#30 tag 24jam
Ketua BPI Nilai Bioskop dan OTT Idealnya Saling Melengkapi, Bukan Bersaing
Ketua BPI, Fauzan Zidni, menekankan bahwa bioskop dan OTT harus saling melengkapi, bukan bersaing. Indonesia butuh lebih banyak layar bioskop untuk mendukung distribusi film. [501] url asal
#bioskop-indonesia #layar-bioskop #pertumbuhan-film-nasional #distribusi-film #platform-ott #layanan-streaming #saling-melengkapi #model-bisnis-bioskop #original-production #indikator-film-sukses #nila
(Bisnis.Com - Terbaru) 27/06/26 19:10
v/261738/
Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Fauzan Zidni menyoroti masih terbatasnya jumlah layar bioskop di Indonesia yang belum mampu mengimbangi pertumbuhan produksi film nasional. Menurutnya, ketimpangan tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam distribusi film ke penonton.
Menurut Fauzan, Indonesia idealnya memiliki sekitar 10.000 layar bioskop. Namun, hingga saat ini jumlah layar yang tersedia baru berkisar 2.500. Kesenjangan tersebut membuat antrean film yang menunggu jadwal tayang di bioskop semakin panjang.
Meski demikian, kondisi itu tidak lantas membuat film-film yang telah diproduksi beralih menjadikan platform over-the-top (OTT) sebagai saluran utama penayangan di masa depan. Menurutnya, penambahan jumlah layar bioskop tetap jadi prioritas yang utama, meski pembangunannya dilakukan perlahan karena investasinya yang besar.
Di luar itu, Fauzan juga menegaskan bahwa model bisnis bioskop dan layanan streaming berbeda, sehingga keduanya memiliki fungsi dan peran yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
"Saya sendiri juga pernah bekerja di OTT dan melihat bahwa hubungan antara bioskop dan OTT bukan saling menggantikan (substitutif), melainkan saling melengkapi," katanya dalam konferensi pers JAFF Market 2026 di Jakarta, Jumat, (26/6/2026)
Menurut Fauzan, platform OTT tidak akan serta-merta membeli semua film yang diproduksi, kecuali untuk proyek yang sejak awal memang dibuat sebagai original production milik platform tersebut. Untuk film-film lain, biasaya OTT tetap mempertimbangkan rekam jejak performa di bioskop sebelum memutuskan untuk mengakuisisi hak tayangnya.
Fauzan menyebut keberhasilan sebuah film di bioskop masih menjadi indikator penting bagi platform OTT. Film yang mampu menarik banyak penonton di layar lebar dinilai memiliki potensi lebih besar untuk kembali diminati ketika tayang di layanan streaming. Dengan kata lain, kesuksesan di bioskop menjadi nilai tambah dalam proses negosiasi dengan OTT.
Fauzan menambahkan, capaian jumlah penonton di bioskop juga berpengaruh terhadap nilai lisensi (licensing fee) yang ditawarkan platform OTT. Semakin tinggi jumlah penonton yang berhasil diraih sebuah film di bioskop, semakin besar pula peluang film tersebut memperoleh nilai lisensi yang lebih tinggi saat dibeli oleh platform streaming.
"Hal itu karena OTT melihat beberapa indikator utama, seperti berapa banyak orang yang mendaftar (sign up) karena judul tersebut, berapa banyak yang menontonnya, dan berapa lama durasi tontonnya," imbuhnya.
Menurutnya, kesuksesan sebuah film di bioskop umumnya berbanding lurus dengan performanya di platform OTT. Indikator seperti jumlah penonton, tingkat ketertarikan audiens, hingga durasi waktu menonton biasanya juga menunjukkan hasil yang serupa ketika film tersebut masuk ke layanan streaming.
Oleh karena itu, alih-alih menonjolkan satu kanal distribusi film, dirinya berpandangan industri kini justru membutuhkan film yang berhasil di kedua kanal distribusi tersebut.
