Bisnis.com, BANDA ACEH — Sel kanker bisa saja muncul karena adanya gaya hidup yang tidak sehat. Namun,hal itu bisa dicegah dengan berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, hingga membatasi konsumsi alkohol.
Dikutip dari dari University of California, Selasa (11/5/2026), lebih dari 40% kasus kanker dan hampir separuh angka kematian akibat kanker sebenarnya dapat dikaitkan dengan faktor-faktor yang bisa dicegah. Ini berarti pilihan-pilihan sederhana dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi penentu besar bagi kondisi kesehatan jangka panjang seseorang.
Menurut Cancer Research UK, kanker adalah penyakit yang terjadi akibat kerusakan pada DNA di dalam sel-sel tubuh yang terakumulasi dari waktu ke waktu. DNA berfungsi sebagai seperangkat instruksi di dalam sel yang memberitahu sel bagaimana harus berperilaku dan ketika instruksi itu rusak, sel bisa tumbuh tak terkendali.
Risiko seseorang terkena kanker dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk hal-hal yang tidak bisa diubah seperti pertambahan usia dan faktor genetik. Namun, ada pula faktor paparan risiko kanker yang sangat dipengaruhi oleh pilihan gaya hidup, seperti kebiasaan merokok, pola makan yang buruk, paparan sinar UV berlebihan, hingga konsumsi alkohol, semuanya dapat merusak sel-sel tubuh dan memicu perkembangan kanker.
Di sinilah peran pola hidup sehat menjadi krusial. Penelitian dari berbagai lembaga medis terkemuka, termasuk Cancer Research UK dan American Cancer Society menegaskan bahwa perubahan gaya hidup yang dilakukan sedini mungkin dapat membuat perbedaan nyata bagi kesehatan seseorang di masa mendatang dan tidak ada kata terlambat untuk memulainya.
Simak 8 gaya hidup untuk menekan risiko pertumbuhan sel kanker:
1. Berhenti Merokok
Tidak merokok adalah langkah terbaik dan paling berdampak yang bisa dilakukan seseorang untuk mengurangi risiko kanker. Mengutip University of California, penggunaan tembakau dikaitkan dengan 30% dari seluruh kematian akibat kanker.
Zat kimia berbahaya yang terkandung di dalam asap rokok merusak sel-sel tubuh dan dapat memicu berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru, mulut, kerongkongan, pankreas, kandung kemih, serviks, hingga ginjal.
Tidak ada produk tembakau yang aman. Ini berlaku untuk rokok konvensional, rokok elektrik (e-cigarette), cerutu, tembakau kunyah, maupun penggunaan hookah atau pipa air. Produk vaping pun masih mengandung zat karsinogen, meski dalam kadar lebih rendah dibanding rokok biasa.
Bahkan, asap rokok yang dihirup secara tidak langsung (secondhand smoke) juga meningkatkan risiko kanker bagi orang-orang di sekitar perokok. Berhenti merokok secara total adalah pilihan terbaik, dan tersedia banyak alat bantu yang bisa mendukung proses berhenti merokok.
2. Jaga Berat Badan Ideal dan Tetap Aktif Bergerak
Mempertahankan berat badan dalam rentang sehat membawa banyak manfaat kesehatan, salah satunya menurunkan risiko setidaknya 13 jenis kanker, termasuk kanker payudara, prostat, paru-paru, usus besar, dan ginjal. Kelebihan berat badan mengakibatkan produksi dan peredaran hormon estrogen dan insulin yang lebih tinggi, dua hormon yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker.
Aktivitas fisik yang teratur berperan penting dalam menjaga berat badan sekaligus secara langsung menurunkan risiko beberapa jenis kanker. American Cancer Society merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas tinggi selama 75–150 menit per minggu, atau kombinasi keduanya.
Sementara itu, anak-anak dan remaja dianjurkan untuk aktif bergerak setidaknya 1 jam setiap hari. Di samping itu, batasi waktu duduk yang terlalu lama. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perilaku sedentari meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.
3. Terapkan Pola Makan Sehat dan Seimbang
Pola makan yang sehat dan seimbang dapat membantu menurunkan risiko kanker. Hingga 50% kasus kanker yang dapat dicegah berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Pola makan berbasis tanaman (plant-based diet) yang kaya sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan telah dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih rendah.
Pola makan sehat yang dianjurkan mencakup konsumsi beragam sayuran, terutama sayuran hijau gelap, merah, dan oranye. Serta buah-buahan segar dalam berbagai warna, biji-bijian utuh, dan protein sehat.
Sebaliknya, pola makan yang baik akan membatasi atau menghindari daging merah dan daging olahan, minuman manis bergula, serta makanan yang diproses secara berlebihan.
Daging merah maupun daging olahan telah diklasifikasikan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) sebagai zat yang bersifat karsinogenik atau berpotensi menyebabkan kanker. Sementara itu, gula tambahan yang terkandung dalam minuman manis dan makanan padat kalori dikaitkan dengan risiko kelebihan berat badan yang pada gilirannya meningkatkan risiko berbagai jenis kanker.
4. Batasi atau Hindari Konsumsi Alkohol
Alkohol merupakan faktor risiko kanker yang dapat dicegah terbesar ketiga, setelah penggunaan tembakau dan kelebihan berat badan. Namun kesadaran publik mengenai dampak alkohol terhadap kanker masih tergolong rendah. Alkohol diklasifikasikan sebagai karsinogen dan telah dikaitkan dengan setidaknya 7 hingga 8 jenis kanker, termasuk kanker payudara, usus besar, paru-paru, ginjal, dan hati.
Yang perlu dipahami, jenis alkohol tidak sepenting jumlah yang dikonsumsi, semua jenis alkohol dapat menyebabkan kerusakan. Semakin sedikit alkohol yang dikonsumsi, semakin rendah pula risiko kanker. Bagi mereka yang memilih untuk tetap mengonsumsi alkohol, American Cancer Society merekomendasikan batas maksimal satu gelas per hari untuk perempuan dan dua gelas per hari untuk laki-laki.
5. Lindungi Kulit dari Paparan Sinar Matahari
Kanker kulit adalah jenis kanker yang paling umum sekaligus paling bisa dicegah. Terlalu banyak terpapar radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari maupun dari alat tanning dapat merusak sel-sel kulit dan memicu kanker kulit. Ketika sinar matahari sedang terik, perlindungan kulit menjadi krusial.
Langkah perlindungan yang dapat diterapkan antara lain menghabiskan waktu di tempat teduh, mengenakan pakaian pelindung, serta mengaplikasikan tabir surya secara rutin dan merata. Hindari berada di luar ruangan saat sinar matahari berada tepat di atas kepala, umumnya antara pukul 10.00 hingga 16.00. Jauhkan diri dari tanning bed dan paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.
6. Lakukan Vaksinasi
Melindungi tubuh dari infeksi virus tertentu dapat membantu mencegah kanker. Human Papillomavirus (HPV) yang merupakan infeksi menular seksual yang sangat umum, dapat menyebabkan kanker serviks dan bertanggung jawab atas hampir seluruh kasus kanker serviks. Vaksin HPV tersedia untuk individu berusia hingga 26 tahun dan mampu melindungi dari 90% kasus kanker yang disebabkan oleh HPV.
Selain itu, vaksin hepatitis B tersedia untuk semua kelompok usia guna mencegah infeksi virus hepatitis B (HBV), yang merupakan penyakit hati dan dapat berkembang menjadi kanker hati. Vaksinasi merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah kanker yang dipicu oleh infeksi virus.
7. Lakukan Skrining Secara Rutin
Pemeriksaan mandiri secara berkala dan skrining kanker rutin dapat meningkatkan peluang ditemukannya kanker pada stadium awal. Deteksi dini adalah kunci keberhasilan pengobatan kanker. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan sejumlah tes skrining untuk mencegah atau mendeteksi kanker sejak dini, antara lain skrining kanker payudara, kanker serviks, kanker kolorektal, dan kanker paru-paru.
8. Kenali Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengetahui penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga memainkan peran penting dalam memahami risiko kanker seseorang. Jika terdapat riwayat kanker payudara, ovarium, rahim, atau kolorektal dalam keluarga, risiko untuk mengalami kanker serupa bisa lebih tinggi.
CDC merekomendasikan agar seseorang mengumpulkan riwayat kesehatan dari anggota keluarga yang memiliki hubungan darah, termasuk orang tua, kakek-nenek, paman, bibi, saudara kandung, keponakan, dan anak. Informasi penting yang perlu digali mencakup jenis kanker yang pernah diderita anggota keluarga, usia saat didiagnosis, serta kondisi kesehatan mereka saat ini. Dengan memahami riwayat keluarga, seseorang bisa lebih proaktif dalam berkonsultasi dengan dokter dan menjalani skrining yang sesuai.
Singkatnya, meski tidak ada jaminan mutlak untuk terbebas dari kanker, setiap orang memiliki kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan hidup yang sehat guna melindungi diri dan menekan risiko kanker. Perubahan itu bisa dimulai kapan saja dan bahkan langkah kecil pun berarti bagi kesehatan jangka panjang.