BRI mengadopsi strategi digital untuk menjaga biaya dana di tengah kenaikan BI Rate, fokus pada transaksi nasabah dan penguatan posisi sebagai bank transaksional. [1,218] url asal
Bisnis, JAKARTA — Persaingan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) yang makin ketat, terutama memasuki era suku bunga tinggi, mendorong PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengubah pendekatan bisnis pendanaannya.
Alih-alih mengandalkan perang suku bunga, BRI memilih memperbesar transaksi nasabah melalui ekosistem digital dan penguatan posisi sebagai bank transaksional untuk menjaga pertumbuhan dana murah.
Strategi tersebut menjadi penting ketika industri perbankan menghadapi tekanan likuiditas dan kenaikan biaya dana dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah kondisi itu, BRI menilai kemampuan menciptakan aktivitas transaksi yang tinggi akan menjadi faktor pembeda dibandingkan sekadar menawarkan bunga simpanan yang lebih agresif.
Hal ini memungkinkan BRI menjaga daya saing suku bunga Perseroan di saat pasar keuangan Indonesia memasuki era suku bunga tinggi, seiring dengan kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia (BI).
Terbaru, BI Rate baru saja dinaikkan 25 bps menjadi 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis (18/6/2026). Dengan kenaikan tersebut, total kenaikan BI Rate sudah mencapai 100 bps atau 1,00% dalam 2 bulan terakhir.
SEVP Transaction and Retail Funding BRI Trilaksito Singgih menjelaskan bahwa penguatan bisnis pendanaan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi perusahaan. Fokusnya diarahkan pada pembangunan BRI sebagai transaction bank yang mampu menjadi pusat aktivitas keuangan nasabah, baik individu maupun pelaku usaha.
Pendekatan tersebut mulai tercermin pada pertumbuhan tabungan yang berada di atas rata-rata pasar. Pada kuartal I/2026, BRI mencatat pertumbuhan tabungan sekitar 11,5% year-on-year (YoY) menjadi Rp543,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan industri yang berada di kisaran 8% YoY.
Kinerja itu ditopang oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui aplikasi BRImo dan berbagai layanan digital lainnya.
Menurutnya, pertumbuhan dana tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan bank menarik simpanan baru. Aktivitas transaksi yang terus meningkat dinilai mampu menciptakan dana mengendap yang lebih stabil sekaligus memperkuat komposisi dana murah atau current account saving account (CASA).
“Cara kita menumbuhkan DPK kita adalah dengan cara membangun CASA yang lebih bagus. Kita juga memperbaiki komposisi special rate deposito kita buat geser ke yang lebih murah,” katanya, Kamis (18/6).
Singgih mengatakan transformasi digital menjadi salah satu mesin utama di balik strategi tersebut. BRI memanfaatkan basis nasabah yang besar untuk membangun ekosistem transaksi yang lebih luas, mulai dari kebutuhan harian masyarakat hingga aktivitas bisnis berbagai segmen usaha.
Perseroan menilai kekuatan utama BRI terletak pada kombinasi jaringan yang kuat di segmen mikro dan pedesaan dengan kemampuan digital yang terus berkembang. Model ini memungkinkan bank menjangkau aktivitas ekonomi yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh layanan keuangan modern.
“Saat kita mendefinisikan bahwa BRI itu 'Satu Bank untuk Semua', yang unik adalah bahwa yang sudah kuat sekali di rural kita lengkapi dengan kekuatan engine yang baru di BRI. Dan di situ konsep ekosistemnya nanti ada dengan bermacam model,” katanya.
Ekosistem yang dibangun BRI tidak terbatas pada nasabah individu. BRI mengembangkan keterhubungan dengan berbagai rantai bisnis, mulai dari sektor pertanian, perdagangan ritel modern, hingga berbagai mitra usaha lain yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, bank berharap dapat menangkap lebih banyak transaksi yang pada akhirnya memperkuat basis pendanaan.
Di sisi lain, BRI tetap mempertahankan fokusnya pada segmen mikro yang selama puluhan tahun menjadi fondasi bisnis perseroan. Sekitar 72% portofolio kredit BRI masih berada di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah. Posisi tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa jaringan layanan hingga pelosok Indonesia tetap menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.
