Cadangan Besar di Sumur Gas Geliga, Pemerintah Bidik Kurangi Impor

Cadangan Besar di Sumur Gas Geliga, Pemerintah Bidik Kurangi Impor

Pemerintah mengumumkan temuan cadangan gas dalam jumlah besar di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, yang berada di Cekungan Kutai, lepas pantai Kaltim.

(Kompas.com) 22/04/26 13:39 199117

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah mengumumkan temuan cadangan gas dalam jumlah besar di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, yang berada di Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur.

Penemuan ini memperkuat optimisme terhadap potensi sumber daya migas nasional di tengah dinamika kebutuhan energi global dan domestik yang terus meningkat, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu wilayah prospektif untuk eksplorasi gas laut dalam.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan, cadangan yang ditemukan mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/Tcf) gas, serta tambahan 300 juta barrel kondensat.

KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Temuan tersebut berasal dari wilayah kerja yang dioperasikan oleh perusahaan energi asal Italia, Eni.

“Eni baru mendapatkan satu wilayah kerja baru, giant, dari sumur Geliga yang menghasilkan 5 triliun kaki kubik untuk gas, dan kita mendapat kondensat kurang lebih sekitar 300 juta barrel minyak ekuivalen,” ungkap Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Temuan ini juga diumumkan secara resmi oleh Eni.

Dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Rabu (22/4/2026), perusahaan menyebut penemuan tersebut sebagai penemuan cadangan gas raksasa yang berada sekitar 70 kilometer dari pantai Kalimantan Timur.

Estimasi awal menunjukkan sumber daya gas sebesar 5 Tcf dan 300 juta barrel kondensat berada dalam interval reservoir yang ditembus sumur eksplorasi tersebut.

Dorongan terhadap ketahanan energi nasional

Penemuan ini dinilai sebagai sinyal positif dalam memperkuat pasokan energi nasional.

KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Pemerintah mengumumkan temuan cadangan gas dalam jumlah besar di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, yang berada di Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur.

Di tengah tren global di mana banyak negara mulai memperketat pengelolaan cadangan energi mereka, temuan ini dipandang sebagai peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya domestik.

Menurut Bahlil, keberhasilan eksplorasi ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi besar di sektor minyak dan gas bumi (migas) yang dapat dioptimalkan untuk mendukung target swasembada energi.

“Di era kondisi dunia yang hampir semua sekarang menjaga cadangan mereka, sekali lagi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa (penemuan) ini anugerah yang diberikan, dan kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru,” tutur Bahlil.

Ia menekankan, upaya eksplorasi harus terus didorong, seiring dengan kebutuhan energi dalam negeri yang terus meningkat dan tantangan ketergantungan pada impor energi.

Detail teknis dan karakter reservoir

Secara teknis, sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman total sekitar 5.100 meter, dengan kedalaman air mencapai kurang lebih 2.000 meter.

Pada interval target berumur Miosen, sumur ini menemukan kolom gas yang signifikan dengan karakteristik petrofisika yang disebut memiliki kualitas sangat baik.

Eni juga menyatakan, uji alir sumur atau Drill Stem Test (DST) direncanakan untuk menilai produktivitas reservoir secara lebih akurat.

Hasil uji ini akan menjadi dasar dalam menentukan skema pengembangan lapangan ke depan.

Kompleksitas pengeboran di laut dalam, serta kualitas reservoir yang ditemukan, menjadi faktor penting yang mempengaruhi potensi komersial dari temuan tersebut.

Rekam jejak eksplorasi dan potensi kawasan

Penemuan Geliga-1 menjadi bagian dari rangkaian keberhasilan eksplorasi di Cekungan Kutai.

Thinkstock/iStock Ilustrasi minyak dan gas (migas)

Sebelumnya, Eni telah menemukan cadangan besar di Geng North pada akhir 2023, yang lokasinya hanya sekitar 20 kilometer di selatan Geliga. Selain itu, penemuan juga dilakukan di sumur Konta-1 pada Desember 2025.

Menurut Eni, rangkaian hasil eksplorasi ini menegaskan potensi signifikan sistem gas di cekungan tersebut serta menunjukkan skalabilitas sumber daya di kawasan tersebut.

Dalam enam bulan terakhir, perusahaan juga telah mengebor empat sumur eksplorasi tambahan di cekungan yang sama.

Kampanye eksplorasi ini masih akan berlanjut dengan rencana pengeboran satu sumur tambahan pada 2026 dan dua sumur lainnya pada 2027.

Integrasi dengan proyek pengembangan gas

Penemuan Geliga-1 terjadi setelah diambilnya keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) untuk sejumlah proyek gas utama, yakni Gendalo dan Gandang (South Hub), serta Geng North dan Gehem (North Hub).

Dalam pengembangannya, proyek North Hub akan menggunakan fasilitas terapung berupa Floating Production Storage and Offloading (FPSO) baru dengan kapasitas mencapai 1 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) serta 90.000 barrel kondensat per hari (BPD).

Proyek ini juga akan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, termasuk Kilang LNG Bontang.

Analisis tambahan saat ini tengah dilakukan untuk mengevaluasi opsi percepatan pengembangan, dengan mempertimbangkan kedekatan lokasi temuan terhadap infrastruktur yang sudah ada maupun yang direncanakan.

Pendekatan ini dinilai berpotensi memberikan sinergi dari sisi waktu pengembangan (time-to-market) serta efisiensi biaya.

