#30 tag 24jam
Sakti! Buah Asli RI Disebut Bisa Atasi Kiamat, Diburu Orang Eropa
Indonesia kaya akan buah asli, termasuk durian, rambutan, dan sukun. Sukun, dikenal sebagai "breadfruit", memiliki sejarah menarik dan khasiat tinggi. [731] url asal
#sukun #buah-tropis #indonesia #durian #rambutan #artocarpus-altilis #sejarah-sukun #penjelajahan-samudera #makanan-khas #popularitas-buah
(CNBC Indonesia - News) 15/11/25 16:30
v/39570/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki berbagai varian buah asli. Buah tropis dari Indonesia yang populer di dunia adalah durian dan rambutan.
Ternyata selain dua buah tersebut, ada satu buah asli Indonesia lain yang sangat dikenal dan diburu dunia, yakni sukun.
Popularitas sukun tak terlepas dari imajinasi orang Eropa atas buah berkhasiat tinggi. Selama ratusan tahun, masyarakat Eropa punya fantasi atas "buah yang lebih unggul dibanding buah-buahan lain", saking berkhasiatnya.
Namun, fantasi itu hanya bisa dipendam karena sulit menemukan buah tersebut di Eropa yang beriklim dingin. Sampai akhirnya, saat penjelajahan samudera dimulai, orang Eropa melongo karena berhasil menemukan buah yang dimaksud.
Lebih lagi, buah tersebut asli Indonesia. Di wilayah sejauh 10.603 Km bernama Kepulauan Nusantara, buah sukun tumbuh.
Sejarah mencatat, sukun mudah ditemukan di seantero wilayah Nusantara dan beberapa negara Pasifik. Relief di Candi Borobudur menggambarkan sukun sebagai salah satu bahan makanan andalan para penduduk.
Meski begitu, interaksi pertama orang Eropa terhadap buah bernama Latin Artocarpus altilis ini terjadi pada abad ke-17. Kala itu, sukun sudah tersebar ke Kepulauan Pasifik hasil pembibitan imigran selama ribuan tahun.
Orang Eropa pertama yang menemukannya adalah penjelajah Inggris, William Dampier. Saat berkunjung ke Guam pada 1686, Dampier melihat buah unik yang tak ditemukan di Eropa.
Buah tersebut diceritakan Dampier berasal dari pohon besar dan jika dibelah tidak ditemukan biji atau sesuatu di dalamnya.
"Maka, kami menamakannya sebagai breadfruit," tulis William Dampier dalam A New Voyage Round the World (1697).
Penamaan breadfruit (buah roti) terjadi karena buah tersebut mirip roti panggang. Jika buah dibelah dan kulitnya dikupas, lalu isinya dipanggang di atas api rasanya seperti roti panggang.
Menurut Dampier, breadfruit sangat lezat dan bisa untuk mengatasi kelaparan dan krisis pangan, serta penyakit kudis.
Ketika Dampier pulang, catatan terkait breadfruit lantas menjadi pembicaraan. Orang Eropa langsung penasaran atas buah tersebut. Namun, rasa penasaran itu mentok sebatas pikiran. Sebab, sulit bagi mereka datang mencicipi atau membawa pulang bibit sukun.
Tak hanya kesaksian Dampier, orang Belanda bernama Rumphius juga berkata demikian. Dalam catatan di Herbarium Amboinese (1741), Rumphius menyebut buah tersebut ajaib karena berpotensi jadi kudapan bernutrisi tinggi dan serbaguna. Buah ini bisa menyelamatkan orang di kala kelaparan dan kesulitan mencari makanan.
Hanya saja, berbagai kesaksian atas breadfruit menjadi imajinasi semata mayoritas warga terkait buah berkhasiat tinggi. Sampai akhirnya, cita-cita membawa sukun diwujudkan oleh James Cook. Pada 1775, Cook meminta ahli botani, Joseph Banks, untuk meneliti sukun agar bisa dibawa ke banyak daerah koloni Inggris.
Dalam riset "Grows Us Our Daily Bread: A Review of Breadfruit Cultivation in Traditional and Contemporary Systems" (2019) diketahui bahwa Banks yakin sukun berkhasiat tinggi. Maka, dia meminta Raja Inggris, George III, supaya mengizinkan breadfruit ditanam di koloni Inggris sebagai bahan makanan budak.
