Bisnis.com, JAKARTA – Apple mendesak ratusan juta pengguna iPhone di seluruh dunia untuk segera melakukan update sistem operasi ke iOS 26.
Manajemen Apple menegaskan bahwa pengguna yang bertahan dengan iOS 18, tidak lagi memadai untuk melindungi perangkat modern. Kebijakan ini diberlakukan untuk menanggulangi kerentanan terhadap serangan spyware jenis baru yang secara spesifik menargetkan perangkat lunak lama.
Imbauan ini diambil setelah raksasa teknologi asal Cupertino tersebut menghentikan rilis pembaruan iOS 18 pada Desember lalu. Keputusan strategis ini secara efektif mengakhiri dukungan keamanan bagi perangkat yang kompatibel dengan sistem operasi terbaru.
Para analis industri memperkirakan dampak dari situasi ini cukup masif secara operasional. Data menunjukkan bahwa lebih dari setengah iPhone yang mampu menjalankan iOS 26 belum melakukan pembaruan. Artinya, ratusan juta perangkat di seluruh dunia dalam risiko keamanan data yang serius.
Melansir dari The Standard, Selasa (20/1/2026), Apple menjelaskan bahwa serangan siber terkini mengeksploitasi celah keamanan pada arsitektur perangkat lunak lama. Oleh karena itu, satu-satunya mitigasi risiko bagi pengguna perangkat modern adalah bermigrasi ke iOS 26 yang memuat patch keamanan berkala.
Bagi pengguna yang telah menjalankan iOS 26.2, posisi keamanan perangkat dinilai jauh lebih aman. Sementara itu, bagi perangkat lawas yang tidak kompatibel dengan sistem baru, penggunaan iOS 18.7.3 menjadi standar keamanan minimal yang disarankan.
Sebelumnya, Apple menerapkan strategi transisi saat peluncuran awal iOS 26 pada September lalu. Perusahaan sempat terus merilis pembaruan untuk iOS 18, seperti iOS 18.7, bersamaan dengan perbaikan untuk sistem operasi yang lebih baru.
Namun, strategi tersebut berubah total pada akhir tahun lalu. Apple menarik iOS 18 dari rilis umum bagi perangkat yang kompatibel dengan iOS 26, yakni iPhone 11 dan model yang lebih baru.
Saat ini, pembaruan keamanan untuk iOS 18 hanya tersedia secara eksklusif bagi perangkat lawas yang tidak dapat ditingkatkan ke iOS 26. Perangkat tersebut meliputi iPhone XS, iPhone XS Max, dan iPhone XR.
Selain pembaruan perangkat lunak, aspek teknis lain yang disoroti untuk mengamankan perangkat dari serangan siber adalah pentingnya proses reboot atau mematikan dan menyalakan ulang perangkat. Proses instalasi iOS 26 secara otomatis memaksa perangkat melakukan reboot, yang dinilai krusial bagi keamanan.
Badan keamanan siber global, termasuk ANSSI di Prancis dan Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat, merekomendasikan pengguna untuk mematikan total ponsel cerdas setidaknya sepekan sekali.
Langkah teknis ini bertujuan untuk menghentikan semua proses yang berjalan di memori perangkat. Pemutusan proses ini dapat memutus rantai eksekusi bentuk-bentuk spyware non-persisten tertentu yang mungkin menyusup.
Bagi pengguna yang belum melakukan pembaruan, Apple menyarankan untuk segera melakukan pencadangan (backup) data guna mengamankan informasi korporat maupun pribadi.
Pengguna dapat memeriksa ketersediaan pembaruan melalui menu Pengaturan, kemudian memilih opsi Umum dan Pembaruan Perangkat Lunak. Jika tersedia, pengguna diminta menekan opsi "Unduh dan Instal" untuk memastikan proteksi perangkat.