PERUBAHAN SUKU BUNGA
Sementara itu, dalam menghadapi perubahan kondisi pasar, terutama dengan kenaikan suku bunga acuan yang berlanjut, BRI membuka ruang untuk melakukan penyesuaian strategi pendanaan maupun penetapan harga dana.
Meski demikian, BRI menegaskan langkah tersebut tetap dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan menjaga akses pembiayaan bagi segmen mikro yang menjadi fokus utama perseroan.
Head of Liquidity & Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono mengatakan bahwa sejauh ini, tekanan kenaikan suku bunga belum mendorong kebutuhan penyesuaian bunga simpanan secara agresif.
Basis nasabah yang besar dan tersebar dinilai masih memberikan ruang bagi BRI untuk mengelola biaya dana secara relatif efisien dibandingkan sebagian bank lain.
"Dengan kondisi sekarang, mungkin kalau dicek sampai dengan kuartal satu [2026] itu kita malah lebih efisien dibandingkan dengan beberapa bank lain," katanya.
Transformasi ke arah bisnis transaksional bahkan mulai tercermin pada perbaikan biaya dana. Cost of fund (CoF) BRI yang sebelumnya berada di kisaran 3% berhasil ditekan menjadi sekitar 2,3% pada kuartal I/2026. Penurunan tersebut dinilai menjadi salah satu bukti bahwa strategi digital dan transaksi mulai memberikan dampak nyata terhadap efisiensi pendanaan.
Selain pendanaan, BRI terus memperluas peran BRImo sebagai pintu masuk berbagai kebutuhan finansial masyarakat. Produk tabungan tetap menjadi andalan, tetapi perseroan mulai memperluas layanan investasi, termasuk emas, yang dapat diakses secara digital melalui ekosistem grup BRI.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa perebutan dana masyarakat kini tidak lagi hanya berlangsung di meja deposito. Bagi BRI, kemampuan menjadi bagian dari aktivitas keuangan harian nasabah menjadi kunci mempertahankan pertumbuhan dana murah sekaligus menjaga efisiensi di tengah kompetisi likuiditas yang semakin ketat.
REKOMENDASI ANALIS
Sementara itu, sejumlah analis menilai strategi BRI memperkuat bisnis transaksional mulai memberikan dampak nyata terhadap struktur pendanaannya.
Tim analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar mencatat perbaikan komposisi dana murah menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek kinerja BRI tahun ini.
Pertumbuhan rekening giro dan tabungan yang ditopang akuisisi nasabah serta pengembangan ekosistem merchant mendorong rasio CASA naik menjadi 70,6% pada akhir 2025 dari 67,3% pada tahun sebelumnya. Perbaikan komposisi dana tersebut membantu menekan biaya dana dan memberikan ruang bagi BRI menghadapi tekanan margin pada periode mendatang.
“Peningkatan ini membantu menurunkan biaya pendanaan hingga akhir tahun, memberikan penyangga tambahan terhadap potensi normalisasi margin pada tahun 2026,” ungkap mereka dalam riset yang terbit belum lama ini.
Menurut Samuel Sekuritas, penguatan funding mix, ekspansi ekosistem berbasis transaksi, dan perbaikan kualitas aset menjadi alasan utama mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBRI.
Samuel Sekuritas memperkirakan perbaikan biaya dana dan komposisi CASA akan mengimbangi risiko perlambatan pertumbuhan kredit maupun tekanan margin dari segmen kredit usaha rakyat (KUR).
Pandangan serupa disampaikan MNC Sekuritas. Lembaga riset tersebut menilai penetrasi BRImo yang terus meningkat berhasil mendorong pertumbuhan dana murah ritel dan memperkuat posisi BRI sebagai bank transaksional.
Research Analyst MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan bahwa hingga kuartal I/2026, rasio CASA BRI meningkat menjadi 68,1% seiring pertumbuhan CASA ritel sebesar 11,7% secara tahunan. MNC menyebut perkembangan itu sebagai hasil dari strategi penguasaan wilayah dan penguatan transaksi nasabah yang dijalankan perseroan.
