Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja laba emiten-emiten sektor minyak dan gas (migas) diramal akan mengempis pada akhir 2025. Hal ini seiring dengan siklus investasi baru yang dilakukan emiten untuk hasil dalam jangka menengah panjang.
Riset Ciptadana Sekuritas memproyeksi, secara akumulasi emiten migas yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengalami koreksi laba sebesar 21,1% secara tahunan atau year on year (YoY). Ramalan koreksi tersebut menjadi yang terbesar kedua setelah emiten sektor batu bara yang diprediksi tahun ini akan mengalami penyusutan kinerja laba 47,0% YoY.
Namun, yang membedakan adalah kinerja emiten migas pada 2026 dan 2027 diproyeksi akan tumbuh signifikan. Masing-masing laba emiten migas diprediksi terbang 22,6% YoY dan 19,1% YoY.
"Sektor yang diperkirakan menunjukkan peningkatan laba paling signifikan pada 2026 antara lain logam, rokok, minyak dan gas, telekomunikasi, serta properti. Hal ini didorong oleh kondisi operasional yang lebih mendukung dan efek perbandingan dari basis rendah di 2025," tulis riset tersebut, dikutip Senin (10/11/2025).
Adapun, ramalan tersebut didasarkan atas kondisi sektor migas Indonesia yang saat ini memasuki siklus investasi baru dan hasilnya akan terlihat dalam beberapa waktu ke depan. Saat bersamaan, produksi akibat deplesi alamiah juga turun dari 662.000 barel per hari pada 2023 menjadi 578.000 barel per hari pada 2024.
Saat ini, sejumlah emiten migas gencar melakukan ekspansi bisnis baik dengan eksplorasi cadangan baru maupun akuisisi.
Misalnya, emiten migas milik keluarga Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) baru-baru ini mengumumkan kesepakatan mengakuisisi 45% hak partisipasi sekaligus menjadi operator pada PSC Sakakemang, serta 80% hak partisipasi sekaligus sebagai operator pada South Sakakemang di Sumatra Selatan.
Portofolio tersebut juga melengkapi aset-aset yang dimiliki perseroan sebelumnya. Pada 26 Juli 2025, Medco juga merampungkan akuisisi akretif atas 24% hak partisipasi Repsol E&P Srl. di Corridor PSC.
Sejalan dengan portofolio blok yang dikelola perseroan, manajemen mengumumkan target produksi baru menjadi 155.000-160.000 (barrels of oil equivalent per day/boepd), dikoreksi ke atas dari target semula 145.000-150.000 boepd.
Sementara itu, emiten migas Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk. atau EMP (ENRG) melalui anak usahanya, PT EMP Energi Riau baru-baru ini telah menyelesaikan pengeboran sumur Kayuara-20 di Blok Kampar Riau Sumatra. Dengan selesainya pengeboran ini, produksi Blok Kampar akan meningkat menjadi lebih dari 1.000 barel minyak per hari, dibanding rata-rata produksi semester pertama 2025 sebesar 845 barel minyak per hari.
Sebelumnya, ENRG telah menambah 25% partisipasi interes di Blok Kangean melalui akuisisi dari Japan Petroleum Exploration Co. Ltd. (JAPEX), menjadikan perusahaan sebagai pengendali tunggal di Blok Kangean. Secara bersamaan, ENRG mendivestasikan 50% kepemilikan di Blok Gebang kepada JAPEX.
Tidak ketinggalan, ada juga PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) yang saat ini tengah mengembangkan beberapa proyek strategis seperti PLTP Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas 110 MW, serta sejumlah proyek co-generation berkapasitas total 230 MW.
Pada Juni lalu, PGE juga meresmikan eksplorasi (green field) PLTP Gunung Tiga yang terletak di Lampung dengan potensi kapasitas sebesar 55 MW. PGEO menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola mandiri sebesar 1 GW dalam 2-3 tahun mendatang, dan menjadi 1,7 GW pada 2033.
Masih dalam ekosistem anggota holding Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. atau PGN (PGAS) saat ini sedang menyiapkan lima proyek baru yang ditargetkan beroperasi pada 2025 hingga 2027.
Beberapa di antaranya adalah infrastruktur gas pipa Tegal Cilacap dengan kapasitas 60 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd). Saat ini, proyek ini mencapai tahapan rekayasa dasar atau front-end engineering design (FEED) dan pengaturan komersial hingga Juni 2025. Perusahaan menargetkan proyek beroperasi pada kuartal III/2026.
