#30 tag 24jam
Bursa Asia Dibuka Lemah, Tekanan Pasar Belum Berakhir
Pasar Asia-Pasifik melemah pada Rabu (19/11/2025) mengikuti penurunan Wall Street. Indeks Jepang dan Korea Selatan turun, sementara ASX Australia sedikit naik. [458] url asal
#bursa-asia #pasar-saham #nikkei-225 #indeks-kospi #saham-teknologi #dow-jones #investasi
(CNBC Indonesia - Market) 19/11/25 07:49
v/42920/
Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar Asia-Pasifik sebagian besar dibuka melemah pada hari ini Rabu (19/11/2025), mengikuti penurunan Wall Street karena kekhawatiran tentang valuasi kecerdasan buatan (AI) terus menekan saham teknologi.
Mengutip CNBC, indeks acuan Jepang, Nikkei 225, turun 0,36% pada pembukaan, sementara indeks Topix turun 0,26%. Sektor teknologi menyeret indeks Nikkei 225 lebih rendah pada awal perdagangan, dipimpin oleh produsen peralatan pengujian semikonduktor, Advantest, yang turun lebih dari 4%. Perusahaan semikonduktor, Renesas, juga turun hampir 5%.
Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,67%, dan Kosdaq berkapitalisasi kecil turun 1,02%. Saham-saham unggulan di indeks, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing turun 2,25% dan 2,46%. Berbeda arah, ASX/S&P 200 Australia naik 0,11%.
Kontrak berjangka untuk Indeks Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan pembukaan yang lebih tinggi, diperdagangkan pada level 26.033, dibandingkan penutupan indeks sebelumnya di level 25.930,03.
Chief Market Analyst di Scope Markets Joshua Mahony mengatakan bursa Asia melemah mengikuti tekanan dari Wall Street, setelah saham-saham teknologi AS anjlok menjelang rilis kinerja Nvidia. "Aksi jual di sektor teknologi di AS jelas menimbulkan efek penularan secara global," ujar Mahony, dikutip dari AFP, Rabu (19/11/2025).
Selain itu sentimen negatif juga datang dari Jepang, dengan lonjakan yield obligasi dan pelemahan yen yang memicu kekhawatiran investor. "Pasar kini khawatir pemerintah salah menangani ekonomi, sehingga investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk mengompensasi risiko meningkat dalam memegang utang Jepang," kata analis StoneX, Fawad Razaqzada.
Sementara itu, harga berjangka ekuitas AS sedikit berubah pada awal sesi Asia setelah Indeks-indeks utama melemah pada hari Selasa di Amerika Serikat.
Semalam, Dow Jones Industrial Average merosot 498,50 poin, atau 1,07%, dan ditutup pada level 46.091,74. S&P 500 melemah 0,83% dan ditutup pada level 6.617,32. Ini merupakan sesi penurunan keempat berturut-turut indeks tersebut, yang menjadikannya penurunan terpanjang sejak Agustus. Sementara Nasdaq Composite merosot 1,21% dan berakhir pada level 22.432,85.
Sesi ini menyaksikan Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 mencatat penurunan keempat berturut-turut, dengan S&P 500 mencatat penurunan terpanjang sejak Agustus. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi mencatat hari negatif kelima dalam enam sesi.
Di sisi lain, Bitcoin sempat turun di bawah US$90.000, sebuah tanda berkurangnya pengambilan risiko oleh investor.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Awas! Pasar Panik Usai Bitcoin Kolaps, Jepang Tebar Ancaman Baru ke RI
Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,004] url asal
#rupiah #ihsg #pasar-saham #nilai-tukar #investasi #bank-indonesia #utang-luar-negeri #sbn #ekonomi-indonesia #perdagangan-saham #analisis-pasar #surat-berharga-negara #saham-teknologi #wall-street #data-ekonomi #pas
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 15:54
v/41308/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG ditutup menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah dibebani oleh penurunan saham teknologi
- Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan kemarin, Seni (17/11/2025). Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 710,06 miliar.
Pada perdagangan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG kemarin termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), BBCA dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE). Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG kemarin adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi atau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025), dengan pelemahan sebesar 0,18% ke posisi Rp16.720/US$.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah dibuka tertekan di level Rp16.700/US$ atau kembali menembus level psikologisnya. Tekanan tersebut berlanjut sepanjang sesi hingga rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya kemarin di Rp16.736/US$.
Sementara itu, indeks dolar dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona hijau atau menguat tipis 0,02% di level 99,317.
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/11/2025), terjadi seiring dengan rilis data Utang Luar Negeri (ULN) oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan tren penurunan.
BI melaporkan bahwa ULN Indonesia pada Kuartal III-2025 atau hingga September 2025 tercatat sebesar US$424,4 miliar, menurun dibanding posisi Kuartal II-2025 yang mencapai US$432,3 miliar.
Dengan demikian, ULN Indonesia mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan 6,4% yoy yang terlihat pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ULN ini mencerminkan moderasi kebutuhan pembiayaan eksternal baik dari sektor publik maupun swasta, serta kebijakan kehati-hatian BI dan pemerintah dalam menjaga struktur ULN tetap sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, pasar valuta asing menilai bahwa penurunan ULN belum cukup memberikan katalis penguatan bagi rupiah pada kemarin.
Lanjut ke Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit penguatan dari level 6,12 ke level 6,141 naik 0,021 poin. Imbal hasil yang naik menandai investor tengah menjual SBN sehingga harga jatuh.
Aksi jual didorong juga dengan terusnya pelemahan rupiah yang kian terjadi dari waktu ke waktu memberikan resiko tambahan bagi SBN karena ada premi tambahan yang perlu dibayar investor terhadap imbal hasil yang ada saat ini.
Pasar saham AS kembali melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk dibebani oleh penurunan saham teknologi, sementara Wall Street menunggu sejumlah rilis penting pekan ini, termasuk laporan pendapatan Nvidia dan data tenaga kerja AS untuk September.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 557,24 poin, atau 1,18%, dan ditutup pada 46.590,24.
Indeks terseret penurunan saham favorit chip kecerdasan buatan Nvidia, serta Salesforce dan Apple.
Indeks S&P 500 turun 0,92% menjadi 6.672,41, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,84% ke 22.708,07.
Nvidia turun hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang dijadwalkan keluar setelah penutupan pasar pada Rabu. Produsen chip tersebut dan saham-saham lain yang terkait perdagangan AI menjadi sumber tekanan belakangan ini karena investor semakin khawatir mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Blue Owl Capital, pemberi pinjaman kredit privat, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran terkait eksposur besar mereka terhadap pembangunan pusat data AI.
"Di satu sisi, penting bagi Nvidia untuk memastikan bahwa permintaan masih kuat dan mereka tidak melihat perlambatan," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Dia menambahkan jika perusahaan AI memberi proyeksi permintaan chip yang sedikit saja melemah, pasar akan merespons negatif.
Setelah Nvidia, Walmart akan merilis laporan sebelum pasar dibuka pada Kamis, dan hasil tersebut dapat memberikan gambaran seberapa tertekan konsumen serta apakah pola belanja kini semakin terbelah.
