Bisnis.com, JAKARTA — Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin dalam kebijakan terbaru yang akan ditempuh pekan ini.
Namun, Ketua The Fed Jerome Powell diprediksi tidak akan memberikan banyak petunjuk terkait arah kebijakan berikutnya, di tengah perbedaan pandangan yang semakin melebar di antara para pembuat kebijakan.
Melansir Bloomberg pada Rabu (29/10/2025), keputusan suku bunga The Fed akan diumumkan pada Rabu pukul 14.00 waktu Washington, bersamaan dengan pernyataan resmi komite. Powell dijadwalkan menggelar konferensi pers 30 menit setelahnya.
Dalam pertemuan kali ini, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tidak akan merilis proyeksi ekonomi maupun pandangan terbaru mengenai arah suku bunga.
Kontrak berjangka suku bunga federal menunjukkan bahwa investor hampir pasti memperkirakan pemangkasan sebesar seperempat poin persentase tersebut.
Meski demikian, tingginya kemungkinan pemangkasan suku bunga tidak berarti para pejabat The Fed sepenuhnya sejalan mengenai prospek kebijakan moneter ke depan. Sebagian anggota komite masih menyuarakan kekhawatiran terhadap inflasi, meski mengakui risiko terhadap pasar tenaga kerja.
Indeks harga konsumen (CPI) AS naik lebih rendah dari perkiraan pada September, namun inflasi inti — yang dianggap lebih mencerminkan tren inflasi jangka menengah — tercatat naik 3% secara tahunan, atau satu poin persentase di atas target.
“FOMC kemungkinan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28–29 Oktober, namun yang belum pasti adalah apakah mereka juga akan mengumumkan penghentian program pengetatan kuantitatif (quantitative tightening/QT). Kami memperkirakan pengumuman penghentian QT akan dilakukan dan berlaku efektif November,” ujar ekonom Bloomberg Economics, Anna Wong.
Powell sebelumnya menegaskan FOMC masih berfokus pada risiko terhadap pasar tenaga kerja. Sementara itu, laporan inflasi yang tertunda dan dirilis pekan lalu menunjukkan hasil lebih rendah dari perkiraan, yang kemungkinan akan menahan langkah agresif dari kelompok pejabat The Fed yang khawatir terhadap inflasi.
“Data ketenagakerjaan masih memainkan peran besar dalam perdebatan,” ujar Krishna Guha, Kepala Kebijakan Global dan Strategi Bank Sentral di Evercore ISI.
Menurutnya, selama ekspektasi inflasi dan tekanan harga dari upah serta jasa masih terkendali, Powell dapat tetap fokus pada isu ketenagakerjaan dan mengarahkan The Fed kembali ke sikap kebijakan yang lebih netral.
Sejumlah pejabat juga menyoroti masih tingginya kenaikan harga di sektor-sektor tertentu, seperti jasa, yang seharusnya tidak terlalu terpengaruh oleh tarif impor. Selain itu, ancaman tarif baru terhadap China dan Kanada menambah ketidakpastian terhadap harga dan prospek ekonomi.
Kondisi tersebut membuat perpecahan di internal FOMC berpotensi semakin dalam dibandingkan pada September lalu, ketika sembilan anggota hanya mendukung satu kali tambahan pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun.
Dalam situasi ini, para analis memperkirakan Powell akan berhati-hati dan menghindari memberikan panduan jelas mengenai arah kebijakan pada pertemuan berikutnya. Kekurangan data ekonomi resmi akibat penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown) juga membuat The Fed semakin waspada.
“Harapannya, data ekonomi yang masuk nantinya dapat menjembatani perbedaan pandangan di antara dua kubu tersebut,” ujar Matthew Luzzetti, Kepala Ekonom AS di Deutsche Bank Securities Inc.
Namun, dia menuturkan, selama perbedaan tersebut masih ada, Powell kemungkinan tidak akan memberikan sinyal yang jelas terkait pertemuan Desember atau sesudahnya.
Gubernur The Fed Stephen Miran, yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump dan masa jabatannya berakhir pada Februari mendatang, dikabarkan akan kembali berbeda pandangan dengan mayoritas anggota dengan mendukung pemangkasan suku bunga yang lebih dalam sebesar 50 basis poin.
Sementara itu, Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid diperkirakan akan menolak pemangkasan dan memilih mempertahankan suku bunga.
Kebijakan Neraca The Fed
Pengamat The Fed juga menilai peluang meningkat bahwa komite akan menghentikan pelepasan surat utang pemerintah (Treasury securities) dari neraca senilai US$6,6 triliun pada pertemuan kali ini.
Selama beberapa bulan terakhir, The Fed berupaya mengurangi portofolionya tanpa mengganggu likuiditas pasar pendanaan harian.
Powell sempat menyebut pada awal bulan ini bahwa batas aman neraca The Fed kemungkinan akan tercapai dalam beberapa bulan mendatang. Namun, pasar uang menunjukkan tanda-tanda tekanan dalam beberapa pekan terakhir.
Guneet Dhingra, Kepala Divisi Suku Bunga AS di BNP Paribas mengatakan, saat ini, pihaknya berada di batas tipis antara volatilitas dan tekanan.
"Dari sisi manajemen risiko, sangat jelas bahwa The Fed perlu serius mempertimbangkan untuk menghentikan proses pelepasan aset tersebut," ujarnya.