#30 tag 24jam
Cadangan Besar di Sumur Gas Geliga, Pemerintah Bidik Kurangi Impor
Pemerintah mengumumkan temuan cadangan gas dalam jumlah besar di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, yang berada di Cekungan Kutai, lepas pantai Kaltim. [1,446] url asal
#migas #sumur-gas #indepth #bahlil-lahadalia #ketahanan-energi #cadangan-gas
(Kompas.com - Money) 22/04/26 13:39
v/199117/
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah mengumumkan temuan cadangan gas dalam jumlah besar di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, yang berada di Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur.
Penemuan ini memperkuat optimisme terhadap potensi sumber daya migas nasional di tengah dinamika kebutuhan energi global dan domestik yang terus meningkat, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu wilayah prospektif untuk eksplorasi gas laut dalam.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan, cadangan yang ditemukan mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/Tcf) gas, serta tambahan 300 juta barrel kondensat.
KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).Temuan tersebut berasal dari wilayah kerja yang dioperasikan oleh perusahaan energi asal Italia, Eni.
“Eni baru mendapatkan satu wilayah kerja baru, giant, dari sumur Geliga yang menghasilkan 5 triliun kaki kubik untuk gas, dan kita mendapat kondensat kurang lebih sekitar 300 juta barrel minyak ekuivalen,” ungkap Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Temuan ini juga diumumkan secara resmi oleh Eni.
Dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Rabu (22/4/2026), perusahaan menyebut penemuan tersebut sebagai penemuan cadangan gas raksasa yang berada sekitar 70 kilometer dari pantai Kalimantan Timur.
Estimasi awal menunjukkan sumber daya gas sebesar 5 Tcf dan 300 juta barrel kondensat berada dalam interval reservoir yang ditembus sumur eksplorasi tersebut.
Dorongan terhadap ketahanan energi nasional
Penemuan ini dinilai sebagai sinyal positif dalam memperkuat pasokan energi nasional.
KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Pemerintah mengumumkan temuan cadangan gas dalam jumlah besar di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, yang berada di Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur.Di tengah tren global di mana banyak negara mulai memperketat pengelolaan cadangan energi mereka, temuan ini dipandang sebagai peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya domestik.
Menurut Bahlil, keberhasilan eksplorasi ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi besar di sektor minyak dan gas bumi (migas) yang dapat dioptimalkan untuk mendukung target swasembada energi.
“Di era kondisi dunia yang hampir semua sekarang menjaga cadangan mereka, sekali lagi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa (penemuan) ini anugerah yang diberikan, dan kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru,” tutur Bahlil.
Ia menekankan, upaya eksplorasi harus terus didorong, seiring dengan kebutuhan energi dalam negeri yang terus meningkat dan tantangan ketergantungan pada impor energi.
Detail teknis dan karakter reservoir
Secara teknis, sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman total sekitar 5.100 meter, dengan kedalaman air mencapai kurang lebih 2.000 meter.
Pada interval target berumur Miosen, sumur ini menemukan kolom gas yang signifikan dengan karakteristik petrofisika yang disebut memiliki kualitas sangat baik.
Eni juga menyatakan, uji alir sumur atau Drill Stem Test (DST) direncanakan untuk menilai produktivitas reservoir secara lebih akurat.
Hasil uji ini akan menjadi dasar dalam menentukan skema pengembangan lapangan ke depan.
Kompleksitas pengeboran di laut dalam, serta kualitas reservoir yang ditemukan, menjadi faktor penting yang mempengaruhi potensi komersial dari temuan tersebut.
Rekam jejak eksplorasi dan potensi kawasan
Penemuan Geliga-1 menjadi bagian dari rangkaian keberhasilan eksplorasi di Cekungan Kutai.
Thinkstock/iStock Ilustrasi minyak dan gas (migas)Sebelumnya, Eni telah menemukan cadangan besar di Geng North pada akhir 2023, yang lokasinya hanya sekitar 20 kilometer di selatan Geliga. Selain itu, penemuan juga dilakukan di sumur Konta-1 pada Desember 2025.
