PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) menargetkan penjualan Rp200 miliar dari Pesta KPR 2026 dengan kolaborasi bersama sembilan perbankan besar untuk menarik pembeli. [531] url asal
Bisnis.com, SURABAYA — PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) membidik penjualan sebesar Rp200 miliar melalui eksibisi properti terintegrasi bertajuk Pesta KPR 2026. Langkah ini menjadi salah satu strategi perseroan untuk menjaga kinerja pemasaran di tengah proyeksi kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, mengatakan dalam eksibisi yang berlangsung di Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya pada 25–28 Juni 2026 tersebut, Pakuwon Group berkolaborasi dengan sembilan perbankan besar nasional. Langkah taktis ini bertujuan untuk menjaring segmen pembeli akhir (end-user) di tengah tren pengetatan kebijakan moneter.
Dua memproyeksikan, suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) masih berpotensi mengalami kenaikan hingga tiga kali lagi hingga akhir tahun 2026 akibat tekanan inflasi global yang belum mereda. Kondisi tersebut dinilai bakal memicu penyesuaian suku bunga acuan domestik (BI-Rate) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Bagi pembeli akhir (end-user) yang memang membutuhkan hunian, momen saat ini adalah kesempatan terbaik untuk mengunci skema pembiayaan sebelum suku bunga pasar dan harga material bangunan melonjak lebih jauh," jelas Sutandi di Surabaya, Kamis (25/6/2026).
Untuk memberikan kepastian kepada calon debitur, kata dia, Pakuwon bersama perbankan mitra mengandalkan produk KPR dengan skema suku bunga fixed dan berjenjang sepanjang tenor, yang dimulai dari level 2,8% hingga 3%. Skema ini dirancang guna meminimalisasi risiko lonjakan cicilan akibat suku bunga mengambang (floating rate) yang fluktuatif di pasar.
Dia menambahkan, mayoritas konsumen yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan perbankan saat ini memilih skema proteksi bunga tersebut.
"Dari total transaksi penjualan properti yang menggunakan metode kredit di Pakuwon, sekitar 80% konsumen memilih skema suku bunga berjenjang. Saat ini, metode pembayaran KPR masih mendominasi bauran transaksi kami sebesar 65%, sedangkan sisanya sekitar 35% menggunakan tunai keras maupun tunai bertahap," paparnya.
Guna menarik minat pasar saat eksibisi, Sutandi menyebut, perseroan menyediakan stimulus tambahan berupa uang muka (down payment) mulai dari 5%, pembebasan biaya KPR, subsidi BPHTB, diskon tanda jadi 50%, fasilitas insentif PPN ditanggung pemerintah hingga Rp220 juta, hingga unit apartemen siap huni yang sudah dilengkapi perabotan penuh (fully furnished).
Menurutnya, sebagian besar produk yang dipasarkan dalam “Pesta KPR” merupakan unit siap huni sehingga konsumen dapat langsung memanfaatkan fasilitas pembiayaan perbankan. Manajemen menargetkan transaksi penjualan minimal dapat mencapai Rp200 miliar sepanjang eksibisi.
Saat ini, lanjut dia, portofolio produk siap huni perseroan di kawasan Grand Pakuwon tercatat sekitar 99 unit rumah, kawasan Pakuwon City sekitar 60 unit rumah, serta sisa ruang apartemen siap huni di wilayah Surabaya Timur yang menyisakan sekitar 150 unit.
Perseroan juga tengah bersiap meluncurkan klaster dan menara apartemen baru pada semester II/2026, dengan proyeksi penyesuaian harga menyusul kenaikan biaya investasi.
Di sisi lain, Sutandi mengungkapkan, lini bisnis pendapatan berulang (recurring income) dari sektor retail dan pusat perbelanjaan milik Pakuwon Group di Surabaya dilaporkan masih mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang momentum liburan sekolah Juni 2026.
Meskipun manajemen mengantisipasi adanya potensi pelemahan aktivitas ritel pada periode kuartal III/2026 karena minimnya sentimen musiman (festive season), pergerakan jumlah kunjungan (traffic) pusat perbelanjaan diyakini tetap terjaga berkat masifnya penyelenggaraan acara (event) kreatif secara berkala.
"Hingga pertengahan Juni 2026, volume kunjungan mal di bawah naungan Pakuwon Group diproyeksikan masih membukukan pertumbuhan tahunan pada kisaran satu digit (single digit), atau tumbuh sekitar 7% hingga 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu," tuturnya.
PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), mengumumkan pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2025 senilai Rp13 per saham atau setara dengan total Rp626 miliar. [540] url asal
Bisnis.com, SURABAYA — Emiten pengembang real estat, PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), mengumumkan pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2025 senilai Rp13 per saham atau setara dengan total Rp626 miliar.
Direktur Keuangan dan Corporate Secretary PWON, Minarto Basuki, menyampaikan total nilai dividen yang dibagikan tersebut setara dengan 26,7% dari laba bersih tahun buku 2025 yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp2,35 triliun.
"Sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp7,11 triliun. Dari jumlah tersebut, laba bruto tercatat Rp3,94 triliun, EBITDA Rp3,71 triliun, dan laba bersih disesuaikan mencapai Rp2,92 triliun," ujarnya di Surabaya, Kamis (11/6/2026).
Dia mengungkapkan, kinerja perseroan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan berulang (recurring income), khususnya dari segmen pusat perbelanjaan. Pendapatan ritel meningkat 14% menjadi Rp3,93 triliun dibandingkan Rp3,43 triliun pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, kata dia, pendapatan perhotelan naik 2% menjadi Rp1,42 triliun. Adapun pendapatan sewa perkantoran turun 26% menjadi Rp273 miar. Di sisi lain, pendapatan dari segmen pengembangan properti (development revenue) relatif stabil di level Rp1,49 triliun dibandingkan Rp1,48 triliun pada 2024.
"Untuk mendukung ekspansi bisnis, PWON merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,21 triliun sepanjang 2025. Dana tersebut terutama digunakan untuk pembangunan proyek Superblok Pakuwon Mall Bekasi, Pakuwon City Mall Surabaya Tahap III, dan Pakuwon Mall Surabaya Tahap V," jelasnya.
Tren Positif Berlanjut
Pada kesempatan yang sama, General Manager Finance PWON, Fenny mengatakan melanjutkan tren positif tahun lalu, PWON mencatatkan performa keuangan yang solid pada kuartal pertama tahun ini. Perseroan mengantongi laba bersih operasional sebesar Rp511 miliar pada triwulan I/2026, tumbuh signifikan sebesar 29% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Dia menegaskan, lonjakan laba bersih ini utamanya ditopang oleh efisiensi biaya operasional (disiplin biaya), keberhasilan aksi korporasi tender offer obligasi dolar AS pada tahun lalu, serta hasil investasi dalam denominasi dolar AS.
"Pada periode tiga bulan pertama 2026 tersebut, total pendapatan bersih PWON mencapai Rp1,65 triliun atau tumbuh 6% YoY dibandingkan kuartal I/2025 yang sebesar Rp1,56 triliun. Laba kotor meningkat 10% menjadi Rp941 miliar, sedangkan EBITDA tumbuh 10% dari Rp834 miliar menjadi Rp916 miliar," ungkapnya.
Berdasarkan segmennya, kata dia, lini pendapatan sewa pusat perbelanjaan (ritel mal) berkontribusi sebesar 62%, perhotelan dan serviced apartment 21%, serta sewa perkantoran (office leasing) 4%. Sisanya ditopang oleh development revenue yang mencakup penjualan kondominium 8% dan rumah tapak (landed house) sebesar 5%.
Ditinjau dari performa proyek dan geografis, dia melanjutkan, Surabaya masih menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi perseroan lewat proyek Tunjungan City (17%) dan Pakuwon Mall. Disusul kemudian oleh wilayah Jakarta melalui Kota Kasablanka dan Gandaria City.
"Dua proyek baru yakni Pakuwon City Mall setelah ekspansi dan Pakuwon Mall Bekasi, mencatatkan kontribusi sekitar 10%. Sementara itu, proyek independen di wilayah Jawa Tengah, khususnya Solo dan Yogyakarta, merangkak naik ke level 8%," katanya.
Secara akumulatif geografis, dia menyebut basis pendapatan terbesar PWON berasal dari Surabaya dengan porsi 49%, diikuti Jakarta 32%, Bekasi 10%, Jawa Tengah 8%, dan Bali 1%.
