#30 tag 24jam
Wamenekraf: MASA SIngapore 2026 bawa potensi ekraf nasional ke dunia
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf)/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar mengatakan ajang MASA Singapore 2026 merupakan agenda ... [374] url asal
#ekraf #budaya-indonesia #pameran-kerajinan #masa-singapore-2026 #pameran-internasional
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf)/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar mengatakan ajang MASA Singapore 2026 merupakan agenda penting untuk membawa potensi ekonomi kreatif Indonesia di tingkat internasional.
Wamenekraf dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, menyatakan apresiasinya terhadap MASA Singapore 2026 sebagai platform yang membawa cerita baru tentang Indonesia melalui karya dan kolaborasi para kreator.
Menurutnya, kekuatan ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya terletak pada talenta individu, tetapi juga pada ekosistem yang mampu menciptakan dampak lebih luas.
"MASA merepresentasikan babak baru kreativitas Indonesia di panggung dunia. Dengan kekayaan budaya dan semangat gotong royong, kita bergerak dari talenta individu menuju dampak kolektif. Singapura menjadi pintu gerbang, dan dengan dukungan berbagai pihak, kita siap membawa inspirasi lokal menjadi gerakan global,” ujar Irene.
MASA (A Movement Across Time) adalah platform kurasi internasional pertama dari Indonesia yang menampilkan lebih dari 80 brand dan kreator Tanah Air.
Tahun ini, MASA akan hadir di Singapura dan akan berlangsung pada 2 Juli hingga 10 Agustus 2026 dengan mengusung tema ‘A Sight into the Golden Indonesia Era’.
MASA Singapore 2026 adalah ajang kolaborasi bagi pelaku kreatif, komunitas, industri, dan pemangku kepentingan dengan tujuan membawa narasi Indonesia sebagai budaya yang terus berkembang melalui kreativitas, inovasi, craftsmanship, serta semangat gotong royong.
Irene mengatakan ajang kolaborasi lintas sektor ini menjadi elemen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia.
Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku industri, komunitas, dan kreator, Indonesia dapat membuka lebih banyak peluang bagi karya kreatif untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
MASA Singapore 2026 akan menghadirkan lebih dari 80 brand dan kreator Indonesia dari berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari fashion, desain, seni, musik, kuliner, hingga hospitality.
Sebagai bagian dari rangkaian utama, MASA menghadirkan pameran di Takashimaya Shopping Centre yang menampilkan perkembangan kreativitas generasi baru Indonesia, serta Indonesia–Singapore Orchid Extravaganza di Gardens by the Bay yang mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan warisan Indonesia melalui kekayaan geografis, arsitektur tradisional, flora endemik, craftsmanship, hingga representasi fauna Nusantara.
Melalui MASA Singapore 2026, Indonesia membuka ruang pertemuan antara kreator, brand, dan jejaring internasional untuk memperluas koneksi serta peluang kolaborasi.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekuatan ekonomi kreatif Indonesia sekaligus memperkuat hubungan budaya dan kolaborasi kreatif antara Indonesia dan Singapura.
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Kemenperin Perkuat Industri Kerajinan Berbasis Sawit untuk Dorong Ekonomi Sirkular
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri sekaligus membuka peluang usaha berkelanjutan bagi masyarakat. [487] url asal
#kemenperin #industri-kerajinan #ekonomi-sirkular #sawit
(Kompas.com - Money) 25/06/26 19:41
v/259979/
KOMPAS.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri kerajinan berbasis kelapa sawit sebagai upaya meningkatkan daya saing industri kreatif nasional, menciptakan peluang usaha baru, serta mendukung penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri kerajinan memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena mampu menghasilkan nilai tambah tinggi, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat perekonomian daerah.
“Industri kerajinan merupakan sektor yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan karena mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, pemerintah terus memperkuat ekosistem industri kerajinan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pengembangan inovasi produk, serta perluasan akses pasar bagi pelaku usaha.
Selain itu, pengembangan industri kerajinan juga diarahkan untuk memaksimalkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri, termasuk limbah dan produk samping kelapa sawit, guna mendukung implementasi ekonomi sirkular.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri sekaligus membuka peluang usaha berkelanjutan bagi masyarakat.
Kemenperin mencatat nilai ekspor industri kerajinan Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 165,27 juta dolar AS atau sekitar Rp2,97 triliun. Nilai tersebut meningkat 4,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencerminkan meningkatnya minat pasar internasional terhadap produk kerajinan Indonesia.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Emmy Suryandari mengatakan peningkatan daya saing industri kerajinan nasional membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, pengembangan keterampilan, pemanfaatan bahan baku alternatif, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular menjadi faktor penting untuk menghasilkan produk kerajinan bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan.
“Pengembangan keterampilan, pemanfaatan bahan baku alternatif, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular menjadi faktor penting dalam menciptakan produk kerajinan yang bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan,” kata Emmy.
Sebagai bagian dari penguatan industri kerajinan nasional, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Samarinda bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan menyelenggarakan Workshop Kerajinan Anyaman dan Kertas Seni Berbasis Kelapa Sawit di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–26 Juni 2026 tersebut didanai penuh oleh BPDP melalui program ekonomi hijau berbasis sawit. Program ini bertujuan meningkatkan nilai ekonomi produk kerajinan melalui pemanfaatan limbah dan produk samping kelapa sawit oleh industri kecil dan menengah (IKM).
Workshop diikuti oleh 30 pelaku usaha kerajinan dari Kabupaten Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung. Para peserta mendapatkan pelatihan teori dan praktik pembuatan kerajinan anyaman serta kertas seni dengan memanfaatkan limbah dan produk samping kelapa sawit sebagai bahan baku utama.
Kepala BSPJI Samarinda Ransi Pasae mengatakan pengembangan kerajinan berbasis limbah sawit menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan ekonomi sirkular di wilayah perkebunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Pemanfaatan limbah dan produk samping kelapa sawit menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi merupakan langkah nyata dalam mendukung industri yang berkelanjutan. Selain mengurangi limbah, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan produk-produk kreatif unggulan yang dapat memperkuat perekonomian daerah,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
HIMKI dorong inovasi teknologi perkuat daya saing industri kerajinan
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong percepatan adopsi inovasi dan teknologi modern untuk memperkuat daya saing industri ... [360] url asal
#pemajuan-industri #industri-kerajinan #himki #kementerian-perindustrian
Pasar furnitur global diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan
Jakarta (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong percepatan adopsi inovasi dan teknologi modern untuk memperkuat daya saing industri kerajinan, serta furnitur di tengah persaingan pasar global.
Dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menegaskan bahwa inovasi dan transformasi teknologi menjadi faktor penting bagi industri furnitur dan kerajinan untuk mempertahankan daya saing di pasar internasional.
"Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja yang kreatif, serta industri furnitur dan kerajinan yang produknya telah hadir di berbagai negara. Namun, untuk dapat bersaing secara global, kita perlu memperkuat produktivitas dan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi, serta pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi," ujar dia.
Menurut Sobur, keberhasilan industri furnitur dan kerajinan Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan kreativitas, tetapi juga kemampuan pelaku usaha dalam mengadopsi teknologi manufaktur modern untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Adapun pihaknya pada hari ini membuka pameran Indonesia Forestry and Woodworking Machinery Expo (Indowood Expo) 2026 di Surabaya.
Pameran yang berlangsung hingga 6 Juni 2026 itu menjadi wadah strategis bagi pelaku industri kehutanan, mesin pengolahan kayu, furnitur, dan kerajinan untuk memperluas jaringan bisnis, mendorong investasi, serta mempercepat pemanfaatan teknologi manufaktur modern guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Andi Rizaldi menyampaikan bahwa industri furnitur dan pengolahan kayu merupakan sektor strategis yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan industri manufaktur nasional dan ekspor Indonesia.
Menurutnya, peluang pasar furnitur global yang terus berkembang harus direspons dengan peningkatan produktivitas dan percepatan adopsi teknologi.
"Pasar furnitur global diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pangsa pasar ekspor. Untuk memanfaatkan peluang tersebut, industri perlu terus meningkatkan produktivitas, kualitas produk, efisiensi proses produksi, serta mempercepat adopsi teknologi dan inovasi manufaktur," ujar Andi.
Pada kesempatan yang sama, HIMKI juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Labamu sebagai bentuk komitmen memperkuat kolaborasi dan pengembangan ekosistem industri furnitur dan kerajinan nasional.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pelaku industri melalui sinergi lintas sektor.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Craftote Tembus Pasar 4 Negara lewat Pemberdayaan BRI, Produk Serat Alam Go Global
Craftote berhasil menembus pasar internasional dan mengekspor produk serat alam ke Kanada, Australia, Jepang, dan Inggris lewat pemberdayaan BRI. - Bagian all [925] url asal
JAKARTA, iNews.id - Produk kerajinan berbahan serat alam Craftote Gallery & Coffee di Tomang, Jakarta Barat, telah menembus pasar internasional. Meski begitu, pemilik Craftote, Thio Siujinata, mengatakan perjalanan menuju ekspor tidak terjadi secara instan.
Craftote memasarkan produk kerajinan ramah lingkungan dengan konsep usaha yang dipadukan dengan coffee shop. Eceng gondok, pelepah pisang, purun, bambu, hingga rotan dipilih karena dikenal sebagai serat alam yang aman terdekomposisi tanpa merusak air, udara, atau tanah.
Serat-serat alam itu kemudian disulap menjadi berbagai produk kerajinan tangan seperti tas, keranjang, kursi, hingga dekorasi lampu dan dinding.

