AI Mulai Digunakan untuk Deteksi Kanker Payudara di Indonesia
AI kini digunakan di Indonesia untuk deteksi kanker payudara, meningkatkan akurasi diagnosis HER2 hingga 92% dan mempercepat terapi pasien.
(Bisnis.Com) 01/03/26 12:10 150887
Bisnis.com, JAKARTA - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini mulai diadopsi dalam layanan medis di Indonesia. Sistem ini difungsikan sebagai pembaca awal (first reader) dalam proses skrining, dengan menganalisis hasil pemeriksaan sebelum dilakukan evaluasi lanjutan oleh dokter.
Dokter spesialis patologi anatomi, Patricia Diana Prasetiyo, mengatakan kecerdasan buatan kini dapat dimanfaatkan untuk menunjang proses diagnosis kanker payudara. Pemanfaatan teknologi ini dinilai membantu meningkatkan ketelitian dalam pembacaan hasil pemeriksaan jaringan di laboratorium.
Penerapan tersebut terutama relevan pada kasus kanker payudara dengan status HER2. HER2, atau human epidermal growth factor receptor 2, merupakan gen penghasil protein yang apabila terekspresi berlebihan dapat memicu pertumbuhan sel kanker dan mempercepat penyebarannya.
Dalam perkembangannya, klasifikasi dan pemahaman mengenai HER2 juga terus mendapat penyempurnaan. Jika sebelumnya klasifikasi HER2 hanya dibedakan menjadi HER2 positif dan HER2 negatif, perkembangan ilmu kedokteran kini menghadirkan pengelompokan yang lebih rinci. Kategori tersebut mencakup spektrum dari HER2 positif (normal), yakni adanya HER2 low dan HER2 ultralow, sehingga membutuhkan analisis yang lebih presisi.
"Data dari studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan pemanfaatan AI sebagai pendamping penilaian HER2 dapat meningkatkan deteksi HER2-ultra low sebesar 40 persen dibandingkan penilaian konvensional," katanya dalam acara Konferensi Media Hari Kanker Sedunia tentang Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta, Rabu, (25/2/2026)
Patricia Diana Prasetiyo menyebutkan bahwa penggunaan AI mendorong peningkatan ketepatan penilaian hingga sekitar 92 persen dibandingkan metode konvensional. Lulusan Universitas Diponegoro itu juga menambahkan, teknologi ini memperbaiki konsistensi hasil interpretasi antar-dokter, yang sebelumnya berada di angka 66 persen menjadi 82 persen.
Menurutnya, peningkatan tersebut sangat berarti, khususnya dalam mendeteksi kategori HER2-low dan HER2-ultra low, yang batasnya sangat rendah dan kerap luput teridentifikasi melalui pemeriksaan manual.
Menurut Patricia Diana Prasetiyo, semakin akurat dokter dalam menilai kadar HER2, semakin tepat pula terapi yang dapat diberikan kepada pasien. Pasien yang memiliki HER2 positif ultra low kini bisa memperoleh pengobatan atau terapi khusus lebih cepat berkat deteksi dini. Hal ini meningkatkan peluang kesembuhan dan efektivitas perawatan secara keseluruhan.
Sementara itu, Jeffry Beta Tenggara, dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi hematologi onkologi medik, mengatakan rumah sakit di Indonesia kini tidak lagi punya gap teknologi yang besar dengan luar negeri. Kini, teknologi terbaru AI pun sudah bisa diimplementasikan di Indonesia.
Dokter Jeffry menyebut sejumlah penelitian pun telah menunjukkan bahwa penggunaan AI mampu mempercepat analisis jaringan sekaligus membantu dokter menentukan terapi dengan lebih tepat waktu.
Menurutnya, teknologi ini dapat menjadi terobosan baru untuk meningkatkan efektivitas skrining kanker di Indonesia. Terlebih, berdasarkan data GLOBOCAN pada 2020, tercatat sekitar 65 ribu kasus baru kanker payudara di Indonesia, dengan lebih dari 22 ribu kematian. Sebagian besar kasus tersebut terkait dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2).
Meski begitu, dia menekankan bahwa teknologi ini hanya berperan sebagai alat bantu bagi dokter, bukan pengganti. Keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis yang menilai kondisi pasien secara menyeluruh.
"AI tidak akan menggantikan dokter. Tapi dokter yang tidak pakai AI bisa kalah dengan yang pakai AI," katanya.
#ai-deteksi-kanker #ai-kanker-payudara #ai-di-indonesia #deteksi-her2 #her2-low #her2-ultra-low #ai-skrining-kanker #ai-diagnosis-kanker #teknologi-ai-medis #ai-dan-dokter #ai-rumah-sakit-indonesia #ai