#30 tag 24jam
OJK Temukan Indikasi Pelanggaran Prosedur Penarikan Agunan oleh Pihak Ketiga Toyota Astra Financial (TAFS)
OJK menemukan indikasi pelanggaran prosedur penarikan agunan oleh pihak ketiga TAFS. TAFS diminta memperbaiki tata kelola dan melaporkan rencana aksi ke OJK. [401] url asal
#ojk #pelanggaran-prosedur #penarikan-agunan #pihak-ketiga #toyota-astra-financial #tafs #ojk-temukan-pelanggaran #prosedur-penarikan-agunan #dugaan-tindak-kekerasan #pengalihan-objek-jaminan #fidusia
(Bisnis.Com - Market) 27/06/26 19:08
v/261737/
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap adanya indikasi ketidaksesuaian prosedur dalam penarikan agunan oleh petugas lapangan pihak ketiga yang bekerja sama dengan PT Toyota Astra Financial Services (TAFS).
Pelanggaran itu ditemukan setelah OJK menyelesaikan pendalaman dugaan tindak kekerasan dalam proses penarikan agunan kendaraan pembiayaan yang melibatkan pihak yang bekerja sama dengan PT Toyota Astra Financial Services (TAFS) di Serang, Banten.
“Proses pendalaman dilakukan OJK terhadap data dan dokumen terkait serta update informasi dan keterangan pengurus PT TAFS di Jakarta, Senin [22/6] sebagai tindak lanjut dari pemanggilan sebelumnya yang dilakukan pada 8 Juni 2026,” kata Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK, Agus Firmansyah dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/6/2026).
Selain menemukan hal itu, OJK pun memperoleh informasi mengenai adanya dugaan pengalihan objek jaminan fidusia dari debitur kepada pihak lain tanpa persetujuan TAFS dan tanpa penyerahan dokumen kepemilikan kendaraan.
“Terkait dugaan tindak kekerasan yang terjadi, OJK menghormati proses hukum yang sedang berlangsung dan menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan kewenangan masing-masing,” tegas Agus.
Dilanjutkan Agus, sebelumnya TAFS sudah menyampaikan langkah perbaikan yang telah dilakukan. Langkah-langkah itu adalah melakukan penelaahan internal dan langkah korektif, termasuk menghentikan kerja sama dengan pihak ketiga yang tidak menjalankan tugas sesuai ketentuan PKS dan SOP yang berlaku.
Kemudian juga menyampaikan data, dokumen, serta klarifikasi yang diperlukan dalam rangka pengawasan OJK, dan melaporkan perkembangan penanganan kasus secara berkala.
OJK, katanya, meminta TAFS melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kegiatan penagihan dan penarikan agunan, termasuk memperkuat mekanisme pengawasan terhadap tenaga penagihan internal maupun pihak ketiga sebagai bagian dari upaya meningkatkan pelindungan konsumen dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
“Untuk memastikan implementasi perbaikan berjalan secara efektif, TAFS diwajibkan menyampaikan rencana aksi perbaikan dalam waktu 7 hari kerja dan melaporkan implementasinya paling lama 30 [tiga puluh] hari kerja kepada OJK,” jelas Agus.
Agus menyebut, rencana aksi tersebut setidaknya memuat penguatan tata kelola, pengawasan terhadap pihak ketiga, penyempurnaan prosedur penagihan dan penarikan agunan, serta mekanisme pemantauan dan pelaporan pelaksanaannya.
“OJK akan melakukan pengawasan secara intensif terhadap pelaksanaan rencana aksi tersebut. Apabila dalam pelaksanaannya ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, OJK akan mengambil tindakan pengawasan tegas dan/atau mengenakan sanksi administratif sesuai dengan kewenangannya,” ujarnya.
Di sisi lain, OJK turut mengimbau debitur untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan perjanjian pembiayaan yang telah disepakati untuk tidak menjual, mengalihkan, menggadaikan, atau memindahtangankan objek jaminan fidusia tanpa persetujuan tertulis dari penerima fidusia sebelum perjanjian pembiayaan berakhir.
Tafsir Surat Al Kahfi Ayat 1-10 : Siapa yang Rutin Membacanya akan Dilindungi dari Dajjal
Sering membaca Surat Al-Kahfi akan mendapat keutamaan yang luar biasa, terutama dilindungi dari fitnah dan keburukan Dajjal. Simak ulasan dan penjelasannya berikut... | Halaman Lengkap [1,802] url asal
#surat-surat-al-quran #surat-al-kahfi #keutamaan-surat-al-kahfi #tafsir-surat-al-kahfi #fitnah-dajjal
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 08/04/26 15:53
v/185311/
Sering membaca Surat Al-Kahfiakan mendapat keutamaan yang luar biasa, terutama dilindungi dari fitnah dan keburukan Dajjal. Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.Surat Al Kahfi sendiri terdiri atas 110 ayat dan diturunkan di Makkah (surat Makkiyyah). Dinamai Al-Kahfi (gua) karena bercerita tentang kisah para penghuni Gua. Kisah mereka diabadikan dalam ayat 9 sampai 26, tentang beberapa pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.Selain itu, terdapat pula beberapa kisah di antaranya kisah pemilik kebun (ayat 32-44), pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir 'alaihis salaam (ayat 60-82) dan kisah Raja Dzulqarnain dan Ya'juj Wa Ma'juj (ayat 83-98). Semuanya mengandung pelajaran berharga bagi kehidupan manusia.
Banyak hadis Rasulullah menerangkan keutamaan membaca Surat Al-Kahfi. Seperti diriwayatkan Imam Al-Hakim dan Al-Baihaqi: "Barangsiapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, niscaya akan memancar cahaya terang yang menyinari dirinya di antara dua Jumat".