Saat membuka usaha pada 2021, Thio mengaku jangkauan pemasaran produknya masih sangat terbatas. Dia hanya mengandalkan promosi di lingkungan sekitar dan jaringan yang dimiliki secara pribadi.
"Waktu itu saya berpikir bisnis ini sendirian. Kekuatan saya cuma dua sampai lima kilometer ke tetangga kiri kanan," kata Thio saat ditemui iNews.id, dikutip Minggu (31/5/2026).

KUR BRI Bantu Warung Asep Bangkit Lagi, Jadi Penyelamat saat Usaha Terpuruk
Rumah BUMN BRI Bawa Produk Craftote Lebih Dikenal
Perubahan mulai dirasakan setelah Craftote bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta. Berbagai program pendampingan Rumah BUMN BRI membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau pelaku UMKM.
Menurut dia, salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika BRI mengajak Craftote mengikuti berbagai pameran di luar Jakarta. Pendampingan tersebut membuat produknya semakin dikenal masyarakat.

Belajar dari Masa Sulit, Craftote Bangkit lewat Pendampingan Rumah BUMN BRI

"BRI bawa kita ke Cikampek, pameran di sana. Kalau enggak sama BRI, kita enggak dikenal sampai puluhan kilometer," ujarnya.
Dari berbagai kegiatan tersebut, jaringan bisnis Craftote semakin berkembang. Thio mulai bertemu calon pembeli, pelaku usaha lain, hingga mengikuti berbagai program peningkatan kapasitas yang difasilitasi BRI.

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
Craftote juga mengikuti pameran Kriyanusa yang menjadi salah satu pengalaman perdana mereka memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.
"Kita enggak ngerti apa itu Kriyanusa, akhirnya kita ikut dan menang," katanya.
Keikutsertaan dalam berbagai program tersebut kemudian membuka jalan bagi Craftote untuk mengikuti kelas ekspor yang difasilitasi BRI bekerja sama dengan Pusat Pengembangan SDM Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan (Kemendag). Dari sanalah Craftote mulai serius mengembangkan pasar internasional.
"Masuk kelas ekspor BRI kerja sama dengan Kementerian Perdagangan. Lulusnya tahun 2025," ujarnya.
Ekspor Produk ke 4 Negara
Saat ini, produk kerajinan tangan berbahan serat alam milik Craftote telah dipasarkan ke sejumlah negara, di antaranya Kanada, Australia, Jepang, dan Inggris.
Kanada menjadi pasar ekspor yang paling konsisten. Hingga kini, Craftote telah melakukan tujuh kali pengiriman.

"Kita ke Kanada sudah tujuh kali pengiriman dengan buyer yang sama," kata Thio.
Sementara itu, pasar Australia telah mencatat tiga kali transaksi berulang dengan pembeli yang sama. Adapun pembeli di Jepang telah melakukan dua kali pemesanan ulang.
Meski pengiriman masih dalam skala less container load (LCL) atau belum mencapai satu kontainer penuh, Thio menilai konsistensi pembelian menjadi indikator penting bahwa produknya diterima pasar internasional.
"Belum container, masih less container load. Tapi kita pede (percaya diri) karena sudah tujuh kali dengan buyer yang sama (di Kanada)," ujarnya.
Pasar terbaru yang berhasil ditembus adalah Inggris. Kesempatan itu berawal saat Craftote mengikuti pameran IFEX yang berlangsung di ICE BSD pada Maret 2026.
Dalam pameran tersebut, seorang calon pembeli dari Inggris awalnya hanya membeli sampel produk. Namun setelah melihat kualitasnya, pesanan berkembang menjadi satu set produk dan berlanjut menjadi permintaan yang lebih besar.
"Awalnya beli sampel. Minggu lalu kita kirim lima set. Sekarang dia minta lagi 30 set untuk Agustus," kata Thio.
Produk yang diekspor Craftote didominasi kerajinan berbahan serat alam seperti eceng gondok, pelepah pisang, bambu, mendong, dan purun. Menurut Thio, bahan-bahan tersebut sebenarnya banyak dianggap sebagai limbah atau gulma yang kurang dimanfaatkan.
"Ini sebenarnya sampah atau gulma. Kalau enggak diolah, biasanya dibakar," ujarnya.

Selain mengembangkan pasar ekspor, Craftote juga terus berinovasi. Saat ini mereka tengah mengembangkan produk tas berbahan anyaman serat alam dengan desain yang lebih modern serta daya tahan lebih baik.
Di sisi lain, Thio menilai pendampingan Rumah BUMN BRI tidak hanya berhenti pada akses pasar. Dia juga mendapat kesempatan mengikuti berbagai pelatihan, business matching, hingga berbagi pengalaman dengan pelaku UMKM lain.
"BRI juga ngajarin kita untuk train for the trainer. Ketika kita dapat, kita berbagi ke UMKM lain," katanya.
Kerajinan Tangan Jadi Daya Tarik Coffee Shop
Keunikan itulah yang membuat banyak pengunjung tertarik saat datang ke Craftote Gallery & Coffee. Selain menikmati kopi, pengunjung juga bisa melihat berbagai produk kerajinan berbahan serat alam yang dipajang di dalam galeri.
“Lumayan sering ke sini, biasanya pas ngerjain skripsi kayak sekarang. Tempatnya enak,” ujar Dea kepada iNews.id.

Menurut dia, konsep yang memadukan coffee shop dengan galeri kerajinan tangan memberikan pengalaman berbeda dibanding kedai kopi pada umumnya. Dea mengaku cukup terkejut mengetahui banyak produk yang dipajang dibuat dari bahan-bahan alami yang selama ini jarang diperhatikan.
“Desainnya unik, bagus. Produknya juga bagus,” katanya.
Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan BRI berkomitmen mendukung UMKM agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global. Dia mengatakan Rumah BUMN menyediakan ekosistem yang terintegrasi untuk mewujudkan dukungan tersebut.
Dhanny menuturkan Rumah BUMN BRI berfokus pada penguatan branding, business matching, hingga peningkatan kompetensi para UMKM. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
“BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
Belajar dari Masa Sulit, Craftote Bangkit lewat Pendampingan Rumah BUMN BRI
Sempat boncos usai ekspansi cepat, Craftote bangkit lewat pendampingan Rumah BUMN BRI hingga berhasil tembus pasar ekspor. - Bagian all [960] url asal
JAKARTA, iNews.id - Perjalanan bisnis Craftote Gallery & Coffee yang dibangun Thio Siujinata ternyata tak selalu berjalan mulus. Usaha itu sempat berkembang terlalu cepat hingga membuat Thio menghadapi persoalan serius.
Baru berdiri pada Oktober 2021 di tengah pandemi Covid-19, usaha milik Thio itu langsung berkembang setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI. Tak lama kemudian, tepatnya pada 2023, jumlah coffee shop milik Thio berkembang menjadi empat gerai di berbagai lokasi.
Namun, Thio mulai menyadari keuangan usaha berantakan, pengeluaran tidak tercatat rapi, sementara fokus bisnis mulai bergeser dari kekuatan utamanya yakni kerajinan tangan berbahan serat alam.

Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
“Kayaknya ada yang salah nih, karena kita kan gak digaji. Waktu itu keuangan kita masih kacau,” kata Thio saat ditemui iNews.id di Craftote Gallery & Coffee, Tomang, Jakarta Barat, dikutip Minggu (24/5/2026).
Pria lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu mengaku sempat terlena melihat bisnis coffee shop miliknya berkembang pesat.

Ditopang KUR BRI, Depot Mirah Bulungan Tetap Eksis Hampir 2 Dekade
“2021 kita buka ini, 2021 juga kita punya dua coffee shop, di sini sama di sana Rumah BUMN BRI. 2022 saya buka lagi. (Total) saya punya empat, (dua lainnya) di Pos Bloc sama di RS Pelni,” ujarnya.
Rumah BUMN BRI Jadi Titik Balik
Di tengah ekspansi tersebut, Thio dan istrinya mulai mengevaluasi kondisi usaha. Mereka baru menyadari bisnis berkembang terlalu cepat tanpa sistem yang matang.

KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko
“Duduk bareng-bareng coba periksa, di situlah kita sadar, boncos. Habis berapa ratus juta gitu gak kecatat,” kata Thio.

Dari situ, Thio akhirnya memahami kekuatan utama Craftote bukan berada di bisnis makanan dan minuman, melainkan pada produk kerajinan tangan berbahan serat alam seperti eceng gondok, pelepah pisang, bambu, hingga purun.

