Bisnis.com, BALIKPAPAN — Proyeksi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2025 diprediksi mengalami normalisasi dengan titik tengah 5,4%, turun dari capaian tinggi tahun 2024 yang terdongkrak pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Perlambatan ini terutama dipicu penurunan Transfer ke Daerah (TKD) yang berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4% hingga 0,7% dari baseline, berdasarkan simulasi Computable General Equilibrium (CGE).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menyatakan struktur ekonomi provinsi yang bertumpu pada sektor ekspor batu bara, kelapa sawit, dan migas ini tidak dapat dilepaskan dari gejolak kondisi perekonomian global.
"Tantangan utama ke depan adalah adanya penurunan Transfer ke Daerah yang signifikan. Namun demikian, kami optimis pertumbuhan dapat meningkat ke level 5,6% atau 5,7% pada 2026 dengan syarat optimalisasi pada empat sektor kunci," ujarnya dalam keterangan resmi.
Keempat sektor tersebut mencakup realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) senilai Rp89 triliun, dan pembangunan IKN dengan alokasi anggaran Rp21 triliun untuk gedung legislatif dan yudikatif.
Kemudian, akselerasi pertumbuhan kredit perbankan dari 2%—3% menjadi 6%, serta penguatan sektor industri melalui penambahan kapasitas kilang RDMP Balikpapan sebesar 100.000 barel per hari dan industri turunan seperti soda ash di Bontang.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus mendorong implementasi ekonomi hijau sebagai salah satu pilar pembangunan berkelanjutan.
Namun, upaya tersebut terkendala oleh belum adanya penetapan batas maksimum emisi (cap) per daerah yang menjadi prasyarat beroperasinya pasar karbon.
Budi menegaskan penetapan cap akan memaksa perusahaan yang melampaui batas emisi untuk membeli kredit karbon, sehingga menghidupkan pasar karbon secara efektif.
"Kaltim perlu berhati-hati agar tidak terus melakukan ekspansi tambang atau sawit yang mengorbankan hutan. Fokus harus beralih ke energi baru terbarukan seperti tenaga surya di daerah terpencil," tegasnya.
Kendati demikian, prospek ekonomi Kaltim tetap menunjukkan sinyal positif seiring dengan berbagai inisiatif strategis yang tengah bergulir.
Realisasi investasi skala besar, kontinuitas pembangunan IKN, serta diversifikasi ekonomi melalui hilirisasi industri diharapkan mampu menjadi katalis pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka menengah dan panjang.
Lebih jauh, transformasi ekonomi Kaltim mulai membuahkan hasil melalui pergeseran struktur ekonomi dari ekstraktif menuju bernilai tambah.
Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Pemerintah Provinsi Kaltim, Ujang Rachmad, memaparkan data kontribusi sektor pertambangan yang tergerus dari 53,24% pada 2022 menjadi 34,11% pada semester I/2025.
Sebaliknya, sektor industri pengolahan justru mengalami peningkatan dari 15,05% menjadi 20,33% dalam periode yang sama.
"Data ini menunjukkan bahwa kita sedang bergerak dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi bernilai tambah," pungkasnya.