Bisnis.com, JAKARTA – Dari pertahanan, energi bersih, hingga diplomasi Palestina, kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis menandai fase baru hubungan Jakarta–Paris di tengah dunia yang makin multipolar.
Di Les Invalides, kompleks bersejarah militer Prancis yang selama ini identik dengan Napoleon Bonaparte dan parade kehormatan negara-negara besar dunia, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima penyambutan kenegaraan penuh dari Pemerintah Prancis. Dari sana, iring-iringan kendaraan Presiden RI bergerak menuju Istana Élysée dengan pengawalan 146 pasukan berkuda dan 27 personel motoris.
Di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang Ukraina, konflik Timur Tengah, rivalitas Amerika Serikat dan China, hingga ancaman gangguan rantai pasok energi dunia, Indonesia dan Prancis memilih memperkuat jalur kerja sama. Presiden Prabowo dan Presiden Emmanuel Macron sepakat membawa hubungan kedua negara menuju Comprehensive Strategic Partnership atau Kemitraan Strategis Komprehensif.
Kesepakatan itu diumumkan usai pertemuan bilateral di Istana Élysée, Kamis (28/5/2026) waktu setempat. Bukan hanya soal pertahanan dan ekonomi, kemitraan tersebut juga menyentuh isu energi bersih, pendidikan, teknologi, inovasi, sampai posisi geopolitik kedua negara di tengah dunia yang semakin multipolar.
Kunjungan Prabowo ke Prancis kali ini juga menjadi simbol kedekatan yang kian intens. Dalam pidatonya dihadapan Macron, Prabowo bahkan menyebut dirinya sudah tiga kali mengunjungi Prancis hanya dalam kurun waktu satu tahun.
“Sebagaimana diketahui, tahun ini saja saya sudah tiga kali ke Prancis dan tahun lalu Indonesia mendapat kehormatan besar, diundang bisa ikut dalam defile 14 Juli hari kebangsaan bagi Republik Prancis. Ini saya kira kehormatan sangat besar,” ujar Prabowo.
Diplomasi yang Semakin Intens
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menjelaskan bahwa kunjungan Prabowo ke Paris sebenarnya merupakan undangan balasan dari Presiden Macron yang sempat tertunda beberapa kali.
Menurut Sugiono, Presiden Macron sebelumnya telah mengundang Presiden Prabowo sejak April 2026. Namun penjadwalan kunjungan kala itu belum dapat direalisasikan karena masalah kecocokan waktu.
“Ini adalah undangan dari Presiden Macron yang sebenarnya sempat tertunda. Jadi waktu itu, saya kalau tidak salah tanggal bulan April, kunjungan yang diharapkan dilaksanakan. Namun waktu yang tidak cocok pada saat itu,” kata Sugiono.
Sugiono menuturkan, ketika Presiden Prabowo bertemu kembali dengan Macron di Paris dalam kesempatan sebelumnya, Presiden Prancis itu kembali mengajukan undangan resmi. Karena sudah dua kali diundang, Prabowo akhirnya memenuhi undangan tersebut dan melakukan kunjungan kenegaraan resmi ke Prancis.
“Dan hadir di Paris dan meragakan kunjungan ke negara itu. Sebagai kunjungan balasan dari kunjungan Presiden Macron ke Indonesia,” kata Sugiono.
Kunjungan kenegaraan ini memang bukan sekadar seremoni diplomatik. Intensitas komunikasi kedua pemimpin menunjukkan bahwa hubungan Jakarta dan Paris tengah dipersiapkan menjadi salah satu poros penting Indonesia di Eropa.
Data Kementerian Luar Negeri RI menunjukkan bahwa hubungan bilateral Indonesia–Prancis terus berkembang dalam satu dekade terakhir. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 diperkirakan mencapai lebih dari US$3 miliar setara dengan sekitar Rp53,64 triliun dengan tren peningkatan investasi di sektor pertahanan, energi, infrastruktur, dan industri kreatif.
Prancis juga menjadi salah satu investor Eropa penting di Indonesia. Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi Prancis di Indonesia dalam lima tahun terakhir tersebar di sektor energi, manufaktur, transportasi, dan pengolahan mineral.
Tidak hanya itu, posisi Prancis sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan salah satu motor utama Uni Eropa membuat Paris dipandang strategis bagi diplomasi Indonesia di kawasan Barat.
