#30 tag 24jam
Awas, Virus Ebola Sudah Masuk Prancis, Dibawa Seorang Dokter
Prancis telah mengkonfirmasi kasus Ebola pertamanya pada seorang dokter yang baru saja kembali dari misi kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo). Kabar... | Halaman Lengkap [345] url asal
#prancis #ebola #virus-ebola #kongo #wabah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 26/06/26 15:03
v/260732/
PARIS - Prancis telah mengkonfirmasi kasus Ebola pertamanya pada seorang dokter yang baru saja kembali dari misi kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo). Kabar itu dilaporkan Kementerian Kesehatan Prancis pada hari Rabu (24/6/2026).Kementerian mengatakan pasien tersebut dirawat di fasilitas khusus dan dalam kondisi stabil. Ia telah diisolasi sebagai bagian dari tindakan pencegahan.
“Investigasi epidemiologi menyeluruh sedang dilakukan untuk mengidentifikasi individu yang mungkin telah melakukan kontak dengan pasien,” kata kementerian dalam pernyataan.
Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist kemudian mengkonfirmasi lima orang yang duduk di dekat dokter yang terinfeksi dalam penerbangan ke Prancis telah diidentifikasi dan diisolasi.
Aliansi untuk Aksi Medis Internasional (ALIMA), organisasi nirlaba yang terlibat dalam respons Ebola di DR Kongo, mengatakan pasien tersebut adalah seorang dokter yang bekerja dengan tim mereka.
Kasus ini terjadi di tengah wabah Ebola yang sedang berlangsung di Kongo timur. Sejak wabah yang terkait dengan strain Bundibugyo dari virus tersebut dimulai pada 15 Mei, 1.094 kasus terkonfirmasi telah tercatat dan 277 kematian dilaporkan, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Rabu.
Setidaknya 75 petugas kesehatan telah terinfeksi, 17 di antaranya meninggal, menurut Direktur Darurat WHO Marie Roseline Belizaire. Strain Bundibugyo saat ini belum memiliki vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui.
Bulan lalu, AS menolak masuknya penerbangan Air France yang membawa penumpang dari DR Kongo dengan pembatasan terkait Ebola yang lebih ketat, memaksa pesawat tersebut untuk dialihkan ke Kanada.
Washington memperketat langkah-langkah perjalanan sebagai respons terhadap wabah tersebut pada 18 Mei, yang mengharuskan pelancong yang tiba dari DR Kongo, Sudan Selatan, dan Uganda untuk memasuki AS hanya melalui Bandara Internasional Washington Dulles.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan meskipun wabah Ebola di DR Kongo "terus melampaui respons," risiko penyebaran internasional yang lebih luas tetap rendah.
Tedros mengatakan kepada wartawan bahwa kurang dari 30 kasus Ebola telah terdeteksi di luar Afrika dalam 50 tahun terakhir.
Dia menambahkan Prancis dan negara-negara lain di Eropa tidak boleh "bereaksi berlebihan," seperti yang dilaporkan Reuters.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC) juga menilai risiko tersebut sebagai "sangat rendah bagi populasi umum Eropa," menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Prancis.
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengunjungi Republik Demokratik Kongo (DR Kongo), yang saat ini sedang berjuang melawan wabah... | Halaman Lengkap [348] url asal
#kongo #ebola #who #wabah #virus
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 31/05/26 07:48
v/235977/
KINSHASA - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengunjungi Republik Demokratik Kongo (DR Kongo), yang saat ini sedang berjuang melawan wabah Ebola yang parah.Wabah tersebut dimulai di Provinsi Ituri, timur laut DR Kongo, sekitar dua minggu lalu. Hingga saat ini, diperkirakan telah merenggut nyawa 223 orang, dengan 906 kasus yang diduga dilaporkan, menurut perkiraan WHO.
Ghebreyesus bertemu dengan para pejabat senior dan menyatakan keyakinannya bahwa negara tersebut sepenuhnya mampu mengatasi wabah terbaru ini.
Kepala WHO memperingatkan negara-negara lain agar tidak menutup perbatasan dan melarang perjalanan, yang telah diterapkan oleh beberapa negara di kawasan tersebut, dengan alasan tindakan tersebut hanya "menghambat transparansi."
“Republik Demokratik Kongo telah menghadapi Ebola sebanyak 16 kali sebelumnya dan telah mengakhiri setiap wabah. Ini adalah yang ke-17. Sejarah itu memberi saya keyakinan yang nyata,” kata Ghebreyesus dalam konferensi pers bersama Menteri Kesehatan DR Kongo, Roger Kamba.
Kepala WHO mendesak warga setempat untuk berhati-hati saat menguburkan korban wabah dan segera mencari bantuan medis jika mereka menunjukkan gejala.
Namun, optimisme yang diungkapkan oleh kepala WHO tersebut disambut dengan skeptisisme dari pengamat independen dan kelompok kemanusiaan.
Dokter Tanpa Batas (MSF) menunjuk pada penyebaran penyakit yang luar biasa cepat, dengan mengatakan tim mereka di lapangan telah menyaksikan “respons yang belum mampu mengimbangi penyebaran epidemi yang cepat.”
“Dua minggu setelah deklarasi wabah Ebola di Provinsi Ituri, situasinya sangat mengkhawatirkan dan menjadi sumber kecemasan yang sah bagi masyarakat dan petugas kesehatan garda depan. Belum pernah sebelumnya wabah Ebola mencatat begitu banyak kasus begitu cepat setelah deklarasinya,” kata Wakil Direktur Operasi MSF, Alan Gonzalez.
Dia memperingatkan, “Tidak ada yang tahu skala dan tingkat keparahan sebenarnya dari wabah ini.”
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) awal pekan ini memberikan perkiraan yang sedikit lebih tinggi daripada yang dibagikan WHO, melaporkan 1.077 kasus yang diduga dan 246 kemungkinan kematian hingga Kamis.
Wabah ini melibatkan strain Bundibugyo dari virus Ebola, varian langka dan sangat mematikan dengan tingkat kematian yang dilaporkan antara 25% dan 50%.
Tidak ada vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui untuk strain ini. Virus ini diyakini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi.
AS Waspada, Blokir Pelancong dari Zona Wabah Ebola
Amerika Serikat (AS) telah memberlakukan pembatasan perjalanan darurat terhadap warga negara asing yang datang dari Republik Demokratik Kongo (DR Kongo), Uganda,... | Halaman Lengkap [353] url asal
#amerika-serikat #ebola #virus-ebola #wabah #pandemi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 20/05/26 15:15
v/226455/
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) telah memberlakukan pembatasan perjalanan darurat terhadap warga negara asing yang datang dari Republik Demokratik Kongo (DR Kongo), Uganda, dan Sudan Selatan karena wabah Ebola. Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), mengumumkan pada hari Senin bahwa pemegang paspor non-AS yang mengunjungi salah satu dari tiga negara tersebut dalam 21 hari terakhir akan dilarang masuk ke negara tersebut.Langkah ini diambil setelah DR Kongo dan Uganda mengkonfirmasi kasus Ebola pertama mereka pada hari Jumat.
Pada hari Minggu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah tersebut sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat global.
Otoritas AS telah mengkonfirmasi seorang warga Amerika yang bekerja di DR Kongo telah dinyatakan positif Ebola dan sedang dievakuasi ke Jerman untuk perawatan.
Enam warga Amerika lainnya yang terpapar virus tersebut juga berada di bawah pengawasan medis.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) melaporkan pada hari Senin bahwa 395 kasus dugaan Ebola dan 106 kematian terkait telah tercatat di Republik Demokratik Kongo serta di Kampala, Uganda, di mana dua kasus terkonfirmasi dan satu kematian telah dilaporkan sejauh ini.
Virus Bundibugyo adalah strain langka Ebola yang pertama kali diidentifikasi di Uganda pada tahun 2007.
Para ilmuwan percaya virus ini secara alami dibawa kelelawar buah dan dapat menyebar ke manusia melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi sebelum menular antar manusia melalui cairan tubuh. Saat ini belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui.
