Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah bank dengan modal inti di bawah Rp6 triliun atau masuk kategori kelompok bank dengan modal inti (KBMI) 1 memberikan penjelasan terkait strategi untuk meningkatkan modal di tengah rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghapus klasifikasi KBMI 1.
Sebagai informasi, kelompok KBMI 1 terdiri dari bank-bank dengan modal inti di bawah Rp6 triliun. Kemudian KBMI 2 untuk modal inti Rp6 triliun sampai dengan Rp14 triliun, KBMI 3 untuk Rp14 triliun sampai dengan Rp70 triliun, dan KBMI 4 untuk bank dengan modal inti di atas Rp70 triliun.
PT Bank IBK Indonesia Tbk. (AGRS) misalnya. Dalam keterbukaan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (22/12/2025) menyatakan perseroan senantiasa mengikuti ketentuan dari regulator. "Bank akan menyesuaikan apabila telah terdapat ketentuan OJK yang mengatur terkait hal tersebut," demikian penjelasan manajemen.
Kemudian, untuk pemenuhan modal agar dapat naik kelas ke KBMI 2, Bank IBK menyebutkan akan dilakukan secara organik, mengingat modal inti perseroan saat ini senilai Rp5,7 triliun atau kurang Rp300 miliar untuk mencapai Rp6 triliun.
Perseroan berharap penambahan modal akan terpenuhi setelah 2026 yang diperoleh dari estimasi laba 2025 senilai Rp210 miliar dan proyeksi laba tahun depan sesuai rencana bisnis bank (RBB) senilai Rp210 miliar. Terkait dengan linimasa atau timeline lebih lanjut, manajemen menyatakan akan menunggu peraturan lebih lanjut dari regulator.
Hingga akhir September 2025, Bank IBK membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp160,32 miliar. Sementara, sepanjang 2024, laba yang dibukukan senilai Rp215,85 miliar.
Selain Bank IBK, PT Bank Victoria International Tbk. (BVIC) juga menyampaikan dukungan terkait rencana OJK tersebut, untuk menciptakan industri perbankan yang lebih sehat dan berdaya saing.
Manajemen BVIC menyatakan sejalan dengan rencana kebijakan tersebut, perseroan terus memperkuat keunggulan kompetitif, baik melalui transformasi digital maupun peningkatan kualitas layanan.
"Perseroan juga akan terus mengoptimalkan peningkatan permodalan melalui berbagai opsi yang sesuai dengan regulasi, efisiensi operasional, serta ekspansi bisnis yang selektif," ujar manajemen.
Lebih jauh, perseroan akan menyesuaikan timeline setelah menerima arahan resmi dari OJK, mengingat belum ada ketentuan resmi yang mengatur terkait dengan linimasa atas rencana kebijakan tersebut. "Namun demikian, inisiatif penguatan permodalan dan transformasi digital telah berjalan dan akan terus dilanjutkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkesinambungan."
Per 30 September 2025 modal inti Bank Victoria tercatat senilai Rp4,01 triliun. Nilai ini meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp3,58 triliun. Pada periode yang sama, BVIC membukukan laba tahun berjalan senilai Rp127,79 miliar.
Bank Digital
Dari sisi bank digital, Direktur Utama Bank Neo Eri Budiono menegaskan perseroan saat ini lebih memilih fokus memperkuat kinerja fundamental dibandingkan berspekulasi terhadap kebijakan yang masih bersifat wacana. Menurutnya, Bank Neo menitikberatkan pada perbaikan profitabilitas, tata kelola, serta cara perusahaan mengomunikasikan kinerja ke pasar.
“Sekarang ini kami benar-benar fokus ke apa yang ingin dicapai. Tahun ini setidaknya kami sampaikan profitabilitas, tata kelola kita perbaiki, dan yang penting adalah bagaimana mengomunikasikan semua ini ke market,” ujar Eri dalam paparan publik, Selasa (16/12/2025).
Dari sisi permodalan, Bank Neo masih mengandalkan laba ritel (retail earnings) dengan modal inti yang saat ini berada di kisaran Rp4 triliun. Dengan posisi tersebut, Eri menilai kondisi permodalan perseroan masih memadai jika dilihat dari rasio kecukupan modal (CAR).
Berdasarkan data yang dipaparkan, modal inti Bank Neo menguat menjadi Rp4 triliun, naik 1,52% dibandingkan September 2025 sebesar Rp3,94 triliun, serta tumbuh 20,06% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp3,33 triliun pada Oktober 2024. Sebagai informasi, KBMI I merupakan kelompok bank dengan modal inti hingga Rp6 triliun.
Sementara itu, CAR Bank Neo pada Oktober 2025 tercatat meningkat signifikan menjadi 47,77%, dibandingkan 35,89% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menanggapi peluang naik kelas ke KBMI II, Eri menyatakan bahwa perseroan tidak semata-mata mengejar status tersebut. Meski demikian, dia mengakui menjadi bank dengan skala yang lebih besar akan membuka ruang bagi pengembangan produk baru.
“Kalau dari sisi kecukupan modal, sebenarnya jauh lebih dari cukup. Tapi tentunya kita ingin menjadi bank yang lebih besar, supaya bisa menawarkan produk lain, misalnya layanan valas untuk nasabah yang suka travel,” jelasnya.
Banyak Faktor
Adapun, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa banyak faktor yang menjadi pertimbangan OJK untuk mendorong KBMI 1 melakukan konsolidasi.
Dia menuturkan, konsolidasi diperlukan untuk meningkatkan daya dorong perbankan terhadap perekonomian nasional. Dian menyebut, Indonesia masih merupakan bank-driven economy. Itu artinya, pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kemampuan perbankan menyalurkan kredit.
“Pertama memang ekonomi kita membutuhkan bank-bank yang besar. Ukuran itu menentukan segalanya, size does matter. Itu akan membuat efisiensi dan lain sebagainya kemudian juga akan mendorong tentu saja kredit dan lain sebagainya itu dilakukan,” tutur Dian saat ditemui di Jakarta, Senin (15/12/2025).
Selain itu, kebutuhan investasi teknologi semakin besar. Dian menuturkan penguatan sistem IT, digital banking, hingga pengembangan super app membutuhkan dana yang tidak sedikit, sehingga sulit dipenuhi oleh bank dengan modal dan aset terbatas jika berjalan sendiri-sendiri.
Saat ini, Dian menyebut bahwa bank-bank KBMI 1 telah mulai melakukan kajian internal, baik terkait opsi penambahan modal maupun rencana merger dengan bank lain yang dinilai memiliki potensi.
Dia mengharapkan proses tersebut dapat berlanjut dan menghasilkan penguatan struktur perbankan nasional ke depan. “Kita harapkan itu akan terus terjadi dan nanti kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya,” pungkasnya.