Menurut Eni, rangkaian hasil eksplorasi ini menegaskan potensi signifikan sistem gas di cekungan tersebut serta menunjukkan skalabilitas sumber daya di kawasan tersebut.
Dalam enam bulan terakhir, perusahaan juga telah mengebor empat sumur eksplorasi tambahan di cekungan yang sama.
Kampanye eksplorasi ini masih akan berlanjut dengan rencana pengeboran satu sumur tambahan pada 2026 dan dua sumur lainnya pada 2027.
Integrasi dengan proyek pengembangan gas
Penemuan Geliga-1 terjadi setelah diambilnya keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) untuk sejumlah proyek gas utama, yakni Gendalo dan Gandang (South Hub), serta Geng North dan Gehem (North Hub).
Dalam pengembangannya, proyek North Hub akan menggunakan fasilitas terapung berupa Floating Production Storage and Offloading (FPSO) baru dengan kapasitas mencapai 1 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) serta 90.000 barrel kondensat per hari (BPD).
Proyek ini juga akan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, termasuk Kilang LNG Bontang.
Analisis tambahan saat ini tengah dilakukan untuk mengevaluasi opsi percepatan pengembangan, dengan mempertimbangkan kedekatan lokasi temuan terhadap infrastruktur yang sudah ada maupun yang direncanakan.
Pendekatan ini dinilai berpotensi memberikan sinergi dari sisi waktu pengembangan (time-to-market) serta efisiensi biaya.
Potensi pengembangan hub baru
DOK. Humas Pertamina Ilustrasi kilang migas.Penemuan Geliga juga berdekatan dengan temuan gas Gula yang belum dikembangkan, yang diperkirakan memiliki sumber daya sekitar 2 Tcf gas dan 75 juta barrel kondensat.
Berdasarkan penilaian awal, kombinasi sumber daya dari Geliga dan Gula berpotensi menghasilkan tambahan produksi sebesar 1 BSCFD gas dan 80.000 barrel kondensat per hari.
Kondisi ini membuka kemungkinan pembentukan hub produksi ketiga di Cekungan Kutai dengan pendekatan pengembangan yang serupa dengan proyek North Hub.
Selain itu, studi juga tengah dilakukan untuk mengevaluasi potensi peningkatan kapasitas likuefaksi di Kilang LNG Bontang guna memperpanjang umur operasional fasilitas tersebut.
Proyeksi produksi dan peningkatan kapasitas
Pemerintah memproyeksikan bahwa produksi dari wilayah kerja yang dikelola Eni akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Pada 2028, produksi puncak diperkirakan mencapai sekitar 2.000 MMSCFD, meningkat dari level produksi saat ini yang berada di kisaran 600 sampai 700 MMSCFD.
Produksi tersebut ditargetkan terus meningkat hingga mencapai 3.000 MMSCFD pada 2030.
Selain gas, produksi kondensat juga diperkirakan mengalami peningkatan bertahap.
Pada 2028, produksi kondensat diproyeksikan mencapai sekitar 90.000 barrel per hari (bph), kemudian meningkat menjadi 150.000 bph pada periode 2029 sampai 2030.
“Selain gas, kita juga menemukan nanti di 2028, produksi kondensat itu kurang lebih sekitar 90.000 barrel, dan di 2029-2030 itu bisa tambah lagi menjadi 150.000 barrel,” ujar Bahlil.
Strategi pengurangan impor energi
Peningkatan produksi gas dan kondensat ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menekan ketergantungan terhadap impor energi, khususnya minyak mentah.
KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).Bahlil menyatakan, optimalisasi produksi dalam negeri akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi.