Laporan "Intellexa Leaks" ungkap spyware Predator targetkan pegiat HAM dan jurnalis. Intellexa terlibat, ancam privasi global, termasuk Indonesia. [738] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Laporan investigasi bersama bertajuk "Intellexa Leaks" mengungkap ancaman spyware terhadap para pegiat hak asasi manusia dan jurnalis. Serangan siber tersebut turut melibatkan produsen pembuat spyware Intellexa.
Investigasi ini, yang dilakukan oleh Inside Story, Haaretz, dan WAV Research Collective dengan analisis teknis dari Amnesty International, mengungkap operasi internal Intellexa—perusahaan yang terkenal menjual spyware invasif bernama Predator.
Spyware adalah perangkat lunak berbahaya (malware) yang dirancang untuk menyusup ke perangkat secara diam-diam, mengumpulkan informasi pribadi (seperti riwayat penjelajahan, detail login, data perbankan) tanpa izin, dan mengirimkannya ke pihak ketiga untuk tujuan jahat, iklan, atau keuntungan finansial, seringkali menyebabkan perangkat lambat dan mengganggu privasi.
Amnesty International mendokumentasikan kemampuan teknis Intellexa dan berbagai kasus penyalahgunaan spyware mereka dalam "Predator Files" pada 2023.
Investigasi lanjutan tentang kampanye serangan di Pakistan dan kasus-kasus lain akan dirilis dalam serangkaian laporan Amnesty International mendatang.
Teknolog di Security Lab Amnesty International Jurre van Bergen mengatakan dalam beberapa kasus, Intellexa menggunakan kemampuan akses jarak jauh ke log pelanggan Predator, yang memungkinkan staf perusahaan melihat detail operasi pengawasan dan individu yang menjadi target. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang proses due diligence hak asasi manusia perusahaan tersebut.
"Jika perusahaan spyware bayaran ditemukan terlibat langsung dalam pengoperasian produknya, maka menurut standar hak asasi manusia, mereka berpotensi menghadapi tuntutan tanggung jawab atas penyalahgunaan dan pelanggaran hak asasi yang disebabkan oleh spyware," kata van Bergen dikutip dalam laporan Amnesty International, Sabtu (13/12/2025).
Spyware Predator sebelumnya terlibat dalam serangan pengawasan pada 2021, seperti terhadap jurnalis Yunani Thanasis Koukakis, berdasarkan penelitian forensik digital oleh Citizen Lab.
Dokumen bocor kini menambah bukti yang menghubungkan produk Intellexa dengan pelanggaran hak asasi, termasuk hak privasi dan kebebasan berekspresi.
Pengungkapan ini muncul di tengah kasus-kasus baru penyalahgunaan Predator, yang menunjukkan bahwa produk Intellexa terus digunakan untuk mengawasi aktivis, jurnalis, dan pembela hak asasi secara ilegal di seluruh dunia.
Security Lab Amnesty International menemukan serangan terhadap seorang pengacara hak asasi dari provinsi Balochistan, Pakistan, melalui WhatsApp pada musim panas 2025. Temuan ini membuktikan bahwa Predator aktif digunakan di Pakistan, yang secara serius melanggar hak privasi dan kebebasan berekspresi.
Ilustrasi peretasan data
Ancaman bagi Indonesia
Sementara itu, Chief Technology Officer (CTO) PT ITSEC Asia Tbk. Marek Bialoglowy mengatakan keadaan ini menunjukkan bahwa arsitektur serangan telah bergerak jauh melampaui malware konvensional.
Ancaman yang dihadapi direncanakan terus-menerus, dan tertanam di seluruh rantai nilai digital. Ancaman ini menjadi alarm bagi masyarakat Indonesia.
“Sebagai salah satu negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan APAC, Indonesia tidak dapat hanya bereaksi ketika insiden sudah terjadi. Kita membutuhkan kapabilitas pertahanan yang mampu mengantisipasi dan mengelola risiko ini secara berkelanjutan,” kata Marek.
