Bisnis.com, JAKARTA — Emiten kongsi Boy Thohir dan TP Rachmat, PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) hingga US$20 juta atau Rp332,56 miliar (asumsi kurs Rp16.628 per dolar AS) untuk 2026.
Direktur dan Chief Financial Officer ESSA Industries Indonesia Prakash Chand Bumb mengatakan anggaran tersebut tergolong tidak terlalu tinggi. Sebab, perseroan tidak terlalu berambisi untuk ekspansi pada 2026.
"Capex yang kami anggarkan tidak terlalu tinggi, kira-kira sekitar US$10 juta hingga US$20 juta yang bersifat esensial," kata Prakash dalam public expose pada Rabu (3/12/2025).
Dana capex yang dianggarkan itu akan dimanfaatkan oleh ESSA untuk mendukung operasional proyek eksisting, terutama fasilitas produksi elpiji dan amoniak.
Sementara, proyek-proyek eksisting untuk tahun depan masih dalam tahapan pengembangan awal. ESSA pun menurutnya masih memiliki posisi kas yang kuat, sehingga sumber dana akan berasal dari internal.
ESSA merupakan emiten di sektor energi yang mengoperasikan kilang elpiji serta amoniak. ESSA memiliki kilang elpiji di Palembang dengan kapasitas produksi harian 174 ton per hari atau 60.000-70.000 metrik ton per tahun. Kilang elpiji itu telah berproduksi secara komersial sejak 2007.
Emiten kongsi taipan Boy Thohir dan TP Rachmat itu juga memiliki pabrik amonia yang dikelola PT Panca Amara Utama (PAU) dengan kapasitas produksi mencapai 700.000 metrik ton per tahun. Pabrik yang berdiri di Sulawesi Tengah ini memiliki nilai investasi sebesar US$800 juta. Adapun hasil produksinya berupa cairan amonia yang disebut amoniak digunakan dalam pembuatan pupuk, bahan peledak, asam dan produk petrokimia lainnya.
Dalam mengembangkan bisnis elpiji serta amoniaknya itu, ESSA kemudian mengembangkan sejumlah proyek jangka panjang. ESSA misalnya mengembangkan proyek blue ammonia.
Secara jangka panjang, produksi pabrik blue amonia nantinya akan dipasarkan ke Timur dan Eropa. ESSA pun telah mengantongi komitmen dari Jepang untuk menyerap 2 juta ton amoniak yang dihasilkan per tahun mulai 2027 nanti.
ESSA juga tengah mengembangkan pabrik bahan sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur. ESSA menargetkan pabrik SAF itu bisa produksi komersial pada kuartal IV/2027 atau kuartal I/2028.
Berdasarkan laporan keuangannya, ESSA telah membukukan kinerja keuangan lesu sepanjang kuartal III/2025. Laba bersih ESSA terkoreksi 36,53% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$21,30 juta, dari US$33,56 juta pada periode yang sama 2024.
Lesunya laba ESSA sejalan dengan pendapatan yang susut 12,93% YoY menjadi senilai US$200,35 juta pada kuartal III/2025. Adapun, lemahnya kinerja top line ESSA didorong dengan melemahnya kinerja sejumlah segmen bisnis perseroan.
Pada segmen elpiji dan jasa pengolahan, misalnya, ESSA membukukan pendapatan segmen senilai US$30,39 juta pada periode yang berakhir September 2025. Dibandingkan kinerja segmen yang sama pada akhir 2024 sebesar US$45,08 juta, pendapatan ESSA di segmen ini susut 32,58% sepanjang tahun berjalan 2025 (year-to-date/YtD).
Begitu juga pada segmen amonia yang hanya mampu mencatatkan pendapatan senilai US$169,96 juta, turun dari US$256,31 juta YtD.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.