Saat ini, katanya, tantangan yang perlu dibenahi justru terletak pada pengaturan jeda waktu atau windowing antara penayangan di bioskop dan perilisan di OTT agar keduanya tetap dapat tumbuh secara sehat.
Menurutnya, jika jeda penayangan di OTT terlalu lama, momentum dan antusiasme penonton terhadap film bisa memudar. Sebaliknya, apabila film terlalu cepat hadir di layanan streaming, hal itu berpotensi mengurangi jumlah penonton di bioskop.
Ke depan, Fauzan menilai perlu adanya aturan main yang lebih jelas mengenai pengaturan masa tayang antara bioskop dan OTT agar kepentingan seluruh pelaku industri dapat terjaga.
Laju Trafik Internet Nataru 2025 di Bawah Prediksi, Bencana Aceh-Sumatra Disorot
Trafik internet Nataru 2025 lebih rendah dari prediksi akibat bencana di Aceh-Sumatra, meski operator siap. Penggunaan layanan digital bergeser ke gim dan streaming. [476] url asal
#nataru-2025 #trafik-internet #bencana-aceh #bencana-sumatra #kenaikan-trafik #infrastruktur-telekomunikasi #dampak-bencana #layanan-digital #tren-penggunaan #operator-seluler #layanan-streaming #media
(Bisnis.Com - Teknologi) 05/01/26 20:10
v/94181/
Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan trafik layanan data selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 tercatat lebih rendah dari proyeksi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Jika sebelumnya Komdigi memperkirakan lonjakan trafik dapat mencapai 30%, realisasi di lapangan menunjukkan peningkatan yang lebih moderat. PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatat kenaikan trafik sekitar 13%, sementara PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) sekitar 12% dibandingkan dengan hari biasa.
Pengamat telekomunikasi Kamilov Sagala menilai faktor non-teknis turut berkontribusi signifikan terhadap lebih rendahnya realisasi trafik dibandingkan proyeksi awal.
Dia menyoroti dampak bencana alam yang terjadi di berbagai daerah selama periode Nataru, yang menyebabkan gangguan hingga kerusakan infrastruktur telekomunikasi.
“Banyak infrastruktur yang tumbang, walaupun bisa diatasi tapi ya sudah terjadi ya masih repot gitu,” kata Kamilov kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).
Menurut Kamilov, meskipun operator telekomunikasi telah menyiapkan jaringan untuk menghadapi lonjakan trafik selama musim liburan, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya berjalan sesuai ekspektasi akibat bencana alam yang meluas.
Dia menjelaskan, bencana di berbagai wilayah, khususnya di Sumatera dan Aceh, menyebabkan kerusakan infrastruktur telekomunikasi yang membutuhkan waktu untuk diperbaiki.
Kondisi tersebut berdampak pada penurunan trafik data di sejumlah lokasi, meskipun tidak seluruh wilayah terdampak memiliki laporan yang lengkap.
Kamilov menambahkan pada dasarnya seluruh operator telah siap menghadapi lonjakan trafik selama periode Natal dan Tahun Baru.
Namun, bencana yang terjadi di beberapa provinsi bahkan secara luas di Indonesia membuat kenaikan trafik tidak merata. Banyak titik yang sebelumnya diproyeksikan mengalami peningkatan justru tidak mencatat lonjakan sesuai harapan.
Wilayah Jawa yang biasanya menjadi kontributor utama trafik data juga terdampak kondisi cuaca ekstrem.
“Kalau di Jawa kan selain juga ada banjir, juga ada angin ribut dan segala macam. Itu salah satu penyebab trafik itu jadi tidak meningkat,” ujarnya.
Selain faktor bencana, Kamilov juga menilai tren penggunaan layanan digital selama libur Nataru mengalami perubahan dibandingkan periode sebelumnya.
Menurutnya, masyarakat kini lebih banyak mengakses layanan berbasis gim, media sosial, dan layanan streaming video.