"Saham-saham konsumer, terutama di tengah minimnya data pasar tenaga kerja, akan menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana pasar melihat musim liburan yang sebentar lagi tiba," lanjutnya.
Investor juga akan mencermati data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) untuk September pada Kamis, laporan pertama setelah jeda data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintah AS. Laporan tersebut serta risalah rapat The Fed untuk Oktober. Meski mungkin sudah 'basi'dapat memberi sedikit kejelasan di masa ketika pasar masih berada dalam kekosongan data selama beberapa minggu ke depan sambil menunggu pemerintah kembali bekerja normal.
Pasar semakin mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini bulan depan.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% terjadinya pemangkasan, turun dari lebih dari 90% sebulan lalu.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan November 2025 tengah menghadapi anomali yang menantang logika siklus bisnis konvensional. Di permukaan, indikator stabilitas makro terlihat solid dengan penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang melimpah ruah.
Namun, jika dibedah hingga ke level mikro dan sektor riil, terdapat tekanan nyata berupa perlambatan konsumsi, keengganan korporasi untuk berekspansi, serta langkah agresif pemerintah dalam memperketat kebijakan fiskal.
Kondisi ini menciptakan "Paradoks Likuiditas". Sistem keuangan nasional sedang kebanjiran uang, namun aliran dana tersebut tersumbat dan gagal memacu mesin pertumbuhan ekonomi secara optimal. Situasi ini menciptakan divergensi tajam antara sektor keuangan yang sangat cair dan sektor riil yang cenderung kering.
Kondisi ekonomi ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Tanah Air. Selain faktor tersebut, perkembangan data global juga diperkirakan akan menggerakkan pasar hari ini.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diproyeksi akan menjadi penggerak dinamika pasar pada hari ini:
Bank Indonesia Gelar RDG di Tengah Persoalan Pelik Kredit
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank (RDG) pada hari ini dan besok, Rabu (18-19/11/2025). Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebesar 125 bps sepanjang tahun ini untuk membantu penurunan suku bunga pinjaman bank. Namun, upaya tersebut belum efektif.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkap data yang mengejutkan pasar yaitu terdapat excess liquidity yang sangat masif, mencapai lebih dari Rp800 triliun, yang saat ini mengendap dalam sistem perbankan nasional. Angka ini setara dengan porsi yang sangat signifikan dari total belanja negara dalam APBN.
Dalam teori ekonomi, melimpahnya likuiditas dalam jumlah raksasa seharusnya menjadi katalis utama bagi akselerasi pertumbuhan. Uang yang menumpuk di brankas bank semestinya mendorong penurunan suku bunga kredit secara alami dan memicu gelombang ekspansi bisnis.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan transmisi yang macet. BI menegaskan dana tersebut tidak mengalir deras ke sektor riil seperti manufaktur atau properti, melainkan hanya berputar di instrumen keuangan jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau pasar uang antarbank yang minim risiko namun juga minim dampak riil.
Akar permasalahan fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan bank meminjamkan uang (supply side), melainkan pada hilangnya selera berutang dunia usaha (demand side). Data perbankan menunjukkan fenomena undisbursed loan yang meningkat signifikan.
Ini adalah kondisi di mana fasilitas kredit yang sejatinya sudah disetujui bank dan ditandatangani nasabah korporasi, justru tidak ditarik atau dicairkan. Korporasi besar memilih sikap wait and see ekstrem. Tingginya ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar domestik membuat perusahaan menahan rencana belanja modal (Capex).
Strategi menjaga arus kas (cash preservation) lebih dipilih daripada risiko ekspansi berbiaya utang, memicu risiko credit crunch yang disebabkan oleh keengganan debitor.
Ironi likuiditas semakin terlihat kontras ketika membedah struktur pendanaan perbankan. Meskipun ada Rp800 triliun uang menganggur, perbankan nasional justru terlihat "haus" likuiditas lewat perilaku kompetitif memperebutkan dana nasabah besar. Terjadi perang suku bunga sengit di segmen deposito institusi.
Data pasar menunjukkan perbankan memberikan perlakuan istimewa atau special rate kepada pemilik dana jumbo, khususnya instansi Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rata-rata suku bunga deposito bagi kelompok deposan kakap ini mencapai 5,97%, jauh di atas suku bunga penjaminan standar maupun bunga nasabah ritel. Fenomena ini mengindikasikan masalah struktural dalam distribusi likuiditas antar bank.
Bank membutuhkan dana stabil dari institusi untuk menjaga rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio), meskipun harus dibayar mahal. Konsekuensinya, Biaya Dana (Cost of Funds) perbankan tetap tinggi.
Ketika biaya dana mahal, bank sulit menurunkan suku bunga kredit dasar secara agresif. Ini menciptakan lingkaran setan: bank ingin menyalurkan kredit tapi biayanya mahal, sementara korporasi enggan mengambil kredit karena bunganya dianggap belum cukup menarik dibanding risiko bisnis.
BI Beri Insentif Buat Bunga yang Bawa Bunga Turun
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan BI siap mengguyur insentif likuiditas tambahan, namun insentif ini bersifat resiprokal yaitu volumenya akan sangat bergantung pada seberapa jauh perbankan bersedia menurunkan suku bunga mereka.
Dengan mekanisme ini, BI berharap perbankan terpacu untuk menekan margin dan efisiensi biaya dana demi mendapatkan suntikan likuiditas murah dari bank sentral, sehingga transmisi kebijakan moneter ke sektor riil bisa berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, untuk mencegah kekeringan likuiditas di bank tertentu selama proses transisi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi pasar. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)-BRI, Mandiri, BNI, BTN-telah menyalurkan dana penempatan pemerintah sebesar Rp185 triliun.
Terbaru, LPS kembali menyuntikkan penempatan dana sebesar Rp7,6 triliun ke BRI, Bank Mandiri, dan Bank DKI. Langkah ini merupakan strategi "jaring pengaman" untuk memastikan roda intermediasi perbankan tetap terlumasi dengan baik, meski aliran uang ke sektor riil masih tersendat.
Tekanan Ganda Sektor Riil: Konsumsi Terbatas & Pengetatan Subsidi
Jika korporasi enggan berekspansi, akar masalahnya seringkali bermuara pada daya beli konsumen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan pernyataan bernada peringatan yakni pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat terbatas.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan pertumbuhan konsumsi masyarakat RI masih terbatas. Meski demikian dirinya menegaskan permodalan perbankan masih kuat dan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
"Jadi di satu sisi ada kondisi global yg memang masih penuh tantangan, dan di lain sisi pertumbuhan kembali atau rebound dari konsumsi dari masyarakat domestik terlihat masih terbatas," ujar Mahendra dalam rapat kerja Komisi IV DPD RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) dan OJK, Senin (17/11/2025).
Pernyataan regulator ini mengonfirmasi kekhawatiran pasar bahwa pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput belum berjalan solid. Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika konsumsi disebut terbatas, artinya pendapatan riil masyarakat sedang tertekan atau masyarakat memilih menahan belanja karena pesimisme ekonomi.
Di tengah serangkaian berita pengetatan, pasar mendapatkan sedikit angin segar. Pertama, terkait nasib masyarakat bawah yang terjerat utang. OJK memberikan pembaruan positif bahwa aturan teknis mengenai pemutihan kredit macet UMKM sedang dalam tahap finalisasi.