Singkat cerita, permintaan Banks disetujui Raja Inggris. Setelahnya dia membawa bibit sukun dan menanamnya di koloni Inggris.
Awalnya ditanam di Karibia, Amerika Tengah. Lalu ditanam di koloni Inggris lain. Perlahan, negara-negara Eropa lain juga menyebarkan bibit sukun ke wilayah jajahan.
Dari sini, pohon sukun ada di Afrika dan Asia, serta dikonsumsi tak hanya orang Eropa, tapi warga dunia.
Berkhasiat & Penyelamat dari 'Kiamat'
Pada awalnya, tingginya nutrisi breadfruit hanya berdasarkan kesaksian empiris. Tak ada bukti klinis laboratorium. Catatan klasik menyebut breadfruit sangat bergizi dan bernutrisi tinggi karena mampu mengenyangkan dan menangkal penyakit.
Dari semula hanya dikonsumsi budak, breadfruit perlahan dikonsumsi warga Eropa dan dunia. Seiring waktu, catatan klinis modern membenarkan kesaksian empiris ratusan tahun lalu.
Departemen Kesehatan Amerika Serikat mengungkap, sukun memiliki kandungan vitamin C, potasium, dan magnesium dalam jumlah besar. Selain itu, buah ini juga tinggi serat, rendah lemak dan gula.
Lebih mengejutkan lagi, sukun juga disebut berbagai riset sebagai superfood. Sebutan ini muncul selain karena sukun tanaman bernutrisi tinggi, tapi juga cepat berbuah, sedikit perawatan, bisa bertahan di cuaca ekstrim, dan sangat adaptif.
Pada titik ini, pohon sukun dianggap sebagai solusi mengatasi 'kiamat' pangan yang kini sedang melanda bumi imbas krisis iklim. Atas alasan ini, Sukun mudah ditanam di luar habitat aslinya di Indonesia. Tak heran, pohon sukun kini tak hanya berada di Indonesia, tapi mudah ditemukan di banyak tempat di seluruh dunia.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Semangka Ditanam di Kutub Selatan, Hasilnya Tak Diduga
Penelitian di Antartika menanam semangka di rumah kaca. [330] url asal
#semangka #kutub-selatan #penelitian-pertanian #antartika #rumah-kaca #hasil-pertanian #adaptasi-tanaman #iklim-ekstrem #eksperimen-ilmiah #buah-tropis
(CNBC Indonesia - Tech) 24/10/25 06:03
v/14074/
Jakarta, CNBC Indonesia - Buah semangka bisa kita temui di daerah dengan iklim tropis dan subtropis. Namun bagaimana jika ditanam di daerah yang sangat dingin hingga minus 89,2 derajat Celcius seperti Antartika?
Sebuah penelitian beberapa tahun lalu dari Russian Antarctic Expedition of the Arctic and Antarctic Research Institute (AARI), bersama Agrophysical Research Institute dan Institute of Biomedical Problems of the Russian Academy of Sciences mencoba menanam di wilayah paling dingin di muka Bumi.
Mereka mencoba menanamnya di sebuah rumah kaca di stasiun Vostok. Cara ini akan meningkatkan suhu dan kelembapan udara, jadi akan membuat semangka bisa bertumbuh dengan baik.
Dua varietas yang telah matang sebelumnya dipilih untuk percobaan ini. Alasannya karena bisa beradaptasi dalam tekanan atmosfer rendah dan oksigen yang sedikit dalam rumah kaca.
Benih semangka ditanamkan pada lapisan tipis pengganti tanah. Para peneliti juga membuat cahaya khusus yang mirip sinar matahari dan membuat penyerbukan pengganti tugas serangga.
Mengutip Live Science, hasilnya menggembirakan karena semangka tumbuh dengan baik. Butuh 103 hari hingga buah itu matang dan menghasilkan buah yang manis.
Russian Geographical Society menuliskan semangka yang tumbuh memiliki berat sekitar 1 kilogram dan diameter mencapai 13 cm.
Hasil ini jelas membuat senang para ilmuwan yang tinggal di wilayah tersebut. Membuat mereka bisa mengingat cita rasa musim panas di tempat paling dingin di muka Bumi, ungkap kepala ahli geofisika AARI, Andrei Teplyakov.
Stasiun Vostok telah mencoba menanam beberapa produk tanam lain sebelum semangka. Misalnya pada 2020, mereka menanam dill, basil, peterseli, aurgula, dan kubis.
Para peneliti juga sudah punya daftar buah lain yang siap ditanam, termasuk blackberry, blueberry, dan stroberi.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Sakti! Buah Asli RI Disebut Bisa Atasi Kiamat-Diburu Orang Eropa
Sukun, buah asli Indonesia, dikenal dunia sebagai "breadfruit". Kaya nutrisi, sukun jadi solusi pangan global di tengah krisis iklim. Temukan sejarahnya! [754] url asal
#sukun #breadfruit #buah-tropis #superfood #kesehatan #nutrisi #krisis-pangan #tanaman-berkhasiat #indonesia #penjelajahan-eropa
(CNBC Indonesia - News) 19/10/25 16:46
v/8924/
Jakarta,CNBC Indonesia - Masyarakat dunia mengenal durian atau rambutan sebagai buah tropis dari Indonesia. Ternyata selain dua buah tersebut, ada satu buah asli Indonesia lain yang sangat dikenal dan diburu dunia, yakni sukun.
Bagaimana sukun bisa populer awalnya tak terlepas dari imajinasi orang Eropa atas buah berkhasiat tinggi. Selama ratusan tahun, masyarakat Eropa punya fantasi atas "buah yang lebih unggul dibanding buah-buahan lain". Saking berkhasiatnya.
Namun, fantasi itu hanya bisa dipendam karena sulit menemukan buah tersebut di Eropa yang beriklim dingin. Sampai akhirnya, saat penjelajahan samudera dimulai, orang Eropa melongo karena berhasil menemukan buah yang dimaksud. Lebih lagi, buah tersebut asli Indonesia.
Sukun & "The Breadfruit"
Di wilayah sejauh 10.603 Km bernama Kepulauan Nusantara, "buah yang lebih unggul dibanding buah-buahan lain" dalam fantasi orang Eropa, sangat mudah ditemukan. Namanya adalah sukun.
Sejarah mencatat, sukun mudah ditemukan di seantero wilayah Nusantara dan beberapa negara Pasifik. Relief di Candi Borobudur menggambarkan sukun sebagai salah satu bahan makanan andalan para penduduk.
Meski begitu, interaksi pertama orang Eropa terhadap buah bernama Latin Artocarpus altilis ini terjadi pada abad ke-17. Kala itu, sukun sudah tersebar ke Kepulauan Pasifik hasil pembibitan imigran selama ribuan tahun.
Orang Eropa pertama yang menemukannya adalah penjelajah Inggris, William Dampier. Saat berkunjung ke Guam pada 1686, Dampier melihat buah unik yang tak ditemukan di Eropa. Buah tersebut diceritakan Dampier berasal dari pohon besar dan jika dibelah tidak ditemukan biji atau sesuatu di dalamnya.
"Maka, kami menamakannya sebagai breadfruit," tulis William Dampier dalam A New Voyage Round the World (1697).
Penamaan breadfruit (buah roti) terjadi karena buah tersebut mirip roti panggang. Jika buah dibelah dan kulitnya dikupas, lalu isinya dipanggang di atas api rasanya seperti roti panggang. Menurut Dampier, breadfruit sangat lezat dan bisa untuk mengatasi kelaparan dan krisis pangan, serta penyakit kudis.
Ketika Dampier pulang, catatan terkait breadfruit lantas menjadi pembicaraan. Orang Eropa langsung penasaran atas buah tersebut. Namun, rasa penasaran itu mentok sebatas pikiran. Sebab, sulit bagi mereka datang mencicipi atau membawa pulang bibit sukun.
Tak hanya kesaksian Dampier, orang Belanda bernama Rumphius juga berkata demikian. Dalam catatan di Herbarium Amboinese (1741), Rumphius menyebut buah tersebut ajaib karena berpotensi jadi kudapan bernutrisi tinggi dan serbaguna. Bisa menyelamatkan orang di kala kelaparan dan kesulitan mencari makanan.
Hanya saja, berbagai kesaksian atas breadfruit menjadi imajinasi semata mayoritas warga terkait buah berkhasiat tinggi. Sampai akhirnya, cita-cita membawa sukun diwujudkan oleh James Cook. Pada 1775, Cook meminta ahli botani, Joseph Banks, untuk meneliti sukun agar bisa dibawa ke banyak daerah koloni Inggris.