“Kalau lihat dari sisi tren lanjutan trafik, ada perubahan ya dari libur natal dan tahun baru. Memang saya lihat dari perkembangannya ada masyarakat itu lebih cenderung fokus ke game ya, dan berikutnya media sosial dan streaming video,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Joseph Matheus Edward, menilai secara umum karakteristik trafik selama periode Nataru relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
“Saat ini trafik operator seluler didominasi data atau internet periode natal dan tahun baru hampir sama dengan tahun lalu, hanya sekarang menggunakan layanan OTT,” katanya.
Ian menjelaskan pengalaman operator seluler dalam menghadapi lonjakan trafik tahunan membuat kualitas layanan tetap terjaga, baik dari sisi jaringan maupun pengalaman pengguna.
Dia juga menyoroti adanya pengalihan trafik yang mengikuti pergerakan pengguna serta meningkatnya kebutuhan layanan digital yang menuntut kapasitas bandwidth besar, stabilitas tinggi, dan latensi rendah.
“Tentu pengalihan trafik sesuai dengan pergerakan pengguna dan layanan yg memerlukan bandwidth yang semakin besar dan stabil, latency/delay yang rendah dan content yang mendekati pelanggan,” katanya.
Perjalanan Bisnis Netflix: dari Sewa DVD ke Akuisisi Pesaingnya
Di akhir 2025, platform streaming Netflix kembali mencetak babak baru dalam sejarah industri hiburan global. [1,637] url asal
#netflix #warner-bros #industri-hiburan #layanan-streaming #indepth
(Kompas.com - Money) 08/12/25 18:10
v/65184/
JAKARTA, KOMPAS.com - Di akhir 2025, platform streaming Netflix kembali mencetak babak baru dalam sejarah industri hiburan global.
Setelah lebih dari dua dekade berevolusi dari layanan sewa DVD lewat pos menjadi raksasa streaming dengan lebih dari 300 juta pelanggan berbayar di lebih dari 190 negara, Netflix kini menyepakati akuisisi bisnis studio dan streaming Warner Bros Discovery, termasuk HBO dan layanan streaming Max, dalam transaksi bernilai puluhan miliar dollar AS.
Perjalanan menuju langkah besar tersebut memperlihatkan bagaimana Netflix berulang kali mengubah model bisnisnya, merespons teknologi baru, sekaligus menghadapi kompetisi dan tekanan regulasi yang terus berkembang.
PIXABAY/JADE87 Ilustrasi Netflix, platform streaming Netflix.
Dari Scotts Valley: lahir sebagai layanan sewa DVD
Netflix didirikan pada 29 Agustus 1997 oleh Reed Hastings dan Marc Randolph di Scotts Valley, California, Amerika Serikat (AS).
Pada masa awal, Netflix bukan perusahaan layanan streaming, melainkan layanan penyewaan dan penjualan DVD lewat internet, sebuah gagasan yang saat itu memanfaatkan format DVD yang baru saja diperkenalkan di AS.
Netflix diluncurkan dengan sekitar 30 karyawan dan kurang dari 1.000 judul DVD, namun langsung memanfaatkan keunggulan model daring. Katalog bisa diperluas tanpa batasan ruang fisik seperti toko video tradisional.
Pada awal operasinya, Netflix menggunakan model bayar per sewa.
Namun pada 1999, perusahaan memperkenalkan konsep berlangganan bulanan (subscription) tanpa tanggal jatuh tempo pengembalian, tanpa denda keterlambatan, dan tanpa biaya pengiriman tambahan.
Model bayar per sewa lalu dihentikan pada awal 2000 supaya fokus penuh pada langganan.
businessinsider.co.id Pendiri Netflix Reed Hastings.Dalam sebuah wawancara, Hastings menggambarkan fase awal itu sebagai periode membangun bisnis DVD yang akhirnya menjadi laba pada 2002 dan bersaing langsung dengan Blockbuster.
