Bisnis.com, JAKARTA — Tinggal di kota besar membuat banyak orang tidak bisa menghindari polusi udara.
Namun, peningkatan polusi tidak hanya berdampak pada paru-paru kita, tetapi juga menyebabkan peningkatan kadar gula darah, menurut sebuah studi terbaru. Akibatnya, lebih banyak orang yang terjangkit diabetes.
Studi terbaru telah menunjukkan korelasi antara peningkatan polusi dan peningkatan kadar gula darah.
Bagaimana polutan di udara memengaruhi kadar gula darah
Dilansir Moneycontrol, penelitian menunjukkan bahwa tingkat polusi udara yang lebih tinggi, terutama partikel halus (PM2.5) di udara, dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah.
Dr. Monika Sharma, konsultan senior endokrinologi, Aakash Healthcare, menjelaskan keberadaan polutan tersebut menyebabkan stres oksidatif dan peradangan. Hal ini pada gilirannya mengganggu sinyal insulin dan metabolisme glukosa.
Menurutnya, orang yang sudah memiliki penyakit diabetes atau beberapa jenis sindrom metabolik lebih rentan mengalami lonjakan kadar gula darah, karena tubuh mereka sudah lemah dan mereka bereaksi negatif terhadap stresor luar.
Dampak Peningkatan Kadar Gula Darah
Dr. Sharma menjelaskan bahwa ketika kadar gula darah meningkat di atas nilai normal, insulin yang disekresikan pankreas meningkat untuk membantu sel menyerap glukosa.
"Seiring waktu, ketika kondisi ini terus berlanjut, sel-sel dalam tubuh menjadi kurang reseptif terhadap insulin, sehingga menyebabkan resistensi insulin," ujar Dr. Sharma.
Peningkatan kadar gula darah juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme. Dalam jangka pendek, seseorang dapat mengalami kelelahan, buang air kecil berlebihan, rasa haus berlebihan, atau penglihatan kabur.
Kemudian, dalam jangka panjang, keberadaan glukosa yang konstan dapat merusak pembuluh darah, saraf, dan organ lainnya, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung, penyakit ginjal, dan komplikasi paru-paru khususnya, jika kualitas udara buruk.
Dr. Sharma menambahkan, begitu kualitas udara membaik, pasien yang sangat sensitif atau penderita diabetes menunjukkan kontrol glikemik yang lebih baik.
Stres inflamasi dan beban oksidatif yang lebih rendah menyebabkan peningkatan efektivitas insulin.
"Ini menyiratkan bahwa ketika orang terpapar lebih sedikit polutan di udara, mekanisme inflamasi tubuh dapat ditenangkan, yang secara tidak langsung memfasilitasi kontrol glukosa," tambahnya.
Dr. Sharma mengatakan bahwa orang yang tinggal di daerah dengan udara yang lebih bersih cenderung memiliki risiko resistensi insulin, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolisme yang lebih rendah.
Kualitas udara yang rendah tidak hanya menyebabkan masalah pernapasan atau jantung, tetapi juga gangguan hormonal dan metabolisme.
Langkah-langkah pencegahan harus dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di daerah dengan polusi tinggi. Mulai dari memasang pembersih udara di rumah, menggunakan masker untuk melindungi diri dari kabut asap, mengonsumsi makanan seimbang yang mengandung antioksidan, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
Udara yang lebih bersih juga akan membantu menjaga stabilitas hormonal secara umum dan mempermudah mempertahankan kadar gula darah normal, sehingga mengurangi risiko komplikasi terkait diabetes.