JAKARTA, KOMPAS.com — Struktur dan dinamika subsektor peternakan Indonesia pada 2025 menunjukkan fase pemulihan setelah kontraksi yang terjadi pada 2023.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa hampir seluruh kelompok ternak utama, yakni sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, hingga unggas, mulai kembali bertumbuh, meskipun sebagian masih berada di bawah level sebelum krisis populasi dua tahun sebelumnya.
Dalam publikasi Peternakan dalam Angka 2025, BPS menyatakan bahwa penurunan tajam populasi pada 2023 bersifat nasional dan terjadi hampir di seluruh wilayah, sebelum kemudian diikuti pemulihan bertahap pada 2024 dan 2025.
PIXABAY/NICKYPE Ilustrasi sapi, sapi impor.Populasi sapi potong pulih, Jawa dan Nusa Tenggara jadi penyangga
Populasi sapi potong Indonesia pada 2025 tercatat 12,12 juta ekor, naik dari 2024, meskipun masih jauh di bawah posisi tertinggi 2021 yang mencapai 17,98 juta ekor.
Sebelumnya, populasi sapi potong anjlok drastis pada 2023 hingga 10,83 juta ekor, atau turun 38,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara geografis, Pulau Jawa tetap menjadi pusat populasi sapi potong, dengan jumlah mencapai 5,60 juta ekor pada 2025.
Di luar Jawa, Bali dan Nusa Tenggara menjadi kawasan kunci dengan populasi lebih dari 2,36 juta ekor, disusul Sumatera sekitar 3,29 juta ekor.
Pada tingkat provinsi, Jawa Timur menjadi provinsi dengan populasi sapi potong terbesar, yakni 3,67 juta ekor, diikuti Nusa Tenggara Barat 1,34 juta ekor, dan Jawa Tengah 1,29 juta ekor.
Lampung menjadi sentra di luar Jawa dan Nusa Tenggara dengan 905.000 ekor, sementara Sulawesi Selatan mencatat 838.000 ekor. Di sisi lain, DKI Jakarta hanya memiliki 2.764 ekor sapi potong, menjadi yang terendah secara nasional.
Kompas.com/Wisnubrata Ternak sapi perah di Desa Mundu, Kecamatan Tulung, KlatenPopulasi sapi perah masih tertahan
Berbeda dengan sapi potong, pemulihan populasi sapi perah berlangsung lebih lambat. Pada 2025, populasi nasional tercatat 499.360 ekor, naik dari 490.590 ekor pada 2024, tetapi masih lebih rendah dibandingkan level 2021 yang mencapai 582.170 ekor.
BPS mencatat, struktur sapi perah sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa, yang pada 2025 menampung hampir seluruh populasi nasional.
Fluktuasi di Jawa secara langsung menentukan arah nasional. Pada 2022–2023, populasi sapi perah di Jawa turun dari 498.130 ekor menjadi 456.870 ekor, sebelum mulai pulih kembali pada 2024–2025.
Populasi kerbau tumbuh 3,37 persen
Untuk kerbau, BPS memperkirakan populasi nasional pada 2025 mencapai 755.468 ekor, tumbuh 3,37 persen dibandingkan 2024. Namun, secara agregat angka ini masih lebih rendah dibandingkan periode sebelum kontraksi 2023.
Sebaran kerbau didominasi oleh Sumatera (355.991 ekor) dan Bali–Nusa Tenggara (184.962 ekor).
Aceh menjadi provinsi dengan populasi kerbau tertinggi, yakni 108.522 ekor, disusul Nusa Tenggara Barat (NTB) 101.275 ekor dan Nusa Tenggara Timur 82.905 ekor. Sebaliknya, beberapa provinsi seperti Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua Barat Daya, dan Papua tercatat tidak memiliki populasi kerbau.
Populasi kambing dan domba masih di bawah level pra-krisis
Populasi kambing pada 2025 tercatat 15,82 juta ekor, naik dari 15,44 juta ekor pada 2024, tetapi masih jauh di bawah posisi 2019–2021 yang berada di kisaran 18,5 juta hingga 18,9 juta ekor.
SHUTTERSTOCK/LUBO IVANKO Ilustrasi kambing. Sejak awal Desember 2024, telah tercatat sebanyak 80 ekor kambing mati, menyebabkan kerugian besar bagi para peternak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.Penurunan terdalam terjadi pada 2023 ketika populasi anjlok menjadi 14,37 juta ekor atau turun 22,58 persen.
Sementara itu, populasi domba sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa. Jawa Barat menjadi provinsi dengan populasi domba terbesar nasional, yakni 5,56 juta ekor, disusul Jawa Timur 1,40 juta ekor dan Jawa Tengah 1,21 juta ekor.
Di luar Jawa, sebagian besar provinsi hanya mencatat populasi di bawah 100.000 ekor.
Populasi babi terkonsentrasi di Indonesia timur
Berbeda dengan ruminansia, ternak babi justru terkonsentrasi di wilayah timur. Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat populasi tertinggi, yakni 1,08 juta ekor, diikuti Sulawesi Selatan 474.070 ekor, Bali 433.481 ekor, dan Papua Tengah 417.425 ekor.
