#30 tag 24jam
Kemenperin dan BPDP Cetak UMKM Sawit Riau Berdaya Saing
Kemenperin dan BPDP mengadakan workshop di Riau untuk meningkatkan daya saing IKM sawit melalui inovasi produk turunan dan keberlanjutan ekonomi. [582] url asal
#ikm-sawit #kemenperin-bpdp #ikm-riau #workshop-sawit #anyaman-lidi-sawit #malam-batik-sawit #ekonomi-sirkular-sawit #produk-turunan-sawit #limbah-sawit #industri-hijau-sawit #pelatihan-sawit-riau #ukm
(Bisnis.Com - Terbaru) 30/06/26 15:56
v/264044/
Bisnis.com, RIAU - Dalam upaya nyata mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan dan memperkuat ekonomi berbasis kerakyatan, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian kembali memperkuat sinergi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Kolaborasi strategis yang telah memasuki tahun ke-11 ini diwujudkan melalui pembukaan Workshop Berbasis Kompetensi Pembuatan Malam Sawit dan Workshop Berbasis Kompetensi Kerajinan Anyaman Lidi Sawit yang berlangsung selama empat hari, mulai 30 Juni hingga 3 Juli 2026 di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Amin, Provinsi Riau.
Pemilihan lokasi di Ponpes Al-Amin Riau yang juga merupakan salah satu lembaga binaan aktif BPDP menjadi simbol integrasi pemberdayaan ekonomi umat berbasis potensi lokal. Kegiatan ini diikuti oleh 40 pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai daerah di Provinsi Riau. Acara pembukaan ini dihadiri langsung oleh Kepala BBSPJIKB Kementerian Perindustrian, Kepala Bidang Perindustrian - Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Dumai, BSPJI Kementerian Perindustrian Pekanbaru, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah BPDP, serta Narasumber dari UPT Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Riau.
Dukungan Penuh Pemerintah Daerah: Riau Sentra Sawit Nasional
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Riau menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dan BPDP di wilayahnya. Menurutnya, program ini menjadi angin segar bagi percepatan pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor industri pengolahan non-migas. Hal ini dikarenakan Riau adalah provinsi dengan hamparan kebun kelapa sawit terluas di Indonesia. Hadirnya workshop berbasis kompetensi ini merupakan langkah konkret yang diharapkan dapat semakin meningkatkan pemanfaatan seluruh turunan dan limbahnya.
Malam Batik dari Minyak Jelantah
Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba dalam sambutannya menegaskan bahwa workshop tahun ini mengusung pembaruan teknis yang sangat signifikan melalui pendekatan circular economy (ekonomi sirkular) dan keberlanjutan (sustainability).
“Kemitraan kami dengan BPDP sejak 2015 senantiasa berfokus pada riset dan diversifikasi produk turunan sawit. Tahun 2026 ini, kami membawa inovasi yang lebih kuat ke Riau. Pada Workshop Pembuatan Malam Sawit, kami tidak hanya memanfaatkan stearin, atau salah satu produk samping kelapa sawit, melainkan mengintegrasikannya dengan limbah minyak jelantah (minyak goreng bekas) sebagai salah satu bahan baku utama. Ini adalah langkah konkret green industry—mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah tinggi untuk industri batik nasional,” ujar Kepala BBSPJIKB.
Selain malam batik, produk turunan kelapa sawit berupa lidi juga diangkat kelasnya melalui workshop anyaman. Sentuhan desain modern dan standardisasi mutu yang diajarkan diharapkan mampu menyulap limbah pelepah sawit menjadi produk kerajinan bernilai ekspor. Langkah ini melanjutkan kesuksesan program serupa yang telah digelar di Jawa Tengah, Maluku, Kalimantan Selatan, Jawa Timur dan Manado pada tahun-tahun sebelumnya.

Mendukung Misi Berkelanjutan dan Citra Positif Perkebunan
Sementara itu, Bapak Anwar Sadat dari Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah BPDP menjelaskan bahwa workshop berbasis kompetensi ini selaras dengan mandat Perpres No. 132 Tahun 2024 untuk terus meningkatkan citra positif dan nilai tambah produk perkebunan Indonesia.
“BPDP memiliki komitmen kuat dalam menyalurkan dana sawit secara tepat guna dan profesional untuk memajukan UKM. Provinsi Riau sebagai salah satu sentra kelapa sawit terbesar di Indonesia memiliki potensi luar biasa. Melalui pelatihan berbasis kompetensi ini, kami ingin memastikan para santri di Ponpes Al-Amin serta pelaku IKM lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam rantai pasok industri sawit berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui pembekalan teknis yang komprehensif, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum emas untuk melahirkan wirausaha baru yang mandiri, meningkatkan kelas (up-skilling) pengrajin lokal, serta membuktikan kepada dunia bahwa industri kelapa sawit Indonesia mampu dikelola secara hijau, inovatif, dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat luas.
Apkasindo Riau Ajak Petani Terapkan Zero Waste, Tandan Kosong Diolah Jadi Pupuk Organik
Apkasindo Riau dorong petani sawit terapkan zero waste dengan mengolah tandan kosong jadi pupuk organik untuk efisiensi dan keberlanjutan perkebunan. [889] url asal
#zero-waste #pupuk-organik #tandan-kosong #apkasindo-riau #kelapa-sawit #limbah-sawit #ekonomi-sirkular #sawit-berkelanjutan #pupuk-berbasis-limbah #efisiensi-usaha-tani #ramah-lingkungan #pengolahan-l
(Bisnis.Com - Terbaru) 22/06/26 11:30
v/255992/
Bisnis.com, PEKANBARU — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau mulai memperkenalkan konsep sawit nol limbah (zero waste) kepada petani melalui pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (tankos) dan produk samping pabrik kelapa sawit (PKS) sebagai bahan baku pupuk organik.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus mendorong praktik perkebunan yang lebih ramah lingkungan.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Workshop Praktik Pembuatan Pupuk Organik Berbasis Solid dan Tandan Kosong Kelapa Sawit Ramah Lingkungan yang digelar Apkasindo Riau di Pekanbaru, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan itu mengangkat sejumlah isu strategis, mulai dari dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terhadap pengembangan sawit berkelanjutan dan konsep zero waste, peningkatan produktivitas melalui ekonomi sirkular, pembiayaan sarana dan prasarana perkebunan, hingga pemanfaatan zeolit dan teknologi pemupukan presisi untuk meningkatkan efisiensi usaha tani sawit.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi mengatakan pemanfaatan limbah sawit menjadi pupuk organik merupakan salah satu langkah penting dalam membangun tata kelola perkebunan yang lebih berkelanjutan.