Surat Al-Kahfi Ayat 1-10 dan Tafsirnya:
Tafsir surat ini berdasarkan tafsir Kemenag RI
Ayat 1:
"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok;" (Al-Kahfi Ayat 1)
Tafsir:
Jika di akhir Surah Al-Isra, Rasulullah SAW diperintah agar memuji Allah dan menyucikannya dari segala kekurangan, dalam ayat ini (Al-Kahfi:1), Allah memuji diri-Nya, sebab Dialah yang menurunkan kitab suci Al-Qur'an kepada Rasul SAW sebagai pedoman hidup yang jelas.
Melalui Al-Qur'an, Allah memberi petunjuk kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Ayat Al-Qur'an saling membenarkan dan mengukuh-kan ayat-ayat lainnya, sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan. Nabi Muhammad SAW yang menerima amanat-Nya menyampaikan Al-Qur'an kepada umat manusia, disebut dalam ayat ini dengan kata 'hamba-Nya untuk menunjukkan kehormatan yang besar kepadanya, sebesar amanat yang dibebankan ke pundaknya.
Ayat 2:
"Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik." (Al-Kahfi: Ayat 2)
Tafsir:
Allah menerangkan bahwa Al-Qur'an itu lurus, yang berarti tidak cenderung untuk berlebih-lebihan dalam memuat peraturan-peraturan, sehingga memberatkan para hamba-Nya. Tetapi juga tidak terlalu singkat sehingga manusia memerlukan kitab yang lain untuk menetapkan peraturan-peraturan hidupnya.
Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau memperingatkan orang-orang kafir akan azab yang besar dari Allah, karena keingkaran mereka kepada Al-Qur'an. Juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh pahala yang besar dari-Nya, karena keimanan mereka kepada Allah dan rasul-Nya, serta amal kebajikan yang mereka lakukan selama hidup di dunia.
Ayat 3:
"Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." (Al-Kahfi: 3)
Tafsir:
Pahala yang besar itu tidak lain adalah surga yang mereka tempati untuk selama-lamanya, mereka tidak akan pindah atau dipindahkan dari surga itu, sesuai dengan janji Allah kepada mereka. Firman Allah: "Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan. (Az-Zukhruf: 72)
Ayat 4:
"Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, "Allah mengambil seorang anak." (Al-Kahfi Ayat 4)
Tafsir:
Dalam ayat ini Allah kembali menyebutkan tugas Rasulullah untuk memberikan peringatan kepada kaum kafir, karena kekufuran mereka dipandang perkara besar oleh Allah, terutama orang-orang kafir yang mengatakan Allah itu mempunyai anak.
Mereka itu terbagi menjadi tiga golongan, yaitu: (1) Golongan musyrikin Mekah (Arab) yang mengatakan bahwa Malaikat-malaikat itu putri Tuhan; (2) Golongan orang Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair putra Tuhan; dan (3) Orang Nasrani yang mengatakan bahwa Isa putra Tuhan.
Al-Qur'an diturunkan ke dunia untuk mengembalikan kepercayaan umat manusia kepada tauhid yang murni. Banyak ayat-ayat yang mengancam berbagai kepercayaan kepada selain Allah yang dianggap sebagai keyakinan yang sangat keliru. Firman Allah:
Dan orang-orang Yahudi berkata, "Uzair putra Allah," dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih putra Allah." Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At-Taubah/9: 30)
Ayat 5:
"Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka." (Al-Kahfi: 5)
Tafsir:
Anggapan mereka bahwa Allah mempunyai anak sama sekali tidak didasarkan atas pengetahuan dan keyakinan mereka sendiri, tetapi didasarkan atas persangkaan yang tidak benar atau taklid buta kepada nenek moyang mereka. Padahal, nenek moyang mereka itu juga tidak mempunyai pengetahuan dan dasar keyakinan tentang kepercayaan yang demikian.
Allah menegaskan bahwa apa yang diucapkan mereka itu adalah kekafiran yang sangat besar, karena tidak didasarkan atas keyakinan, dan tidak patut diucapkan oleh seorang manusia. Allah mengingatkan Rasul untuk memerintahkan umatnya supaya kembali kepada agama tauhid, sebagaimana yang diajarkan Al-Qur'an.
Ayat 6:
"Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an)." (Al-Kahfi Ayat 6)
Tafsir:
Menurut riwayat Ibnu 'Abbas bahwa 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, an-Nadhar bin Harits, Umayyah bin Khalaf, al-Asya bin Wa'il, al-Aswad bin Muththalib, dan Abu Buhturi di hadapan beberapa orang Quraisy mengadakan pertemuan. Rasul saw merasa susah melihat perlawanan kaumnya kepadanya dan pengingkaran mereka terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya, sehingga sangat menyakitkan hatinya. Lalu turunlah ayat ini.
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan Rasulullah SAW agar tidak bersedih hati, hingga merusak kesehatan dirinya, hanya karena kaumnya tidak mau beriman kepada Al-Qur'an dan kenabiannya. Hal demikian itu tidak patut membuat Nabi sedih karena tugas beliau hanyalah menyampaikan wahyu Ilahi kepada mereka, sedangkan kesediaan jiwa mereka untuk menerima kebenaran ayat-ayat tersebut tergantung kepada petunjuk Allah.
Sesungguhnya Nabi Muhammad bersedih hati karena hasratnya yang besar dan kecintaannya yang dalam terhadap kaumnya supaya mereka beriman, tidak tercapai. Beliau diberi gelar Habibullah artinya kekasih Allah, maka sifat kasih sayang beliau yang sangat menonjol kepada sesama manusia itu adalah pencerminan dari cintanya kepada Allah.