Marek juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan siber nasional serta peran platform pertahanan tingkat lanjut seperti IntelliBroń dalam membantu organisasi di Indonesia untuk mendeteksi, merespons, dan memitigasi ancaman mercenary spyware secara berkelanjutan.
Kasus-kasus terbaru menunjukkan bahwa mercenary spyware tidak hanya menargetkan pejabat tinggi, tetapi juga individu serta kelompok yang dianggap sensitif secara politik, hukum, atau strategis. Di balik setiap indikator, terdapat pola yang harus menjadi perhatian para pembuat kebijakan dan pemimpin keamanan siber Indonesia:
Pertama, cakupan penargetan telah meluas. Kelompok berisiko kini tidak lagi terbatas pada lingkar pemerintahan, tetapi juga jurnalis investigasi, pembela HAM, advokat kebijakan publik, dan profesional hukum. Ancaman ini tidak lagi sekadar isu intelijen sempit, tetapi berimplikasi pada institusi demokrasi dan kepercayaan publik.
Kedua, permukaan serangan semakin beragam. Kampanye kini menggabungkan eksploitasi zero-day pada browser dan sistem mobile, menginjeksi threats pada operator telekomunikasi dan ISP, serta penyalahgunaan iklan digital, melebihi pola phishing tradisional.
Ketiga, kekhawatiran terkait tata kelola dan akuntabilitas semakin meningkat. Dalam beberapa investigasi, vendor spyware komersial diduga mempertahankan akses jarak jauh atau visibilitas terhadap sistem pelanggan. Artinya, vendor spyware turut terlibat,
“Hal ini menimbulkan pertanyaan serius terkait kedaulatan data dan risiko lintas batas,” kata Marek.
Marek menekankan bahwa pengungkapan spyware ini harus dipandang sebagai peringatan dini bagi Indonesia, bukan isu yang berada jauh di luar negeri. Jika aktor mercenary spyware mampu menargetkan jurnalis, aktivis, dan pembela HAM di yurisdiksi lain, tidak ada alasan untuk berasumsi bahwa Indonesia akan sepenuhnya terhindar.
“Kita adalah pasar digital besar, mengelola pemilu berskala luas, dan memiliki proyek strategis nasional yang menarik bagi banyak kepentingan,” kata Marek.
ITSEC Asia mendorong kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan yang memahami implikasi strategis dari ancaman mercenary spyware, termasuk kementerian dan lembaga pemerintah yang ingin memperkuat kebijakan dan ketahanan siber.
Regulator, operator telekomunikasi, dan Internet Service Provider yang berperan sebagai gerbang utama lalu lintas digital dan berpotensi mendeteksi serta mengganggu aktivitas berbahaya. (Nur Amalina)
Kaspersky melaporkan peningkatan 64,2% serangan spyware di Indonesia pada 2025, mencapai 85.560 kasus. Ancaman ini mengharuskan peningkatan keamanan siber. [660] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Kaspersky mengungkapkan lonjakan signifikan pada serangan spyware yang menargetkan berbagai organisasi di Indonesia. Angkanya mencapai sebanyak 85.560 kasus pada paruh pertama 2025 naik 64,2% dibandingkan 52.705 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari Januari hingga Juni 2025, solusi perusahaan Kaspersky juga telah memblokir 85.560 serangan spyware yang menargetkan berbagai organisasi di Indonesia, setara dengan rata-rata 475 serangan per hari.
Pola peningkatan juga terlihat di hampir seluruh negara Asia Tenggara. Singapura menjadi negara dengan lonjakan paling ekstrem, tumbuh 210,9% hingga mencapai 20.157 serangan. Sementara Malaysia mencatat lonjakan tertinggi kedua dengan kenaikan 124,2% menjadi 96.539 serangan, disusul Filipina yang meningkat hampir dua kali lipat (+97,9%).