Kebijakan ini krusial bagi perbankan Himbara untuk membersihkan neraca dari aset kurang maksimal, sekaligus memberikan jalan bagi jutaan debitur UMKM untuk keluar dari daftar hitam (blacklist) dan kembali mengakses modal usaha.
Utang Turun
Kabar positif kedua datang dari indikator makroekonomi eksternal. Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$ 424,4 miliar. Penurunan ini memberikan bantalan lebih tebal bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar global.
Meskipun Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan terhadap Dolar AS, BI menegaskan volatilitas tersebut masih "stabil" dan terkendali melalui intervensi pasar terukur. Neraca yang lebih ramping dari sisi utang luar negeri membuat risiko krisis mata uang semakin kecil.
Ekonomi Jepang Kontraksi, 'Double Trouble' bagi Asia
Tekanan eksternal bagi pasar Indonesia semakin bertambah dengan rilis data ekonomi terbaru dari Asia Timur. Pagi ini, data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%.
Angka ini menjadi kejutan negatif bagi pasar (negative surprise) yang sebelumnya sudah dibuat cemas oleh eskalasi ketegangan militer antara Jepang dan China.
Kontraksi ini menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas industri di Jepang sedang melemah signifikan. Bagi Indonesia, kabar ini membawa risiko ganda atau double trouble. Pertama, dari sisi perdagangan, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di tanah air.
Perlambatan ekonomi di Tokyo berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas dan manufaktur dari Indonesia, yang pada akhirnya bisa memperburuk kinerja neraca dagang.
Kedua, dari sisi sentimen pasar, kombinasi antara kontraksi ekonomi dan konflik geopolitik (insiden drone militer) menciptakan badai ketidakpastian yang sempurna di kawasan Asia.
Hal ini memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk terus mengambil posisi defensif (risk-off) dan menahan aliran modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia, setidaknya sampai ada sinyal pemulihan yang lebih jelas dari raksasa ekonomi Asia tersebut.
Sentimen Geopolitik Asia: Jepang vs China Memanas
Analisis pasar domestik tidak lengkap tanpa melihat faktor eksternal. Lampu kuning menyala di kawasan Asia Timur. Ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali memanas setelah insiden militer di mana jet tempur Jepang dikerahkan untuk menghalau pesawat nirawak (drone) militer China.
Eskalasi konflik ini langsung direspons negatif oleh pasar keuangan regional dengan sikap risk-off. Ketegangan ini menambah premi risiko investasi di kawasan Asia Pasifik dan berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang ke aset safe haven jika situasi memburuk.
Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia sedang mencoba menavigasi jalan terjal di antara dua tebing curam yaitu likuiditas perbankan yang melimpah namun macet, dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kebijakan fiskal ketat.
Pasar kini menanti apakah stimulus pemutihan kredit dan belanja pemerintah di akhir tahun mampu memecahkan kebuntuan ekonomi ini.
Bitcoin Jatuh
Bitcoin merosot hingga 1% ke level US$92.513 pada pukul 13.21 waktu New York pada Senin kemarin. Ini adalah kejatuhan di bawah US$93.000 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan.
Di berbagai meja perdagangan dan media sosial, rasa cemas mulai terasa. Total nilai pasar Bitcoin anjlok sekitar US$600 miliar dari level puncaknya pada Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas adalah hal yang biasa. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepat keyakinan pasar menguap, dan betapa sedikit penjelasan yang benar-benar masuk akal.
Level US$92.000 kini menjadi area support kritis. Ketidakpastian makro dan likuiditas yang lemah juga dapat membatasi potensi rebound.
Menurut CoinGecko, Bitcoin terakhir diperdagangkan di level US$92.123 setelah turun 2,3% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 13% dalam sepekan. Volume perdagangan BTC melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sehari terakhir menjadi US$114 miliar.
Sejauh ini, sekitar US$335 juta kontrak derivatif Bitcoin telah mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mendorong total likuidasi pasar kripto menjadi US$725 juta dalam 24 jam.
Agenda dan rilis data yang terjadwal:
- Reserve Bank of Australia meeting minutes
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari pertama
Coffee Morning CNBC Indonesia "Building National Energy Security: Balancing Infrastructure, Energy Transition, and Resource Sovereignty" di Amanaia Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden Direktur Bank DBS Indonesia dan Wakil Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi NasDem.
Konferensi pers Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh terkait rencana aksi unjuk rasa 22 November 2025 via zoom meeting.
Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Maganghub Soft Skill Programme di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan.
Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia menggelar The Biggest Real Estate Summit 2025di Raffles Hotel, Kota Jakarta Selatan.
Deloitte's Southeast Asia IPO Press Conference 2025 via zoom meeting
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka aksi korporasi spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) di Ballroom Menara BTN, Kota Jakarta Pusat
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Turkiye & Indonesia di Museum Tekstil, Kota Jakarta Pusat.
Agenda emiten di dalam negeri:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nippon Indosari Corpindo Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk
- Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Awas! Pasar Panik Usai Bitcoin Ambyar, Jepang Tebar Ancaman Baru ke RI
Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,004] url asal
#rupiah #ihsg #pasar-saham #nilai-tukar #investasi #bank-indonesia #utang-luar-negeri #sbn #ekonomi-indonesia #perdagangan-saham #analisis-pasar #surat-berharga-negara #saham-teknologi #wall-street #data-ekonomi #pas
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 15:54
v/41288/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG ditutup menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah dibebani oleh penurunan saham teknologi
- Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan kemarin, Seni (17/11/2025). Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 710,06 miliar.
Pada perdagangan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG kemarin termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), BBCA dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE). Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG kemarin adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi atau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025), dengan pelemahan sebesar 0,18% ke posisi Rp16.720/US$.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah dibuka tertekan di level Rp16.700/US$ atau kembali menembus level psikologisnya. Tekanan tersebut berlanjut sepanjang sesi hingga rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya kemarin di Rp16.736/US$.
Sementara itu, indeks dolar dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona hijau atau menguat tipis 0,02% di level 99,317.
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/11/2025), terjadi seiring dengan rilis data Utang Luar Negeri (ULN) oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan tren penurunan.
BI melaporkan bahwa ULN Indonesia pada Kuartal III-2025 atau hingga September 2025 tercatat sebesar US$424,4 miliar, menurun dibanding posisi Kuartal II-2025 yang mencapai US$432,3 miliar.
Dengan demikian, ULN Indonesia mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan 6,4% yoy yang terlihat pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ULN ini mencerminkan moderasi kebutuhan pembiayaan eksternal baik dari sektor publik maupun swasta, serta kebijakan kehati-hatian BI dan pemerintah dalam menjaga struktur ULN tetap sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, pasar valuta asing menilai bahwa penurunan ULN belum cukup memberikan katalis penguatan bagi rupiah pada kemarin.
Lanjut ke Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit penguatan dari level 6,12 ke level 6,141 naik 0,021 poin. Imbal hasil yang naik menandai investor tengah menjual SBN sehingga harga jatuh.