Selain itu, ada proyek biometana dengan kapasitas 1,2 BBtud yang ditargetkan beroperasi pada kuartal II/2027. Untuk proyek ini PGN menyiapkan capex sebesar US$5 juta, dan US$1 juta di antaranya terealisasi pada 2025.
Mayoritas Koreksi Laba
Dari emiten-emiten migas tersebut, mayoritas perusahaan membukukan koreksi laba bersih secara tahunan (YoY) pada periode Januari-September 2025.
Laba bersih PGAS susut 9,68% YoY ke US$237,89 juta meskipun pendapatan meningkat 3,78% YoY menjadi US$2,92 miliar. Sedangkan MEDC yang membukukan koreksi pendapatan 1,54% YoY menjadi US$1,72 miliar, membuat laba bersihnya susut 68,66% YoY menjadi US$85,65 juta. Lalu, PGEO mencatat koreksi laba bersih 22,17% YoY menjadi US$104,28 juta, meskipun pendapatan perseroan meningkat 4,20% YoY.
Berbeda dengan kompetitor, ENRG sepanjang Januari-September 2025 membukukan peningkatan laba bersih 8,54% YoY menjadi US$55,65 juta, dengan penjualan neto yang meningkat 13,05% menjadi US$361,38 juta.
Selain menunggu buah dari ekspansi bisnis yang dituai emiten, Ciptadana Sekuritas menilai dukungan regulator juga turut menghadirkan katalis positif tersendiri.
Misalnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menawarkan 63 blok migas sepanjang 2025–2026 serta memperkenalkan reformasi struktural untuk menarik investasi hulu.
Sejak 2024, melalui Permen ESDM No.13/2024, kontraktor diberikan fleksibilitas memilih antara skema gross split dan cost recovery yang menyederhanakan ketentuan fiskal dan memperbaiki keekonomian proyek. Revisi lanjutan juga diharapkan meningkatkan kejelasan pajak dan harga DMO.
Selain itu, penegasan kembali porsi 10% untuk BUMD yang diatur di dalam Permen ESDM No.1/2025 juga memastikan pembagian manfaat bagi daerah, meski keterbatasan kapasitas pembiayaan dan tata kelola BUMD masih menjadi risiko pelaksanaan.
Terakhir, ada Permen ESDM No.14/2025 yang mengatur kebijakan mandatory joint management dengan BUMD, koperasi, atau UMKM pada sumur tua yang juga diharapkan dapat melegalkan operasi dan meningkatkan produksi, meski akses permodalan terbatas bisa menjadi kendala.
"Secara keseluruhan, perubahan regulasi ini menciptakan iklim investasi yang lebih fleksibel. Namun, keberhasilannya untuk membalikkan tren penurunan produksi akan sangat bergantung pada kecepatan implementasi, keberhasilan eksplorasi hulu, dan kecukupan insentif fiskal untuk menarik modal global ke lapangan migas Indonesia yang kompleks atau marjinal," tandas riset tersebut.
Untuk rekomendasi saham, berdasarkan Bloomberg Terminal, sebanyak 5 analis (100%) merekomendasikan buy ENRG dengan target harga Rp1.165, mencerminkan potensial return 33,9% dari harga Rp870. Pada penutupan Senin (10/11/2025), harga ENRG menguat 4,60% ke Rp910.
Lalu, 19 dari 20 analis (95%) merekomendasikan buy untuk MEDC dengan target harga Rp1.674, mencerminkan potensial return 26,8% dari harga Rp1.320. Harga saham MEDC pada penutupan Senin (10/11) turun 0,38% ke Rp1.315.
Sedangkan, 9 dari 25 analis (36%) merekomendasikan buy untuk PGAS dengan target harga Rp1.786,35, mencerminkan potensial return sebesar 1,8% dari Rp1.755. Harga saham PGAS saat ini di level Rp1.730, usai ditutup 1,70% pada perdagangan hari ini.
Terakhir, 12 dari 16 analis (75%) merekomendasikan buy untuk PGEO dengan target harga Rp1.766,54, mencerminkan potensial return 35,9% dari harga Rp1.300. Pada penutupan pasar Senin (10/11) harga saham PGEO turun 0,79% ke Rp1.260.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.