Thailand justru mengalami penurunan tajam 39,2% menjadi 21.014 kasus. Di sisi lain, Vietnam tetap menjadi negara dengan volume serangan terbesar, naik 78,8% menjadi 191.976 kasus. Secara keseluruhan, total serangan spyware terhadap berbagai organisasi di Asia Tenggara melonjak 70,73%, dari 250.260 kasus pada semester I/2024 menjadi 427.265 pada semester I/2025.
Kaspersky mencatat lonjakan signifikan serangan spyware tertarget yang menyasar perusahaan di Indonesia sebagai peringatan serius bagi korporasi dalam negeri untuk memperkuat pertahanan siber mereka.
Spyware merupakan perangkat lunak yang dipasang secara diam-diam pada komputer atau perangkat seluler untuk memantau aktivitas pengguna dan mengumpulkan data tanpa merusak sistem operasi.
Berbeda dengan malware lain, spyware bekerja secara senyap yakni menyusup melalui paket instalasi aplikasi, situs web berbahaya, atau lampiran berkas; merekam aktivitas seperti penekanan tombol dan tangkapan layar; lalu mengirimkan data curian kepada pembuatnya.
Informasi yang dicuri bisa berupa kebiasaan penjelajahan internet, aktivitas pembelian, hingga data sensitif seperti kredensial login, PIN akun, nomor kartu kredit, alamat email, dan rangkaian ketikan di keyboard.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kaspersky menyoroti maraknya spyware komersial perangkat lunak pengintai yang dipasarkan sebagai “malware legal” kepada pemerintah dan penegak hukum yang kini menjadi ancaman mendesak bagi organisasi di berbagai negara.
Spyware komersial bekerja mirip malware canggih yakni mengintai pesan, menyadap panggilan, melacak lokasi, dan menghapus jejaknya, sering kali melalui celah zero-click yang memungkinkan infeksi tanpa interaksi pengguna.
Salah satu yang paling berbahaya adalah Pegasus, yang dapat menyerang melalui iMessage atau WhatsApp dan memberikan kendali penuh atas perangkat korban.
Pada 2024, Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) mengembangkan teknik ringan untuk mendeteksi jejak spyware iOS tingkat tinggi seperti Pegasus, Reign, dan Predator dengan memanfaatkan Shutdown.log, artefak forensik yang sebelumnya luput dari perhatian.
General Manager untuk ASEAN dan Negara Berkembang Asia (AEC) di Kaspersky, Simon Tung mengatakan, di tengah pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi di berbagai sektor, spyware merupakan ancaman nyata yang dapat melumpuhkan kelangsungan bisnis di Indonesia.
“Serangan siber yang menggunakan spyware tidak hanya mencuri data, tetapi juga dapat secara diam-diam menyusup ke sistem penting dan infrastruktur nasional,” katanya.
Dia menambahkan ancaman spyware dapat berkisar dari gangguan kecil hingga kerugian finansial jangka panjang jika tidak ditangani dengan serius. Menurutnya bagi sebuah organisasi, satu eksploitasi dari spyware dapat mengakibatkan kebocoran data, kerugian finansial, hilangnya kepercayaan klien, dan bahkan hancurnya reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
“Oleh karena itu, kami di Kaspersky menekankan pentingnya pendekatan keamanan siber yang proaktif dan berbasis intelijen ancaman untuk melindungi bisnis dan sistem vital negara dari risiko yang terus berkembang,” katanya.
Kaspersky menegaskan bahwa perlindungan total terhadap serangan spyware memang menantang. Namun, ada sejumlah langkah yang dapat mempersempit peluang penyerang.
Berikut langkah menghindari serangan spyware:
Perbarui perangkat lunak secara berkala di semua perangkat. Pertama dan terpenting: sistem operasi, peramban, dan aplikasi perpesanan.