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
“Karena kekuatan kita bukan di F&B (food and beverage), kekuatan kita di kerajinan tangan, craftingnya,” ujarnya.
Keputusan besar pun diambil. Dua gerai coffee shop yang baru dibuka akhirnya ditutup. Thio memilih kembali fokus membangun Craftote dari fondasi yang lebih kuat.
Dia kembali aktif mengikuti berbagai kegiatan yang disediakan Rumah BUMN BRI, salah satunya kelas keuangan yang membuka matanya.
“Akhirnya kita masuk lagi ke Rumah BUMN BRI. Ikut kelas keuangan. Di situ kita baru sadar, habis deh belajar di situ,” katanya.

Menurut Thio, pendampingan yang diberikan Rumah BUMN BRI tidak berhenti pada penyediaan tempat usaha semata. Dia mengaku mendapatkan banyak pelajaran terkait pengelolaan usaha, pengembangan jejaring, hingga strategi ekspor.
Dari Rumah BUMN BRI ke Pasar Ekspor
Perjalanan Thio bersama Rumah BUMN BRI bermula tak lama setelah Craftote dibuka. Saat itu, Tim BRI datang langsung melihat konsep usaha yang menggabungkan galeri kerajinan tangan dengan coffee shop.
“Cuma yang lirik kita sungguh-sungguh itu BRI. BRI datang ke sini,” ujar Thio.
Tak lama kemudian, Craftote mendapat tantangan mengikuti kompetisi kopi yang digelar Rumah BUMN BRI. Thio sempat tidak percaya ketika dinyatakan menang dan mendapat fasilitas coffee shop gratis.
“Dia bilang, ‘Kalau menang, Bapak dapat kafe kedua gratis.’ Saya makin gak percaya,” katanya.

