Bisnis.com, Jakarta – Peta persaingan platform dagang-el (e-commerce) di Indonesia kian memanas seiring dengan penyesuaian skema tarif bagi para mitra penjual (seller). Dua penguasa pasar e-commerce Indonesia, Shopee dan TikTok Shop, memiliki strategi yang berbeda.
Melansir pengumuman resmi dari masing-masing situs perusahaan, Kamis (21/5/2026), terjadi perbedaan strategi yang kontras dalam pembebanan biaya operasional.
Shopee terpantau lebih banyak menitikberatkan komponen biaya pada fitur opsional yang fleksibel, sementara TikTok Shop Tokopedia justru mempertebal daftar biaya wajib yang harus dipatuhi para seller, termasuk pengenalan skema komisi dinamis baru per 18 Mei 2026.
Langkah TikTok Shop Tokopedia memperbanyak instrumen biaya wajib dinilai membatasi ruang gerak seller dalam mengatur margin keuntungan bersih.
Salah satu kebijakan teranyar yang memicu perhatian adalah kenaikan batas maksimal biaya komisi dinamis platform dari semula Rp40.000 menjadi Rp650.000 per 18 Mei 2026. Di sisi lain, Shopee memilih formula yang memberikan keleluasaan kepada pedagang untuk memilih program promosi tambahan sesuai kemampuan finansial mereka.
Berikut rincian perbandingan skema biaya wajib dan opsional yang ditanggung oleh seller di kedua platform raksasa tersebut:
Struktur Biaya Wajib (Mandatory Fees)
Pada komponen ini, TikTok Shop memiliki daftar pungutan yang jauh lebih panjang dan mengikat dibandingkan dengan Shopee.
Shopee :
1. Biaya Administrasi: Berkisar antara 2,5% hingga 11,7% yang bervariasi tergantung pada kategori produk.
2. Biaya Pembayaran Shopee Mall: Dikenakan sebesar 1,8% dengan batas maksimal Rp50.000 per kuantitas produk.
3. Biaya Proses Pesanan: Ditetapkan dalam nilai tetap sebesar Rp1.250 untuk setiap transaksi yang berhasil diselesaikan.
TikTok Shop Tokopedia:
1. Biaya Komisi Platform: Sebesar 2,5% sampai 10% untuk non-mall (mayoritas di kisaran 9% - 10%), serta 2,5% hingga 12,2% khusus komisi kategori Mall.
2. Biaya Komisi Dinamis Platform: Tarif baru 3% hingga 8% dengan plafon atas melonjak drastis menjadi Rp650.000 per 18 Mei 2026 dari Rp40.000.
3. Biaya Pembayaran TikTok Mall: Sebesar 1,8% dengan batas maksimal Rp50.000 per kuantitas produk.
4.Biaya Proses Pesanan: Tarif flat sebesar Rp1.250 per transaksi.
5. Biaya Layanan Logistik: Berlaku per 1 Mei 2026 dengan batas maksimal Rp5.060 per pesanan, tergantung bobot dan jalur pengiriman.
6. Biaya Gagal Kirim/Retur: Efektif per 1 Juni 2026 sebesar Rp5.000 per arah kirim (didukung opsi Asuransi Pengembalian Barang Pembeli/BRSI).
Struktur Biaya Opsional (optional fees)
Shopee mendominasi segmen ini dengan menyediakan beragam program penunjang performa toko yang sifatnya sukarela.
Shopee:
1. Program Gratis Ongkir XTRA & Promo XTRA: Biaya layanan berkisar antara 1% sampai 9,5% (maksimal Rp40.000/Rp60.000) dan Promo XTRA+ sebesar 6,5% (maksimal Rp80.000).
2. Shopee Live XTRA: Potongan 3% (maksimal Rp20.000) untuk voucer diskon siaran langsung.
3. SPayLater XTRA 0%: Biaya cicilan bunga rendah bagi pembeli berkisar 2,5% hingga 4%.
4. Program Hemat Biaya Kirim: Tarif tetap Rp350 per pesanan untuk membebaskan biaya ongkir retur.
5. Lainnya: Asuransi pengiriman (0,5%), komisi produk pre-order (3%), biaya campaign besar via Relationship Manager (3% - 5% atau Rp20 juta hingga ratusan juta), campaign via Seller Center, dan komisi afiliasi kreator.
TikTok Shop Tokopedia:
1. Growth Xtra Program: Biaya opsional berkisar 2% hingga 4% tergantung kategori produk.
2. Lainnya: Potongan produk pre-order sebesar 3% (kecuali produk tertentu), biaya keikutsertaan Campaign, Iklan GMV Max, serta komisi khusus program afiliasi bersama kreator.
Respons Seller
Berdasarkan pemantauan dari berbagai sumber pada Kamis (21/5/2026), sejumlah seller lokal yang cukup populer memutuskan untuk menghentikan operasional e-commerce akibat kebijakan biaya administrasi dan potongan komisi baru yang dinilai memberatkan margin keuntungan. Sebagai langkah penyelamatan bisnis, para pelaku usaha ini memilih mengalihkan fokus penjualan mereka ke layanan WhatsApp Order, serta situs web mandiri.
Kebijakan penyesuaian tarif yang diterapkan platform dagang-el akhir-akhir ini memicu keluhan massal dari para pedagang. Akun toko perlengkapan bayi dan anak, Asia Susu, mengumumkan keputusan mereka untuk keluar (walk out) dari Tokopedia dan TikTok Shop.
Pihak manajemen toko menyatakan biaya marketplace saat ini sudah tidak masuk akal karena kenaikan biaya admin terus terjadi bersamaan dengan potongan-potongan tersembunyi lainnya yang menggerus laba bersih. Asia Susu kini memilih fokus melanjutkan penjualan lewat Shopee.
Langkah serupa diambil oleh Namaste_Organic. Toko produk organik ini resmi pamit dari e-commerce setelah bertahun-tahun berjualan di sana. Dalam pengumumannya, manajemen menyebut ada kebijakan dan sistem baru platform yang tidak lagi sejalan dengan visi masa depan mereka. Untuk menjaga jangkauan pelanggan, Namaste_Organic mengarahkan konsumen mereka untuk bertransaksi via Shopee dan pesanan WhatsApp yang menawarkan ekstra diskon 10 persen.
Tekanan struktur biaya baru ini juga memukul seller senior seperti Obabyhouse, yang telah berkecimpung di industri e-commerce selama 11 tahun. Mereka memilih menutup sementara akun di e-commerce sampai batas waktu yang belum ditentukan akibat kebijakan yang dianggap mencekik posisi penjual.
Sementara itu, toko mereka di Shopee diliburkan sejenak untuk penyesuaian harga, dan operasional dialihkan ke platform alternatif seperti Toco, GrabMart, serta WhatsApp.