JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia terus menghadapi tantangan klasik, yaitu bagaimana memastikan seluruh masyarakat (baik di kota-kota besar, daerah terpencil, perbatasan, atau pulau-pulau kecil) menerima layanan kesehatan yang cepat dan akurat.
Kesulitannya tidak hanya terletak pada pembangunan fasilitas yang memadai, tetapi juga memastikan bahwa kemampuan diagnostik menjangkau daerah-daerah di mana sumber daya dokter spesialis masih sangat terbatas.
Tantangan tersebut tidak hanya dihadapi oleh Indonesia. Menurut Senior Vice President and Global Business Leader for UltrasoundPhilips Jeff Cohen, sistem kesehatan di seluruh dunia menghadapi tekanan akibat meningkatnya jumlah pasien dan rumitnya kasus penyakit, sementara ketersediaan tenaga kesehatan belum selalu sebanding dengan kebutuhan tersebut.
“Burnout dan kekurangan tenaga kesehatan mungkin adalah tantangan terbesar yang kami dengar secara global,” ujar Jeff dalam kunjungannya ke Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Meskipun demikan, Jeff memandang bahwa Indonesia juga merupakan salah satu peluang yang paling nyata untuk menunjukkan bagaimana inovasi, khususnya dalam pencitraan diagnostik, dapat mempercepat akses layanan dan memperkuat pemerataan sistem kesehatan.
Mendekatkan akses kesehatan lewat teknologi diagnostik canggih
Pada awal 2026, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menyebutkan bahwa cakupan jaminan kesehatan di Indonesia terus menguat dengan 98 persen penduduk atau sekitar 282,7 juta jiwa telah terdaftar dalam BPJS Kesehatan.
Dengan begitu, Indonesia telah mencapai Universal Health Coverage (UHC) serta memenuhi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Capaian itu didukung oleh 31 provinsi serta 397 kabupaten/kota yang telah mendaftarkan minimal 98 persen penduduknya.
Namun demikian, World Health Organization (WHO) mencatat bahwa tantangan terbesar dalam layanan kesehatan di Indonesia masih berada pada penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes, yang dipengaruhi oleh rendahnya tingkat deteksi dan pengobatan serta belum meratanya distribusi tenaga kesehatan, khususnya di daerah pedesaan.
Hal tersebut juga dipertegas oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin. Pada laman resmi Kementerian Kesehatan, ia menyampaikan bahwa akses, kualitas, dan keterjangkauan layanan kesehatan masih menjadi tantangan utama dalam sistem kesehatan Indonesia.
Per Juni 2025, dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia, baru sekitar 80 daerah yang memiliki layanan penyakit katastropik dengan standar setara ibu kota.
Pada konteks ini, Jeff menekankan bawah teknologi ultrasound memiliki peran penting karena teknologi ini dapat memberikan informasi klinis secara cepat, akurat, dan menjangkau berbagai fasilitas kesehatan seperti klinik atau rumah sakit.
“Tujuan kami adalah menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik bagi lebih banyak orang, di mana pun mereka berada,” kata Jeff kepada Kompas.com.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin mendesak, mengingat tingginya angka penyakit tidak menular di Indonesia, termasuk stroke dan penyakit jantung, dua penyebab utama kematian di negara ini. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan hasil perawatan pasien.
AI sebagai katalisator untuk diagnosis yang lebih cepat dan konsisten
Philips telah mengintegrasikan artificial intelligence (AI) dalam sistem ultrasound untuk membantu para tenaga kesehatan bekerja secara lebih efisien sekaligus memastikan kualitas hasil pemeriksaan tetap konsisten.
AI mengotomatiskan langkah-langkah rutin seperti pengukuran dan analisis citra sehingga mengurangi waktu pemeriksaan serta membantu penggunanya, terlepas dari tingkat pengalaman mereka demi memperoleh hasil yang lebih andal dan konsisten.
Pada kasus serangan jantung, contohnya, AI dapat membantu mempersingkat waktu pemeriksaan hingga sekitar 50 persen sehingga para tenaga kesehatan dapat lebih fokus pada perawatan pasien daripada mengurus tugas administratif.
Jeff menekankan bahwa pendekatan Philips terhadap pengembangan AI bersifat bertanggung jawab dan berfokus pada tenaga kesehatan.
dok. Philips Perangkat ultrasound genggam dari Philips dirancang untuk menghadirkan kemampuan diagnostik langsung di tangan tenaga kesehatanModel AI tersebut dilatih menggunakan kumpulan data yang telah divalidasi dari berbagai wilayah geografis untuk memastikan akurasinya pada beragam populasi.