Ayat 7:
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi Ayat 7)
Tafsir:
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa segala yang ada di atas bumi ini diciptakan sebagai perhiasan bagi bumi itu, baik binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari berbagai jenis di lautan dan di daratan, maupun barang-barang tambang yang beraneka ragam dan sebagainya. Semua itu untuk menguji manusia apakah mereka dapat memahami dengan akal pikiran bahwa perhiasan-perhiasan bumi itu dapat memberi gambaran akan adanya Sang Pencipta, untuk kemudian menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Bilamana mereka menggunakan segala benda-benda alam, hewan, dan tumbuh-tumbuhan itu untuk pengabdian diri kepada Allah dan kemaslahatan manusia, maka Allah akan memberi mereka pahala yang sebesar-besarnya. Akan tetapi, bilamana mereka menggunakannya untuk mendurhakai Allah dan merusak peradaban dan kemanusiaan, maka Allah swt akan menimpakan kepada mereka azab yang besar pula.
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menunjuk kamu sebagai penguasa di atasnya, lalu Dia melihat apa yang kamu kerjakan." (Riwayat Imam Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri)
Ayat 8:
"Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering." (Al-Kahfi Ayat 8)
Tafsir:
Ayat ini menerangkan bahwa Allah benar-benar mampu untuk membuat apa yang ada di atas bumi ini menjadi tanah yang datar dan tandus, tidak ada tumbuh-tumbuhan yang menghiasinya. Keindahan yang semula memikat penglihatan berubah menjadi pemandangan yang kering dan pudar. Perubahan demikian dapat terjadi disebabkan perubahan iklim, dan dapat pula disebabkan oleh tangan manusia sendiri yang tidak mempertimbangkan akibat dari perbuatan mereka sendiri, seperti tata kota yang salah, penggundulan hutan, pemakaian tanah berlebih-lebihan tanpa pemeliharaan, peperangan, dan sebagainya.
Dengan demikian, tidak patut bagi Nabi Muhammad untuk berduka cita bagi mereka yang anti terhadap ajaran-ajaran Islam yang dibawanya, karena Allah akan menguji mereka dengan menciptakan keindahan di muka bumi ini dengan menciptakan bermacam-macam benda seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan mineral. Siapa di antara manusia yang beramal baik, Allah akan memberi pahala bagi mereka yang paling baik. Tetapi jika mereka mempergunakan benda-benda hiasan bumi ini untuk tidak mengikuti petunjuk-Nya, maka Allah kelak menjadikan bumi ini datar dan tandus. Setiap manusia akan diberi ganjaran terhadap perbuatannya yang durhaka.
Dengan ayat ini Nabi Muhammad menjadi terhibur. Bagi Rasul saw sudah jelas, jalan yang ditempuh oleh masing-masing golongan manusia, baik yang beriman kepada Al-Qur'an dan maupun yang berpaling dari-Nya.
Ayat 9:
"Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?" (Al-Kahfi Ayat 9)
Tafsir:
Allah menerangkan bahwa apakah Nabi Muhammad mengira bahwa kisah Ashhabul Kahfi beserta raqim (batu tertulis) sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab lama adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang paling menakjubkan.
Memang jika dilihat, peristiwa Ashhabul Kahf berlawanan dengan hukum alam. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan berbagai kejadian pada tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan segala mineral yang merupakan perhiasan di atas bumi ini, maka kejadian ini memang menakjubkan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Namun demikian, peristiwa Ashhabul Kahf itu bukan satu-satunya tanda kekuasaan Allah, tetapi hanya sebagian kecil dari bukti keagungan-Nya.
Ayat 10:
"(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (Al-Kahfi Ayat 10)
Tafsir:
Dalam ayat ini, Allah mulai menguraikan kisah Ashhabul Kahfi kepada Rasulullah SAW. Allah mengingatkan kepada Rasul-Nya bahwa ketika zaman dahulu beberapa pemuda keturunan bangsawan di suatu negeri, karena takut penganiayaan rajanya, pergi mencari perlindungan ke dalam gua pada sebuah gunung. Di dalam gua inilah mereka membulatkan tekadnya, menghabiskan masa remajanya untuk mengabdi kepada Allah.
Mereka berdoa kepada Allah semoga dilimpahi rahmat dari sisi-Nya. Mereka mengharapkan pengampunan, ketenteraman, dan rezeki dari Allah sebagai anugerah yang besar atas diri mereka. Selain itu, mereka juga memohon agar Allah memudahkan bagi mereka jalan yang benar untuk menghindari godaan dan kezaliman orang-orang kafir dan memperoleh ketabahan dalam menaati Tuhan sehingga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sungguh Allah telah menolong mereka. Ketika raja kafir itu berhasil menemukan jejak mereka pada pintu gua itu, lalu masuk ke dalamnya, maka Allah swt menutup penglihatan mereka sehingga tidak dapat melihat para pemuda tersebut. Oleh karena itu, akhirnya raja memutuskan menutup pintu gua dengan perkiraan bahwa mereka akan mati kelaparan dan kehausan.
Demikian tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 1-10 yang berisi peringatan Allah akan pentingnya ilmu Tauhid (mengesakan Allah). Dalam satu hadis disebutkan:
"Barangsiapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi." Redaksi lain menyebutkan: "Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari permulaan surat Al-Kahfi, maka ia dilindungi dari Dajjal." (HR Muslim)
Pengin Mati Syahid? Amalkan 4 Ayat Terakhir Surat AL Hasyr
Ada manfaat luar biasa dari bacaan 4 ayat terakhir surat Al Hasyr yang penting diketahui umat muslim. Salah satu manfaatnya bila rutin diamalkan dibaca adalah jaminan... | Halaman Lengkap [690] url asal
#kalender-hijriyah #surat-surat-al-quran #fadhilah-ayat-ayat-al-quran #rabiul-akhir #tafsir-surat-al-hasyr
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/12/25 08:23
v/60318/
Pengin mati syahid? Ternyata ada amalanluar biasa bila kita rutin mengamalkan bacaan 4 ayat terakhir surat Al Hasyr. Amalan ini, manfaatnya adalah jaminan mati syahid.Surat Al Hasyr merupakan surah ke-59 dalam Al Quran yang memiliki 24 ayat dan termasuk dalam golongan Surah Madaniyah. Surah ini banyak menjelaskan tentang azab Allah SWTterhadap orang-orang fasik dan kafir.
Terkait 4 ayat terakhir surat Al Hasyrsendiri sangat dianjurkan untuk dibaca ketika waktu subuh baik setelah atau sebelum salat fardhu.
Manfaat 4 Ayat Terakhir Surat Al Hasyr
Untuk mendapat manfaat dan keutamaannya, baca ayat-ayat tersebut ketika subuh atau sebelum beraktivitas di pagi hari. Dalam kitab karangan Imam al Suyuthi berjudul Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, terdapat hadis tentang keutamaan apa saja yang didapatkan ketika seseorang membaca 4 ayat terakhir surat Al Hasyr pada saat subuh.Artinya: “Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Khalid (yakni Ibnu Tahman alias Abu A'la Al-Khaffaf), telah menceritakan kepada kami Nafi ibnu Abu Nafi, dari Maqal ibnu Yasar, dari Nabi SAW. yang telah bersabda:
"Barang siapa mengucapkan doa ini di waktu pagi hari sebanyak tiga kali, yaitu: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk, Kemudian membaca pula 4 ayat dari akhir surat Al-Hasyr, maka Allah memerintahkan kepada 70.000 malaikat untuk memohonkan ampunan baginya hingga petang hari. Dan jika ia mati di hari itu, maka ia mati sebagai syahid. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di kala petang hari, maka ia beroleh kedudukan yang seperti itu. (HR. Turmuzi).
Dari hadis di atas, maka manfaat membaca 4 ayat terakhir surat Al Hasyr yakni:
1. Mendapat Doa dari 70 Ribu Malaikat
Membaca ayat 21–24 setiap pagi atau sore hari dipercaya akan mendatangkan doa dari 70 ribu malaikat. Jika seseorang membacanya tiga kali di pagi hari, maka malaikat akan mendoakannya hingga sore hari. Sebaliknya, jika dibaca tiga kali di sore hari, maka doa malaikat akan menyertainya hingga pagi hari. Apabila seseorang meninggal pada hari itu, ia akan dicatat sebagai mati syahid.2. Memohon Kesembuhan
Dalam beberapa literatur Islam, ayat-ayat ini dianjurkan untuk dibaca sebagai bagian dari doa memohon kesembuhan, termasuk untuk penyakit mata, dan juga untuk memohon kemudahan saat proses persalinan. Membacanya dengan niat yang tulus dapat menjadi bentuk ikhtiar spiritual dalam menghadapi berbagai kondisi kesehatan dan kehidupan.3. Perlindungan dari Gangguan Setan
Ayat-ayat ini termasuk dalam ayat-ayat ruqyah yang digunakan untuk memohon perlindungan dari gangguan setan dan jin. Membacanya secara rutin dapat menjadi tameng spiritual yang melindungi seseorang dari bisikan dan godaan makhluk halus. Membaca empat ayat terakhir Surat Al-Hasyr secara rutin diyakini dapat menghapus dosa-dosa kecil dan meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah. Amalan ini menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kualitas spiritual seseorang.Bacaan 4 Ayat Terakhir Surat Al Hasyr dengan Huruf Arab dan Latin serta Artinya:
Law anzalnaa haazal quraana 'alaa jabilil lara aytahuu khaashi'am muta saddi'am min khashiyatil laah; wa tilkal amsaalu nadribuhaa linnaasi la'allahum yatafakkaruun
Huwal-laahul-lazii laaa Ilaaha illaa Huwa 'Aalimul Ghaibi wash-shahaada; Huwar Rahmaanur-Rahiim
Huwal-laahul-lazii laaa Ilaaha illaa Huwal-Malikul Qudduusus-Salaamul Muminul Muhaiminul-'aAziizul Jabbaarul-Mutakabbir; Subhaanal laahi 'Ammaa yushrikuun
Huwal Laahul Khaaliqul Baari 'ul Musawwir; lahul Asmaaa'ul Husnaa; yusabbihu lahuu maa fis samaawaati wal ardi wa Huwal 'Aziizul Hakiim
Artinya : "Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.
Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang mempunyai nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Al Hasyr: 21-24)
Tadabbur Surat An Nisa Ayat 48 : Azab dan Dahsyatnya Dosa syirik
Tadabbur Surat An-Nisa Ayat 48 ini adalah tentang dahsyatnnya dosa syirik. Dalam Islam, Syirik merupakan dosa paling besar yang pelakunya diancam dengan azab keras... | Halaman Lengkap [326] url asal
#syirik #dosa-besar #dosa-besar-yang-mengiringi-syirik #tadabbur-alquran #tafsir-surat-an-nisa
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/12/25 05:15
v/57316/
Tadabbur Surat An-NisaAyat 48 ini adalah tentang dahsyatnnya dosa syirik. Dalam Islam, Syirikmerupakan dosa paling besar yang pelakunya diancam dengan azab keras. Bahaya Syirik selain dimurkai Allah, juga dapat merontokkan amal dan menghambat pintu rezeki.Salah satu Syirik Kecilyang sering tidak disadari adalah Riya yaitu beramal dengan tujuan kepada selain Allah.
Berikut peringatan Allah Tala dalam Surat An-Nisa Ayat 48:
Innallaaha laa yaghfiru ayyushroka bihii wa yaghfiru maa duuna dzaalika limay yashaaa'; Wa mayyusyrik billaahi faqadif taraaa isman 'azhiimaa.