Potensi pengembangan hub baru

DOK. Humas Pertamina Ilustrasi kilang migas.

Penemuan Geliga juga berdekatan dengan temuan gas Gula yang belum dikembangkan, yang diperkirakan memiliki sumber daya sekitar 2 Tcf gas dan 75 juta barrel kondensat.

Berdasarkan penilaian awal, kombinasi sumber daya dari Geliga dan Gula berpotensi menghasilkan tambahan produksi sebesar 1 BSCFD gas dan 80.000 barrel kondensat per hari.

Kondisi ini membuka kemungkinan pembentukan hub produksi ketiga di Cekungan Kutai dengan pendekatan pengembangan yang serupa dengan proyek North Hub.

Selain itu, studi juga tengah dilakukan untuk mengevaluasi potensi peningkatan kapasitas likuefaksi di Kilang LNG Bontang guna memperpanjang umur operasional fasilitas tersebut.

Proyeksi produksi dan peningkatan kapasitas

Pemerintah memproyeksikan bahwa produksi dari wilayah kerja yang dikelola Eni akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Pada 2028, produksi puncak diperkirakan mencapai sekitar 2.000 MMSCFD, meningkat dari level produksi saat ini yang berada di kisaran 600 sampai 700 MMSCFD.

Produksi tersebut ditargetkan terus meningkat hingga mencapai 3.000 MMSCFD pada 2030.

Selain gas, produksi kondensat juga diperkirakan mengalami peningkatan bertahap.

Pada 2028, produksi kondensat diproyeksikan mencapai sekitar 90.000 barrel per hari (bph), kemudian meningkat menjadi 150.000 bph pada periode 2029 sampai 2030.

“Selain gas, kita juga menemukan nanti di 2028, produksi kondensat itu kurang lebih sekitar 90.000 barrel, dan di 2029-2030 itu bisa tambah lagi menjadi 150.000 barrel,” ujar Bahlil.

Strategi pengurangan impor energi

Peningkatan produksi gas dan kondensat ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menekan ketergantungan terhadap impor energi, khususnya minyak mentah.

KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Bahlil menyatakan, optimalisasi produksi dalam negeri akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi.

“Ini adalah strategi untuk bagaimana gas kita tidak impor dari negara manapun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri dan gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi, serta ini akan mengurangi impor crude (minyak mentah) kita dengan penambahan kondensat,” ucap dia.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan gas sebagai salah satu komponen penting dalam bauran energi nasional, sekaligus sebagai sumber energi yang relatif lebih rendah emisi dibandingkan bahan bakar fosil lainnya.

Struktur kepemilikan dan strategi korporasi

Penemuan Geliga-1 berada di wilayah kontrak kerja sama (Production Sharing Contract/PSC) Ganal, yang dioperasikan oleh Eni dengan kepemilikan sebesar 82 persen, sementara sisanya sebesar 18 persen dimiliki oleh Sinopec.

Blok Ganal merupakan bagian dari portofolio yang lebih luas, mencakup total 19 blok yang akan dikonsolidasikan ke dalam perusahaan patungan bernama Searah.

Perusahaan ini merupakan entitas yang dikendalikan bersama oleh Eni dan Petronas, sebagaimana diumumkan pada November 2025.

Searah dirancang untuk mengintegrasikan aset, keahlian teknis, serta kapasitas finansial guna mendukung pertumbuhan dan memperkuat posisi di kawasan Asia Tenggara.

Rencana bisnis perusahaan ini mencakup pengembangan sekitar 3 miliar barrel setara minyak (boe) dari sumber daya yang telah ditemukan, serta membuka potensi eksplorasi tambahan.

Proses penyelesaian transaksi pembentukan Searah ditargetkan rampung pada kuartal II 2026.

Selain itu, Eni juga tengah menjalankan proses divestasi sebagian kepemilikan sebesar 10 persen di portofolio Indonesia kepada pihak ketiga, yang diharapkan selesai pada 2026.

Penemuan sumur gas Geliga disebut menambah nilai strategis dalam proses tersebut.

Posisi Eni di Indonesia

Eni telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan saat ini memiliki portofolio hulu yang mencakup kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi.

Produksi bersih perusahaan mencapai sekitar 90.000 barrel setara minyak per hari, yang sebagian besar berasal dari lapangan Jangkrik dan Merakes di lepas pantai Kalimantan Timur.

Dengan adanya temuan baru di Geliga-1, portofolio tersebut semakin diperkuat, baik dari sisi cadangan maupun potensi produksi jangka panjang.

Dampak ekonomi yang diharapkan

Pemerintah mendorong agar temuan ini segera ditindaklanjuti ke tahap pengembangan produksi, sehingga manfaat ekonominya dapat segera dirasakan.

Peningkatan aktivitas di sektor hulu migas diharapkan dapat mendorong masuknya investasi baru, memperluas penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan penerimaan negara.

Selain itu, penguatan pasokan gas nasional juga dinilai penting untuk mendukung kebutuhan industri dan masyarakat, terutama dalam konteks pengembangan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Temuan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengoptimalkan potensi migas nasional, dengan memanfaatkan momentum eksplorasi dan pengembangan yang tengah berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#migas #sumur-gas #indepth #bahlil-lahadalia #ketahanan-energi #cadangan-gas

https://money.kompas.com/read/2026/04/22/133914826/cadangan-besar-di-sumur-gas-geliga-pemerintah-bidik-kurangi-impor