Aksi jual didorong juga dengan terusnya pelemahan rupiah yang kian terjadi dari waktu ke waktu memberikan resiko tambahan bagi SBN karena ada premi tambahan yang perlu dibayar investor terhadap imbal hasil yang ada saat ini.
Pasar saham AS kembali melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk dibebani oleh penurunan saham teknologi, sementara Wall Street menunggu sejumlah rilis penting pekan ini, termasuk laporan pendapatan Nvidia dan data tenaga kerja AS untuk September.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 557,24 poin, atau 1,18%, dan ditutup pada 46.590,24.
Indeks terseret penurunan saham favorit chip kecerdasan buatan Nvidia, serta Salesforce dan Apple.
Indeks S&P 500 turun 0,92% menjadi 6.672,41, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,84% ke 22.708,07.
Nvidia turun hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang dijadwalkan keluar setelah penutupan pasar pada Rabu. Produsen chip tersebut dan saham-saham lain yang terkait perdagangan AI menjadi sumber tekanan belakangan ini karena investor semakin khawatir mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Blue Owl Capital, pemberi pinjaman kredit privat, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran terkait eksposur besar mereka terhadap pembangunan pusat data AI.
"Di satu sisi, penting bagi Nvidia untuk memastikan bahwa permintaan masih kuat dan mereka tidak melihat perlambatan," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Dia menambahkan jika perusahaan AI memberi proyeksi permintaan chip yang sedikit saja melemah, pasar akan merespons negatif.
Setelah Nvidia, Walmart akan merilis laporan sebelum pasar dibuka pada Kamis, dan hasil tersebut dapat memberikan gambaran seberapa tertekan konsumen serta apakah pola belanja kini semakin terbelah.
"Saham-saham konsumer, terutama di tengah minimnya data pasar tenaga kerja, akan menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana pasar melihat musim liburan yang sebentar lagi tiba," lanjutnya.
Investor juga akan mencermati data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) untuk September pada Kamis, laporan pertama setelah jeda data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintah AS. Laporan tersebut serta risalah rapat The Fed untuk Oktober. Meski mungkin sudah 'basi'dapat memberi sedikit kejelasan di masa ketika pasar masih berada dalam kekosongan data selama beberapa minggu ke depan sambil menunggu pemerintah kembali bekerja normal.
Pasar semakin mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini bulan depan.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% terjadinya pemangkasan, turun dari lebih dari 90% sebulan lalu.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan November 2025 tengah menghadapi anomali yang menantang logika siklus bisnis konvensional. Di permukaan, indikator stabilitas makro terlihat solid dengan penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang melimpah ruah.
Namun, jika dibedah hingga ke level mikro dan sektor riil, terdapat tekanan nyata berupa perlambatan konsumsi, keengganan korporasi untuk berekspansi, serta langkah agresif pemerintah dalam memperketat kebijakan fiskal.
Kondisi ini menciptakan "Paradoks Likuiditas". Sistem keuangan nasional sedang kebanjiran uang, namun aliran dana tersebut tersumbat dan gagal memacu mesin pertumbuhan ekonomi secara optimal. Situasi ini menciptakan divergensi tajam antara sektor keuangan yang sangat cair dan sektor riil yang cenderung kering.
Kondisi ekonomi ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Tanah Air. Selain faktor tersebut, perkembangan data global juga diperkirakan akan menggerakkan pasar hari ini.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diproyeksi akan menjadi penggerak dinamika pasar pada hari ini:
Bank Indonesia Gelar RDG di Tengah Persoalan Pelik Kredit
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank (RDG) pada hari ini dan besok, Rabu (18-19/11/2025). Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebesar 125 bps sepanjang tahun ini untuk membantu penurunan suku bunga pinjaman bank. Namun, upaya tersebut belum efektif.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkap data yang mengejutkan pasar yaitu terdapat excess liquidity yang sangat masif, mencapai lebih dari Rp800 triliun, yang saat ini mengendap dalam sistem perbankan nasional. Angka ini setara dengan porsi yang sangat signifikan dari total belanja negara dalam APBN.
Dalam teori ekonomi, melimpahnya likuiditas dalam jumlah raksasa seharusnya menjadi katalis utama bagi akselerasi pertumbuhan. Uang yang menumpuk di brankas bank semestinya mendorong penurunan suku bunga kredit secara alami dan memicu gelombang ekspansi bisnis.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan transmisi yang macet. BI menegaskan dana tersebut tidak mengalir deras ke sektor riil seperti manufaktur atau properti, melainkan hanya berputar di instrumen keuangan jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau pasar uang antarbank yang minim risiko namun juga minim dampak riil.
Akar permasalahan fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan bank meminjamkan uang (supply side), melainkan pada hilangnya selera berutang dunia usaha (demand side). Data perbankan menunjukkan fenomena undisbursed loan yang meningkat signifikan.
Ini adalah kondisi di mana fasilitas kredit yang sejatinya sudah disetujui bank dan ditandatangani nasabah korporasi, justru tidak ditarik atau dicairkan. Korporasi besar memilih sikap wait and see ekstrem. Tingginya ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar domestik membuat perusahaan menahan rencana belanja modal (Capex).
Strategi menjaga arus kas (cash preservation) lebih dipilih daripada risiko ekspansi berbiaya utang, memicu risiko credit crunch yang disebabkan oleh keengganan debitor.
Ironi likuiditas semakin terlihat kontras ketika membedah struktur pendanaan perbankan. Meskipun ada Rp800 triliun uang menganggur, perbankan nasional justru terlihat "haus" likuiditas lewat perilaku kompetitif memperebutkan dana nasabah besar. Terjadi perang suku bunga sengit di segmen deposito institusi.
Data pasar menunjukkan perbankan memberikan perlakuan istimewa atau special rate kepada pemilik dana jumbo, khususnya instansi Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rata-rata suku bunga deposito bagi kelompok deposan kakap ini mencapai 5,97%, jauh di atas suku bunga penjaminan standar maupun bunga nasabah ritel. Fenomena ini mengindikasikan masalah struktural dalam distribusi likuiditas antar bank.
Bank membutuhkan dana stabil dari institusi untuk menjaga rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio), meskipun harus dibayar mahal. Konsekuensinya, Biaya Dana (Cost of Funds) perbankan tetap tinggi.
Ketika biaya dana mahal, bank sulit menurunkan suku bunga kredit dasar secara agresif. Ini menciptakan lingkaran setan: bank ingin menyalurkan kredit tapi biayanya mahal, sementara korporasi enggan mengambil kredit karena bunganya dianggap belum cukup menarik dibanding risiko bisnis.
BI Beri Insentif Buat Bunga yang Bawa Bunga Turun
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan BI siap mengguyur insentif likuiditas tambahan, namun insentif ini bersifat resiprokal yaitu volumenya akan sangat bergantung pada seberapa jauh perbankan bersedia menurunkan suku bunga mereka.
Dengan mekanisme ini, BI berharap perbankan terpacu untuk menekan margin dan efisiensi biaya dana demi mendapatkan suntikan likuiditas murah dari bank sentral, sehingga transmisi kebijakan moneter ke sektor riil bisa berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, untuk mencegah kekeringan likuiditas di bank tertentu selama proses transisi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi pasar. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)-BRI, Mandiri, BNI, BTN-telah menyalurkan dana penempatan pemerintah sebesar Rp185 triliun.
Terbaru, LPS kembali menyuntikkan penempatan dana sebesar Rp7,6 triliun ke BRI, Bank Mandiri, dan Bank DKI. Langkah ini merupakan strategi "jaring pengaman" untuk memastikan roda intermediasi perbankan tetap terlumasi dengan baik, meski aliran uang ke sektor riil masih tersendat.
Tekanan Ganda Sektor Riil: Konsumsi Terbatas & Pengetatan Subsidi
Jika korporasi enggan berekspansi, akar masalahnya seringkali bermuara pada daya beli konsumen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan pernyataan bernada peringatan yakni pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat terbatas.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan pertumbuhan konsumsi masyarakat RI masih terbatas. Meski demikian dirinya menegaskan permodalan perbankan masih kuat dan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
"Jadi di satu sisi ada kondisi global yg memang masih penuh tantangan, dan di lain sisi pertumbuhan kembali atau rebound dari konsumsi dari masyarakat domestik terlihat masih terbatas," ujar Mahendra dalam rapat kerja Komisi IV DPD RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) dan OJK, Senin (17/11/2025).
Pernyataan regulator ini mengonfirmasi kekhawatiran pasar bahwa pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput belum berjalan solid. Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika konsumsi disebut terbatas, artinya pendapatan riil masyarakat sedang tertekan atau masyarakat memilih menahan belanja karena pesimisme ekonomi.
Di tengah serangkaian berita pengetatan, pasar mendapatkan sedikit angin segar. Pertama, terkait nasib masyarakat bawah yang terjerat utang. OJK memberikan pembaruan positif bahwa aturan teknis mengenai pemutihan kredit macet UMKM sedang dalam tahap finalisasi.
Kebijakan ini krusial bagi perbankan Himbara untuk membersihkan neraca dari aset kurang maksimal, sekaligus memberikan jalan bagi jutaan debitur UMKM untuk keluar dari daftar hitam (blacklist) dan kembali mengakses modal usaha.
Utang Turun
Kabar positif kedua datang dari indikator makroekonomi eksternal. Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$ 424,4 miliar. Penurunan ini memberikan bantalan lebih tebal bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar global.
Meskipun Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan terhadap Dolar AS, BI menegaskan volatilitas tersebut masih "stabil" dan terkendali melalui intervensi pasar terukur. Neraca yang lebih ramping dari sisi utang luar negeri membuat risiko krisis mata uang semakin kecil.
Ekonomi Jepang Kontraksi, 'Double Trouble' bagi Asia
Tekanan eksternal bagi pasar Indonesia semakin bertambah dengan rilis data ekonomi terbaru dari Asia Timur. Pagi ini, data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%.
Angka ini menjadi kejutan negatif bagi pasar (negative surprise) yang sebelumnya sudah dibuat cemas oleh eskalasi ketegangan militer antara Jepang dan China.
Kontraksi ini menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas industri di Jepang sedang melemah signifikan. Bagi Indonesia, kabar ini membawa risiko ganda atau double trouble. Pertama, dari sisi perdagangan, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di tanah air.
Perlambatan ekonomi di Tokyo berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas dan manufaktur dari Indonesia, yang pada akhirnya bisa memperburuk kinerja neraca dagang.
Kedua, dari sisi sentimen pasar, kombinasi antara kontraksi ekonomi dan konflik geopolitik (insiden drone militer) menciptakan badai ketidakpastian yang sempurna di kawasan Asia.
Hal ini memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk terus mengambil posisi defensif (risk-off) dan menahan aliran modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia, setidaknya sampai ada sinyal pemulihan yang lebih jelas dari raksasa ekonomi Asia tersebut.
Sentimen Geopolitik Asia: Jepang vs China Memanas
Analisis pasar domestik tidak lengkap tanpa melihat faktor eksternal. Lampu kuning menyala di kawasan Asia Timur. Ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali memanas setelah insiden militer di mana jet tempur Jepang dikerahkan untuk menghalau pesawat nirawak (drone) militer China.
Eskalasi konflik ini langsung direspons negatif oleh pasar keuangan regional dengan sikap risk-off. Ketegangan ini menambah premi risiko investasi di kawasan Asia Pasifik dan berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang ke aset safe haven jika situasi memburuk.
Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia sedang mencoba menavigasi jalan terjal di antara dua tebing curam yaitu likuiditas perbankan yang melimpah namun macet, dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kebijakan fiskal ketat.
Pasar kini menanti apakah stimulus pemutihan kredit dan belanja pemerintah di akhir tahun mampu memecahkan kebuntuan ekonomi ini.
Bitcoin Jatuh
Bitcoin merosot hingga 1% ke level US$92.513 pada pukul 13.21 waktu New York pada Senin kemarin. Ini adalah kejatuhan di bawah US$93.000 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan.
Di berbagai meja perdagangan dan media sosial, rasa cemas mulai terasa. Total nilai pasar Bitcoin anjlok sekitar US$600 miliar dari level puncaknya pada Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas adalah hal yang biasa. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepat keyakinan pasar menguap, dan betapa sedikit penjelasan yang benar-benar masuk akal.
Level US$92.000 kini menjadi area support kritis. Ketidakpastian makro dan likuiditas yang lemah juga dapat membatasi potensi rebound.
Menurut CoinGecko, Bitcoin terakhir diperdagangkan di level US$92.123 setelah turun 2,3% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 13% dalam sepekan. Volume perdagangan BTC melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sehari terakhir menjadi US$114 miliar.
Sejauh ini, sekitar US$335 juta kontrak derivatif Bitcoin telah mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mendorong total likuidasi pasar kripto menjadi US$725 juta dalam 24 jam.
Agenda dan rilis data yang terjadwal:
- Reserve Bank of Australia meeting minutes
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari pertama
Coffee Morning CNBC Indonesia "Building National Energy Security: Balancing Infrastructure, Energy Transition, and Resource Sovereignty" di Amanaia Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden Direktur Bank DBS Indonesia dan Wakil Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi NasDem.
Konferensi pers Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh terkait rencana aksi unjuk rasa 22 November 2025 via zoom meeting.
Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Maganghub Soft Skill Programme di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan.
Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia menggelar The Biggest Real Estate Summit 2025di Raffles Hotel, Kota Jakarta Selatan.
Deloitte's Southeast Asia IPO Press Conference 2025 via zoom meeting
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka aksi korporasi spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) di Ballroom Menara BTN, Kota Jakarta Pusat
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Turkiye & Indonesia di Museum Tekstil, Kota Jakarta Pusat.
Agenda emiten di dalam negeri:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nippon Indosari Corpindo Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk
- Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Investor Tunggu Data Penting, Bursa Asia Dibuka Beragam
Pasar Asia-Pasifik beragam pada Senin, dengan indeks Jepang turun 0,63% akibat kontraksi ekonomi. [322] url asal
#pasar-asia-pasifik #indeks-saham #ekonomi-jepang #pdb-thailand #neraca-perdagangan-singapura #saham-teknologi #nasdaq-composite #dow-jones #investasi-regional
(CNBC Indonesia - Market) 17/11/25 08:29
v/40159/
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar Asia-Pasifik diperdagangkan beragam pada hari Senin karena investor menantikan serangkaian data ekonomi regional.
Indeks acuan Jepang turun 0,63% setelah ekonomi Negeri Sakura mengalami kontraksi sebesar 0,4% atau lebih kecil dari perkiraan, pada kuartal yang berakhir September, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Indeks Topix turun 0,44%.
Indeks acuan Kospi Korea Selatan melonjak 1,78% sementara Kosdaq berkapitalisasi kecil naik 0,68%. Lalu Harga berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 26.500, sedikit lebih rendah dari penutupan terakhir di 26.572,46. Kemudian Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 tercatat turun 0,26%.
Pelaku pasar di regional Asia Pasifik hari ini juga akan mencermati PDB kuartal ketiga Thailand dan neraca perdagangan Singapura.
Jumat lalu di AS, Nasdaq Composite rebound karena investor memborong saham-saham teknologi utama, sehari setelah grup tersebut memimpin Wall Street ke hari terburuknya dalam lebih dari sebulan.
Nasdaq, yang didominasi saham teknologi, menguat 0,13% dan ditutup pada level 22.900,59, mengakhiri penurunan tiga hari berturut-turut. S&P 500 ditutup mendekati garis datar, turun hanya 0,05% di level 6.734,11, sementara Dow Jones Industrial Average turun 309,74 poin, atau 0,65%, dan ditutup pada level 47.147,48.
Ketiga indeks tersebut bangkit kembali secara signifikan dari level terendah mereka di awal hari, yang membuat Nasdaq dan S&P 500 masing-masing turun 1,9% dan sekitar 1,4%. Dow Jones telah turun hampir 600 poin, atau sekitar 1,3%.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Bursa Asia Kompak Merosot Usai Wall Street Tumbang
Pasar Asia-Pasifik merosot pada 14 November 2025, dipicu pelemahan Wall Street dan saham teknologi. Investor khawatir tentang pemangkasan suku bunga The Fed. [484] url asal
#bursa-asia #wall-street #saham-teknologi #pemangkasan-suku-bunga #pasar-saham #nikkei-225 #kospi #softbank #investasi-china #ekonomi-global
(CNBC Indonesia - Market) 14/11/25 08:27
v/38206/
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar Asia-Pasifik merosot pada perdagangan Jumat, (14/11/2025), mengikuti pelemahan di Wall Street seiring tekanan berlanjut pada saham teknologi. Keraguan pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed turut menambah sentimen negatif.
Indeks acuan Jepang Nikkei 225 turun 1,85%, sementara Topix merosot 1,03%. Saham teknologi memimpin penurunan, dengan Rakuten Group anjlok 6,57%, Advantest turun 5,27%, dan Lasertec melemah 3,97%.
Raksasa teknologi Jepang SoftBank jatuh hingga 8% pada awal perdagangan, menandai penurunan tiga hari beruntun setelah mengungkap penjualan seluruh sahamnya di Nvidia. Di Korea Selatan, Kospi turun 2,29% dan Kosdaq melemah 1,42%.
Saham unggulan Korea Selatan seperti Samsung Electronics merosot lebih dari 3%, sementara SK Hynix yang memasok chip memori untuk Nvidia turun 5%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 terkoreksi 1,58%.
Kontrak berjangka Hang Seng mengarah pada pembukaan yang lebih rendah di level 26.701, dibandingkan penutupan sebelumnya di 27.073,03. China hari ini akan merilis data penjualan ritel, output industri, dan investasi aset tetap untuk Oktober.
Investasi aset tetap China, termasuk sektor properti, sebelumnya turun tak terduga sebesar 0,5% pada September. Rilis data terbaru ini menjadi perhatian investor untuk melihat arah pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Dari Amerika Serikat, seluruh indeks utama Wall Street ditutup lebih rendah seiring arus jual pada saham teknologi, terutama yang terkait tema kecerdasan buatan. Kekhawatiran soal valuasi membuat tekanan di sektor tersebut semakin kuat.
Dow Jones Industrial Average jatuh 797,60 poin atau 1,65% ke 47.457,22, jauh dari rekor yang dicapai sesi sebelumnya. S&P 500 melemah 1,66% menjadi 6.737,49.
Sektor teknologi informasi dan layanan komunikasi memimpin pelemahan di indeks yang lebih luas, dengan Disney anjlok hampir 8% akibat hasil kuartal IV fiskal yang beragam. Nasdaq Composite turun 2,29% ke 22.870,36, sementara ketiga indeks utama serta Russell 2000 mencatat kinerja harian terburuk sejak 10 Oktober.
Komentar terbaru dari pejabat The Fed menunjukkan meningkatnya keraguan tentang perlunya pemangkasan suku bunga untuk ketiga kalinya pada pertemuan 9-10 Desember. Boston Fed President Susan Collins mengatakan kebijakan suku bunga kemungkinan perlu dipertahankan di level saat ini untuk menyeimbangkan risiko inflasi dan ketenagakerjaan.
Dampak dari komentar tersebut membuat pasar menyesuaikan kembali ekspektasinya. Jika beberapa hari lalu pelaku pasar masih memperkirakan peluang 2 banding 1 untuk pemangkasan suku bunga, kini proyeksinya berubah menjadi 50:50 berdasarkan alat FedWatch milik CME Group.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Bursa Asia Kompak Hijau Pagi Ini, AI Masih Jadi Sorotan
Bursa Asia mayoritas naik, dipicu sektor teknologi AI. SoftBank jual saham Nvidia, sementara Dow Jones capai rekor baru. Pantau pergerakan pasar! [381] url asal
#bursa-asia #saham-teknologi #softbank #nvidia #indeks-saham #pasar-keuangan #investasi #dow-jones #nasdaq
(CNBC Indonesia - Market) 12/11/25 08:21
v/35906/
Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia mayoritas bergerak naik pagi ini, Rabu (12/11/2025) di tengah sorotan terhadap sektor teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Kospi Korea Selatan datar, dan Kosdaq yang berkapitalisasi kecil naik 0,62%. Indeks acuan Jepang, Nikkei 225, turun 0,26%, sementara Topix naik 0,35%. Sementara, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,13%.
Kontrak berjangka untuk Indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan pembukaan perdagangan yang sedikit lebih tinggi, diperdagangkan pada 26.865, dibandingkan dengan penutupan indeks sebelumnya di 26.696,41.
Para investor akan terus memantau saham SoftBank dan juga saham-saham teknologi di Asia setelah raksasa Jepang menyatakan rencananya untuk menjual seluruh sahamnya di perusahaan pembuat chip AS, Nvidia, sebesar $5,83 miliar.
Mengutip CNBC Internasional, saham SoftBank Group turun lebih dari 7% pada hari Rabu setelah pernyataan tersebut. Langkah tersebut dilakukan karena perusahaan raksasa Jepang ini ingin mempertaruhkan segalanya pada perusahaan pembuat ChatGPT, OpenAI.
Dalam laporan keuangannya, SoftBank mengatakan telah menjual 32,1 juta saham Nvidia di bulan Oktober, dan juga memangkas posisi T-Mobile, sehingga menghasilkan US$ 9,17 miliar.