Dalam riset "Grows Us Our Daily Bread: A Review of Breadfruit Cultivation in Traditional and Contemporary Systems" (2019) diketahui bahwa Banks yakin sukun berkhasiat tinggi. Maka, dia meminta Raja Inggris, George III, supaya mengizinkan breadfruit ditanam di koloni Inggris sebagai bahan makanan budak.
Singkat cerita, permintaan Banks disetujui Raja Inggris. Lalu, setelahnya dia membawa bibit sukun dan menanamnya di koloni Inggris. Awalnya ditanam di Karibia, Amerika Tengah. Lalu ditanam di koloni Inggris lain. Perlahan, negara-negara Eropa lain juga menyebarkan bibit sukun ke wilayah jajahan. Dari sini, pohon sukun ada di Afrika dan Asia, serta dikonsumsi tak hanya orang Eropa, tapi warga dunia.
Berkhasiat & Penyelamat dari 'Kiamat'
Pada awalnya, tingginya nutrisi breadfruit hanya berdasarkan kesaksian empiris. Tak ada bukti klinis laboratorium. Catatan klasik menyebut breadfruit sangat bergizi dan bernutrisi tinggi karena mampu mengenyangkan dan menangkal penyakit.
Dari semula hanya dikonsumsi budak, breadfruit perlahan dikonsumsi warga Eropa dan dunia. Seiring waktu, catatan klinis modern membenarkan kesaksian empiris ratusan tahun lalu. Departemen Kesehatan Amerika Serikat mengungkap, sukun memiliki kandungan vitamin C, potasium, dan magnesium dalam jumlah besar. Selain itu, buah ini juga tinggi serat, rendah lemak dan gula.
Lebih mengejutkan lagi, sukun juga disebut berbagai riset sebagai superfood. Sebutan ini muncul selain karena sukun tanaman bernutrisi tinggi, tapi juga cepat berbuah, sedikit perawatan, bisa bertahan di cuaca ekstrim, dan sangat adaptif.
Pada titik ini, pohon sukun dianggap sebagai solusi mengatasi 'kiamat' pangan yang kini sedang melanda bumi imbas krisis iklim. Atas alasan ini, Sukun mudah ditanam di luar habitat aslinya di Indonesia. Tak heran, pohon sukun kini tak hanya berada di Indonesia, tapi mudah ditemukan di banyak tempat di seluruh dunia.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Arah pengembangan buah Indonesia
Sebagian wilayah Indonesia terletak di khatulistiwa, sehingga iklimnya cocok untuk produksi buah sepanjang tahun.Jika ditarik garis dari barat ke timur, ... [1,103] url asal
Jakarta (ANTARA) - Sebagian wilayah Indonesia terletak di khatulistiwa, sehingga iklimnya cocok untuk produksi buah sepanjang tahun.
Jika ditarik garis dari barat ke timur, panjang wilayah Indonesia mencapai 5.120 km. Hal itu memungkinkan musim buah berbeda di setiap wilayah. Panen buah durian memang sekali dalam setahun di wilayah tertentu. Namun, panen di seluruh negeri berlangsung terus-menerus.
Khusus jenis tanaman buah berbatang tunggal seperti pisang, kelapa, pepaya, nanas, dan salak mampu panen sepanjang tahun.
Berbagai jenis tanah dari pesisir hingga pegunungan, iklim panas hingga sejuk, musim kering hingga basah merupakan keuntungan untuk budi daya berbagai jenis buah.
Pusat keanekaragaman buah, misalnya Kalimantan, masih menyimpan potensi spesies buah yang belum diketahui untuk dieksplorasi dan dikembangkan lebih lanjut.
Di Indonesia, sekitar 40 jenis buah memiliki nilai komersial, sementara ratusan jenis lainnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi cuaca memengaruhi waktu panen, kualitas, dan kuantitas buah. Permintaan akan buah berkualitas premium sangat tinggi, tetapi produksi dan volume masih kurang.
Pasar buah modern menuntut pasokan yang terus-menerus sepanjang tahun. Namun, selama musim panen puncak, terjadi kelebihan produksi. Dampaknya pasar tidak dapat menyerap dan harga turun.