"Guna menjaga keberlanjutan pertumbuhan bisnis, PWON terus aktif mengeksekusi pembangunan sejumlah proyek berjalan. Sepanjang kuartal I/2026, perseroan telah merealisasikan belanja modal (capex) sebesar Rp164 miliar. Dana belanja modal pada awal tahun ini dialokasikan utamanya untuk membiayai proyek konstruksi hilir, salah satunya pengembangan proyek vertikal komersial Superblok Pakuwon Mall Fase 5 di Surabaya," tuturnya.(K24)
IDXChannel - PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mengumumkan bahwa Komisaris Irene Tedja mengajukan pengunduran diri dari jabatannya. Irene adalah putri dari pemilik Pakuwon, Alexander Tedja yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama perseroan.
"Dengan ini kami untuk dan atas nama perseroan menyampaikan bahwa perseroan telah menerima surat pemohonan pengunduran diri Irene Tedja dari jabatannya sebagai Komisaris perseroan pada tanggal 22 April 2026," kata Corporate Secretary Pakuwon, Minarto dikutip dari keterbukaan informasi, Senin (27/4/2026).
Perseroan tak mengumumkan alasan di balik keputusan Irene Tedja mundur dari jajaran Dewan Komisaris. Namun,, perseroan memastikan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) paling lambat 90 hari kalender sejak diterimanya surat pengunduran diri tersebut.
Irene yang lahir di Medan pada Mei 1953 saat ini berdomisili di Surabaya, Jawa Timur. Dia adalah lulusan Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Sumatra Utara (USU).
Irene bergabung dengan Pakuwon sejak tahun 1984. Sementara untuk jabatan Komisaris telah diembannya sejak 1 Desember 2016. Sebelum duduk di jajaran Komisaris, Irene dipercaya menjadi Presiden Direktur Pakuwon pada periode 2005-2016.
Selain aktif di Pakuwon, Irene Tedja saat ini tercatat masih duduk dalam Dewan Penasihat Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen PETRA sejak 2019. Selain itu, dia juga pernah menjabat sebagai Anggota Pengurus Yayasan PT Widya Mandala pada 2017-2021.
IDXChannel - PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencatatkan kinerja yang tangguh sepanjang 2025. Capaian ini mencerminkan kekuatan model bisnis emiten properti tersebut yang terdiversifikasi serta strategi jangka panjang yang solid.
Pakuwon meraup pendapatan bersih untuk 2025 sebesar Rp7,11 triliun, tumbuh 7 persen dari 2024 yang sebesar Rp6,67 triliun. Laba bersih perseroan juga melesat 14 persen menjadi Rp2,76 triliun dari sebelumnya Rp2,42 triliun.
Kenaikan laba bersih Pakuwon juga disumbang oleh kerugian kurs yang berkurang 18 persen menjadi Rp165 miliar. Tanpa menghitung faktor kurs, laba bersih perseroan tumbuh 11 persen menjadi Rp2,92 triliun.
Pendapatan bersih Pakuwon ditopang dari segmen pendapatan berulang (recurring revenue) yang menembus Rp5,62 triliun, tumbuh 8 persen secara tahunan. Segmen pendapatan pembangunan (development revenue) tercatat Rp1,49 triliun, naik 1 persen secara tahunan.
Untuk recurring revenue berasal dari pusat perbelanjaan ritel yang tumbuh 14 persen menjadi Rp3,93 triliun dari Rp3,43 triliun. Adapun sewa perkantoran turun 26 persen menjadi Rp273 miliar dari Rp369 miliar. Bisnis perhotelan naik tipis 2 persen menajdi Rp1,42 triliun dari Rp1,38 triliun.
Pusat perbelanjaan selama ini menjadi penopang utama kinerja Pakuwon. Sewa ritel menyumbang hingga 55 persen, diikuti hotel dan serviced apartment 20 persen, sewa perkantoran 4 persen, penjualan kondominium 14 persen, penjualan rumah 6 persen, dan penjualan perkantoran 1 persen.
EBITDA perseroan untuk 2025 mencapai Rp3,71 triliun, tumbuh 3 persen dari Rp3,58 triliun. Margin EBITDA turun dari 54 persen menjadi 52 persen.
Sepanjang 2025, Pakuwon mencatat angka prapenjualan (marketing sales) sebesar Rp1,3 triliun, terutama berasal dari penjualan unit apartemen di Pakuwon Mall Surabaya dan Pakuwon Residences Bekasi serta didukung penjualan rumah tapak di Grand Pakuwon dan Pakuwon City township.
Dari total marketing sales tersebut, sekitar 63 persen berasal dari program insentif PPNDTP yang dicanangkan pemerintah sejak 2023. Komposisi penjualan terdiri dari condominum dan office 62 persen serta landed house 38 persen.