Sementara di AS, tiga indeks utama ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average menguat ke rekor penutupan baru pada hari Selasa, sementara Nasdaq Composite berjuang karena investor memindahkan uangnya dari saham-saham teknologi ke bagian lain dari pasar yang diperdagangkan dengan valuasi yang lebih rendah.
Indeks Dow yang terdiri dari 30 saham naik 559,33 poin, atau 1,18%, menjadi ditutup pada 47.927,96, dengan para pelaku pasar di Wall Street memborong saham-saham dari berbagai perusahaan blue-chip, termasuk perusahaan-perusahaan perawatan kesehatan, seperti Merck, Amgen, dan Johnson & Johnson.
Indeks S&P 500 juga naik 0,21% dan ditutup pada 6.846,61. Namun, Nasdaq yang banyak dipengaruhi oleh teknologi turun 0,25% dan ditutup pada 23.468,30.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
CEO Bank Besar ASEAN Wanti-Wanti Investor, Waspada Gejolak Ini!
CEO DBS, Tan Su Shan, peringatkan investor tentang volatilitas pasar global. Ia sarankan diversifikasi portofolio. [389] url asal
#ceo-bank #investasi #volatilitas-pasar #saham-teknologi #koreksi-pasar #diversifikasi-portofolio #risiko-investasi #ekonomi-global #singapura #pasar-keuangan
(CNBC Indonesia - Market) 08/11/25 15:44
v/32419/
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO bank terbesar di Asia Tenggara, Tan Su Shan, memperingatkan para investor untuk bersiap menghadapi gejolak pasar keuangan global di tengah valuasi saham Amerika Serikat (AS) yang kian tinggi. Ia menilai volatilitas akan menjadi tema besar dalam beberapa waktu ke depan.
"Kami telah melihat banyak volatilitas di pasar, bisa di ekuitas, suku bunga, atau valuta asing," ujar CEO DBS tersebut, seperti dikutip CNBC International, Sabtu (8/11/2025). "Saya memperkirakan volatilitas ini akan terus berlanjut."
Tan, yang menggantikan Piyush Gupta sebagai CEO DBS pada Maret lalu, menyoroti kekhawatiran investor terhadap valuasi tinggi saham-saham teknologi besar AS, yang dikenal sebagai Magnificent Seven, yakni Amazon, Alphabet, Meta, Apple, Microsoft, Nvidia, dan Tesla.
"Misalnya, ada triliunan dolar yang terikat pada tujuh saham itu. Dengan konsentrasi seperti itu, tak terelakkan akan muncul pertanyaan: 'Kapan gelembung ini akan pecah?'" tegas Tan.
Dalam forum Global Financial Leaders' Investment Summit di Hong Kong pekan ini, para pemimpin industri keuangan dunia juga menyoroti potensi koreksi pasar. CEO Morgan Stanley, Ted Pick, bahkan memperkirakan penurunan sebesar 10%-20% dalam 12 hingga 24 bulan mendatang.
Namun, Tan melihat koreksi sebagai hal positif. "Terus terang, koreksi akan sehat," ujarnya, seraya menyinggung bahwa pergerakan seperti itu merupakan bagian alami dari dinamika pasar.
Peringatan Tan sejalan dengan pandangan Dana Moneter Internasional (IMF) serta sejumlah gubernur bank sentral dunia, termasuk Jerome Powell (The Fed) dan Andrew Bailey (Bank of England), yang menyoroti risiko dari harga saham yang terlalu tinggi.
Lebih jauh, Tan menyarankan investor untuk memperkuat strategi diversifikasi, terutama di tengah ketidakpastian global.
"Baik dalam portofolio, rantai pasokan, maupun distribusi permintaan, diversifikasi saja," katanya.
Selain itu, ia juga menilai Asia, khususnya Singapura, akan menjadi tujuan investasi yang menarik ke depan.
"Kami memiliki supremasi hukum, sistem keuangan yang transparan dan terbuka, serta stabilitas politik. Singapura adalah tempat yang baik untuk berinvestasi dan mempertimbangkan diversifikasi," pungkasnya.
(tfa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Bursa Asia Rebound, Kompak Dibuka Hijau Pagi Ini
Bursa Asia menguat mengikuti rebound Wall Street, didorong oleh saham teknologi AI. [324] url asal
#bursa-asia #saham-teknologi #kecerdasan-buatan #ipo-weride #pony-ai #indeks-nikkei-225 #indeks-kospi #pasar-saham-hong-kong
(CNBC Indonesia - Market) 06/11/25 08:21
v/29264/
Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia bergerak naik mengikuti kenaikan Wall Street seiring rebound saham-saham teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Para investor kawasan Asia menantikan debut pasar perusahaan kendaraan otonom asal China, WeRide dan Pony.ai, di Hong Kong. Kedua perusahaan juga sudah terdaftar di Amerika Serikat.
Indeks acuan Nikkei 225 Jepang naik 1,45% pada pembukaan, sementara indeks Topix naik 0,98%.
Kemudian, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 2,5%, memimpin kenaikan regional dan pulih dari penurunan di sesi sebelumnya.
Sedangkan indeks Kosdaq yang berkapitalisasi kecil naik 2,01%. Lalu, Indeks ASX/S&P 200 Australia naik 0,58%.
Sedangkan kontrak berjangka untuk Indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan pembukaan yang lebih tinggi, diperdagangkan pada 26.150, dibandingkan dengan penutupan indeks sebelumnya di 25.935,41.
Mengutip CNBC Internasional, Pony.ai menetapkan harga penawaran IPO terakhir pada 139 dolar Hong Kong per saham, dan akan mendapatan dana segar HK$6,7 miliar (sekitar $860 juta). Sementara WeRide berpotensi mendapatkan dana segar HK$2,4 miliar.
Di sisi lain, ekuitas berjangka AS sedikit berubah di awal jam Asia setelah Mahkamah Agung menyatakan skeptisisme atas tarif Presiden Donald Trump, dan karena saham-saham AI pulih setelah aksi jual karena kekhawatiran valuasi.
Semalam, Dow Jones Industrial Average naik 225,76 poin, atau 0,48%, menjadi ditutup pada 47.311,00. S&P 500 naik 0,37% menjadi ditutup pada 6.796,29, sementara Nasdaq Composite naik 0,65% menjadi 23.499,80.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Diserbu Warga China, Raja HP Nyaris Jadi Raja Saham
Saham Apple melonjak 4% ke rekor tertinggi berkat penjualan iPhone 17 yang laris. [530] url asal
#iphone-17 #apple #saham-teknologi #pasar-saham #penjualan-smartphone #valuasi-perusahaan #diskon-iphone #permintaan-konsumen #inovasi-teknologi #strategi-pemasaran
(CNBC Indonesia - Tech) 21/10/25 09:24
v/10904/
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham Apple di Wall Street lompat 4 persen menyentuh rekor harga tertinggi pada penutupan. Pemicunya adalah kabar bahwa iPhone 17 laris manis di Amerika Serikat dan China.