WHO telah melaporkan hampir tujuh ton pasokan dan peralatan medis darurat telah tiba di Provinsi Ituri di Republik Demokratik Kongo dari Kinshasa, bersama dengan tim yang terdiri dari 35 ahli untuk mendukung upaya respons garis depan Ebola di provinsi tersebut.
Badan pengawas kesehatan masyarakat Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan spesialis Rusia akan melakukan perjalanan ke Uganda untuk melakukan investigasi epidemiologi dan memberikan dukungan logistik kepada Kementerian Kesehatan negara tersebut. Moskow juga akan memasok alat uji diagnostik Ebola yang dikembangkan lembaga penelitiannya.
Pada tahun 2024, Rusia mentransfer laboratorium anti-epidemi bergerak ke mitra Uganda, memungkinkan diagnosis cepat penyakit menular berbahaya.
Warga dari 11 negara Afrika sudah menghadapi penangguhan total visa imigran dan non-imigran, yang secara efektif melarang masuknya warga negara AS secara umum.
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan “kita mungkin akan melihat lebih banyak kasus dari strain hantavirus... | Halaman Lengkap [421] url asal
#who #covid-19 #wabah #pandemi #hantavirus
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/05/26 21:28
v/221404/
JENEWA - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan “kita mungkin akan melihat lebih banyak kasus” dari strain hantavirus Andes yang mematikan muncul dalam beberapa hari mendatang. Peringatan itu muncul setelah kasus ke-11 tercatat.Virus ini telah menewaskan tiga orang yang meninggalkan Argentina dengan kapal pesiar bulan lalu, dan menginfeksi delapan orang lainnya.
Kasus terbaru dikonfirmasi Kementerian Kesehatan Spanyol pada hari Selasa, dan melibatkan seorang penumpang yang telah dikarantina di rumah sakit militer di Madrid setelah melakukan perjalanan dengan kapal tersebut.
“Saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa kita melihat awal dari wabah yang lebih besar, tetapi tentu saja situasinya dapat berubah dan, mengingat masa inkubasi virus yang panjang, ada kemungkinan kita akan melihat lebih banyak kasus dalam beberapa minggu mendatang,” kata Ghebreyesus pada konferensi pers di Madrid pada hari Selasa.
Ghebreyesus mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez karena telah menunjukkan “belas kasih dan solidaritas” dengan mengizinkan kapal MV Hondius yang berbendera Belanda untuk berlabuh di Kepulauan Canary Spanyol pada hari Senin.
Dari Kepulauan Canary, para penumpang dievakuasi ke negara asal mereka, di mana pihak berwenang didesak Tedros untuk mengkarantina mereka selama 42 hari.
Hantavirus adalah keluarga virus yang dibawa oleh hewan pengerat, dan menyebar ke manusia melalui kontak dengan kotoran, urin, atau air liur mereka.
Strain Andes adalah satu-satunya varian yang diketahui menyebar dari manusia ke manusia, dan menyebabkan sindrom kardiopulmoner hantavirus (HPS) pada mereka yang terinfeksi.
Setelah masa inkubasi yang panjang antara enam dan delapan minggu, pasien biasanya mengalami gejala seperti flu yang dapat berkembang menjadi masalah jantung, hipertensi, dan penumpukan cairan di paru-paru dan rongga dada. Strain hantavirus Andes memiliki tingkat kematian sekitar 38%.
Pada hari Sabtu, Tedros menekankan “risiko kesehatan masyarakat saat ini dari hantavirus tetap rendah,” dan wabah tersebut tidak akan menjadi “Covid yang lain.”
Kapal MV Hondius meninggalkan Argentina membawa 147 penumpang dan awak dari 23 negara.
Sejauh ini, setiap kasus yang dikonfirmasi melibatkan seseorang yang bepergian dengan kapal tersebut.
Dua puluh warga negara Inggris diisolasi di Inggris, 14 warga Spanyol dikarantina di rumah sakit militer di Madrid, dan lima warga negara Prancis dipantau di Paris.
Salah satu dari mereka, seorang wanita berusia 65 tahun, mengalami gejala serius dan dipasang ventilator pada hari Selasa, kata pihak berwenang Prancis.
Dua belas petugas kesehatan Belanda juga telah dikarantina setelah salah menangani cairan tubuh pasien hantavirus.
Dari 17 warga Amerika yang dievakuasi dari kapal, satu orang yang dinyatakan positif virus akan dikarantina, sementara yang lain akan diizinkan pulang setelah pemeriksaan singkat. Tedros telah memperingatkan pendekatan ini “mungkin memiliki risiko.”
Bagaimana Negara-negara Merespons Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius?
Sebuah kapal pesiar Belanda yang menjadi pusat wabah hantavirus berlabuh pada hari Minggu di dekat pelabuhan Granadilla, tenggara Tenerife, Spanyol, memungkinkan... | Halaman Lengkap [1,159] url asal
#hantavirus #amerika-serikat #inggris #wabah #wabah-baru
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/05/26 11:30
v/218805/
LONDON - Sebuah kapal pesiar Belanda yang menjadi pusat wabah hantavirus berlabuh pada hari Minggu di dekat pelabuhan Granadilla, tenggara Tenerife, Spanyol, memungkinkan puluhan penumpang dari seluruh dunia untuk mulai pulang.MV Hondius berangkat dari Argentina pada 1 April, dengan 175 penumpang dan awak kapal, menurut operatornya, Oceanwide Expeditions.
Melansir BBC, tiga puluh dua orang meninggalkan kapal pesiar ketika berhenti di pulau St Helena pada 24 April.
Kasus pertama hantavirus kemudian dikonfirmasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 4 Mei.
Tiga penumpang - pasangan Belanda dan seorang wanita Jerman - meninggal setelah melakukan perjalanan dengan kapal tersebut, dengan dua di antaranya dipastikan terinfeksi virus. WHO sejauh ini telah melaporkan total sembilan kasus, tujuh dikonfirmasi dan dua diduga.
Bagaimana Negara-negara Merespons Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius?
1. Inggris
Dua puluh warga negara Inggris, satu warga negara Jerman yang tinggal di Inggris, dan satu penumpang Jepang tiba di Rumah Sakit Arrowe Park di Merseyside, Inggris barat laut, pada Minggu malam.Mereka akan tetap berada di rumah sakit selama 72 jam untuk menjalani pemeriksaan medis dan pengujian rutin, sebelum diizinkan pulang ke rumah di mana mereka harus melakukan isolasi mandiri selama 42 hari berikutnya.
Kelompok tersebut diterbangkan ke Bandara Manchester dengan penerbangan sewaan, dengan Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengatakan "langkah-langkah pengendalian infeksi yang ketat" diberlakukan sepanjang perjalanan.
Menteri Kesehatan Masyarakat Sharon Hodgson mengatakan tidak ada penumpang yang menunjukkan gejala, tetapi mereka akan dipantau secara ketat "sebagai bagian dari periode isolasi pencegahan".
"Dengan tidak adanya kasus atau gejala di antara mereka dan langkah-langkah pemantauan dan isolasi ketat kami, risiko bagi masyarakat tetap sangat rendah," tambahnya.
Sebanyak 31 warga negara Inggris - campuran penumpang dan awak kapal - berlayar dengan kapal pesiar tersebut. Beberapa turun sebelum kasus hantavirus pertama yang dikonfirmasi dilaporkan pada 4 Mei.
2. Amerika Serikat
Delapan belas penumpang Amerika telah kembali ke AS.Enam belas di antaranya, termasuk warga negara ganda Inggris-AS, sedang diperiksa di Pusat Medis Universitas Nebraska di kota Omaha dan dua lainnya berada di Atlanta.
Dua penumpang, termasuk satu yang menunjukkan gejala ringan dan kembali dalam unit biokontainment pesawat charter, sedang dirawat di Pusat Perawatan Patogen Khusus Regional Universitas Emory di Atlanta, menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (HHS).
HHS telah menyarankan masyarakat umum bahwa risiko bagi mereka "sangat, sangat rendah".
John Knox, dari HHS, mengatakan pada hari Senin bahwa warga Amerika yang kembali akan menjalani berbagai penilaian kesehatan selama beberapa hari mendatang. Mereka kemudian akan menerima rencana perawatan individual, yang menguraikan apakah mereka harus mengisolasi diri di rumah atau jika mereka perlu tetap berada di fasilitas, berdasarkan kondisi dan situasi tempat tinggal mereka.
