#30 tag 24jam
Petani Banyuwangi olah buah naga afkir jadi produk bernilai tambah
Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pasanggaran Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengolah buah naga afkir menjadi berbagai produk olahan ... [734] url asal
#hilirisasi-buah #petani-buah #buah-naga #yayasan-astra #hilirisasi
Yang penting itu jangan sampai ada hasil panen yang terbuang. Semuanya harus bisa dimanfaatkan
Banyuwangi (ANTARA) - Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pasanggaran Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengolah buah naga afkir menjadi berbagai produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus mengurangi kerugian petani.
Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini mengatakan buah naga yang mengalami cacat fisik ringan sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi karena tidak memenuhi standar pasar buah segar.
"(Produk buah naga) yang belum menghasilkan uang itu adalah yang reject. Reject itu yang pecah sedikit, tapi masih bagus. Kena benturan, pecah, itu sudah tidak laku di pasaran," kata Sumartini di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat.
Menurut dia, hasil panen buah naga terlebih dahulu disortir berdasarkan ukuran, bobot, kadar gula dan kondisi fisik. Buah berkualitas terbaik dikelompokkan ke dalam grade A untuk dipasarkan ke pasar modern, sedangkan grade B dan C dipasarkan ke segmen pasar lain dengan harga berbeda.
Adapun buah kategori afkir merupakan buah yang mengalami cacat fisik ringan akibat benturan atau pecah saat panen maupun distribusi dimanfaatkan menjadi produk olahan maupun bahan baku pupuk organik.
"Yang penting itu jangan sampai ada hasil panen yang terbuang. Semuanya harus bisa dimanfaatkan," ujarnya.
Sumartini mengatakan buah naga afkir tersebut diolah menjadi sale buah naga melalui kemitraan usaha. Kelompok tani melakukan proses pengeringan, sedangkan proses pengolahan lanjutan dilakukan oleh mitra usaha.
Produksi sale buah naga dimulai pada Maret 2024 dan hingga Juni 2026 dan telah mencapai 19.125 kemasan yang seluruhnya terserap pasar.
Produk tersebut dipasarkan dengan harga Rp24.000 per kemasan melalui gerai ritel modern, pusat oleh-oleh di Jawa Timur, Bali, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta melalui lokapasar.
Berdasarkan jumlah produksi dan harga jual tersebut, total nilai penjualan sale buah naga kelompok tani diperkirakan mencapai sekitar Rp459 juta sejak mulai diproduksi pada Maret 2024.

Selain sale buah naga, kelompok tani juga mengembangkan dodol buah naga yang diproduksi berdasarkan pesanan, sedangkan bolu buah naga masih dalam tahap pengembangan.
Pada 2025, kelompok tersebut juga mengirim sampel produk buah naga kering ke Belanda sebagai bagian dari penjajakan pasar, meski belum dipasarkan secara komersial.
Selain menjadi bahan baku produk olahan, buah naga yang tidak terserap pasar juga dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair sehingga limbah hasil panen dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung budidaya buah naga organik.
"Kita sekelompok punya inisiatif, buah-buah yang tidak laku itu kita bikin pupuk organik cair untuk diaplikasikan lagi ke buah naga," ungkap dia.
Pengembangan produk olahan tersebut didukung melalui pendampingan Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) agar petani tidak hanya memiliki akses pasar yang lebih luas, tetapi juga mampu meningkatkan standar budidaya dan pengelolaan usaha.
Koordinator Yayasan Astra–YDBA Banyuwangi Azzuhri Tri Ahara mengatakan pendampingan terhadap Kelompok Tani Sinar Cabe berawal dari Program Desa Sejahtera Astra (DSA) yang masuk ke Desa Sumbermulyo untuk membantu memperluas akses pasar saat harga buah naga mengalami tekanan.
Seiring perjalanan program, persoalan yang dihadapi petani tidak hanya berkaitan dengan pemasaran, tetapi juga budidaya, pengelolaan usaha, dan penanganan pascapanen sehingga YDBA mendirikan cabang di Banyuwangi pada November 2021 untuk memperkuat pendampingan.
"Pendampingan kemudian diperluas mulai dari penguatan budidaya, administrasi kelompok, kelembagaan, legalitas usaha, penanganan pascapanen, hingga pengembangan produk olahan," ucap Azzuhri.
Melalui pendampingan tersebut, kelompok tani telah memperoleh sertifikasi budidaya organik, menerapkan standar operasional prosedur (SOP) budidaya, sortir, grading, dan penanganan pascapanen, serta memperoleh dukungan pemenuhan hak kekayaan intelektual (HAKI) dan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Pendampingan juga mendorong petani memproduksi pupuk organik dan agen hayati secara mandiri, memperkuat pengendalian hama dan penyakit, serta menerapkan sistem 5R di area produksi dan gudang.

Hasilnya, buah naga organik yang dihasilkan kelompok tani tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan buah naga konvensional.
Untuk buah grade A1, harga jual di tingkat petani mencapai sekitar Rp22.000 per kilogram (kg), atau sekitar Rp5.000 lebih tinggi dibandingkan buah naga konvensional yang berada di kisaran Rp17.000 per kg.
Saat ini Kelompok Tani Sinar Cabe memiliki 30 anggota aktif yang mengelola lahan seluas 9,2 hektare dengan produksi sekitar 300 ton buah naga per tahun dan omzet sekitar Rp30 juta per bulan dari penjualan buah naga.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dukung Petani Lokal, Perkebunan Buah Naga Banyuwangi Dapat Pencahayaan Berkualitas
Pertanian lokal buah naga di Banyuwangi mendapat dukungan pencahayaan berkualitas yang membuat hasil panen semakin maksimal. Seperti diketahui bahwa hubungan antara... | Halaman Lengkap [499] url asal
#petani #buah-naga #petani-buah-naga #perkebunan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 22/01/26 14:05
v/110706/
BANYUWANGI - Pertanian lokal buah naga di Banyuwangi mendapat dukungan pencahayaan berkualitas yang membuat hasil panen semakin maksimal. Seperti diketahui bahwa hubungan antara pohon buah naga dan lampu itu sangat erat, saling terkait, dan bersifat fungsional.Pohon buah naga yang disinari lampu dengan temperatur cahaya 2.700K dari lampu pada malam hari dapat memicu pembungaan pada pohon di luar musim. Jadi, pohon buah naga dapat berbunga dan berbuah sepanjang waktu jika disinari pencahayaan lampu.
Sebagai bentuk komitmen Luby menggelar Gathering Komunitas Petani Buah Naga Banyuwangi 2026 dengan tema “Cahaya Terang, Hasil Gemilang. Bersama Lampu Buah Naga Luby” di New Surya Hotel, Banyuwangi, Minggu (18/1/2026).
Acara yang dihadiri para petani buah naga dari berbagai wilayah di Banyuwangi ini menjadi wadah silaturahmi, edukasi, serta diskusi langsung antara produsen, distributor, dan pelaku utama di sektor perkebunan buah naga.
Sebagai produsen lampu dan berbagai produk lainnya, Luby merasa perlu hadir dalam kebutuhan pencahayaan khusus perkebunan buah naga. Dalam kesempatan tersebut, Luby mengapresias petani yang telah menggunakan lampu buah naga Luby dan secara resmi memperkenalkan varian lampu LED khusus perkebunan buah naga kepada seluruh para petani yang hadir dalam acara ini.
Varian khusus ini diberi nama Luby Nature, yang dirancang untuk menjawab kebutuhan petani akan pencahayaan optimal dan efisiensi energi.
Lampu ini memiliki temperatur warna 2.700K yang sesuai untuk stimulasi pertumbuhan buah naga, dengan efikasi cahaya lebih dari 100 lumen per watt, sehingga mampu menghasilkan cahaya maksimal dengan konsumsi daya yang lebih rendah.
Keunggulan lain dari lampu ini adalah kemampuannya tetap bekerja optimal pada kondisi voltase listrik yang rendah dan tidak stabil, kondisi yang kerap ditemui di area perkebunan. Dengan fitur ini, petani tetap mendapatkan pencahayaan yang konsisten tanpa khawatir gangguan listrik menghambat proses budidaya dan tanaman berproses.
“Saat membuat suatu varian, kami selalu melakukan riset dan uji coba di lab khusus pengujian serta menggunakan sparepart terbaik agar kualitas dapat maksimal. Guna mendukung pertanian buah naga, kami terpanggil untuk menciptakan produk khusus perkebunan dengan kualitas terbaik, namun dengan harga ekonomis. Kami memiliki pabrik sendiri di Indonesia, sehingga para petani tidak perlu khawatir akan ketersediaan pasokan produk ini. Kami bersama petani dengan produk lampu dalam negeri bersama-sama berupaya memberikan yang terbaik untuk perekonomian dalam negeri,” ujar National Sales Manager Luby Samsudin.
Pihaknya juga menggandeng WW Elektrik sebagai mitra distribusi guna memastikan ketersediaan produk yang mudah dijangkau serta layanan yang optimal bagi para petani buah naga.
“Semoga ke depannya Luby dapat menjangkau lebih luas petani buah naga dalam penggunaan lampu Luby Nature,” kata Cipto Setyawan selaku Owner WW Elektrik.
Head of Activation Gaffar menambahkan pendekatan langsung ke lapangan sebagai kunci utama dalam membangun kepercayaan petani. Pihaknya hadir untuk menjadi partner yang benar-benar memahami kebutuhan petani.
"Melalui kegiatan turun ke kebun dan gathering ini, Luby ingin memastikan setiap petani mendapatkan edukasi yang tepat, merasakan manfaat yang nyata, serta yakin lampu buah naga Luby mampu meningkatkan hasil panen. Ke depan, program ini akan terus kami kembangkan secara konsisten di berbagai daerah sentra buah naga sebagai bentuk komitmen Luby terhadap pertanian Indonesia,” ujar Gaffar.
Arah pengembangan buah Indonesia
Sebagian wilayah Indonesia terletak di khatulistiwa, sehingga iklimnya cocok untuk produksi buah sepanjang tahun.Jika ditarik garis dari barat ke timur, ... [1,103] url asal
Jakarta (ANTARA) - Sebagian wilayah Indonesia terletak di khatulistiwa, sehingga iklimnya cocok untuk produksi buah sepanjang tahun.
Jika ditarik garis dari barat ke timur, panjang wilayah Indonesia mencapai 5.120 km. Hal itu memungkinkan musim buah berbeda di setiap wilayah. Panen buah durian memang sekali dalam setahun di wilayah tertentu. Namun, panen di seluruh negeri berlangsung terus-menerus.
Khusus jenis tanaman buah berbatang tunggal seperti pisang, kelapa, pepaya, nanas, dan salak mampu panen sepanjang tahun.
Berbagai jenis tanah dari pesisir hingga pegunungan, iklim panas hingga sejuk, musim kering hingga basah merupakan keuntungan untuk budi daya berbagai jenis buah.
Pusat keanekaragaman buah, misalnya Kalimantan, masih menyimpan potensi spesies buah yang belum diketahui untuk dieksplorasi dan dikembangkan lebih lanjut.
Di Indonesia, sekitar 40 jenis buah memiliki nilai komersial, sementara ratusan jenis lainnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi cuaca memengaruhi waktu panen, kualitas, dan kuantitas buah. Permintaan akan buah berkualitas premium sangat tinggi, tetapi produksi dan volume masih kurang.
Pasar buah modern menuntut pasokan yang terus-menerus sepanjang tahun. Namun, selama musim panen puncak, terjadi kelebihan produksi. Dampaknya pasar tidak dapat menyerap dan harga turun.
Kendala lain berupa penanganan pascapanen selama musim panen. Kerugian akibat penanganan buah yang buruk mencapai 20—60% dari total produksi, mulai dari petani, penjual eceran, hingga konsumen akhir.
Menurut Badan Pusat Statistik produksi durian dalam empat tahun terakhir (2021—2024) mencapai 6,7 juta ton. Perinciannya 1.353. 037 ton pada 2021, 1.582.171 ton (2022), 1.852.045 ton (2023), dan 1.981.486 ton (2024).
BPS juga mencatat pada kurun yang sama produksi buah komersial lain seperti alpukat mencapai 3,4 juta ton, 37 juta ton (pisang), 12,7 juta ton (mangga), 6,7 juta ton (salak), dan 1,4 juta ton (manggis).
Tiga Kelompok
Menurut Pakar buah tropis, Dr. Mohammad Reza Tirtawinata, M.S. dalam simposium internasional hortikultura di Senyum World Hotel, Kota Batu, Jawa Timur (15/10), program pengembangan dan produksi buah di Indonesia yang berkelanjutan idealnya melibatkan tiga pihak, yakni petani kecil, kebun buah, dan kebun plasma nutfah.
Petani dan petani kecil fokus pada pemangkasan dan perbaikan pohon buah yang sudah ada. Mereka berupaya meningkatkan produktivitas dan kualitas buah di lingkungan sekitar, kata Reza dalam simposium yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dan Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhorti) itu.
Selain itu para petani juga menggunakan sumber daya dan teknologi yang tersedia secara lokal. Dalam 2—3 tahun, mereka memperoleh peningkatan pendapatan dari panen buah berkualitas lebih baik.
Di daerah perdesaan terdapat kebun yang kaya akan pohon buah lokal dan tumbuh liar secara alami. Pohon buah lokal itu merupakan varietas yang tidak teridentifikasi, berkualitas rendah, berproduksi rendah, dan bernilai pasar rendah.
Bagi para petani, lakukan renovasi pohon-pohon itu dengan metode top-working (TW) pada kanopi. Pada prinsipnya top working merupakan teknik penyambungan tanaman dengan menyisipkan entres dari varietas unggul ke batang bawah pohon. Entres itu kelak menjadi batang atas.
“Top-working itu proses untuk mengubah pohon yang tidak produktif menjadi produktif dengan melakukan penyambungan ulang kanopi menggunakan varietas komersial baru, dengan menggunakan batang yang sudah ada sebagai batang bawah,” kata Reza.
Tujuan top working mengganti varietas tanaman yang kurang produktif atau berkualitas rendah menjadi varietas yang lebih unggul dalam waktu lebih singkat. Jadi, untuk meningkatkan nilai panen buah lebih singkat dan tanpa menebang pohon.
