#30 tag 24jam
Siapa Pemasang Kiswah Kakbah Pertama? Ini Kisah Uniknya dari Negeri Yaman
Siapa orang yang pertama kali memasang kiswah pada Kakbah? Tentang siapa orangnya, ada kisah menarik yang datang dari Negeri Yaman. Simak ulasannya berikut ini.... | Halaman Lengkap [833] url asal
#yaman #kisah-nyata #kiswah-kakbah #kain-kiswah-kakbah #berhala
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 07/05/26 13:25
v/214258/
Siapa orang yang pertama kali memasang kiswah pada Kakbah? Tentang siapa orangnya, ada kisah menarik yang datang dari Negeri Yaman. Simak ulasannya berikut ini.Ternyata pemasang kiswah Kakbah pertama itu adalah As'ad Abu Karb al-Himyari, seorang penyembah berhalaasal Negeri Yaman. Menariknya lagi, hal itu dilakukan setelah ia berkonsultasi dengan dua orang Yahudi .
Cerita ini, disampaikan sejarawan muslim Ibnu Ishaq dalam Kitab Al-Maghazi dan Kitab As-Siyar. Ibnu Hisyam, dalam "Sirah Nawabiyah" juga mengutip apa yang disampaikan Ibnu Ishaq tersebut. Dr Jawwad Ali dalam buku berjudul "al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabla al-Islam" atau "Sejarah Arab Sebelum Islam" menyampaikan hal yang tak jauh berbeda.
Menurutnya, kaum Tubba' sangat menghormati Makkah. Salah satu Raja Tubba', As'ad Abu Karb al-Himyari, dikisahkan adalah orang yang meletakkan kiswah pada Kakbah. "Ia juga yang membuatkan pintunya. Sejak saat itu, tradisi menutup Kakbah dengan kiswah berlaku," ujar Jawwad Ali.
Kiswah adalah kain berwarna hitam yang menutupi Kakbah. Pada era kini, setiap musim Haji, kain kiswah ini diganti oleh otoritas Haramain. Kiswah penutup Kakbah masa kini itu terbuat dari kain sutera berwarna hitam pekat dengan hiasan kaligrafi bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an dari benang emas dan perak.
Jawwad Ali mengatakan sebuah patung milik kaum Tubba' pernah diletakkan di Mekkah dan disembah oleh mereka. "Hanya saja, saya tidak tahu kesahihan kisah ini," ujar Jawwad Ali.
Namun hal yang pasti, kata Jawwad, adalah raja-raja Yaman pada zaman dahulu banyak yang mensucikan Kakbah yang sebelum Islam datang sejatinya adalah milik semua bangsa Arab.
Pernyaaan Jawwad Ali tersebut boleh jadi juga mengutip Ibnu Ishaq. Menurut Ibnu Ishaq, orang pertama yang menutupi Kakbah dengan kiswah adalah Raja Tubba' yang bernama Abu Karb As'ad, Raja Dinasti Himyariah dari Yaman. "Raja Tubba' dan kaumnya adalah para penyembah berhala," ujar Ibnu Ishaq.
Menurutnya, raja ini mampir ke Mekkah dalam perjalanan pulang ke Yaman. Ketika ia berada di antara Usfan dan Amaja, ia didatangi sekelompok orang dari Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar bin Nizar bin Ma'ad.
Mereka berkata kepadanya, "Paduka raja, maukah paduka raja kami beritahu tentang rumah penyimpanan harta melimpah yang disembunyikan raja-raja sebelum paduka raja? Di dalamnya terdapat mutiara, zabarjad, intan berlian, emas, dan perak?"
Tubba' berkata: "Ya, saya mau".
Mereka berkata: "Yaitu rumah di Mekkah yang disembah penduduknya dan mereka sholat di sampingnya."
Orang-orang Hudzail ingin mencelakakan Raja Tubba' dengan cara seperti itu, karena mereka tahu betul bahwa siapa saja yang ingin merusak Baitullah, pasti ia celaka.
Tatkala Tubba' telah bersiap diri untuk mengikuti arahan orang-orang Hudzail, ia mengutus seseorang untuk menemui dua rahib Yahudi guna menanyakan arahan orang-orang Hudzail tersebut.
Kedua rahib Yahudi berkata kepada Tubba': "Orang-orang Hudzail hanya ingin mencelakakan dirimu dan pasukanmu, karena kita tidak tahu ada rumah selain Baitullah di muka bumi ini yang khusus dijadikan Allah sebagai rumah-Nya. Jika engkau menuruti arahan mereka, engkau pasti mati dan orang-orang yang bersamamu."
Raja Tubba' berkata kepada kedua rahib Yahudi, "Kalau begitu, apa yang kalian berdua perintahkan kepadaku, jika aku datang ke Makkah?"
Kedua rahib Yahudi berkata, "Engkau harus berbuat seperti yang dikerjakan penduduknya. Engkau thawaf di samping Kakbah, mengagungkannya, memuliakannya, mencukur rambut di sampingnya, dan merendahkan diri di sampingnya hingga engkau keluar daripadanya."
Tubba' berkata: "Apa yang membuat kalian berdua melarangku mengikuti arahan orang-orang Hudzail?"
Kedua Rahib Yahudi berkata, "Sesungguhnya Kakbah adalah rumah ayah kita Ibrahim, dan ia seperti yang telah kami jelaskan kepadamu. Namun penduduknya memisahkan kami darinya dengan cara mereka memasang berhala-berhala di dalamnya, dan dengan darah yang mereka tumpahkan di sampingnya. Mereka orang-orang kotor dan orang-orang syirik."
Tubba' memahami nasihat kedua rahib tersebut dan kejujuran nasihat keduanya. Kemudian ia mendekat kepada sekelompok orang dari orang-orang Hudzail lalu ia memotong tangan dan kaki mereka.
Setelah itu, ia meneruskan perjalanannya hingga tiba di Makkah. Tiba di Makkah, ia thawaf di sekeliling Kakbah, menyembelih hewan qurban di sebelahnya, mencukur rambutnya, dan berada di sana selama enam hari.
Menurut banyak orang, Raja Tubba' menyembelih hewan qurban kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang, ia memberi makan penduduk Makkah, dan memberi mereka minum madu.
Suatu hari, Raja Tubba' bermimpi dalam tidurnya mendapat perintah untuk menutup Kakbah. Kemudian ia menutupinya dengan kain kasar. la bermimpi lagi agar ia menutupi Kakbah dengan kain yang lebih bagus, kemudian ia menutupinya dengan kain ma'afir (jenis kain Yaman).
Ia bermimpi lagi agar ia menutupinya dengan kain yang lebih bagus, kemudian ia menutupinya dengan kain mahal ketika itu yaitu kain Al-Mala'a dan Al-Washail.
Menurut orang-orang ketika itu, Tubba' adalah orang yang pertama kali menutup Ka'bah dan mewasiatkannya kepada para gubernurnya dari orang-orang Jurhum. Ia perintahkan mereka membersihkan Kakbah; darah, bangkai, dan darah haid tidak boleh didekatkan kepadanya.
Setelah itu, Tubba' pulang ke Yaman bersama pasukannya dan dua rahib Yahudi. Tiba di Yaman, ia mengajak penduduk Yaman masuk kepada agamanya, namun mereka menolak ajakan Tubba'. Mereka menyerahkan persoalan Tubba' kepada api di Yaman.
Kisah Hikmah : Berhala Bisa Bicara dan Menyampaikan Kebenaran Nabi Muhammad SAW
Kisah hikmah tentang berhala yang ternyata bisa bicara ini sangat menarik. Karena, berhala itu ternyata menyampaikan kebenaran akan Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi... | Halaman Lengkap [627] url asal
#rasulullah #nabi-muhammad-saw #kisah-hikmah #berhala #kisah-berhala-berbicara
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/02/26 18:30
v/125838/
Kisah hikmah tentang berhala yang ternyata bisa bicara ini sangat menarik. Karena, berhala itu ternyata menyampaikan kebenaran akan Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam. Begini kisahnya:Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, berhalapertama kali dijadikan sesembahan pada masa Nabi Nuh. Kaum Nabi Nuh membuat patung-patung dan memberinya nama orang-orang saleh kala itu.
Berhala orang-orang Arab sebelum Rasulullah diutus umumnya terbuat dari batu, kayu, besi. Bahkan ada yang membuatnya dari emas dan perak. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa berhala-berhaladi zaman Rasulullah SAW pernah berbicara. Berhala itu berkata: "Muhammad telah datang."
Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury dalam Kitab Al-Mawa'izh Al-'Usfuriyah menukil riwayat dari Ali bin Abu Tholib radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: "Suatu ketika kita sedang bersama Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam pada masa awal kemunculan Islam.
Tiba- tiba ada seorang laki-laki yang naik unta mendatangi kita. Pada dirinya dan untanya terdapat tanda-tanda kalau ia telah melakukan perjalanan dan juga nampak baginya tanda-tanda kesulitan melakukan perjalanan. Kemudian ia berdiri dan bertanya:
"Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?" Kemudian kami mengarahkan isyarat ke arah Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam. "Hai Muhammad! Manakah di antara dua pilihan antara kamu memperlihatkan apa yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadaku atau aku yang memperlihatkan apa yang diperintahkan oleh berhalaku kepadamu?"
Rasulullah menjawab: "Baiklah! Aku saja yang memperlihatkan kepadamu ajaran yang diperintahkan oleh Tuhanku." Kemudian Rasulullah berkata: "Islam tersusun (dibangun) di atas lima pondasi."
Laki-laki itu berkata: "Hai Muhammad! Aku adalah Ghossan bin Malik Al-Amiri. Kami memiliki sebuah berhala dimana kami selalu menyembelih sembelihan di bulan Rajab di dekatnya dan beribadah kepadanya dengan sembelihan itu. Suatu ketika ada seorang laki-laki dari penduduk kami hendak menyembelih sembelihan. Ia bernama Ushom.
Ketika ia mengangkat tangannya untuk menyembelih maka terdengarlah suara yang berasal dari perut berhala itu: "Hai Ushom! Islam telah datang. Berhala-berhala adalah batil. Diri seseorang akan terjaga haknya. Sanak saudara disambung. Hakikat agama telah muncul. Semoga keselamatan tercurah padamu wahai Ushom!
Ushom pun senang dan keluar pergi memberitahuku. Lalu kami mendengar tentang beritamu wahai Rasulullah! Beberapa hari setelah itu, ada seorang laki-laki lagi yang bernama Thoriq hendak menyembelih sembelihan di dekat berhala itu.
Ketika ia mengangkat tangannya untuk menyembelih maka terdengar suara yang berasal dari perut berhala itu: "Hai Thoriq! Nabi yang benar telah diutus. Didatangkan kepadanya suatu wahyu Firman Allah Yang Maha Mulia dan Maha Pencipta. Thoriq pun pergi menuju keramaian dan berteriak mengatakan perkataan suara Berhala itu di antara orang-orang sehingga kabar-kabarmu pun meyakinkan kami. Akan tetapi kami hidup di kalangan orang-orang yang membuat kebohongan tentangmu dan yang membenarkanmu.
Tiga hari yang lalu aku hendak menyembelih sembelihan di dekat berhala. Ketika aku mengangkat tanganku untuk menyembelihnya maka aku mendengar suara yang keras dari perut berhala dengan bahasa yang jelas: "Hai Ghossan bin Malik Al-Amiri! Telah datang kebenaran seorang Nabi keturunan Hasyim di Tuhamah. Orang-orang yang menolongnya akan mendapatkan keselamatan dan orang-orang yang menghinakannya akan mendapatkan kekecewaan. Ia adalah Nabi yang memberi petunjuk dan mengajak menyembah Allah sampai Hari Kiamat." Kemudian berhala itu melompat dari tanah dan jatuh telungkup.
Mendengar cerita Ghossan, Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallama membaca Takbir dan diiringi oleh para Sahabat. Laki-laki itu (Ghossan) berkata. "Aku memiliki tiga syair bait. Apakah anda mengizinkanku membacakannya untukmu?:
Rasulullah pun mengizinkannya. Kemudian Ghossan berkata: "Aku mempercepat perjalanan mencari (Muhammad) melewati tanah datar. Dan naik ke tanah- tanah berpasir agar aku bisa menolong manusia terbaik dengan pertolongan yang dikukuhkan. Dan aku akan menguatkan ikatan-ikatan (ajaran)mu dengan ikatan (hati)ku. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Allah adalah Haq (kebenaran) Yang Maha Esa. Agama Islam ini adalah agama yang aku percayai selama aku masih hidup."
Demikian kisah berhala yang dapat berbicara menyampaikan kebenaran Rasulullah SAW. Semoga kisah ini menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah.
Amr bin Luhai, Pelopor Penyembah Berhala yang Menguasai Makkah
Amr bin Luhai adalah pelopor penyembah berhala yang ternyata ada disebut dalam hadis. Siapa dia dan bagaimana perannya? Simak kisahnya berikut ini. Amr bin Luhai... | Halaman Lengkap [475] url asal
#syirik #hadis-nabi #patung #dosa-besar #berhala
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/02/26 16:10
v/125645/
Amr bin Luhai adalah pelopor penyembah berhalayang ternyata ada disebut dalam hadis. Siapa dia dan bagaimana perannya? Simak kisahnya berikut ini.Konon, ada seorang lelaki dari kalangan Arab yang bernama Amr bin Luhai. Ia adalah seorang dukun. Ia menguasai Makkah dan mengusir Kabilah Jurhum dari Tanah Haram itu. Ia lantas menjadi pelayan Kakbah . Dialah orang yang pertama kali menyeru masyarakat Arab untuk menyembah berhala.
Abu Bakar Zakaria dalam buku yang diterjemahkan Abu Umamah Arif Hidayatullah berjudul "Sang Ponir Kesyirikan" mengatakan pendapat bahwa Amr bin Luhai sebagai pelopor penyembah berhala disebutkkan oleh hampir seluruh kitab-kitab tarikh, riwayat, dan sirah.
Pendapat ini memiliki dalil yang banyak, di antaranya disebutkan dalam hadis nabisecara jelas dan shahih tentang penisbatan terjadinya kesyirikan kepada ‘Amr bin Luhai.
Di antara hadis-hadis yang begitu jelas adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya yang pertama kali membuat aturan tentang Saaibah dan menyembah berhala adalah Abu Khuza’ah ‘Amr bin ‘Amir, dan sungguh aku melihatnya di neraka sedang menyeret ususnya". (HR Ahmad)
Hadis ini shahih lighairihi, walaupun sanad hadis ini lemah karena lemahnya ‘Amr bin Majma’ as-Sukuni, dan karena kurang kuatnya Ibrahim al-Hijri.
Hadis tersebut tanpa ada tambahan (dan menyembah berhala) memiliki penguat dari hadis Abu Hurairah ra di sisi Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dengan lafal, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Aku melihat ‘Amr bin ‘Amir al-Khuza’i menyeret ususnya di neraka. Ia adalah orang yang pertama kali membuat aturan tentang Saaibah".
Begitu juga didukung dengan adanya atsar yang menguatkan riwayat ini, bahwa masyarakat Arab mencatat sejarah pembangunan Kakbah oleh Ibrahim, senantiasa seperti itu hingga mereka berpencar-pencar dan keluar dari Tihamah.
Sampai berlalunya waktu mereka mencatat kepemimpinan ‘Amr bin Rabi’ah yang tersohor dengan Amr bin Luhai. Dia dikatakan telah mengubah agama Ibrahim, dan membawa berhala Hubal dari kota Balqa’, dan perbuatan Isaf dan Nailah zaman Sabur Dzil Aktaf,
"Berdasarkan hal ini maka tetap bagi kita bahwa orang yang pertama kali mengubah agama Isma’il dan Ibrahim adalah Amr bin Luhai bin Rabi’ah," tulis Abu Bakr Zakaria.
As-Suhaili sebagaimana dikutip Abu Bakr Zakaria mengatakan:
Ketika suku Khuza’ah memengangi peperangan terhadap Kakbah, dan mengusir Jurhum dari Makkah, masyarakat Arab menjadikan Amr bin Luhai penguasa.
Tidaklah ia membuat suatu kebid’ahan kecuali oleh masyarakat Arab dijadikan sebagai syariat.
Kami melihat dalam Tarikh Makkah juga, kebanyakan berita-berita mengenai orang ini hampir-hampir mirip seperti cerita dongeng, yang bisa mengubah pemahaman-pemahaman dan keyakinan-keyakinan suatu kaum. Maka pada akhirnya ia bisa mengubah pemahaman-pemahaman tersebut secara sempurna.
Menjadikan masyarakat Arab sebagai penyembah berhala padahal dahulunya mereka adalah orang-orang yang bertauhid di atas agama Ibrahim ‘alaihissalam. Mereka menyebutkan bahwa ia (Amr bin Luhai) adalah lelaki yang paling cemerlang dari kalangan lelaki Arab pada masa Jahiliah, dan termasuk orang yang paling terkenal. Kebanyakan masyarakat menyanjungnya dengan ketinggian, kedudukan dan kebanggaan.
Tadabur Surat As Shaffat Ayat 123-132 : Kisah Nabi Ilyas yang Kaumnya Menyembah Baal
Tadabur ayat Al Quran ini tentang Surat As Shaffat ayat 123-132. Surat dan ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang kisah Nabi Ilyas Alaihisallam yang kaumnya menyembah... | Halaman Lengkap [314] url asal
#tadabur-ayat-al-quran #surat-surat-al-quran #berhala #kisah-nabi-ilyas #kaum-nabi-ilyas
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/02/26 12:40
v/125281/
Tadabur ayat Al Quran ini tentang Surat As Shaffat ayat 123-132. Surat dan ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang kisah Nabi Ilyas Alaihisallam yang kaumnya menyembah berhala Baal.Nabi Ilyas Alaihissalam yang hidup di sekitar 910-850 SM merupakan keturunan keempat dari Nabi Harun AS. Baginda adalah putra Yasin bin Fanhash bin Aizar bin Harun yang meupakan keturunan Nabi Ya’qub, Nabi Ishaq dan Nabi Ibrahim, ‘Alaihumussalam Kaumnya adalah keturunan Bani Israil.
Baal, ba'l atau ba'al telah mengunci kaum Bani Israildaripada menyembah Allah yang Maha Esa sebagai agama nenek moyang mereka, ajaran Ibrahim dan juga yang ada dalam Kitab Taurat Musa AS. Oleh itu Nabi Ilyas AS diutus Allah SWT untuk menyeru mereka kembali ke jalan yang lurus.
Berikut Al Quran surat Ash Shaffat 123-132:
wa inna ilyāsa laminal-mursalīn
Artinya : "Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul.
iż qāla liqaumihī alā tattaqụn
Artinya : (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
a tad'ụna ba'law wa tażarụna aḥsanal-khāliqīn
Artinya: "Patutkah kamu menyembah Baal dan kamu tinggalkan (Allah) sebaik-baik pencipta.
allāha rabbakum wa rabba ābā`ikumul-awwalīn
Artinya: (Yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?
fa każżabụhu fa innahum lamuḥḍarụn
Artinya : "Tetapi mereka mendustakannya (Ilyas), maka sungguh, mereka akan diseret (ke neraka)
illā 'ibādallāhil-mukhlaṣīn
Artinya : Kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan (dari dosa)
wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn
Artinya : Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
salāmun ‘alā ilyāsīn
Artinya :Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas
innā każālika najzil-muḥsinīn
Artinya : Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik
innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn
Artinya : Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Siapa 'Baal'? Sesembahan Kelompok Elit Dunia, Ternyata Disebut dalam Al Quran
Siapa Baal? Sosok yang konon menjadi sesembahan kelompok elit dunia ini, ternyata disebut juga dalam Al Quran. Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini. Siapa... | Halaman Lengkap [710] url asal
#bani-israil #kaum-nabi-ilyas #kisah-nabi-ilyas #berhala #epstein-files
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/02/26 10:35
v/125089/
Siapa Baal? Sosok yang konon menjadi sesembahan kelompok elit dunia ini, ternyata disebut juga dalam ayat Al Quran. Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.Nama Baal, tengah viral bahkan banyak dibahas dan menjadi trending topic dunia saat ini. Baal merupakan nama akun rekening Jeffrey Epsteinyang kasusnya menghebohkan dunia. Jadi siapa sebenarnya Baal ini?
Dalam Al Quran, nama Baal ini terdapat dalam Surat Ash Shaffat. Penyebutan nama Baal secara eksplisit ada dalam Surat As-Saffat ayat 125, ketika Nabi Ilyas (Elias) menegur kaumnya yang menyembah berhala tersebut: "Patutkah kamu menyembah Baal dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta?"
Menurut beberapa mufasir (ahli tafsir) seperti Al-Tha'labi, Baal digambarkan sebagai patung yang terbuat dari emas setinggi 20 hasta dengan empat wajah. Secara bahasa (etimologi Semit), kata Ba'l berarti tuan, pemilik, atau suami. Dalam Al-Qur'an, istilah ini juga digunakan dalam konteks hukum keluarga untuk merujuk pada "suami".
Dalam mitologi Kanaan, Baal dianggap sebagai putra dari El, dewa tertinggi dalam panteon Kanaan. Baal digambarkan sebagai dewa badai dan kesuburan yang sangat kuat. Ia dipercaya mengendalikan hujan, petir, dan kesuburan tanah. Karena itu Baal sangat dihormati sebagai dewa yang menjamin hasil panen yang melimpah.
Penyembahan Baal telah ada sejak zaman Perunggu Awal di Timur Tengah, sekitar 3000 SM. Kultus Baal kemudian menyebar luas di wilayah Kanaan, Fenisia, Siria, dan sekitarnya. Bahkan pengaruhnya sampai ke Mesir dan Mesopotamia. Di setiap daerah, Baal memiliki sebutan dan atribut yang sedikit berbeda, namun intinya tetap sebagai dewa badai dan kesuburan yang berkuasa.
Berhala Elit Kaum Bani Israil
Berkaitan dengan sejarah, Baal disebut Al Quran sebagai berhala yang disembah oleh kaumnya Nabi Ilyas untuk memberi kemakmuran dan kekayaan, seperti halnya saat ini disebut sebagai Dewa Crazy Rich oleh Sekte Satanik.Menurut buku yang berjudul 'Atlas Al-Quran' karya Syauqi Abu Khalil, Nabi Ilyas diutus oleh Allah kepada Bangsa Funisia di Kota Baalbek Libanon. Kaumnya menyembah berhala bernama Baal, yang berbentuk wanita. Nabi Ilyas berulang kali memperingatkan kaumnya, namun mereka tetap ingkar.
Karena itulah Allah menurunkan musibah kekeringan selama bertahun-tahun, sehingga mereka baru tersadar. Setelah kaumnya sadar, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah agar musibah kekeringan itu dihentikan.
Namun setelah musibah itu berhenti dan perekonomian mereka memulih, mereka kembali menyembah Baal, akhirnya kaum Nabi Ilyas kembali ditimpa musibah yang lebih berat daripada sebelumnya, yaitu dengan azab kekeringan yang panjang.
Baal dan Ritual Sesembahan
Di luar Islam, kultus penyembahan Baal mmasih terjadi dan melibatkan berbagai ritual dan upacara keagamaan yang kompleks. Beberapa praktik penyembahan Baal yang umum dilakukan antara lain:-Pembangunan kuil-kuil dan tempat pemujaan di bukit-bukit tinggi.
-Pendirian tugu-tugu batu dan patung-patung Baal.
-Ritual pengorbanan hewan, kadang juga manusia (terutama anak-anak).
-Upacara kesuburan yang melibatkan prostitusi sakral.
-Tarian-tarian ritual dan nyanyian pujian.