Setelah itu, Craftote mendapat tempat usaha di Rumah BUMN BRI lengkap dengan fasilitas pendukung seperti meja, kursi, pendingin ruangan, hingga listrik dan air tanpa biaya tambahan selama dua tahun.
Dari sanalah jaringan usaha Craftote mulai berkembang. Thio mengaku diperkenalkan dengan berbagai komunitas, pameran, hingga peluang business matching yang memperluas pasar produk kerajinan tangannya.
“Kalau gak sama BRI kita gak dikenal sampai puluhan kilometer,” ujarnya.
Tak hanya itu, melalui berbagai program pelatihan dan kelas ekspor yang diikutinya bersama BRI, kerajinan tangan Craftote akhirnya berhasil menembus pasar internasional.
“Nah dari BRI juga akhirnya kita ekspor. Ekspornya ke mana? Ke Kanada,” kata Thio.
Kini produk Craftote telah dikirim ke Kanada, Australia, Jepang, hingga Inggris dalam skema less container load (LCL). Untuk pasar Kanada saja, Thio mengaku sudah tujuh kali melakukan pengiriman dengan buyer yang sama.
Fokus ke Kerajinan Tangan Ramah Lingkungan
Setelah melewati masa sulit, Craftote kini lebih fokus mengembangkan produk berbahan serat alam yang ramah lingkungan. Salah satu material utamanya adalah eceng gondok, tanaman yang selama ini kerap dianggap gulma.
“Ini sebenarnya sampah, gulma. Artinya ketika gak diolah sedemikian rupa, orang gak mau repot cuma satu, dibakar,” ujar Thio.
Melalui tangan para perajin di Yogyakarta, bahan-bahan tersebut diolah menjadi tas, keranjang, lampu, hingga berbagai produk dekorasi rumah dengan sentuhan desain modern.
Thio mengaku pengalaman bersama Rumah BUMN BRI membuatnya memahami pentingnya membangun bisnis secara bertahap dan terukur.
“Makanya sempat nyesel juga kenapa baru tahu Rumah BUMN BRI ini di usia tua, kenapa bukan dari usia muda,” katanya.
Keunikan lini usaha yang menggabungkan kerajinan tangan dan kopi membuat pengunjung betah berlama-lama. Salah satunya Dea, mahasiswi asal Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Dia mengaku kerap singgah ke Craftote Gallery & Coffee. Menurut dia, lokasi usaha Thio menjadi tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas akhir.
"Lumayan, seringnya pas kerjain skripsi kayak sekarang. Tempatnya enak," ujar Dea kepada iNews.id.
Selain kenyamanan tempat, Dea juga mengapresiasi keunikan koleksi kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee.
"Desainnya unik, bagus. Produknya juga bagus," ucap dia.
Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan BRI berkomitmen mendukung UMKM agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global. Dia mengatakan Rumah BUMN menyediakan ekosistem yang terintegrasi untuk mewujudkan dukungan tersebut.
Dhanny menuturkan Rumah BUMN BRI berfokus pada penguatan branding, business matching, hingga peningkatan kompetensi para UMKM. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
“BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
Dari Limbah Pantai Jadi Cuan: Kayu Laut Disulap Menjadi Kerajinan Ekspor
Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan menepi di pesisir kerap menjadi bagian dari persoalan sampah pantai di Bali, termasuk di kawasan Tabanan. Namun, di tangan... | Halaman Lengkap [400] url asal
#kerajinan #cuan #limbah #pantai #kayu
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 17/05/26 13:40
v/222876/
TABANAN - Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan menepi di pesisir kerap menjadi bagian dari persoalan sampah pantai di Bali, termasuk di kawasan Tabanan. Namun, di tangan Wayan Sudira, limbah kayu laut tidak berhenti sebagai masalah lingkungan.Dari kayu-kayu yang terdampar di pantai, dia melihat peluang untuk menghadirkan karya, membuka ruang ekonomi, sekaligus membantu upaya pemerintah dalam mengurangi sampah pantai.
Melalui Ulu Sari Handicraft, Wayan mengolah limbah kayu laut menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, poin 14 tentang menjaga ekosistem laut.
Sejak bergabung dengan PNM ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro) pada 2017, Wayan mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan usaha secara rutin. Dukungan tersebut turut memperkuat langkah Ulu Sari Handicraft untuk berkembang lebih terarah. Kini, usaha yang dia bangun telah memiliki dua workshop yang berlokasi di Singaraja dan Tegallalang serta mempekerjakan 45 karyawan saat itu.
Tidak sedikit dari mereka merupakan saudara, masyarakat sekitar, hingga mantan pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja saat pandemi Covid-19. Siapa sangka, dari yang semulanya persoalan lingkungan, lahir ruang penghidupan baru bagi banyak keluarga.
Di saat pandemi membuat banyak usaha mikro dan kecil melemah, Ulu Sari Handicraft justru mendapatkan permintaan yang semakin besar dari pasar mancanegara. Hingga kini, hampir setiap hari, karya-karya Wayan dikirim ke berbagai negara seperti Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Bagi Wayan, capaian tersebut bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang rasa syukur karena dapat mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap sisa menjadi manfaat bagi lingkungan dan sesama.
“Semua ini titiang yakini karena jalan Tuhan. Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga, untuk karyawan, dan untuk orang-orang di sekitar. Jadi yang bisa kami lakukan adalah terus bersyukur, menjaga kepercayaan, dan bekerja sebaik-baiknya,” ujar Wayan dikutip Minggu (17/5/2026).
Kisah ini menjadi contoh bagaimana pembiayaan dan pendampingan PNM dapat memperluas dampak usaha mikro dan kecil, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan. Ulu Sari Handicraft menunjukkan bahwa pemberdayaan dapat tumbuh dari kepekaan terhadap persoalan di sekitar.
Limbah pantai yang semula menjadi tantangan diolah menjadi produk bernilai membuka lapangan kerja bagi masyarakat serta membantu keluarga untuk ikut bertumbuh bersama usaha tersebut.
Semangat seperti inilah yang membuat pemberdayaan terasa lebih bermakna. Sebab ketika sebuah usaha tumbuh yang ikut bergerak bukan hanya pemiliknya, tetapi juga keluarga, tetangga, lingkungan, dan harapan banyak orang di sekitarnya.
5 Bisnis Ini Berpeluang Tetap Cuan Meski Rupiah Sedang Melemah
Lima bisnis tetap cuan meski rupiah melemah: freelance global, kerajinan tangan, biro wisata, jual beli emas, dan eksportir ikan hias. [385] url asal
#rupiah-melemah #bisnis-cuan #dolar-menguat #freelance-global #gaji-dolar #kerajinan-tangan #bisnis-wisata #jual-beli-emas #eksportir-ikan-hias #bisnis-freelance #bisnis-kerajinan #biro-wisata #investa
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 15/05/26 15:50
v/221889/
Bisnis.com, JAKARTA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam beberapa hari terakhir tentunya sangat berpengaruh terhadap perputaran ekonomi dan bisnis.
Rupiah anjlok hingga di angka Rp17.579 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026), yang turut menyebabkan melemahnya beberapa sektor bisnis.
