#30 tag 24jam
Perbanas: Daya tarik SRBI picu persaingan dana dan menekan likuiditas
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi memandang bahwa daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menciptakan dua ... [600] url asal
#perbanas #perbankan #srbi #imbal-hasil-srbi #outstanding-srbi #kepemilikan-srbi
Kenaikan outstanding yield SRBI dan volumenya memperbesar tekanan likuiditas dan memperketat kompetisi penghimpunan dana rupiah.
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi memandang bahwa daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menciptakan dua tekanan bagi perbankan, yakni memperketat persaingan penghimpunan dana serta menyerap likuiditas yang berpotensi mengurangi kapasitas intermediasi.
Ia menjelaskan, meningkatnya daya tarik SRBI memperketat kompetisi penghimpunan dana, sehingga mendorong penyesuaian pricing deposito perbankan. Kondisi tersebut membuat likuiditas di pasar semakin mengetat.
“Kenaikan outstanding yield SRBI dan volumenya memperbesar tekanan likuiditas dan memperketat kompetisi penghimpunan dana rupiah,” kata Hery yang juga merupakan Direktur Utama BRI dalam acara Mid Year Economic Outlook 2026, di Jakarta, Jumat.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), total outstanding SRBI per akhir Mei 2026 mencapai Rp979,88 triliun, meningkat signifikan dari Rp730,90 triliun pada akhir Desember 2025.
Dari total tersebut, kepemilikan bank mencapai Rp677,89 triliun. Sementara kepemilikan nonbank sebesar Rp260,44 triliun, yang terdiri atas residen Rp43,95 triliun dan nonresiden Rp216,48 triliun.
“Nah, pertumbuhan outstanding yang signifikan ini menunjukkan bahwa SRBI semakin menjadi instrumen penempatan dana yang kompetitif, baik bagi bank maupun investor nonbank,” kata Hery.
BI tengah memperkuat imbal hasil (yield) SRBI pada seluruh tenor seiring kenaikan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei-Juni 2026.
Langkah ini ditempuh bank sentral guna menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke aset keuangan domestik, sehingga turut memperkuat nilai tukar rupiah.
Berdasarkan publikasi kurva imbal hasil transaksi pasar uang, rata-rata tertimbang (RRT) imbal hasil SRBI di pasar sekunder pada seluruh tenor cenderung meningkat pada Jumat (19/6). Secara rinci, SRBI tenor 1 bulan tercatat 6,95 persen, tenor 3 bulan 7,24 persen, dan 12 bulan 7,67 persen.
Seiring dengan kenaikan BI-Rate sebesar 100 bps, Hery mencatat bahwa kondisi tersebut secara struktural akan meningkatkan tekanan repricing dana pihak ketiga (DPK).
Kenaikan suku bunga simpanan yang terjadi belakangan juga diperkirakan akan menekan net interest margin (NIM) perbankan.
“Artinya, buat perbankan, cost of fund akan memiliki kecenderungan untuk naik. Kalau cost of fund atau cost of capital-nya meningkat, maka dalam kondisi seperti ini disiplin menjadi kata kunci. Sekarang kita memasuki era selective growth atau pertumbuhan yang selektif,” kata Hery lagi.
Meski secara umum industri perbankan masih tergolong solid, Hery juga menilai bahwa sejumlah tekanan mulai muncul. Pertumbuhan DPK mulai melambat, NIM terkompresi, dan rasio kecukupan modal (CAR) sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
Di tengah mengetatnya likuiditas, ia pun menekankan pentingnya disiplin manajemen aset dan liabilitas serta konsisten membangun dana murah berupa tabungan dan giro. Dua hal ini, menurut Hery, menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan oleh perbankan.
Hery menambahkan, perbankan juga perlu menerapkan strategi penyaluran kredit yang lebih selektif dan produktif dengan memprioritaskan sektor-sektor produktif.
Hal itu dilakukan dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent), menetapkan risk appetite sektoral yang sesuai dengan kondisi makroekonomi terkini, serta membangun pipeline kredit berkualitas melalui pendekatan ekosistem yang lebih komprehensif.
Hery juga menekankan pentingnya pengelolaan kualitas aset secara proaktif melalui proses underwriting yang ketat, sistem early warning yang lebih granular, serta kesiapan fungsi penagihan (collection readiness) apabila kualitas kolektibilitas mulai menurun.
Selain itu, akselerasi transformasi digital dan pemanfaatan analitik data dinilai bukan lagi sekadar strategi jangka menengah, melainkan telah menjadi kebutuhan bisnis bagi industri perbankan saat ini.
Adapun kredit industri perbankan pada Mei 2026 tumbuh sebesar 11,51 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari April 2026 yang sebesar 9,98 persen (yoy). Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,47 persen (yoy) dan rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di level 24,74 persen.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Sentimen terhadap rupiah dipicu harga minyak mentah Brent yang turun
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan sentimen terhadap rupiah dipicu harga minyak mentah Brent turun di bawah 73 dolar AS per barel.Nilai tukar ... [362] url asal
#rupiah #rupiah-hari-ini #kurs-rupiah #pce #nilai-tukar-rupiah #imbal-hasil-obligasi
Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan sentimen terhadap rupiah dipicu harga minyak mentah Brent turun di bawah 73 dolar AS per barel.
Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.988 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.943 per dolar AS.
“Penurunan harga minyak tersebut meredakan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit Indonesia,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Ia menerangkan bahwa penurunan harga minyak dipicu ekspektasi peningkatan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Seiring harga minyak global melemah, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menurun, sehingga membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan fiskal.
Tercatat, imbal hasil obligasi pemerintah tenor acuan 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun masing-masing turun menjadi 7,21 persen (-4 basispoints (bps)), 7,18 persen (-3 bps), 7,28 persen (-2 bps), dan 7,26 persen (-4 bps).
Volume perdagangan SBN meningkat menjadi Rp24,91 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp17,33 triliun pada sesi sebelumnya, yang mencerminkan meningkatnya aktivitas perdagangan di pasar obligasi.
Sementara itu, kepemilikan asing atas SBN bertambah Rp160 miliar menjadi Rp875 triliun per 24 Juni 2026, atau setara dengan 12,66 persen dari total outstanding.
Melihat sentimen global, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) umum tercatat tetap sebesar 0,4 persen month-on-month (mom) pada Mei 2026, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,5 persen mom.
Secara tahunan, inflasi PCE umum meningkat menjadi 4,1 persen year-on-year (yoy) dari 3,8 persen yoy, sejalan dengan konsensus pasar. Adapun inflasi PCE inti naik tipis menjadi 3,4 persen yoy dari 3,3 persen yoy.
Lebih lanjut, realisasi inflasi bulanan yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan mulai meredanya tekanan inflasi dalam jangka pendek, sehingga sedikit mengurangi kekhawatiran terhadap persistennya inflasi di AS.
Di sisi lain, estimasi final pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2026 direvisi naik menjadi 2,1 persen quartal-on-quartal (qoq) dari sebelumnya 1,6 persen qoq, yang mencerminkan ketahanan ekonomi AS masih solid.
Berdasarkan faktor tersebut, rupiah diprediksi bergerak dalam kisaran Rp17.900–Rp18.025 per dolar AS pada hari ini.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
BI sebut kenaikan kepemilikan nonresiden SRBI bantu penguatan rupiah
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan peningkatan kepemilikan nonresiden (asing) terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi ... [409] url asal
#sekuritas-rupiah-bank-indonesia #imbal-hasil-srbi #yield-srbi #nilai-tukar-rupiah
Posisi SRBI pada 15 Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.021,1 triliun dengan kepemilikan nonresiden yang meningkat menjadi Rp238,1 triliun, atau 23,3 persen dari total outstanding
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan peningkatan kepemilikan nonresiden (asing) terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi Rp238,09 triliun memberikan dampak positif terhadap penguatan nilai tukar rupiah.
“Posisi SRBI pada 15 Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.021,1 triliun dengan kepemilikan nonresiden yang meningkat menjadi Rp238,1 triliun, atau 23,3 persen dari total outstanding, sehingga turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ucap Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis.
Ia menuturkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (17/6) tercatat sebesar Rp17.730 per dolar AS, atau menguat 0,76 persen point-to-point (ptp) dibandingkan dengan level akhir Mei 2026.
Peningkatan jumlah kepemilikan SRBI serta penguatan kurs rupiah tersebut, lanjut dia, dipengaruhi oleh respons kebijakan stabilisasi yang dilakukan pihaknya untuk meredam dampak dari tingginya ketidakpastian global serta besarnya permintaan valuta asing korporasi di dalam negeri.
Sejumlah kebijakan tersebut antara lain kenaikan suku bunga SRBI tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut pengumuman hasil lelang SRBI pada 17 Juni, Rate Rata-rata Tertimbang Pemenang (Weighted Average Accepted Rate) atau suku bunga final yang dibayarkan oleh BI kepada para pemenang lelang nantinya ditetapkan sebesar 7,12 persen untuk tenor 6 bulan, 7,33 persen untuk tenor 9 bulan, dan 7,59 persen untuk tenor 12 bulan.
Perry menyatakan, pihaknya juga meningkatkan intensitas intervensi terhadap arus valuta asing, baik melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (offshore) maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri.
Ia mengatakan, BI juga memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10 persen agar semakin meningkatkan daya tarik bagi investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.
Selain itu, bank sentral Indonesia tersebut turut memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) atau yuan terhadap rupiah, sejalan dengan semakin luasnya penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” imbuh Perry.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Menkeu siap stabilkan pasar obligasi saat nilai tukar sentuh Rp17.500
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan siap menstabilkan pasar obligasi dengan menjaga tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) guna ... [320] url asal
#menkeu #rupiah #stabilisasi-rupiah #nilai-tukar #pasar-obligasi #imbal-hasil-sbn
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan siap menstabilkan pasar obligasi dengan menjaga tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) guna membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini menyentuh Rp17.500 per dolar AS.
“Kita akan mulai membantu (bank sentral) besok, mungkin dengan masuk ke bond market,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa.
Purbaya mengatakan, stabilisasi dilakukan melalui bond stabilization fund (BSF) dengan menggunakan anggaran yang tersedia serta dimungkinkan melalui mekanisme buyback.
Di tengah laju pelemahan rupiah, ia meyakini Bank Indonesia (BI) mampu menjaga stabilitas nilai tukar sesuai mandat dan kapasitas yang dimilikinya.
Adapun intervensi di pasar obligasi dilakukan untuk menahan kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Purbaya mengingatkan, kenaikan yield yang berlebihan dapat memicu capital loss bagi investor asing dan mendorong arus modal keluar.
“Kita kendalikan itu supaya asing tidak keluar, atau malahan masuk kalau yield-nya membaik. Sehingga rupiah akan menguat. Kita akan masuk mulai besok,” kata dia.
Pada kesempatan tersebut, Purbaya juga memastikan perhitungan APBN masih relatif aman meski rupiah telah berada di atas asumsi APBN 2026, karena simulasi fiskal menggunakan asumsi kurs yang lebih tinggi.
Sebelumnya pada Senin (11/5), Purbaya mengatakan pemerintah masih akan mengandalkan pendanaan internal seperti kas dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk stabilisasi pasar obligasi, dan belum mengaktifkan penuh skema BSF yang melibatkan special mission vehicle (SMV) dan lembaga terkait lainnya.
Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Kamis (7/5), Purbaya juga telah menegaskan bahwa BSF bertujuan menjaga pasar surat utang tetap stabil dan tidak mudah digoyang investor asing.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini atau Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Ekonom: BSF sebaiknya jadi bantalan stabilisasi jangka pendek
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) oleh pemerintah sebaiknya ... [617] url asal
#bond-stabilization-fund #pasar-obligasi #surat-utang #imbal-hasil-sbn #yield-sbn #capital-outflow
pada akhirnya investor tetap melihat kredibilitas fiskal, stabilitas ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah
Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) oleh pemerintah sebaiknya diposisikan sebagai bantalan stabilisasi jangka pendek untuk menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN).
Ia mengingatkan bahwa efektivitas BSF akan terbatas jika tekanan berasal dari faktor fundamental. Jika defisit fiskal melebar, beban bunga utang meningkat, rupiah terus melemah, atau kepercayaan investor turun, maka BSF tidak akan cukup kuat menahan tekanan pasar.
“Karena pada akhirnya investor tetap melihat kredibilitas fiskal, stabilitas ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah,” kata Rizal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Rizal juga mengingatkan risiko moral hazard dan distorsi pasar yang perlu dijaga agar investor tidak bergantung pada intervensi pemerintah.
“Fondasi utamanya tetap memperkuat fiskal, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar keuangan dan basis investor domestik,” kata dia.
Meski begitu, Rizal memandang pembentukan BSF cukup relevan di tengah tekanan pasar keuangan saat ini.
Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp17.400 per dolar AS, sementara imbal hasil (yield) SBN 10 tahun bergerak di kisaran 6,7-7 persen.
Di sisi lain, kepemilikan asing di SBN turun menjadi sekitar 12,7 persen per April 2026, jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun lalu yang sempat di atas 30 persen.
Kondisi ini membuat pasar obligasi domestik lebih sensitif terhadap capital outflow dan gejolak global.
Rizal menjelaskan bahwa BSF dapat menjadi shock absorber ketika terjadi tekanan jual berlebihan di pasar SBN. Instrumen ini membantu menjaga agar lonjakan yield tidak terlalu ekstrem sehingga biaya utang pemerintah tetap terkendali.
“Bahkan hingga April 2026, Bank Indonesia tercatat sudah membeli SBN sekitar Rp111,5 triliun untuk menjaga stabilitas pasar dan rupiah, sehingga kebutuhan instrumen stabilisasi tambahan memang mulai terlihat,” kata Rizal.
Dihubungi terpisah, Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto juga memandang pembentukan BSF merupakan langkah positif untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara, terutama saat kondisi pasar keuangan bergejolak dan kapasitas intervensi Bank Indonesia (BI) terbatas.
“Kalau untuk BSF ini boleh saja, menurut saya. Ini bisa menjadi suatu solusi. Jadi tidak hanya BI yang kelihatannya terus-terusan intervensi secara aktif,” kata Myrdal.
Ia menilai BSF efektif digunakan saat terjadi turbulensi kuat di pasar keuangan, sehingga pemerintah dapat meminimalkan dampak aksi jual investor di pasar obligasi dan menjaga stabilitas yield SBN.
Namun, Myrdal mengingatkan efektivitas BSF sangat bergantung pada kapasitas fiskal pemerintah dan ketersediaan dana, baik dari saldo anggaran lebih (SAL) maupun sumber lainnya. Jika tekanan pasar tinggi sementara alokasi dana BSF terbatas, intervensi dinilai berisiko tidak optimal.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan kapasitas fiskal tetap terjaga agar inisiatif BSF tidak justru membebani keuangan negara. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi pemerintah dengan BI dan otoritas lain dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam pelaksanaan BSF.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan bond stabilization fund guna menjaga pasar surat utang tetap stabil dan tidak mudah digoyang investor asing.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dana ini disiapkan untuk menstabilkan pasar surat utang dengan membeli kembali (buyback) SBN di pasar sekunder yang dilepas oleh investor.
Strategi itu dilakukan untuk menjaga yield SBN agar tetap stabil, sehingga investor asing yang menyimpan surat utang tidak mengalami kerugian modal (capital loss).
Purbaya juga menyebut, bond stabilization fund dapat melibatkan sumber pendanaan dari lembaga di bawah Kementerian Keuangan, termasuk special mission vehicle (SMV).
"Kalau fund betulan kan, desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh SMV yang di bawah Kementerian Keuangan, itu bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu utamanya. Jadi, bukan SAL saja," kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5).
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Rupiah berpotensi menguat seiring dolar tertekan aksi jual obligasi AS
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.985 per dolar AS dari sebelumnya ... [199] url asal
#rupiah #rupiah-hari-ini #kurs-rupiah #imbal-hasil-obligasi #rdg-bi
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.985 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.955 per dolar AS.
Namun Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah berpotensi menguat seiring dolar AS yang tertekan oleh aksi jual obligasi AS.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali tertekan oleh aksi jual obligasi AS oleh investor,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Aksi jual ini melonjakkan imbal hasil obligasi AS dari kisaran 4,13 persen ke 4,25 persen.
Di sisi lain, penguatan diprediksi terbatas mengingat investor masih wait and see jelang Rapat Dewan Gubernur (RDB) Bank Indonesia (BI) yang diadakan pada Rabu (21/1).
Adapun perihal pengunduran diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur BI dinilai tak memberikan dampak yang signifikan terhadap rupiah.
“Perihal pengunduran diri Deputi BI memang bukan hal yang positif, namun apapun alasannya, dampaknya tidak akan besar dibandingkan hal-hal yang dikhawatirkan saat ini seperti defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga BI,” ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diperkirakan berkisar Rp16.700-Rp17 ribu per dolar AS.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Tekanan ke Rupiah Makin Brutal, Indonesia Menunggu Jurus Pamungkas BI
Pengumuman BI-rate dan gejolak Wall Street bisa menjadi penggerak pasar hari ini. [2,715] url asal
#ihsg #pasar-saham #nilai-tukar-rupiah #bank-indonesia #suku-bunga #investasi #laporan-keuangan #sektor-perdagangan #imbal-hasil-sbn #ekonomi-indonesia #newsletter
(CNBC Indonesia - Research) 18/11/25 18:08
v/42747/
- Pasar di Indonesia mengalami pelemahan secara keseluruhan baik dari saham, SBN, maupun nilai tukar Rupiah
- Wall Street kembali ambruk berjamaah pada perdagangan kemarin dipicu kekhawatiran mengenai AA
- Pengumuman BI-rate dan gejolak Wall Street bisa menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ambruk berjmaah pada perdagangan kemarin, baik saham dan rupiah melemah.
Pasar keuangan hari ini diperkirakan masih bergejolak pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak bak roller-coaster pada perdagangan kemarin, Selasa (18/11/2025). Setelah dibuka menguat tipis, IHSG melanjutkan penguatan di awal sesi sebelum balik arah tertekan dalam, memangkas koreksi hingga turun lagi di akhir perdagangan.
Pada penutupan perdagangan, IHSG terkoreksi 54,96 poin atau melemah 0,65% ke level 8.361,92. Sebanyak 230 saham naik, 418 turun, dan 162 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 19,56 triliun yang melibatkan 40,85 miliar saham dalam 2,52 juta kali transaksi.
Nyaris seluruh sektor perdagangan melemah dengan koreksi terbesar dicatatkan sektor kesehatan energi dan industri. Sedangkan sektor properti menjadi satu-satunya yang mengalami penguatan kemarin.
Saham Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan pelemahan terbesar hingga 10,76 indeks poin dan diikuti oleh saham Barito Pacific (BRPT)
Kemudian ada juga saham-saham ekstraksi dan energi tercatat menjadi beban utama IHSG kemarin.
Saham emiten tambang lain yang ikut terkoreksi dalam termasuk Bayan Resources (BYAN), Merdeka Copper Gold (MDKA), Adaro Andalan Indonesia (AADI), United Tractors (UNTR) dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN).
Sementara itu sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tercatat masuk dalam penopang IHSG untuk tidak jatuh lebih dalam di zona merah.
Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (18/11/2025).
Melansir data Refinitiv, nilai tukar rupiah kembali tertekan dari greenback dengan melemah 0,18% ke posisi Rp16.735/US$. Level ini menjadi penutupan terendah sejak 26 September 2025.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat dibuka stagnan di level Rp16.720/US$ sebelum mengalami tekanan dan menyentuh titik terlemah secara intraday di Rp16.763/US$, sebelum pelemahan akhirnya sedikit berkurang menjelang penutupan.
Di saat yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB tengah mengalami pelemahan sebesar 0,12% atau turun ke level 99,470.
Pelemahan rupiah juga terjadi bertepatan dengan berlangsungnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 November 2025. Para pelaku pasar menantikan keputusan penting terkait arah suku bunga BI, apakah akan kembali dipertahankan atau akan melakukan pemangkasan lanjutan.
Sebagai pengingat, pada RDG sebelumnya yang berlangsung pada 21-22 Oktober 2025, BI memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% setelah sepanjang 2025 melakukan pemangkasan dengan total 125 basis poin (bps).
Keputusan kali ini dinilai krusial bagi stabilitas nilai tukar, terutama dengan arus modal asing yang masih terus keluar dari pasar keuangan domestik, terutama dari pasar surat berharga negara (SBN).
Lanjut ke pasar keuangan di mana imbal hasil dari Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 Tahun tidak mengalami perubahan signifikan imbas hasil dari adanya RDG pada waktu mendatang sehingga investor masih wait and see terhadap surat utang.
SBN 10 Tahun mengalami sedikit kenaikan dari level 6.141% ke level 6.142% naik sebesar 0.001 poin dari penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kembali ambruk berjamaah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari wkatu Indonesia.
Bursa saham kembali melemah seiring berlanjutnya aksi jual di sektor teknologi akibat kekhawatiran atas valuasi saham terkait kecerdasan buatan (AI). Bitcoin juga sempat turun di bawah US$90.000, menandakan melemahnya selera risiko investor.
Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 498,50 poin (1,07%) menjadi 46.091,74.
Indeks S&P 500 melemah 0,83% ke 6.617,32, menandai penurunan empat hari beruntun atau terpanjang sejak Agustus. Nasdaq Composite turun 1,21% menjadi 22.432,85. Pada level terendah sesi perdagangan, Dow sempat merosot hampir 700 poin (1,5%), sementara S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi masing-masing 1,5% dan 2,1%.
Aksi jual hari ini dipicu oleh penurunan saham Nvidia, bintang chip AI yang anjlok hampir 3%, serta saham-saham "Magnificent Seven" lainnya seperti Amazon dan Microsoft. Amazon turun lebih dari 4%, sedangkan Microsoft merosot hampir 3%.
"Kita bisa melihat penurunan 8%-9% ketika semua ini berakhir. Namun koreksi bisa saja berhenti lebih cepat jika laporan laba Nvidia sesuai ekspektasi analis kami, dan jika data pekerjaan melemah tapi tidak mengarah ke resesi," ujar Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi CFRA, soal proyeksi S&P 500. " kepada CNBC International.
Nvidia telah anjlok lebih dari 10% bulan ini, menjelang laporan keuangan kuartal ketiga yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu. Perusahaan ini menjadi pusat perdebatan mengenai kekuatan reli pasar berbasis AI tahun ini, terutama karena kekhawatiran atas valuasi teknologi yang mahal dan fundamental AI yang diragukan, menyusul ledakan penerbitan utang oleh Big Tech.
"Jika perusahaan terbaik di industri teratas dalam sektor paling kuat menyampaikan pandangan sangat positif tentang masa depan, sembari melaporkan laba, pendapatan, dan margin yang lebih baik dari ekspektasi, itu akan sangat menenangkan pasar," kata Stovall.
"Pertanyaan sebenarnya adalah, 'Kapan semua belanja capex ini menghasilkan uang?' Itu bukan sesuatu yang akan terjadi kuartal ini atau berikutnya, tetapi diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama." Imbuhnya.
Sebuah kemitraan AI besar yang diumumkan Selasa gagal mengangkat saham terkait seperti sebelumnya.
Startup AI Anthropic mengatakan akan membelanjakan US$30 miliar dengan Microsoft, dan sebagai gantinya Microsoft serta Nvidia akan menginvestasikan miliaran dolar di Anthropic. Namun, Nvidia dan Microsoft tetap melemah setelah pengumuman tersebut.
"Kita sedang melalui fase natural digestion of gains, dan investor mulai mempertanyakan fundamental. Harus ada sesuatu yang membuat investor berkata, 'Mungkin kekhawatiran saya terlalu berlebihan.'"," lanjut Stovall. "
Bitcoin sempat turun di bawah US$90.000 sebelum pulih kembali. Banyak investor teknologi memiliki portofolio kripto besar, sehingga penurunan ini memicu kekhawatiran akan koreksi lebih jauh di pasar saham. Bitcoin terakhir diperdagangkan sedikit di atas US$92.000.
Di luar sektor teknologi, saham Home Depot turun setelah perusahaan perbaikan rumah itu membukukan laba di bawah ekspektasi dan memangkas proyeksi kinerja tahun penuhnya.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen pasar hari ini, terutama dari pengumuman BI rate.
Di balik layar hijau IHSG yang sukses mencetak rekor, tersimpan arus bawah ekonomi makro yang bergerak liar. Bagi investor cerdas, euforia sesaat ini tak boleh menutupi potensi risiko besar yang sedang mengintai portofolio.
Halaman ini hadir untuk membedah realita tersebut secara tuntas. Kita tidak hanya menghadapi ancaman eskalasi konflik di Asia Utara yang berpotensi membunuh rantai pasok industri vital, tetapi juga paradoks besar ekonomi domestik. Indonesia duduk di atas harta karun energi, namun investasi asing justru lebih nyaman "transit" di negara tetangga.
Belum lagi, Bank Indonesia kini harus berdiri sebagai benteng terakhir pertahanan Rupiah menghadapi Dolar AS yang kembali mengamuk.
Berikut analisis mendalam terkait isu strategis yang wajib masuk radar hari ini.
BI Rate Diramal 'Anteng' Demi Jaga Benteng Rupiah
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada hari ini, Rabu (19/11/2025). Berdasarkan hasil polling yang dihimpun CNBC Indonesia, pasar memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga acuannya pada RDG November ini.
Dalam RDG sebelumnya pada 21-22 Oktober 2025, BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI Rate) di 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%.
Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali, masing-masing 25 bps pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September. Total pemangkasan mencapai 125 bps, dari 6,00% di akhir 2024 menjadi 4,75% saat ini.
Polling CNBC Indonesia terhadap 12 lembaga/institusi keuangan menunjukkan hasil yang sangat solid. Seluruh responden memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada RDG kali ini.
Hasil konsensus yang kompak ini mencerminkan pandangan bahwa kondisi saat ini belum memberikan ruang yang memadai bagi BI untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan.
Mengapa BI tidak menurunkan bunga (cut rate) untuk memacu ekonomi yang sedang butuh stimulus (seperti kasus UMKM di atas)? Jawabannya adalah prioritas stabilitas rupiah.
Rupiah hanya sekali menguat dalam enam hari terakhir. Dalam sebulan mata uang Garuda juga sudah ambruk 0,7%.
Faktor Eksternal: Dolar AS sedang "mengamuk" (DXY naik) dan Yield US Treasury masih tinggi. Jika BI memangkas bunga, selisih imbal hasil (spread) antara aset Indonesia dan AS akan menipis. Investor asing akan kabur (capital outflow), dan Rupiah bisa jebol ke level yang berbahaya (di atas Rp16.800/USD).
Risiko Geopolitik: Ketidakpastian China-Jepang membuat investor global risk-off. Dalam kondisi ini, mata uang emerging market seperti Rupiah sangat rapuh.
Gubernur BI Perry Warjiyo memilih langkah konservatif. Dengan menahan bunga, BI menjaga daya tarik aset Rupiah (SBN) agar asing tetap mau bertahan.
Konsekuensinya, sektor riil dan properti harus bersabar lebih lama dengan bunga kredit yang tinggi. Ini adalah pil pahit yang harus ditelan demi mencegah krisis nilai tukar yang bisa berdampak jauh lebih fatal berupa inflasi barang impor.
Pasar kini menanti sinyal forward guidance yaitu kapan pelonggaran akan dimulai? Banyak yang bertaruh pada Kuartal I-2026, saat badai global diprediksi mulai mereda.
Hingga saat itu tiba, saham-saham perbankan (Big Banks) tetap menjadi pilihan paling defensif dan logis karena margin bunga bersih (NIM) mereka masih terjaga di era suku bunga tinggi ini.
RI Kaya Raya, Tapi Duitnya 'Nyangkut' di Singapura?
Kabar yang menohok datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Ia secara terbuka mengeluhkan fenomena investasi Amerika Serikat (AS) ke Indonesia yang mayoritas hanya parkir di Singapura.
Fakta ini menelanjangi kelemahan struktural ekonomi kita yaitu Indonesia dijadikan pasar dan basis produksi (tempat lelah), namun "kue" jasa keuangan dan kantor pusat regionalnya tetap dinikmati Negeri Singa.
Mengapa investor AS enggan parkir langsung di Jakarta? Masalahnya klasik namun kronis yaitu kepastian hukum, insentif pajak, dan ease of doing business. Investor global lebih nyaman menaruh entitas legal (Special Purpose Vehicle/SPV) di Singapura karena sistem hukumnya yang pro-bisnis dan transparan.
Dampaknya bagi kita? Cadangan devisa kita tidak menebal secepat yang seharusnya. Dolar masuk ke Singapura dulu, baru dikonversi atau dipinjamkan ke Indonesia. Ini membuat Rupiah rentan.
Pemerintah perlu segera melakukan bedah total-bukan sekadar gimmick pemasaran-untuk menarik Foreign Direct Investment (FDI) masuk langsung ke rekening perbankan nasional. Tanpa reformasi ini, RI hanya akan terus menjadi "halaman belakang" ekonomi Singapura.
Harta Karun Nuklir & Jurus Minyak Bahlil
Di sektor energi, Indonesia ternyata menyimpan potensi yang bisa mengubah peta geopolitik energi masa depan. Temuan terbaru mengonfirmasi bahwa tambang timah di Indonesia tidak hanya berisi logam dasar, tetapi juga mengandung monasit (bahan baku nuklir) dan logam tanah jarang (rare earth).
Ini adalah "harta karun" strategis. Dunia saat ini sedang berlomba beralih ke energi bersih dan teknologi tinggi yang membutuhkan rare earth.
Jika dikelola dengan benar (hilirisasi), valuasi aset tambang negara (MIND ID, PT Timah) bisa melesat jauh di atas valuasi saat ini. Indonesia punya daya tawar (bargaining power) untuk mendikte pasar global, mirip dengan strategi nikel.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bermain pragmatis untuk jangka pendek. Ia memastikan impor minyak dari Amerika Serikat akan mulai berjalan Desember ini. Ini adalah langkah cerdas diversifikasi energi. Selama ini kita terlalu bergantung pada minyak Timur Tengah yang harganya fluktuatif dan jalur distribusinya rawan konflik.
Dengan membeli dari AS, kita mengamankan pasokan energi dalam negeri sekaligus "mengambil hati" AS sebagai mitra dagang. Kombinasi antara penguasaan bahan baku masa depan (nuklir/rare earth) dan keamanan pasokan energi fosil (minyak AS) adalah strategi "dua kaki" yang solid untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Konflik China-Jepang Bukan Sekadar Sentimen
Investor domestik sering kali terjebak dalam bias lokal, merasa aman karena konflik terjadi "jauh" di sana. Namun, apa yang terjadi di Asia Utara saat ini bukan lagi sekadar friksi diplomatik atau sentimen sesaat.
Laporan terbaru yang menyebutkan bahwa konflik fisik antara China dan Jepang telah memakan korban jiwa dan memicu gelombang pengungsian masif hingga 500.000 orang adalah sinyal bencana kemanusiaan sekaligus ekonomi yang nyata.
Mengapa investor RI harus cemas? China dan Jepang adalah "Jantung dan Paru-paru" manufaktur Asia, sekaligus dua mitra dagang (ekspor-impor) terbesar bagi Indonesia. Analisis kami melihat risiko spillover yang mengerikan jika eskalasi ini berlanjut:
Supply Chain Shock: Jika jalur logistik di Laut China Timur terganggu, pasokan bahan baku industri, suku cadang mesin, hingga elektronik ke Indonesia akan terhenti. Ini bisa memicu kelangkaan barang dan lonjakan inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation).
Demand Destruction: China adalah pembeli utama komoditas kita (nikel, batu bara, CPO). Jika ekonomi mereka lumpuh karena perang, permintaan akan anjlok. Harga komoditas bisa terjun bebas, menyeret turun saham-saham sektor energi dan material dasar (Basic Materials) di IHSG.
Istilah "Bear Killer" yang menghantui pasar di bulan Oktober-November ini tampaknya menemukan validasinya. Bukan dari data inflasi AS, melainkan dari ledakan geopolitik di halaman depan rumah kita sendiri. Bursa Asia yang kompak "kebakaran" kemarin adalah peringatan dini: Cash is King mungkin menjadi mantra sementara bagi investor regional hingga debu konflik mulai mereda.
Pengangguran AS Naik
Klaim tunjangan pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims) di Amerika Serikat. Jumlah warga yang terus menerima bantuan pengangguran naik menjadi 1,957 juta untuk pekan yang berakhir pada 18 Oktober 2025, level tertinggi sejak awal Agustus. Angka ini meningkat dari 1,947 juta pada pekan sebelumnya, menurut data yang tersedia di basis data daring Departemen Tenaga Kerja AS per 18 November.
Agenda dan rilis data yang terjadwal
- Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
- Pengumuman BI-rate Bank Indonesia
- Export dan Import Amerika Serikat
- Inflasi Inggris
Waste To Energy Investment Forum 2025: Economic Gains, Environmental Wins di Auditorium Menara Bank Mega, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN
Talkshow Bincang Bahari dengan tema "Harkannas 2025: Protein Ikan untuk Generasi Emas 2045" di Media Center KKP GMB IV, Kota Jakarta Pusat
Seremoni Groundbreaking Pabrik Modular Bosch di Kawasan Industri BD Delta Mas Cikarang, Kabupaten Bekasi
Rakornas Kepegawaian 2025 yang akan berlangsung di Hotel Pullman Jakarta Central Park, Kota Jakarta Barat
Konferensi Utama Pembangunan Berkelanjutan melalui Program Strategis Nasional MBG Tahun 2025 di Ruang Rapat DH 1-5 kantor Kementerian PPN/Bappenas, Kota Jakarta Pusat
ANTARA BUSINESS FORUM di The Westin, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan CIO Danantara Indonesia
MayBank Indonesia menggelar Media Update - Exploring Privilege Banking Segment yang akan diselenggarakan di Multifunction Room 3 Maybank Indonesia, Kota Jakarta Selatan
Paguyuban Lender Dana Syariah Indonesia akan melaksanakan konferensi pers hasil pertemuan Tim Paguyuban dan DSI yang diadakan di Walking drums, Kota Jakarta Selatan
Puncak Anugerah Jurnalistik Komdigi 2025 yang akan dilaksanakan di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Komunikasi dan Digital.
Agenda emiten di dalam negeri
- Pemberitahuan RUPS Rencana Bumi Resources Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana Astra International Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
- Tanggal cum Dividen Tunai Interim Elang Mahkota Teknologi Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Hari Penentuan! Data PDB Dirilis Saat Dolar Ngamuk, Bisa RI Bertahan?
Pelaku pasar kini menanti rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 yang akan diumumkan hari ini oleh BPS [2,442] url asal
#newsletter #pasar-keuangan #ihsg #rupiah #dolar-as #pertumbuhan-ekonomi #bps #investasi #obligasi #imbal-hasil #sentimen-pasar
(CNBC Indonesia - Research) 04/11/25 16:05
v/27736/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan kemarin, IHSG melemah serta rupiah kembali tertekan dari dolar AS
- Wall Street ambruk berjamaah di tengah kekhawatiran mengenai valuasi saham AI
- Pelaku pasar kini menanti rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025, lonjakan dolar AS juga mesti diwaspadai
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan domestik ditutup variatif pada perdagangan Selasa (4/11/2025). IHSG yang sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa kini terkoreksi, sementara rupiah kembali melemah terhadap dolar AS.
Pasar diharapkan tetap bergerak positif pada perdagangan Rabu (5/11/2025) menjelang rilis resmi data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2025 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini. Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG pada perdagangan kemarin ditutup turun 0,40% atau 33,17 poin ke level 8.241,91, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas 8.275.
Nilai transaksi IHSG tercatat sebeasr Rp19,39 triliun dengan volume 28,52 miliar saham dari 2,34 juta transaksi. Sebanyak 207 saham menguat, 439 melemah, dan 165 stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat Rp15.028,25 triliun.
Sementara itu, investor asing tercatat masih melakukan aksi beli dengan total net buy mencapai Rp305 miliar.
Secara sektoral, pelemahan terbesar terjadi pada sektor properti yang turun 2,01%, disusul bahan baku melemah 1,06%, dan sektor utilitas turun 1,01%.
Di sisi lain, sektor energi justru memimpin penguatan dengan kenaikan 0,96%, diikuti teknologi yang naik 0,71%, dan sektor kesehatan dengan terapresiasi 0,47%.
Dari sisi emiten, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi penopang dikala pelemahan IHSG dengan kontribusi 17,18 indeks poin dan harga sahamnya naik 4,47%. Selain Telkom, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 15,42 poin, dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menyumbang 5,90 indeks poin.
Sementara itu, emiten perbankan plat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) justru menjadi penekan terbesar dengan kontribusi 11,60 indeks poin, kemudian diikuti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan kontribusi pelemahan 10,61 indeks poin dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) 5,74 poin.
Beralih ke mata uang, rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (4/11/2025).
Mengutip data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,27% dan berakhir di level Rp16.695/US$, melanjutkan pelemahan yang sudah terjadi sejak awal pekan.
Rupiah dibuka turun 0,30% ke posisi Rp16.700/US$, dan sempat menyentuh level terlemah di Rp16.733/US$ sebelum akhirnya menutup perdagangan dengan pelemahan yang sedikit berkurang di akhir sesi.
Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan penguatan dolar AS yang masih bertahan dekat level tertingginya dalam tiga bulan terakhir. Penguatan greenback dipicu oleh pandangan yang terpecah di internal The Federal Reserve (The Fed) serta sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Meskipun The Fed telah memangkas suku bunga acuannya pada pekan lalu, Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan bahwa langkah tersebut bisa menjadi pemangkasan terakhir di tahun ini.
Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar mengoreksi ekspektasi mereka terhadap siklus pelonggaran moneter The Fed, sehingga dolar AS kembali diburu sebagai safe haven.
Kondisi pasar global juga turut diliputi sentimen risk-off, di tengah absennya sejumlah data ekonomi resmi AS akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang masih berlangsung.