Kendala lain berupa penanganan pascapanen selama musim panen. Kerugian akibat penanganan buah yang buruk mencapai 20—60% dari total produksi, mulai dari petani, penjual eceran, hingga konsumen akhir.
Menurut Badan Pusat Statistik produksi durian dalam empat tahun terakhir (2021—2024) mencapai 6,7 juta ton. Perinciannya 1.353. 037 ton pada 2021, 1.582.171 ton (2022), 1.852.045 ton (2023), dan 1.981.486 ton (2024).
BPS juga mencatat pada kurun yang sama produksi buah komersial lain seperti alpukat mencapai 3,4 juta ton, 37 juta ton (pisang), 12,7 juta ton (mangga), 6,7 juta ton (salak), dan 1,4 juta ton (manggis).
Tiga Kelompok
Menurut Pakar buah tropis, Dr. Mohammad Reza Tirtawinata, M.S. dalam simposium internasional hortikultura di Senyum World Hotel, Kota Batu, Jawa Timur (15/10), program pengembangan dan produksi buah di Indonesia yang berkelanjutan idealnya melibatkan tiga pihak, yakni petani kecil, kebun buah, dan kebun plasma nutfah.
Petani dan petani kecil fokus pada pemangkasan dan perbaikan pohon buah yang sudah ada. Mereka berupaya meningkatkan produktivitas dan kualitas buah di lingkungan sekitar, kata Reza dalam simposium yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dan Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhorti) itu.
Selain itu para petani juga menggunakan sumber daya dan teknologi yang tersedia secara lokal. Dalam 2—3 tahun, mereka memperoleh peningkatan pendapatan dari panen buah berkualitas lebih baik.
Di daerah perdesaan terdapat kebun yang kaya akan pohon buah lokal dan tumbuh liar secara alami. Pohon buah lokal itu merupakan varietas yang tidak teridentifikasi, berkualitas rendah, berproduksi rendah, dan bernilai pasar rendah.
Bagi para petani, lakukan renovasi pohon-pohon itu dengan metode top-working (TW) pada kanopi. Pada prinsipnya top working merupakan teknik penyambungan tanaman dengan menyisipkan entres dari varietas unggul ke batang bawah pohon. Entres itu kelak menjadi batang atas.
“Top-working itu proses untuk mengubah pohon yang tidak produktif menjadi produktif dengan melakukan penyambungan ulang kanopi menggunakan varietas komersial baru, dengan menggunakan batang yang sudah ada sebagai batang bawah,” kata Reza.
Tujuan top working mengganti varietas tanaman yang kurang produktif atau berkualitas rendah menjadi varietas yang lebih unggul dalam waktu lebih singkat. Jadi, untuk meningkatkan nilai panen buah lebih singkat dan tanpa menebang pohon.
Pohon buah lokal tumbuh secara alami dan dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Setelah penerapan metode TW, pohon dapat bertahan tanpa memerlukan perawatan intensif.
Menurut Reza pohon hasil top working akan berbuah jauh lebih cepat daripada menanam bibit yang disambung. Vegetasi di sekitar pohon TW harus dikendalikan untuk menghindari persaingan nutrisi, air, dan sinar matahari.
Kelompok kedua, yakni kebun buah dan perkebunan buah komersial yang fokus pada tanaman buah dalam pot (tabulampot).
Mereka berinvestasi dalam teknologi budi daya buah terbaru seperti internet of things (IoT) dan good agricultural practices untuk menghasilkan panen buah sepanjang tahun sehingga ketersediaan buah pun terjaga. Investasi itu sekaligus meningkatkan produksi dan kualitas buah.
Upaya lain yang dapat diterapkan kebun buah adalah budi daya tanaman buah dalam pot (tabulampot) terutama untuk pohon dengan buah berukuran kecil atau kurang dari 1 kg), sedangkan pohon dengan buah berukuran besar (lebih dari 1 kg) sebaiknya ditanam di ladang.
Tabulampot sebagai teknologi baru yang sedang berkembang untuk menghasilkan buah berkualitas tinggi sepanjang tahun. Penanaman dalam wadah untuk membatasi pertumbuhan akar yang liar dan mengelola kanopi pohon.
Wadah tanam atau kontainer menggunakan kantung tanam berkapasitas 150–200 liter dari bahan terpal atau idealnya aeropot.