Namun, tidak semua bisnis mengalami penurunan atau terkena dampak signifikan dari melemahnya rupiah dan menguatnya dolar. Bisnis skala kecil hingga besar yang mampu menggaet pasar global seperti eksportir, pariwisata, dan lainnya tentunya tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi saat ini.
Merangkum dari beberapa sumber, berikut lima bisnis yang tetap cuan meski rupiah sedang melemah terhadap dolar.
1. Bisnis Freelance Skala Global dengan Gaji Dolar
Pelaku freelance yang menawarkan beragam jasa seperti editor, penulis, penerjemah, dan sebagainya biasanya memiliki jam kerja yang fleksibel.
Selain itu, freelancer dapat menawarkan portofolio mereka kepada pelanggan di luar negeri sehingga mampu menghasilkan pendapatan dalam bentuk dolar.
Penghasilan mereka akan tetap stabil karena menguatnya dolar terhadap rupiah membuat nilai gaji yang diterima menjadi lebih tinggi.
2. Bisnis Kerajinan Tangan (DIY)
Kerajinan tangan merupakan salah satu bisnis paling fleksibel karena dapat dipasarkan melalui toko online dan mampu menggaet pelanggan hingga ke mancanegara serta dijual menggunakan kurs dolar.
Menguatnya dolar atau melemahnya rupiah membuat penghasilan dari bisnis kerajinan tangan tidak terlalu terganggu oleh inflasi dan bahkan cenderung lebih stabil.
3. Bisnis Biro Wisata
Melemahnya rupiah terhadap dolar AS membuat sebagian masyarakat mengurungkan niat untuk bepergian ke luar negeri atau memilih menghabiskan waktu di Indonesia.
Sebaliknya, sebagai salah satu negara tujuan wisata, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar justru akan menarik turis mancanegara untuk berlibur ke Indonesia.
Momen tersebut dapat dimanfaatkan oleh biro wisata untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara menggunakan jasa mereka sebagai penyedia layanan kebutuhan liburan.
4. Jual Beli Emas
Emas hingga saat ini masih menjadi salah satu aset investasi paling stabil di dunia dan menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia karena dinilai lebih tahan terhadap inflasi uang fiat.
Meningkatnya minat investor terhadap emas saat rupiah melemah justru membuat harga emas semakin naik dan memiliki nilai tinggi saat dijual kembali nantinya.
5. Bisnis Eksportir Ikan Hias
Ikan hias Indonesia menjadi salah satu komoditas yang paling dicari di dunia. Dengan keanekaragamannya, negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang, dan Hong Kong menjadi tujuan terbesar ekspor ikan hias Indonesia.
Sejak tahun 2016, Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) mencatat nilai ekspor ikan hias mencapai US$65 juta.
Geliat bongsang kembali marak jelang Idul Adha
Matahari pagi di Dusun Andir, Sumedang Utara, belum sepenuhnya tinggi ketika suara khas bambu mulai terdengar dari dalam rumah-rumah panggung.Bukan suara ... [959] url asal
ada jaringan ekonomi kecil yang tersebar, bekerja dalam pola yang sama: rumah, bambu, dan tangan yang terus menganyam
Sumedang (ANTARA) - Matahari pagi di Dusun Andir, Sumedang Utara, belum sepenuhnya tinggi ketika suara khas bambu mulai terdengar dari dalam rumah-rumah panggung.
Bukan suara mesin pabrik, melainkan bunyi sederhana yang ritmis: bambu dibelah, diraut, lalu disilangkan satu per satu menjadi anyaman berbentuk keranjang kecil yang disebut bongsang.
Di salah satu rumah, Dadang Gunawan sudah duduk sejak subuh. Di tangannya, bilah bambu perlahan berubah menjadi bentuk yang ia hafal di luar kepala.
Tidak ada mesin, tidak ada cetakan, hanya keterampilan yang diwariskan dari orang tua turun-temurun dari tahun 1917, yang sebelumnya juga menerima dari generasi di atasnya.
“Di sini hampir semua belajar dari keluarga. Dari kecil sudah lihat orang tua bikin bongsang,” kata Dadang sambil tetap merapikan anyaman.
Di desa ini, waktu seperti punya ritme sendiri. Tidak ditentukan jam kerja, tetapi oleh datangnya pesanan.
Dan ritme itu berubah ketika menjelang Idul Adha. Dari tenang menjadi kejar-kejaran dengan waktu untuk memenuhi pesanan.
Biasanya, satu keluarga pengrajin mampu memproduksi sekitar 400 bongsang per hari. Namun saat menjelang Idul Adha, angka itu bisa meningkat menjadi 500 hingga 600 per hari, dengan tambahan jam kerja hingga malam.
Dalam kondisi normal, produksi satu rumah tangga bisa mencapai sekitar 10.000 hingga 12.000 bongsang per bulan, bergantung pada ketersediaan bambu dan tenaga keluarga.
Hasil itu tidak dihitung satuan kecil, melainkan diikat dalam kantet berisi 100 bongsang. Satu kantet dijual di kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000, membuat satu keluarga bisa mengantongi omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta pada periode ramai.
“Kalau lagi ramai seperti sekarang, hampir tidak berhenti. Baru selesai satu pesanan, datang lagi,” ujar Dadang.
Namun di balik aktivitas rumah tangga itu, industri bongsang di Sumedang ternyata tidak sesederhana yang terlihat.
Di wilayah ini, terdapat sedikitnya 60 lebih kepala keluarga yang masih aktif sebagai pengrajin. Jika dihitung dengan rata-rata produksi 10 ribu bongsang per bulan per keluarga, maka dari satu sentra saja, perputaran produksi bisa mencapai lebih dari 160 ribu bongsang setiap bulan.
Angka ini belum termasuk desa lain seperti Cisarua, Wado, serta wilayah perbatasan lain yang juga memiliki aktivitas produksi bambu rakyat.
Artinya, ada jaringan ekonomi kecil yang tersebar, bekerja dalam pola yang sama: rumah, bambu, dan tangan yang terus menganyam.
Potensi bambu melimpah
Kondisi tersebut tidak muncul tiba-tiba. Ia bertumpu pada satu hal yang sejak lama melimpah di Sumedang, yakni bambu.
Sumedang memiliki potensi bahan baku yang besar dari sektor bambu yang tumbuh di berbagai kecamatan. Data daerah menunjukkan ketersediaan bambu mencapai sekitar 1,5 juta batang per tahun.
Bambu-bambu ini tumbuh di lereng perbukitan, bantaran sungai, hingga pekarangan rumah. Ia tidak pernah benar-benar diperlakukan sebagai komoditas industri besar, melainkan bagian dari lanskap hidup masyarakat yang tumbuh, dipanen seperlunya, lalu tumbuh kembali.
Siklus ini membuat pasokan bambu relatif stabil sepanjang tahun tanpa perlu budidaya intensif.
Namun di tengah kelimpahan itu, pemanfaatan untuk industri kerajinan masih jauh di bawah kapasitas yang tersedia.
Data menunjukkan serapan bambu untuk kebutuhan produksi bongsang baru sekitar 2.565 batang per bulan. Jika dibandingkan dengan potensi tahunan, angka ini masih sangat kecil.
Artinya, sebagian besar bambu tetap berada di alam atau digunakan untuk kebutuhan non-industri, belum masuk ke rantai nilai ekonomi yang lebih luas.
Kesenjangan antara potensi dan pemanfaatan ini membuat industri bongsang di Sumedang bertahan dalam bentuknya yang khas: industri rumah tangga, bukan manufaktur besar.
Ia tidak tumbuh agresif, tetapi juga tidak hilang. Ia berjalan stabil, mengikuti ritme permintaan, terutama saat musim-musim tertentu seperti Idul Adha.
Momentum di hari raya Kurban
Dan memang, menjelang Idul Adha, ritme itu berubah.
Permintaan bongsang naik sekitar 20 hingga 30 persen, terutama dari pedagang pasar, panitia kurban, dan komunitas masjid yang masih menggunakan wadah alami untuk distribusi daging.