Sebuah dokumen dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan bahwa orang-orang harus mengisolasi diri dan dipantau selama 42 hari, di mana selama waktu tersebut mereka harus mengukur suhu tubuh mereka sekali sehari.
3. Belanda
Panduan Uni Eropa serupa dengan panduan Inggris, dengan warga negara yang kembali ke negara anggota masing-masing disarankan untuk "menjalani triase medis oleh tenaga kesehatan terlatih".Mereka kemudian harus mengisolasi diri dan memantau gejala mereka selama enam minggu, mencari bantuan medis segera "jika gejala muncul", menurut saran dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC).
Di Belanda, warga negara Belanda yang meninggalkan MV Hondius pada hari Minggu diterbangkan ke Eindhoven, dan sekarang sedang menyelesaikan masa karantina mereka.
Mereka diangkut dengan van langsung ke alamat rumah mereka, kata pemerintah, menambahkan bahwa mereka yang diisolasi akan dihubungi setiap hari oleh petugas kesehatan terkait "untuk memastikan bahwa gejala apa pun diidentifikasi dan perawatan yang tepat dapat diberikan dengan segera".
Tiga belas warga negara Belanda - delapan penumpang dan lima awak kapal - berada di atas kapal ketika berlabuh di Tenerife.
4. Spanyol
Empat belas warga negara Spanyol yang diterbangkan dari Tenerife ke Madrid sedang menjalani karantina wajib di rumah sakit militer di ibu kota.Satu orang dinyatakan positif sementara dalam tes pertama yang dilakukan, kata menteri kesehatan negara itu pada hari Senin.
"Individu tersebut tetap diisolasi, tanpa gejala, dan dalam kondisi umum yang baik," kata Mónica García.
"Ke-13 penumpang lainnya telah dites dan hasilnya negatif sementara. Dalam beberapa jam ke depan, kita akan mengetahui hasil pastinya," tambah menteri tersebut.
Warga Tenerife, dan Kepulauan Canary pada umumnya, telah menyatakan kekhawatiran tentang persinggahan kapal pesiar di sana. Namun, pejabat WHO bersikeras bahwa risiko penularan virus corona sangat rendah.
Kapal tersebut tidak berlabuh langsung di Tenerife - melainkan ditambatkan di laut lepas dan penumpang diangkut ke pelabuhan Granadilla, jauh dari daerah pemukiman.
5. Prancis
Negara ini telah mengkonfirmasi kasus hantavirus pertamanya setelah seorang warga negara Prancis mengalami gejala saat melakukan perjalanan dengan penerbangan sewaan dari Tenerife ke Paris.Menteri Kesehatan Prancis Stéphanie Rist mengatakan seorang wanita sedang mengisolasi diri di Paris dan kesehatannya memburuk, dengan 22 kasus kontak yang dilacak.
PM Prancis Sébastien Lecornu mengatakan pada akhir pekan bahwa kelima warga negara Prancis yang kembali dari Spanyol akan "segera ditempatkan dalam isolasi ketat sampai pemberitahuan lebih lanjut".
6. Jerman
Otoritas kesehatan Jerman mengatakan pada hari Senin bahwa empat orang telah tiba di negara itu semalam dan dipantau di unit isolasi di Rumah Sakit Universitas Frankfurt.Kementerian Kesehatan negara tersebut mengatakan bahwa keempat orang tersebut, yang saat ini tidak menunjukkan gejala, sedang dipindahkan ke rumah mereka di Berlin, Baden-Wuerttemberg, Bavaria, dan Schleswig-Holstein.
Mereka akan "terus dipantau secara ketat untuk mengetahui gejalanya," kata kementerian kesehatan federal Jerman.
Otoritas kesehatan setempat akan memutuskan langkah-langkah spesifik yang akan diambil.
7. Kanada
Secara total, enam warga Kanada berada di kapal tersebut, kata pihak berwenang. Empat orang kembali ke British Columbia pada hari Minggu setelah menaiki penerbangan sewaan dari Tenerife.Mereka belum menunjukkan gejala apa pun, tetapi akan melakukan isolasi mandiri setidaknya selama 21 hari sebagai tindakan pencegahan. Badan Kesehatan Masyarakat Kanada mengatakan ini dapat diperpanjang hingga 42 hari, dengan alasan masa inkubasi hantavirus.
Gejala dapat muncul antara satu hingga delapan minggu.
Dua warga Kanada lainnya - pasangan suami istri - melakukan isolasi mandiri di rumah mereka di Ontario. Menteri Kesehatan Sylvia Jones mengatakan pada hari Senin bahwa keduanya belum menunjukkan gejala.
8. Swiss
Seorang pria yang meninggalkan kapal pesiar di Saint Helena telah dinyatakan positif hantavirus sejak kembali ke rumah.Warga negara Swiss tersebut sedang menerima perawatan dan istrinya, yang bepergian bersamanya, belum menunjukkan gejala virus apa pun tetapi melakukan isolasi mandiri sebagai tindakan pencegahan.
Risiko bagi masyarakat di Swiss rendah, kata Kantor Kesehatan Masyarakat Federal dalam pembaruan terbarunya.
9. Argentina
Investigasi sedang berlangsung mengenai bagaimana wabah dimulai dan apakah berasal dari Argentina, tempat kapal memulai perjalanannya.WHO sebelumnya mengatakan dua kasus pertama telah "melakukan perjalanan melalui Argentina, Chili, dan Uruguay dalam perjalanan pengamatan burung yang mencakup kunjungan ke lokasi di mana spesies tikus yang diketahui membawa virus tersebut berada".
Beberapa pejabat Argentina mengatakan bahwa itu adalah hipotesis utama mereka, tetapi belum ada yang dikonfirmasi.
Strain virus Andes, yang menjadi penyebab wabah ini, sebagian besar ditemukan di Argentina dan Chili.
10. Filipina
Di antara awak kapal MV Hondius terdapat 38 orang dari Filipina.Saat ini belum ada kasus hantavirus yang tercatat di negara tersebut, dengan pejabat mengatakan risiko tetap "sangat rendah".
Wabah Bukan Cuma Isu Kesehatan tapi Ancaman Ekonomi
Kasus hantavirus di kapal pesiar tunjukkan sensitivitas dunia terhadap isu wabah yang dapat berdampak pada ekonomi global, pariwisata, dan investasi. [880] url asal
#wabah #hantavirus #kesehatan #ekonomi-global #dampak-kesehatan #pariwisata #investasi #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 12/05/26 08:00
v/218519/
Beberapa waktu lalu muncul berita tentang dugaan kasus hantavirus di sebuah kapal pesiar yang akhirnya ditolak berlabuh di Cape Verde. Setidaknya ada tiga orang meninggal di kapal pesiar yang sedang berlayar di Samudra Atlantik tersebut. World Health Organization bahkan menyebut risikonya terhadap masyarakat umum masih relatif rendah. Tetapi menariknya, respons yang muncul cukup besar. Pelabuhan langsung berhati-hati, aktivitas kapal dibatasi, dan perhatian internasional langsung meningkat.
Dari sini kita bisa melihat satu hal penting: dunia sekarang sangat sensitif terhadap isu kesehatan. Sedikit saja muncul ancaman wabah, efeknya bisa langsung merembet ke mana-mana. Dan yang terkena dampak bukan cuma rumah sakit atau sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi.
Kalau dulu wabah dianggap urusan dokter dan tenaga medis, sekarang situasinya sudah berbeda. Di era globalisasi, penyakit menular bisa ikut mengguncang pariwisata, investasi, perdagangan, supply chain, bahkan keuangan negara.
Kasus hantavirus ini memang belum sampai level pandemi seperti Covid-19. Tetapi beberapa penelitian mulai mengingatkan bahwa hantavirus tetap perlu diwaspadai sebagai emerging infectious disease. Khan dkk. (2021) bahkan menyebut bahwa peningkatan kasus dan kemungkinan penularan antarmanusia membuat hantavirus layak mendapat perhatian lebih serius.
