SKKL Rising 8 resmi beroperasi, meningkatkan konektivitas digital Indonesia-Singapura dengan jalur kabel laut sepanjang 1.128,5 km, mendukung transformasi digital. [687] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - PT Ketrosden Triasmitra Tbk. (IDX: KETR) dan PT Ekamas Mora Republik Tbk. (“MoraRepublic” atau IDX: MORA) menggelar seremoni pengoperasian Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8, setelah berhasil dibangun pada Mei 2026.
Direktur Utama & CEO PT Ketrosden Triasmitra Tbk. Titus Dondi Patria mengatakan pengoperasian SKKL Rising 8 menambah pilihan jalur konektivitas di koridor Indonesia-Singapura, salah satu rute digital tersibuk di Asia Tenggara.
"Rising 8 kini sudah ready for service. Kami yakin Rising 8 akan jadi pilihan yang solid bagi pelanggan yang membutuhkan koneksi andal baik di dalam maupun ke luar negeri. Ini merupakan hasil kerja sama tim selama beberapa tahun terakhir, yang dimulai dari perencanaan, penggelaran, hingga testing dan commissioning,” kata Titus, Rabu (17/6).
Dia menjelaskan segmen yang sudah tergelar adalah segmen pertama Jakarta - Batam, sedangkan segmen Batam-Singapura akan menjadi proyek berikutnya. Sistem itu telah melewati fase testing dan commissioning serta siap melayani kebutuhan konektivitas digital Indonesia.
Titus menegaskan Rising 8 merupakan sistem kabel laut sepanjang 1.128,5 kilometer yang menghubungkan Jakarta (Tanjung Pakis) - Batam (Tanjung Bemban) hingga ekstensi ke Singapura.
SKKL ini menggunakan teknologi repeatered system dan telah tersedia untuk operator telekomunikasi serta enterprise yang membutuhkan jalur konektivitas berkualitas tinggi.
Menurutnya, ketersediaan jalur alternatif ini penting untuk redundansi jaringan dan kontinuitas pelayanan, terutama bagi operator dan perusahaan yang menjalankan aplikasi kritis untuk operasional.
“Dan pada proyek Rising 8 inilah untuk pertama kalinya kami melakukan penggelaran SKKL secara mandiri dari sejak perizinan, penggunaan kapal, sampai tenaga ahlinya, sehingga kami sangat percaya diri untuk menggarap proyek-proyek penggelaran SKKL berikutnya." ujar Titus.
SKKL Rising 8 menggunakan kabel bawah laut dari Prysmian Group, melalui pabrik produksinya, yaitu Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW), Jerman, produsen global dengan pengalaman lebih dari 125 tahun dalam teknologi kabel submarine, dan terintegrasi dengan repeater berkualitas tinggi terbaik di kelasnya, yang dirancang untuk mendukung kapasitas minimum 400 Tbps.
Sebagai pendukung ekosistem jaringan konektivitas, Rising 8 akan terintegrasi dengan Nusantara Data Center (NDC) MoraRepublic yang terletak di Tanjung Bemban-Batam, dengan sertifikasi Tier-3 dari American National Standard Institute/Telecommunications Industry Association.
Disamping itu, titik pendaratan utama Rising 8 di Jakarta juga dilengkapi dengan fasilitas Cable Landing Station dan Data Center di Tanjung Pakis yang dimiliki oleh Triasmitra dengan spesifikasi Tier-3 concurrently maintainable yang memungkinkan pemeliharaan infrastruktur dilakukan tanpa mengganggu kontinuitas layanan.
Direktur Utama dan CEO PT Ekamas Mora Republik, Tbk. Timotius Max Sulaiman menambahkan penyelesaian penggelaran segmen Jakarta-Batam merupakan langkah penting dalam upaya membangun infrastruktur digital yang mampu mendukung kebutuhan Indonesia pada masa depan.
“Infrastruktur telekomunikasi yang kuat tidak hanya meningkatkan kualitas konektivitas, tetapi juga menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi digital dan percepatan pemerataan akses digital di Indonesia, sehingga memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan dunia usaha di berbagai wilayah. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat transformasi digital nasional,” kata Timotius.
Dia mengharapkan kehadiran Rising 8 bisa meningkatkan kualitas layanan digital untuk masyarakat Indonesia.