Di samping itu, Pakuwon juga merealisasikan belanja modal Rp1,21 trilun pada 2025. Alokasi ini terutama digunakan untuk proyek konstruksi Superbok Pakuwon Mall Bekasi serta Pakuwon City Mall Surabaya tahap 3 dan 5.
Pakuwon Jati (PWON) raih laba Rp2,34 triliun di 2025, naik 13,11% dari 2024, dengan pendapatan Rp7,11 triliun meski sektor properti tertekan. [324] url asal
Bisnis.com, JAKARTA -- Emiten properti PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun berjalan pada 2025, seiring dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih.
Berdasarkan Laporan Keuangan yang dipublikasikan dalam keterbukaan informasi publik di Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,346 triliun per 31 Desember 2026. Angka ini tumbuh 13,11% secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,074 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan. Hingga akhir 2025, PWON membukukan pendapatan sebesar Rp7,11 triliun, naik 6,6% secara tahunan dari Rp6,67 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan turut mengalami kenaikan menjadi Rp3,16 triliun dari Rp2,9 triliun. Meski demikian, perseroan masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba kotor menjadi Rp3,944 triliun pada 2025, meningkat dari Rp3,769 triliun pada 2024.
Dari sisi neraca, total aset PWON tercatat sebesar Rp36,46 triliun per akhir Desember 2025, meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp35,37 triliun. Kenaikan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan aset tidak lancar yang mencapai Rp25,32 triliun dari Rp20,55 triliun pada 2024.
Meski demikian aset lancar tercatat menurun menjadi Rp11,142 triliun pada 2025 dibandingkan dengan pada 2024 yang senilai Rp14,82 triliun.
Sementara itu, total liabilitas perseroan justru mengalami penurunan menjadi Rp9,84 triliun dari Rp10,63 triliun pada akhir Desember 2024. Penurunan ini mencerminkan pengelolaan kewajiban yang lebih baik di tengah dinamika sektor properti.
Dengan demikian, total ekuitas PWON meningkat dari Rp24,74 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp26,62 triliun per September 2025, memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Jumlah liabilitas dan ekuitas PWON naik menjadi Rp36,46 triliun pada 2025 dari Rp35,371 triliun pada 2024.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Desa Bantaragung di Majalengka, Jawa Barat, membuktikan kalau tradisi tak perlu ditinggalkan demi kemajuan. Justru kedua hal itu dapat dipadukan untuk ... [1,585] url asal
Bantaragung menjadi contoh konkret bagaimana ekosistem desa wisata mampu membentuk perputaran ekonomi baru.
Majalengka (ANTARA) - Desa Bantaragung di Majalengka, Jawa Barat, membuktikan kalau tradisi tak perlu ditinggalkan demi kemajuan. Justru kedua hal itu dapat dipadukan untuk mendenyutkan ekonomi warga sekitar secara berkelanjutan.
Di tengah lanskap area persawahan yang hijau, seorang penari topeng tampil memukau. Gerakannya tegas namun lentur, diiringi irama musik tradisional yang berpadu dengan desau angin dari perbukitan.
Di sisi panggung kecil, beberapa penari lain menunggu giliran sambil berbincang santai, sementara penonton menikmati suasana hangat sore yang sarat budaya.
Tak jauh dari sana, ada dua perempuan duduk di bawah atap jerami yang tengah sibuk melayani pembeli. Wajah mereka sumringah dan jemarinya cekatan, mencatat pesanan sambil berbagi cerita ringan.
Pentas tari topeng dalam gelaran Pasar Bumi Pakuwon di Desa Wisata Bantaragung, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Aroma teh hangat dan jajanan kampung tercium samar, menghadirkan nuansa desa yang ramah serta bersahaja.
Suasana makin hidup di area kuliner tradisional. Aneka penganan tersaji di atas daun pisang seperti lemper, bugis, klepon, hingga onde-onde yang menggoda selera.
Sejumput senyum para pedagang di destinasi ini, menjadi sambutan terbaik bagi siapa pun yang ingin merasakan nikmatnya jajanan masa kecil itu.
Terasa lokal
Bantaragung telah berkembang menjadi desa wisata, dengan ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak unsur masyarakat.
Seluruh kegiatan di kawasan ini dikelola bersama oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis), pelaku usaha, petani, dan pemerintah desa, dengan dukungan dari Bank Indonesia Jawa Barat (BI Jabar).
Magnet utama di desa wisata ini adalah gelaran Pasar Bumi Pakuwon, yang merupakan agenda bulanan yang sudah berjalan sejak Oktober 2024.
Gelaran tersebut pula, yang membawa Santi (24), pelancong asal Jakarta, untuk pertama kali menjejakkan kaki di desa wisata ini.
“Saya datang ke tempat ini, karena tertarik dengan unggahan tentang Pasar Bumi Pakuwon di media sosial,” katanya saat berbincang dengan ANTARA, pada medio September 2025.
Ia dan rekannya menempuh perjalanan panjang tanpa mengenal siapa pun di Majalengka, semata ingin melihat langsung suasana desa wisata tersebut. Nekad memang, tapi bagi Santi di situlah letak asyiknya.
Kemeriahan gelaran Pasar Bumi Pakuwon di Desa Wisata Bantaragung, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Setibanya di Bantaragung, Santi terkesan oleh panorama terasering sawah dan udara sejuk yang mengingatkannya pada suasana Bali.
Selain itu, ia mengaku, pengalaman bertransaksi menggunakan koin benggol kayu, yakni alat tukar lokal di pasar itu, seperti membawa dirinya kembali ke masa lampau, saat uang logam belum dikenal.
Atmosfer di Pasar Bumi Pakuwon memang berbeda. Unsur kearifan lokalnya begitu kental terasa. Hawanya makin sarat makna saat dipentaskannya berbagai atraksi budaya.
Seni tari topeng kelana tadi misalnya, mendapat sambutan hangat dari pengunjung yang sebagian berdecak kagum usai menontonnya.
“Kegiatan seperti ini yang kami cari. Tempat wisata yang masih asri, diselingi pertunjukan seni yang bisa dijadikan sarana edukasi mengenal tradisi,” kata Andi (38) bersama istrinya, Rani (34), kepada ANTARA.
Wisatawan asal Cirebon ini berkelakar, kini cukup sukar menemukan tempat wisata dengan konsep semacam ini. Di satu tempat banyak ragam hal yang bisa dijajal.
Andi kemudian membuka layar gawainya, menekan ikon aplikasi peramban dan jemarinya berselancar untuk mencari sekelumit informasi tentang topeng kelana.
“Maknanya dalam juga rupanya, kata Google, topeng kelana disimbolkan atau penggambaran kekuatan untuk mengendalikan amarah,” tutur Andi.
Ia menilai kegiatan seperti Pasar Bumi Pakuwon, dapat menjadi sarana untuk menghubungkan generasi tua dan muda, agar merasa bangga terhadap kekayaan budaya.
Pokdarwis setempat sengaja menampilkan pentas seni dari berbagai sanggar dari Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) setiap bulan.
Hal ini dimaksudkan agar pengunjung tidak bosan, sekaligus membuka ruang bagi seniman lokal untuk tampil.
Inovasi berbasis tradisi
Di tengah keramaian pasar, Ilah, penjual serabi asal Bantaragung, tampak sibuk memanggang adonan di atas tungku tanah liat.
Setiap kali acara bulanan ini digelar, ia membawa 10 kg beras sebagai bahan utama. Dalam sehari, hasil penjualannya bisa mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu, angka yang jauh lebih besar ketimbang berjualan di rumah.
Ilah amat bersyukur. Sebab, Pasar Bumi Pakuwon menjadi ruang baru untuk mempertemukan dagangannya dengan pembeli dari luar daerah.
“Kalau di rumah (untuk jualan serabi) paling menyiapkan 2 kg beras. Di sini lebih ramai,” katanya pelan, tangannya tak berhenti mengipasi api.
Pada lapak lain, Anah yang menjual lotek dan keripik, telah ikut berpartisipasi dalam 11 kali penyelenggaraan pasar ini.
Saban bulan, ia menyiapkan 50 porsi makanan untuk dijual di acara ini, dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp500 ribu.
Penjual jajanan tradisional dalam gelaran Pasar Bumi Pakuwon di Desa Wisata Bantaragung, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Menurutnya, kegiatan tersebut cukup membantu menambah uang jajan anak, selain produksi keripik yang menjadi pekerjaan utamanya di rumah.
Konsep Pasar Bumi Pakuwon memang dirancang demikian yakni menghadirkan kuliner dan hasil bumi warga, seperti pisang, sirsak, serta olahan lokal lain.