Yang menarik, dalam ekonomi modern, sering kali bukan hanya penyakitnya yang menjadi masalah, tetapi rasa takut dan ketidakpastian yang muncul setelahnya. Begitu ada berita wabah, masyarakat langsung mengubah perilaku. Orang menunda perjalanan, wisatawan memilih destinasi lain, perusahaan lebih hati-hati, dan investor mulai menghitung ulang risiko.
Efek pertama biasanya langsung terasa di sektor pariwisata. Perlu diingat bahwa industri wisata itu sangat bergantung pada rasa aman. Begitu ada isu penyakit menular, orang otomatis berpikir dua kali untuk bepergian.
Opini ini diperkuat dengan studi Rossello dkk. (2017) yang menunjukkan bahwa penyakit menular seperti malaria, dengue, Ebola, dan yellow fever memang berdampak langsung terhadap wisata internasional. Bahkan penelitian itu memperkirakan bahwa jika penyakit-penyakit tersebut berhasil ditekan, pengeluaran wisata global bisa meningkat hingga sekitar US$12 miliar.
Artinya sederhana yaitu kesehatan publik ternyata punya nilai ekonomi yang besar.
Orang mungkin sering berpikir bahwa rumah sakit, surveillance penyakit, atau pengawasan kesehatan hanyalah beban anggaran negara. Padahal dari sudut pandang ekonomi, semua itu justru membantu menjaga kepercayaan masyarakat dan aktivitas bisnis.
Kita sudah melihat sendiri bagaimana Covid-19 memukul sektor wisata. Hotel kosong, penerbangan berhenti, restoran sepi, UMKM terpukul, dan jutaan pekerja kehilangan penghasilan. Bahkan data penelitian mencatat bahwa pariwisata internasional sempat turun lebih dari 67% selama pandemi.
Karena itu, ketika muncul kasus seperti hantavirus di kapal pesiar, dunia langsung bereaksi cepat. Bukan semata-mata karena jumlah kasusnya, tetapi karena semua orang belajar bahwa wabah kecil sekalipun bisa memicu efek ekonomi yang besar.
Bukan hanya pariwisata yang sensitif. Investor juga sekarang mulai melihat faktor kesehatan sebagai bagian dari pertimbangan investasi. Kalau dulu investor lebih fokus pada stabilitas politik, pajak, atau infrastruktur, sekarang ada faktor baru yang ikut diperhatikan: apakah suatu negara siap menghadapi krisis kesehatan?
Pertanyaannya sederhana. Kalau sewaktu-waktu terjadi wabah, apakah negara tersebut mampu mengendalikannya? Apakah rumah sakitnya siap? Apakah sistem kesehatannya kuat? Apakah pemerintahnya responsif?
Karena kalau jawabannya tidak, aktivitas bisnis bisa langsung terganggu. Mobilitas pekerja melambat, konsumsi turun, distribusi barang terganggu, dan ketidakpastian pasar meningkat. Semua itu membuat biaya ekonomi menjadi lebih mahal.
Di titik ini, kesehatan publik mulai berubah menjadi bagian dari keamanan ekonomi.
Hal lain yang sering luput dibahas adalah dampaknya terhadap supply chain atau rantai pasok global. Dunia hari ini terlalu terkoneksi. Barang yang kita gunakan sehari-hari bisa berasal dari banyak negara berbeda. Ketika ada gangguan kesehatan di satu wilayah, efeknya bisa merembet ke mana-mana.
Kita belajar banyak dari pandemi Covid-19. Saat pelabuhan terganggu dan mobilitas dibatasi, dunia mengalami kelangkaan bahan baku, biaya logistik melonjak, dan harga barang ikut naik. Bahkan keterlambatan kecil dalam distribusi bisa berdampak besar karena rantai pasok global bekerja sangat ketat dan saling bergantung.
Karena itu, kasus kapal pesiar yang ditolak berlabuh sebenarnya bukan sekadar berita kesehatan biasa. Dalam sistem ekonomi global, gangguan kecil seperti itu bisa memicu efek berantai yang lebih luas.
Yang juga menarik adalah bagaimana wabah akhirnya memengaruhi kondisi keuangan negara. Setiap kali muncul krisis kesehatan, pemerintah biasanya harus mengeluarkan anggaran besar untuk kesehatan, pengawasan, bantuan sosial, dan pemulihan ekonomi. Tetapi di saat yang sama, penerimaan negara justru turun karena ekonomi melambat.
Akibatnya, APBN terkena tekanan dari dua arah sekaligus.
Di sinilah kita mulai memahami bahwa belanja kesehatan sebenarnya bukan sekadar pengeluaran sosial. Ia juga merupakan investasi ekonomi. Negara yang punya sistem kesehatan kuat biasanya lebih cepat memulihkan kepercayaan masyarakat, wisatawan, dan investor.
Beberapa riset juga menunjukkan bahwa kualitas sistem kesehatan memang berpengaruh terhadap pemulihan sektor pariwisata setelah krisis kesehatan. Jadi ketika negara membangun laboratorium, memperkuat surveillance, atau meningkatkan kapasitas rumah sakit, sebenarnya negara juga sedang menjaga stabilitas ekonominya.
Masalahnya, ancaman seperti hantavirus kemungkinan akan semakin sering muncul di masa depan. Dunia masih belum benar-benar siap menghadapi peningkatan penyakit zoonosis seperti hantavirus, terutama karena belum tersedianya terapi dan vaksin yang benar-benar efektif.
Karena itu, pendekatan kita terhadap wabah seharusnya juga berubah. Jangan lagi melihat kesehatan hanya sebagai urusan medis semata. Dalam dunia yang sangat terkoneksi seperti sekarang, kesehatan publik sudah menjadi bagian dari infrastruktur ekonomi.
Negara yang kuat bukan hanya negara yang punya jalan tol, pelabuhan besar, atau investasi tinggi. Tetapi juga negara yang mampu menjaga kesehatan masyarakatnya, merespons wabah dengan cepat, dan membangun rasa aman bagi dunia usaha dan masyarakat.
Sebab hari ini, wabah bukan lagi cuma urusan dokter. Ia sudah menjadi urusan ekonomi global.
Wabah Hantavirus Juga Sampai Israel, 1 Orang Terinfeksi
Pasien di Israel terinfeksi Hantavirus setelah berkunjung ke Eropa Timur. Wabah Hantavirus telah terdeteksi muncul di Israel. Seorang pasien dilaporkan terinfeksi... | Halaman Lengkap [853] url asal
#israel #hantavirus #wabah #kapal-pesiar #penyakit-menular
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 08/05/26 13:53
v/215563/
TEL AVIV - Wabah Hantavirus telah terdeteksi muncul di Israel. Seorang pasien dilaporkan terinfeksi virus tersebut setelah berkunjung ke Eropa Timur beberapa bulan yang lalu.Surat kabar Maariv melaporkan bahwa pasien telah mencari perawatan medis setelah mengalami gejala yang terkait dengan penyakit tersebut.
Mengutip laporan dari Jerusalem Post, Jumat (8/5/2026), rincian tentang pasien, tempat tinggalnya, dan pusat medis tempat diagnosis dilakukan belum dapat dipublikasikan.
Pasien menjalani tes antibodi setelah gejala muncul, yang menunjukkan paparan hantavirus, menurut laporan Maariv.
Tes PCR (reaksi berantai polimerase) kemudian dilakukan untuk mendeteksi materi genetik virus, yang mengonfirmasi infeksi tersebut.
Pasien dilaporkan dalam kondisi stabil, tidak memerlukan perawatan intensif atau isolasi ketat, dan berada di bawah pengawasan medis. Kasus ini telah dilaporkan ke Kementerian Kesehatan.
Meskipun tidak biasa di Israel, ini bukan pertama kalinya warga Israel didiagnosis menderita Hantavirus. Sekitar satu dekade lalu, beberapa warga Israel diduga terinfeksi virus tersebut setelah bepergian ke Amerika Selatan.
Namun, tidak seperti Hantavirus strain Andes Amerika Selatan yang saat ini menarik perhatian internasional karena mewabah di atas kapal pesiar MV Hondius, pasien Israel tersebut terinfeksi strain virus Eropa.
