensi praktis yang dapat digunakan oleh perusahaan efek untuk melakukan evaluasi awal terhadap kesiapan dan ketahanan siber masing-masing," tutur Firlie.
Sementara Ketua APEI, Prama Nugraha menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, di tengah meningkatnya aksesibilitas, efisiensi, dan kualitas layanan perusahaan efek melalui digitalisasi, terdapat perluasan eksposur risiko siber.
Menjaga Keamanan Data dari Ancaman Kejahatan Siber
Ancaman seperti phishing, social engineering, account takeover, ransomware, kebocoran data, serangan terhadap aplikasi dan API, penyalahgunaan akses internal, serta gangguan pada penyedia teknologi pihak ketiga dapat berdampak langsung terhadap operasional perusahaan.
"Di sinilah konteks perlindungan aset dan data nasabah, serta kepercayaan investor menjadi begitu penting," terangnya.
Nugraha berharap, penandatanganan Nota Kesepahaman antara APEI dan ADIGSI bisa menjadi landasan kolaborasi dalam penguatan kapasitas, peningkatan kesiapan, serta pembangunan ketahanan siber industri pasar modal Indonesia. "Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini, karena bagi kami kepercayaan nasabah begitu penting," tutupnya.
Sebagai informasi Capital Market Cyber Resilience Forum mengusung tema "Strengthening Trust and Security in the Digital Capital Market”. Kegiatan yang digelar ADIGSI dan APEI ini dirancang sebagai forum eksekutif dan pembelajaran praktis untuk memperkuat pemahaman serta kesiapan perusahaan efek dalam menghadapi risiko siber.
Selain sesi diskusi strategis, kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia (BEI), serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
IHSG Hari Ini Ditutup Melemah 1,28 Persen ke Level 5.820
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini kembali berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (29/6/2026). [647] url asal
#bursa-asia #pasar-saham #ihsg-melemah #ihsg-hari-ini #ihsg-turun #ihsg-ditutup-melemah #bursa-efek-indonesia
(Kompas.com - Money) 29/06/26 16:59
v/262712/
JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini kembali berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (29/6/2026).
IHSG ditutup melemah 75,344 poin atau 1,28 persen ke level 5.820,790, melanjutkan tren pelemahan setelah terkoreksi pada akhir pekan lalu.
Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar ikut mengalami penurunan sebesar 10,714 poin atau 1,84 persen ke posisi 573,007.
Pergerakan bursa saham Indonesia sepanjang hari dibayangi tekanan jual di hampir seluruh sektor. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 214 saham menguat, 449 saham melemah, dan 149 saham tidak mengalami perubahan.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 1.219.206 kali dengan volume perdagangan sekitar 14,309 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 8,082 triliun.
Sejumlah saham juga mencatat penurunan tajam pada perdagangan hari ini. Saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Tbk (BBRM) memimpin daftar top losers setelah turun 14,84 persen ke level 109.
Di belakangnya terdapat PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) yang terkoreksi 14,71 persen menjadi 145, PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS) yang melemah 11,48 persen ke 54, serta PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) yang turun 9,22 persen ke posisi 640.
Pada kelompok saham LQ45, tekanan jual terbesar dialami PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang merosot 8,06 persen menjadi Rp 570 per saham.
Kemudian disusul PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang turun 6,25 persen ke Rp 1.425 dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melemah 4,10 persen menjadi Rp 1.405 per saham.
Di sisi lain, beberapa saham LQ45 masih mampu menguat. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menjadi top gainer setelah naik 2,31 persen ke Rp 1.770 per saham.
Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menguat 2,25 persen menjadi Rp 1.135, sedangkan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) naik 1,71 persen ke Rp 1.490 per saham.
Mayoritas Sektor Melemah
Pelemahan IHSG hari ini dipicu oleh koreksi di hampir seluruh indeks sektoral.
Sektor infrastruktur menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 1,58 persen.
Tekanan juga terjadi pada sektor barang baku yang turun 1,42 persen, disusul sektor keuangan sebesar 1,14 persen, transportasi 0,90 persen, barang konsumer nonprimer 0,80 persen, dan barang konsumer primer 0,75 persen.
