Bisnis.com, JAKARTA — Pemerhati kebijakan publik Henry Indraguna meyakini langkah diplomasi energi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ke Jepang menandai pergeseran peran Indonesia dalam peta ekonomi global, dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi aktor yang lebih menentukan arah kepentingannya sendiri.
Henry menilai pendekatan tersebut mencerminkan posisi Indonesia yang semakin aktif dalam membangun relasi strategis, khususnya di sektor energi dan mineral.
“Indonesia kini tampil sebagai subjek dalam dinamika global, bukan lagi sekadar objek,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).
Menurut Henry, langkah pemerintah melalui diplomasi energi ini juga menjadi bagian dari upaya mengubah pola lama yang menempatkan negara berkembang hanya sebagai eksportir bahan mentah. Dia melihat arah kebijakan saat ini berfokus pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi dan penguasaan teknologi.
Kunjungan Bahlil Lahadalia ke Tokyo pada pertengahan Maret 2026 menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis dengan pemerintah Jepang. Dalam pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa, kedua negara menandatangani dua nota kesepahaman.
Kerja sama tersebut mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis serta pengembangan teknologi nuklir rendah karbon, yang menjadi bagian penting dalam agenda transisi energi global.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga mendorong percepatan investasi oleh Inpex Corporation dalam Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela yang nilainya diperkirakan mencapai Rp339 triliun. Proyek ini dipandang strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Tidak hanya itu, Indonesia turut menawarkan kolaborasi pengelolaan berbagai komoditas strategis kepada Jepang, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang yang berperan penting dalam pengembangan energi bersih.
Kemitraan kedua negara juga diperluas ke sektor batu bara dan gas alam cair (LNG), serta proyek-proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Beberapa proyek yang menjadi perhatian antara lain pengembangan PLTSa Legok Nangka dan optimalisasi PLTP Sarulla.
Henry menilai strategi tersebut sejalan dengan konsep pertumbuhan endogen yang menekankan pentingnya investasi pada teknologi dan sumber daya manusia untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
“Upaya mengamankan teknologi dan memperkuat hilirisasi menunjukkan bahwa Indonesia ingin tumbuh dari dalam, bukan bergantung pada ekspor bahan mentah semata,” katanya.
Sinyal Positif bagi Investor
Lebih lanjut, dia menilai keterlibatan investasi Jepang dalam struktur industri nasional berpotensi memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal.
Kepastian hukum dalam proyek-proyek strategis seperti Blok Masela, lanjutnya, menjadi indikator penting bagi investor global dalam menilai kredibilitas Indonesia sebagai mitra.
“Ini memberi pesan bahwa Indonesia serius menciptakan iklim investasi yang stabil dan dapat dipercaya,” ujarnya.
Dia optimistis, melalui penguatan diplomasi energi, Indonesia memiliki peluang besar untuk memainkan peran lebih strategis di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus memperkuat fondasi sebagai pusat kekuatan energi baru di masa depan.
Dari sisi regulasi, Henry mengingatkan agar implementasi kerja sama internasional tetap dikawal agar sejalan dengan kepentingan nasional. Dia menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kemandirian energi jangka panjang.
“Pengelolaan sumber daya alam tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga harus menjamin keberlanjutan dan kemandirian,” katanya.