Para pelaku UMKM menganggap kegiatan ini sebagai hajatan bulanan karena omzet yang diperoleh jauh, lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa.
Menariknya lagi okupansi penginapan di sekitar lokasi wisata, seperti vila di kawasan curug sekitar, mengalami peningkatan setiap kali pasar digelar.
Wawan Hermawanto, Pengelola Pasar Bumi Pakuwon, menyebutkan pasar ini melibatkan pelaku UMKM setempat, termasuk para pedagang keliling yang kini memiliki representasi tetap di lokasi.
Menurutnya, pasar ini digelar rutin setiap bulan, tepatnya pada Sabtu di pekan kedua atau ketiga, agar masyarakat luas yang sedang libur kerja bisa datang.
Antusiasme pengunjung terbilang stabil, dengan rata-rata 1.000 sampai 3.000 orang hadir setiap gelaran.
Mereka kebanyakan turis lokal asal Ciayumajakuning. Namun pelancong dari luar Jawa Barat pun sering singgah ke acara ini.
Wawan mengungkapkan pokdarwis bersama pemerintah desa setempat menciptakan mata uang simbolis yakni benggol, yang terinspirasi dari sejarah lokal. Setiap kepingnya bernilai Rp5.000.
Tujuannya untuk memperkuat identitas sekaligus mendorong tumbuhnya inklusi keuangan digital, sesuai program yang terus digencarkan oleh BI Jabar melalui Kantor Perwakilan (KPw) Cirebon.
Dalam praktiknya, pengunjung dapat menukar keping benggol dengan bertransaksi melalui QRIS atau standar kode QR nasional.
Pengunjung saat hendak menukarkan uang lewat QRIS untuk kepingan benggol dalam gelaran Pasar Bumi Pakuwon di Desa Wisata Bantaragung, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Dengan kepingan kayu itu, kata dia, pengunjung bisa membeli ragam kuliner dan olahan khas yang tersedia dalam Pasar Bumi Pakuwon.
Setelahnya, pedagang menyerahkan benggol ke panitia untuk ditukarkan kembali dengan saldo digital masing-masing.
Sistem ini menjadi cara kreatif warga memperkenalkan digitalisasi keuangan, tanpa menghapus sentuhan tradisional.
Supaya pengunjung tidak merasa bosan, pengelola rutin melakukan evaluasi dan variasi acara setiap bulan. Beberapa kegiatan dirancang juga agar masyarakat terbiasa bertransaksi secara digital.
“Sejak pertama kali digelar, pasar ini telah menjadi andalan ekonomi warga sekaligus daya tarik wisata yang konsisten,” tutur Wawan.
Inovasi kecil ini, secara tidak langsung memasifkan penggunaan QRIS di Ciayumajakuning yang telah mencapai 50,9 juta transaksi secara agregat dan nilainya tembus Rp5,5 triliun hingga Agustus 2025.
Bahkan secara nasional, pengguna QRIS sudah mencapai 57,6 juta orang. Aktivitas di Desa Bantaragung ikut menyumbang bagian kecilnya, dengan caranya sendiri.
Menangkap peluang
Bantaragung menjadi contoh konkret bagaimana ekosistem desa wisata mampu membentuk perputaran ekonomi baru.
Sejak 2019, BI Jabar melalui kantor perwakilannya telah mendampingi Bantaragung dalam penerapan sistem pembayaran nontunai.
Pendampingan dilakukan melalui pelatihan literasi keuangan, edukasi QRIS, serta pembukaan rekening bagi pelaku usaha kecil di sekitar tempat wisata.
Selain itu, kantor dari bank sentral negara itu sudah memfasilitasi warga Bantaragung untuk studi banding ke Ubud, Bali, guna mempelajari pengelolaan pariwisata.
Hasilnya, Bantaragung didapuk sebagai desa wisata terbaik kedua tingkat nasional dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala KPw BI Cirebon Fickry Widya Nugraha menyebutkan perkembangan pada kawasan ini, dapat dilihat pada omzet yang masuk ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bantaragung mencapai sekitar Rp20 juta per bulan, dari gelaran Pasar Bumi Pakuwon.
Partisipasi masyarakat pun semakin meluas. Jika sebelumnya hanya anggota pokdarwis dan pemilik homestay yang terlibat, sekarang sekitar 25 anak muda ikut berkontribusi.