Selain itu, perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai arah ekonomi AS membuat pelaku pasar semakin berhati-hati, yang pada akhirnya menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau turun 0,44% ke level 6,153%, atau turun 2,7 basis poin (bps). Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield turun berarti harga obligasi naik, hal ini menandakan bahwa investor tampak melakukan aksi beli.
Dari bursa saham AS, Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk di tengah penurunan saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) seperti Palantir, karena investor semakin khawatir tentang valuasi pada saham-saham yang memimpin pasar bullish.
Indeks S&P 500 turun 1,17% dan ditutup di 6.771,55, sementara Nasdaq Composite anjlok 2,04% menjadi 23.348,64. Dow Jones Industrial Average kehilangan 251,44 poin, atau 0,53%, ke 47.085,24.
Saham Palantir turun sekitar 8%, meskipun perusahaan perangkat lunak ini melampaui perkiraan Wall Street untuk kuartal ketiga dan memberikan panduan yang kuat, didorong oleh pertumbuhan bisnis AI-nya.
Saham ini telah naik lebih dari 150% tahun ini dan diperdagangkan pada lebih dari 200 kali laba di masa depan. Artinya, investor pada saham ini dan saham AI lainnya mengharapkan perusahaan terus menaikkan proyeksi laba dan pendapatan secara signifikan agar investor tetap membeli saham tersebut.
Oracle, yang memiliki rasio P/E ke depan lebih dari 33, turun hampir 4%, mengikis hampir 50% kenaikan tahun ini. Pembuat chip AMD, yang nilainya telah lebih dari dua kali lipat tahun ini, kehilangan hampir 4%. Saham AI lainnya seperti Nvidia dan Amazon juga mengalami penurunan.
Kenaikan saham AI telah mendorong rasio harga-laba ke depan S&P 500 ke atas 23, mendekati level tertingginya sejak tahun 2000.
Saham-saham ini telah mengangkat pasar secara keseluruhan ke level baru dalam beberapa bulan terakhir.
Anthony Saglimbene dari Ameriprise mengatakan tanpa adanya koreksi, valuasi mulai menjadi "sangat tinggi.
"Kita belum benar-benar melihat koreksi besar atau tekanan nyata pada saham sejak April. Laba baik, tapi saya rasa investor mulai bertanya pada diri sendiri, berdasarkan laju investasi belanja modal dari beberapa perusahaan Big Tech utama ini," kata Anthony, kepada CNBC International.
Komentar dari CEO Goldman Sachs dan Morgan Stanley menambah hilangnya kepercayaan investor pada hari Selasa.
David Solomon dari Goldman mengatakan kemungkinan akan ada penurunan 10-20% di pasar saham dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.
Selain itu, CEO Morgan Stanley, Ted Pick, mengatakan kita juga harus menyambut kemungkinan terjadinya penurunan 10-15% yang tidak disebabkan oleh semacam efek jurang makro.
"Fundamental masih baik, tapi saya sepenuhnya mengharapkan akan ada periode penurunan kecil," kata Saglimbene.
Pelaku pasar hari ini menanti dengan seksama rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data ini akan berpengaruh pada pergerakan pasar keuangan Tanah Air.
Selain itu, pengumuman tinjauan indeks MSCI yang berpotensi memicu volatilitas pasar saham, serta shutdown pemerintahan Amerika Serikat yang kini menjadi yang terpanjang dalam sejarah, menambah kompleksitas dinamika pasar pada pertengahan pekan ini.
Lonjakan dolar AS juga mesti diwaspadai karena bisa membuat rupiah semakin tertekan.
Berikut rangkuman sentimen utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar hari ini:
Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2025
Pada hari ini, Rabu (5/11/2025) Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi periode Kuartal III-2025.
Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, dari 13 institusi/lembaga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025 mencapai 5,01% (yoy) dan 1,40% (qtq).
Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan capaian kuartal sebelumnya sebesar 5,12% (yoy), namun masih menunjukkan resiliensi permintaan domestik dan stabilitas ekonomi di tengah tekanan eksternal.
Konsensus CNBC Indonesia sedikit lebih pesimistis dibandingkan proyeksi pemerintah.
Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 masih bisa mencapai 5,1%, didorong oleh kinerja ekspor yang tumbuh cepat di tengah berbagai tekanan, termasuk demonstrasi besar pada Agustus lalu.
"Kuartal III kelihatannya akan cukup resilient, sekitar 5%, 5,1%, karena ekspor kita bagus," ujar Febrio Nathan Kacaribu, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai laju pertumbuhan ekonomi kuartal III akan lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2025 yang sebesar 5,12% yoy. Ia menekankan ekspor masih menjadi penopang utama, dengan tren peningkatan yang berlanjut hingga akhir tahun.
"Jadi dengan tren kuartal III akan lebih tinggi dari kuartal II, dan kuartal IV lebih tinggi dari kuartal III," ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (3/11/2025).
Baik BI maupun pemerintah optimistis laju ekonomi akan terus meningkat hingga akhir tahun, di mana Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan kuartal IV-2025 bisa mencapai 5,5%, ditopang stimulus fiskal dan kebijakan moneter longgar yang menjaga likuiditas perekonomian.
Secara historis, dalam 10 tahun terakhir pada pertumbuhan ekonomi di kuartal III cenderung lebih seiring di bawah dari pertumbuhan di kuartal II.
Sejak 2015 hingga 2024, dari total 10 tahun tersebut, sebanyak tujuh kali laporan pertumbuhan ekonomi di kuartal III lebih rendah dibandingkan kuartal II.
Hal ini terjadi akibat di kuartal II biasanya menjadi puncak pertumbuhan ekonomi seiring dengan adanya libur sekolah serta bertepatan dengan musim lebaran yang biasanya meningkatkan konsumsi rumah tangga.
Dan laju pertumbuhan ekonomi akan mengalami perlambatan pada kuartal berikutnya.
Rebalancing MSCI
Pelaku pasar hari ini juga akan mencermati pengumuman tinjauan reguler (index review) MSCI untuk periode November 2025.
Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025 mendatang, dan biasanya menimbulkan periode volatilitas tinggi menjelang implementasi.
Dalam tinjauan kali ini, sejumlah saham Indonesia disebut berpotensi mengalami perubahan posisi dalam indeks MSCI.
Beberapa emiten domestik yang dinilai berpeluang masuk atau naik kelas antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), setelah keduanya diperkirakan telah memenuhi syarat free float dan likuiditas.
Sebaliknya, sejumlah saham disebut berisiko keluar atau diturunkan kelas, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Masuknya saham ke dalam indeks MSCI biasanya mendorong aliran dana asing (foreign inflow) karena banyak dana indeks dan exchange-traded fund (ETF) global yang mereplikasi konstituen MSCI.
Namun sebaliknya, keluarnya saham dari indeks dapat menimbulkan tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global.
Periode antara pengumumanhingga tanggal efektif pada 25 November 2025 mendatang, diperkirakan akan menjadi momen yang cukup dinamis bagi IHSG, terutama bagi saham-saham dengan kapitalisasi besar yang menjadi kandidat perubahan.
Jika terdapat lebih banyak saham besar yang keluar atau turun kelas, sentimen pasar bisa tertekan, dan menjadi salah satu pemicu koreksi IHSG dalam jangka pendek.
Dolar AS Menggila
Indeks dolar AS semakin menggila dan menembus level 100 pada hari ini, Rabu (5/11/2025) pukul 05.36 WIB. Indeks mencapai 100,198 atau posisi tertingginya sejak 19 Mei atau lima bulan lebih.
Indeks yang melonjak menandai besarnya minat investor dalam membeli dolar AS dan meninggalkan instrumen lain. Kondisi ini bisa memicu outflow, terutama dari Emerging Market seperti Indonesia. Nila tukar rupiah pun bisa semakin tertekan.
Shutdown Pemerintah AS Pecahkan Rekor Terpanjang dalam Sejarah
Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mencatatkan sejarah baru pekan ini, setelah penutupan (shutdown) pemerintahan federal memasuki hari ke-36 pada hari ini, Rabu (5/11/2025).
Dengan demikian, shutdown kali ini menjadi yang terpanjang dalam sejarah AS, melampaui rekor sebelumnya selama 35 hari yang terjadi pada Desember 2018 hingga Januari 2019.
Kebuntuan politik antara Presiden Donald Trump dan kongres yang dikuasai Partai Demokrat menjadi penyebab utama berlarutnya penghentian kegiatan pemerintahan ini.
"Saya tidak akan diperas oleh Demokrat. Kami akan terus melakukan voting," tegas Trump dalam wawancaranya dengan CBS "60 Minutes" pada akhir pekan lalu, menolak kemungkinan kompromi jangka pendek.
Dampak shutdown kini semakin terasa di berbagai sektor perekonomian.
Ribuan pegawai pengatur lalu lintas udara (air traffic controller) dan petugas keamanan bandara (TSA) absen bekerja yang menyebabkan penundaan penerbangan di berbagai kota besar AS.
Sementara itu, sekitar 42 juta warga AS yang bergantung pada bantuan pangan federal (SNAP) dipastikan hanya akan menerima setengah dari manfaat bulanan mereka untuk November, menambah tekanan sosial di tengah biaya hidup yang tinggi.
Shutdown kali ini telah menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan mulai dari pelemahan aktivitas bandara hingga keterlambatan distribusi logistik di AS.
Kondisi ini juga menekan kepercayaan bisnis dan konsumen, terutama karena ketidakpastian kapan negosiasi di Capitol Hill akan membuahkan hasil. Sejumlah senator dari kedua partai mengakui frustrasi atas kebuntuan ini, meski ada indikasi bahwa pembicaraan informal di balik layar mulai terjadi.
Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda jelas bahwa pemerintahan Trump siap melakukan kompromi atau membuka kembali layanan federal secara penuh.
kelanjutan shutdown ini menambah tekanan terhadap ekonomi AS yang sebelumnya sudah menghadapi risiko perlambatan akibat ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter.
Investor global kini menanti dampaknya terhadap lapangan kerja, belanja konsumen, dan potensi revisi pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Menteri Kelautan dan Perikanan meluncurkan Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Ikan Skala Kecil di kantor Kementerian KKP, Kota Jakarta Pusat.
Konferensi pers BPS terkait realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan III hingga keadaan ketenagakerjaan di kantor pusat BPS, Kota Jakarta Pusat.
Konferensi pers Menteri Koordinator Bidang Perekonomian terkait realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan III di kantor Kemenko Perekonomian, Kota Jakarta Pusat.
CIO Danantara Indonesia menghadiri Investortrust Economic Outlook 2026 di Ballroom The Ritz-Carlton, Kota Jakarta Selatan.
Press Briefing YouTube Festival di Glass House The Ritz-Carlton Pacific Place, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Country Director Google Indonesia.
KPK mengumumkan status Gubernur Riau dan sembilan orang lain yang terjaring OTT pada tanggal 3 November 2025.
- PMI Manufaktur Singapura
- Penjualan Ritel Singapura
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-Rencana RUPS : PSAB, OLIV, RIGS, AMOR, & BAIK
-DPS HMETD : BUVA
-Cum Dividen Interim : MARK
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Kabar Baik: Ekonomi Memanas di Awal November, Investor Bisa Napas Lega
Pelaku pasar akan mencermati inflasi Oktober yang lebih tinggi dari perkiraan, serta aktivitas manufaktur yang terus melaju di zona ekspansi. [2,916] url asal
#newsletter #pasar-keuangan #ihsg #rupiah #obligasi #investasi #imbal-hasil #dolar-as #ekonomi-indonesia #analisis-pasar #net-buy
(CNBC Indonesia - Research) 03/11/25 16:12
v/26331/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan awal pekan ini, IHSG mencetak rekor baru sementara rupiah justru melemah
- Wall street ditutup beragam
- Pelaku pasar akan mencermati inflasi Oktober yang lebih tinggi dari perkiraan, serta aktivitas manufaktur yang terus melaju di zona ekspansi. Hingga peluncuran indeks S&P Dow Jones Indices dan BEI yang turut menambah optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (3/11/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli dan mencetak rekor penutupan tertinggi baru, sedangkan rupiah melemah terhadap dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah naik.
Pasar diharapkan tetap bergerak positif pada perdagangan hari ini, Selasa (4/11/2025). Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Para investor juga dapat mengintip agenda serta rilis data ekonomi yang terjadwal untuk hari ini, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, pada halaman 4.
Pada perdagangan kemarin, Senin (3/11/2025), IHSG ditutup menguat 1,36% atau naik 111,21 poin ke level 8.275,08, sekaligus menandai penutupan tertinggi atau level all-time high baru.
Nilai transaksi harian mencapai Rp15,89 triliun dengan volume 23,41 miliar saham dari 2,1 juta kali transaksi. Sebanyak 353 saham menguat, 291 melemah, dan 169 stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG pun naik ke Rp15.080,57 triliun.
Dari sisi foreign flow, Investor asing tercatat kembali melakukan aksi net buy sebesar Rp1,03 triliun yang menunjukkan arus modal asing yang kembali deras ke pasar saham domestik.
Kenaikan IHSG dipimpin oleh sektor utilitas yang melonjak 5,53%, diikuti consumer cyclicals naik 1,86%. Sektor energi menguat 1,69%, dan bahan baku naik 1,40%. Di sisi lain, sektor properti turun paling dalam 2,56%, disusul consumer non-cyclicals turun 0,14% dan sektor kesehatan melemah 0,04%.
Dari sisi emiten, Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi kontributor terbesar terhadap penguatan indeks dengan tambahan 22,86 poin, diikuti Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang naik 16,03 poin dan Barito Pacific Tbk (BRPT) yang bertambah 13,73 poin.
Sementara itu, Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) menjadi penekan utama IHSG dengan total 6,83 indeks poin, disusul Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 3,67 poin, dan Amman Mineral Internasional Tbk berkurang 2,36 poin.
Berali ke mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/11/2025).
Rupiah terdepresiasi 0,15% ke posisi Rp 16.650/US$, menjadi level penutupan terlemah sejak 30 September 2025. Secara intraday, rupiah sempat dibuka menguat di posisi Rp 16.620/US$, namun berbalik melemah hingga akhir sesi.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global, yang kembali mendapat dukungan dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Meskipun The Fed pada pekan lalu memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin, pasar menilai langkah tersebut kemungkinan menjadi pemangkasan terakhir di 2025.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa bank sentral kini akan lebih berhati-hati agar tidak melonggarkan kebijakan terlalu cepat tanpa kejelasan arah ekonomi AS.
Komentar tersebut membuat pasar menilai sikap The Fed masih relatif hawkish, terlebih setelah sejumlah presiden bank sentral regional AS juga menyampaikan keberatan atas pemangkasan suku bunga di pertemuan terakhir.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga pada Desember turun menjadi sekitar 68%, dari sebelumnya lebih dari 80% sebelum rapat FOMC berlangsung. Kondisi ini membuat investor global kembali berburu dolar AS karena imbal hasil aset berbasis dolar dinilai lebih menarik dibandingkan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik 1,33% ke level 6,180%, atau meningkat sekitar 8,1 basis poin (bps) dibandingkan posisi penutupan Jumat (31/10/2025) di 6,099%.
Sebagai informasi, imbal hasil obligasi yang menguat menandakan bahwa para pelaku pasar sedang membuang surat berharga negara (SBN). Begitu pun sebaliknya, imbal hasil obligasi yang melemah menandakan bahwa para pelaku pasar sedang kembali mengumpulkan surat berharga negara (SBN).
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks Nasdaq menguat pada Senin seiring investor semakin masuk ke perdagangan kecerdasan buatan (AI) menyusul sejumlah pengumuman kesepakatan besar.
Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 0,46% dan ditutup di 23.834,72, sementara S&P 500 menguat 0,17% menjadi 6.851,97. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average tertinggal, turun 226,19 poin atau 0,48% menjadi 47.336,68.
Saham "Magnificent Seven" seperti Amazon menopang pasar, dengan naik 4% setelah perusahaan mencapai kesepakatan senilai US$38 miliar dengan OpenAI. Kerja sama ini akan memanfaatkan ratusan ribu unit pemrosesan grafis (GPU) dari Nvidia.
Saham pembuat chip juga mengalami kenaikan pada Senin setelah perusahaan pusat data Iren menandatangani kesepakatan multiyears senilai US$9,7 miliar dengan Microsoft untuk memberikan akses ke GPU Nvidia GB300 bagi perusahaan teknologi megacap tersebut.
Saham Micron Technology naik hampir 5% dan memimpin kenaikan saham chip, sementara Nvidia naik 2%. ETF VanEck Semiconductor (SMH) naik hampir 1%. Saham Iren, sementara itu, melonjak 11%.
Saham Nvidia terus bergerak lebih tinggi setelah pengumuman Microsoft yang menyatakan telah memperoleh lisensi ekspor dari pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengirim chip Nvidia ke Uni Emirat Arab. Perusahaan menambahkan bahwa total investasinya di UEA akan mencapai US$15,2 miliar pada akhir 2029.
Namun, di luar saham teknologi, hanya sedikit saham yang menguat sepanjang hari perdagangan, karena lebih dari 300 saham di S&P 500 ditutup di zona merah.
Pelemahan breadth ini menjadi perhatian pasar, dengan lebih banyak saham di indeks utama turun dibanding naik sepanjang Oktober, meski perdagangan AI mendorong indeks ini naik selama bulan tersebut.
"Pasar sedang memberikan penghargaan kepada pemain kunci AI hari ini. Perusahaan-perusahaan ini memimpin dan menangkap hampir semua nilai di AI," kata Gil Luria, kepala riset teknologi di D.A. Davidson, kepada CNBC.
Dia menambahkan Nvidia, Microsoft, Google, Amazon, serta perusahaan lain seperti Palantir mampu mengamankan infrastruktur yang diperlukan untuk melayani pelanggan mereka dan semuanya melihat titik infleksi positif dalam permintaan.
"Tidak hanya mereka memiliki kas untuk membangun kapasitas AI sendiri, tetapi juga dapat memperluas jangkauan dengan menyewa kapasitas dari neocloud dan penyedia pusat data lainnya."imbuhnya.
Lebih dari 300 perusahaan S&P 500 telah melaporkan hasil kuartal ketiga hingga saat ini. Dari jumlah tersebut, lebih dari 80% melampaui ekspektasi, menurut FactSet. Wall Street akan kedatangan lebih dari 100 perusahaan lagi yang melaporkan minggu ini, termasuk nama terkait AI seperti Palantir dan AMD.
Wall Street mungkin akan mendapat dorongan musiman bulan ini. Data dari Stock Trader's Almanac menunjukkan bahwa S&P 500 rata-rata naik 1,8% pada November, menjadikannya bulan terkuat secara historis untuk indeks tersebut.
Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada awal pekan, IHSG hingga rupiah kini bersiap menghadapi perdagangan hari kedua di pekan ini dengan harapan positif.
Rangkaian hasil rilis data penting mulai dari inflasi Oktober, neraca perdagangan, hingga PMI manufaktur akan menjadi fokus utama pelaku pasar, disusul dengan laporan stabilitas keuangan KSSK serta peluncuran indeks baru oleh BEI dan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI).
Membaiknya infrastruktur hingga masih tingginya neraca dagang bisa menjadi sentimen positif pasar hari ini.
Berikut rangkuman sentimen utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar hari ini:
Inflasi Oktober Naik di Atas Perkiraan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2025 sebesar 0,28% (month-to-month/mtm) dan 2,86% (year-on-year/yoy). Angka ini lebih tinggi dari perkiraan konsensus CNBC Indonesia, yang sebelumnya memproyeksikan inflasi hanya naik 0,02% (mtm) dan 2,6% (yoy).
"Inflasi 0,28% secara bulanan," kata Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers, Senin (3/11/2025).
Kenaikan harga terutama disebabkan oleh penurunan produksi cabai merah yang mencapai level terendah tahun ini, serta kenaikan harga bawang merah di beberapa daerah.
Selain itu, permintaan telur ayam ras juga meningkat seiring dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis oleh pemerintah.
Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi menunjukkan tekanan dari kelompok pangan bergejolak (volatile food) masih terasa, meskipun inflasi inti tetap stabil. Hasil ini akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga jelang akhir tahun.
Surplus Neraca Dagang September Capai US$4,34 Miliar
Selain rilis data Inflasi, BPS turut melaporkan neraca perdagangan Indonesia yang tercatat surplus sebesar US$4,34 miliar pada September 2025.
Capaian ini lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$5,49 miliar, namun memperpanjang tren surplus selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus terjadi karena ekspor mencapai US$24,68 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$20,34 miliar. Hasil ini sejalan bahkan lebih tinggi dari hasil polling CNBC Indonesia yang memperkirakan surplus September berada di kisaran US$3,9-4,0 miliar.
"Surplus ini ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar US$5,99 miliar, terutama berasal dari lemak dan minyak hewan-nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," ujar Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-September 2025 masih surplus US$33,48 miliar, ditopang oleh sektor nonmigas (US$47,20 miliar), sementara sektor migas defisit US$13,72 miliar.
Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi penyumbang surplus terbesar, sedangkan defisit terbesar berasal dari China, Australia, dan Thailand.
PMI Manufaktur RI Oktober Melesat
Aktivitas manufaktur Indonesia kembali mencatat kinerja positif di awal kuartal IV-2025. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia naik ke 51,2 pada Oktober, dari 50,4 di September, menandakan ekspansi yang semakin kuat.
Peningkatan ini memperpanjang tren ekspansi menjadi tiga bulan berturut-turut setelah sebelumnya sempat terkontraksi pada April-Juli 2025.
S&P Global melaporkan bahwa kenaikan pesanan baru dan peningkatan aktivitas pembelian menjadi pendorong utama ekspansi manufaktur, disertai stabilisasi output dan perekrutan tenaga kerja baru.
"Kenaikan pesanan baru bertepatan dengan stabilnya level produksi dan mendorong peningkatan pembelian bahan baku serta perekrutan tenaga kerja," tulis S&P Global dalam laporannya.
Dari sisi harga, pelaku industri mencatat kenaikan beban biaya input tercepat dalam delapan bulan terakhir, dipicu oleh lonjakan harga bahan baku. Peningkatan PMI ini memperkuat optimisme bahwa sektor manufaktur akan tetap menjadi motor pemulihan ekonomi nasional di sisa tahun 2025.
KSSK Pastikan Stabilitas Keuangan RI Terjaga
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan bahwa stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga sepanjang kuartal III-2025, di tengah dinamika dan ketidakpastian global yang masih tinggi.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK, Senin (3/11/2025).
Rapat ini menjadi yang pertama bagi Purbaya sebagai Menteri Keuangan dan Anggito Abimanyu sebagai Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
"Stabilitas sistem keuangan triwulan III-2025 tetap terjaga dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, dengan tetap mewaspadai berbagai risiko global," ujar Purbaya.
KSSK sepakat untuk memperkuat koordinasi antarotoritas dan menjaga sinergi kebijakan antara Kementerian Keuangan, BI, OJK, dan LPS, guna memastikan sistem keuangan tetap stabil sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dari sisi eksternal, Purbaya menyebut The Federal Reserve (The Fed) telah memangkas suku bunga sebesar 25 bps menjadi 3,75%-4,00%, sementara ekonomi global masih dipengaruhi oleh kebijakan tarif impor AS.
Meski demikian, IMF merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,2% di 2025, didukung oleh ekspansi fiskal dan tren penurunan inflasi.
BEI dan S&P Dow Jones Luncurkan Tiga Indeks Baru
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) resmi meluncurkan tiga indeks saham co-branded yang mencakup saham-saham tercatat di BEI.
Peluncuran ini dilakukan pada Senin (3/11/2025) sebagai langkah memperluas eksposur pasar modal Indonesia di kancah global.
Kolaborasi ini mencakup pengembangan, penerbitan, dan distribusi indeks bagi investor domestik maupun global yang mencari peluang di pasar Indonesia melalui pendekatan investasi tematik.
S&P DJI juga akan memanfaatkan jaringan global dan kemampuan pemasarannya untuk mendistribusikan serta memberikan lisensi indeks BEI ke seluruh dunia, memperkuat posisi Indonesia di pasar keuangan internasional.
Belanja Warga RI Membaik
Jelang penutupan akhir bulan Oktober, emiten-emiten terutama dari sektor consumer goods mulai berbondong-bondong merilis kinerja keuangan kuartal III 2025.
Dominan emiten-emiten tersebut mencatatkan performa kinerja yang cukup baik dan bertumbuh, hal ini dapat mencerminkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) akan tumbuh sejalan dengan pertumbuhan industri di sektor consumer goods.
Berdasarkan catatan CNBC Indonesia Research dari delapan emiten consumer goods yang telah merilis kinerja keuangan pada kuartal III 2025, dominan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang cukup baik.
Sementara itu, kinerja penjualan ritel nasional yang menjadi indikator penting untuk melihat bagaimana kondisi daya beli masyarakat telah menunjukkan pemulihan di kuartal III 2025, meski masih sedikit di bawah capaian tahun sebelumnya.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI), pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) rata-rata mencapai 4,7% (yoy) pada periode Juli-September 2025.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal II 2025 yang hanya tumbuh 1,0%, namun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,0% yoy pada kuartal III 2024.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), total penjualan mobil secara wholesales (pabrikan ke dealer) sepanjang Juli-September 2025 tercatat sebanyak 184.726 unit, naik 7,7% dibanding kuartal II-2025 (171.554 unit).
ISM Manufaktur AS Jeblok
Indeks Manufaktur AS ISM Manufacturing PMI turun menjadi 48,7 pada Oktober 2025 dari 49,1 pada September, di bawah perkiraan pasar sebesar 49,5, menandai delapan bulan berturut-turut sektor manufaktur mengalami kontraksi.
Produksi menurun (48,2 vs 51), dan kontraksi juga terlihat pada pesanan baru (49,4 vs 48,9), inventaris (45,8 vs 47,7), serta backlog pesanan (47,9 vs 46,2). Pekerjaan atau employment terus menurun (46 vs 45,3), dengan 67% responden panel menyatakan bahwa pengelolaan jumlah karyawan masih menjadi kebijakan utama di perusahaan mereka, bukan perekrutan baru.
Sementara itu, tekanan harga mereda (58 vs 61,9), dan indeks pengiriman pemasok menunjukkan kinerja pengiriman yang lebih lambat untuk bulan ketiga berturut-turut (54,2 vs 52,6).
Dari enam industri manufaktur terbesar, hanya dua (Produk Makanan, Minuman & Tembakau; serta Peralatan Transportasi) yang mengalami ekspansi pada Oktober.
Revisi Aturan DHE
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 sebagai Perubahan atas Peraturan Pemerintah 36 Tahun 2023 akan mengalami sedikit perubahan dari hasil evaluasi yang dilakukan sejak berlaku pada 1 Maret 2025.
"Yang jelas kelihatannya akan direvisi sedikit," kata Purbaya seusai konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, kebijakan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) selama ini memang tak mampu memperkuat cadangan devisa (cadev) Indonesia.
Permasalahan ini lah yang kemudian membuat Presiden Prabowo Subianto beberapa hari terakhir meminta jajaran menterinya untuk segera mengevaluasi ketentuan DHE yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 sebagai Perubahan atas Peraturan Pemerintah 36 Tahun 2023.
Mulanya, Destry mengungkapkan bahwa kebijakan wajib parkir dolar hasil ekspor di dalam negeri itu telah dipenuhi secara baik oleh para eksportir. Tingkat kepatuhan terhadap ketentuan PP 8/2025 dari para eksportir itu pun ia sebut telah mencapai 95%.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
CEO INSIGHT di Hutan Kota by Plataran, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Perdagangan dan Direktur Utama PLN
Konferensi pers BP Tapera terkait realisasi FLPP di kantor BP Tapera, Menara Mandiri 2, Kota Jakarta Selatan
Public Expose PT Waskita Karya Tbk. (WSKT)
- Inflasi Oktober Korea Selatan
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-Rencana RUPS : ASMR, SMDM, INTA
-Ex HMETD : BUVA
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Ternyata! Family Office Ketakutan Hadapi Depresiasi Dolar
Survei RBC Wealth Management menunjukkan family office lebih hati-hati dalam investasi. [569] url asal
#family-office #depresiasi-dolar #investasi #imbal-hasil #likuiditas #survei-kekayaan #pasar-keuangan #ekuitas-swasta #risiko-pasar #strategi-investasi
(CNBC Indonesia - Market) 26/10/25 19:48
v/16434/
Jakarta, CNBC Indonesia - Survei terbaru yang dirilis oleh RBC Wealth Management bersama Campden Wealth mengungkapkan bahwa perusahaan keluarga atau family office kini bersikap lebih hati-hati dalam berinvestasi. Hal ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru pada awal April lalu.
Mengutip CNBC Internasional, Minggu (26/10/2025), dalam survei terhadap 141 perusahaan pengelola kekayaan keluarga ultra-kaya di Amerika Utara, sebanyak 52% responden menilai bahwa uang tunai dan aset likuid lainnya akan memberikan imbal hasil terbaik dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, lebih dari 30% responden meyakini bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menawarkan imbal hasil terbaik.
Dalam survei tahun sebelumnya, ekuitas pertumbuhan dan industri pertahanan menjadi pilihan paling populer, masing-masing mencapai kurang dari sepertiga responden.
Family office juga menurunkan ekspektasi imbal hasil tahun 2025, melaporkan rata-rata imbal hasil portofolio yang diharapkan sebesar 5% untuk tahun ini, turun dari 11% pada tahun 2024. Sebanyak 15% responden bahkan memperkirakan imbal hasil negatif, padahal hampir tidak ada yang berpandangan demikian pada tahun sebelumnya.
Prioritas investasi paling populer untuk tahun 2025 adalah peningkatan likuiditas, yang dipilih oleh hampir separuh family offices. Sedangkan pilihan teratas tahun lalu, dengan 34%, adalah diversifikasi portofolio.
Survei dilakukan dari April hingga Agustus. Bill Ringham dari RBC Wealth Management mengatakan bahwa gejolak pasar akibat tarif dan ketegangan geopolitik memainkan "peran penting" dalam hasil jajak pendapat yang pesimistis.
Meskipun pasar AS telah pulih ke rekor tertinggi sejak musim semi, family offices masih memiliki alasan lain untuk bersikap pesimis. Sebanyak 52% responden survei menyebutkan depresiasi dolar AS sebagai risiko pasar yang mungkin terjadi.
Nilai tukar dolar telah turun hampir 9% sejak awal tahun, dan bank-bank termasuk UBS memperkirakan depresiasi akan terus berlanjut. Selain kekhawatiran terhadap dolar, family office juga menghadapi kinerja lesu di sektor ekuitas swasta dan modal ventura.
Hampir seperempat responden mengatakan dana ekuitas swasta belum mencapai imbal hasil investasi yang diharapkan untuk tahun 2025, sementara 15% lainnya mengatakan hal yang sama untuk investasi langsung ekuitas swasta. Modal ventura mencatat sentimen bersih terendah, dengan 33% responden melaporkan imbal hasil yang tidak memuaskan.
Meskipun demikian, family offices berbondong-bondong meningkatkan alokasi dana ke kas, tidak hanya untuk memitigasi risiko, tetapi juga sebagai langkah strategis guna memanfaatkan peluang investasi yang mungkin muncul di masa depan.
"Mereka memiliki visi yang jauh lebih panjang tentang warisan dan keluarga mereka," kata Ringham, yang mengarahkan strategi kekayaan pribadi untuk divisi RBC AS.
"Dengan melakukan ini, mereka mungkin menciptakan modal untuk memanfaatkan peluang yang mereka lihat muncul di pasar," tambahnya.
Optimisme yang berhati-hati ini, kata Ringham, tercermin dari perubahan rencana alokasi aset para responden. Hanya sekitar 3% family office yang berencana meningkatkan alokasi dana ke kas dan aset likuid, jauh lebih kecil dibandingkan 20% yang ingin menambah investasi di ekuitas swasta langsung, serta 13% di dana ekuitas swasta.
Menurut dia, investasi di pasar swasta kini dianggap sebagai langkah penting untuk membangun kekayaan jangka panjang cukup besar untuk melampaui inflasi dan menopang kebutuhan keluarga yang terus bertumbuh.
(ven/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Investor Borong Surat Utang RI, Purbaya: Yield Terendah dalam Sejarah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kepercayaan investor asing dan domestik meningkat, didorong oleh yield SBN 10 tahun yang mencapai 5,9%. [528] url asal
#yield-obligasi #investor-asing #surat-berharga-negara #pasar-obligasi #ekonomi-indonesia #imbal-hasil #ketegangan-dagang #flight-to-safety #permintaan-obligasi #volatilitas-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 21/10/25 08:05
v/10605/
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, investor asing dan domestik kini makin percaya dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.
Dia mengklaim minat investor ini dipicu oleh imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar, bergerak ke level terendahnya dalam sejarah. Rekor yield ini mencapai 5,9%.
"Ini sepanjang sejarah sekarang 5,9% untuk 10 tahun sejarah pemerintah, ya. Itu nunjukin orang percaya dengan fondasi ekonomi kita ke depan. Kalau enggak, enggak bisa turun seperti itu," kata Purbaya di Istana Negara, Jakarta, dikutip Selasa (21/10/2025).
Meski begitu, penting dicatat pasar surat utang pemerintah global tengah mengalami reli dalam beberapa waktu terakhir, termasuk di pasar obligasi Tanah Air.
Fenomena ini tercermin dari penurunan imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Australia, dan Kanada.
Melansir data Refinitiv, yield US Treasury 10 tahun (US10Y) pada perdagangan Kamis (14/10/2025) tercatat turun 0,72% ke level 4,022% atau melemah 2,9 basis poin (bps) dalam sehari.
Penguatan harga obligasi juga terjadi di Inggris, di mana yield obligasi pemerintah (GB10Y) merosot 1,48% ke level 4,593%, atau turun 6,9 bps dibandingkan hari sebelumnya.
Kondisi serupa terjadi di beberapa negara maju lainnya. Imbal hasil obligasi Prancis (FR10Y) turun dari 3,478% menjadi 3,407%, atau melemah sekitar 7,1 bps.
Sementara yield obligasi Australia (AU10Y) anjlok dari 4,371% menjadi 4,258%, atau turun 11,3 bps, menjadi salah satu penurunan terdalam di antara yang lainnya. Adapun yield obligasi Kanada (CA10Y) juga bergerak lebih rendah, dari 3,169% ke 3,155%, atau turun 1,4 bps.
Reli di pasar obligasi global didorong oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah ketegangan dagang antara AS dan China yang kembali memanas. Hal ini membuat pelaku pasar berbondong-bondong mencari perlindungan di aset aman seperti obligasi pemerintah.
Lonjakan permintaan tersebut mendorong harga obligasi naik dan menekan yield ke level yang lebih rendah.
"Penurunan yield di pasar negara maju sangat luas dan menjadi cerminan flight to safety akibat meningkatnya volatilitas di aset berisiko," ujar Marc Ostwald, Kepala Ekonom dan Global Strategist di ADM Investor Services London, dikutip dari CNBC International.
Di dalam negeri, data juga menunjukkan lonjakan permintaan pada lelang Surat Berharga Negara (SBN), Selasa (7/10/2025) di mana pemerintah berhasil menjual Rp28 triliun obligasi, melampaui target Rp23 triliun.
Rasio bid-to-target tercatat menjadi yang tertinggi dalam dua bulan terakhir yang menunjukkan antusiasme investor lokal terhadap instrumen berbasis rupiah di tengah pelemahan dolar.
Kuatnya minat domestik ini juga membantu menyeimbangkan keluarnya dana asing dari pasar obligasi, di tengah kekhawatiran investor global terhadap dinamika fiskal dan politik di negara berkembang menjelang tahun pemilu.
(ras/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Menkeu: "Yield" SBN rendah tunjukkan kepercayaan ke fondasi ekonomi RI
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang saat ini tercatat rendah menandakan kepercayaan ... [345] url asal
#menkeu #purbaya #sbn #imbal-hasil-sbn #yield-sbn #outstanding-sbn
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang saat ini tercatat rendah menandakan kepercayaan investor asing dan domestik terhadap fondasi ekonomi Indonesia ke depan.
“Yield-nya rendah kan berarti kita bagus. Orang lain percaya sama kita. Domestik sama asing,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin malam.
Ia menambahkan bahwa saat ini yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 5,9 persen. Angka ini disebut pasar merupakan level terendah dalam 20 tahun terakhir. Kondisi ini, menurut Purbaya, menjadi bukti bahwa pasar menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan prospektif.
“Kalau tidak ada kepercayaan, yield tidak mungkin bisa turun seperti ini,” kata Purbaya.
Sebagai informasi, imbal hasil SBN 10 tahun menunjukkan tren penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Merujuk rilis "Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah" dari Bank Indonesia, imbal hasil tercatat 5,94 persen pada Kamis (16/10).
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Note) 10 tahun berada di level 3,975 persen pada hari yang sama.
Selisih (spread) imbal hasil antara SBN dan US Treasury pun semakin menyempit, tercatat sebesar 1,97 persen atau 197 basis poin (bps).
Sejak awal tahun hingga 16 Oktober 2025, investor nonresiden tercatat melakukan beli neto sebesar Rp17,28 triliun di pasar SBN. Sebaliknya, pasar saham dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatatkan jual neto masing-masing sebesar Rp51,24 triliun dan Rp132,75 triliun.
Berdasarkan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI), total outstanding SBN tercatat sebesar Rp6.592 triliun per akhir September 2025, terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) Rp5.301 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp1.290 triliun.
Rincian SUN terdiri dari Obligasi Negara (SUN jangka panjang) sebesar Rp5.243 triliun dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN, jangka pendek) Rp58,7 triliun.
Berdasarkan kepemilikan, SUN mayoritas dipegang oleh bank swasta nasional Rp526 triliun, diikuti bank pemerintah/BUMN Rp316,5 triliun dan bank asing Rp74,9 triliun. Sementara pada SPN, kepemilikan terbesar adalah bank pemerintah Rp3,45 triliun dan bank asing Rp2,58 triliun.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56