Pohon buah lokal tumbuh secara alami dan dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Setelah penerapan metode TW, pohon dapat bertahan tanpa memerlukan perawatan intensif.
Menurut Reza pohon hasil top working akan berbuah jauh lebih cepat daripada menanam bibit yang disambung. Vegetasi di sekitar pohon TW harus dikendalikan untuk menghindari persaingan nutrisi, air, dan sinar matahari.
Kelompok kedua, yakni kebun buah dan perkebunan buah komersial yang fokus pada tanaman buah dalam pot (tabulampot).
Mereka berinvestasi dalam teknologi budi daya buah terbaru seperti internet of things (IoT) dan good agricultural practices untuk menghasilkan panen buah sepanjang tahun sehingga ketersediaan buah pun terjaga. Investasi itu sekaligus meningkatkan produksi dan kualitas buah.
Upaya lain yang dapat diterapkan kebun buah adalah budi daya tanaman buah dalam pot (tabulampot) terutama untuk pohon dengan buah berukuran kecil atau kurang dari 1 kg), sedangkan pohon dengan buah berukuran besar (lebih dari 1 kg) sebaiknya ditanam di ladang.
Tabulampot sebagai teknologi baru yang sedang berkembang untuk menghasilkan buah berkualitas tinggi sepanjang tahun. Penanaman dalam wadah untuk membatasi pertumbuhan akar yang liar dan mengelola kanopi pohon.
Wadah tanam atau kontainer menggunakan kantung tanam berkapasitas 150–200 liter dari bahan terpal atau idealnya aeropot.
Reza mengatakan, petani yang menerapkan sistem budi daya tabulampot lebih mudah mengatur pembuahan. Hal itu memungkinkan untuk mencegah pembuahan serentak.
Membuahkan tanaman dalam pot dengan media tanam terbatas relatif mudah. Penyebabnya area perakaran terbatas, hanya di dalam pot, sehingga pengangkutan nutrisi dari akar lebih optimal dan lebih cepat.
Pada kesempatan lain, Reza membuat analogi akar tanaman dalam pot yang lebih pendek itu “menyederhanakan birokrasi”.
Hal itulah yang menyebabkan tanaman mudah berbuah dengan kualitas tinggi hingga premium. Pengaturan pembuahan tanaman dalam pot memungkinkan ketersediaan buah sepanjang tahun. Pasokan buah di pasar yang konstan menyebabkan harga pun stabil.
Plasma nutfah
Sistem tabulampot memerlukan investasi tinggi dibanding dengan penanaman pohon buah di lahan terbuka. Hal itu karena petani memerlukan material seperti pot atau planter bag dan media kultur.
Planter bag mampu bertahan 5—6 tahun. Namun, menurut Reza, buah hasil budi daya tabulampot berkualitas tinggi, waktu panen yang tepat, dan volume yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar.
Panen buah pada tingkat kematangan 80—90 persen untuk mendapatkan buah yang seragam dan berkualitas tinggi.
Kebun buah yang menanam tabulampot menargetkan pasar buah segar dan konsumen buah meja. Kebun buah komersial menargetkan pasar ekspor dan industri pengolahan buah.
Karena ukuran yang kompak, tabulampot cocok untuk taman agrowisata petik buah sendiri. Jumlah spesies buah yang makin langka terus meningkat, akibat nilai nonkomersialnya.
Banyak spesies buah di hutan mengalami penurunan populasi, akibat perluasan perkebunan sawit dan penebangan pohon. Pohon buah juga berfungsi sebagai penyeimbang lingkungan seperti penahan air, penyerapan karbondioksida, produksi oksigen, dan pencegahan longsor.
Selain itu terdapat pohon buah yang menjadi tempat tinggal dan sumber pakan bagi hewan kecil seperti burung, tupai, kelelawar, dan lebah. Itulah sebabnya spesies-spesies itu harus dilestarikan.
Cara pelestarian antara lain penanaman di taman umum, kawasan konservasi alam, ruang terbuka di kantor/lembaga pemerintah, zona hijau pabrik atau industri, taman hijau properti, dan taman pribadi kolektor. Tugas kelompok ketiga, yakni kelompok plasma nutfah tanaman buah, berfokus pada konservasi.
Mereka mengumpulkan tanaman buah lokal yang langka dan kurang dimanfaatkan, serta melestarikannya secara eks-situ.
Selain itu mereka juga menanam beragam spesies di lahan terbuka yang tersedia untuk menjadikannya hijau dan ramah lingkungan. Koleksi plasma nutfah antara lain bermanfaat untuk merakit varietas unggul.
*) Penulis adalah Ketua III Perhimpunan Hortikulturan Indonesia.
Copyright © ANTARA 2025
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56