Sektor energi turut melemah 0,48 persen, kesehatan turun 0,37 persen, teknologi terkoreksi 0,35 persen, sementara sektor perindustrian turun 0,31 persen.
Di tengah dominasi pelemahan tersebut, sektor properti dan real estat menjadi satu-satunya sektor yang berhasil bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,71 persen.
Bursa Asia Bergerak Variatif
Meski bursa saham Indonesia ditutup melemah, mayoritas pasar saham Asia justru menunjukkan penguatan pada perdagangan Senin.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik 107,203 poin atau 0,15 persen menjadi 69.468,101. Indeks Hang Seng Hong Kong mencatat kenaikan paling besar, yakni 354,820 poin atau 1,57 persen ke level 23.026,679.
Sementara itu, indeks SSE Composite China menguat 46,629 poin atau 1,16 persen menjadi 4.073,899. Di Singapura, indeks Straits Times bertambah 10,899 poin atau 0,21 persen ke posisi 5.202,629.
Pergerakan bursa regional yang cenderung positif tersebut belum mampu mengangkat sentimen di pasar saham domestik sehingga IHSG tetap berakhir di wilayah negatif.
Rupiah Tertekan Sentimen Inflasi
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS justru menunjukkan penguatan pada perdagangan sore ini.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah menguat 71 poin atau 0,40 persen ke level Rp 17.851 per dollar AS.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen yang dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah ke depan, termasuk potensi tekanan inflasi serta dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terhadap ekspektasi pasar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangOptimisme Direksi Baru BEI Incar RNTH Rp31 Triliun pada 2030
BEI menargetkan RNTH Rp31 triliun dan kapitalisasi pasar Rp30.000 triliun pada 2030, dengan 1.100 IPO dan 35 juta investor, guna menarik investor asing. [402] url asal
#bei #bursa-efek-indonesia #rnth #pasar-saham #kapitalisasi-pasar #investor-asing #investor-domestik #ihsg #net-sell #foreign-capital-outflow #investor-global #reformasi-pasar-saham #target-bei-2030
(Bisnis.Com - Market) 29/06/26 15:06
v/262615/
Bisnis.com, JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) menjadi Rp31 triliun pada 2030. Realisasi itu melesat 71,27% dari realisasi RNTH pada 2025 yang senilai Rp18,1 triliun.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pihaknya telah menetapkan target kinerja pasar saham jangka panjang hingga 2030. Adapun, RNTH dibidik mencapai Rp31 triliun dan kapitalisasi pasar ditargetkan mencapai Rp30.000 triliun pada 2030.
Selanjutnya, jajaran direksi BEI 2026-2030 juga mengincar target perusahaan tercatat lewat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) menjadi lebih dari 1.100 perusahaan pada 2030, dengan jumlah investor pasar modal mencapai 35 juta serta rasio market cap terhadap PDB nasional di atas 83%.
"Dan apa yang sedang kita lakukan tentu untuk menarik lebih banyak lagi investor asing. Dari situ pasar kita akan semakin dalam, dan kita berharap kontribusinya terhadap perekonomian akan lebih nyata," kata Jeffrey dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 di kantor BEI, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Berdasarkan data BEI per 26 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah jeblos 31,81% secara year-to-date ke level 5.896,13. Adapun, keruntuhan IHSG disebabkan oleh dana asing yang keluar (foreign capital outflow) dengan nilai jumbo mencapai Rp71,68 triliun.
Jeffrey mengakui saat ini daya investor domestik belum mampu menyeimbangi net sell dari investor asing tersebut. Kendati bila dibedah berdasarkan komposisi nilai transaksinya, investor domestik sudah mendominasi sebesar 64%. Sedangkan, investor asing mengambil porsi minor dengan persentase 36% terhadap total nilai transaksi sepanjang tahun.
"Oleh karena itu reformasi yang kita lakukan saat ini adalah untuk menumbuhkan kembali confidence dari investor global untuk kembali masuk ke Indonesia. Itu yang harus kita lakukan," tegas Jeffrey.