Pulau Jawa secara keseluruhan memiliki populasi yang relatif kecil, bahkan DKI Jakarta tidak tercatat memiliki ternak babi.
Populasi unggas didominasi ayam ras pedaging
Dalam struktur peternakan nasional, unggas menjadi kelompok ternak terbesar. Pada 2025, populasi ayam ras pedaging mencapai 3,32 miliar ekor, ayam ras petelur 0,43 miliar ekor, dan ayam buras 0,17 miliar ekor.
BPS mencatat bahwa 83,37 persen populasi unggas nasional merupakan ayam ras pedaging, sementara ayam ras petelur menyumbang 10,69 persen, ayam buras 4,29 persen, dan jenis lain seperti itik dan itik manila hanya 1,64 persen.
Sebaran unggas sangat terkonsentrasi di Jawa. Jawa Barat menjadi provinsi dengan populasi unggas terbesar, yakni 847,43 juta ekor, diikuti Jawa Tengah 734,98 juta ekor dan Jawa Timur 629,08 juta ekor.
KOMPAS.COM/JUNAEDI Ilustrasi ayam peternak. PINSAR peringatkan harga ayam hidup terus merosot, peternak ayam terancam rugi besar.Ketiga provinsi tersebut menyumbang lebih dari separuh populasi unggas nasional.
Produksi daging sapi dan kerbau naik 5,61 persen
Sejalan dengan mulai pulihnya populasi sapi potong dan kerbau, produksi daging sapi dan kerbau Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 515,60 ribu ton, naik 5,61 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 488,22 ribu ton.
Secara spasial, Pulau Jawa tetap menjadi tulang punggung produksi, dengan kontribusi 59,01 persen atau sekitar 304,23 ribu ton dari total nasional.
Sumatera menyumbang 23,78 persen, disusul Sulawesi 6,95 persen dan Bali–Nusa Tenggara 5,22 persen. Wilayah lain memberikan kontribusi di bawah 5 persen.
Namun, BPS juga mencatat bahwa tingginya konsumsi di Jawa menyebabkan defisit struktural. Produksi Jawa sebesar 304,23 ribu ton hanya mampu memenuhi sebagian dari kebutuhan yang mencapai 547,19 ribu ton, sehingga terjadi defisit 242,96 ribu ton pada 2025.
Daging ayam ras pedaging surplus sepanjang tahun
Pada komoditas unggas, khususnya ayam ras pedaging, BPS mencatat kondisi yang jauh lebih longgar dibandingkan daging sapi dan kerbau.
Sepanjang 2025, produksi daging ayam ras pedaging mampu memenuhi kebutuhan nasional karena terjadi surplus hampir setiap bulan.
Surplus bulanan terbesar terjadi pada Oktober 2025 sebesar 50,69 ribu ton, diikuti April 43,21 ribu ton, sementara surplus terkecil terjadi pada Mei 13,04 ribu ton.
Secara kumulatif hingga Desember 2025, stok akhir surplus daging ayam ras pedaging tercatat 358,57 ribu ton.
Dari sisi wilayah, Jawa Barat menjadi produsen daging ayam ras pedaging terbesar nasional dengan 955,87 ribu ton, diikuti Jawa Tengah 846,57 ribu ton dan Jawa Timur 568,65 ribu ton.
Ilustrasi daging ayam pada bagian dada.Provinsi dengan kebutuhan tertinggi juga berada di Jawa, yakni Jawa Barat 766,06 ribu ton, Jawa Timur 633,01 ribu ton, dan Jawa Tengah 505,42 ribu ton.
Produksi telur ayam ras juga mencatat surplus
Pada komoditas telur, BPS melaporkan bahwa produksi telur ayam ras petelur sepanjang 2025 relatif mampu memenuhi kebutuhan nasional. Meskipun terjadi defisit pada Januari–Maret, secara keseluruhan tahun berakhir dalam kondisi surplus.
Surplus bulanan terbesar terjadi pada September 2025 sebesar 38,04 ribu ton, disusul Agustus 33,54 ribu ton, sedangkan surplus terkecil tercatat pada Desember 8,20 ribu ton.
Defisit hanya terjadi pada Januari (5,41 ribu ton), Februari (5,96 ribu ton), dan Maret (5,61 ribu ton).
Secara kumulatif hingga Desember 2025, stok akhir telur ayam ras petelur tercatat surplus 171,40 ribu ton.
Produksi susu bergantung pada sapi perah yang masih terbatas
Berbeda dengan unggas, produksi susu nasional sangat bergantung pada populasi sapi perah yang pemulihannya relatif lambat.
BPS mencatat bahwa struktur produksi sapi perah didominasi oleh produksi selain ternak hidup, yaitu susu dan telur, yang pada 2024 menyumbang 68,81 persen dari total nilai produksi per ekor sapi perah.
Hal ini menunjukkan bahwa walaupun populasi sapi perah pada 2025 masih berada di bawah level pra-2023, susu tetap menjadi komponen utama output subsektor sapi perah, sehingga setiap perubahan kecil dalam populasi dan produktivitas sapi perah berdampak langsung terhadap pasokan susu nasional.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang