Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah berencana mengaktifkan kembali mekanisme debottle-necking guna mempercepat arus investasi asing dan mengatasi hambatan birokrasi yang kerap muncul di lapangan.
Langkah ini disebutkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam podcast End Game bersama Gita Wirjawan. Dia menyoroti bahwa meskipun regulasi investasi terlihat “baik di atas kertas”, namun penerapannya masih banyak rintangan.
Menkeu Purbaya menilai bahwa regulasi investasi Indonesia selama ini terlihat tidak hambatan, karena aturannya yang dibuat baru sehingga permasalahan di lapangan tidak terlihat.
“Kalau dari kertas aja dan kita pelajari kertas, itu semua seperti nggak ada hambatan tapi di field-nya kan banyak hambatan,” jelas Menkeu dikutip dari Youtube End Game, Kamis (4/12/2025).
Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada perumusan kebijakan, tetapi pada penegakan dan koordinasi antar lembaga.
Dalam dialog tersebut, Menkeu Purbaya mengungkapkan rencana untuk membentuk Satgas Percepatan Ekonomi yang memiliki tiga kelompok kerja, dengan salah satu kelompok akan fokus pada penyelesaian hambatan regulasi (bottleneck).
“Yang [kelompok] dua itu ada di bottleneck nanti. Itu akan terima masukan keluhan dari bisnis, dari mana aja di Indonesia, siapa aja. Nanti kita pilih, kita sidangkan setiap minggu,” ujar mantan Kepala LPS tersebut.
Purbaya juga menyatakan siap memimpin langsung sidang mingguan penyelesaian hambatan investasi tersebut, seperti yang pernah dilakukan dalam pemerintahan Joko Widodo bersama dengan Yasonna Laoly.
Dia turut mengungkapkan bahwa antara 2016-2019, Tim Bottlenecking berhasil menyelesaikan 193 kasus investasi dengan nilai sekitar Rp 830 triliun.
“Dalam 3 tahun tuh kita pecahkan, kita sidangin 300 kasus. Yang selesai 193 kasus, itu berhubungan dengan investasi sebesar Rp830 triliun,” ucap Purbaya.
Dalam upaya memperbaiki ekosistem investasi, Purbaya menegaskan bahwa alokasi anggaran dapat menjadi “alat politik” untuk memaksa kementerian dan lembaga pemerintahan lainnya untuk bergerak lebih cepat.
“Kalau mereka nggak nurut, kita potong anggarannya waktu saya nge-transfer aja, selesai.”
Tetapi, beliau juga menjelaskan bahwa politik anggaran perlu memiliki koordinasi multi-kementerian, sehingga Menkeu menargetkan dapat “rapi” dalam waktu setahun.
“Tapi framework-nya harus dengan multi-kementerian tadi. Saya akan masuk lewat situ nanti. Saya pastikan setahun udah akan beres semua tuh.”
Beliau juga turut menyebut langkah ini sebagai momentum penting untuk menarik lebih banyak investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI), terutama ketika likuiditas global sedang berlimpah.
“Ini ada golden opportunity… Jadi gini, FDI nggak akan masuk ke negara yang nggak stabil, yang tidak menawarkan return yang bagus. Jadi pertama saya betulin growth-nya, terus saya betulin iklim investasi, hampir pasti nanti mereka akan berubah ke sini,” tambah Menkeu. (Stefanus Bintang Agni)