Meski demikian, Venny melihat tantangan belum sepenuhnya hilang. MNC Sekuritas menyoroti rencana penurunan bunga KUR menjadi 5% yang berpotensi menekan pendapatan bunga BRI apabila skema subsidi pemerintah tidak berubah.
Dalam simulasi MNC, penurunan imbal hasil KUR sebesar 100 basis poin dapat mengurangi laba bersih sekitar 2% dibandingkan dengan proyeksi dasar.
Di tengah risiko tersebut, kemampuan BRI memperbesar basis dana murah dan memperluas aktivitas transaksi dinilai menjadi faktor kunci menjaga profitabilitas.
Dari sisi investasi, kedua sekuritas tersebut masih mempertahankan rekomendasi positif terhadap saham BBRI.
Samuel Sekuritas merekomendasikan beli dengan target harga Rp4.400 per saham. Sementara itu, MNC Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.050 per saham.
Menurut MNC, koreksi harga saham BBRI selama ini telah membuat valuasinya BBRI menjadi menarik. Sementara itu, efisiensi pendanaan, pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan, dan modal yang kuat dinilai masih mampu menopang ketahanan kinerja perseroan.
Adapun, saham BBRI ditutup di level Rp2.960 pada perdagangan Kamis (18/6/2026), mencerminkan tingkat koreksi sebesar 19,13% secara year-to-date (YtD), sejalan dengan pelemahan pasar saham Indonesia secara keseluruhan.
Bank besar seperti BCA, BNI, BRI, dan Mandiri menyesuaikan jadwal operasional saat libur Iduladha 27-28 Mei 2026, dengan layanan digital tetap 24 jam. [422] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Bank-bank besar melakukan penyesuaian jadwal operasional kantor cabang selama libur dan cuti bersama Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27-28 Mei 2026. Meski sebagian besar kantor cabang tutup, layanan digital perbankan dipastikan tetap beroperasi penuh selama 24 jam guna menjaga kelancaran transaksi nasabah.
PT Bank Central Asia Tbk. atau (BCA) menyesuaikan operasional kantor cabang mengikuti kalender libur nasional Iduladha, Waisak, dan Hari Lahir Pancasila pada 27-28 Mei serta 31 Mei-1 Juni 2026. Perseroan memastikan nasabah tetap dapat mengakses layanan perbankan melalui platform digital seperti myBCA, BCA mobile, dan KlikBCA selama periode libur berlangsung.
Nasabah juga tetap dapat melakukan setor dan tarik tunai melalui fitur cardless di myBCA maupun BCA mobile tanpa menggunakan kartu ATM. Daftar kantor cabang yang tetap melayani weekend banking dapat diakses melalui situs resmi BCA.
Presiden Direktur Bank Central Asia Hendra Lembong mengatakan perseroan berupaya menjaga kenyamanan transaksi nasabah selama momentum libur panjang tersebut.
“Kami segenap keluarga besar BCA mengucapkan Selamat Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah dan Hari Raya Waisak 2570 BE bagi yang merayakan. Semoga momen hari raya dan cuti bersama ini dapat menjadi momentum berkumpul bersama orang terkasih tanpa kendala apapun,” ujar Hendra dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Sementara itu, Bank Negara Indonesia atau BNI tetap membuka layanan operasional terbatas pada Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 10.00-12.00 waktu setempat di 15 outlet tertentu. Langkah ini dilakukan untuk mendukung kebutuhan transaksi masyarakat selama libur Iduladha sekaligus aktivitas kredit akhir bulan.
Sejumlah kantor cabang yang tetap beroperasi terbatas antara lain KC Universitas Sumatera Utara, KC Batam, KC Pekanbaru, KC Padang, KC Graha Pangeran Surabaya, KC Rawamangun, KC Karawang, hingga KC Malang. Layanan tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan transaksi dasar masyarakat selama periode libur nasional.
Adapun, Bank Rakyat Indonesia diperkirakan juga menerapkan layanan terbatas di sejumlah kantor cabang mengikuti pola operasional tahun-tahun sebelumnya.