Philips juga bekerja sama dengan mitra teknologi global, termasuk NVIDIA, untuk memperkuat kemampuan komputasi dan pemrosesan citra melalui teknologi graphics processing unit (GPU).
“Tenaga kesehatan adalah jantung dari siklus inovasi kami. Masukan mereka membentuk pengembangan solusi kami. Banyak fitur terbaik kami berasal langsung dari apa yang dibutuhkan oleh para tenaga kesehatan di lapangan,” ujarnya.
Salah satu hasilnya adalah perangkat ultrasound genggam yang dirancang untuk menghadirkan kemampuan diagnostik langsung di tangan tenaga kesehatan. Sistem portabel ini cocok untuk lokasi terpencil atau fasilitas dengan infrastruktur yang terbatas.
Ultrasound genggam itu juga mendukung deteksi komplikasi kehamilan lebih dini. Teknologi ini dibutuhkan di Indonesia sebab menurut data Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) pada 2025, angka kematian ibu masih berada di sekitar 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Solusi relevan untuk negara kepulauan: konektivitas dan dukungan secara real-time
Karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat teknologi yang portabel, mudah digunakan, dan mendukung penggunaan di daerah terpencil menjadi krusial.
Fitur tele-ultrasound memungkinkan tenaga kesehatan di daerah terpencil terhubung dengan pakar di kota besar secara real-time sehingga kualitas diagnosis tetap terjaga serta dapat langsung memperoleh panduan dari spesialis.
Model itu tidak hanya memperluas jangkauan spesialis, tetapi juga membantu memperkuat kapasitas tenaga kesehatan lokal dengan pembelajaran yang berkelanjutan.
Dari inovasi global ke dampak lokal
Jeff menegaskan bahwa tansformasi layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, melainkan, harus dipadukan dengan solusi yang relevan secara lokal.
Hal itu yang menjadi alasan di balik kemitraan baru Philips dengan PT PHC Indonesia dan PT Graha Teknomedika, dalam produksi sistem ultrasound dan patient monitor secara lokal di Indonesia.
dok. Philips Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Philips dengan PT PHC Indonesia dan PT Graha Teknomedika dalam produksi sistem ultrasound dan patient monitor secara lokal di Indonesia.“Kita hidup di dunia yang semakin terglobalisasi sekaligus terlokalisasi. Untuk relevan di pasar seperti Indonesia, kami perlu membangun kehadiran lokal,” ujarnya.
Produksi lokal membantu memastikan solusi dapat tersedia lebih cepat, lebih selaras dengan kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia, dan mendukung kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pemerintah. Inisiatif ini juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan keterampilan, serta ekosistem perangkat kesehatan nasional yang lebih kuat.
Komitmen jangka panjang untuk sistem kesehatan yang keberlanjutan
Philips telah hadir di Indonesia selama puluhan tahun, dengan lebih dari 3.900 karyawan di 12 kota serta fasilitas produksi di Batam. Jeff mengatakan, kehadiran sejak lama ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk bekerja sama dengan tenaga dan institusi kesehatan Indonesia dalam membangun ekosistem kesehatan yang tangguh.
Selain inovasi AI dan teknologi diagnostik, Philips terus memajukan pengembangan produk berkelanjutan, mulai dari sistem yang lebih hemat energi hingga penggunaan materi yang lebih aman, serta inisiatif ekonomi sirkular seperti perbaikan dan guna ulang perangkat.
Menurut Jeff, ultrasound sendiri merupakan teknologi yang relatif hemat energi, menjadikannya sebagai perangkat penting untuk mendukung layanan kesehatan yang berkelanjutan.
“Layanan kesehatan bukan sebatas industri teknologi. Hal tersebut adalah komitmen jangka panjang kami untuk orang-orang yang kami layani,” kata Jeff.
Menuju layanan kesehatan yang lebih inklusif dan merata
Seiring upaya Indonesia untuk memperluas akses layanan kesehatan di seluruh negeri, kombinasi antara inovasi teknologi diagnostik, kolaborasi dengan tenaga kesehatan, serta kemampuan manufaktur lokal akan memainkan peran penting dalam memperkuat ketahanan sistem.
Bagi Philips, Indonesia bukan hanya pasar yang berkembang. Indonesia adalah negara referensi, tempat inovasi global dan kemitraan lokal bersatu untuk menciptakan dampak nyata dan terukur.