Ia menyebut perjalanan itu sebagai evolusi “dari bisnis DVD dalam pertarungan sengit dengan Blockbuster menuju perusahaan yang bertransformasi ke streaming.”
Transisi ke streaming: ambisi lama yang menjadi kenyataan
Meski dikenal sebagai perusahaan DVD di awal 2000-an, ambisi jangka panjang Netflix sebenarnya adalah streaming.
Hastings disebut sudah menyampaikan sejak akhir 1990-an bahwa tujuan akhirnya adalah distribusi konten secara daring, sementara DVD digunakan untuk membangun basis pelanggan hingga teknologi internet siap.
Awalnya, Netflix bahkan merancang sebuah perangkat keras “Netflix box” yang memungkinkan pelanggan mengunduh film semalaman untuk ditonton keesokan hari.
Namun rencana itu dibatalkan setelah perusahaan melihat pertumbuhan cepat layanan video daring seperti YouTube, meski kualitas videonya masih rendah. Netflix kemudian mengalihkan fokus dari perangkat khusus ke layanan streaming langsung via internet.
Pada Januari 2007, Netflix resmi meluncurkan layanan streaming. Saat itu, katalog streaming hanya sekitar 1.000 judul, jauh lebih kecil dibanding lebih dari 70.000 judul DVD yang disediakan melalui layanan pos.
Akan tetapi, langkah ini menandai pergeseran penting bisnis: dari perusahaan distribusi fisik menjadi platform distribusi digital.
Pertumbuhan pesat, konten orisinal, dan ekspansi global
PIXABAY/TUMISU Ilustrasi Netflix.Seiring kecepatan internet membaik dan perangkat seperti smart TV, smartphone, dan tablet makin umum, basis pelanggan streaming Netflix tumbuh pesat. Pada dekade 2010-an, layanan ini berkembang dari dominan di Amerika Serikat menjadi pemain global.
Mulai 2010, Netflix masuk ke pasar internasional, pertama di Kanada, kemudian Amerika Latin, Eropa, hingga Asia.
Dalam periode ini, perusahaan juga mengubah strategi konten: tidak lagi hanya mengandalkan lisensi dari studio lain, tetapi semakin agresif memproduksi konten orisinal.
Serial seperti House of Cards (2013) dan Orange Is the New Black kerap disebut sebagai tonggak yang memperkuat posisi Netflix sebagai produsen konten, bukan sekadar distributor.
Pengamat industri menilai langkah masuk ke konten orisinal menjadi salah satu faktor yang membuat Netflix mampu mempertahankan pertumbuhan pelanggan di tengah makin ketatnya persaingan layanan streaming.
Dari sisi angka, data yang dihimpun berbagai publikasi pasar menunjukkan bahwa pada pertengahan dekade 2020-an Netflix menjadi layanan video on demand berbayar dengan pelanggan terbesar di dunia.
Laporan menyebutkan bahwa pada 2025, Netflix memiliki sekitar 301,6 juta pelanggan berbayar di seluruh dunia, menempatkannya di atas pesaing seperti Amazon Prime Video dan Disney+.
Menyesuaikan model bisnis: iklan dan penertiban berbagi kata sandi
Memasuki 2020-an, pertumbuhan pelanggan Netflix menghadapi beberapa tantangan: pasar yang mulai jenuh di negara maju, biaya produksi konten yang tinggi, serta persaingan dari platform baru seperti Disney+, Max (Warner Bros Discovery), dan Apple TV+.
Netflix Logo dari platform streaming Netflix.Untuk menjawab hal itu, manajemen Netflix mengubah beberapa aspek model bisnis:
1. Paket dengan iklan
Pada 2022–2023, Netflix meluncurkan paket berlangganan dengan iklan di sejumlah negara.
Di beberapa pasar, paket termurah tanpa iklan mulai dihapus sehingga pelanggan baru diarahkan ke paket dengan iklan atau paket standar yang lebih mahal.