Perbedaan ini signifikan. Hanya ada beberapa kasus penularan dari orang ke orang yang terdokumentasi dari strain Andes yang lebih berbahaya dan terkenal. Sebagian besar strain Hantavirus lainnya di seluruh dunia ditularkan terutama dari hewan pengerat ke manusia.
Strain Andes berasal dari Amerika Selatan, terutama di Argentina dan Chile, dan unik karena kasus penularan dari orang ke orang melalui kontak dekat dan berkepanjangan jarang terjadi dan telah terdokumentasi.
Meskipun demikian, wabah Hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius terus menjadi perhatian otoritas kesehatan di seluruh dunia. Beberapa negara sedang berupaya melacak penumpang yang meninggalkan kapal sebelum berlabuh di lepas pantai Cape Verde untuk memastikan mereka tidak menunjukkan gejala atau secara tidak sengaja menginfeksi orang lain.
Sejauh ini, tiga penumpang—pasangan Belanda dan seorang warga negara Jerman—telah meninggal dalam wabah di atas kapal MV Hondius. Sebanyak delapan kasus terkonfirmasi atau diduga terkait dengan pelayaran tersebut telah dilaporkan, termasuk seorang warga negara Swiss yang dirawat di rumah sakit di Zurich.
Kapal tersebut, yang membawa sekitar 147 penumpang dan awak kapal dari 23 negara, berangkat dari Ushuaia di Argentina selatan pada 1 April. Rutenya melewati Antartika dan pulau-pulau terpencil di Samudra Atlantik Selatan, termasuk Georgia Selatan, Tristan da Cunha, Saint Helena, dan Pulau Ascension.
Setelah beberapa kasus penyakit pernapasan parah dilaporkan di atas kapal, kapal tersebut berlabuh di lepas pantai Praia di Cape Verde. Para penumpang tidak diizinkan untuk turun.
Pada hari Rabu, tiga pasien dievakuasi dari kapal, dua di antaranya dalam kondisi serius. Kapal tersebut kemudian berlayar menuju Kepulauan Canary setelah Spanyol mengumumkan akan mengizinkan kapal tersebut berlabuh karena alasan medis dan kemanusiaan.
Menurut Kementerian Kesehatan Spanyol, kapal tersebut diperkirakan akan tiba di Tenerife dalam waktu sekitar tiga hari. Jika mereka yang berada di kapal tetap tanpa gejala, warga negara asing nantinya akan dipulangkan ke negara asal mereka.
Wabah di kapal tersebut telah menarik perhatian khusus karena strain Hantavirus Andes yang lebih berbahaya telah diidentifikasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan risiko bagi masyarakat umum tetap rendah, dan tidak ada bukti bahwa virus tersebut menyebar melalui kontak biasa sehari-hari.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan pihaknya memantau warga negara Amerika yang berada di kapal atau terkait dengan pelayaran tersebut sebagai bagian dari upaya pelacakan kontak.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus termasuk dalam keluarga virus yang ditularkan terutama oleh hewan pengerat, yang melepaskan virus melalui urin, feses, dan air liur. Manusia kemudian terinfeksi ketika partikel kecil dari sekresi kering menjadi terbawa udara dan terhirup.
Paparan tersebut dapat terjadi saat membersihkan ruang penyimpanan, loteng, gudang peralatan, kabin, rumah musim panas, atau area tertutup apa pun tempat tikus atau hewan pengerat lainnya berada.
Infeksi juga dapat terjadi setelah menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata. Gigitan atau cakaran hewan pengerat juga merupakan jalur penularan yang mungkin, meskipun kurang umum.
Gejala awal dapat menyesatkan dan menyerupai gejala penyakit virus biasa, termasuk demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, lemas, mual, muntah, diare, atau sakit perut.
Pada beberapa strain hantavirus, komplikasi paru-paru yang parah dapat berkembang kemudian, termasuk sesak napas, batuk, penumpukan cairan di paru-paru, tekanan darah rendah, dan gangguan fungsi jantung.
Strain lain, terutama yang ditemukan di Eropa dan Asia, dapat menyebabkan sindrom hemoragik, yang melibatkan kerusakan ginjal, tekanan darah rendah, gangguan fungsi ginjal, dan terkadang pendarahan internal.
Tingkat keparahan penyakit sangat bervariasi tergantung pada strain, tingkat paparan, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.
Diagnosis didasarkan pada kecurigaan klinis, riwayat paparan yang relevan, dan pengujian laboratorium. Tes antibodi dapat menunjukkan paparan virus, sementara tes molekuler, seperti PCR, dapat mendeteksi materi genetik virus.
Saat ini belum ada pengobatan antivirus yang terbukti secara khusus untuk sebagian besar kasus Hantavirus, sehingga pengobatan terutama bersifat suportif. Pengobatan ini meliputi pemantauan medis, pemberian cairan yang hati-hati, oksigen jika perlu, pengobatan untuk tekanan darah rendah, dukungan ginjal, dan, dalam kasus yang parah, rawat inap di unit perawatan intensif dan ventilasi mekanis.
Cara terpenting untuk mengurangi risiko adalah pencegahan dengan menjauhkan hewan pengerat, menutup lubang, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, dan menghindari penyapuan kering atau penyedotan kotoran hewan pengerat, yang dapat melepaskan partikel yang terinfeksi ke udara.
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
Wabah Hantavirus menewaskan 3 orang dan menyebabkan beberapa lainnya jatuh sakit di atas kapal MV Hondius. Ini memicu respons kesehatan masyarakat internasional... | Halaman Lengkap [826] url asal
#hantavirus #covid-19 #wabah #who #kapal-pesiar
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 08/05/26 10:54
v/215281/
NEW YORK - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan wabah hantavirus mematikan di atas kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik menimbulkan risiko kesehatan masyarakat global yang rendah. Menurut badan tersebut, ini bukanlah awal dari pandemi Covid-19 lainnya.Tiga orang telah meninggal dan beberapa lainnya jatuh sakit di atas kapal MV Hondius berbendera Belanda, yang memicu respons kesehatan masyarakat internasional besar-besaran yang melibatkan negara-negara di seluruh Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
Peringatan pertama datang dari Inggris, yang memberi tahu WHO berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) tentang wabah tersebut setelah penumpang di atas kapal tersebut mengalami penyakit pernapasan parah selama perjalanan dari Argentina ke Cabo Verde (Cape Verde).
Dalam pengarahan kepada wartawan di Jenewa, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan delapan kasus telah dilaporkan sejauh ini, termasuk lima infeksi yang dikonfirmasi laboratorium dan tiga kasus yang dicurigai terkait dengan strain hantavirus Andes yang langka.
Risiko Rendah bagi Manusia
Hantavirus adalah virus zoonosis yang dibawa oleh hewan pengerat dan biasanya ditularkan ke manusia melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi atau urin, air liur, atau kotorannya.
Strain Andes, yang ditemukan di beberapa bagian Amerika Latin, adalah satu-satunya hantavirus yang diketahui mampu menular dari manusia ke manusia dalam jumlah terbatas.
Menurut WHO, penularan umumnya membutuhkan kontak dekat dan berkepanjangan, terutama di antara anggota keluarga, pasangan intim, atau petugas kesehatan.
“Pada tahap ini, risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan tetap rendah,” kata Tedros, yang dilansir UN News, Jumat (8/5/2026).
Para pejabat WHO menegaskan bahwa wabah ini sangat berbeda dari pandemi virus corona 2019-2020 yang menewaskan jutaan orang di seluruh dunia.
“Ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal dari pandemi Covid,” kata Maria Van Kerkhove, pelaksana tugas direktur WHO untuk manajemen epidemi dan pandemi.
“Hantavirus sudah ada sejak lama. Kita mengenal virus ini. Virus ini tidak menyebar dengan cara yang sama seperti virus corona," imbuh dia.
Investigasi Sedang Berlangsung
Pasien pertama yang diketahui menunjukkan gejala pada 6 April dan kemudian meninggal di atas kapal. Istrinya juga jatuh sakit dan meninggal setelah dievakuasi ke Afrika Selatan, di mana pengujian laboratorium mengonfirmasi infeksi hantavirus.