Menurutnya, tandan kosong dan solid yang selama ini dianggap sebagai limbah sesungguhnya masih mengandung unsur hara yang dapat dikembalikan ke lahan.
"Di satu sisi kita membeli pupuk dengan harga yang luar biasa mahal, tetapi disisi lain unsur haranya justru kita buang. Ini menjadi sesuatu yang harus kita perhatikan bersama," ujarnya.
Menurut Supriadi, pemanfaatan limbah hasil pengolahan sawit yang diperkirakan mencapai sekitar 70% berpotensi mengurangi pemborosan sumber daya sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, unsur hara yang sebelumnya terbuang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Ia menilai langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan industri sawit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi komoditas strategis nasional tersebut.
"Workshop ini mudah-mudahan menjadi langkah awal untuk menciptakan sistem budidaya sawit yang baik, berkelanjutan dan ramah lingkungan," katanya.
Sebagai tindak lanjut dari workshop tersebut, peserta yang terdiri dari petani, koperasi, dan pengurus Apkasindo melakukan kunjungan ke salah satu produsen pupuk organik berbasis limbah sawit di Kabupaten Kampar.
Kunjungan lapangan itu dilakukan untuk memberikan gambaran langsung kepada peserta mengenai penerapan konsep zero waste dan ekonomi sirkular yang sebelumnya dibahas dalam sesi workshop.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Apkasindo Riau, K.H. Suher mengatakan, rangkaian kegiatan selama dua hari tersebut sengaja dirancang agar peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana produk samping industri sawit dapat diolah kembali menjadi sarana produksi bagi perkebunan rakyat.
"Kita ingin membuktikan bahwa tidak ada limbah dari komoditas sawit. Semua hasil produksi, baik produk utama maupun produk sampingnya, masih bisa diproses kembali dan dimanfaatkan untuk mendukung budidaya tanaman sawit yang lebih efisien dan ramah lingkungan," ujarnya, Jumat (19/6).
Menurut Suher, penerapan pupuk organik berbasis limbah sawit diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesuburan lahan dalam jangka panjang.
Dalam kunjungan tersebut, peserta diperlihatkan proses pengolahan tandan kosong, solid, dan abu janjang yang merupakan produk samping pabrik kelapa sawit menjadi pupuk organik.
Bahan-bahan tersebut difermentasi dan dipadukan dengan mikroorganisme sebelum digunakan sebagai pupuk untuk memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara.
Setiap satu ton tandan buah segar (TBS) yang diolah di pabrik, setidaknya menghasilkan sekitar 30% tandan kosong (tankos) yang masih memiliki nilai manfaat.
Limbah tersebut kemudian diolah kembali menjadi bahan baku pupuk organik sehingga dapat dikembalikan ke kebun sebagai bagian dari siklus produksi sawit yang berkelanjutan.
Dorongan penerapan konsep zero waste dinilai strategis mengingat posisi Riau sebagai pusat industri sawit nasional. Pemerintah Provinsi Riau mencatat luas perkebunan kelapa sawit di daerah itu mencapai 3,87 juta hektare atau sekitar 21,23% dari total areal sawit nasional.
Riau Perkuat Sawit Berkelanjutan
Selain menguasai luas areal terbesar di Indonesia, Riau juga memproduksi sekitar 9,4 juta ton crude palm oil (CPO) pada 2024 atau setara 20,11% produksi nasional.
Yang menarik, sekitar 61,12% atau 2,36 juta hektare dari total perkebunan sawit di Riau merupakan perkebunan rakyat. Dari jumlah tersebut, sekitar 94,33% atau setara 2,23 juta hektare dikelola oleh petani swadaya.
Besarnya porsi perkebunan rakyat membuat transformasi menuju sawit berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga menyangkut kesejahteraan masyarakat. Saat ini sektor sawit menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 3,45 juta penduduk Riau atau sekitar 51,24% populasi provinsi tersebut.
Suher mengatakan, pemanfaatan pupuk organik berbasis limbah sawit ini juga merupakan respons terhadap tingginya harga pupuk kimia yang membebani petani dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, penggunaan pupuk organik tidak hanya bertujuan mengurangi biaya produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah yang mengalami kejenuhan akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus.
"Tujuan kegiatan ini adalah membantu petani mengurangi beban biaya pupuk dan biaya produksi. Dengan pemanfaatan pupuk organik, unsur hara tanah dapat dipertahankan sehingga produktivitas tanaman sawit diharapkan meningkat," ujarnya.
Dia menambahkan, ketika kondisi tanah kembali sehat, unsur hara yang tersimpan di dalam tanah dapat lebih optimal diserap oleh tanaman. Dengan demikian, kebutuhan pupuk kimia dapat ditekan secara bertahap tanpa mengorbankan produktivitas kebun.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Riau terus mendorong peningkatan produktivitas perkebunan rakyat melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sejak 2017 hingga 2026, realisasi PSR di Riau telah mencapai 51.323 hektar yang melibatkan 216 kelembagaan petani dan lebih dari 22.000 pekebun.
Program tersebut didukung pendanaan BPDP yang telah mencapai lebih dari Rp1,7 triliun. Pemerintah daerah berharap dukungan peremajaan kebun yang dibarengi penerapan konsep ekonomi sirkular dan zero waste dapat memperkuat daya saing sawit rakyat sekaligus menjaga keberlanjutan industri sawit Riau di masa depan.
Limbah Jadi Cuan, BPDP-Asosasi Petani Sawit Ekspor 28 Ton Lidi ke China
BPDP dan ASPEKPIR ekspor 28 ton lidi sawit ke China, mengubah limbah jadi cuan. Ini tonggak penting bagi petani dan UMKM dalam memanfaatkan limbah sawit. [606] url asal
#lidi-sawit #ekspor-lidi-sawit #bpdp-ekspor #aspekpir #limbah-sawit #produk-turunan-sawit #pasar-ekspor-sawit #umkm-sawit #koperasi-sawit #nilai-ekonomi-sawit #pelepah-sawit #biomassa-sawit #ekonomi-si
(Bisnis.Com - Terbaru) 21/06/26 16:30
v/255512/
Bisnis.com, BATAM – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia melepas ekspor perdana lidi sawit sebanyak 28 ton ke China dalam sebuah seremoni yang digelar di gudang PT Arra Setya Abadi, Belawan, Medan, Sumatra Utara.
Lidi sawit yang diekspor tersebut berasal dari perkebunan rakyat di Provinsi Riau, Sumatera Utara, dan Aceh. Produk tersebut dikumpulkan dan diolah oleh petani sawit, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta koperasi anggota ASPEKPIR melalui program pemberdayaan yang didukung BPDP.
Ketua Umum ASPEKPIR Setiyono mengatakan ekspor perdana ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan usaha berbasis limbah sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan,” ujar Setiyono.
Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Anwar Sadat, menyampaikan bahwa pihaknya telah sejak lama mendorong pemanfaatan produk samping dan limbah kelapa sawit sebagai sumber nilai tambah ekonomi, termasuk lidi sawit.
Menurutnya, kerja sama dengan ASPEKPIR telah diwujudkan melalui berbagai workshop dan kegiatan diseminasi sejak 2024. Program tersebut dilaksanakan di sejumlah daerah sentra sawit seperti Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Pasang Kayu, Sulawesi Barat.
“BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa BPDP saat ini terus memperkuat kapasitas petani melalui berbagai program strategis, antara lain Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), bantuan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia perkebunan, penelitian dan pengembangan, serta promosi perkebunan.
Keberhasilan ekspor perdana ini juga dinilai menunjukkan bahwa industri sawit memiliki manfaat yang luas dan inklusif karena melibatkan petani, perempuan, pemuda, UMKM, koperasi, hingga pelaku ekspor dalam satu rantai pasok yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian daerah.
Setiyono menambahkan, sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku lidi sawit yang diekspor ke China. Aktivitas tersebut diperkirakan memberikan manfaat ekonomi bagi sekitar 2.800 anggota koperasi.
Sementara itu, Direktur Utama PT Arra Setya Abadi Ilham Setiadi mengatakan permintaan pasar internasional terhadap lidi sawit terus menunjukkan tren positif. Sejak akhir 2024, pihaknya bersama ASPEKPIR dan BPDP aktif melakukan sosialisasi serta pendampingan pengembangan usaha ekspor lidi sawit di berbagai daerah.
“Peluang pasar ekspor masih sangat terbuka lebar. Ini menjadi kesempatan besar bagi petani dan UMKM di sentra perkebunan sawit untuk meningkatkan pendapatan melalui produk turunan sawit,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yang diwakili Tsarwah mengapresiasi keberhasilan ekspor perdana tersebut. Menurutnya, Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk mengembangkan berbagai produk berbasis limbah kelapa sawit yang bernilai tambah.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi petani, dan masyarakat menjadi faktor utama dalam mendorong keberhasilan ekspor produk-produk turunan sawit.
Pengembangan lidi sawit dinilai sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan pelepah dan biomassa sawit sebagai bahan baku produk UMKM tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat di sekitar perkebunan.
Selain pelepasan ekspor perdana, BPDP dan ASPEKPIR juga menyelenggarakan workshop praktik ekspor lidi sawit di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada 18 Juni 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta tersebut dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara koperasi sawit dan pelaku ekspor guna meningkatkan produksi lidi sawit siap ekspor.
Ekspor perdana ke China ini menjadi langkah awal dalam memperluas pasar produk turunan sawit Indonesia sekaligus membuktikan bahwa limbah perkebunan dapat diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
28 Ton 'Limbah Sawit' dari Sumatera Tembus Pasar China
Ekspor lidi sawit ke China melibatkan 7 koperasi petani sawit dalam program UMKM BPBD [380] url asal
#limbah-sawit #lidi-sawit #petani-sawit #koperasi-petani-sawit #bpbd #aspekpir
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Limbah kelapa sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan mulai menjadi sumber ekonomi baru bagi petani dan pelaku usaha kecil. Sebanyak 28 ton lidi sawit dari perkebunan di Riau, Sumatra Utara, dan Aceh diekspor perdana ke China melalui kolaborasi petani, koperasi, UMKM, dan eksportir.
Ekspor perdana tersebut dilepas dalam kegiatan yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia di Belawan, Medan, Sumatera Utara, pada Rabu (17/6/2026).
Ketua Umum ASPEKPIR Setiyono menjelaskan, ekspor perdana itu merupakan tindak lanjut dari berbagai program pemberdayaan UMKM yang dijalankan bersama BPDP di sejumlah daerah sentra sawit. Menurut dia, sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku lidi sawit yang diekspor ke China.
Ia mengatakan, keterlibatan koperasi tersebut berpotensi memberikan manfaat ekonomi kepada sekitar 2.800 anggota koperasi. Pengembangan usaha berbasis limbah sawit dinilai dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani di tengah upaya meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan.
"Lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan," ujar Setiyono.
BPDP menilai pemanfaatan lidi sawit menunjukkan bahwa produk samping perkebunan dapat diolah menjadi komoditas bernilai jual. Selama beberapa tahun terakhir, BPDP bersama ASPEKPIR melakukan berbagai workshop dan pendampingan di sejumlah daerah untuk meningkatkan kualitas produksi agar memenuhi standar pasar ekspor.
Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Anwar Sadat menjelaskan bahwa lidi sawit memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari bahan baku ekspor hingga produk kerajinan UMKM.
Menurut dia, pengembangan produk berbasis limbah sawit juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular karena membantu mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat sekitar perkebunan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Arra Setya Abadi Ilham Setiadi menyampaikan bahwa permintaan pasar internasional terhadap lidi sawit terus menunjukkan tren positif. Karena itu, peluang pengembangan usaha berbasis limbah sawit dinilai masih terbuka luas bagi petani dan UMKM di berbagai daerah sentra perkebunan.
Selain pelepasan ekspor perdana, BPDP dan ASPEKPIR juga menggelar workshop praktik ekspor lidi sawit di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta dan diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman antara koperasi sawit dan pelaku ekspor untuk meningkatkan produksi lidi sawit siap ekspor.
Limbah Sawit Jadi Pakan, Biaya Peternakan Sapi Bisa Turun 40 Persen
Kemenko Pangan mendorong limbah sawit menjadi pakan sapi. Skema Siska disebut bisa menekan biaya peternakan hingga 40 persen. [327] url asal
#sapi #pangan #limbah-sawit #kemenko-pangan
(Kompas.com - Money) 19/06/26 09:56
v/254220/
JAKARTA, KOMPAS.com - Limbah perkebunan kelapa sawit dinilai bisa menjadi sumber pakan sapi untuk menekan biaya peternakan.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyebut skema tersebut bisa menurunkan biaya pakan hingga 40 persen melalui Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska).
Deputi Bidang Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan Widiastuti mengatakan, Siska memanfaatkan sumber daya lokal untuk meningkatkan produksi daging dan susu nasional.
“SISKA menjadi solusi berbasis sumber daya lokal yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung kemandirian protein hewani nasional,” kata Widiastuti dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/6/2026).
Konsep Siska memanfaatkan limbah perkebunan kelapa sawit sebagai pakan sapi. Limbah tersebut meliputi bungkil inti, pelepah, dan daun sawit.
Area perkebunan kelapa sawit juga ditanami rumput untuk pakan ternak.
Pemerintah menilai skema itu membuat usaha peternakan sapi lebih efisien. Biaya pakan menjadi salah satu komponen terbesar dalam usaha peternakan.
Widiastuti mengatakan, Siska juga diarahkan untuk meningkatkan produksi protein hewani dalam skala besar.
Program tersebut disiapkan untuk menekan ketergantungan impor daging dan susu sapi.
Saat ini, produksi susu dalam negeri baru memenuhi 20 persen kebutuhan nasional.
Pemerintah mencatat luas kebun kelapa sawit di Indonesia mencapai 16,38 juta hektare.
Menurut Widiastuti, populasi sapi berpotensi bertambah hingga 2,73 juta ekor jika separuh lahan tersebut digunakan untuk program Siska.
Tambahan populasi itu mencakup sapi untuk penggemukan dan pembibitan.
Pemerintah berharap peningkatan populasi sapi bisa menekan impor daging. Impor daging pada 2026 diperkirakan mencapai 297.000 ton.
Widiastuti menilai integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit juga bisa meningkatkan pendapatan petani.
Petani bisa melakukan diversifikasi usaha. Kotoran sapi juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Meski demikian, penerapan Siska masih menghadapi sejumlah tantangan.
Tantangan tersebut mencakup kebutuhan investasi, regulasi, serta sinergi antara pemerintah, perusahaan perkebunan, koperasi, dan masyarakat.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi menjadikan integrasi sapi-sawit sebagai penggerak kesejahteraan petani dan peternak,” tutur Widiastuti.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Tandan Kosong Sawit Dibidik Jadi Energi, Agrinas Palma Gandeng Perusahaan Korea
Agrinas Palma menjajaki kerja sama dengan konsorsium Korea Selatan untuk mengolah biomassa sawit menjadi biochar dan biopellet. [307] url asal
#sawit #limbah-sawit #tbs #agrinas
(Kompas.com - Money) 17/06/26 14:03
v/252102/
JAKARTA, KOMPAS.com- PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menjajaki kerja sama dengan konsorsium asal Korea Selatan, Hwasung Tech-Win Co., Ltd.
Penjajakan tersebut diarahkan untuk pemanfaatan biomassa sawit, terutama tandan buah kosong atau empty fruit bunch (EFB).
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengatakan, pembahasan kerja sama mencakup peluang pengolahan EFB menjadi biochar, biopellet, pupuk berbasis karbon, dan biodiesel.
"Pengembangan energi hijau dan pemanfaatan biomassa merupakan bagian dari upaya Agrinas Palma untuk menciptakan bisnis yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat," kata Abdul Ghani dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026).
Pertemuan antara Agrinas Palma dan Hwasung Tech-Win dilakukan di Jakarta yang dihadiri jajaran pimpinan dari masing-masing perusahaan.
Hwasung Tech-Win merupakan konsorsium yang bergerak di bidang rekayasa termal dan teknologi, termasuk fasilitas lingkungan energi.
Abdul Ghani mengatakan, penjajakan kerja sama ini sejalan dengan komitmen Agrinas Palma untuk menjalankan prinsip keberlanjutan dan meningkatkan nilai ekonomi sektor perkebunan.
Agrinas Palma menyatakan terbuka menjalin kolaborasi dengan mitra internasional, mulai dari pengelolaan perkebunan hingga pengolahan produk hilir berorientasi ekspor.
President Director Hwasung Tech-Win Co., Ltd. Lim Daetaeg mengatakan, sejumlah teknologi pengolahan biomassa berpotensi diterapkan di fasilitas pengolahan kelapa sawit milik Agrinas Palma.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan produk energi terbarukan, tetapi juga mendukung skema perdagangan karbon.
Meski demikian, kerja sama ini masih berada pada tahap awal.
Agrinas Palma dan Hwasung akan bertukar informasi teknis, menyusun proposal kerja sama, dan melakukan studi kelayakan.
Studi tersebut diperlukan untuk menentukan model bisnis yang paling sesuai.
Abdul Ghani berharap, penjajakan ini menjadi langkah awal Agrinas Palma memperkuat kerja sama internasional.
Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mendukung hilirisasi, transisi energi, dan pengembangan ekonomi hijau.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bukan Sekadar Limbah, POME Kini Jadi Senjata Baru Transisi Energi Nasional
Limbah cair kelapa sawit atau POME ternyata bisa jadi sumber energi bersih. [584] url asal
#cbg #biomethane #limbah-sawit #pome #transisi-energi #ketahanan-energi-nasional #dekarbonisasi #pln-epi #pln
Jakarta: PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menilai pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dapat menjadi salah satu solusi paling efektif untuk menekan emisi metana sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).Hal tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) bertajuk Peluang dan Strategi Pembiayaan Kegiatan Pengurangan Emisi metana untuk Sektor Industri di Indonesia di Pullman Hotel Thamrin Jakarta pekan lalu.
Hokkop mengungkapkan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengubah limbah sawit menjadi sumber energi rendah karbon yang bernilai ekonomi. Pemanfaatan POME menjadi CBG dinilai mampu mendukung target dekarbonisasi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
"Kalau industri sawit ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan," kata Hokkop dalam keterangan tertulis, Selas,a 16 Juni 2026.
Potensi besar
Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit dengan potensi limbah cair mencapai sekitar 130 juta meter kubik per tahun. Namun hingga kini sebagian besar potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi domestik.Di sisi lain, limbah POME menjadi salah satu penyumbang emisi metana yang signifikan. PLN EPI memperkirakan emisi dari limbah sawit mencapai sekitar 20 juta ton CO2e per tahun.
"Kita melihat sumber emisi dari POME ini mencapai sekitar 20 juta ton karbon ekuivalen. Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru," ujarnya.
Hokkop menjelaskan pengembangan CBG tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga mendukung target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 44-48 persen pada 2030 serta pencapaian Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Untuk mempercepat pengembangan industri biomethane, PLN EPI membangun ekosistem CBG terintegrasi mulai dari pengamanan pasokan bahan baku, pengembangan fasilitas produksi, hingga penciptaan pasar.
Dalam model tersebut, PLN EPI berperan sebagai agregator dan offtaker yang menghubungkan pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, sektor industri, hingga pembangkit listrik.
"Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat," ungkapnya.
Salah satu implementasi yang tengah dipersiapkan PLN EPI adalah proyek cofiring CBG di PLTGU Belawan. Untuk satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt (MW) dengan tingkat cofiring 2,5 persen, dibutuhkan sekitar 450 MMBTUD Bio-CBG yang berasal dari pemanfaatan sekitar 330.000 meter kubik POME per tahun atau setara satu fasilitas CBG.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan empat turbin di PLTGU Belawan, diperlukan sekitar empat fasilitas CBG dengan total investasi sekitar USD20 juta. Implementasi tersebut diperkirakan mampu menghindari emisi hingga sekitar 500 ribu ton CO2e.
PLN EPI juga menghitung potensi pengembangan CBG secara nasional sangat besar. Dari total kapasitas pembangkit berbasis gas sebesar 18,4 gigawatt (GW), kebutuhan CBG untuk skema cofiring 2,5 persen diperkirakan mencapai sekitar 60.000 MMBTUD dengan melibatkan sekitar 200 pabrik kelapa sawit. Potensi pengurangan emisinya dapat mencapai sekitar 14 juta ton CO2e.
Selain manfaat lingkungan, pengembangan CBG juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang signifikan. Berdasarkan simulasi PLN EPI, satu proyek CBG dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun dan mengurangi emisi sekitar 700 ribu ton CO2e.
PLN EPI menargetkan pengembangan bisnis CBG secara bertahap hingga 2030. Dalam roadmap perusahaan, kapasitas produksi CBG ditargetkan meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030. Pada periode yang sama, disertai pembangunan tiga fasilitas CBG untuk memasok kebutuhan pembangkit dan mendukung program dedieselisasi nasional.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)
PLN EPI kembangkan bio-CNG berbasis limbah sawit
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengembangkan bio-compressed natural gas (bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit dalam rangka mendukung diversifikasi ... [492] url asal
#pln-epi #transisi-energi #bio-cng #energi-terbarukan #limbah-sawit
PLN EPI terus mendorong pemanfaatan limbah sawit menjadi sumber energi yang bernilai tambah
Jakarta (ANTARA) - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengembangkan bio-compressed natural gas (bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit dalam rangka mendukung diversifikasi energi hijau dan percepatan transisi energi nasional.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir, dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengatakan melalui pengembangan bio-CNG, pihaknya berupaya mengoptimalkan pemanfaatan limbah domestik menjadi sumber energi rendah karbon, yang mendukung ketahanan energi sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.
Menurut dia, pengembangan bio-CNG juga menjadi salah satu langkah konkret perusahaan dalam mengoptimalkan potensi limbah biomassa nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi ketenagalistrikan.
"PLN EPI terus mendorong pemanfaatan limbah sawit menjadi sumber energi yang bernilai tambah," katanya saat diseminasi pengembangan biometana di Medan, Sumatera Utara, Kamis (4/6/2026).
Forum, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM tersebut, mempertemukan kalangan pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan pemilik bahan baku untuk memperkuat ekosistem biometana nasional.
Hokkop melanjutkan melalui kerja sama dengan pemilik konsesi dan pabrik kelapa sawit, palm oil mill effluent (POME) dapat diolah menjadi biometana yang kemudian dimurnikan menjadi bio-CNG untuk mendukung kebutuhan energi pembangkit listrik.
Menurut dia, Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk pengembangan bio-CNG karena merupakan salah satu sentra industri kelapa sawit nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 327 perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di Sumatera Utara dengan 237 pabrik kelapa sawit yang berpotensi menjadi sumber bahan baku biometana.
PLN EPI saat ini telah menjalin kerja sama dengan PT KIS Biofuels Indonesia yang telah mengembangkan teknologi pengolahan limbah cair sawit menjadi bio-CNG.
Produk bio-CNG tersebut direncanakan untuk mendukung kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan, Sumatera Utara, yang memiliki kapasitas terpasang 1.184 MW dan berkontribusi sebesar 30 persen di sistem Sumatera bagian utara.
"Kami melihat peluang besar untuk memperluas pemanfaatan bio-CNG. Karena itu, PLN EPI terus membuka peluang kolaborasi dengan pabrik kelapa sawit (PKS) agar potensi limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diubah menjadi energi bersih yang bernilai ekonomi," tuturnya.
Hokkop menambahkan pengembangan biometana tidak hanya mendukung pengurangan penggunaan energi fosil, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku industri sawit melalui pemanfaatan limbah yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi optimal.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, pemanfaatan biometana juga memberikan manfaat lingkungan yang signifikan.
Dengan menangkap dan memanfaatkannya sebagai sumber energi, emisi gas rumah kaca kaca dapat ditekan sekaligus menghasilkan sumber energi terbarukan yang andal.
Hokkop melanjutkan pengembangan bio-CNG juga sejalan dengan komitmen PLN EPI dalam mendukung target transisi energi nasional dan pencapaian net zero emissions melalui peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestik.
Melalui pengembangan bio-CNG, PLN EPI tidak hanya mengubah limbah menjadi energi, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi hijau yang menghubungkan sektor perkebunan, industri, dan ketenagalistrikan.
"Langkah ini menjadi bukti bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai ekonomi, pengurangan emisi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," sebut Hokkop.
Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Kembaran Hijau Gas Alam Siap Jadi Pengganti LPG
BRIN bersama PTPN IV PalmCo, Sub Holding PTPN III (Persero), tengah mematangkan kajian pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG), gas biomethana berbasis... | Halaman Lengkap [512] url asal
#biomethane #limbah-sawit #perkebunan-sawit #palmco #brin
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 27/05/26 22:15
v/233674/
JAKARTA - Upaya mencari sumber energi alternatif pengganti LPG mulai mengarah ke sektor perkebunan sawit. Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ) bersama PTPN IV PalmCo, Sub Holding PTPN III (Persero), tengah mematangkan kajian pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG), gas biomethana berbasis limbah sawit yang kualitasnya diklaim setara dengan gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG).Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa mengatakan, pengembangan Bio-CBG menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengoptimalkan limbah sawit menjadi energi bernilai tambah tinggi. Selama ini limbah sawit identik dengan persoalan lingkungan.
“Sekarang pendekatannya berubah. Limbah justru bisa menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional,” kata Jatmiko dalam keterangannya dikutip Rabu (27/5/2026).
Menurut dia, proyek bersama BRIN difokuskan pada pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (palm oil mill effluent atau POME) dan biomassa tandan kosong menjadi biomethana berkadar tinggi. Gas tersebut kemudian dimurnikan hingga memiliki spesifikasi menyerupai gas bumi.
“Bio-CBG ini pada dasarnya merupakan ‘kembaran hijau’ dari CNG. Fungsinya sama dan bisa digunakan sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lainnya,” terang Jatmiko.
PalmCo saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan energi hijau berbasis sawit. Salah satu proyek yang sedang berjalan adalah pembangunan fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Tinjowan, Sumatra Utara. Bekerja sama dengan perusahaan mitra, perusahaan menargetkan pembangunan 17 instalasi Bio-CBG hingga 2029. Pada tahun ini, PalmCo merencanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk delapan proyek baru.
PGN Gagas dan Renikola Teken Kerja Sama Penyediaan Compressed Biomethane Gas
“Harapannya, fasilitas pengolahan limbah sawit tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga gas siap pakai yang bisa dimanfaatkan sektor industri maupun transportasi,” ujar Jatmiko.
Dari sisi teknologi, BRIN melakukan audit energi dan evaluasi teknis di sejumlah fasilitas PalmCo, termasuk di Pabrik Kelapa Sawit dan Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Sei Pagar, Riau. Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN Hens Putra mengatakan, sektor sawit memiliki potensi besar untuk mendukung agenda transisi energi nasional apabila limbahnya dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Energi menjadi prioritas nasional. Kajian ini bukan hanya menghitung potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan,” ungkap Hens.
Menurutnya, pengembangan Bio-CBG berbasis sawit sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon karena mampu menekan emisi metana dan menghasilkan produk turunan lain yang bernilai tambah. BRIN juga melihat peluang pengembangan kawasan inovasi berbasis industri sawit yang mengintegrasikan riset, pengolahan limbah, dan pengembangan energi baru terbarukan.
“Kami berharap model ini nantinya bisa direplikasi secara nasional dan menjadi contoh pengembangan energi berbasis sawit di Indonesia,” tandas Hens.
Sementara itu, Peneliti Energi BRIN, Samuel Pati Senda menjelaskan, hasil audit lapangan di fasilitas PTBg cofiring Sei Pagar menunjukkan peningkatan efisiensi produksi gas metana. Produksi metana tercatat meningkat dari rata-rata 36.706 normal meter kubik (Nm3) per bulan pada 2025 menjadi sekitar 46.683 Nm3 per bulan pada periode pengujian tahun 2026.
“Pengembangan biomethana berbasis sawit juga dinilai dapat memperkuat target pemerintah mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23%. Pengolahan limbah sawit menjadi ‘kembaran hijau’ gas alam mulai dipandang sebagai salah satu solusi yang realistis dari sektor agroindustri nasional,” tandas Samuel.
BRIN bersama PalmCo kembangkan gas limbah sawit pengganti LPG
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo mengembangkan Bio-Compressed Biomethane Gas berbasis limbah ... [790] url asal
Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo mengembangkan Bio-Compressed Biomethane Gas berbasis limbah sawit sebagai alternatif pengganti LPG guna memperkuat ketahanan energi dan bauran energi terbarukan.
"Selama ini limbah sawit identik dengan persoalan lingkungan. Sekarang pendekatannya berubah. Limbah justru bisa menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional," kata Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Dia menyampaikan upaya mencari sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil impor mulai mengarah ke sektor perkebunan sawit.
Jatmiko mengatakan pihaknya bersama BRIN tengah mematangkan kajian pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG), gas biomethana berbasis limbah sawit yang kualitasnya setara dengan gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG).
Energi hasil pengolahan limbah kelapa sawit itu diproyeksikan dapat menjadi substitusi LPG impor sekaligus memperkuat bauran energi baru terbarukan nasional.
Dia mengatakan pengembangan Bio-CBG menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengoptimalkan limbah sawit menjadi energi bernilai tambah tinggi.
Menurut dia, proyek bersama BRIN difokuskan pada pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (palm oil mill effluent atau POME) dan biomassa tandan kosong menjadi biomethana berkadar tinggi. Gas tersebut kemudian dimurnikan hingga memiliki spesifikasi menyerupai gas bumi.
"Bio-CBG ini pada dasarnya merupakan ‘kembaran hijau’ dari CNG. Fungsinya sama dan bisa digunakan sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lainnya," terang Jatmiko.
Menurutnya langkah itu sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang tengah menekan ketergantungan impor energi.
PalmCo saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan energi hijau berbasis sawit.
Salah satu proyek yang sedang berjalan ialah pembangunan fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Tinjowan, Sumatera Utara.
Bekerja sama dengan perusahaan mitra, perusahaan menargetkan pembangunan 17 instalasi Bio-CBG hingga 2029.
Sedangkan, pada tahun ini, PalmCo merencanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk 8 proyek baru.
"Ini kami lakukan bertahap. Harapannya, fasilitas pengolahan limbah sawit tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga gas siap pakai yang bisa dimanfaatkan sektor industri maupun transportasi," ujarnya.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, pengembangan biomethana dinilai menjadi peluang baru bagi industri sawit. Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia menghasilkan limbah cair dan biomassa dalam jumlah besar setiap tahun.
Dalam proses alami, limbah cair sawit melepaskan gas metana yang memiliki dampak emisi lebih besar dibanding karbon dioksida.
Karena itu, penangkapan metana untuk diolah menjadi energi dipandang mampu menekan emisi sekaligus menciptakan sumber energi alternatif.
Dari sisi teknologi, BRIN melakukan audit energi dan evaluasi teknis di sejumlah fasilitas PalmCo, termasuk di Pabrik Kelapa Sawit dan Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Sei Pagar, Riau.
Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN Hens Putra mengatakan sektor sawit memiliki potensi besar untuk mendukung agenda transisi energi nasional apabila limbahnya dapat dimanfaatkan secara optimal.
"Energi menjadi prioritas nasional. Kajian ini bukan hanya menghitung potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan," ungkap Hens.
Menurut dia, pengembangan Bio-CBG berbasis sawit sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon karena mampu menekan emisi metana dan menghasilkan produk turunan lain yang bernilai tambah.
BRIN juga melihat peluang pengembangan kawasan inovasi berbasis industri sawit atau technopark yang mengintegrasikan riset, pengolahan limbah, dan pengembangan energi baru terbarukan.
"Kami berharap model ini nantinya bisa direplikasi secara nasional dan menjadi contoh pengembangan energi berbasis sawit di Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Peneliti Energi BRIN Samuel Pati Senda menjelaskan hasil audit lapangan di fasilitas PTBg cofiring Sei Pagar menunjukkan peningkatan efisiensi produksi gas metana.
Produksi metana tercatat meningkat dari rata-rata 36.706 normal meter kubik (Nm3) per bulan pada 2025 menjadi 46.683 Nm3 per bulan pada periode pengujian tahun 2026.
"Data itu menunjukkan teknologi pengolahan limbah sawit untuk energi sudah cukup matang dan layak direplikasi dalam skala lebih besar," kata Samuel.
Menurut dia, pemanfaatan limbah sawit menjadi Bio-CBG tidak semata-mata terkait penyediaan energi alternatif, tetapi juga bagian dari penerapan ekonomi sirkular di industri perkebunan.
"Limbah yang sebelumnya menjadi sumber emisi kini bisa diubah menjadi energi bersih. Jadi ada manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi," ujarnya.
Pengembangan biomethana berbasis sawit juga dinilai dapat memperkuat target pemerintah mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen.
Di tengah tantangan transisi energi dan tingginya impor LPG, pengolahan limbah sawit menjadi "kembaran hijau" gas alam mulai dipandang sebagai salah satu solusi yang realistis dari sektor agroindustri nasional.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pemanfaatan gas domestik menjadi salah satu strategi untuk mengurangi beban impor LPG yang setiap tahun masih cukup tinggi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut penggunaan energi berbasis gas dalam negeri lebih kompetitif karena sumber daya dan industrinya tersedia di Indonesia.
"Gasnya ada di kita, industrinya juga ada di dalam negeri. Karena itu pengembangannya perlu terus diperluas," ujar Bahlil dalam keterangan terkait program substitusi energi impor.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Pemanfaatan Geosintetik dalam Pembangunan Pabrik BioCNG® Ramah Lingkungan Pertama di Tapung Hilir
Sebagai salah satu penghasil minyak sawit terbesar di Indonesia, Riau kembali hadir dengan langkah progresif untuk mengatasi masalah pengelolaan limbah cair pabrik... | Halaman Lengkap [871] url asal
#industri-sawit #pengolahan-limbah #limbah-sawit
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/05/26 12:58
v/227522/
Sebagai salah satu penghasil minyak sawit terbesar di Indonesia, Riau kembali hadir dengan langkah progresif untuk mengatasi masalah pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Hal ini diwujudkan dengan membangun pabrik BioCNG® komersial pertama di wilayah Tapung Hilir, Kabupaten Kampar.Dalam pembangunan fasilitas tersebut, penggunaan material yang tepat, seperti geosintetik berupa geotextile dan geomembran menjadi sangat penting untuk menjaga keamanan lingkungan. Geotextile berfungsi sebagai lapisan pemisah dan filtrasi. Sementara itu, geomembrane berperan sebagai lapisan kedap untuk mencegah kebocoran limbah ke tanah dan air di sekitarnya. Keduanya memiliki peran krusial dalam sistem pengolahan POME, terutama pada kolam penampungan dan instalasi biogas. Urban Plastic turut mendukung keberhasilan proyek-proyek ramah lingkungan semacam ini dengan menyediakan pasokan produk geosintetik yang tangguh, meskipun Urban Plastic murni bertindak sebagai supplier material dan tidak mengambil andil secara langsung dalam proses konstruksi proyek tersebut.
Latar Belakang Pembangunan Pabrik BioCNG® di Tapung Hilir
Saat ini, KIS Group bersama AEP Group resmi memulai pembangunan pabrik BioCNG® di Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Proyek ini menjadi tonggak penting dalam mendorong industri kelapa sawit yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Untuk pertama kalinya di wilayah ini, limbah cair pabrik kelapa sawit akan diolah menjadi energi terbarukan berupa BioCNG, sebuah inovasi yang tidak hanya membantu mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi.
Proyeksi dan Target Jangka Panjang
-Pabrik BioCNG® di Tapung ini dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 142.450 MMBTU per tahun.
-Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai unit pengolahan limbah, tetapi juga sebagai sumber energi alternatif yang bernilai tinggi.
-Fasilitas ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 70.085 ton setara CO2 per tahun.
-Pengurangan emisi ini berasal dari penangkapan gas metana yang sebelumnya dilepaskan ke udara dari limbah POME milik PT Bina Pitri Jaya.
Peran Penting Geosintetik dalam Pembangunan Pabrik BioCNG
Proyek ini memiliki peran penting dalam menangkap emisi metana dari limbah cair PT Bina Pitri Jaya. Selama ini, limbah POME dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang signifikan jika tidak dikelola dengan baik. Melalui teknologi BioCNG®, gas metana yang sebelumnya terlepas ke atmosfer kini dimanfaatkan sebagai sumber energi yang memiliki nilai ekonomis.
Dalam pembangunan pabrik BioCNG, digunakan berbagai material pendukung yang tahan terhadap kondisi lingkungan dan paparan bahan kimia. Salah satu material penting yang digunakan adalah geosintetik, seperti geotextile dan geomembrane, yang berfungsi melapisi kolam atau penampungan limbah agar tidak terjadi kebocoran yang dapat mencemari tanah dan air di sekitarnya. Di sinilah Urban Plastic hadir menyediakan produk-produk unggulannya untuk memenuhi kebutuhan suplai proyek, tanpa terlibat dalam pengerjaan teknis di lapangan.
Penggunaan Geomembrane untuk Lapisan Kedap
Geomembrane, terutama jenis HDPE (High-Density Polyethylene), berfungsi sebagai lapisan kedap yang mencegah limbah meresap ke dalam tanah. Pada pembangunan pabrik BioCNG® ini, material ini sangat krusial digunakan dalam kolam penampungan limbah POME, kolam anaerobik untuk produksi biogas, sistem pengolahan air limbah, sekaligus penampungan residu.
Fungsi utama geomembrane adalah mencegah rembesan limbah ke dalam tanah yang dapat mencemari air tanah dan lingkungan sekitar. Hal ini sangat penting karena POME mengandung bahan organik tinggi yang berpotensi merusak ekosistem jika tidak dikelola dengan baik. Dengan adanya geomembrane, risiko pencemaran air tanah dapat ditekan secara maksimal. Selain itu, material ini juga tahan terhadap bahan kimia dan memiliki umur pakai panjang, sehingga cocok untuk aplikasi industri kelapa sawit. Material geomembrane dari Urban Plastic dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan durabilitas industri yang tinggi .
Penggunaan Material Geotextile Sebagai Pelindung
Dalam pembangunan pabrik BioCNG®, penggunaan geotextile menjadi bagian penting dalam sistem pengolahan limbah, khususnya pada fasilitas yang menangani POME. Geotextile digunakan sebagai lapisan pendukung yang berfungsi melindungi geomembrane dari potensi kerusakan akibat tekanan, gesekan, maupun benda tajam dari tanah dasar.
Hal ini sangat krusial mengingat kolam penampungan limbah dan reaktor biogas harus memiliki sistem kedap yang optimal untuk mencegah kebocoran dan pencemaran lingkungan. Selain sebagai pelindung, geotextile juga berfungsi sebagai media filtrasi yang mampu menyaring partikel halus, menjaga stabilitas aliran cairan, serta sebagai separator yang mencegah percampuran antar lapisan tanah dan material konstruksi.