Jam layanan terbatas umumnya berlangsung pukul 08.00-15.00 waktu setempat dengan layanan seperti pembukaan rekening, setor dan tarik tunai, penggantian kartu debit, pencetakan rekening koran, hingga pengaduan nasabah.
Namun demikian, layanan transaksi tertentu seperti valuta asing, SKNBI, dan RTGS biasanya tidak tersedia selama periode operasional terbatas. Untuk mendukung kebutuhan transaksi, nasabah tetap dapat mengakses layanan digital BRImo, internet banking, dan ATM yang beroperasi 24 jam.
Di sisi lain, Bank Mandiri juga melakukan penyesuaian dengan menutup sebagian kantor cabang selama libur Iduladha 27-28 Mei 2026. Perseroan diperkirakan hanya membuka beberapa cabang tertentu secara terbatas, sementara layanan Livin’ by Mandiri, internet banking, ATM, dan call center tetap dapat diakses penuh sepanjang hari.
Bank Sumsel Babel siapkan Rp1,2 triliun untuk dukung transaksi Idulfitri 1447 H di Sumsel dan Babel, dengan 596 ATM dan layanan digital untuk kelancaran nasabah [238] url asal
Bisnis.com, PALEMBANG - Bank Sumsel Babel menyiapkan likuiditas sebesar Rp1,2 triliun guna memastikan kelancaran transaksi nasabah selama periode Idulfitri 1447 Hijriah/2026, khususnya di wilayah Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung.
Kesiapan likuiditas tersebut didukung oleh jaringan layanan yang mencakup 596 mesin ATM, CRM, dan CDM yang tersebar di berbagai lokasi strategis. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan uang tunai seiring meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang dan selama perayaan Lebaran.
Perencanaan kebutuhan kas dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kapasitas pengisian mesin yang berkisar antara Rp400 juta hingga Rp800 juta per unit, dengan siklus pengisian hingga tiga kali dalam periode tujuh hari selama masa cuti bersama.
PPS Dirut Bank Sumsel Babel, Marzuki, menyampaikan bahwa penyediaan likuiditas ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menjaga kualitas layanan kepada nasabah, khususnya pada periode dengan intensitas transaksi yang meningkat.
“Bank Sumsel Babel berkomitmen untuk memastikan ketersediaan uang tunai di seluruh jaringan layanan tetap terjaga, sehingga nasabah dapat bertransaksi dengan lancar selama periode Idulfitri,” ujar Marzuki.
Selain memastikan kecukupan uang tunai, Bank Sumsel Babel juga mengoptimalkan layanan digital melalui BSB Mobile serta transaksi berbasis QRIS sebagai alternatif yang praktis, cepat, dan aman bagi masyarakat dalam melakukan berbagai transaksi non-tunai.
Bank Sumsel Babel berkomitmen menghadirkan layanan perbankan yang andal, adaptif, dan mudah diakses, termasuk melalui optimalisasi kanal digital selama periode libur Idulfitri.
Bank Sumsel Babel juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan digital secara optimal serta tetap bertransaksi secara bijak selama masa libur
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivitas keuangan masyarakat diperkirakan meningkat menjelang Idul Fitri. Pengiriman uang, pembayaran kebutuhan, hingga belanja di berbagai merchant membuat layanan perbankan digital menjadi andalan selama periode Lebaran.
Bank Mandiri menyiapkan layanan digitalnya untuk menghadapi lonjakan tersebut. Penguatan sistem dilakukan agar transaksi nasabah tetap berjalan lancar di tengah tingginya mobilitas masyarakat.
Senior Executive Vice President Information Technology Bank Mandiri Susilo Hardiyantono mengatakan peningkatan transaksi sudah menjadi pola rutin setiap Lebaran. Karena itu, kapasitas sistem dan infrastruktur diperkuat sejak awal.
“Kami memastikan layanan tetap stabil dan responsif agar nasabah bisa bertransaksi dengan nyaman,” ujarnya, dikutip Kamis (19/3/2026).