Dengan demikian, BEI menegaskan upayanya untuk mengembalikan kepercayaan investor asing ke pasar saham RI. Dengan kekuatan investor global dan domestik, diharapkan pasar modal Tanah Air akan semakin dalam dan target-target yang ditetapkan bisa tercapai.
Adapun, realisasi kapitalisasi pasar pada 2025 masih berada di angka Rp15.849 triliun dengan RNTH saham di level Rp18,1 triliun. Sementara itu, jumlah perusahaan tercatat per akhir 2025 sebanyak 956, dengan jumlah investor pasar modal mencapai 20,3 juta. Rasio market cap per akhir 2025 mencapai angka 66,5% dari PDB nasional.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bedah Prospek Emiten IPO: RANS, EMMI, JELI hingga PRDL
Enam perusahaan siap IPO di tengah tekanan pasar saham 2026, menawarkan valuasi menarik dan prospek pertumbuhan. RANS, EMMI, JELI, dan PRDL jadi sorotan. [770] url asal
#ipo-2026 #emiten-ipo #pasar-saham #rans-entertainment #bach-multi-global #nitrasanata-dharma #esa-medika-mandiri #prodia-diagnostic-line #niramas-utama #ihsg-melemah #net-sell-investor #valuasi-emiten
(Bisnis.Com - Market) 29/06/26 10:47
v/262501/
Bisnis.com, JAKARTA – Gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) kembali ramai menjelang paruh kedua 2026. Di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham, enam perusahaan bersiap menguji minat investor sekaligus membuktikan daya tarik fundamental bisnis mereka.
Enam calon emiten tersebut adalah PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. (RANS), PT Bach Multi Global Tbk. (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk. (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL), serta PT Niramas Utama Tbk. (JELI).
Gelombang IPO tersebut berlangsung ketika pasar saham domestik masih berada dalam tekanan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat melemah 31,81% secara year-to-date (YtD) ke level 5.896,14 hingga penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026).
Pelemahan IHSG juga diiringi aksi jual bersih (net sell) investor asing yang secara agregat mencapai Rp71,68 triliun. Dalam kondisi seperti ini, keberhasilan IPO akan sangat ditentukan oleh kemampuan emiten menawarkan valuasi yang menarik dan prospek pertumbuhan yang meyakinkan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai antrean IPO saat ini memang bertepatan dengan tingginya BI Rate. Kondisi tersebut membuat biaya dana (cost of fund) dari sektor perbankan meningkat sehingga bunga kredit modal kerja maupun investasi menjadi lebih mahal.
Di sisi lain, melalui pasar modal perusahaan dapat menghimpun dana segar tanpa dibebani pembayaran bunga secara berkala maupun kewajiban pelunasan pokok utang sebagaimana pinjaman bank atau penerbitan obligasi. Karena itu, IPO dinilai menjadi alternatif restrukturisasi permodalan yang lebih sehat untuk menjaga likuiditas perusahaan.
“Pendanaan lewat IPO di sisa akhir tahun ini sangat menarik dari sisi kebutuhan emiten, tetapi proses eksekusinya akan menuntut kompromi besar pada penentuan harga perdana agar bisa memikat likuiditas investor yang sedang selektif,” jelas Nafan, dikutip Minggu (28/6/2026).
Menurut Nafan, investor tetap perlu bersikap selektif dengan mempertimbangkan kombinasi valuasi, profitabilitas, sponsor atau ultimate beneficial owner (UBO), penggunaan dana IPO, hingga risiko likuiditas setelah saham tercatat di Bursa.
Dalam penilaiannya, PRDL menjadi salah satu emiten yang menarik dari sisi valuasi. Emiten yang didukung Grup Prodia tersebut diperdagangkan pada kisaran price to earnings ratio (PER) 10,3–12,3 kali dengan price to book value (PBV) pasca-IPO sekitar 1,2–1,4 kali.
“Kalau BACH mencatat ROE tertinggi 28,9% dan didukung Grup Djarum, dengan potensi market cap sekitar Rp2,04 triliun,” jelas Nafan.