Dengan karakteristiknya yang kuat dan fleksibel, geotextile turut meningkatkan stabilitas struktur secara keseluruhan. Geotextile umumnya dipasang di bawah geomembrane sebagai bagian dari sistem liner berlapis, sehingga memastikan sistem pengolahan limbah dapat beroperasi secara aman, efisien, dan ramah lingkungan dalam jangka panjang. Urban Plastic bangga dapat memproduksi dan menyuplai geotextile tangguh untuk fasilitas modern semacam ini.
Kombinasi Geotextile dan Geomembrane (Composite Liner System)
Supaya aplikasinya jadi lebih maksimal dalam pengelolaan limbah, penggunaan geotextile dan geomembrane harus dilakukan secara bersamaan, di mana metode ini dikenal sebagai composite liner system. Cara ini telah menjadi standar dalam proyek pengolahan limbah modern, termasuk pada pembangunan pabrik BioCNG®.
Sistem ini dirancang untuk memberikan perlindungan berlapis guna memastikan keamanan lingkungan dan kelancaran operasional dalam jangka panjang. Dalam penerapannya, geotextile berfungsi sebagai lapisan dasar sekaligus pelindung yang menjaga geomembrane dari potensi kerusakan, sementara geomembrane bertindak sebagai lapisan kedap utama untuk mencegah rembesan limbah.
Pada beberapa aplikasi, sistem ini juga dapat dilengkapi lapisan tambahan untuk kebutuhan drainase atau stabilisasi. Dengan kombinasi tersebut, risiko kebocoran dapat ditekan secara signifikan sehingga sistem pengolahan limbah menjadi lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan. Sebagai entitas yang peduli terhadap lingkungan, Urban Plastic terus mendukung pengelolaan limbah yang lebih baik melalui ketersediaan produk geosintetik untuk composite liner system, sembari tetap menjaga posisinya secara independen di luar eksekusi proyek itu sendiri.
Limbah Panen Berpeluang Jadi Sumber Listrik Baru, Sekam Padi dan Sawit Dinilai Paling Efisien
Limbah pertanian seperti sekam padi dan kelapa sawit berpotensi jadi sumber listrik efisien, mendukung elektrifikasi pedesaan dengan risiko residu rendah. [468] url asal
#sekam-padi #limbah-sawit #sumber-listrik-alternatif #biomassa-efisien #elektrifikasi-pedesaan #pembangkit-biomassa #fluidized-bed-combustion #teknologi-pembakaran #limbah-pertanian #energi-terbarukan
(Bisnis.Com - Terbaru) 07/05/26 15:37
v/214411/
Bisnis.com, JAKARTA — Limbah pertanian yang selama ini kerap terbuang setelah masa panen berpotensi menjadi sumber listrik alternatif, menurut penelitian terbaru.
Penelitian di Kolombia itu menunjukkan sekam padi dan limbah kelapa sawit lebih efisien dimanfaatkan sebagai bahan bakar biomassa dibanding limbah kopi.
Temuan tersebut dinilai membuka peluang penguatan elektrifikasi pedesaan di tengah masih terbatasnya akses energi di sejumlah wilayah berkembang.
Riset yang dilakukan tim teknik mesin Universitas Nasional Kolombia menemukan sekam padi dan cangkang inti sawit menghasilkan residu jauh lebih rendah dalam reaktor biomassa dibanding sekam kopi.
Dalam simulasi pembakaran bersuhu tinggi, limbah kopi membentuk gumpalan keras yang berpotensi menyumbat sistem, sedangkan sekam padi dan limbah sawit hanya meninggalkan endapan tipis.
Secara teknis, hasil tersebut penting karena salah satu tantangan utama pembangkit biomassa adalah penumpukan abu yang dapat menghambat aliran udara serta menurunkan efisiensi mesin. Jika residu lebih rendah, pembangkit dinilai dapat beroperasi lebih stabil dengan kebutuhan perawatan yang lebih kecil.
Teknologi yang diuji menggunakan metode fluidized-bed combustion, yakni sistem pembakaran dengan lapisan pasir panas yang terus bergerak. Teknologi ini banyak digunakan untuk mengubah limbah pertanian menjadi panas maupun listrik karena distribusi panas lebih merata.
Namun, sebagian biomassa memiliki kandungan mineral yang dapat meleleh pada suhu tinggi dan membentuk kerak di dalam reaktor. Kondisi itu berisiko menghentikan operasi pembangkit, sehingga karakteristik bahan baku menjadi faktor penting sebelum investasi dilakukan.
Sekam Padi dan Kelapa Sawit jadi Material Unggul
Dalam penelitian tersebut, sekam padi dan kelapa sawit dinilai unggul karena memiliki kandungan silika tinggi. Material itu lebih kompatibel dengan pasir silika di dalam reaktor sehingga mampu menekan pembentukan kerak.
Sebaliknya, limbah kopi mengandung kalium dan kalsium lebih tinggi yang berpotensi membentuk senyawa lengket selama proses pembakaran. Akibatnya, sistem pembangkit berisiko lebih sering berhenti untuk pembersihan dan pemeliharaan.
Secara ekonomi, temuan tersebut dinilai relevan bagi negara agraris dengan produksi padi dan sawit besar termasuk di Indonesia, di mana ketersediaan listrik belum merata. Pasokan sekam padi tersedia di sentra penggilingan, sementara limbah sawit terkonsentrasi di kawasan industri perkebunan.
Pemanfaatan limbah lokal menjadi listrik berpotensi mengurangi ketergantungan wilayah terpencil terhadap genset diesel yang mahal dan rawan terganggu pasokan bahan bakar. Model ini juga dapat menopang kebutuhan listrik fasilitas dasar seperti klinik, sekolah, hingga usaha mikro di pedesaan.
Meski demikian, pengembangan biomassa masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kualitas bahan baku yang tidak seragam, kadar air tinggi, kebutuhan operator terampil, hingga kebutuhan investasi awal yang relatif besar.
Selain itu, proyek biomassa juga perlu memastikan manfaat lingkungan tetap terjaga. Pembakaran tanpa sistem pengendali emisi berisiko menimbulkan polusi udara baru.
Karena itu, pembangkit biomassa skala kecil dinilai lebih efektif bila dikombinasikan dengan tenaga surya, baterai, atau jaringan mikro. Skema hibrida tersebut memungkinkan pasokan listrik lebih stabil dan tidak bergantung pada satu sumber energi saja.
Di tengah dorongan transisi energi global, limbah pertanian dinilai berpeluang naik kelas dari sisa produksi menjadi bagian penting sistem ketenagalistrikan masa depan.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56