Bagi masyarakat, kemudahan transaksi tanpa harus datang ke kantor cabang menjadi kebutuhan penting, terutama saat mudik. Aplikasi Livin’ by Mandiri pun menjadi salah satu pilihan utama untuk berbagai transaksi harian.
Melalui aplikasi tersebut, nasabah dapat melakukan transfer antarbank, pembayaran tagihan, hingga top up dompet digital dan transaksi QRIS. Fitur pembelian tiket perjalanan juga dimanfaatkan pemudik untuk merencanakan perjalanan.
Selain itu, pengisian saldo kartu uang elektronik dapat dilakukan langsung dari ponsel. Layanan ini dinilai membantu pemudik saat melakukan pembayaran tol dan parkir tanpa hambatan.
Untuk mendukung kenyamanan, Bank Mandiri juga menyediakan layanan bantuan langsung melalui aplikasi. Nasabah dapat menghubungi call center tanpa biaya pulsa jika mengalami kendala saat bertransaksi.
Kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital ini terus meningkat. Hingga Februari 2026, jumlah pengguna Livin’ by Mandiri mencapai 38,5 juta dengan total 784 juta transaksi dan nilai transaksi sekitar Rp 802 triliun.
Menurut Susilo, capaian tersebut menunjukkan masyarakat semakin terbiasa menggunakan layanan digital dalam aktivitas keuangan sehari-hari. “Ini menjadi dasar bagi kami untuk terus memperkuat sistem agar mampu menangani volume transaksi yang besar,” katanya.
Di tengah padatnya arus mudik, layanan digital menjadi penopang utama transaksi masyarakat. Dengan akses yang cepat dan mudah, masyarakat dapat tetap memenuhi kebutuhan tanpa terhambat waktu dan lokasi.
BSI siapkan Rp16 triliun untuk penukaran uang Idulfitri 2026, tersebar di kantor cabang dan 6.000 ATM di Indonesia, dengan pecahan Rp50.000 dan Rp100.000. [282] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menyiapkan uang tunai sekitar Rp16 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H/2026 M.
Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna menyampaikan total dana Rp16 triliun itu akan tersebar di seluruh kantor cabang dan jaringan ATM BSI yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
“Penukaran uang kita siapkan seperti biasa, kalau tidak salah selama Lebaran itu Rp16 triliun,” ungkap Anton di sela-sela Peluncuran BSI Tabungan Umrah di BSI Tower, Jakarta, dikutip pada Selasa (24/2/2026).
BSI juga menyiagakan 6.000 ATM-nya untuk melayani masyarakat yang akan melakukan penarikan uang selama momentum Idulfitri. Dia memastikan operasional ATM di seluruh Indonesia tetap berjalan dengan baik.
Anton menambahkan, uang pecahan yang tersedia di ATM yakni Rp50.000 dan Rp100.000. Kendati begitu, BSI tidak menutup kemungkinan untuk menyiapkan uang pecahan Rp20.000 di sejumlah daerah.
“Rp50.000, Rp100.000, tapi tidak menutup kemungkinan kalau untuk beberapa tempat kita coba cari kemungkinan, mungkin di Rp20.000,” ungkapnya.
Selain itu, manajemen juga memastikan semua layanan perbankan tetap beroperasi dengan baik selama libur Lebaran berlangsung, dengan melakukan monitoring secara berkala.
Tahun lalu, BSI menyediakan uang tunai senilai Rp42,88 triliun guna memenuhi kebutuhan transaksi nasabah jelang Idulfitri. Nilai tersebut naik 14% dari penyediaan pada 2024.
Wakil Direktur Utama BSI Bob T. Ananta kala itu mengatakan nominal uang tunai yang disiapkan BSI tersebut telah disesuaikan dengan proyeksi kenaikan pengisian kas ATM sebesar 44,58% pada periode libur Idulfitri.
“Kami memperkirakan puncak transaksi tunai akan terjadi pada dua pekan terakhir menjelang Hari Raya Idulfitri hingga periode libur selesai,” kata Bob, dikutip dari laman resmi BSI, Selasa (24/2/2026).
Bisnis.com, JAKARTA — Penggunaan kartu ATM dan debit mengalami peningkatan di tengah masifnya adopsi layanan keuangan berbasis digital. Lantas seperti apa kondisinya di PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN)?
Per November 2025, Bank Indonesia (BI) melalui Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia (SPIP) mencatat peningkatan pada kartu ATM dan debit, baik secara volume maupun nilai transaksi.
Dalam laporannya, otoritas moneter mencatat volume transaksi kartu ATM dan debit tumbuh 5,38% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 554,85 juta dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 526,51 juta.
Sejalan dengan meningkatnya volume transaksi, nilai transaksi kartu ATM dan debit juga ikut meningkat signifikan sebesar 17,68% YoY menjadi Rp631,68 triliun. Pada November 2024, nilai transaksi kartu ATM dan debit mencapai Rp536,80 triliun.
Jumlah kartu ATM dan debit juga meningkat. Per November 2025, jumlah kartu ATM dan debit tumbuh 3,85% YoY menjadi 328,93 juta kartu, dari periode yang sama tahun lalu 316,74 juta kartu.
EVP Secretariat & Corporate Communication BCA Hera F. Haryn memandang, penggunaan kartu debit masih memiliki peranan penting dan menjadi pilihan masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan.
Dia mengungkapkan, jumlah kartu debit BCA mencapai 38 juta kartu hingga akhir Desember 2025, meningkat 4% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, nilai transaksi kartu debit BCA mencapai Rp182 triliun.
Melihat kondisi ini, Hera memperkirakan transaksi kartu debit masih akan terus tumbuh positif ke depannya. “Ini selaras dengan aktivitas transaksi nasabah yang terus meningkat dengan memanfaatkan kanal BCA yang beragam,” kata Hera kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (17/2/2026).
Sementara itu, Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya melihat dinamika ini sebagai refleksi dari perubahan perilaku nasabah yang semakin digital-first, tetapi tetap mempertahankan kebutuhan tertentu dengan kartu debit.
Secara umum, Ivan menuturkan bahwa jumlah transaksi finansial dari nasabah ritel Danamon meningkat terutama dari aplikasi mobile banking D-Bank PRO yang naik 35% YoY, yang terutama ditunjang oleh kenaikan transaksi QRIS.
Pada saat yang sama, jumlah transaksi kartu debit hanya tumbuh antara 3%—5%. Dalam hal ini, dia mengungkapkan terjadi penurunan jumlah transaksi domestik kartu debit lebih dari 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini kemudian diimbangi oleh kenaikan transaksi kartu debit di luar negeri sekitar empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Danamon mencatatkan kenaikan volume transaksi kartu debit yang mengalami pertumbuhan pada 2025, dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ini adalah pertanda bahwa nasabah semakin percaya diri menggunakan kartu debit untuk transaksi bernilai besar, meski jumlah transaksi tidak banyak bertambah namun rata-rata nilai per transaksi meningkat,” tutur Ivan kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (17/2/2026).
Selain itu, Ivan menuturkan bahwa pihaknya melihat adanya pergeseran pada volume transaksi luar negeri di Bank Danamon yang naik 195% YoY dibandingkan tahun sebelumnya seiring dengan banyaknya penggunaan kartu debit Danamon Global Currency Card.
Menurutnya, kondisi ini ditopang dengan faktor keamanan, kenyamanan, serta penerimaan luas kartu debit di merchant domestik maupun internasional.
Secara umum, Ivan menilai bahwa penggunaan kartu debit tetap relevan, kendati perannya bergeser menjadi alat pembayaran yang dipercaya untuk transaksi bernilai besar dan kebutuhan global.
Bank Danamon (BDMN) akan meningkatkan kinerja saat Ramadan-Lebaran 2026 dengan memperbanyak aktivitas luring dan menaikkan limit transaksi nasabah. [400] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Momen Lebaran 2026 atau Idulfitri 1447 H menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh banyak pihak, termasuk oleh perusahaan jasa keuangan. Momen tersebut juga akan dimanfaatkan oleh PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) untuk memperkuat bisnisnya.
Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya menyebutkan bahwa pihaknya mempunyai beberapa strategi dalam memanfaatkan momen Lebaran 2026, terutama dengan memperbanyak aktivitas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat secara luring.
