Bisnis.com, JAKARTA — Limbah pertanian yang selama ini kerap terbuang setelah masa panen berpotensi menjadi sumber listrik alternatif, menurut penelitian terbaru.
Penelitian di Kolombia itu menunjukkan sekam padi dan limbah kelapa sawit lebih efisien dimanfaatkan sebagai bahan bakar biomassa dibanding limbah kopi.
Temuan tersebut dinilai membuka peluang penguatan elektrifikasi pedesaan di tengah masih terbatasnya akses energi di sejumlah wilayah berkembang.
Riset yang dilakukan tim teknik mesin Universitas Nasional Kolombia menemukan sekam padi dan cangkang inti sawit menghasilkan residu jauh lebih rendah dalam reaktor biomassa dibanding sekam kopi.
Dalam simulasi pembakaran bersuhu tinggi, limbah kopi membentuk gumpalan keras yang berpotensi menyumbat sistem, sedangkan sekam padi dan limbah sawit hanya meninggalkan endapan tipis.
Secara teknis, hasil tersebut penting karena salah satu tantangan utama pembangkit biomassa adalah penumpukan abu yang dapat menghambat aliran udara serta menurunkan efisiensi mesin. Jika residu lebih rendah, pembangkit dinilai dapat beroperasi lebih stabil dengan kebutuhan perawatan yang lebih kecil.
Teknologi yang diuji menggunakan metode fluidized-bed combustion, yakni sistem pembakaran dengan lapisan pasir panas yang terus bergerak. Teknologi ini banyak digunakan untuk mengubah limbah pertanian menjadi panas maupun listrik karena distribusi panas lebih merata.
Namun, sebagian biomassa memiliki kandungan mineral yang dapat meleleh pada suhu tinggi dan membentuk kerak di dalam reaktor. Kondisi itu berisiko menghentikan operasi pembangkit, sehingga karakteristik bahan baku menjadi faktor penting sebelum investasi dilakukan.
Sekam Padi dan Kelapa Sawit jadi Material Unggul
Dalam penelitian tersebut, sekam padi dan kelapa sawit dinilai unggul karena memiliki kandungan silika tinggi. Material itu lebih kompatibel dengan pasir silika di dalam reaktor sehingga mampu menekan pembentukan kerak.
Sebaliknya, limbah kopi mengandung kalium dan kalsium lebih tinggi yang berpotensi membentuk senyawa lengket selama proses pembakaran. Akibatnya, sistem pembangkit berisiko lebih sering berhenti untuk pembersihan dan pemeliharaan.
Secara ekonomi, temuan tersebut dinilai relevan bagi negara agraris dengan produksi padi dan sawit besar termasuk di Indonesia, di mana ketersediaan listrik belum merata. Pasokan sekam padi tersedia di sentra penggilingan, sementara limbah sawit terkonsentrasi di kawasan industri perkebunan.
Pemanfaatan limbah lokal menjadi listrik berpotensi mengurangi ketergantungan wilayah terpencil terhadap genset diesel yang mahal dan rawan terganggu pasokan bahan bakar. Model ini juga dapat menopang kebutuhan listrik fasilitas dasar seperti klinik, sekolah, hingga usaha mikro di pedesaan.
Meski demikian, pengembangan biomassa masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kualitas bahan baku yang tidak seragam, kadar air tinggi, kebutuhan operator terampil, hingga kebutuhan investasi awal yang relatif besar.
Selain itu, proyek biomassa juga perlu memastikan manfaat lingkungan tetap terjaga. Pembakaran tanpa sistem pengendali emisi berisiko menimbulkan polusi udara baru.
Karena itu, pembangkit biomassa skala kecil dinilai lebih efektif bila dikombinasikan dengan tenaga surya, baterai, atau jaringan mikro. Skema hibrida tersebut memungkinkan pasokan listrik lebih stabil dan tidak bergantung pada satu sumber energi saja.
Di tengah dorongan transisi energi global, limbah pertanian dinilai berpeluang naik kelas dari sisa produksi menjadi bagian penting sistem ketenagalistrikan masa depan.