Sebelum naik kapal, pasangan tersebut telah melakukan perjalanan melalui Argentina, Chile, dan Uruguay dalam perjalanan pengamatan burung, termasuk kunjungan ke lokasi di mana spesies hewan pengerat yang diketahui membawa virus tersebut berada.
Penumpang lain meninggal pada 2 Mei dan sementara seorang pria masih dirawat di unit perawatan intensif di Afrika Selatan—yang menurut WHO, kondisinya membaik. Pasien lain telah dipindahkan ke rumah sakit di Belanda untuk perawatan.
WHO mengatakan tidak ada penumpang atau awak kapal yang saat ini masih berada di atas kapal yang menunjukkan gejala.
Upaya Internasional
Wabah ini telah memicu tindakan berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional, kerangka kerja global yang dirancang untuk mengoordinasikan respons terhadap ancaman kesehatan lintas batas.
WHO mengatakan pihaknya bekerja sama erat dengan otoritas di Cabo Verde, Spanyol, Belanda, Afrika Selatan, Inggris Raya, dan Argentina, bersama dengan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa.
Spanyol telah setuju untuk mengizinkan kapal tersebut berlabuh di Kepulauan Canary—sebuah komunitas otonom Spanyol—setelah Cabo Verde menolak permintaan tersebut karena kekhawatiran kesehatan masyarakat.
Tedros mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez atas apa yang dia gambarkan sebagai tindakan “solidaritas” dan “kewajiban moral”.
“Risiko bagi penduduk Kepulauan Canary sebenarnya rendah," ujarnya.
Inisiatif WHO di Cabo Verde
Seorang ahli WHO, dokter Belanda, dan seorang spesialis penyakit Eropa menaiki kapal di Cabo Verde awal pekan ini dan mengawasi penilaian medis dan langkah-langkah pencegahan infeksi selama perjalanan ke Tenerife.
Berbicara kepada UN News, perwakilan WHO di Cabo Verde, Ann Lindstrand, mengatakan bahwa badan tersebut telah mendukung otoritas lokal sejak awal respons terhadap wabah.
“Selama perjalanan ke Kepulauan Canary, kami telah dapat membawa persediaan medis, jadi jika seseorang sakit di kapal, akan ada dokter dan persediaan medis untuk dapat merawat mereka selama perjalanan," katanya.
Dia mengatakan, berkoordinasi dengan WHO, otoritas kesehatan nasional sedang menghubungi penumpang yang turun lebih awal untuk menyarankan mereka agar segera mencari pertolongan medis jika gejala muncul.
Penumpang yang masih berada di kapal diminta untuk tetap berada di kabin mereka sementara prosedur disinfeksi dilakukan. Siapa pun yang mengalami gejala akan segera diisolasi.
Disinformasi di Media Sosial
Menanggapi disinformasi yang beredar di media sosial, Dr Abdirahman Mahamud dari Program Kedaruratan Kesehatan WHO menekankan bahwa tidak ada tanda-tanda bahwa ini adalah tahap awal pandemi.
Infeksi terjadi di lingkungan tertutup yang melibatkan kontak dekat yang berkepanjangan di antara penumpang di atas kapal, mirip dengan wabah hantavirus Andes terbatas yang tercatat di Argentina pada tahun 2018–2019. Dalam kasus tersebut, penularan dikaitkan dengan pertemuan sosial yang melibatkan individu yang bergejala dan hanya mengakibatkan sejumlah kecil kasus.
Mahamud mengatakan bahwa langkah-langkah kesehatan masyarakat yang ada, termasuk pelacakan kontak, isolasi, dan pemantauan, dipahami dengan baik dan dapat secara efektif memutus rantai penularan, sehingga epidemi skala besar tidak mungkin terjadi.
WHO memperingatkan bahwa kasus tambahan mungkin masih muncul karena masa inkubasi hantavirus Andes dapat mencapai enam minggu.
“Virus tidak peduli dengan politik, dan mereka tidak peduli dengan perbatasan,” kata Tedros. “Kekebalan terbaik yang kita miliki adalah solidaritas.”
Kenali Gejala dan Tanda Bahaya Hantavirus, yang Tewaskan 3 Orang di Kapal Pesiar
Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius tewaskan 3 orang. WHO pantau kasus, risiko penularan rendah. Hantavirus ditularkan oleh tikus, cegah dengan kebersihan. [689] url asal
#hantavirus #gejala-hantavirus #tanda-bahaya-hantavirus #kapal-pesiar-wabah #penularan-hantavirus #infeksi-hantavirus #gejala-infeksi-hantavirus #hantavirus-zoonosis #hantavirus-tikus #hantavirus-penul
(Bisnis.Com - Terbaru) 06/05/26 03:50
v/212487/
Bisnis.com, JAKARTA — Kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik dilaporkan mengalami dugaan wabah hantavirus. Tiga penumpang meninggal dunia dan seorang warga Inggris dirawat dalam kondisi serius.
Kapal milik Oceanwide Expeditions itu kini berada di lepas pantai Cape Verde. Sebanyak 149 orang dari 23 negara masih berada di dalam kapal.
Dilansir dari BBC News, dua kasus hantavirus telah terkonfirmasi, yakni pada seorang warga Inggris berusia 69 tahun yang kini dirawat intensif di Johannesburg dan pada seorang perempuan asal Belanda yang meninggal dunia. Sementara itu, penyebab kematian dua penumpang lainnya masih dalam penyelidikan.
Peristiwa ini bermula ketika seorang penumpang jatuh sakit di atas kapal dan meninggal pada 11 April. Setelah kapal sempat bersandar di Saint Helena pada 24 April, jenazah korban diturunkan, sementara istrinya yang juga turun dari kapal kemudian dilaporkan meninggal saat perjalanan pulang.
Beberapa hari kemudian, pada Senin (27/4), seorang penumpang asal Inggris mengalami kondisi kritis dan harus di evakuasi medis ke South Africa. Hingga kini, pasien tersebut disebut dalam kondisi kritis namun stabil setelah teridentifikasi terinfeksi varian hantavirus.
Di tengah situasi itu, seorang penumpang asal Jerman kembali meninggal dunia pada Sabtu lalu. Pihak operator kapal menyatakan penyebab kematian korban masih belum dapat dipastikan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini ikut memantau perkembangan kasus tersebut. WHO juga tengah menyelidiki lima kasus suspek lain, termasuk seorang awak kapal asal Inggris yang mengalami gejala gangguan pernapasan.
Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P. Kluge, menegaskan bahwa infeksi hantavirus memang jarang terjadi. Namun dia menyebut risiko penularan ke masyarakat luas masih rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
“Hantavirus memang dapat menyebabkan gejala berat pada sebagian kasus, tetapi tidak mudah menular dari orang ke orang. Risiko bagi masyarakat umum tetap rendah,” ujarnya dikutip dalam BBC News, Selasa (5/5/2026).
Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Aaron Motsoaledi, menjelaskan pasien asal Inggris saat ini hanya mendapatkan perawatan suportif karena belum ada obat khusus untuk hantavirus. Petugas kesehatan juga sedang melakukan pelacakan terhadap orang-orang yang sempat melakukan kontak erat dengan pasien tersebut.
“Seperti virus pada umumnya, hantavirus belum memiliki pengobatan spesifik sehingga pasien diberikan terapi sesuai gejala dan dukungan medis semaksimal mungkin,” terangnya.
Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat atau rodensia.
Kemenkes menjelaskan tikus menjadi reservoir utama virus dari genus Orthohantavirus. Di Indonesia, jenis tikus yang terkonfirmasi membawa virus ini antara lain tikus got, tikus rumah, tikus sawah, hingga mencit rumah yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar manusia.
Penularan biasanya terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan air liur, urine, atau kotoran tikus. Virus juga dapat masuk melalui debu halus yang terkontaminasi lalu terhirup melalui hidung, mulut, atau mengenai mata dan luka terbuka di kulit.
Hingga saat ini, Kemenkes menyebut penularan hantavirus dari manusia ke manusia belum pernah dilaporkan di Indonesia. Karena itu, pengendalian hewan pengerat masih menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Secara klinis, Kemenkes membagi penyakit ini ke dalam dua bentuk utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah strain Seoul Virus yang umumnya menimbulkan gejala tipe HFRS.