Reza mengatakan, petani yang menerapkan sistem budi daya tabulampot lebih mudah mengatur pembuahan. Hal itu memungkinkan untuk mencegah pembuahan serentak.
Membuahkan tanaman dalam pot dengan media tanam terbatas relatif mudah. Penyebabnya area perakaran terbatas, hanya di dalam pot, sehingga pengangkutan nutrisi dari akar lebih optimal dan lebih cepat.
Pada kesempatan lain, Reza membuat analogi akar tanaman dalam pot yang lebih pendek itu “menyederhanakan birokrasi”.
Hal itulah yang menyebabkan tanaman mudah berbuah dengan kualitas tinggi hingga premium. Pengaturan pembuahan tanaman dalam pot memungkinkan ketersediaan buah sepanjang tahun. Pasokan buah di pasar yang konstan menyebabkan harga pun stabil.
Plasma nutfah
Sistem tabulampot memerlukan investasi tinggi dibanding dengan penanaman pohon buah di lahan terbuka. Hal itu karena petani memerlukan material seperti pot atau planter bag dan media kultur.
Planter bag mampu bertahan 5—6 tahun. Namun, menurut Reza, buah hasil budi daya tabulampot berkualitas tinggi, waktu panen yang tepat, dan volume yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar.
Panen buah pada tingkat kematangan 80—90 persen untuk mendapatkan buah yang seragam dan berkualitas tinggi.
Kebun buah yang menanam tabulampot menargetkan pasar buah segar dan konsumen buah meja. Kebun buah komersial menargetkan pasar ekspor dan industri pengolahan buah.
Karena ukuran yang kompak, tabulampot cocok untuk taman agrowisata petik buah sendiri. Jumlah spesies buah yang makin langka terus meningkat, akibat nilai nonkomersialnya.
Banyak spesies buah di hutan mengalami penurunan populasi, akibat perluasan perkebunan sawit dan penebangan pohon. Pohon buah juga berfungsi sebagai penyeimbang lingkungan seperti penahan air, penyerapan karbondioksida, produksi oksigen, dan pencegahan longsor.
Selain itu terdapat pohon buah yang menjadi tempat tinggal dan sumber pakan bagi hewan kecil seperti burung, tupai, kelelawar, dan lebah. Itulah sebabnya spesies-spesies itu harus dilestarikan.
Cara pelestarian antara lain penanaman di taman umum, kawasan konservasi alam, ruang terbuka di kantor/lembaga pemerintah, zona hijau pabrik atau industri, taman hijau properti, dan taman pribadi kolektor. Tugas kelompok ketiga, yakni kelompok plasma nutfah tanaman buah, berfokus pada konservasi.
Mereka mengumpulkan tanaman buah lokal yang langka dan kurang dimanfaatkan, serta melestarikannya secara eks-situ.
Selain itu mereka juga menanam beragam spesies di lahan terbuka yang tersedia untuk menjadikannya hijau dan ramah lingkungan. Koleksi plasma nutfah antara lain bermanfaat untuk merakit varietas unggul.
*) Penulis adalah Ketua III Perhimpunan Hortikulturan Indonesia.
Copyright © ANTARA 2025
Buah Sakti Antipetaka Incaran Eropa, Viral Dimakan Mentah Tiru Leluhur
Di sosial media, ramai influencer menyantap buah yang bisa mengatasi 'kiamat'. Sudah gitu menyantapnya mengikuti cara nenek moyang. [587] url asal
#sukun #superfood #buah-tropis #krisis-pangan #influencer #kelaparan
(CNBC Indonesia - Entrepreneur) 13/10/25 12:19
v/1617/
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam video yang beredar di media sosial baru-baru ini, sejumlah pemengaruh (influencer) tampak terkejut setelah mengetahui buah sukun ternyata bisa dimakan mentah. Mentah dimaksud adalah buah yang sudah matang di pohon, tapi tanpa pengolahan lanjut. Sebagaimana biasa, buah sukun seringnya dijadikan kudapan dengan digoreng atau dikukus terlebih dahulu.
Kini, viral orang-orang langsung memakan buah sukun matang di pohon. Mereka menggambarkan rasanya seperti sedang menyantap es krim, lembut, halus, agak creamy.
