Kanker Serviks Meningkat di Usia Muda, Kemenkes Percepat Vaksinasi HPV Anak

Kanker Serviks Meningkat di Usia Muda, Kemenkes Percepat Vaksinasi HPV Anak

Kanker serviks meningkat di usia muda, Kemenkes percepat vaksinasi HPV anak untuk cegah infeksi. Vaksinasi fokus pada anak di bawah 15 tahun.

(Bisnis.Com) 04/02/26 14:42 125448

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan mencatat tren peningkatan kasus kanker serviks pada kelompok usia muda dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mendorong pemerintah mempercepat pelaksanaan program vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) bagi anak.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan bahwa kanker leher rahim kini semakin banyak terdeteksi pada perempuan berusia lebih muda. Fenomena ini menjadi tantangan serius dalam upaya pengendalian dan penanggulangan kanker serviks di Indonesia.

"Tren itu ada, ditemukan lebih muda, pada usia mereka yang sudah menikah, terutama mereka yang mempunyai pasangan yang lebih dari satu. Itu yang menjadi hambatan kita untuk melakukan eradikasi kanker era ini," katanya seusai acara Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Saat ini, katanya, upaya vaksinasi juga difokuskan pada anak-anak berusia di bawah 15 tahun yang umumnya belum menikah. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa salah satu faktor risiko utama kanker leher rahim berasal dari infeksi yang ditularkan melalui aktivitas seksual.

Pemberian vaksin sebelum usia 15 tahun, khususnya pada anak-anak usia sekolah, diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih optimal terhadap infeksi human papillomavirus.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan vaksin HPV sebenarnya masih bisa dilakukan untuk perempuan yang sudah dewasa hingga sebelum menopause. Namun, efektivitasnya akan lebih baik jika diberikan sejak masih anak-anak.

Nadia mengatakan untuk perempuan yang telah aktif secara seksual dan dia ingin mendapatkan vaksin HPV, tidak serta merta bisa langsung dilakukan. Umumnya, katanya, mereka akan disarankan terlebih dahulu melalukan pemeriksaan HPV, mengingat usia tersebut sudah memiliki risiko paparan virus.

Pasalnya, apabila perempuan dewasa langsung diberikan vaksin sementara ia telah terinfeksi, tingkat efektivitas vaksin akan menurun. Namun, jika hasil pemeriksaan menunjukkan belum adanya infeksi, vaksinasi masih tetap bisa dilakukan.

Situasi tersebut menjadi alasan utama mengapa program vaksinasi lebih ditekankan pada anak-anak, agar perlindungan dapat diberikan secara maksimal sejak usia dini.

"Seiring waktu, sasaran usia vaksin HPV terus dimajukan, dari semula 15 tahun menjadi 11 tahun, bahkan kini hingga usia 9 tahun. Semakin dini vaksin diberikan, perlindungannya semakin optimal dan jangka panjang, bahkan bisa mencapai 50 tahun," katanya.

Ke depan, vaksinasi diharapkan dapat menjangkau lebih luas, terutama dengan dukungan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan di lingkungan sekolah.

Selain itu, melalui program CKG, pihaknya mendorong agar perempuan dewasa dapat menjalani dua jenis skrining sekaligus. Jika selama ini skrining kanker payudara telah berjalan, kini pemeriksaan HPV DNA turut ditambahkan.

Dengan demikian, setiap perempuan yang datang untuk skrining kanker payudara diharapkan juga mendapatkan tawaran pemeriksaan kanker leher rahim secara bersamaan.

#kanker-serviks #vaksinasi-hpv #kanker-leher-rahim #usia-muda #kemenkes #vaksin-hpv-anak #infeksi-human-papillomavirus #pencegahan-kanker-serviks #skrining-kanker #vaksinasi-anak #risiko-kanker-serviks

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260204/106/1949984/kanker-serviks-meningkat-di-usia-muda-kemenkes-percepat-vaksinasi-hpv-anak