Bisnis.com, JAKARTA — Peneliti menemukan kemajuan baru dalam upaya mendeteksi dini kanker pankreas, dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengenali tanda-tanda awal penyakit ini bahkan sebelum tumor terlihat pada hasil pemindaian CT.
Dalam studi yang dikembangkan tim peneliti dari Mayo Clinic, model AI disebut dapat mendeteksi kelainan pada pankreas hingga tiga tahun sebelum pasien mendapat diagnosis Pancreatic Cancer. Temuan tersebut dipublikasikan pekan ini dalam jurnal medis Gut.
Selama ini, kanker pankreas menjadi salah satu jenis kanker yang paling sulit dikenali pada tahap awal. Letak organ pankreas yang berada jauh di dalam rongga perut membuat gejalanya kerap tidak muncul sampai penyakit memasuki stadium lanjut.
Akibatnya, data penelitian itu mencatat sekitar 80 persen pasien baru terdiagnosis setelah kanker berkembang cukup jauh. Kondisi tersebut membuat peluang pengobatan efektif menjadi lebih terbatas.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan melatih model AI menggunakan hasil CT scan pasien yang sebelumnya menjalani pemeriksaan untuk masalah kesehatan lain. Sejumlah pasien itu kemudian diketahui menderita kanker pankreas beberapa waktu setelah pemeriksaan awal dilakukan.
Selanjutnya, tim peneliti membandingkan kemampuan model AI dengan dokter radiologi dalam membaca hasil scan yang sama. Hasilnya, model AI disebut tiga kali lebih baik dalam mengenali tanda awal kanker pankreas.
Radiolog dari Mayo Clinic, Ajit Goenka, menjelaskan kanker pankreas sebenarnya tidak tumbuh secara mendadak. Menurut dia, perubahan biologis sudah muncul jauh lebih awal, hanya saja sangat sulit dikenali dengan metode konvensional.
“Berdasarkan biologinya, penyakit ini tidak datang secara tiba-tiba. Sinyalnya sebenarnya sudah ada, kami hanya perlu menemukan cara untuk mendeteksinya,” ujarnya dikutip dalam NBC News, Senin (4/5/2026).
Di sisi lain, kanker pankreas juga dikenal memiliki angka kelangsungan hidup yang rendah. Tingkat ketahanan hidup lima tahun pasien tercatat hanya sekitar 13 persen.
Berbeda dari kanker payudara atau kanker usus besar, hingga kini belum tersedia skrining rutin bagi masyarakat sehat untuk mendeteksi kanker pankreas. Gejala seperti nyeri perut, penurunan berat badan drastis, atau gangguan pencernaan biasanya baru terasa ketika kanker telah menyebar.
Karena itu, deteksi dini menjadi tantangan besar bagi dunia medis. Pada banyak kasus, hasil CT scan pasien bahkan masih terlihat normal hanya beberapa bulan sebelum diagnosis ditegakkan.
Sementara itu, radiolog diagnostik dari Moffitt Cancer Center, Daniel Jeong, mengatakan dokter umumnya mencari massa tumor yang sudah cukup besar agar terlihat jelas dalam pencitraan. Karena itu, perubahan kecil pada jaringan pankreas kerap luput dari pengamatan manusia.
“Kami biasanya mencari massa yang dapat diukur dan mewakili kanker. Tumor harus tumbuh sampai ukuran tertentu agar dapat terlihat,” katanya.
Lebih lanjut, Ajit Goenka juga menjelaskan salah satu sinyal yang berhasil dikenali AI adalah keberadaan sel abnormal pada jaringan pankreas. Sel-sel tersebut diduga menjadi lingkungan yang membantu kanker berkembang sekaligus melindunginya dari sistem kekebalan tubuh.
Menurut dia, kemampuan membaca perubahan yang sangat halus inilah yang menjadi keunggulan teknologi AI. Temuan tersebut dinilai berpotensi membantu dokter mengenali risiko penyakit lebih awal.
Model AI ini nantinya diperkirakan akan lebih bermanfaat bagi kelompok berisiko tinggi. Misalnya, orang dengan riwayat keluarga kanker pankreas atau pasien diabetes yang belum mengalami gejala.
Jika ditemukan tanda mencurigakan, dokter dapat melanjutkan pemeriksaan melalui tes darah dan pencitraan tambahan. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang terapi lebih cepat sebelum kanker menyebar luas.
“Kalau pasien sudah bergejala dan benar itu kanker pankreas, biasanya penyakitnya sudah cukup jelas,” ujar Ajit.
Di tengah temuan tersebut, riset kanker pankreas juga menunjukkan perkembangan lain dalam beberapa bulan terakhir. Uji klinis tahap awal sebelumnya menunjukkan vaksin mRNA mampu memperpanjang harapan hidup pada sebagian pasien.
Selain itu, obat eksperimental daraxonrasib disebut dapat meningkatkan harapan hidup pasien kanker pankreas stadium lanjut. Meski demikian, obat tersebut hingga kini masih menunggu persetujuan resmi dari U.S. Food and Drug Administration.
Di sisi lain, Direktur program penyakit pankreas di NYU Langone Perlmutter Cancer Center, Tamas Gonda, menilai kemajuan penelitian ini memberi harapan baru. Menurut dia, arah pengembangan terapi dan deteksi dini kini semakin jelas meski belum sepenuhnya mengubah gambaran penyakit.
“Kami sedang membuat kemajuan besar. Memang belum membalikkan keadaan sepenuhnya, tetapi arahnya semakin menjanjikan,” katanya.
Meski hasil awalnya dinilai menjanjikan, model AI tersebut masih harus melalui uji klinis lanjutan. Peneliti memperkirakan butuh waktu tiga hingga lima tahun lagi sebelum teknologi ini benar-benar siap digunakan secara luas di layanan kesehatan