Berikut gejala hantavirus yang perlu diwaspadai:
- Demam dan Sakit Kepala
Gejala awal biasanya mirip infeksi virus pada umumnya. Penderita dapat mengalami demam yang disertai sakit kepala, badan lemas, dan rasa tidak nyaman pada tubuh.
- Nyeri Punggung dan Nyeri Perut
Keluhan ini sering muncul bersamaan dengan demam. Pada sebagian kasus, nyeri dapat disertai mual dan nafsu makan menurun.
- Mata Kemerahan dan Ruam
Kemenkes menyebut sebagian penderita juga bisa mengalami kemerahan pada mata dan ruam di kulit. Gejala ini perlu diwaspadai bila muncul setelah kontak dengan lingkungan yang banyak tikus.
- Gangguan Pernapasan dan Ginjal
Pada tahap lebih lanjut, penyakit dapat berkembang menjadi lebih berat. Penderita berisiko mengalami gangguan pernapasan, penurunan produksi urine, hingga gangguan fungsi ginjal.
Selain mengenali gejalanya, Kemenkes juga menekankan pentingnya pencegahan dari lingkungan rumah. Langkah ini dinilai penting karena reservoir hantavirus di Indonesia tersebar di berbagai habitat, mulai dari rumah, sawah, ladang, hingga hutan.
Berikut langkah pencegahan hantavirus:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
- Gunakan alat pelindung saat membersihkan area yang dilewati tikus
- Bersihkan kotoran tikus dengan disinfektan
- Jangan menyentuh tikus secara langsung
- Rajin mencuci tangan
Campak Mewabah, Cirebon Gratiskan RS Pemerintah untuk Warga Tanpa BPJS
Pemerintah Cirebon gratiskan layanan RS untuk warga tanpa BPJS akibat wabah campak. Fokus pada deteksi dini, vaksinasi, dan edukasi masyarakat. [556] url asal
#campak-cirebon #campak-mewabah #cirebon-gratis #rumah-sakit-pemerintah #warga-tanpa-bpjs #penanganan-campak #imunisasi-anak #vaksinasi-campak #kejadian-luar-biasa #klb-campak #dinas-kesehatan-cirebon
(Bisnis.Com - Terbaru) 05/05/26 13:45
v/211616/
Bisnis.com, CIREBON — Pemerintah Kabupaten Cirebon memastikan penanganan kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak diberikan secara gratis di seluruh rumah sakit milik pemerintah. Kebijakan ini diambil agar masyarakat, termasuk yang belum memiliki jaminan kesehatan, tetap dapat memperoleh layanan medis.
Bupati Cirebon Imron Rosyadi mengatakan langkah tersebut diambil seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap penyebaran campak, terutama saat peralihan musim dari kemarau ke penghujan yang berpotensi memicu gangguan kesehatan.
“Silakan masyarakat datang ke rumah sakit daerah. Bagi yang belum memiliki BPJS tetap akan dilayani. Yang penting segera berobat agar penanganan bisa cepat,” kata Imron, Selasa (5/5/2026).
Dia menjelaskan, Dinas Kesehatan bersama puskesmas di sejumlah kecamatan seperti Cewaringin, Mundu, dan Sumber telah diminta meningkatkan pemantauan sekaligus penanganan kasus di lapangan. Langkah ini mencakup deteksi dini, perawatan pasien, hingga edukasi kepada masyarakat.
Imron juga mengingatkan masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan di tengah perubahan cuaca. Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak menentu dapat meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit, termasuk campak.
Di sisi lain, pemerintah daerah masih menemukan adanya penolakan terhadap vaksinasi. Imron mengimbau para orang tua tidak ragu memberikan imunisasi kepada anak sebagai upaya pencegahan utama.
“Jangan takut vaksin. Itu untuk kebaikan anak-anak kita. Orang tua harus memberikan pemahaman agar imunisasi bisa berjalan,” ujarnya.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan menetapkan empat kecamatan di Kabupaten Cirebon sebagai wilayah KLB campak setelah ditemukan puluhan kasus pada pekan ke-15 tahun 2026. Keempat wilayah tersebut yakni Kecamatan Mundu, Sumber, Greged, dan Ciwaringin.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon Eni Suhaeni mengatakan secara keseluruhan Kabupaten Cirebon tidak berstatus KLB. Namun, lonjakan kasus yang terpusat di empat kecamatan membuat penetapan status KLB dilakukan secara terbatas.
Berdasarkan data Dinkes, terdapat 119 kasus suspek campak di empat kecamatan tersebut, dengan 23 kasus di antaranya telah terkonfirmasi positif.
Rinciannya, Kecamatan Mundu mencatat 29 kasus suspek dengan dua kasus positif, Kecamatan Sumber 24 suspek dengan lima positif, Kecamatan Greged 33 suspek dengan tujuh positif, serta Kecamatan Ciwaringin 33 suspek dengan sembilan kasus positif.
"Sampai sekarang tidak dilaporkan adanya kematian akibat penyakit tersebut. Dinkes menilai kondisi masih dapat dikendalikan melalui intervensi cepat di lapangan," kata Eni.
Perluasan Imunisasi
Sebagai langkah penanggulangan, Dinas Kesehatan telah menjalankan program vaksinasi kejar atau catch-up campaign (CUC) yang menyasar anak usia 9 bulan hingga 59 bulan. Program ini telah mencapai sekitar 95 persen cakupan di tingkat kabupaten.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) yang menyasar kelompok usia lebih luas, yakni anak 9 bulan hingga 13 tahun. Program ini tidak hanya difokuskan pada wilayah KLB, tetapi juga akan diperluas ke tujuh kecamatan lain sebagai langkah pencegahan.
Menurut Eni, perluasan imunisasi dilakukan karena mobilitas penduduk antarwilayah yang cukup tinggi. Kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat penyebaran virus campak dari daerah terdampak ke wilayah lain.
Di sisi lain, capaian imunisasi measles-rubella (MR) di Kabupaten Cirebon dalam lima tahun terakhir rata-rata masih di bawah 80 persen. Angka tersebut dinilai belum cukup untuk membentuk kekebalan kelompok secara optimal sehingga potensi penularan masih terbuka.
“Mobilitas masyarakat cukup tinggi, sementara cakupan imunisasi belum ideal. Ini yang menjadi perhatian kami,” ujarnya.
Dinas Kesehatan juga meningkatkan pemantauan kasus melalui fasilitas pelayanan kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit, guna memastikan deteksi dini dan penanganan cepat terhadap pasien dengan gejala campak.
Masyarakat diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti demam, ruam kemerahan, batuk, dan mata merah. Selain itu, orang tua diminta memastikan imunisasi anak telah lengkap sesuai jadwal.
4 Fakta Hantavirus yang Mewabah di Kapal Pesiar MV Hondius, Salah Satunya Belum Ada Obatnya
Tiga orang meninggal setelah dugaan wabah hantavirus di kapal pesiar yang berlayar di Samudra Atlantik. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu kasus hantavirus... | Halaman Lengkap [475] url asal
#wabah #kapal-pesiar #kapal-pesiar-mewah #biaya-perawatan-kapal-pesiar #penyakit
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 05/05/26 13:30
v/211626/
WASHINGTON - Tiga orang meninggal setelah dugaan wabah hantavirus di kapal pesiar yang berlayar di Samudra Atlantik. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu kasus hantavirus telah dikonfirmasi, dengan lima kasus dugaan lainnya sedang diselidiki.WHO mengatakan kepada BBC bahwa "penyelidikan terperinci" terhadap kasus-kasus dugaan hantavirus "sedang berlangsung, termasuk pengujian laboratorium lebih lanjut".
Wabah tersebut dilaporkan terjadi di kapal pesiar MV Hondius, yang sedang berlayar dari Argentina ke Cape Verde.
