Urgensi Gas RI saat Pasokan Ketat
Ketersediaan gas bumi krusial bagi pembangunan, seperti ketahanan energi dan pangan Indonesia. Namun pasokan gas masih ketat.
(Bisnis.Com) 05/12/25 12:27 62049
Bisnis.com, JAKARTA—Kamar Dagang Indonesia (Kadin) menilai keberlanjutan pembangunan akan sangat dipengaruhi ketersediaan energi khususnya gas bumi. Namun, ketatnya pasokan menjadi salah satu problem.
Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aryo Djojohadikusumo menilai gas semakin strategis bagi masa depan Indonesia. Pasalnya, gas kini berada di jantung agenda ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional.
“Tidak mungkin ada ketahanan pangan tanpa pupuk, dan tidak mungkin ada pupuk tanpa gas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (5/12/2025).
Aryo menyampaikan hal tersebut dalam Energy Insights Forum bertajuk Gas Outlook 2026: Powering Energy Resilience with Strong Governance, Kamis (4/12/2025) di Jakarta.
Energy Insights Forum merupakan forum diskusi bulanan hasil kolaborasi KADIN Bidang ESDM dan Katadata Insight Center untuk mendorong ekosistem investasi energi Indonesia yang inklusif, transparan, dan berorientasi ke depan. Forum kali ini didukung EY Indonesia sebagai knowledge partner.
Di dalam forum tersebut, Aryo pun mengingatkan bahwa gas akan menjadi sekitar seperempat bauran energi dalam RUPTL 10 hingga 15 tahun mendatang, terutama untuk menopang hilirisasi industri strategis yang tengah dikejar pemerintah.
“Oleh karena itu, ketersediaan gas akan menentukan keberlanjutan sejumlah prioritas pembangunan,” kata Aryo.
Urgensi yang sama disuarakan Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno yang menekankan bahwa ketahanan energi dan ketahanan pangan merupakan dua prioritas utama pemerintahan saat ini. Keduanya memiliki benang merah yang sama dan titik krusialnya adalah gas.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tinggi, industrialisasi besar-besaran, serta produksi pupuk dan energi yang stabil. Semua itu, kata Eddy, hanya mungkin dicapai bila pasokan gas aman dan infrastrukturnya siap.
Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial Pertamina Hulu Energi (PHE) Edy Karyanto menjelaskan, pihaknya memetakan kebutuhan 136 konsumen perjanjian jual beli gas (PJBG), serta proyeksi dari lapangan baru dan yang sedang dikembangkan.
“Permintaan [gas di dalam negeri] 2.600 MMSCFD, sementara kapasitas lifting hanya 2.000. Tahun ini shorted, 2026 shorted, bahkan sampai 2034,” ujarnya.
Dia mengatakan, meskipun secara nasional terlihat potensi oversupply dari proyek baru, realitas infrastruktur dan alokasi ekspor membuat pasokan domestik tetap ketat.
“Ada hal-hal yang harus dikolaborasikan, dari kebijakan sampai kesiapan infrastruktur,” katanya.
Pembahasan mengenai prospek pasokan juga diperkaya paparan Partner EY-Parthenon EY Indonesia Eric Listyosuputro. Menurutnya, tren global sebenarnya memberikan kombinasi peluang dan tantangan bagi Indonesia.
Dia menjelaskan bahwa secara global, suplai gas akan berkembang lebih cepat dibanding permintaan. Pertumbuhan suplai mencapai 7% per tahun yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Qatar.
Sementara itu, permintaan tumbuh sekitar 2% per tahun, dan Asia termasuk Indonesia menjadi kawasan dengan pertumbuhan tertinggi.
“Gas ini bukan hanya transisi tetapi transisi jangka panjang,” ujarnya merujuk kepada peran gas dalam menurunkan emisi industri berat hingga 40%–60% dibandingkan dengan batu bara.
#gas-ri #pasokan-gas #ketahanan-energi #ketahanan-pangan #gas-bumi #industri-strategis #pembangunan-energi #forum-energi #kadin-esdm #ruptl-gas #infrastruktur-gas #pasokan-domestik #gas-nasional #supla
https://ekonomi.bisnis.com/read/20251205/44/1934486/urgensi-gas-ri-saat-pasokan-ketat