“Karena Danamon sendiri tersebar di 350 cabang di seluruh Indonesia, hampir 200 kota di Indonesia. Jadi, kami mengadakan banyak aktivitas [luring],” ujar Ivan saat ditemui dalam konferensi pers Danamon dan Adira Finance di Indonesia International Motor Show 2026 di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Dia menyebut dua contoh spesifik dari aktivitas-aktivitas menjelang Lebaran tersebut, yaitu Danamon Mini Travel Fair dan sponsor terhadap IIMS 2026. Tahun ini merupakan tahun ke-5 Danamon hadir di IIMS.
Selain acara-acara luring, Transaction Banking Head Bank Danamon Edy Supriyanto menyatakan bahwa pihanya juga menambahkan batas atas atau limit transaksi nasabahnya pada momen Lebaran. Umumnya, menurut Edy, transaksi masyarakat melalui Danamon akan meningkat setiap tahunnya dalam masa Lebaran.
“Jadi, kita support agar customer-customer ini juga bisa meningkatkan omzetnya menjelang Lebaran,” jelasnya pada kesempatan yang sama.
Selain dari sisi Danamon sendiri, dia mengakui bahwa aktivitas transaksi masyarakat memang melonjak setiap momen Lebaran datang. Secara khusus, dia melihat adanya peningkatan yang besar dalam aktivitas industri otomotif, baik di sektor sepeda motor, mobil, hingga di industri suku cadang atau spare part.
Edy menilai bahwa hal tersebut terjadi karena banyak orang yang ingin pulang ke kampung halamannya dan pergi tamasya. Sebelum melakukan hal-hal tersebut, masyarakat akan banyak melakukan perawatan dan reparasi kendaraannya. Hal ini juga menjadi alasan Danamon menambah batasan transaksi untuk para nasabahnya yang merupakan pelaku usaha otomotif.
Ivan mengatakan hal-hal tersebut dilakukan untuk mendukung industri otomotif di Indonesia. Secara keseluruhan, program-program dari Danamon tersebut juga ditujukan agar para nasabah mereka semakin banyak melakukan aktivitas transaksi.
Sebagai catatan, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menargetkan penjualan mobil baru sebanyak 850.000 unit pada 2026, meningkat dari sekitar 800.000 penjualan pada tahun sebelumnya.
“Kami sendiri, kalau dari sisi bank, kami berusaha untuk semua aktivitas itu dijalankan dari awal tahun. Benar-benar dari awal tahun sampai dengan nanti Lebaran itu udah kita geber dari awal, termasuk untuk yang berjualan, KPM [Kredit Pemilikan Mobil] seperti ini ” tegas Ivan. (Laurensius Katon Kandela)
Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA meningkatkan ketersediaan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. [744] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank jumbo, seperti Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA, memperkuat ketersediaan uang tunai untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan masyarakat selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Berdasarkan hasil survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT), pergerakan masyarakat selama libur Nataru 2025/2026 akan mencapai 42,01% dari total penduduk atau sekitar 119,50 juta orang. Masyarakat yang lalu lalang pada periode ini meningkat 24,83 juta orang atau 26,22% dari Nataru tahun lalu, yang realisasinya mencapai 94,67 juta.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode libur panjang ini, bank-bank yang masuk dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti IV (KBMI IV) alias bank dengan modal inti di atas Rp70 triliun itu mengalokasikan uang tunai dengan jumlah yang beragam.
Bank Mandiri misalnya menyiapkan kebutuhan uang tunai secara net sebesar Rp 25 triliun, meningkat 5,8% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Sementara itu BRI mengalokasikan uang tunai senilai Rp21 triliun, lebih rendah dibandingkan realisasi kebutuhan uang tunai pada periode Nataru 2024 yang mencapai Rp21,5 triliun.
Lantas bagaimana kesiapan uang tunai di Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026? Berikut perinciannya:
1.Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mengalokasikan uang tunai secara net sebesar Rp25 triliun selama 33 hari sejak 1 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026. Nilai itu meningkat 5,8% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Dari total tersebut, sebagian akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian sekitar 12.958 Mandiri ATM/CRM yang mencapai sekitar Rp2 triliun.
Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista memperkirakan transaksi nasabah pada periode Natal dan Tahun Baru akan mengalami peningkatan. Untuk itu, perseroan meningkatkan alokasi uang tunai pada periode ini untuk memastikan seluruh jaringan perbankan siap melayani masyarakat selama periode puncak transaksi akhir tahun.
“Karena itu, kami memperkuat sinergi antara jaringan cabang dan layanan digital untuk menjaga ketersediaan uang tunai serta menghadirkan layanan transaksi yang lancar dan aman,” ujar Adhika dalam keterangannya.
Bank dengan logo pita emas ini juga mengoperasikan 12.958 unit ATM/CRM yang terhubung ke jaringan ATM Link, ATM Bersama, ATM Prima, dan Visa/Plus di seluruh Indonesia, dan 290 CSM. Perseroan juga telah menyiapkan lebih dari 307.000 jaringan EDC guna mendukung transaksi non-tunai.
2.BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mempersiapkan uang tunai sebesar Rp21 triliun untuk mengantisipasi kebutuhan transaksi selama delapan hari, mulai 25 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026.
Nilai uang tunai yang disiapkan perseroan lebih efisien seiring meningkatnya preferensi masyarakat untuk bertransaksi secara digital. Sebagai informasi, pada periode Nataru 2024 realisasi kebutuhan uang tunai BRI tercatat sebesar Rp21,5 triliun.
“Kami melihat pertumbuhan penggunaan layanan digital banking yang signifikan, sehingga kebutuhan uang tunai tidak lagi sebesar tahun-tahun sebelumnya,” kata Direktur Operations BRI Hakim Putratama.
Kendati begitu, perseroan tetap memastikan ketersediaan kas yang memadai agar kebutuhan transaksi masyarakat tetap terpenuhi selama periode Natal dan Tahun Baru.
BRI juga mengoptimalkan jaringan E-Channel sebagai bagian dari penguatan layanan transaksi elektronik. Hingga September 2025, BRI memiliki lebih dari 687 ribu unit e-channel yang mencakup ATM, CRM, dan jaringan merchant yang tersebar di berbagai lokasi strategis.
3.BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menyiapkan uang tunai sebesar Rp19,51 triliun untuk mengantisipasi peningkatan aktivitas transaksi selama 11 hari, mulai 22 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyampaikan kesiapan likuiditas ini difokuskan pada pengisian jaringan ATM dan Cash Recycling Machine (CRM), serta penyediaan kas di outlet kantor cabang agar layanan transaksi tunai tetap berjalan optimal sepanjang libur akhir tahun.
“BNI menyiapkan kecukupan uang tunai di jaringan ATM serta memastikan kesiapan operasional layanan perbankan selama periode Natal dan Tahun Baru agar kebutuhan masyarakat tetap terlayani dengan baik,” ujar Okki.
Adapun nasabah tetap dapat memanfaatkan jaringan ATM BNI yang tersebar luas serta berbagai kanal digital untuk memenuhi kebutuhan transaksi non-tunai.
4.BCA
Terakhir ada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengalokasikan uang tunai senilai Rp42,1 triliun pada periode Nataru. Proyeksi kebutuhan uang tunai selama periode Nataru kali ini dihitung untuk periode 21 Desember 2025 (H-4 Natal) hingga 4 Januari 2026.
Berdasarkan analisis internal, peningkatan kebutuhan uang tunai akan mulai terlihat pada 22 Desember 2025, dengan puncak transaksi tarik tunai pada 31 Desember 2025.
“BCA memastikan kesiapan layanan perbankan, baik melalui penyediaan uang tunai, berbagai produk, dan layanan agar nasabah dapat bertransaksi dengan aman dan nyaman selama periode libur Natal dan Tahun Baru,” kata Presiden Direktur BCA Hendra Lembong.
Hendra mengharapkan, ketersediaan uang tunai pada periode tersebut dapat mencukupi kebutuhan masyarakat dalam memenuhi berbagai keperluannya selama periode Nataru.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56