“Ini adalah strategi untuk bagaimana gas kita tidak impor dari negara manapun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri dan gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi, serta ini akan mengurangi impor crude (minyak mentah) kita dengan penambahan kondensat,” ucap dia.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan gas sebagai salah satu komponen penting dalam bauran energi nasional, sekaligus sebagai sumber energi yang relatif lebih rendah emisi dibandingkan bahan bakar fosil lainnya.
Struktur kepemilikan dan strategi korporasi
Penemuan Geliga-1 berada di wilayah kontrak kerja sama (Production Sharing Contract/PSC) Ganal, yang dioperasikan oleh Eni dengan kepemilikan sebesar 82 persen, sementara sisanya sebesar 18 persen dimiliki oleh Sinopec.
Blok Ganal merupakan bagian dari portofolio yang lebih luas, mencakup total 19 blok yang akan dikonsolidasikan ke dalam perusahaan patungan bernama Searah.
Perusahaan ini merupakan entitas yang dikendalikan bersama oleh Eni dan Petronas, sebagaimana diumumkan pada November 2025.
Searah dirancang untuk mengintegrasikan aset, keahlian teknis, serta kapasitas finansial guna mendukung pertumbuhan dan memperkuat posisi di kawasan Asia Tenggara.
Rencana bisnis perusahaan ini mencakup pengembangan sekitar 3 miliar barrel setara minyak (boe) dari sumber daya yang telah ditemukan, serta membuka potensi eksplorasi tambahan.
Proses penyelesaian transaksi pembentukan Searah ditargetkan rampung pada kuartal II 2026.
Selain itu, Eni juga tengah menjalankan proses divestasi sebagian kepemilikan sebesar 10 persen di portofolio Indonesia kepada pihak ketiga, yang diharapkan selesai pada 2026.
Penemuan sumur gas Geliga disebut menambah nilai strategis dalam proses tersebut.
Posisi Eni di Indonesia
Eni telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan saat ini memiliki portofolio hulu yang mencakup kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi.
Produksi bersih perusahaan mencapai sekitar 90.000 barrel setara minyak per hari, yang sebagian besar berasal dari lapangan Jangkrik dan Merakes di lepas pantai Kalimantan Timur.
Dengan adanya temuan baru di Geliga-1, portofolio tersebut semakin diperkuat, baik dari sisi cadangan maupun potensi produksi jangka panjang.
Dampak ekonomi yang diharapkan
Pemerintah mendorong agar temuan ini segera ditindaklanjuti ke tahap pengembangan produksi, sehingga manfaat ekonominya dapat segera dirasakan.
Peningkatan aktivitas di sektor hulu migas diharapkan dapat mendorong masuknya investasi baru, memperluas penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan penerimaan negara.
Selain itu, penguatan pasokan gas nasional juga dinilai penting untuk mendukung kebutuhan industri dan masyarakat, terutama dalam konteks pengembangan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam.
Temuan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengoptimalkan potensi migas nasional, dengan memanfaatkan momentum eksplorasi dan pengembangan yang tengah berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bahlil Umumkan Temuan Sumur Gas Jumbo di Blok Ganal Kaltim
Cadangan gas raksasa ditemukan di lepas pantai Kalimantan Timur. [634] url asal
#bahlil-lahadalia #menteri-esdm #sumur-gas #sumber-gas-bumi #hulu-migas #produksi-migas #lifting-gas #kementerian-esdm
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan angin segar datang dari pengelolaan hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Bahlil menyampaikan hasil eksplorasi sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur, mengungkap adanya potensi sumber daya gas sekitar lima triliun kaki kubik (trillion cubic feet/Tcf) serta 300 juta barel kondensat.
"Temuan ini berada di Wilayah Kerja (WK) Ganal yang dioperasikan Eni dengan porsi kepemilikan 82 persen, sementara 18 persen sisanya dimiliki Sinopec," ujar Bahlil saat konferensi pers terkait penemuan gas raksasa di Kalimantan Timur di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Bahlil menyampaikan temuan ini menjadi sinyal positif bagi upaya memperkuat pasokan energi dalam negeri di tengah kebutuhan yang terus meningkat. Ia mengatakan eksplorasi yang melibatkan perusahaan energi asal Italia, Eni, menegaskan potensi migas Indonesia masih sangat besar, khususnya di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur, yang terus menunjukkan prospek menjanjikan.
Bahlil menyampaikan apresiasi terhadap Eni atas keberhasilan penemuan tersebut dan menegaskan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi migas sebagai penopang ketahanan energi nasional dan upaya swasembada energi. Di tengah kondisi global saat banyak negara menjaga cadangan energi, Bahlil bersyukur atas temuan tersebut.
"Ini hasil eksplorasi dan setelah ini mereka juga akan melakukan pengembangan untuk melakukan eksplorasi dari beberapa wilayah lain selain wilayah Kalimantan Timur," ucap Bahlil.
Bahlil menjelaskan produksi puncak yang bisa dicapai Eni adalah sebesar 2.000 MMSCFD pada 2028 atau jauh meningkat dibandingkan dengan produksinya saat ini sekitar 600 hingga 700 MMSCFD. Ia meyakini produksi Eni akan terus ditingkatkan hingga pada 2030 menjadi 3.000 MMSCFD.
"Ini (penemuan) giant. Selain gas, kita juga menemukan nanti pada 2028 kita produksi kondensat itu kurang lebih sekitar 90 ribu barel dan pada 2029–2030 itu bisa bertambah lagi menjadi 150 ribu barel," ucap Bahlil.
Bahlil optimistis, seiring dengan meningkatnya produksi Eni, hal itu sejalan dengan strategi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gas dari dalam negeri. Peningkatan produksi kondensat juga akan mengurangi impor minyak. Ia menjelaskan Sumur Geliga dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter pada kedalaman air sekitar 2.000 meter.
Bahlil mengatakan penemuan ini memperpanjang catatan keberhasilan eksplorasi Eni di Cekungan Kutai, setelah sebelumnya menemukan cadangan besar di Geng North pada 2023 dan penemuan sumur Konta-1 pada 2025. Hasil penemuan ini menegaskan potensi signifikan sistem gas yang berada di cekungan tersebut serta stabilitas sumber daya di wilayah ini.
"Penemuan Geliga ini terjadi setelah keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) untuk sejumlah proyek gas, yakni Gendalo dan Gandang (South Hub), serta Geng North dan Gehem (North Hub)," lanjut Bahlil.
Untuk pengembangannya, sambung Bahlil, proyek North Hub akan menggunakan fasilitas terapung (floating production storage and offloading/FPSO) baru. Ia menyampaikan kapasitasnya mencapai 1 miliar kaki kubik gas per hari (billion standard cubic feet per day/bscfd) dan 90 ribu barel kondensat per hari (barrels per day/bpd).
"Selain itu, proyek ini juga akan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, termasuk Kilang LNG Bontang," sambung Bahlil.
Selain Sumur Geliga, Bahlil juga menyampaikan temuan sebelum sumur Geliga, yakni Sumur Gula, yang menghasilkan gas sekitar 2 Tcf dan 75 juta barel kondensat. Dari kedua sumur tersebut, estimasi awal kombinasi sumber daya Geliga dan Gula berpotensi menghasilkan tambahan produksi hingga 1.000 MMSCFD gas dan 80 ribu bpd kondensat.
"Selain berdampak pada peningkatan cadangan migas nasional, temuan gas jumbo di Blok Ganal juga membuka peluang percepatan pengembangan infrastruktur gas terintegrasi," ungkap Bahlil.
Bahlil mengatakan Eni saat ini tengah mengevaluasi skema pengembangan yang bersinergi dengan proyek North Hub serta fasilitas eksisting seperti Kilang LNG Bontang guna mempercepat monetisasi temuan dan mengoptimalkan nilai tambah bagi negara. Pemerintah, lanjut Bahlil, mendorong agar temuan ini dapat segera ditindaklanjuti menuju tahap pengembangan produksi.