Manajemen menyatakan kepada investor bahwa pendapatan iklan diproyeksikan tumbuh pesat dan dapat membantu mempertahankan harga langganan yang lebih terjangkau.
2. Penertiban berbagi kata sandi (password sharing)
Pada 2023, Netflix mulai menindak praktik berbagi akun di luar satu rumah tangga di sejumlah negara, termasuk AS.
Netflix meminta pelanggan menetapkan “rumah” utama untuk akun mereka, dan pengguna di luar rumah tangga tersebut dikenai biaya tambahan atau diminta membuat akun sendiri.
Kebijakan ini sempat memicu reaksi beragam, tetapi data pelanggan menunjukkan bahwa langkah tersebut justru berkontribusi pada tambahan pelanggan baru dan kenaikan pendapatan.
Dari sisi keuangan, berbagai laporan menyebutkan bahwa pendapatan Netflix mencapai sekitar 39 miliar dollar AS pada 2024, dan diproyeksikan naik hingga sekitar 44 miliar dollar AS pada 2025.
Laporan kuartal III 2025 menunjukkan pertumbuhan pendapatan sekitar 17 persen secara tahunan, seiring kontribusi paket dengan iklan dan monetisasi pelanggan baru.
Masuk ke olahraga dan siaran langsung
PIXABAY/YOUSAFBHUTTA Ilustrasi Netflix, platform streaming Netflix.Selain film dan serial, Netflix juga mulai memasuki konten olahraga dan siaran langsung. Pada akhir 2024, Netflix menyiarkan pertandingan NFL pada hari Natal.
Ini diklaim sebagai pertandingan NFL paling banyak ditonton secara streaming di AS dan menjadikan 25 Desember 2024 sebagai hari dengan penonton Netflix terbanyak di negara tersebut.
Pada Desember 2024, federasi sepak bola dunia (FIFA) juga mengumumkan bahwa Netflix menjadi pemegang hak siar eksklusif Piala Dunia Wanita 2027 dan 2031 di Amerika Serikat.
Langkah ini dinilai sejumlah pengamat sebagai bagian dari upaya Netflix memperluas portofolio konten ke olahraga global.
Dari kompetitor menjadi pemilik: jalan menuju akuisisi Warner Bros Discovery
Selama bertahun-tahun, Warner Bros, melalui HBO dan kemudian HBO Max/Max, dipandang sebagai salah satu pesaing utama Netflix dalam konten premium. Namun pada 2025, peta kompetisi itu berubah arah.
Pada akhir Oktober 2025, laporan eksklusif Reuters menyebutkan bahwa Netflix tengah “menjajaki penawaran” untuk membeli bisnis studio dan streaming Warner Bros Discovery (WBD).
Netflix dikabarkan menunjuk bank investasi Moelis & Co. dan telah memperoleh akses ke data keuangan WBD untuk proses uji tuntas (due diligence).
Laporan tersebut menyebutkan bahwa akuisisi ini dipandang sejumlah sumber sebagai langkah yang berpotensi “mengubah lanskap streaming” karena akan menggabungkan katalog konten Netflix dengan studio legendaris Warner Bros, HBO, dan IP besar lain seperti DC dan Harry Potter.
Tidak lama kemudian, berbagai media melaporkan adanya persaingan penawaran dari pihak lain seperti Comcast dan Paramount-Skydance. Namun pada awal Desember 2025, Netflix muncul sebagai pemenang proses penawaran tersebut.
Warner Bros. Discovery Inc. tengah melakukan negosiasi eksklusif untuk menjual studio film dan televisi serta layanan streaming HBO Max kepada Netflix Inc.Rincian transaksi: nilai puluhan miliar dollar AS
Pada 5 Desember 2025, Netflix dan Warner Bros Discovery mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan.
Netflix akan membeli studio dan bisnis streaming WBD dengan nilai sekitar 72 miliar dollar AS, sehingga mengimplikasikan valuasi sekitar 82,7 miliar dollar AS untuk keseluruhan WBD.
Mengutip Reuters, transaksi ini mencakup:
- Studio film dan televisi Warner Bros
- HBO dan layanan streaming Max beserta perpustakaan kontennya
- DC Entertainment/DC Studios,
- Divisi distribusi dan lisensi konten WBD.
Sementara itu, bisnis televisi linear, termasuk jaringan-jaringan kabel dan segmen yang akan dilebur dalam entitas “Discovery Global”, serta sebagian aset berita seperti CNN, direncanakan dipisah (spin-off) dan tidak diambil alih Netflix.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa transaksi ini sebagian besar berbentuk pembayaran tunai dan akan disertai pengambilalihan utang dalam jumlah besar.
Analisis yang dimuat Barron’s menyoroti bahwa kesepakatan ini akan meningkatkan posisi utang Netflix secara signifikan dan menimbulkan kekhawatiran investor terhadap beban keuangan dan risiko eksekusi sinergi.
Respons manajemen, pasar, dan regulator
Setelah pengumuman kesepakatan, pasar keuangan merespon secara beragam. Saham Warner Bros Discovery menguat, sementara saham Netflix sempat terkoreksi karena kekhawatiran harga akuisisi yang tinggi dan peningkatan utang.
PIXABAY/YOUSAFBHUTTA Ilustrasi Netflix, platform streaming Netflix.Co-CEO Netflix Ted Sarandos menyatakan, akuisisi Warner Bros Discovery sejalan dengan misi perusahaan.
Dalam sebuah pernyataan, Sarandos menyebut bahwa misi Netflix adalah “menghibur dunia”, dan dengan menggabungkan katalog Netflix dengan perpustakaan Warner serta HBO, perusahaan berharap dapat “memberikan lebih banyak hal yang disukai penonton."
Dalam laporan lain, Deadline mencatat bahwa Sarandos menyebut transaksi ini sebagai sebuah “kesempatan langka” bagi Netflix untuk memperluas jangkauan konten dan memperkuat posisinya di pasar global, sekaligus menegaskan komitmen perusahaan untuk tetap mempertahankan rilis film Warner Bros di bioskop.
Di sisi lain, respons politik dan regulator cukup keras. Presiden AS Donald Trump menyatakan keprihatinannya terhadap besarnya pangsa pasar yang akan dimiliki Netflix setelah akuisisi ini.
Ia menyebut kesepakatan tersebut “bisa menjadi masalah” dan menyatakan akan “terlibat” dalam proses peninjauan regulasi.
Laporan yang sama juga menggarisbawahi kritik dari berbagai pihak, termasuk anggota Kongres dari dua partai, yang menyoroti risiko konsentrasi kekuatan pasar, potensi kenaikan harga langganan bagi konsumen, serta dampaknya terhadap pekerja dan ekosistem bioskop.
Posisi Netflix jelang kesepakatan transaksi
Menjelang akhir 2025, Netflix berada pada posisi unik:
- Pelanggan berbayar global mencapai lebih dari 300 juta akun
- Pendapatan tahunan diperkirakan melampaui 40 miliar dollar AS dengan pertumbuhan dua digit
- Portofolio bisnis meluas dari streaming ke konten orisinal, gim, siaran langsung, dan olahraga
Jika transaksi Warner Bros Discovery lolos dari proses persetujuan regulator, yang menurut berbagai laporan diperkirakan akan berlangsung hingga 2026, Netflix akan bertransformasi lagi, dari perusahaan yang dulu meminjamkan DVD lewat pos menjadi pemilik salah satu studio film tertua di dunia dan perpustakaan konten yang sangat besar.