Harga saham Apple diperdagangkan di harga US$ 262,24 pada penutupan pasar. Lonjakan harga saham di pasar nyaris mengangkat valuasi Apple melampaui US$ 4 triliun (Rp 66.270 triliun). Saat ini, baru ada dua perusahaan yang valuasinya sempat melampaui US$ 4 triliun, yaitu Nvidia dan Microsoft.
Menurut data Counterpoint,penjualan seri iPhone 17 yang dirilis pada September sudah 14 persen lebih banyak dibanding iPhone 16 di pasar AS dan China.
"Model dasar iPhone 17 sangat memikat konsumen, menawarkan value for money. Chip yang lebih baik, displai yang lebih bagus, kapasitas penyimpanan yang lebih lega, upgrade kamera selfie, di harga yang sama seperti iPhone 16 pada peluncurannya. Membeli iPhone 16 keputusan yang mudah, apalagi dengan adanya diskon dan voucer," kata Mengmeng Zhang, analis Counterpoint.
Loop Capital, bank investasi AS, menyatakan saham Apple bakal meneruskan rally seiring kuatnya permintaan atas iPhone. Mereka menaikkan target harga saham Apple dari US$ 226 ke US$ 315.
CEO Apple Tim Cook pekan lalu mengunjungi karyawan Apple dan pejabat pemerintah di China. Ia hadir dalam acara peluncuran iPhone Air, yang disebut ludes hanya dalam beberapa menit.
iPhone 16 baru dipamerkan selama pengumuman produk baru di kantor pusat Apple pada hari Senin, 9 September 2024, di Cupertino, California. (AP Photo/Juliana Yamada) |
iPhone 16 Tak Laku
Permintaan yang tinggi atas iPhone 17 berbanding terbalik dengan respons konsumen atas iPhone 16 saat diluncurkan tahun lalu. Laporan firma riset IDC untuk kuartal-I (Q1) 2025 menunjukkan penjualan iPhone di China anjlok 9% secara tahun-ke-tahun (YoY).
Dalam upaya untuk menggenjot penjualan, beberapa platform e-commerce di China menawarkan diskon besar-besaran untuk model iPhone 16. Tak tanggung-tanggung, pemangkasan harganya mencapai 2.530 yuan atau setara Rp5,8 jutaan.
JD terpantau menjual iPhone 16 Pro varian 128GB dengan harga 5.469 yuan, turun 2.530 yuan dari harga resmi Apple sebesar 7.999 yuan, dikutip dari Reuters, Kamis (15/5/2025).
Tak mau kalah, Tmall milik Alibaba menawarkan diskon yang kompetitif. iPhone 16 Pro dengan penyimpanan 128GB dijual 5.499 yuan atau lebih murah 2.500 yuan dari harga resmi Apple.
Reuters tak bisa memastikan apakah diskon yang tersebar ditawarkan oleh Apple atau murni merupakan inisiatif platform untuk menggenjot daya beli masyarakat.
Sebelumnya, Apple sudah pernah memangkas harga untuk model iPhone teranyar selama festival '618' di China. Ajang itu merupakan hari belanja bertabur diskon terbesar di China, menurut analis senior IDC.
Pada Januari lalu, Apple menawarkan diskon secara mendadak hingga 500 yuan. Diskon itu dipampang di laman resminya. Platform e-commerce pun turut menyesuaikan harga usai diskon resmi Apple diterbitkan.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
IHSG Turun 0,37%, Saham Perbankan & Batu Bara Jadi Penekan
IHSG ditutup turun 0,37% di zona merah, dipengaruhi oleh sektor properti dan perbankan. Pasar Asia juga tertekan setelah pernyataan Trump tentang tarif impor. [529] url asal
#ihsg #pasar-saham #bursa-asia #donald-trump #tarif-impor #koreksi-pasar #saham-teknologi #logam-tanah-jarang #ekonomi-global
(CNBC Indonesia - Market) 13/10/25 15:59
v/1701/
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari ini, Senin (13/10/2025) di zona merah. Setelah sempat memangkas koreksi, indeks akhirnya ditutup turun 0,37% atau 30,66 poin ke level 8.227,2.
Sebanyak 248 saham naik, 467 turun, dan 241 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 27,22 triliun, melibatkan 41,31 miliar saham dalam 2,82 juta kali transaksi.
Adapun indeks sepanjang hari ini bergerak pada rentang 8.133,63–8.288,28. Pagi tadi indeks sempat anjlok lebih dari 1%.
Mengutip Refinitiv, mayoritas sektor mengalami kontraksi. Properti turun paling dalam, yakni -3,54% dan diikuti oleh finansial -1,43% dan konsumer non-primer -1,18%.
Sementara itu, mayoritas saham yang menjadi pemberat hari ini adalah emiten perbankan, tambang, dan energi. BRI (BBRI) yang harga sahamnya turun 1,88% membebani -8,25 indeks poin. Kemudian BCA (BBCA) dan BNI (BBNI), masing-masing berkontribusi -7,01 indeks poin dan -2,38 indeks poin terhadap koreksi IHSG.
Emiten tambang batu bara milik Sinar Mas, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) -6,88 indeks poin
Sektor properti merosot seiring dengan jatuhnya saham Pantai Indah Kapuk 2 (PANI). Saham PANI turun 7,8% setelah Proyek pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 Tropical Coastland dihapus dari daftar Proyek Strategis Nasional.
Dalam perkembangan terpisah, bursa Asia-Pasifik juga bergerak di zona merah. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 2,04%, sedangkan indeks CSI 300 di China turun 0,5%.
Di Australia, ASX/S&P 200 turun 0,84% dan Kospi Korea Selatan ditutup turun 0,72%.
Pasar Asia ambruk setelah kalimat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengguncang pasar keuangan dunia. Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyatakan niat untuk menaikkan tarif impor terhadap seluruh produk asal China hingga 100%.
Pasar global sontak panik, dan hanya dalam waktu 24 jam, kapitalisasi pasar Wall Street menyusut lebih dari Rp33.000 triliun, menjadikannya salah satu koreksi terbesar tahun ini.
Sentimen yang semula membaik setelah perundingan dagang AS-China kini kembali muram, menambah ketidakpastian terhadap arah ekonomi global yang belum benar-benar stabil setelah era suku bunga tinggi.
Reaksi berantai langsung terjadi di pasar saham global. Indeks Nasdaq jatuh 3,56%, S&P 500 terkoreksi 2,71%, dan Dow Jones merosot hampir 2%. Saham-saham teknologi menjadi tumbal paling dalam Nvidia rontok 5%, AMD 8%, Apple 3%, dan Tesla 5%. Sementara itu, dari Beijing, pemerintah China tak tinggal diam.
China memproduksi lebih dari 90% logam tanah jarang dan magnet tanah jarang olahan dunia. Banyak di antaranya merupakan material vital dalam berbagai produk, mulai dari kendaraan listrik hingga mesin pesawat terbang dan radar militer.
Negeri Tirai Bambu memperketat izin ekspor logam tanah jarang (rare earths), komponen vital bagi industri kendaraan listrik dan pertahanan, yang secara simbolik menjadi langkah balasan terhadap Washington.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56
iPhone 16 baru dipamerkan selama pengumuman produk baru di kantor pusat Apple pada hari Senin, 9 September 2024, di Cupertino, California. (AP Photo/Juliana Yamada)