GELOMBANG pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali memenuhi ruang pemberitaan dalam beberapa pekan terakhir.
Industri tekstil, garmen, alas kaki, hingga sejumlah sektor manufaktur lainnya menghadapi tekanan yang berujung pada pengurangan tenaga kerja.
Di balik setiap angka PHK terdapat cerita tentang keluarga yang kehilangan sumber penghasilan, pekerja yang harus memulai kembali pencarian kerja, dan pelaku usaha kecil di sekitar kawasan industri yang ikut merasakan turunnya aktivitas ekonomi.
Di mata publik, rangkaian peristiwa ini mudah dibaca sebagai pertanda bahwa perekonomian nasional sedang tidak baik-baik saja.
Namun, pada saat yang hampir bersamaan, berbagai indikator makroekonomi justru menyampaikan narasi yang berbeda.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada jalur positif, inflasi relatif terkendali, dan sejumlah proyek investasi terus berjalan.
Secara statistik, ekonomi Indonesia masih bertumbuh.
Di sinilah muncul sebuah pertanyaan yang layak diajukan: jika ekonomi masih tumbuh, mengapa semakin banyak pekerja justru kehilangan pekerjaan?
Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan menyalahkan perlambatan permintaan, pelemahan ekspor, atau kesalahan strategi perusahaan tertentu.
Penjelasan semacam itu mungkin benar untuk beberapa kasus, tetapi tidak cukup untuk memahami fenomena yang kini semakin sering berulang.
Ketika PHK terjadi di berbagai sektor dalam waktu yang hampir bersamaan, persoalannya tidak lagi semata-mata berada pada tingkat perusahaan.
Ada gejala yang lebih mendasar, yakni perubahan dalam struktur ekonomi yang mengubah cara pertumbuhan diciptakan sekaligus mengubah cara pasar kerja bekerja.
Selama bertahun-tahun, masyarakat terbiasa menganggap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja berjalan seiring.
Ketika investasi meningkat, pabrik dibangun, produksi bertambah, maka kesempatan kerja pun meluas.
Logika tersebut pernah menjadi ciri pembangunan Indonesia, terutama ketika sektor manufaktur padat karya menjadi motor utama pertumbuhan.
Pada masa itu, kenaikan produk domestik bruto (PDB) relatif cepat diterjemahkan menjadi bertambahnya kesempatan kerja dan meningkatnya kesejahteraan rumah tangga.
Kini hubungan tersebut tidak lagi sesederhana itu.
Pertumbuhan ekonomi tetap berlangsung, tetapi sumber pertumbuhan mulai bergeser ke sektor-sektor yang lebih padat modal, lebih berbasis teknologi, dan lebih mengandalkan peningkatan produktivitas daripada penambahan jumlah pekerja.
Digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan, serta perubahan rantai pasok global mendorong perusahaan menghasilkan output yang lebih besar dengan tenaga kerja yang lebih sedikit.
Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti perluasan kesempatan kerja sebagaimana yang terjadi pada dekade-dekade sebelumnya.
Paradoks inilah yang sesungguhnya sedang dihadapi Indonesia. Angka pertumbuhan ekonomi masih memberi kesan optimistis, tetapi sebagian masyarakat justru merasakan meningkatnya ketidakpastian dalam dunia kerja.
Di satu sisi, indikator makro menunjukkan stabilitas; di sisi lain, pekerja menghadapi risiko kehilangan mata pencaharian, sementara lulusan baru memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif.
Jurang antara capaian statistik dan pengalaman sehari-hari masyarakat menjadi semakin lebar.
Karena itu, gelombang PHK yang terjadi saat ini sebaiknya tidak dipandang semata sebagai persoalan siklus bisnis yang akan selesai ketika permintaan kembali pulih.
Fenomena tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal, struktur ekonomi Indonesia sedang mengalami transformasi yang membawa konsekuensi baru bagi pasar tenaga kerja.
Jika diagnosisnya keliru, maka kebijakan yang diambil pun berisiko hanya bersifat jangka pendek dan reaktif.
Di titik itu, tantangan terbesar Indonesia bukanlah mempertahankan pertumbuhan ekonomi semata, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut tetap mampu menciptakan pekerjaan yang layak, memperkuat kelas menengah, dan memperluas kesempatan bagi mereka yang memasuki dunia kerja.
Sebab, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari seberapa cepat ekonomi bertumbuh, tetapi juga dari seberapa luas manfaat pertumbuhan itu dirasakan oleh masyarakat.
Angka Pertumbuhan Tidak Selalu Menceritakan Kondisi Nyata
Selama ini pertumbuhan ekonomi sering dijadikan tolok ukur utama untuk menilai kesehatan suatu negara.
Ketika produk domestik bruto (PDB) meningkat, muncul anggapan dunia usaha sedang berkembang, pendapatan masyarakat membaik, dan kesempatan kerja akan semakin luas.
Cara pandang ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak lagi memadai untuk menjelaskan dinamika ekonomi Indonesia saat ini.
Angka pertumbuhan ekonomi pada dasarnya adalah indikator agregat yang menggambarkan besarnya aktivitas ekonomi secara keseluruhan, bukan bagaimana manfaat pertumbuhan tersebut tersebar di antara sektor-sektor usaha maupun kelompok masyarakat.
Dalam praktiknya, pertumbuhan ekonomi dapat ditopang oleh hanya beberapa sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap PDB, tetapi relatif sedikit menyerap tenaga kerja.
Industri pertambangan, pengolahan mineral, energi, maupun sektor-sektor berbasis teknologi merupakan contoh kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah tinggi dengan penggunaan modal dan teknologi yang jauh lebih besar dibandingkan tenaga kerja.