Sementara itu, JECX memiliki keunggulan berupa dukungan Grup Emtek serta potensi kapitalisasi pasar terbesar di antara calon emiten IPO lainnya, yakni sekitar Rp4,55 triliun. Namun, valuasinya juga menjadi yang paling premium dengan PER sekitar 52,9–61,8 kali.
Untuk RANS, Nafan menilai perusahaan memiliki keunggulan dari sisi brand awareness, mencatat return on assets (ROA) tertinggi sebesar 13,2%, serta debt to equity ratio (DER) terendah di antara para calon emiten IPO, yakni 0,35 kali.
“JELI dan EMMI sama-sama mencatat ROE solid masing-masing 27,0% dan 25,2%, namun valuasi yang premium dan leverage keduanya relatif lebih tinggi,” terang Nafan.
Growth Story
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai EMMI dan PRDL merupakan dua calon emiten yang memiliki growth story paling solid. Menurutnya, kedua perusahaan di sektor kesehatan tersebut masih ditopang oleh ekspansi bisnis diagnostik dan peluang penetrasi pasar yang luas.
Selain itu, Abida menilai RANS memiliki keunggulan sebagai emiten ekonomi kreatif dengan tingkat brand recognition yang tinggi. Namun, model bisnis berbasis konten masih memerlukan pembuktian mengenai keberlanjutan pertumbuhan usahanya.
Di sisi lain, JELI sebagai emiten sektor konsumer dinilai memiliki basis permintaan yang relatif stabil sehingga dapat menopang prospek pertumbuhan jangka panjang.
Dalam menilai penggunaan dana IPO, Abida menjelaskan bahwa alokasi dana untuk melunasi utang tidak serta-merta mengurangi daya tarik suatu emiten, selama langkah tersebut dibarengi dengan rencana ekspansi bisnis yang jelas.
Menurutnya, pelunasan utang pada periode suku bunga tinggi justru dapat memperkuat struktur neraca dan meningkatkan profitabilitas perusahaan pada masa mendatang. Yang perlu dicermati investor adalah proporsi penggunaan dana antara deleveraging dan investasi untuk pertumbuhan sebagai indikator kualitas growth story perusahaan.
Secara keseluruhan, Abida menilai momentum IPO pada semester kedua 2026 berpotensi membaik seiring meredanya tensi geopolitik, meningkatnya kepastian pasca-evaluasi MSCI, serta peluang rebound IHSG yang dapat membuka window of opportunity lebih kondusif bagi emiten baru.
“Antrean IPO yang mulai ramai adalah sinyal pemulihan kepercayaan pasar modal dengan kualitas emiten sebagai penentu keberlanjutan momentum,” jelas Abida.
Gelombang IPO pada sisa tahun ini juga dinilai mendapat dukungan dari tingginya tingkat suku bunga. Menurutnya, IPO justru menjadi alternatif pendanaan yang lebih menarik di tengah BI Rate sebesar 5,75% karena tidak menambah beban bunga sebagaimana pinjaman bank.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
IHSG Hari Ini Melemah 0,61 Persen ke 5.860, Saham Turun Dominasi Pasar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berbalik melemah pada perdagangan Senin (29/6/2026), setelah sempat dibuka di zona hijau [577] url asal
#pasar-saham #ihsg-melemah #ihsg-hari-ini #ihsg-turun #bursa-efek-indonesia
(Kompas.com - Money) 29/06/26 09:48
v/262439/
JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berbalik melemah pada perdagangan Senin (29/6/2026), setelah sempat dibuka di zona hijau pada awal sesi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.42 WIB, IHSG turun 35,87 poin atau 0,61 persen ke level 5.860,26.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka menguat 41,90 poin atau 0,71 persen ke level 5.938,03. Bahkan pada sesi preopening, indeks masih mencatat kenaikan 35,90 poin atau 0,61 persen ke posisi 5.932,03.
Namun, tekanan jual membuat indeks berbalik ke zona merah. IHSG bergerak di kisaran 5.855,99 hingga 5.942,77.
Aktivitas perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 3,20 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 1,96 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 310.800 kali.
Sentimen negatif juga tercermin dari komposisi saham yang diperdagangkan. Sebanyak 240 saham menguat, 357 saham melemah, dan 362 saham bergerak stagnan, menandakan tekanan jual masih mendominasi pasar saham Indonesia.