Lebih lanjut, ia menuturkan BI menggunakan sejumlah indikator untuk memantau perkembangan ekonomi suatu daerah. Misalnya data dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait tingkat okupansi hotel yang mencerminkan tingkat kunjungan wisatawan.
Ia mencontohkan wisatawan mancanegara (wisman) memiliki tingkat pengeluaran jauh lebih tinggi, dibandingkan wisatawan nusantara (wisnus).
Berdasarkan perhitungan BPS, kata dia, pengeluaran turis asing bisa mencapai 1.000 hingga 2.000 dolar AS per hari. Angka lebih besar dibandingkan wisatawan domestik.
Hal ini pula yang menjadi dasar penetapan sejumlah daerah di Indonesia, sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
Dari sedikit gambaran tersebut, pihaknya menilai Majalengka sangat potensial untuk menggaet minat wisman luar
“Majalengka memiliki potensi karena ekosistem desa wisata mulai berkembang serta mampu menarik minat dari wisatawan muda,” katanya.
Generasi Z dan Alpha memiliki pola pengeluaran (spending pattern) yang berbeda dibanding Baby boomers karena lebih banyak menghabiskan uang untuk pengalaman, hiburan, dan aktivitas yang dapat dibagikan di media sosial.
Berdasarkan pengamatannya, pemanfaatan potensi wisata, contohnya di Bantaragung baru sekitar 50 persen dari kapasitas optimal.
Apabila kawasan wisata ini dilengkapi dengan fasilitas tambahan seperti glamping, rafting, atau mini zoo, daya tariknya akan meningkat.
Ia menggambarkan perhitungan sederhana. Jika satu bus berisi 40 orang datang dan masing-masing mengeluarkan uang Rp100 ribu, maka dalam satu kunjungan bisa tercipta perputaran uang sebesar Rp4 juta.
Peluang lain datang dari sektor destinasi wisata ramah muslim. Provinsi Jabar telah meraih predikat nomor satu di bidang ini, sehingga Majalengka dengan Desa Bantaragung dapat menangkap potensi tersebut.
Panorama di Desa Wisata Bantaragung, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Destinasi di Majalengka pun semakin diuntungkan saat ini, terutama karena wisatawan mulai mencari suasana baru di luar kota besar seperti Bandung atau Bogor.
“Keberadaan Pasar Bumi Pakuwon di Desa Bantaragung, menjadi daya tarik tambahan untuk menarik calon pelancong baru,” tuturnya.
BI menyimpulkan dengan dukungan infrastruktur yang memadai, penguatan literasi digital, serta pengelolaan kelembagaan desa yang baik, wilayah ini berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jabar.
IDXChannel - PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencetak laba bersih sebesar Rp1,73 triliun hingga kuartal III-2025. Realisasi itu naik 3,9 persen year-on-year (yoy) dibandingkan Rp1,66 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Alhasil laba per saham dasar PWON tumbuh tipis menjadi Rp35,85 per saham. Pendapatan PWON mencapai Rp5,12 triliun, tumbuh 6,9 persen yoy dari Rp4,79 triliun pada sembilan bulan 2024.
Peningkatan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan berulang dari sewa ruang pusat perbelanjaan, jasa pemeliharaan, dan parkir, demikian menurut keterbukaan informasi, Rabu (29/10/2025).
Pendapatan sewa ruang dan serviced apartment naik menjadi Rp1,75 triliun dari Rp1,56 triliun, sementara jasa pemeliharaan meningkat menjadi Rp754,20 miliar dari Rp661,20 miliar.
Pendapatan listrik, air, gas, dan parkir juga naik menjadi Rp563,04 miliar dari Rp501,29 miliar.
Segmen penjualan kondominium dan perkantoran turut menguat menjadi Rp699,25 miliar dari Rp531,45 miliar.
Namun, penjualan tanah dan bangunan turun menjadi Rp321,67 miliar dari Rp450,39 miliar, sementara pendapatan hotel menurun menjadi Rp910,28 miliar dari Rp927,45 miliar.
PWON mencatat laba kotor Rp2,84 triliun, naik 4,5 persen yoy dari Rp2,72 triliun pada tahun sebelumnya.
Margin laba kotor mencapai 55,4 persen, sedikit turun dari 56,7 persen akibat peningkatan beban gedung dan properti investasi.
Total aset perusahaan mencapai Rp36,07 triliun, dengan liabilitas Rp9,83 triliun dan ekuitas Rp26,24 triliun.
Kas dan setara kas PWON tercatat Rp7,01 triliun per akhir September 2025, turun dari Rp9,15 triliun di akhir 2024.
PROYEK properti campuran atau mixed-use building kian marak di kota-kota besar di Indonesia. Para pengembang memilih mengembangkan bangunan atau kawasan yang mengintegrasikan berbagai fungsi, dari perkantoran atau area komersial, hunian, hingga tempat hiburan, demi menyiasati keterbatasan lahan dan tren gaya hidup urban yang serbacepat. Proyek-proyek mixed-use pun memiliki ceruk pasar yang lebih besar ketimbang gedung/kawasan yang berfungsi tunggal.
Konsep kawasan mixed-use mulai berkembang di Indonesia pada awal dekade 2000-an, bertepatan dengan booming bisnis properti. Beberapa contohnya adalah Ciputra World di Kuningan, Jakarta Selatan, dengan luas lahan 15 hektare serta Central Park di Jakarta Barat. Keduanya dibangun pada 2009 dan beroperasi dua-tiga tahun kemudian. Ciputra World dan Central Park mengintegrasikan perkantoran, apartemen, pusat belanja, hingga museum dan galeri dalam satu bangunan/kawasan. Model properti semacam ini ternyata menjadi solusi lain untuk mengurangi kemacetan karena mobilitas warga terkonsentrasi di satu area.
Belakangan, konsep bangunan/kawasan terintegrasi kian berkembang. Hal ini terjadi terutama setelah pemerintah membangun jaringan transportasi baru, seperti mass rapid transit dan light rail transit yang menghubungkan berbagai penjuru kota.
Proyek properti mixed-use pun meluas ke kawasan-kawasan di luar Jakarta, seperti Bekasi dan Tangerang. Beberapa contohnya adalah Pakuwon Residence Bekasi dan Kalimalang Mixed-Use di Bekasi, serta Upper West BSD City dan Grand Pasadena Village di Gading Serpong, Tangerang Selatan, yang juga menawarkan integrasi hunian dengan fasilitas untuk bekerja.
Soal prospek pasar, area/bangunan mixed-use memiliki peluang tersendiri karena menjawab kebutuhan warga urban. Pengembang yakin model properti ini bisa menarik konsumen dari kalangan profesional yang memerlukan hunian plus tempat kerja hingga investor yang mencari imbal hasil.
Itu sebabnya, dalam riset yang dirilis pada 2013, Colliers International Indonesia menyebutkan proyek mixed-use kian ekspansif ke luar Jakarta menuju sejumlah kota, dari Surabaya dan Bandung hingga ke luar Jawa, seperti Medan, Pekanbaru, dan Balikpapan.
Pusat belanja Gandaria City, Jakarta.
Salah satu pengembang yang aktif membangun mixed-use adalah PT Pakuwon Jati Tbk atau Pakuwon Group. Pakuwon Group dikenal sebagai "penguasa" pangsa pasar pusat belanja di Surabaya melalui sejumlah proyek, seperti Tunjungan Plaza, Royal Plaza, dan Pakuwon City. Di Jakarta, Pakuwon mendirikan Plaza Blok M, Gandaria City, serta Kota Kasablanka yang dikenal sebagai mal sekaligus kawasan hunian yang laris manis.
Yang terbaru, Pakuwon akan berekspansi ke Semarang dengan proyek mixed-use.
Seperti apa rencana Pakuwon Group dan prospek bisnis properti mixed-use? Anda bisa membacanya dalam wawancara dengan Presiden Direktur PT Pakuwon Jati Tbk Alexander Stefanus Ridwan Suhendra di aritkel "Kiat Pakuwon dalam Bisnis Properti di Tengah Daya Beli Turun". ●
PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) tetap kuat di tengah tekanan sektor properti berkat pendapatan dan laba bersih yang solid, meski ada pelemahan rupiah dan kenaikan BI Rate. [71] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) berpeluang meraih pertumbuhan jangka panjang berkat basis pendapatan dan laba bersih yang kuat, meskipun dihadapkan pada tekanan ganda sektor properti.
Pelemahan nilai tukar rupiah serta ketidakpastian ekonomi global membuat tekanan yang harus dilalui sektor properti kian berat. Tak hanya itu, pasar real estat kian diperberat oleh kebijakan moneter Bank Indonesia yang baru saja mengerek naik Suku Bunga Acuan (BI Rate) menjadi 5,50%.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56