Jangan klik tautan yang mencurigakan, satu kunjungan ke situs web mungkin cukup untuk menginfeksi perangkat
Gunakan VPN untuk menyamarkan lalu lintas internet. Ini akan melindungi dari pengalihan ke situs berbahaya saat menjelajahi halaman HTTP
Nyalakan ulang perangkat secara berkala. Seringkali, spyware tidak dapat bertahan lama di sistem yang terinfeksi, jadi menyalakan ulang perangkat akan membantu menyingkirkannya.
Pasang solusi keamanan yang andal di semua perangkat.
Gunakan informasi Intelijen Ancaman terbaru untuk selalu waspada terhadap taktik, teknik, dan prosedur (TTP) yang sebenarnya digunakan oleh pelaku ancaman.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia menghadapi ancaman siber yang kian mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber, Kaspersky, mengungkap adanya... | Halaman Lengkap [535] url asal
JAKARTA - Perusahaan-perusahaan di Indonesia menghadapi ancaman siber yang kian mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber, Kaspersky, mengungkap adanya lonjakan tajam serangan spyware (perangkat lunak pengintai) yang menargetkan berbagai organisasi di dalam negeri.
Berdasarkan data yang dirilis Senin (10/11/2025), solusi Kaspersky telah memblokir 85.560 serangan spyware di Indonesia selama paruh pertama 2025, yakni dari Januari hingga Juni.
Angka ini setara dengan rata-rata 475 serangan per hari. Catatan ini menunjukkan peningkatan drastis sebesar 64,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (H1 2024), yang saat itu 'hanya' mencatat 52.705 serangan.
Ancaman Menggila di Asia Tenggara
Peningkatan tajam ini ternyata bukan hanya masalah Indonesia, melainkan tren di seluruh Asia Tenggara (ASEAN). Secara total, kawasan ini mengalami 427.265 serangan pada H1 2025, melonjak 70,73 persen dari 250.260 serangan di H1 2024.
Namun, data rinci menunjukkan gambaran yang berbeda di tiap negara:
• Vietnam menjadi negara yang paling 'babak belur', dengan volume serangan tertinggi di kawasan itu, mencapai 191.976 insiden.
• Singapura mencatat 'ledakan' pertumbuhan serangan paling eksplosif. Meski volumenya lebih kecil (20.157), angkanya melonjak 210,9 persen, tertinggi di ASEAN.
• Malaysia juga mengalami lonjakan signifikan, naik 124,2 persen menjadi 96.539 serangan.
• Filipina nyaris dua kali lipat, naik 97,9 persen menjadi 12.019 serangan.
• Thailand menjadi satu-satunya anomali. Negara ini justru mencatat penurunan serangan sebesar -39,2 persen, menjadi 21.014 insiden.
Apa Sebenarnya Spyware Itu?
Berbeda dengan malware (perangkat lunak jahat) yang merusak sistem, spyware bekerja secara diam-diam. Ia menyusup ke komputer atau ponsel untuk mengumpulkan data.
Singkatnya, spyware memata-matai aktivitas pengguna. Ia akan menyusup (melalui aplikasi, situs web, atau lampiran file), lalu memantau dan menangkap data (via rekaman penekanan tombol atau tangkapan layar), kemudian mengirimkan data curian itu ke penyerang.
Data yang paling sering diincar adalah informasi rahasia, seperti:
• Kredensial login (nama pengguna dan kata sandi)
• PIN akun bank
• Nomor kartu kredit
• Riwayat penjelajahan internet
• Alamat email
Ancaman Baru: 'Malware Legal' dan 'Zero-Click'
Ancaman kini semakin canggih dengan munculnya spyware komersial, atau disebut juga "malware legal". Ini adalah spyware yang dijual oleh perusahaan swasta kepada entitas seperti pemerintah.
Contoh paling terkenal adalah Pegasus. Spyware ini mampu menginfeksi perangkat bahkan tanpa korban perlu mengklik tautan apapun (disebut eksploitasi zero-click), misalnya melalui celah di iMessage atau WhatsApp.