Perjalanan bisnis Netflix, dari titik awal di sebuah kota kecil di California hingga posisi sekarang menjelang penutupan mega-akuisisi Warner Bros Discovery, terekam sebagai rangkaian perubahan model bisnis, keputusan investasi konten, dan manuver korporasi yang terus diawasi pelaku pasar, regulator, dan pelaku industri hiburan global.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Netflix Akuisisi Warner Bros Ditentang Hollywood, Trump Izin Jump In
Rencana akuisisi Netflix atas Warner Bros Discovery bernilai 72 miliar dolar AS. [538] url asal
#akuisisi-netflix #warner-bros-discovery #industri-film-hollywood #penolakan-serikat-pekerja #antimonopoli #konsolidasi-kekuatan-pasar #layanan-streaming #pemutusan-hubungan-kerja #bioskop #konten-hibu
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejumlah serikat pekerja industri film Hollywood dan pemilik jaringan bioskop menyuarakan penolakan terhadap rencana akuisisi Netflix atas Warner Bros Discovery senilai 72 miliar dolar AS. Mereka menilai kesepakatan tersebut berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja, memusatkan kekuatan pasar industri hiburan, serta mengurangi jumlah film yang dirilis di bioskop.
Jika disetujui regulator, akuisisi ini akan menempatkan merek HBO di bawah kendali Netflix sekaligus menyerahkan pengelolaan studio legendaris Warner Bros kepada raksasa layanan streaming itu. Selama ini, Netflix dikenal sebagai salah satu aktor utama yang mendorong pergeseran industri film dari pola rilis bioskop ke layanan streaming di rumah.
Netflix, produser serial populer Stranger Things dan Squid Game, juga akan menguasai judul-judul ikonik Warner Bros seperti Batman dan Casablanca. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan semakin terkonsentrasinya kekuasaan di industri hiburan global.
Dilansir Reuters, Senin (8/12/2025), Writers Guild of America (WGA) wilayah Timur dan Barat secara tegas menyatakan penggabungan ini harus diblokir. Menurut WGA, langkah perusahaan streaming terbesar di dunia mengakuisisi salah satu pesaing utamanya merupakan praktik yang ingin dicegah oleh undang-undang antimonopoli.
Kesepakatan Netflix–Warner Bros Discovery dipastikan menghadapi proses peninjauan antimonopoli baik di Amerika Serikat maupun Eropa. Sejumlah politisi AS pun telah menyatakan sikap skeptis. WGA, yang mewakili para penulis film, televisi, siaran berita, hingga media digital, menyoroti potensi pemangkasan lapangan kerja, penurunan upah, kenaikan harga bagi konsumen, serta memburuknya kondisi kerja para pekerja industri hiburan.
Dalam pernyataannya, Netflix mengklaim akuisisi ini dapat menghasilkan efisiensi biaya sebesar 2 hingga 3 miliar dolar AS per tahun pada tahun ketiga setelah transaksi rampung. Namun klaim tersebut belum meredakan kekhawatiran para pelaku industri.
Cinema United, asosiasi yang mewakili sekitar 30 ribu layar bioskop di Amerika Serikat dan 26 ribu layar internasional, memperingatkan kesepakatan ini berisiko menghilangkan hingga 25 persen pendapatan box office domestik tahunan. Presiden Cinema United Michael O’Leary menyebut penggabungan tersebut sebagai ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi industri perfilman.
Menurut O’Leary, perilisan film secara terbatas dan sporadis di sejumlah kecil bioskop hanya untuk memenuhi syarat penghargaan tidak dapat dianggap sebagai komitmen nyata terhadap keberlangsungan bioskop.
Netflix menegaskan tetap akan mempertahankan perilisan film Warner Bros di bioskop serta mendukung para pekerja kreatif Hollywood. Perusahaan juga menyebut kesepakatan ini akan memperkaya pilihan konten bagi pelanggan, meningkatkan produksi di Amerika Serikat, serta menciptakan lebih banyak peluang kerja. Hingga kini, Warner Bros Discovery belum memberikan tanggapan resmi atas kekhawatiran tersebut.
