Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pariwisata diprediksi bakal menadah berkah dari momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Namun, sejumlah hambatan diprediksi bakal menahan kinerja pariwisata atau perhotelan di akhir tahun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, kendati peluang penguatan secara fundamental terbuka, tetapi terdapat setidaknya dua hambatan utama bagi peluang penguatan emiten di sektor ini, yaitu risiko operasional dan struktural terhadap kondisi saham emiten terkait.
Dari sisi operasional, momentum akhir tahun biasanya bakal memicu tekanan margin akibat ‘perang harga’ yang dilakukan sejumlah emiten perhotelan atau pariwisata. Abida menilai, hotel dengan segmen masyarakat kelas atas cenderung lebih stabil, sementara hotel denganmid–marketbiasanya mengalami penurunan tarif rata-rata tahunan yang signifikan.
“Hal ini terjadi karena tekanan daya beli masyarakat memicu ‘perang promo’ di antara operator untuk memperebutkan pangsa pasar,” katanya, Senin (1/12/2025).
Belum lagi, kondisi saham emiten-emiten pariwisata atau perhotelan cenderung tidak likuid. Hal itu yang disebut sebagai tantangan struktural pasar modal terhadap kondisi saham terkait.
Menurutnya, kondisi saham yang tidak likuid akan membuat daya tarik emiten terkait lemah di mata investor institusional. Investor institusional dinilai bakal memilih saham properti yang terintegrasi, dengan likuiditas yang tinggi dan defensif.
“Risiko struktural pasar modal, khususnya likuiditas saham yang rendah juga menjadi aral, terutama bagi emiten pariwisatapure-playkecil. Likuiditas merupakan faktor penting yang mempengaruhi harga saham dan nilai perusahaan di sektor ini,” katanya.
Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi juga menilai bahwa likuiditas yang seret membuat banyak saham perhotelan atau pariwisata tidak menarik bagi investor institusional.
Padahal, secara fundamental,peak seasonberpotensi menaikkan okupansi emiten perhotelan. Kendati daya beli masyarakat rendah, tetapi peluang perbaikan kinerja fundamental bagi emiten dengan segmen menengah ke atas, dinilai tetap terbuka lebar.
“Likuiditas rendah ini masalah besar. Banyak saham hotel atau pariwisata yang free floatnya kecil, bikin sulit diakumulasi institusi. Jadinya rally sering pendek, mudahprofit taking. Faktor ini juga yang membuat sektor ini menarik secara fundamental, tapi kurang menarik secaratrading flow,” katanya, Senin (1/12/2025).
Sentimen Stimulus Ekonomi
Sementara itu, kalangan analis menilai bahwa stimulus ekonomi yang belakangan digulirkan pemerintah, belum tentu secara signifikan berdampak terhadap kinerja fundamental emiten pariwisata atau perhotelan.
Terlebih, setelah pemerintah memangkas anggaran terhadap Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam RAPBN 2025, disebut bakal menjadi aral yang cukup besar bagi emiten pariwisata.
Seperti diketahui, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meminta Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melakukan efisiensi sebesar Rp603,8 miliar untuk tahun anggaran 2025. Dengan demikian, sisa anggaran yang dimiliki Kemenpar yakni Rp884,9 miliar, dari sebelumnya Rp1,49 triliun.
BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa pemangkasan ini justru kontraproduktif terhadap potensi penguatan emiten pariwisata. Pasalnya, hal ini dinilai membatasi kemampuan pemerintah untuk menjalankan program strategis di bidang pariwisata.
“[Pemangkasan] berpotensi memicu kerugian ekonomi di sektor perhotelan dan restoran karena hilangnya belanja MICE pemerintah,” katanya.
Menurut Abida, jika stimulus ekonomi pada kuartal IV/2025 tidak dibarengi dengan skema pendanaan non-APBN, seperti dana abadi pariwisata untuk menggantikan anggaran yang telah dipangkas, dampak suntikan stimulus terhadap emiten pariwisata cenderung minim.
Sementara itu, KISI menilai bahwa kendati stimulus ekonomi mampu memberikan efek positif terhadap emiten pariwisata di destinasi-destinasi prospektif, tetapi pengaruhnya tidak akan besar terhadap laba perusahaan.
Stimulus ekonomi dinilai lebih menjadi sentimen positif bagi pasar, tetapi belum tentu mampu menjadi penggerak kinerja fundamental emiten pariwisata.
“Efeknya terutama untuk destinasi besar seperti Bali, Jogja, dan Labuan Bajo. Tapi pengaruhnya tidak langsung besar ke laba, tetapi lebih ke arah sentimen positif, bukangame changer,” katanya.
Rekomendasi Saham Sektor Pariwisata
Dalam kondisi ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) dengan target harga Rp1.600 per lembar. Selain itu, dia juga merekomendasikan PJAA, PT MNC Tourism Indonesia Tbk. (KPIG), dan PT Multi Indocitra Tbk. (MICE) dengan akumulasi jangka pendek.
Sementara itu, KISI merekomendasikan saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA), PT Island Concepts Indonesia Tbk. (ICON), dan PT Panorama Sentrawisata Tbk. (PANR) lantaran likuiditas yang cukup tinggi dan valuasi yang masih terjangkau.
Kiwoom Sekuritas menilai bahwa saham CTRA, SMRA, PWON mampu menjadi pilihan yang aman lantaran saham yang likuid. Selain itu, pemasukan emiten tersebut juga tidak hanya bergantung dari bisnis hotel.
“Kalau yang langsung sentifi ke musim liburan, memang namanya lekat dengan PJAA yang mampu jadiplaytaktis karenatraffictaman rekreasi dan resort biasanya melonjak. Tapi risikonya memang lebih besar karena saham tidak likuid dan laporan keuangannya tidak sekinclong peers,” kata Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia, Senin (1/12/2025).
Sementara itu, Direktur Pembangunan Jaya Ancol Daniel Nainggolan, menyebut bahwa pihaknya menargetkan 750.000-800.000 pengunjung pada pekan libur Nataru 2025. Bahkan, Daniel memprediksi pendapatan pada musim libur Nataru mampu berkontribusi 10% terhadap total pendapatan perseroan.
Di tengah lesunya kinerja keuangan Ancol per September 2025, momentum ini mendorong optimisme perseroan untuk mampu mencapai target keuangan yang telah ditetapkan.
"Ancol menargetkan 750.000 sampai 800.000 pengunjung di pekan libur Nataru 2025. Pendapatan tersebut diproyeksikan memberikan kontribusi sekitar 10% terhadap pendapatan perseroan," katanya kepada Bisnis, Senin (1/12/2025).
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.