Setelah masuk, Pegasus bisa mengambil alih seluruh perangkat, termasuk menyadap panggilan, membaca pesan, dan melacak lokasi.
"Di tengah pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi, spyware merupakan ancaman nyata yang dapat melumpuhkan kelangsungan bisnis di Indonesia," kata Simon Tung, General Manager untuk ASEAN di Kaspersky.
Ia memperingatkan bahwa serangan ini bukan hanya mencuri data, tapi juga bisa menyusup ke infrastruktur nasional.
"Bagi sebuah organisasi, satu eksploitasi dari spyware dapat mengakibatkan kebocoran data, kerugian finansial, hilangnya kepercayaan klien, dan bahkan hancurnya reputasi," tambah Simon.
Cara Mempersulit Penyerang
Ada beberapa langkah proaktif untuk mempersulit penyerang, di antaranya:
1. Perbarui perangkat lunak secara berkala, terutama sistem operasi dan peramban.
2. Jangan klik tautan mencurigakan di email atau pesan.
3. Gunakan VPN untuk menyamarkan lalu lintas internet.
4. Nyalakan ulang (restart) perangkat secara berkala, karena beberapa spyware tidak bisa bertahan lama setelah perangkat di-restart.
5. Pasang solusi keamanan yang andal di semuaperangkat.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengadilan Amerika Serikat (AS) memberikan perintah terkait kasus penyusupan mata-mata Israel pada WhatsApp. AS melarang spyware Pegasus milik perusahaan NSO Group untuk menargetkan platform milik Meta itu.
Hakim Pengadilan Distrik AS Phyllis Hamilton menjatuhkan perintah pengadilan permanen untuk upaya pembobolan NSO Group. Selain itu memberikan keringanan pada ganti rugi dari US$167 juta (Rp 2,7 triliun) menjadi hanya US$4 juta (Rp 66,3 miliar) saja.
Pihak Meta juga telah buka suara terkait keputusan tersebut. Mereka mengapresiasi keputusan dari kasus yang sudah berjalan selama enam tahun.
"Keputusan hari ini melarang pembuat spyware NSO menargetkan WhatsApp dan pengguna global kami lagi," kata kepala WhatsApp Will Cathcart, dikutip dari Reuters, Senin (20/10/2025).
"Kami mengapresiasi keputusan yang muncul setelah enam tahun ligitasi yang meminta pertanggungjawaban NSO pada tindakan yang menargetkan masyarakat sipil," dia melanjutkan.
Pegasus milik NSO merupakan software yang digunakan untuk memata-matai para korbannya. Selama bertahun-tahun, alat ini dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
Keputusan ini akan berdampak buruk pada NSO yang menjadikan WhatsApp sebagai salah satu target terbesarnya. Sebelumnya, perusahaan pernah mengatakan perintah larangan menargetkan WhatsApp bisa membahayakan dan bahkan memaksa perusahaan gulung tikar.
NSO sendiri menyambut baik pengurangan ganti rugi sebesar 97%. Perusahaan juga akan meninjau keputusan dan menentukan langkah selanjutnya.
Mereka menambahkan produknya memerangi kejahatan serius dan teorisme. Keputusan pengadilan juga disebut tidak akan berdampak pada pelanggan yang akan terus menggunakan teknologinya membantu melindungi keselamatan publik.
Jakarta, CNBC Indonesia - NSO Group, pengembang spyware Pegasus asal Israel, dilaporkan diakuisisi oleh grup investor asal Amerika Serikat (AS). Termasuk salah satunya adalah produser Hollywood Robert Simonds yang menjadi pemimpin kelompok itu.
Web berita Calcalist Tech melaporkan hal tersebut. Laporan mengatakan mengatakan kendali perusahaan akan segera lepas dari Israel.
Tak diketahui berapa jumlah pasti kesepakatan. Calcalist Tech hanya menyebutkan nilainya mencapai puluhan juta dolar.