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (Syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (Syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar." (QS An-Nisa Ayat 48)
Syirik adalah dosa paling besarkarena orang musyrik mempercayai bahwa Allah mempunyai sekutu dan tandingan yang sama derajatnya. Dalam Al-Qur'an disebutkan berulang-ulang terkait dosa syirik ini. Adapun dosa selain syirik, jika dikehendaki, Allah akan mengampuninya.
Dalam satu riwayat Hadis dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?" Maka Nabi menjawab, "Engkau menjadikan tandingan (syirik) untuk Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu." Aku lalu berkata, 'Jika demikian berarti itu memang perkara besar!" Kemudian aku bertanya lagi, 'Lalu apa lagi?' Nabi ﷺ menjawab: "Engkau membunuh anakmu karena kamu khawatir (takut) ia akan makan bersamamu." Kemudian saya bertanya, "Lantas apa lagi?" Nabi menjawab: "Engkau berzina dengan istri tetanggamu." (HR Al-Bukhari)
Allah berfirman dalam ayat lain: "Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu." (QS al-Maidah: 72)
Itulah sekilas bahaya dosa Syirik. Hendaknya umat Islam menjauhi perkara satu ini. Dosa Syirik ini tidak akan diampuni Allah kecuali dengan taubat nasuha. Jika pelakunya meninggal dunia (sebelum bertobat) maka ia mendapat azab di neraka. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari perkara Syirik.
Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 3 Tentang Poligami
Ayat Al Quran yang biasa digunakan sebagai dasar teologis poligami adalah surat An-Nisa ayat 3. Namun, ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat ini dan setidaknya... | Halaman Lengkap [628] url asal
#poligami #dasar-poligami #fatwa-ulama #tafsir-surat-an-nisa
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/11/25 14:19
v/53831/
Ayat Al Quran yang biasa digunakan sebagai dasar teologis poligamiadalah surat An-Nisa ayat 3. Namun, ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat ini dan setidaknya ada 3 pandangan.Surat An-Nisa’ ayat 3 :
Artinya: "Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim".
Abd. Moqsith dalam salah satu tulisannya "Tafsir Atas Poligami Dalam Al-Quran" menjelaskan bahwa tidak ada pandangan tunggal tentang kebolehan poligamidalam konteks sekarang. Kemudian ia memaparkan 3 pandangan ulama dalam menafsirkan ayat di atas itu. Berikut pandangannya:
1. Membolehkan poligami dengan batas maksimal sembilan istri sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Zhahiriyah, Ibn As-Sabbagh, Al-Umrani, Al-Qasim bin Ibrahim dan sebagian kelompok Syiah. Meskipun ada hadits yang melarang sahabat Nabi untuk menikah lebih dari empat istri, kelompok ini tetap pada pendapatnya.Menurut mereka hadits tersebut harus dipahami dalam satu konteks, misalnya ada hubungan nasab, susuan dan sebab syar’i lainnya. Maka tidak heran jika Nabi memerintah para sahabat saat itu untuk menceraikan istri-istrinya hingga tersisa empat.
2. Ulama yang menoleransi poligami dalam keadaan darurat
Keadaan darurat yang dimaksud berbeda-beda, misal sang istri mandul, sang istri sakit atau ada dalam keadaan yang membuatnya tidak bisa melaksanakan kewajibannya.Al-Maraghi dan M Quraish Shihab menambah kriteria darurat tersebut dengan keadaan seperti libido suami tinggi sementara libido istri rendah, istri sudah menopause sementara suami masih ‘segar’, jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki.
3. Ulama yang hanya menoleransi poligami pada zaman Nabi
Para pemikir Islam di kelompok ini beralasan bahwa toleransi ini diberikan bukan karena adanya keadaan darurat seperti pandangan kelompok kedua, tetapi lebih karena Al-Quran tidak mungkin menghapus praktik poligami secara sekaligus. Oleh karena itu cara yang strategis adalah dengan pelan-pelan, dimulai dengan membatasi jumlah poligami serta dengan syarat yang tidak mudah.Nama-nama tokoh seperti Fazlur Rahman, Husein Muhammad dan Faqihuddin Abdul Kodir ada di kelompok ketiga. Mereka juga berpandangan bahwa tujuan syariah dari pernikahan itu monogami, bukan poligami.
Hal ini didasarkan pada ayat 129 surat An-Nisa’ ,
Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ayat 129 ini juga menjadi tafsir ayat poligami di ayat sebelumnya, yaitu ayat 3. Berdasar pada ayat ini, diketahui secara tekstual bahwa adil sebagai syarat poligami di ayat 3 sangat sulit atau bahkan tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh seorang suami.
Hanya saja, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam "Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram" tidak menafsirkan seperti itu. Menurutnya, dalam dua ayat tersebut tidak ada pertentangan dan ayat yang pertama (An-Nisa ayat 3) tidak dinasakh oleh ayat yang kedua (An-Nisa' ayat 129), akan tetapi yang dituntut dari sikap adil adalah adil di dalam membagi giliran dan nafkah.
Adapun sikap adil dalam kasih sayang dan kecenderungan hati kepada para istri itu di luar kemampuan manusia.
Oleh sebab itu ada sebuah hadits dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah SAW telah membagi giliran di antara para istrinya secara adil, lalu mengadu kepada Allah SWT dalam do’a:
“Ya Allah inilah pembagian giliran yang mampu aku penuhi dan janganlah Engkau mencela apa yang tidak mampu aku lakukan” [Hadits Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim]
Manfaat Luar Biasa dari 4 Ayat Terakhir Surat Al Hasyr, Umat Islam Wajib Tahu!
Ada manfaat luar biasa dari bacaan 4 ayat terakhir surat Al Hasyr yang penting diketahui umat muslim. Salah satu manfaatnya bila rutin diamalkan dibaca adalah jaminan... | Halaman Lengkap [693] url asal
#kalender-hijriyah #surat-surat-al-quran #fadhilah-ayat-ayat-al-quran #rabiul-akhir #tafsir-surat-al-hasyr
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 03/11/25 19:20
v/25983/
Ada manfaat luar biasa dari bacaan 4 ayat terakhir surat Al Hasyryang penting diketahui umat muslim. Salah satu manfaatnya bila rutin diamalkan dibaca adalah jaminan mati syahid.Surat Al Hasyr merupakan surah ke-59 dalam Al Quran yang memiliki 24 ayat dan termasuk dalam golongan Surah Madaniyah. Surah ini banyak menjelaskan tentang azab Allah SWTterhadap orang-orang fasik dan kafir.
Terkait 4 ayat terakhir surat Al Hasyr sendiri sangat dianjurkan untuk dibaca ketika waktu subuh baik setelah atau sebelum salat fardhu.
Manfaat 4 Ayat Terakhir Surat Al Hasyr
Untuk mendapat manfaat dan keutamaannya, baca ayat-ayat tersebut ketika subuh atau sebelum beraktivitas di pagi hari. Dalam kitab karangan Imam al Suyuthi berjudul Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, terdapat hadis tentang keutamaan apa saja yang didapatkan ketika seseorang membaca 4 ayat terakhir surat Al Hasyr pada saat subuh.Artinya: “Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Khalid (yakni Ibnu Tahman alias Abu A'la Al-Khaffaf), telah menceritakan kepada kami Nafi ibnu Abu Nafi, dari Maqal ibnu Yasar, dari Nabi SAW. yang telah bersabda:
"Barang siapa mengucapkan doa ini di waktu pagi hari sebanyak tiga kali, yaitu: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk, Kemudian membaca pula 4 ayat dari akhir surat Al-Hasyr, maka Allah memerintahkan kepada 70.000 malaikat untuk memohonkan ampunan baginya hingga petang hari. Dan jika ia mati di hari itu, maka ia mati sebagai syahid. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di kala petang hari, maka ia beroleh kedudukan yang seperti itu. (HR. Turmuzi).
Dari hadis di atas, maka manfaat membaca 4 ayat terakhir surat Al Hasyr yakni:
1. Mendapat Doa dari 70 Ribu Malaikat
Membaca ayat 21–24 setiap pagi atau sore hari dipercaya akan mendatangkan doa dari 70 ribu malaikat. Jika seseorang membacanya tiga kali di pagi hari, maka malaikat akan mendoakannya hingga sore hari. Sebaliknya, jika dibaca tiga kali di sore hari, maka doa malaikat akan menyertainya hingga pagi hari. Apabila seseorang meninggal pada hari itu, ia akan dicatat sebagai mati syahid.2. Memohon Kesembuhan
Dalam beberapa literatur Islam, ayat-ayat ini dianjurkan untuk dibaca sebagai bagian dari doa memohon kesembuhan, termasuk untuk penyakit mata, dan juga untuk memohon kemudahan saat proses persalinan. Membacanya dengan niat yang tulus dapat menjadi bentuk ikhtiar spiritual dalam menghadapi berbagai kondisi kesehatan dan kehidupan.3. Perlindungan dari Gangguan Setan
Ayat-ayat ini termasuk dalam ayat-ayat ruqyah yang digunakan untuk memohon perlindungan dari gangguan setan dan jin. Membacanya secara rutin dapat menjadi tameng spiritual yang melindungi seseorang dari bisikan dan godaan makhluk halus. Membaca empat ayat terakhir Surat Al-Hasyr secara rutin diyakini dapat menghapus dosa-dosa kecil dan meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah. Amalan ini menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kualitas spiritual seseorang.Bacaan 4 Ayat Terakhir Surat Al Hasyr dengan Huruf Arab dan Latin serta Artinya:
Law anzalnaa haazal quraana 'alaa jabilil lara aytahuu khaashi'am muta saddi'am min khashiyatil laah; wa tilkal amsaalu nadribuhaa linnaasi la'allahum yatafakkaruun
Huwal-laahul-lazii laaa Ilaaha illaa Huwa 'Aalimul Ghaibi wash-shahaada; Huwar Rahmaanur-Rahiim
Huwal-laahul-lazii laaa Ilaaha illaa Huwal-Malikul Qudduusus-Salaamul Muminul Muhaiminul-'aAziizul Jabbaarul-Mutakabbir; Subhaanal laahi 'Ammaa yushrikuun
Huwal Laahul Khaaliqul Baari 'ul Musawwir; lahul Asmaaa'ul Husnaa; yusabbihu lahuu maa fis samaawaati wal ardi wa Huwal 'Aziizul Hakiim
Artinya : "Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.
Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang mempunyai nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Al Hasyr: 21-24)
Tadabur Surat Al Kahfi : Siapa yang Membaca Ayat 1 Hingga 10, maka akan Dilindungi dari Dajjal
Tadabur Surat Al kahfi terutama ayat 1 hingga 10, penting diketahui kaum Muslim karena bisa melindungi diri kita dari Dajjal atau fitnah Dajjal. Simak ulasannya... | Halaman Lengkap [1,804] url asal
#dajjal #fitnah-dajjal #surat-al-kahfi #tafsir-surat-al-kahfi #tadabur-ayat-al-quran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 17/10/25 17:40
v/7260/
Tadabur Surat Al Kahfi terutama ayat 1 hingga 10, penting diketahui kaum Muslim karena bisa melindungi diri kita dari Dajjal atau fitnah Dajjal. Seperti diketahui, Surat Al-Kahfi terdiri atas 110 ayat dan diturunkan di Makkah (surat Makkiyyah). Dinamai Al-Kahfi (gua) karena bercerita tentang kisah para penghuni Gua.Kisah mereka diabadikan dalam ayat 9 sampai 26, tentang beberapa pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.Selain itu, terdapat pula beberapa kisah di antaranya kisah pemilik kebun (ayat 32-44), pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir 'alaihis salaam (ayat 60-82) dan kisah Raja Dzulqarnain dan Ya'juj Wa Ma'juj (ayat 83-98).