Ketika sektor-sektor tersebut tumbuh pesat, angka pertumbuhan ekonomi nasional memang terdongkrak.
Namun, peningkatan tersebut belum tentu diikuti oleh bertambahnya lapangan pekerjaan dalam jumlah yang sebanding.
Sebaliknya, sektor-sektor yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja, seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, dan berbagai industri manufaktur padat karya, justru menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Persaingan global yang semakin ketat, perubahan rantai pasok internasional, kenaikan biaya produksi, hingga perlambatan permintaan ekspor memaksa banyak perusahaan melakukan efisiensi.
Akibatnya, sebagian perusahaan memilih mengurangi kapasitas produksi, menunda ekspansi, bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang tercermin dalam statistik nasional tidak selalu mampu mengimbangi pelemahan yang terjadi di sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan kehidupan jutaan pekerja.
Fenomena ini menunjukkan, kualitas pertumbuhan ekonomi menjadi sama pentingnya dengan besarnya pertumbuhan itu sendiri.
Pertumbuhan yang terkonsentrasi pada sektor-sektor padat modal memang dapat meningkatkan output nasional, tetapi belum tentu memperluas kesempatan kerja atau memperkuat daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, membaca kondisi ekonomi hanya melalui angka pertumbuhan berisiko melahirkan kesimpulan yang terlalu optimistis.
Di balik angka yang tampak positif, bisa saja terdapat tekanan yang semakin besar terhadap pasar tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, dan keberlangsungan kelas menengah.
Di sinilah paradoks pertumbuhan Indonesia mulai menemukan relevansinya: ekonomi terus bertambah besar, tetapi manfaatnya tidak selalu dirasakan secara merata oleh mereka yang menggantungkan hidup pada pekerjaan formal.
Pertanyaan yang Harus Dijawab
Gelombang PHK yang terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali orientasi pembangunan nasional.
Ketika pertumbuhan ekonomi tidak lagi diikuti oleh perluasan kesempatan kerja, maka tantangan kebijakan tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut bersifat inklusif dan mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Dalam konteks ini, kita perlu melihat PHK bukan hanya sebagai persoalan hubungan industrial atau kesulitan yang dialami perusahaan tertentu.
Fenomena tersebut merupakan sinyal bahwa struktur pasar kerja sedang berubah lebih cepat daripada kemampuan sistem pendidikan, pelatihan, dan kebijakan ketenagakerjaan untuk beradaptasi.
Oleh karena itu, respons yang hanya berfokus pada bantuan sosial atau insentif jangka pendek memang penting untuk meredam dampak langsung terhadap pekerja yang kehilangan mata pencaharian, tetapi tidak akan menyelesaikan akar persoalan.
Yang lebih mendesak adalah menyiapkan tenaga kerja agar mampu memasuki jenis-jenis pekerjaan yang tumbuh dalam struktur ekonomi baru.
Salah satu agenda yang perlu dipercepat adalah reformasi pendidikan vokasi dan pelatihan kerja.
Dunia usaha saat ini membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi, digitalisasi, dan otomatisasi.
Kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dengan kebutuhan industri (skills mismatch) menjadi salah satu penyebab mengapa perusahaan kesulitan memperoleh tenaga kerja yang sesuai, sementara di sisi lain jumlah pengangguran tetap tinggi.
Pendidikan vokasi tidak lagi cukup berorientasi pada kebutuhan industri masa lalu, melainkan harus mampu mengantisipasi kebutuhan ekonomi masa depan melalui kemitraan yang lebih erat antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah.
Pada saat yang sama, kebijakan investasi juga perlu diarahkan secara lebih selektif.
Selama ini, keberhasilan sering diukur dari besarnya nilai investasi yang masuk.
Ke depan, ukuran tersebut perlu dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa besar investasi tersebut menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas tenaga kerja lokal, serta membangun rantai nilai domestik.
Indonesia tentu tetap membutuhkan investasi di sektor-sektor berbasis teknologi dan bernilai tambah tinggi.
Namun, di saat yang bersamaan, sektor manufaktur padat karya yang selama puluhan tahun menjadi penyerap tenaga kerja terbesar tidak boleh kehilangan daya saing.
Tantangannya bukan memilih antara industri padat karya atau padat teknologi, melainkan membangun keduanya secara saling melengkapi agar transformasi ekonomi tidak meninggalkan jutaan pekerja.
Lebih jauh, peningkatan produktivitas tenaga kerja harus menjadi agenda utama pembangunan.
Dalam ekonomi modern, daya saing suatu negara tidak lagi ditentukan oleh murahnya upah, tetapi oleh kemampuan sumber daya manusianya menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.
Investasi pada pendidikan, riset, inovasi, penguasaan teknologi, dan peningkatan keterampilan akan menjadi faktor penentu apakah Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi atau justru menghadapi meningkatnya pengangguran terdidik.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi, tujuan kebijakan bukanlah melawan teknologi, melainkan memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kemampuan untuk bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut.
Pada akhirnya, paradoks pertumbuhan Indonesia mengajarkan kualitas pembangunan tidak dapat lagi diukur hanya dari seberapa cepat ekonomi bertumbuh, tetapi juga dari seberapa luas kesempatan yang diciptakan bagi masyarakat untuk ikut menikmati hasil pertumbuhan itu.
Pekerjaan rumah pemerintah bukan sekadar mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan bahwa transformasi ekonomi berjalan secara inklusif, adaptif, dan berkeadilan.
Sebab, pertumbuhan yang tidak mampu menghadirkan pekerjaan, memperkuat kelas menengah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada akhirnya akan kehilangan makna sebagai tujuan pembangunan itu sendiri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang