Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Jasa Indonesia atau Jasindo telah menyiapkan beberapa strategi untuk menghadapi potensi peningkatan klaim asuransi usaha tani padi (AUTP), imbas fenomena iklim El Niño ekstrem atau dijuluki ‘El Niño Godzilla’.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana menyampaikan bahwa pihaknya melihat El Niño memang berpotensi meningkatkan risiko gagal panen, akibat kekeringan di sejumlah wilayah sentra produksi padi, yang dapat mendorong kenaikan klaim.
Oleh karena itu, Jasindo telah menyiapkan berbagai langkah strategis di antaranya penguatan cadangan teknis sesuai prinsip kehati-hatian, optimalisasi program reasuransi, serta penerapan manajemen risiko yang terintegrasi.
“Hal ini dilakukan melalui pemetaan dan profiling risiko wilayah pertanian, monitoring portofolio AUTP di daerah rawan El Niño, serta penerapan underwriting dan manajemen klaim yang prudent,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).
Di sisi mitigasi, lanjutnya, Asuransi Jasindo juga aktif melakukan edukasi kepada petani terkait pola tanam adaptif dan pengelolaan risiko pertanian agar dampak El Niño dapat diminimalisasi.
Brellian menjelaskan, pada prinsipnya AUTP memang dirancang sebagai instrumen perlindungan petani terhadap risiko bencana alam dan perubahan iklim, sehingga mekanisme pengelolaan risikonya telah disiapkan secara sistematis melalui pemetaan wilayah rawan dan verifikasi lapangan.
“Serta koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah guna memastikan perlindungan kepada petani tetap berjalan optimal,” sebutnya.
Jasindo, kata Brellian, memandang El Niño ekstrem yang diperkirakan terjadi mulai April 2026 sebagai salah satu risiko iklim yang perlu diantisipasi oleh industri asuransi umum, khususnya pada sektor yang sangat bergantung pada kondisi cuaca seperti pertanian.
Menurutnya, kondisi kekeringan berkepanjangan berpotensi meningkatkan risiko gagal panen, gangguan produksi, serta klaim pada produk asuransi pertanian.
“Oleh karena itu, Asuransi Jasindo secara aktif memantau perkembangan informasi dengan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk memastikan langkah antisipatif dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan,” tegasnya.
Di sisi lain, dia turut berpendapat fenomena iklim ekstrem seperti El Niño bisa menjadi pertimbangan dalam pengembangan desain produk asuransi pertanian untuk ke depannya, termasuk evaluasi skema perlindungan dan pricing agar tetap relevan dengan dinamika risiko.
Meski demikian, imbuhnya, Jasindo tetap menempatkan prinsip keberlanjutan program dan keterjangkauan premi bagi petani sebagai prioritas utama.
“Sehingga AUTP dapat terus menjadi solusi perlindungan yang inklusif dan berkelanjutan,” tutur Brellian.
Lebih jauh, Jasindo menilai industri asuransi umum perlu mengantisipasi fenomena iklim ekstrem melalui penguatan manajemen risiko, peningkatan kualitas data dan pemetaan wilayah rawan, penguatan reasuransi, serta kolaborasi lintas sektor.
Pihaknya juga mendorong peran aktif pemerintah daerah untuk memperkuat kerja sama dalam pendataan petani dan lahan, sosialisasi program AUTP, mitigasi risiko kekeringan, serta dukungan terhadap program perlindungan pertanian di wilayah masing-masing.
“Kolaborasi antara perusahaan asuransi, Pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam menjaga ketahanan sektor pertanian nasional serta memastikan petani tetap terlindungi di tengah tantangan perubahan iklim,” pungkasnya.