Semuanya mengandung pelajaran berhargabagi kehidupan manusia. Banyak hadis Rasulullah menerangkan keutamaan membaca Surat Al-Kahfi. Seperti diriwayatkan Imam Al-Hakim dan Al-Baihaqi: "Barangsiapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, niscaya akan memancar cahaya terang yang menyinari dirinya di antara dua Jumat".
Berikut tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 1-10 yang berumber dari tafsir Kementerian Agama (Kemenag) RI:
Ayat 1:
"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok;" (Al-Kahfi Ayat 1)
Tafsir:
Jika di akhir Surah Al-Isra, Rasulullah SAW diperintah agar memuji Allah dan menyucikannya dari segala kekurangan, dalam ayat ini (Al-Kahfi:1), Allah memuji diri-Nya, sebab Dialah yang menurunkan kitab suci Al-Qur'an kepada Rasul SAW sebagai pedoman hidup yang jelas.
Melalui Al-Qur'an, Allah memberi petunjuk kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Ayat Al-Qur'an saling membenarkan dan mengukuh-kan ayat-ayat lainnya, sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan. Nabi Muhammad SAW yang menerima amanat-Nya menyampaikan Al-Qur'an kepada umat manusia, disebut dalam ayat ini dengan kata 'hamba-Nya untuk menunjukkan kehormatan yang besar kepadanya, sebesar amanat yang dibebankan ke pundaknya.
Ayat 2:
"Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik." (Al-Kahfi: Ayat 2)
Tafsir:
Allah menerangkan bahwa Al-Qur'an itu lurus, yang berarti tidak cenderung untuk berlebih-lebihan dalam memuat peraturan-peraturan, sehingga memberatkan para hamba-Nya. Tetapi juga tidak terlalu singkat sehingga manusia memerlukan kitab yang lain untuk menetapkan peraturan-peraturan hidupnya.
Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau memperingatkan orang-orang kafir akan azab yang besar dari Allah, karena keingkaran mereka kepada Al-Qur'an. Juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh pahala yang besar dari-Nya, karena keimanan mereka kepada Allah dan rasul-Nya, serta amal kebajikan yang mereka lakukan selama hidup di dunia.
Ayat 3:
"Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." (Al-Kahfi: 3)
Tafsir:
Pahala yang besar itu tidak lain adalah surga yang mereka tempati untuk selama-lamanya, mereka tidak akan pindah atau dipindahkan dari surga itu, sesuai dengan janji Allah kepada mereka. Firman Allah: "Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan. (Az-Zukhruf: 72)
Ayat 4:
"Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, "Allah mengambil seorang anak." (Al-Kahfi Ayat 4)
Tafsir:
Dalam ayat ini Allah kembali menyebutkan tugas Rasulullah untuk memberikan peringatan kepada kaum kafir, karena kekufuran mereka dipandang perkara besar oleh Allah, terutama orang-orang kafir yang mengatakan Allah itu mempunyai anak.
Mereka itu terbagi menjadi tiga golongan, yaitu: (1) Golongan musyrikin Mekah (Arab) yang mengatakan bahwa Malaikat-malaikat itu putri Tuhan; (2) Golongan orang Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair putra Tuhan; dan (3) Orang Nasrani yang mengatakan bahwa Isa putra Tuhan.
Al-Qur'an diturunkan ke dunia untuk mengembalikan kepercayaan umat manusia kepada tauhid yang murni. Banyak ayat-ayat yang mengancam berbagai kepercayaan kepada selain Allah yang dianggap sebagai keyakinan yang sangat keliru. Firman Allah:
Dan orang-orang Yahudi berkata, "Uzair putra Allah," dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih putra Allah." Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At-Taubah/9: 30)
Ayat 5:
"Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka." (Al-Kahfi: 5)
Tafsir:
Anggapan mereka bahwa Allah mempunyai anak sama sekali tidak didasarkan atas pengetahuan dan keyakinan mereka sendiri, tetapi didasarkan atas persangkaan yang tidak benar atau taklid buta kepada nenek moyang mereka. Padahal, nenek moyang mereka itu juga tidak mempunyai pengetahuan dan dasar keyakinan tentang kepercayaan yang demikian.
Allah menegaskan bahwa apa yang diucapkan mereka itu adalah kekafiran yang sangat besar, karena tidak didasarkan atas keyakinan, dan tidak patut diucapkan oleh seorang manusia. Allah mengingatkan Rasul untuk memerintahkan umatnya supaya kembali kepada agama tauhid, sebagaimana yang diajarkan Al-Qur'an.
Ayat 6:
"Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an)." (Al-Kahfi Ayat 6)
Tafsir:
Menurut riwayat Ibnu 'Abbas bahwa 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, an-Nadhar bin Harits, Umayyah bin Khalaf, al-Asya bin Wa'il, al-Aswad bin Muththalib, dan Abu Buhturi di hadapan beberapa orang Quraisy mengadakan pertemuan. Rasul saw merasa susah melihat perlawanan kaumnya kepadanya dan pengingkaran mereka terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya, sehingga sangat menyakitkan hatinya. Lalu turunlah ayat ini.
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan Rasulullah SAW agar tidak bersedih hati, hingga merusak kesehatan dirinya, hanya karena kaumnya tidak mau beriman kepada Al-Qur'an dan kenabiannya. Hal demikian itu tidak patut membuat Nabi sedih karena tugas beliau hanyalah menyampaikan wahyu Ilahi kepada mereka, sedangkan kesediaan jiwa mereka untuk menerima kebenaran ayat-ayat tersebut tergantung kepada petunjuk Allah.