Dengan kapasitas besar, aktivitas seperti transaksi perbankan, belanja online, pembelajaran daring, hingga bekerja dan berkomunikasi dari rumah dapat berjalan lebih lancar dengan meminimalkan gangguan konektivitas.
Rising 8 melengkapi ekosistem konektivitas yang sudah ada dengan menyediakan keragaman jalur untuk lalu lintas Indonesia-Singapura.
Bagi operator yang sudah menggunakan jalur existing, Rising 8 dapat berfungsi sebagai cadangan atau untuk pembagian beban. Bagi perusahaan, ketersediaan jalur ganda berarti risiko downtime yang lebih rendah. Hal ini berarti mengurangi risiko putusnya layanan yang dapat menghambat kegiatan sehari-hari yang semakin bergantung pada koneksi internet.
Target market Rising 8 mencakup operator telekomunikasi, Penyedia Layanan Internet (ISP), penyedia konten, dan perusahaan dengan kebutuhan bandwidth tinggi seperti layanan keuangan, penyedia cloud, dan operator data center.
Rute SKKL termasuk strategis karena Singapura merupakan pusat digital regional dengan konsentrasi tinggi data center dan infrastruktur cloud.
Dengan beroperasinya Rising 8, Triasmitra dan MoraRepublic memperkuat posisinya di pasar konektivitas internasional.
Kedua perusahaan melihat potensi pertumbuhan yang baik mengingat meningkatnya permintaan bandwidth di koridor Indonesia–Singapura, yang didorong oleh perluasan layanan cloud, digitalisasi perusahaan, dan pertumbuhan layanan digital.
Timotius juga berharap kehadiran Rising 8 tidak hanya membangun konektivitas, tetapi juga mendorong dampak berkelanjutan melalui percepatan pemerataan akses digital di Indonesia, penguatan daya saing ekonomi, serta pengembangan ekosistem digital yang makin terintegrasi dan inklusif.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - PT Ketrosden Triasmitra, Tbk (IDX: KETR) dan PT Ekamas Mora Republik, Tbk (MoraRepublic atau IDX: MORA) berhasil membangun Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8 pada bulan Mei 2026 lalu. Pada Rabu (17/6/2026) telah dilakukan seremonial pengoperasian SKKL tersebut yang dihadiri oleh para pelaku usaha telekomunikasi.
Segmen yang sudah tergelar adalah segmen pertama Jakarta - Batam, sedangkan segmen Batam - Singapura akan menjadi proyek berikutnya. Sistem ini telah melewati fase testing dan commissioning serta siap melayani kebutuhan konektivitas Digital Indonesia.
Rising 8 merupakan sistem kabel laut sepanjang 1.128,5 kilometer yang menghubungkan Jakarta (Tanjung Pakis) – Batam (Tanjung Bemban) hingga ekstensi ke Singapura. SKKL ini menggunakan teknologi repeatered system dan telah tersedia untuk operator telekomunikasi serta enterprise yang membutuhkan jalur konektivitas berkualitas tinggi.
Beroperasinya Rising 8 menambah pilihan jalur konektivitas di koridor Indonesia-Singapura, salah satu rute digital tersibuk di Asia Tenggara. Ketersediaan jalur alternatif ini penting untuk redundansi jaringan dan kontinuitas pelayanan, terutama bagi operator dan perusahaan yang menjalankan aplikasi kritis untuk operasional.
"Rising 8 kini sudah ready for service. Kami yakin Rising 8 akan jadi pilihan yang solid bagi pelanggan yang membutuhkan koneksi andal baik di dalam maupun ke luar negeri. Ini merupakan hasil kerja sama tim selama beberapa tahun terakhir, yang di mulai dari perencanaan, penggelaran, hingga testing dan commissioning. Dan pada proyek Rising 8 inilah untuk pertama kalinya kami melakukan penggelaran SKKL secara mandiri dari sejak perizinan, penggunaan kapal, sampai tenaga ahlinya. Sehingga kami sangat percaya diri untuk menggarap proyek-proyek penggelaran SKKL berikutnya," ujar Titus Dondi Patria, Direktur Utama dan CEO PT Ketrosden Triasmitra, Tbk.