4 Fakta Hantavirus yang Mewabah di Kapal Pesiar MV Hondius, Salah Satunya Belum Ada Obatnya
1. Ditularkan Hewan Pengerat
Hantavirus merujuk pada strain virus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama ditularkan ke manusia melalui inhalasi partikel udara dari kotoran hewan pengerat yang kering.Infeksi biasanya terjadi ketika virus menjadi terbawa udara dari urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Meskipun jarang, virus ini juga dapat menyebar melalui gigitan atau cakaran hewan pengerat.
Virus ini dapat menyebabkan dua penyakit parah. Yang pertama, Sindrom Paru Hantavirus (HPS), sering dimulai dengan kelelahan, demam, dan nyeri otot, diikuti oleh sakit kepala, pusing, menggigil, dan masalah perut. Jika gejala pernapasan berkembang, angka kematiannya sekitar 38%, menurut CDC.
Penyakit kedua, Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal (HFRS), lebih parah dan terutama menyerang ginjal. Gejala selanjutnya dapat mencakup tekanan darah rendah, pendarahan internal, dan gagal ginjal akut.
2. Biasanya Mewabah di China
Diperkirakan ada 150.000 kasus HFRS di seluruh dunia setiap tahun, terutama di Eropa dan Asia, menurut laporan dari Institut Kesehatan Nasional. Lebih dari setengah kasus biasanya terjadi di China.Data terbaru dari AS menunjukkan bahwa antara tahun 1993, ketika pengawasan hantavirus dimulai, hingga tahun 2023, terdapat 890 kasus di negara tersebut.
Namun, virus Seoul, salah satu strain utama hantavirus yang dibawa oleh tikus Norwegia (juga dikenal sebagai tikus cokelat), ditemukan di seluruh dunia, termasuk di AS.
3. Belum Ada Obatnya
Tidak ada pengobatan khusus untuk infeksi hantavirus.CDC merekomendasikan perawatan suportif untuk mengobati gejala yang dapat mencakup terapi oksigen, ventilasi mekanis, obat antivirus, dan bahkan dialisis.
Pasien dengan gejala parah mungkin perlu dirawat di rumah sakit di unit perawatan intensif. Dalam kasus yang parah, beberapa mungkin perlu diintubasi.
CDC merekomendasikan untuk menghilangkan kontak dengan hewan pengerat di rumah atau tempat kerja untuk mengurangi paparan virus.
Badan tersebut juga merekomendasikan untuk menutup titik masuk di ruang bawah tanah atau loteng tempat hewan pengerat dapat masuk ke rumah.
Mengenakan alat pelindung juga disarankan saat membersihkan kotoran hewan pengerat untuk menghindari menghirup udara yang terkontaminasi.
4. Banyak Memakan Korban
Pada Februari 2025, Betsy Arakawa, istri aktor peraih Oscar Gene Hackman, meninggal karena penyakit pernapasan yang terkait dengan hantavirus.Para penyelidik medis percaya bahwa Arakawa tertular HPS - strain yang paling umum di AS - yang menyebabkan kematiannya.
Sarang dan beberapa bangkai tikus ditemukan di bangunan tambahan rumahnya tempat ia ditemukan.
Catatan polisi menunjukkan bahwa Arakawa mencari informasi di internet tentang gejala flu dan Covid beberapa hari sebelum kematiannya.
Review Film Hamnet: Duka Shakespeare di Balik Drama Hamlet
Film "Hamnet" oleh Chloe Zhao mengungkap tragedi pribadi William Shakespeare, menyoroti hubungan dengan istrinya Agnes dan kematian putra mereka, Hamnet, akibat wabah pes. [528] url asal
#hamlet #william-shakespeare #film-hamnet #chloe-zhao #agnes-shakespeare #tragedi-wabah #drama-tragedi #solilokui-terkenal #mitologi-yunani #oscar-ke-98 #golden-globe-awards #american-film-institute
(Bisnis.Com - Terbaru) 16/03/26 16:10
v/166260/
Bisnis.com, JAKARTA - Hamlet adalah salah satu drama tragedi karya William Shakespeare yang paling fenomenal. Apa jadinya jika drama ini ditarik benang merahnya untuk menyoroti tragedi penulisnya sendiri?
Premis inilah yang diungkap Chloé Zhao lewat Hamnet. Film ini menyoroti hubungan William Shakespeare dengan istrinya Agnes, serta kematian putra mereka akibat tragedi wabah pes di Inggris.
Sejak pertama kali ditulis pada medio 1600-an, Hamlet selalu memberi ruang tafsir baru lewat temanya yang tak pernah usang. Mulai dari keraguan, moralitas, kekuasaan, hingga makna hidup.
Terbaru, Zhao kembali menafsir tema tersebut lewat sisi personal penulisnya. Termasuk menguliti kemungkinan inspirasi lahirnya karya yang telah dipentaskan di hampir semua gedung pertunjukan di dunia.
Berdurasi dua jam, film ini dengan baik mengurai titik tolok yang membuat Shakespeare menulis solilokui paling terkenal dalam sejarah: “To be, or not to be”. Semuanya bermula dari Hamnet, putranya tercinta.
Kisahnya bermula dari pertemuan Shakespeare (diperankan Paul Mescal) dengan Agnes (Jessie Buckley) istrinya. Pertemuan mereka dibalut dengan dongeng mitologi Yunani Orpheus dan Eurydice, kisah cinta yang sarat simbol tentang kehilangan.
Namun simbolisme itu tidak muncul sekadar sebagai ornamen naratif. Zhao memanfaatkannya untuk membangun atmosfer duka dalam keluarga Shakespeare, khususnya dari sosok sang istri yang harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran suaminya yang bekerja di London.
Film ini juga memberi porsi besar pada sosok Agnes, yang selama ini jarang disorot dalam kisah Shakespeare. Dengan akting yang kuat, Buckley berhasil memvisualkan konflik batin yang bergerak perlahan namun intens.
Kisah rumah tangga yang retak akibat terputusnya jarak, wabah yang mengintai, hingga hubungan dengan keluarga yang tak harmonis membawa penonton memasuki ruang-ruang personal kehidupan Shakespeare dan istrinya.
Penampilan Buckley yang penuh emosi bahkan membuat sejumlah pengamat memprediksi namanya sebagai kandidat kuat Aktris Terbaik di ajang Academy Awards. Hal ini terbukti pada pada gelaran Oscar ke-98 di Dolby Theatre, Hollywood.
Sebelumnya film ini juga telah meraih sejumlah penghargaan penting, termasuk Film Drama Terbaik dan Aktris Terbaik untuk Buckley di Golden Globe Awards, serta masuk dalam daftar 10 film terbaik versi American Film Institute.
Pendekatan visual Zhao juga terasa puitis dan kontemplatif. Lanskap pedesaan Inggris, dengan cahaya yang redup, serta ritme yang lambat membuat film ini lebih terasa seperti elegi daripada drama sejarah.
Pada bagian ini sinematografer Łukasz Żal memainkan peran penting. Dia memanfaatkan pencahayaan natural dan komposisi lanskap yang tenang untuk menciptakan kesedihan yang tidak meledak, tetapi meresap perlahan.
Pendekatan tersebut membuat tragedi dalam film terasa lebih manusiawi. Alur cerita yang secara tersirat dibagi menjadi dua babak memberi penonton sudut pandang untuk memahami gejolak psikologis antara Shakespeare dan istrinya.
Di sinilah akhirnya Hamnet menemukan relevansinya dengan Hamlet. Tragedi personal dalam keluarga Shakespeare seolah menjadi gema emosional bagi lahirnya drama yang kemudian mengguncang panggung teater dunia.
Sejarah memang tidak pernah memastikan bahwa kematian Hamnet Shakespeare menjadi sumber langsung lahirnya Hamlet. Namun kemiripan nama dan jarak waktu antara keduanya telah lama memancing spekulasi para sejarawan sastra.
Namun film ini juga tidak sepenuhnya sempurna, meski berhasil membangun atmosfer yang kuat. Ritme yang lambat pada beberapa bagian, terutama menjelang akhir, membuat narasinya terasa sedikit berlarut dan terlalu dramatis.
Pada akhirnya, Hamnet tidak hanya berbicara tentang Shakespeare. Zhao membuka kemungkinan tafsir baru bahwa karya besar acapkali lahir dari pengalaman personal manusia, termasuk luka yang mungkin melahirkannya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56