-Doa dan persembahan untuk memohon hujan dan kesuburan.
-Perayaan tahunan untuk memperingati kebangkitan Baal.
Para imam Baal memiliki peran penting dalam memimpin ritual-ritual tersebut. Mereka sering melakukan tarian liar dan melukai diri sendiri untuk memohon perhatian Baal. Praktik-praktik penyembahan Baal ini dianggap sangat menyimpang dan tidak bermoral oleh para nabi Israel.
Penyebaran Kultus Baal
Penyembahan Baal tersebar luas di berbagai wilayah Timur Tengah kuno, dengan variasi nama dan atribut di tiap daerah:-Di Ugarit (Siria), Baal adalah dewa badai utama yang disebut Baal Hadad.
-Di Fenisia, Baal Hammon adalah dewa utama kota Kartago.
-Di Sidon, Baal dikenal sebagai Baal-Sidon.
-Di Peor (Moab), terdapat kultus Baal-Peor.
-Di Samaria (Israel), Raja Ahab mendirikan kuil untuk Baal.
-Di Babilonia, Baal disamakan dengan dewa Marduk.
-Di Mesir, Baal diadopsi sebagai dewa asing bernama Baal-Zephon.
-Penyebaran luas ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kultus Baal di kawasan Timur Tengah kuno. Bahkan bangsa -Israel yang menyembah Yahweh pun sering tergoda untuk ikut menyembah Baal.
Pengaruh Baal dalam Budaya Modern
Meski penyembahan Baal telah lama punah, namanya masih memiliki pengaruh dalam budaya populer modern:- Dalam literatur okultisme, Baal sering digambarkan sebagai iblis atau pangeran neraka.
- Baal muncul sebagai karakter antagonis dalam berbagai novel dan film fantasi.
- Nama Baal digunakan untuk beberapa karakter dalam video game.
- Patung-patung Baal kuno menjadi objek penting dalam arkeologi Timur Tengah.
- Baal kadang digunakan sebagai simbol paganisme atau anti-Kristen.
- Beberapa kelompok neopagan modern mengklaim merevitalisasi penyembahan Baal.
Meski demikian, pemahaman modern tentang Baal seringkali tidak akurat dan dipengaruhi oleh pandangan negatif dalam tradisi Yahudi-Kristen.
Bolehkah Membuat Patung dari Tokoh-tokoh yang Berpengaruh dalam Islam?
Bolehkah membuat patung dari tokoh-tokoh yang dianggap berjasa atau berpengaruh dalam kehidupan masyarakat? Bagaimana Islam memandang hal tersebut? Bolehkah membuat... | Halaman Lengkap [800] url asal
#patung #tokoh #berhala #dalil-patung #profil-syaikh-yusuf-al-qardhawi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 19/10/25 18:25
v/8818/
Bolehkah membuat patungdari tokoh-tokoh yang dianggap berjasa atau berpengaruh dalam kehidupan masyarakat? Bagaimana Islam memandang hal tersebut?Syaikh Yusuf Qardhawi dalam kitab 'Halal dan Haram dalam Islam' mengingatkkan agama ini (baca Islam) pendiriannya dalam masalah menghormat orang, tidak suka seseorang itu diangkat-angkat seperti berhala yang didirikan dengan biaya beribu-ribu supaya orang-orang memberikan penghormatan kepadanya.
Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, sekalipun keabadian itu sangat perlu bagi manusia, tetapi tidak mesti dengan didirikannya patunguntuk orang-orang besar yang perlu diabadikan itu. Cara untuk mengabadikan yang dibenarkan oleh Islam ialah mengabadikan mereka itu ke dalam hati dan lisan, yaitu dengan menyebut kesuksesan perjuangan mereka dan peninggalan-peninggalan yang baik-baik yang ditinggalkan untuk generasi sesudah mereka. Dengan demikian mereka itu akan selalu menjadi sebutan orang-orang belakangan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sendiri dan begitu juga para khalifah dan pemuka-pemuka Islam lainnya, tidak ada yang diabadikan dengan berbentuk materi dan patung-patung yang terbuat dari batu yang dipahat.