Penolakan juga disampaikan serikat pekerja Hollywood Teamsters yang mewakili pengemudi, kru teknis, dan pekerja industri hiburan lainnya. Mereka mendesak pemerintah di semua tingkat untuk menolak kesepakatan ini karena konsolidasi kekuatan korporasi dinilai mengancam keberlangsungan pekerjaan berstatus serikat.
Sementara itu, Directors Guild of America (DGA) mengambil sikap lebih hati-hati dengan menyatakan akan berdialog langsung dengan Netflix untuk menyampaikan berbagai kekhawatiran dan memahami visi perusahaan ke depan. Serikat aktor SAG-AFTRA juga menilai rencana merger tersebut menimbulkan banyak pertanyaan serius dan akan menyampaikan sikap resmi setelah melakukan kajian menyeluruh.
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut angkat bicara. Trump menyatakan dirinya akan terlibat dalam keputusan terkait rencana merger Netflix dan Warner Bros Discovery. Menurutnya, pangsa pasar dari entitas gabungan berpotensi menimbulkan persoalan.
“Saya akan terlibat dalam keputusan tersebut,” ujar Trump kepada wartawan saat tiba di Kennedy Center untuk menghadiri acara penghargaan tahunan, Ahad (7/12).
Langganan Aplikasi Streaming Makin Mahal, Harga Naik Gila-gilaan
HBO Max menaikkan harga langganan di AS, dengan kenaikan bervariasi. Simak selengkapnya! [354] url asal
#streaming #hbo-max #harga-langganan #kenaikan-harga #disney #apple-tv #netflix #pasar-streaming #pelanggan #layanan-streaming #harga-streaming
(CNBC Indonesia - Tech) 22/10/25 11:17
v/12032/
Jakarta, CNBC Indonesia - HBO Max menaikkan harga langganan semua paket untuk Amerika Serikat (AS). Kenaikannya beragam bergantung dari paket yang digunakan oleh pelangganan.
Misalnya, pada paket Basic dengan iklan mengalami kenaikan US$1 (Rp 16.600) menjadi US$10,99 (Rp 182.600) per bulan. Sementara Standard menjadi US$18,49 (Rp 307.300) atau naik US$1,50 (Rp 24.900), dan paket termahal Premium naik US$2 (Rp 33.200) menjadi US$22,99 (Rp 382.100), dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (23/10/2025).
Pelanggan baru akan langsung dikenakan dengan kenaikan harga. Sementara pelanggan lama akan diberitahu 30 hari sebelum perpanjangan paket dan harga baru ditetapkan pada penagihan berikutnya yakni pada atau setelah 20 November.
Kenaikan ini berselang satu tahun setelah kebijakan serupa diterapkan pada Juni 2024 lalu.
CEO Warner Bros Discovery pemilik HBO Max, David Zaslav telah mengindikasikan akan ada kenaikan harga langganan pada September lalu. Kebijakan dilakukan seiring dengan tindakan keras pada pembagian password akun yang lazim dilakukan kebanyakan pengguna.
"Fakta ini berkualitas, dan berlaku pada seluruh perusahaan, baik produksi film, TV dan layanan streaming, kami berpikir memberi peluang menaikkan harga. Kami rasa harga kami jauh lebih rendah," jelasnya saat itu.
Pembaruan harga ini hadir saat pasar streaming makin jenuh. Sektor ini memiliki banyak pilihan platform. Masing-masing juga kompak menaikkan harga langganan beberapa saat lalu, mulai dari Disney+, Apple TV, hingga Netflix.
Di Indonesia sendiri, harga langganan HBO Max belum mengalami kenaikan harga. Harganya masih dimulai dari Rp 49 ribu, berikut perinciannya:
Ponsel : Rp 49 ribu per bulan / Rp 349 ribu per tahun
Standar : Rp 79 ribu per bulan / Rp 549 ribu per tahun
Premium : Rp 119 ribu per bulan / Rp 829 ribu per tahun
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56