Menurut laporan yang dipublikasikan pada 10 Oktober 2025 lalu, kesepakatan kemungkinan akan ditandatangani dalam beberapa hari.
Meski begitu, untuk penyelesaiannya tetap membutuhkan waktu. Karena membutuhkan persetujuan dari Badan Pengendalian Ekspor Pertahanan (DECA) di Kementerian Pertahanan Israel, dikutip Selasa (14/10/2025).
Dalam laporan yang sama juga disebutkan kesepakatan mencakup divestasi utang NSO sekitar US$500 juta.
Selain itu keterlibatan pendiri Omri Lavie juga akan berakhir setelah akuisisi benar-benar selesai. Jika laporan itu benar, tidak ada lagi pendiri NSO yang tersisa di perusahaan.
Shalev Hulio, pendiri lain perusahaan diketahui sudah tidak ada di NSO pada 2023 lalu.
Sebagai informasi, perusahaan induk yang berbasis di Luxemburg diketahui memiliki NSO sejak Maret 2023. Perusahaan diketahui dimiliki sepenuhnya oleh
Pengalihan kepemilikan terjadi saat kreditur bergerak menagih utang US$500 juta yang digunakan sebelumnya untuk membeli saham dari Fransisco Partners.
Simonds sendiri Simonds diketahui pernah bergabung menjadi dewan direksi dari perusahaan induk tersebut. Kemudian pada Juni 2023, dia juga pernah mencoba mengakuisisi NSO.
Namun kemudian diketahui langkah itu gagal. Simonds mengundurkan diri dari kursi dewan dua bulan kemudian.
Pernah terdeteksi di RI
Perangkat Pegasus buatan NSO Group dikabarkan digunakan untuk menyadap dan menjebol HP warga RI. Laporan Indonesia Leaks yang dipublikasikan beberapa media menyatakan kehadiran Pegasus dibuktikan dengan masuknya perangkat terkait di Indonesia.
Pegasus masuk melalui dua perangkat milik Q Cyber Technologies Sarl lewat Bandara Soekarno Hatta pada 2020 lalu. Indonesia Leaks, mengutip sumber dari Bea Cukai, mengonfirmasi hal tersebut dan alat dengan kode UKHI 1212635 datang pada 1 Desember 2020.
Perangkat Pegasus sendiri merupakan spyware buatan perusahaan asal Israel NSO Group. Economic Times menyebutkan jika Pegasus sebagai Spyware terkuat yang pernah ada dan bisa masuk ke dalam ponsel baik Android serta iOS.
Spyware adalah program yang dirancang untuk menembus pertahanan keamanan di HP lewat "pintu belakang". HP yang terinfeksi Spyware bakal mengirim informasi tentang aktivitas pemilik HP ke pihak ketiga.
Pegasus mampu mengeksplorasi bug yang belum ditemukan pada sistem operasi terkait. Jadi meski sudah menggunakan tambalan keamanan, keamanan ponsel masih bisa dijebol.
Keberadaan Pegasus pertama kali dilaporkan oleh 2016 oleh The Citizen Lab, organisasi keamanan siber asal Kanada. Spyware berhasil masuk ke dalam HP milik aktivis hak asasi manusia bernama Ahmed Mansoor. Pada September 2018, organisasi yang sama melaporkan 25 negara sudah terinfeksi Pegasus.
Kabarnya infeksi tersebut menggunakan teknik spear fishing melalui pesan teks atau email dengan link berbahaya. Tahun 2019, Pegasus dilaporkan menyusup ke WhatsApp dan bisa menghapus riwayat panggilan tidak terjawab.
Pada tahun yang sama, WhatsApp mengumumkan Pegasus berhasil mengeksploitasi bug di dalam aplikasi. Dalam kejadian itu, ada 1.400 HP Android dan IOS yang menjadi korban.
iMessage juga jadi aplikasi yang berhasil dimasuki Pegasus. Yakni dengan memasangnya melalui pemancar dan penerima radio di dekat korban.