Keabadian mereka itu semata-mata adalah karena sifat-sifat baiknya (manaqibnya) yang diceriterakan oleh orang-orang dulu (salaf) kepada orang-orang belakangan (khalaf) dan yang diceriterakan oleh orang-orang tua kepada anak-anaknya. Sifat beliau itu tertanam dalam hati, selalu disebut dalam lisan, selalu mengumandang di majlis dan klub-klub serta memenuhi hati, walaupun tanpa diwujudkan dengan patung dan gambar.
Tidak Boleh Berlebihan
Islam samasekali tidak suka berlebih-lebihan dalam menghargai seseorang, betapapun tingginya kedudukan orang tersebut, baik mereka yang masih hidup ataupun yang sudah mati.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Janganlah kaliah berlebih-lebihan memuji (menyanjung) diriku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Ibnu Maryam (Nabi Isa). Sesungguhnya aku adalah hamba, maka katakanlah, ’Hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari no. 3445).
Maksud berlebih-lebihan dalam memuji adalah tidak menyembah Nabi uhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa Ibnu Maryam ‘alaihis salaam sampai terjerumus kepada kesyirikan. Rasulullah tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudharat serta tidak pula mengetahui hal yang ghaib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
”Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik (mendatangkan) manfaat bagi diriku dan tidak (pula) menolak mudharat kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebaikan sebanyak-banyaknya, dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan membawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al A’raaf [7]: 188).
Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk mengatakan, “Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya.” “Hamba Allah” maksudnya, bahwa kita tidak boleh berlebih-lebihan terhadap beliau, karena beliau adalah hamba dan bukan Rabb (Tuhan). “Rasul-Nya” maksudnya, bahwa beliau adalah hamba yang paling mulia yang Allah Ta’ala pilih sebagai utusannya dan tidak boleh kita dustakan.
Pernyataan Rasulullah ini saat mereka bermaksud akan berdiri apabila melihat Nabi, sebagai suatu penghormatan kepadanya dan untuk mengagungkan kedudukannya.
Cara semacam itu dilarang oleh Nabi dengan sabdanya: "Jangan kamu berdiri seperti orang-orang ajam (selain Arab) yang berdiri untuk menghormat satu sama lain." (Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)
Beliau pun memberikan suatu peringatan kepada umatnya, sikap yang berlebih-lebihan terhadap kedudukan Nabi sesudah beliau mati, maka bersabdalah Nabi sebagai berikut: "Jangan kamu menjadikan kuburku ini sebagai tempat hariraya." (Riwayat Abu Daud)
Dalam sebuah hadis juga dikatakan,
”Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur Nabi mereka sebagai masjid , ( Aisyah berkata), ‘Kalau bukan karena hal itu, niscaya kubur beliau akan dinampakkan, hanya saja beliau takut atau ditakutkan kuburnya akan dijadikan masjid’” (HR. Bukhari no. 1390, 4441 dan Muslim no. 529).
Dalam hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum wafat,
”Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kubur nabi-nabi dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid (tempat ibadah). Tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu dari perbuatan itu.” [HR. Ibnu Abi Syaibah. Syaikh Albani berkata,”Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim” (Tahdziirus Saajid, hal. 22).
Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah karena sangat mengkhawatirkan kuburnya akan dijadikan sebagai sesembahan selain Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (yang disembah). Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah” (HR. Ahmad no. 7358. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Tahdziirus Saajid, hal. 25).
Ada beberapa orang datang kepada Nabi SAW, mereka itu memanggil Nabi dengan kata-katanya: "Hai orang baik kami dan anak orang baik kami, hai tuan kami dan anak tuan kami."
Mendengar panggilan seperti itu, Nabi kemudian menegurnya dengan sabdanya sebagai berikut: "Hai manusia! Ucapkanlah seperti ucapanmu biasa atau hampir seperti ucapanmu yang biasa itu, jangan kamu dapat diperdayakan oleh syaitan. Saya adalah Muhammad, hamba Allah dan pesuruhNya. Saya tidak suka kamu mengangkat aku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tempatkan aku." (Riwayat Nasa'i)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56