“Sekarang bukan cuma untuk tahu. Banyak juga dipakai untuk daging kurban,” kata Dadang.
Lonjakan ini paling terasa pada minggu-minggu menjelang hari pemotongan kurban. Di beberapa rumah pengrajin, pekerjaan bisa berlangsung hingga larut malam. Anak-anak membantu memotong bambu, orang tua fokus menganyam, sementara ibu-ibu mengikat hasil jadi kantet.
Di saat yang sama, kebutuhan hewan kurban di Sumedang juga meningkat. Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sumedang mencatat kebutuhan hewan kurban tahun ini diperkirakan naik sekitar 10 hingga 15 persen, dari 10.297 menjadi sekitar 11.000–11.800 ekor.
Jika satu ekor hewan kurban menghasilkan puluhan paket distribusi, maka pergerakan ini berarti ratusan ribu paket daging harus disalurkan ke masyarakat.
Di titik inilah, kebutuhan wadah sederhana seperti bongsang ikut terdorong naik, meski tidak tercatat sebagai komoditas utama kurban.
Di banyak desa, terutama wilayah pedalaman dan pasar tradisional, masyarakat masih memilih wadah alami karena lebih murah, mudah didapat, dan ramah lingkungan.
Semua bergerak tanpa pembagian kerja formal. Lebih seperti sistem keluarga yang sudah berjalan puluhan tahun.
Jika dihitung secara kasar, dengan produksi sentra mencapai ratusan ribu hingga jutaan bongsang per bulan, dan lonjakan permintaan hingga 30 persen saat musim kurban, maka perputaran ekonomi kerajinan ini bisa meningkat ratusan juta rupiah dalam satu siklus Idul Adha.
Namun bagi para pengrajin, angka itu tidak pernah menjadi pembahasan utama.
Yang penting adalah bambu tetap tersedia, tangan tetap bekerja, dan pesanan terus datang.
“Selama masih ada bambu, kami masih bisa kerja,” kata Dadang pelan.
Di Sumedang, tidak ada momen besar yang mengubah kehidupan pengrajin secara tiba-tiba. Tapi setiap musim membawa denyut kecil yang konsisten: Idul Adha menaikkan pesanan, harga bahan lain membuat orang kembali ke bambu, dan tradisi menjaga semuanya tetap hidup.
Di antara angka produksi, ratusan kepala keluarga, dan ribuan hewan kurban, ada satu hal yang tidak berubah, yakni bambu tetap dianyam setiap pagi.
Dan bongsang, benda sederhana itu, kembali menjadi penghubung diam-diam antara dua dunia, yakni peternakan yang sibuk menghitung angka, dan rumah-rumah kecil yang terus merangkai anyaman tanpa berhenti.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Menperin: Diversifikasi Jadi Senjata IKM Kerajinan Tembus Pasar Global
Menteri Perindustrian menekankan pentingnya diversifikasi produk untuk memperkuat daya saing Industri Kecil Menengah (IKM) agar mampu menembus pasar global. [592] url asal
(WE Finance - Ekbis) 04/05/26 12:00
v/210295/
Warta Ekonomi, Jakarta -Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya diversifikasi produk untuk memperkuat daya saing Industri Kecil Menengah (IKM) agar mampu menembus pasar global.
Menurutnya, melalui diversifikasi produk, IKM kerajinan akan lebih mudah memenuhi kebutuhan pasar yang kini cenderung menyukai produk dengan spesifikasi tertentu.
“Konsumen dan buyer produk kerajinan kini semakin menyukai produk yang spesifik, unik, namun tetap memiliki fungsi yang baik, serta memiliki nilai tambah yang berbeda dari lainnya. Karena itu, diversifikasi produk menjadi kunci penting agar produk kerajinan Indonesia semakin kompetitif melalui berbagai inovasi yang menjawab kebutuhan dan selera pasar,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Senin (4/5).
Menperin menambahkan, dinamika pasar yang terus berkembang menuntut pelaku industri untuk sigap beradaptasi dan berinovasi. Diversifikasi produk kerajinan diperlukan agar hasil karya IKM mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan beragam.
“Diversifikasi produk adalah penambahan ragam produk secara horizontal dengan tetap menggunakan bahan baku dan proses produksi yang hampir sama. Strategi ini bertujuan memperluas segmen dan target pasar tanpa harus membangun lini produksi baru dari awal,” ujarnya.
Pusat Data dan Informasi Kemenperin mencatat, ekspor industri barang kerajinan nasional pada 2025 mencapai USD 806,63 juta atau tumbuh 15,46 persen dibandingkan 2024 sebesar USD 698,62 juta. Tren positif ini berlanjut pada Januari 2026, dengan nilai ekspor mencapai USD 52,38 juta atau naik 19,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Potensi industri kerajinan masih dapat terus dioptimalkan. Kita perlu mendorong pelaku IKM untuk terus berinovasi agar mampu bersaing di pasar global,” kata Reni.
Dalam rangka mengakselerasi daya saing IKM kerajinan di daerah, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) menggelar Pendampingan Teknis Diversifikasi Produk IKM Kerajinan di Kabupaten Cirebon pada 14–17 April 2026. Kegiatan ini merupakan rangkaian Road to HUT Dekranas Tahun 2026. Cirebon dipilih sebagai lokasi pendampingan karena dikenal memiliki beragam produk kerajinan khas dan berkualitas.
Reni menambahkan, meskipun terkenal dengan produk kerajinannya, pelaku IKM di Cirebon tetap memerlukan pendampingan agar semakin berani menerapkan diversifikasi produk sesuai tren pasar. Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat membantu membaca tren pasar dan mengembangkan ide kreatif baru.
“Pelaku IKM juga dituntut memperkuat strategi pemasaran melalui platform digital agar produk mereka mampu bersaing di pasar domestik dan menjangkau pasar internasional secara lebih luas,” ujarnya.
Ditjen IKMA secara rutin juga menyelenggarakan berbagai program peningkatan daya saing IKM kerajinan melalui bimbingan teknis dan pendampingan, fasilitasi pameran dalam dan luar negeri, layanan klinik kemasan, fasilitasi Kekayaan Intelektual (KI), fasilitasi mesin dan peralatan, sertifikasi produk, restrukturisasi mesin/peralatan, serta program e-smart IKM. Selain itu, Kemenperin berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam pengembangan sentra IKM kerajinan di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon terus meningkatkan fasilitasi kepada para perajin agar berkembang menjadi lebih kuat dan mandiri. Hal ini sejalan dengan Perda Kabupaten Cirebon Nomor 1 Tahun 2026 tentang Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Cirebon Tahun 2025–2045.
Peraturan daerah tersebut mencakup tiga pilar industri unggulan, yaitu industri makanan dan minuman olahan berbasis pertanian dan hasil laut, industri kerajinan rotan, kayu, dan bambu, serta pakaian jadi dan industri batik.
Selain itu, Dekranasda Kabupaten Cirebon aktif mendukung pembinaan IKM melalui program Akademia Creative Cirebon (ACC), yakni pelatihan dan pendampingan intensif selama enam bulan yang mencakup desain produk, pemilihan bahan baku, efisiensi produksi, manajemen keuangan, legalitas produk, hingga perluasan jejaring pemasaran melalui pameran dan platform digital.
“Salah satu IKM kerajinan kulit berupa merchandise binaan program ACC kini telah berhasil memasarkan produknya hingga ke Rusia. Ini membuktikan bahwa pendampingan berkelanjutan mampu membuka akses pasar ekspor bagi IKM daerah,” pungkas Budi.
USD 806 Juta Ekspor Kerajinan, Kemenperin Genjot Sertifikasi dan Pelatihan SDM
Industri kerajinan nasional mencatatkan kinerja positif hingga 2026 dengan nilai ekspor yang mencapai USD 806,63 juta di 2025. [415] url asal
(WE Finance - Ekbis) 03/05/26 04:20
v/210090/
Warta Ekonomi, Jakarta -Industri kerajinan nasional mencatatkan kinerja positif hingga 2026. Nilai ekspor produk kerajinan pada 2025 mencapai USD 806,63 juta, naik 15,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 698,62 juta.
Capaian ini menjadi indikator kuat bahwa produk kerajinan Indonesia semakin diminati pasar internasional dan memiliki prospek pertumbuhan berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan daya saing pelaku industri kerajinan melalui program pembinaan yang berkelanjutan, termasuk penguatan standardisasi, peningkatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar.
“Penguatan industri kerajinan berbasis kearifan lokal merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri sekaligus memberdayakan sumber daya manusia industri di daerah. Melalui upaya ini, kami menargetkan terciptanya nilai tambah yang berkelanjutan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata,” ujar Menperin, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Minggu (3/5).
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menyampaikan bahwa melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) BSKJI di Yogyakarta, yakni Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB), Kemenperin secara konsisten menghadirkan program peningkatan kapasitas bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan di seluruh Indonesia.
Program-program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, BUMN, serta sektor swasta melalui pemanfaatan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
“Kami telah menerapkan konsep one stop service untuk sektor kerajinan dan batik. Layanan yang diberikan tidak hanya mencakup pelatihan keterampilan teknis produksi, tetapi juga berbagai layanan sertifikasi, mulai dari sertifikasi produk, sertifikasi kompetensi SDM, sertifikasi sistem manajemen mutu, sertifikasi halal, hingga sertifikasi industri hijau,” jelas Emmy.
Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba, menambahkan bahwa ragam pelatihan yang diselenggarakan mencakup berbagai subsektor kerajinan, seperti batik, anyaman serat alam, kerajinan kerang, ukir kayu, bambu, rotan, perhiasan logam, hingga produk wastra seperti tenun, tritik, jumputan, dan ecoprint.
“Dengan jangkauan nasional, dalam satu dekade terakhir BBSPJIKB telah melatih sekitar 11.939 SDM industri di berbagai wilayah Indonesia. Capaian ini merupakan hasil sinergi yang kuat dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota,” ungkap Zya.
Lebih lanjut, pada April 2026 BBSPJIKB kembali menyelenggarakan sedikitnya lima program pendampingan hasil kerja sama dengan pemerintah daerah, yang mencakup wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Ponorogo, hingga Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Ke depan, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat guna memperluas jangkauan pembinaan. Langkah ini diharapkan mampu memastikan pelaku industri kreatif di berbagai daerah dapat tumbuh secara inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di pasar domestik maupun global.
HIMKI dorong kebijakan tenaga kerja berbasis produktivitas
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih menitikberatkan pada ... [392] url asal
#pemajuan-industri #industri-kerajinan #industri-domestik #himki
Perlindungan tenaga kerja adalah hal yang prinsipil. Tetapi dalam konteks industri manufaktur, perlindungan itu harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan fleksibilitas industri,
Jakarta (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih menitikberatkan pada produktivitas dan daya saing global, seiring dengan tantangan manufaktur akibat dinamika geopolitik.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur dalam pernyataan yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Rabu menegaskan bahwa perlindungan tenaga kerja tetap menjadi prinsip penting dalam pembangunan industri nasional.
Namun, menurutnya, kebijakan tersebut harus berjalan seimbang dengan kebutuhan peningkatan efisiensi dan fleksibilitas industri.
“Perlindungan tenaga kerja adalah hal yang prinsipil. Tetapi dalam konteks industri manufaktur, perlindungan itu harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan fleksibilitas industri," ujar dia.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap industri manufaktur Indonesia tidak hanya berasal dari dinamika pasar global, tetapi juga dari berbagai faktor domestik, seperti produktivitas tenaga kerja yang belum optimal, hingga peningkatan biaya produksi.
Dalam konteks kebijakan ketenagakerjaan, Abdul Sobur menilai pendekatan yang seragam tidak dapat diterapkan pada semua sektor. Ia mencontohkan, kebijakan kerja fleksibel seperti work from home (WFH) lebih relevan untuk sektor jasa, namun tidak sepenuhnya sesuai untuk manufaktur, khususnya yang bersifat padat karya.
HIMKI menilai, untuk memperkuat sektor manufaktur, kebijakan ketenagakerjaan harus mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlanjutan usaha.
Sebagai langkah strategis, HIMKI mendorong kebijakan kerja fleksibel berbasis output dan produktivitas, pemberian insentif bagi perusahaan yang berinvestasi dalam pelatihan dan teknologi, hingga pengembangan sistem pengupahan yang mengakomodasi insentif kinerja.
Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu memperkuat program peningkatan keterampilan tenaga kerja yang selaras dengan kebutuhan industri.
Ia mengingatkan bahwa persepsi di tingkat implementasi kerap dipengaruhi oleh dinamika komunikasi publik dan hubungan industrial di lapangan.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan serta peningkatan daya saing industri nasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/3) menyampaikan industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial karena bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS
Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Perajin perak Kotagede bertahan di tengah lesunya ekspor dan kenaikan harga bahan baku
Kawasan Kotagede di Kota Yogyakarta, terkenal dengan kerajinan peraknya yang indah untuk pasar ekspor maupun dalam negeri. Namun, dalam beberapa bulan ... [178] url asal
Yogyakarta (ANTARA) - Kawasan Kotagede di Kota Yogyakarta, terkenal dengan kerajinan peraknya yang indah untuk pasar ekspor maupun dalam negeri. Namun, dalam beberapa bulan terakhir situasi geopolitik global mulai berpengaruh pada lesunya permintaan ekspor kerajinan perak Kotagede dari sejumlah negara. Kondisi tersebut turut memicu kenaikan harga bahan baku perak secara signifikan.
Kenaikan harga jual juga berdampak pada daya beli konsumen. Kendati demikian, sejumlah perajin di Kotagede tetap berupaya memproduksi kerajinan perak di tengah tantangan harga perak yang meningkat.



Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56