Mayoritas Sektor Melemah
Pada perdagangan pagi, tekanan terjadi di sebagian besar sektor saham. Sebelumnya, lima indeks sektoral sempat bergerak menguat, sementara enam sektor berada di zona merah.
Sektor energi menjadi salah satu yang sempat mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,34 persen, disusul sektor keuangan sebesar 0,30 persen dan sektor kesehatan 0,06 persen.
Sebaliknya, pelemahan terdalam terjadi pada sektor transportasi yang turun 0,81 persen. Sektor barang konsumen nonprimer terkoreksi 0,30 persen, sedangkan sektor infrastruktur melemah 0,20 persen.
Di kelompok saham unggulan LQ45, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sempat menjadi top gainers dengan kenaikan masing-masing 1,86 persen. Sementara PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 1,42 persen.
Adapun saham yang mengalami penurunan terbesar di indeks LQ45 adalah PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang merosot 5,45 persen. Disusul PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang turun 4,61 persen dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang melemah 3,54 persen.
Bursa Asia Bergerak Variatif
Pergerakan bursa saham Indonesia berlangsung di tengah kinerja bursa Asia yang cenderung beragam.
Indeks Hang Seng Hong Kong menjadi salah satu yang menguat dengan kenaikan 149,30 poin atau 0,66 persen ke level 22.821,16.
Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang turun 388,50 poin atau 0,56 persen ke posisi 68.972,40. Indeks Shanghai Composite (SSE Composite) China juga melemah 10,50 poin atau 0,26 persen menjadi 4.016,77.
Sementara itu, indeks Straits Times Singapura turun 7,58 poin atau 0,15 persen ke level 5.184,15.
Pergerakan bursa regional yang cenderung variatif turut memengaruhi sentimen pelaku pasar di dalam negeri sehingga IHSG gagal mempertahankan penguatan pada awal perdagangan.
Rupiah terhadap Dollar AS
Di pasar valuta asing, rupiah terhadap dollar AS justru memulai perdagangan dengan penguatan.
Mengutip data Bloomberg, pada pukul 09.00 WIB nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.922 per dollar AS, menguat 21 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen domestik, termasuk potensi kenaikan inflasi setelah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Faktor tersebut dinilai berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah maupun pasar saham dalam perdagangan selanjutnya.
Seiring berjalannya sesi perdagangan, investor juga akan terus memantau perkembangan sentimen global dan regional yang berpotensi menentukan arah IHSG hari ini hingga penutupan pasar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saham SpaceX Anjlok 17 Persen, Langkah Tambah Utang Jadi Sorotan
Saham SpaceX ditutup melemah 17,2 persen pada pekan penuh pertamanya sebagai perusahaan publik. [620] url asal
#elon-musk #kapitalisasi-pasar #saham-as #pasar-saham #ipo-spacex #saham-spacex
(Kompas.com - Money) 27/06/26 09:37
v/261389/
KOMPAS.com – Saham SpaceX ditutup melemah 17,2 persen pada pekan penuh pertamanya sebagai perusahaan publik.
Penurunan tersebut menyeret kapitalisasi pasar SpaceX kembali mendekati 2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 35.720 triliun (asumsi kurs Rp 17.860 per dollar AS).
Nilai tersebut turun dari posisi puncaknya yang sempat melampaui 2,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp 44.650 triliun pada hari-hari awal perdagangan.
Dilansir dari Yahoo Finance, Sabtu (27/6/2026), pelemahan ini memperpanjang debut yang kurang mulus bagi salah satu perusahaan dengan penawaran umum perdana (IPO) yang paling dinantikan investor dalam beberapa tahun terakhir.
Pada level saat ini, harga saham SpaceX mendekati harga IPO sebesar 135 dollar AS per saham dan telah turun di bawah level pembukaan 150 dollar AS per saham.
Bagi pelaku pasar, level tersebut merupakan batas psikologis yang penting sekaligus mengingatkan pada sejumlah IPO besar lain yang pada akhirnya diperdagangkan di bawah harga penawaran.
Penawaran obligasi jumbo jadi sorotan
Di tengah tekanan terhadap harga saham, SpaceX pada Selasa lalu menetapkan harga penawaran obligasi senilai 25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 446,5 triliun.
Penawaran itu disambut antusias investor dengan nilai pemesanan mencapai hampir 90 miliar dollar AS. Besarnya minat tersebut mendorong perusahaan menaikkan nilai penerbitan obligasi dari target awal 20 miliar dollar AS.
Di satu sisi, tingginya permintaan mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek SpaceX. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan mengapa perusahaan masih membutuhkan tambahan utang dalam jumlah besar setelah berhasil menghimpun dana besar melalui IPO.
Menurut laporan Bloomberg, obligasi SpaceX justru mencatat kerugian di pasar sekunder sejak mulai diperdagangkan.
Nilai kerugian di atas kertas (paper losses) diperkirakan telah mencapai sekitar 305 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,45 triliun dibandingkan obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasurys) yang menjadi acuan.
Paper losses merupakan penurunan nilai investasi yang belum direalisasikan karena surat utang tersebut belum dijual.
Muncul kekhawatiran valuasi terlalu tinggi
Sebagian pelaku pasar di Wall Street menilai aksi penghimpunan dana melalui IPO dan penerbitan obligasi dalam waktu berdekatan merupakan sinyal yang perlu dicermati.
Pandangan pesimistis menyebut SpaceX tengah berupaya mengumpulkan dana sebanyak mungkin selama kondisi pasar masih kondusif.
Langkah tersebut juga dinilai sebagai pertanda bahwa reli saham perusahaan antariksa dan kecerdasan buatan (AI), yang telah menciptakan kekayaan di atas kertas hingga triliunan dollar AS selama setahun terakhir, mulai memasuki fase jenuh.
Dalam FT Global Insurance Summit, Chief Investment Officer Allianz, Ludovic Subran, mengatakan transaksi pendanaan SpaceX menunjukkan pasar mulai bergeser "dari ledakan pertumbuhan yang sudah terlalu tinggi menuju wilayah gelembung."
OpenAI dikabarkan menunda IPO
Perubahan sentimen pasar juga disebut berdampak pada perusahaan AI.
Menurut laporan Bloomberg, OpenAI dikabarkan memperlambat rencana IPO yang telah lama dinantikan investor.
Langkah tersebut ditafsirkan sebagai sinyal bahwa euforia terhadap perusahaan AI mulai mereda seiring meningkatnya biaya operasional dan melambatnya pertumbuhan arus kas.
Ist Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, akan mulai diperdagangkan di bursa Nasdaq, New York City, AS pada Jumat (12/6/2026) waktu setempat, dengan kode saham SPCX. SpaceX bidik bisnis layanan seluler
Di tengah tantangan tersebut, Financial Times melaporkan SpaceX sedang mempertimbangkan ekspansi ke bisnis layanan seluler untuk konsumen.
Perusahaan disebut mengeksplorasi layanan nirkabel berbasis Starlink yang memungkinkan pelanggan membeli paket seluler langsung dari SpaceX sehingga dapat bersaing dengan operator telekomunikasi yang telah lebih dulu beroperasi.
Rencana tersebut akan memperkuat ambisi Starlink mengembangkan teknologi direct-to-cell, yakni layanan yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa bergantung pada menara seluler konvensional.
Apabila terealisasi, layanan itu diharapkan menjadi sumber pendapatan berulang (recurring revenue) bagi SpaceX.
