Bisnis.com, JAKARTA — PT Ketrosden Triasmitra Tbk. (KETR), perusahaan infrastruktur telekomunikasi yang fokus pada pembangunan dan penggelaran jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL), memperluas penggelaran infrastruktur kabel laut di wilayah Indonesia bagian tengah.
Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi Patria, mengatakan Triasmitra tidak berhenti pada proyek penggelaran SKKL Rising 8 yang menghubungkan Jakarta dan Singapura.
Sejak tahun lalu, Triasmitra telah mengantongi perizinan dari salah satu regulator di Indonesia. Dengan demikian, setelah penggelaran SKKL Rising 8 rampung pada April tahun ini, perseroan akan langsung melanjutkan penggelaran SKKL di wilayah Indonesia bagian tengah.
Titus menjelaskan, rute SKKL Indonesia Tengah akan memiliki total panjang kabel sekitar 8.732 kilometer dengan teknologi kabel repeater berkapasitas 24 terabit per detik. perusahaan akan membangun 16 fiber pair dengan target ready for service (RFS) pada 2027. Proyek SKKL sepanjang 8.732 kilometer ini akan dibagi menjadi lima segmen.
“Untuk segmen 1 akan mulai diproses pada 2026, kemudian segmen 2, 3, 4, dan 5 akan dilanjutkan pada 2027 hingga pertengahan 2028,” ujar Titus.
Adapun kabel sepanjang 8.732 kilometer tersebut akan menghubungkan 18 wilayah di Indonesia bagian tengah, diantaranya Tanjung Pakis, Tanjung Pandan, Ketapang, Pangkalan Bun, Takisung, Banyuurip, Makassar, Amlapura, Mataram, Labuan Bajo, Kendari, Morowali, Luwuk, Kema, Manado, Toli Toli, Tarakan, dan Balikpapan.
Direktur Keuangan Triasmitra, Vidcy Octory, menambahkan bahwa investasi pembangunan SKKL Indonesia Tengah membutuhkan pendanaan yang tidak kecil.
Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut,perusahaan tengah memproses penerbitan obligasi. Penerbitan obligasi ini ditargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) paling lambat pada April tahun ini.
Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk pembiayaan segmen 1, sementara segmen berikutnya akan dibiayai dari hasil pengelolaan dana obligasi tersebut.
“Kami juga saat ini tengah melakukan diskusi intensif dengan sejumlah mitra strategis terkait jaringan SKKL Indonesia Tengah yang akan dibangun,” ujar Vidcy.
Selain itu, penggunaan kapal cable laying vessel (CLV) Bentang Bahari yang kini telah resmi beroperasi dinilai mampu meningkatkan efisiensi biaya. tercatat efisiensi pengeluaran mencapai 20%–30% dibandingkan dengan biaya sewa kapal komersial, sekaligus memberikan efisiensi dari sisi manajemen proyek.
Pertumbuhan Pendapatan
Vidcy menjelaskan, sepanjang 2025 hingga Desember, Triasmitra berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp700 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp517 miliar. Dengan capaian tersebut, tercatat pertumbuhan pendapatan sekitar 40%, sesuai dengan target yang ditetapkan.
Untuk 2026, Triasmitra optimistis kinerja akan semakin membaik, seiring dengan kontribusi proyek SKKL Rising 8 yang mulai beroperasi.
Dari sisi belanja modal, realisasi capital expenditure (CapEx) perseroan pada 2025 tercatat sekitar US$10 juta atau setara Rp170 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan selesainya sebagian besar belanja modal pada tahap akhir, khususnya untuk kapal penggelar kabel laut Bentang Bahari.
Pada 2026, perseroan merencanakan alokasi CapEx yang difokuskan pada barang modal atau aset operasional, bukan untuk investasi jaringan kabel laut. Nilai CapEx tersebut masih bersifat sementara dan diperkirakan berada di kisaran US$3 juta hingga US$4 juta, atau setara Rp51 miliar hingga Rp68 miliar.
Adapun investasi jaringan kabel laut, termasuk proyek SKKL Indonesia Tengah, diperlakukan terpisah karena merupakan investasi untuk penyediaan inventori kabel yang akan dijual kepada pelanggan. Total nilai proyek ini diperkirakan mencapai US$350 juta atau setara Rp5,95 triliun, yang akan direalisasikan secara bertahap mulai 2026 hingga 2028. (Nur Amalina)