Sesungguhnya Nabi Muhammad bersedih hati karena hasratnya yang besar dan kecintaannya yang dalam terhadap kaumnya supaya mereka beriman, tidak tercapai. Beliau diberi gelar Habibullah artinya kekasih Allah, maka sifat kasih sayang beliau yang sangat menonjol kepada sesama manusia itu adalah pencerminan dari cintanya kepada Allah.
Ayat 7:
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi Ayat 7)
Tafsir:
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa segala yang ada di atas bumi ini diciptakan sebagai perhiasan bagi bumi itu, baik binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari berbagai jenis di lautan dan di daratan, maupun barang-barang tambang yang beraneka ragam dan sebagainya. Semua itu untuk menguji manusia apakah mereka dapat memahami dengan akal pikiran bahwa perhiasan-perhiasan bumi itu dapat memberi gambaran akan adanya Sang Pencipta, untuk kemudian menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Bilamana mereka menggunakan segala benda-benda alam, hewan, dan tumbuh-tumbuhan itu untuk pengabdian diri kepada Allah dan kemaslahatan manusia, maka Allah akan memberi mereka pahala yang sebesar-besarnya. Akan tetapi, bilamana mereka menggunakannya untuk mendurhakai Allah dan merusak peradaban dan kemanusiaan, maka Allah swt akan menimpakan kepada mereka azab yang besar pula.
Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menunjuk kamu sebagai penguasa di atasnya, lalu Dia melihat apa yang kamu kerjakan." (Riwayat Imam Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri)
Ayat 8:
"Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering." (Al-Kahfi Ayat 8)
Tafsir:
Ayat ini menerangkan bahwa Allah benar-benar mampu untuk membuat apa yang ada di atas bumi ini menjadi tanah yang datar dan tandus, tidak ada tumbuh-tumbuhan yang menghiasinya. Keindahan yang semula memikat penglihatan berubah menjadi pemandangan yang kering dan pudar. Perubahan demikian dapat terjadi disebabkan perubahan iklim, dan dapat pula disebabkan oleh tangan manusia sendiri yang tidak mempertimbangkan akibat dari perbuatan mereka sendiri, seperti tata kota yang salah, penggundulan hutan, pemakaian tanah berlebih-lebihan tanpa pemeliharaan, peperangan, dan sebagainya.
Dengan demikian, tidak patut bagi Nabi Muhammad untuk berduka cita bagi mereka yang anti terhadap ajaran-ajaran Islam yang dibawanya, karena Allah akan menguji mereka dengan menciptakan keindahan di muka bumi ini dengan menciptakan bermacam-macam benda seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan mineral. Siapa di antara manusia yang beramal baik, Allah akan memberi pahala bagi mereka yang paling baik. Tetapi jika mereka mempergunakan benda-benda hiasan bumi ini untuk tidak mengikuti petunjuk-Nya, maka Allah kelak menjadikan bumi ini datar dan tandus. Setiap manusia akan diberi ganjaran terhadap perbuatannya yang durhaka.
Dengan ayat ini Nabi Muhammad menjadi terhibur. Bagi Rasul saw sudah jelas, jalan yang ditempuh oleh masing-masing golongan manusia, baik yang beriman kepada Al-Qur'an dan maupun yang berpaling dari-Nya.
Ayat 9:
"Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?" (Al-Kahfi Ayat 9)
Tafsir:
Allah menerangkan bahwa apakah Nabi Muhammad mengira bahwa kisah Ashhabul Kahfi beserta raqim (batu tertulis) sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab lama adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang paling menakjubkan.
Memang jika dilihat, peristiwa Ashhabul Kahf berlawanan dengan hukum alam. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan berbagai kejadian pada tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan segala mineral yang merupakan perhiasan di atas bumi ini, maka kejadian ini memang menakjubkan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Namun demikian, peristiwa Ashhabul Kahf itu bukan satu-satunya tanda kekuasaan Allah, tetapi hanya sebagian kecil dari bukti keagungan-Nya.
Ayat 10:
"(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (Al-Kahfi Ayat 10)
Tafsir:
Dalam ayat ini, Allah mulai menguraikan kisah Ashhabul Kahfi kepada Rasulullah SAW. Allah mengingatkan kepada Rasul-Nya bahwa ketika zaman dahulu beberapa pemuda keturunan bangsawan di suatu negeri, karena takut penganiayaan rajanya, pergi mencari perlindungan ke dalam gua pada sebuah gunung. Di dalam gua inilah mereka membulatkan tekadnya, menghabiskan masa remajanya untuk mengabdi kepada Allah.
Mereka berdoa kepada Allah semoga dilimpahi rahmat dari sisi-Nya. Mereka mengharapkan pengampunan, ketenteraman, dan rezeki dari Allah sebagai anugerah yang besar atas diri mereka. Selain itu, mereka juga memohon agar Allah memudahkan bagi mereka jalan yang benar untuk menghindari godaan dan kezaliman orang-orang kafir dan memperoleh ketabahan dalam menaati Tuhan sehingga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sungguh Allah telah menolong mereka. Ketika raja kafir itu berhasil menemukan jejak mereka pada pintu gua itu, lalu masuk ke dalamnya, maka Allah swt menutup penglihatan mereka sehingga tidak dapat melihat para pemuda tersebut. Oleh karena itu, akhirnya raja memutuskan menutup pintu gua dengan perkiraan bahwa mereka akan mati kelaparan dan kehausan.
Demikian tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 1-10 yang berisi peringatan Allah akan pentingnya ilmu Tauhid (mengesakan Allah). Dalam satu hadis disebutkan:
"Barangsiapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi." Redaksi lain menyebutkan: "Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari permulaan surat Al-Kahfi, maka ia dilindungi dari Dajjal." (HR Muslim)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56