Sistem komunikasi kabel bawah laut Rising 8 menggunakan kabel bawah laut dari Prysmian Group, melalui pabrik produksinya, yaitu Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW), Jerman, produsen global dengan pengalaman lebih dari 125 tahun dalam teknologi kabel submarine, dan terintegrasi dengan repeater berkualitas tinggi terbaik di kelasnya, yang dirancang untuk mendukung kapasitas minimum 400 Tbps.
Sebagai pendukung ekosistem jaringan konektivitas, Rising 8 akan terintegrasi dengan Nusantara Data Center (NDC) MoraRepublic yang terletak di Tanjung Bemban – Batam, dengan sertifikasi Tier-3 dari American National Standard Institute/Telecommunications Industry Association. Disamping itu, titik pendaratan utama Rising 8 di Jakarta juga dilengkapi dengan fasilitas Cable Landing Station dan Data Center di Tanjung Pakis yang dimiliki oleh Triasmitra dengan spesifikasi Tier-3 concurrently maintainable yang memungkinkan pemeliharaan infrastruktur dilakukan tanpa mengganggu kontinuitas layanan.
“Penyelesaian penggelaran segmen Jakarta–Batam merupakan langkah penting dalam upaya kami membangun infrastruktur digital yang mampu mendukung kebutuhan Indonesia saat ini maupun di masa depan. Infrastruktur telekomunikasi yang kuat tidak hanya meningkatkan kualitas konektivitas, tetapi juga menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi digital dan percepatan pemerataan akses digital di Indonesia, sehingga memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan dunia usaha di berbagai wilayah. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat transformasi digital nasional,” ujar Timotius Max Sulaiman, Direktur Utama dan CEO PT Ekamas Mora Republik, Tbk.
Kehadiran Rising 8 diharapkan meningkatkan kualitas layanan digital untuk masyarakat Indonesia. Dengan kapasitas besar, aktivitas seperti transaksi perbankan, belanja online, pembelajaran daring, hingga bekerja dan berkomunikasi dari rumah dapat berjalan lebih lancar dengan meminimalisir gangguan konektivitas. Rising 8 melengkapi ekosistem konektivitas yang sudah ada dengan menyediakan keragaman jalur untuk lalu lintas Indonesia-Singapura.
Bagi operator yang sudah menggunakan jalur existing, Rising 8 dapat berfungsi sebagai cadangan atau untuk pembagian beban. Bagi perusahaan, ketersediaan jalur ganda berarti risiko downtime yang lebih rendah. Hal ini berarti mengurangi risiko putusnya layanan yang dapat menghambat kegiatan sehari-hari yang semakin bergantung pada koneksi internet.
Target market Rising 8 mencakup operator telekomunikasi, Penyedia Layanan Internet (ISP), penyedia konten, dan perusahaan dengan kebutuhan bandwidth tinggi seperti layanan keuangan, penyedia cloud, dan operator data center. Rute SKKL ini strategis karena Singapura merupakan pusat digital regional dengan konsentrasi tinggi data center dan infrastruktur cloud.
Dengan beroperasinya Rising 8, Triasmitra dan MoraRepublic memperkuat posisinya di pasar konektivitas internasional. Kedua perusahaan melihat potensi pertumbuhan yang baik mengingat meningkatnya permintaan bandwidth di koridor Indonesia-Singapura, yang didorong oleh perluasan layanan cloud, digitalisasi perusahaan, dan pertumbuhan layanan digital.
Kehadiran Rising 8 diharapkan tidak hanya membangun konektivitas, tetapi juga mendorong dampak berkelanjutan melalui percepatan pemerataan akses digital di Indonesia, penguatan daya saing ekonomi, serta pengembangan ekosistem digital yang semakin terintegrasi dan inklusif.
Triasmitra dan Moratelindo memulai proyek kabel fiber optik bawah laut sepanjang 1.128,5 km dari Jakarta ke Singapura, meningkatkan konektivitas digital. [485] url asal
Bisnis.com, JAKARTA —Anak usaha PT Ketrosden Triasmitra Tbk. (KETR), PT Jejaring Mitra Persada (JMP) bersama PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) atau Moratelindo mulai menggelar kabel fiber optik bawah laut Jakarta–Batam–Singapura pada pekan ini.
Kabel fiber optik bawah laut itu merupakan bagian dari Sistem Komunikasi Kabel Laut Jakarta–Batam–Singapura yang dinamakan SKKL Rising 8. Kabel laut SKKL Rising 8 dibentangkan sepanjang 1.128,5 kilometer yang menghubungkan Jakarta–Batam–Singapura.
Proyek itu digarap bersama oleh PT Jejaring Mitra Persada (JMP) dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) atau Moratelindo.
Penggelaran ini dilakukan dengan menggunakan kapal penggelar kabel berbendera Indonesia, Cable Laying Vessel (CLV) Bentang Bahari. Tahap pertama penggelaran difokuskan pada segmen Jakarta–Batam dengan panjang 1.053,5 kilometer.
Titus Dondi, Direktur Utama Ketrosden Triasmitra, menekankan signifikansi strategis proyek ini. Menurutnya, penggelaran SKKL Rising 8 dengan CLV Bentang Bahari menandai era baru kemandirian Indonesia di sektor infrastruktur kabel laut.
“Dengan kapasitas 25 Tbps per fiber pair serta kendali penuh atas operasional, kami optimistis proyek ini tidak hanya meningkatkan konektivitas digital Indonesia–Singapura, tetapi juga memposisikan Triasmitra sebagai pemain regional yang kompetitif dengan standar operasional kelas dunia,” paparnya dalam keterangan resmi, Jumat (23/1/2026).
KETR, lanjutnya, berkomitmen menyelesaikan penggelaran segmen pertama ini tepat waktu pada akhir I/2026.
Proyek ini memperoleh dukungan penuh dari pemerintah, salah satunya dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menyatakan bahwa SKKL Rising 8 merupakan bagian dari misi Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Komdigi menegaskan bahwa SKKL Rising 8 menjadi bagian integral dari rencana strategis nasional untuk meningkatkan penetrasi dan kualitas layanan akses digital, sekaligus mewujudkan kedaulatan dan kemandirian digital Indonesia.
SKKL Rising 8 mengadopsi teknologi repeatered submarine cable system berkapasitas tinggi dengan total kapasitas mencapai 400 Terabit per second (Tbps), menjadikannya salah satu sistem kabel laut berkapasitas besar di kawasan regional.
Sistem ini menggunakan kabel bawah laut berkualitas tinggi produksi Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW), Jerman, pabrik milik Prysmian Group yang telah berpengalaman lebih dari 125 tahun dalam pembuatan kabel bawah laut.
Infrastruktur tersebut terintegrasi dengan 11 unit repeater berteknologi tinggi dari Alcatel Submarine Networks (ASN), Prancis, yang dirancang untuk mendukung 16 fiber pairs dengan kapasitas total minimum 400 Tbps.
SKKL Rising 8 dihadirkan untuk menjawab kebutuhan akan bandwidth tinggi dan keandalan konektivitas antara Indonesia dan Singapura. Sistem ini juga berfungsi sebagai jalur alternatif, baik domestik maupun internasional, bagi penyelenggara Layanan Gerbang Akses Internet (NAP) existing, sehingga menyediakan redundansi yang krusial untuk menjaga stabilitas infrastruktur digital nasional.
Penggelaran SKKL Rising 8 segmen pertama Jakarta–Batam dijadwalkan rampung pada akhir kuartal I/2026. Proyek ini menegaskan komitmen Triasmitra dalam memperkuat infrastruktur telekomunikasi Indonesia sekaligus memposisikan perusahaan sebagai pemain kunci dalam pembangunan konektivitas regional.
Setelah penyelesaian SKKL Rising 8, Triasmitra akan melanjutkan pengembangan SKKL Indonesia Tengah sepanjang 8.732 kilometer dengan target komersialisasi pada 2027. Proyek itu akan menghubungkan berbagai wilayah strategis di Indonesia Tengah dan semakin memperkokoh backbone telekomunikasi nasional.
Triasmitra memperluas kabel laut 8.732 km di Indonesia Tengah, target RFS 2027. Investasi US$350 juta, didanai obligasi dan mitra strategis. [522] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Ketrosden Triasmitra Tbk. (KETR), perusahaan infrastruktur telekomunikasi yang fokus pada pembangunan dan penggelaran jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL), memperluas penggelaran infrastruktur kabel laut di wilayah Indonesia bagian tengah.
Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi Patria, mengatakan Triasmitra tidak berhenti pada proyek penggelaran SKKL Rising 8 yang menghubungkan Jakarta dan Singapura.
Sejak tahun lalu, Triasmitra telah mengantongi perizinan dari salah satu regulator di Indonesia. Dengan demikian, setelah penggelaran SKKL Rising 8 rampung pada April tahun ini, perseroan akan langsung melanjutkan penggelaran SKKL di wilayah Indonesia bagian tengah.
Titus menjelaskan, rute SKKL Indonesia Tengah akan memiliki total panjang kabel sekitar 8.732 kilometer dengan teknologi kabel repeater berkapasitas 24 terabit per detik. perusahaan akan membangun 16 fiber pair dengan target ready for service (RFS) pada 2027. Proyek SKKL sepanjang 8.732 kilometer ini akan dibagi menjadi lima segmen.
“Untuk segmen 1 akan mulai diproses pada 2026, kemudian segmen 2, 3, 4, dan 5 akan dilanjutkan pada 2027 hingga pertengahan 2028,” ujar Titus.
Adapun kabel sepanjang 8.732 kilometer tersebut akan menghubungkan 18 wilayah di Indonesia bagian tengah, diantaranya Tanjung Pakis, Tanjung Pandan, Ketapang, Pangkalan Bun, Takisung, Banyuurip, Makassar, Amlapura, Mataram, Labuan Bajo, Kendari, Morowali, Luwuk, Kema, Manado, Toli Toli, Tarakan, dan Balikpapan.
Direktur Keuangan Triasmitra, Vidcy Octory, menambahkan bahwa investasi pembangunan SKKL Indonesia Tengah membutuhkan pendanaan yang tidak kecil.
Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut,perusahaan tengah memproses penerbitan obligasi. Penerbitan obligasi ini ditargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) paling lambat pada April tahun ini.
Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk pembiayaan segmen 1, sementara segmen berikutnya akan dibiayai dari hasil pengelolaan dana obligasi tersebut.
“Kami juga saat ini tengah melakukan diskusi intensif dengan sejumlah mitra strategis terkait jaringan SKKL Indonesia Tengah yang akan dibangun,” ujar Vidcy.
Selain itu, penggunaan kapal cable laying vessel (CLV) Bentang Bahari yang kini telah resmi beroperasi dinilai mampu meningkatkan efisiensi biaya. tercatat efisiensi pengeluaran mencapai 20%–30% dibandingkan dengan biaya sewa kapal komersial, sekaligus memberikan efisiensi dari sisi manajemen proyek.
Pertumbuhan Pendapatan
Vidcy menjelaskan, sepanjang 2025 hingga Desember, Triasmitra berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp700 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp517 miliar. Dengan capaian tersebut, tercatat pertumbuhan pendapatan sekitar 40%, sesuai dengan target yang ditetapkan.
Untuk 2026, Triasmitra optimistis kinerja akan semakin membaik, seiring dengan kontribusi proyek SKKL Rising 8 yang mulai beroperasi.
Dari sisi belanja modal, realisasi capital expenditure (CapEx) perseroan pada 2025 tercatat sekitar US$10 juta atau setara Rp170 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan selesainya sebagian besar belanja modal pada tahap akhir, khususnya untuk kapal penggelar kabel laut Bentang Bahari.
Pada 2026, perseroan merencanakan alokasi CapEx yang difokuskan pada barang modal atau aset operasional, bukan untuk investasi jaringan kabel laut. Nilai CapEx tersebut masih bersifat sementara dan diperkirakan berada di kisaran US$3 juta hingga US$4 juta, atau setara Rp51 miliar hingga Rp68 miliar.
Adapun investasi jaringan kabel laut, termasuk proyek SKKL Indonesia Tengah, diperlakukan terpisah karena merupakan investasi untuk penyediaan inventori kabel yang akan dijual kepada pelanggan. Total nilai proyek ini diperkirakan mencapai US$350 juta atau setara Rp5,95 triliun, yang akan direalisasikan secara bertahap mulai 2026 hingga 2028. (Nur Amalina)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56