Menariknya, kebiasaan itu bukan hal baru. Para pendahulu kita juga pernah menyantap sukun mentah karena pada masa itu teknik pengolahan makanan belum berkembang seperti sekarang.
Sukun sendiri merupakan buah khas tropis yang salah satu lokasi asalnya dari Indonesia. Bukti buah ini sudah lama dikonsumsi bahkan terlihat di relief Candi Borobudur. Relief dari abad ke-8 Masehi itu menggambarkan sukun sebagai salah satu bahan pangan utama masyarakat masa itu.
Popularitas sukun kemudian melejit setelah bangsa Eropa menemukannya. Sejak lama, orang-orang Eropa mengimpikan buah yang bergizi tinggi dan mudah diolah, tetapi sulit diwujudkan karena kondisi iklim tidak memadai. Baru pada era penjelajahan samudra di akhir abad ke-15, impian itu mulai mendekati kenyataan.
Sampai akhirnya, impian tersebut terwujud pada 1686, ketika penjelajah Inggris William Dampier menemukan buah unik ini di Guam.
"Maka, kami menamakannya sebagai breadfruit," tulis Dampier dalam bukunya A New Voyage Round the World (1697).
Dampier menamai buah itu breadfruit (buah roti) karena rasa dan teksturnya menyerupai roti panggang ketika dibakar. Dia menggambarkan sukun sebagai buah yang "sangat lezat, mampu mengatasi kelaparan, serta menyembuhkan penyakit kudis."
Catatan perjalanan Dampier membuat banyak orang Eropa penasaran. Namun rasa ingin tahu itu belum terjawab karena membawa bibit sukun ke Eropa bukan perkara mudah. Seiring waktu, bukan hanya Dampier yang terpukau. Peneliti Belanda Georgius Everhardus Rumphius juga menulis tentang buah ini dalam Herbarium Amboinense (1741).
Saat di Ambon, da menyebut sukun sebagai buah ajaib yang berpotensi menjadi makanan bergizi tinggi dan serbaguna. Alias jadi penyelamat di masa kelaparan.
Meski begitu, selama bertahun-tahun, kisah tentang breadfruit hanya jadi imajinasi Eropa. Sebab sulit untuk membawa bibit buah dari daerah tropis, termasuk Indonesia, ke berbagai negara non-tropis. Hingga akhirnya, pelaut James Cook dan ahli botani Joseph Banks mewujudkan ambisi membawa sukun ke koloni Inggris pada 1775.
Dalam riset berjudul "Grows Us Our Daily Bread: A Review of Breadfruit Cultivation in Traditional and Contemporary Systems" (2019), disebutkan Banks yakin sukun memiliki manfaat besar bagi manusia. Dia pun meminta Raja Inggris George III agar mengizinkan penanaman sukun di wilayah koloni sebagai bahan pangan bagi para budak.
Permintaan itu dikabulkan. Sejak saat itu, bibit sukun dibawa dan ditanam di berbagai wilayah. Mulai dari Karibia hingga Amerika Tengah. Dari sana, pohon sukun kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Afrika dan Asia.
Super Food dari Tropis
Awalnya, klaim soal khasiat sukun hanya berdasar pengalaman empiris. Namun seiring waktu, berbagai riset modern membuktikan, sukun memang kaya nutrisi.
Departemen Kesehatan Amerika Serikat mencatat sukun mengandung vitamin C, kalium, dan magnesium dalam jumlah besar. Buah ini juga tinggi serat, rendah lemak, dan rendah gula. Tak heran, banyak peneliti kini menyebut sukun sebagai superfood.
Selain bergizi tinggi, sukun juga mudah ditanam, cepat berbuah, dan tahan terhadap cuaca ekstrem. Semua keunggulan ini menjadikannya kandidat kuat sebagai solusi menghadapi ancaman krisis pangan global.
Tindakan para pemengaruh menyantap sukun bak nenek moyang kita diharapkan bisa mengangkat popularitas buah tersebut agar bisa disantap banyak orang. Meski belum ada pernyataan resmi yang menyebut mengonsumsi buah sukun tanpa dimasak berbahaya atau tidak. Yang pasti, buah sukun memiliki getah, sehingga disarankan tidak mengonsumsi buah sukun yang masih mentah tanpa diolah lanjut.
(mfa/mfa)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56