Pendapatan yang lebih stabil dinilai penting untuk mempertahankan valuasi perusahaan yang masih berada di kisaran 2 triliun dollar AS sekaligus mendukung target pertumbuhan jangka panjangnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Hari Ini Ditutup Melemah 1,72 Persen ke 5.896, Bursa Asia Merah
IHSG hari ini ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (26/6/2026). [757] url asal
#pasar-saham #ihsg-melemah #ihsg-hari-ini #ihsg-turun #ihsg-ditutup-melemah #bursa-efek-indonesia
(Kompas.com - Money) 26/06/26 16:31
v/260866/
JAKARTA, KOMPAS.com – IHSG hari ini ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 5.896,134 atau turun 102,903 poin setara 1,72 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Tekanan jual terjadi hampir sepanjang perdagangan sehingga bursa saham Indonesia mengakhiri pekan di zona merah. Dalam sepekan, IHSG telah terkoreksi sekitar 4,55 persen di tengah sentimen negatif yang juga membayangi mayoritas bursa saham Asia.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 5.830,144 hingga 6.045,258 setelah dibuka pada level 6.010,339. Posisi penutupan berada tidak jauh dari area terendah harian, mencerminkan tekanan jual yang masih mendominasi hingga akhir sesi.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat volume perdagangan mencapai 20,772 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp 12,677 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 1,539 juta kali, sementara kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 10.324,836 triliun.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 562 saham ditutup melemah, 123 saham menguat, dan 129 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Mayoritas Sektor Melemah
Pelemahan IHSG hari ini dipicu oleh penurunan hampir seluruh sektor saham.
Sektor barang baku menjadi penekan terbesar setelah anjlok 5,00 persen. Selanjutnya, sektor perindustrian turun 4,23 persen, diikuti sektor barang konsumer nonprimer yang terkoreksi 2,96 persen.
Sektor energi juga melemah 2,62 persen, sedangkan sektor teknologi turun 2,51 persen. Tekanan berlanjut pada sektor transportasi yang turun 2,41 persen serta sektor infrastruktur yang melemah 2,40 persen.
Sementara itu, sektor properti dan real estat terkoreksi 1,94 persen. Pelemahan juga terjadi pada sektor barang konsumer primer sebesar 1,26 persen dan sektor kesehatan sebesar 0,82 persen.
Di tengah dominasi sentimen negatif tersebut, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang masih mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03 persen.
Pada kelompok saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45, saham-saham berbasis komoditas menjadi pemberat utama indeks.
Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi saham dengan penurunan terbesar setelah merosot 9,60 persen ke level Rp 565 per saham.
Posisi berikutnya ditempati saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun 7,28 persen menjadi Rp 1.465 per saham, disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang terkoreksi 7,24 persen ke level Rp 2.690 per saham.
Di sisi lain, beberapa saham perbankan masih mampu menopang indeks. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi top gainer LQ45 dengan kenaikan 2,49 persen ke Rp 6.175 per saham.
Kenaikan juga dibukukan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 1,28 persen menjadi Rp 790 per saham dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 0,70 persen ke level Rp 2.870 per saham.
ANTARA FOTO/Putra M. Akbar Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026).Bursa Asia Bergerak Variatif
Pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan yang melanda mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan Jumat.
Indeks Nikkei 225 Jepang mencatat penurunan 4,15 persen, sementara KOSPI Korea Selatan mengalami koreksi paling dalam hingga 5,81 persen. Di China, SSE Composite turun 2,26 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong melemah 1,76 persen.
The Asia Dow juga ditutup turun 1,04 persen, menunjukkan sentimen negatif masih mendominasi pasar regional.
Berbeda dengan mayoritas indeks Asia, S&P/ASX 200 Australia justru berhasil bertahan di zona positif dengan kenaikan tipis 0,18 persen.
Pergerakan bursa regional yang didominasi pelemahan tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar saham Indonesia sehingga IHSG hari ini kembali ditutup melemah.
Rupiah Tertekan Sentimen Inflasi
Di pasar valuta asing, pergerakan rupiah berlangsung fluktuatif sepanjang perdagangan.
Pada awal sesi, nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga mendekati level Rp 18.000 per dollar AS. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda sempat melemah 48 poin atau 0,27 persen ke posisi Rp 17.991 per dollar AS.
Namun, tekanan tersebut berangsur mereda hingga penutupan perdagangan. Di pasar spot, rupiah akhirnya mampu berbalik menguat tipis 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp 17.922 per dollar AS.
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi berbagai sentimen eksternal maupun domestik. Pelaku pasar juga terus mencermati potensi kenaikan inflasi, termasuk dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang dinilai dapat memengaruhi ekspektasi terhadap stabilitas nilai tukar.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor di tengah meningkatnya kehati-hatian di pasar keuangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56