"Langkah tersebut penting agar manfaat ekonominya segera dirasakan melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, penerimaan negara, serta penguatan pasokan gas nasional untuk kebutuhan industri dan masyarakat," kata Bahlil.
PetroChina Jabung umumkan uji produksi Sumur Gemah-81 berhasil
PetroChina International Jabung Ltd. (PCJL) mengumumkan keberhasilan pengeboran dan uji produksi awal Sumur Gemah-81 sekaligus mencatat efisiensi biaya yang ... [422] url asal
Sumur pengembangan tersebut telah menyelesaikan uji produksi pada 11 Februari 2026 dengan hasil yang sangat baik
Jakarta (ANTARA) - PetroChina International Jabung Ltd. (PCJL) mengumumkan keberhasilan pengeboran dan uji produksi awal Sumur Gemah-81 sekaligus mencatat efisiensi biaya yang signifikan dibandingkan estimasi awal proyek.
Dalam keterangan resmi PetroChina yang diterima di Jakarta, Sabtu, manajemen PetroChina menyampaikan keberhasilan tersebut merupakan kontribusi nyata sektor hulu migas dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Sumur pengembangan tersebut telah menyelesaikan uji produksi pada 11 Februari 2026 dengan hasil yang sangat baik.
Sumur Gemah-81 dirancang dengan tiga target reservoir, dengan target utama berada pada interval kedalaman 7.259–7.281 feet measured depth (MD).
Hasil pengujian menunjukkan performa produksi yang kuat. Sumur menghasilkan laju alir gas sebesar 4,8 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), serta produksi kondensat sekitar 400 barel per hari.
Capaian ini memperlihatkan potensi reservoir yang solid dan menambah pasokan energi domestik di tengah kebutuhan nasional yang terus meningkat.
Gas dan kondensat dari sumur tersebut segera dialirkan ke fasilitas produksi eksisting Gemah Station dalam waktu sekitar dua minggu melalui pemasangan pipa sepanjang kurang lebih 300 meter.
Integrasi cepat ke infrastruktur yang sudah tersedia memungkinkan percepatan monetisasi produksi sekaligus mendukung kesinambungan suplai energi tanpa pembangunan fasilitas besar tambahan.
Selain keberhasilan teknis, proyek ini juga menonjol dari sisi efisiensi operasional.
Kegiatan pengeboran berlangsung aman tanpa insiden keselamatan kerja dengan realisasi biaya sekitar 5,32 juta dolar AS atau setara dengan 85 persen dari Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui oleh SKK Migas.
“Disiplin biaya tersebut mencerminkan optimalisasi desain pengeboran, perencanaan matang, dan koordinasi operasional yang efektif,” tulis manajemen.
Efisiensi dan kinerja produksi Gemah-81 dinilai selaras dengan agenda nasional untuk meningkatkan produksi migas domestik sebagai fondasi ketahanan energi.
Dalam konteks transisi energi, gas bumi tetap memegang peran strategis sebagai sumber energi yang andal dan relatif lebih bersih, sehingga pengembangan lapangan gas menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan energi Indonesia.
Keberhasilan ini juga menjadi pijakan bagi program pengeboran lanjutan. Dalam waktu dekat, PCJL akan melanjutkan pengeboran dua sumur tambahan yaitu Gemah-85 dan NEB-85 ST guna menjaga momentum peningkatan produksi.
Langkah tersebut memperlihatkan komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung stabilitas pasokan energi nasional.
Dengan kombinasi performa teknis yang kuat, standar keselamatan yang terjaga, serta efisiensi biaya, sumur Gemah-81 menjadi contoh operasi hulu migas yang dapat memberikan dampak langsung terhadap ketahanan energi nasional.
“Capaian ini memperkuat optimisme bahwa pengelolaan sumber daya domestik yang efektif dapat menjadi pilar penting bagi kemandirian energi Indonesia di masa depan,” tulis manajemen PetroChina.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56