Gerbang Eropa dan Gerbang Asia
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut kunjungan ini memiliki dimensi strategis yang jauh lebih luas dibanding hubungan bilateral biasa.
Menurut Teddy, Indonesia dan Prancis saat ini saling melengkapi dalam hubungan global. Indonesia dipandang sebagai salah satu gerbang utama hubungan Eropa ke Asia, sementara Prancis merupakan gerbang penting Asia Tenggara menuju kawasan Eropa.
“Saat ini, Indonesia memiliki banyak kerja sama super strategis dengan Prancis, dan state visit ini diharapkan makin memperkuat posisi Indonesia di Eropa, khususnya Prancis,” kata Teddy.
Tak hanya itu, Teddy menekankan bahwa kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Prancis menghasilkan penguatan kerja sama ekonomi dan investasi kedua negara, termasuk tercapainya empat kesepakatan komersial baru di sektor strategis dengan nilai tembus Rp23,23 kuadrilium atau US$1,3 triliun.
Dalam keterangannya, Teddy menyoroti peluncuran forum bisnis France–Indonesia High Level Business Council yang dihadiri langsung oleh Prabowo dan Presiden Prancis Emmanuel Macron usai pertemuan bilateral di Istana Élysée.
Forum tersebut diinisiasi Kamar Dagang dan Industri Indonesia bersama MEDEF International sebagai wadah penguatan kemitraan ekonomi strategis kedua negara.
“Forum bisnis ini mempertemukan 30 pimpinan industri dan perusahaan terkemuka dari Indonesia dan Prancis dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai US$1,3 triliun,” tulisnya.
Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, Indonesia dan Prancis juga mencatat empat kesepakatan komersial baru yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan.
Meskipun tidak merinci nilai keseluruhan kesepakatan terbaru itu, tetapi pemerintah menilai capaian tersebut memperkuat tren peningkatan investasi dan hubungan dagang kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
Forum bisnis France–Indonesia High Level Business Council juga disebut akan berperan mengawal implementasi berbagai nota kesepahaman dan komitmen investasi yang sebelumnya telah disepakati.
Seskab mencatat saat kunjungan Presiden Macron ke Indonesia pada Mei 2025 lalu, kedua negara menandatangani 27 nota kesepahaman dengan total nilai lebih dari US$11 miliar.
“Forum juga berkomitmen mengawal implementasi berbagai nota kesepahaman (MoU) dan komitmen investasi yang telah disepakati sebelumnya,” tandas Teddy.
Dalam pandangan pemerintah, posisi geopolitik Indonesia di Indo-Pasifik menjadi semakin penting di tengah meningkatnya rivalitas global. Sementara itu, Prancis juga memiliki kepentingan strategis besar di Indo-Pasifik karena memiliki wilayah teritorial dan pangkalan militer di kawasan tersebut.
Prancis selama beberapa tahun terakhir memang aktif memperkuat strategi Indo-Pasifiknya. Pemerintah Macron secara terbuka mendorong terciptanya tatanan kawasan yang tidak didominasi satu kekuatan besar tertentu.
Hal ini sejalan dengan posisi Indonesia yang selama ini konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Dalam pidatonya, Macron bahkan secara eksplisit menyebut Indonesia sebagai mitra utama Prancis di Indo-Pasifik.
“Kami meyakini bahwa di Indo-Pasifik ada sebuah strategi, sebuah jalan ketiga yang harus ditempuh, yang bukan berupa ketundukan kepada salah satu dari dua kekuatan ekonomi besar dunia,” ujar Macron.
Presiden Prancis itu menilai Indonesia dan Prancis dapat membangun koalisi negara-negara independen yang tetap ingin berdaulat tanpa jatuh dalam ketergantungan eksklusif terhadap kekuatan global tertentu.
Bagi Macron, kerja sama dengan Indonesia bukan hanya soal perdagangan, tetapi bagian dari upaya membangun tatanan dunia multipolar.
Pertahanan Jadi Pilar Utama
Jika ada sektor yang paling cepat berkembang dalam hubungan Indonesia–Prancis beberapa tahun terakhir, maka jawabannya adalah pertahanan.
Kerja sama pertahanan kedua negara meningkat tajam sejak Indonesia memutuskan membeli jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation. Kontrak pengadaan Rafale Indonesia menjadi salah satu kerja sama pertahanan terbesar Prancis di Asia Tenggara.
Dalam pernyataan bersama di Élysée, Macron menegaskan bahwa pengiriman jet Rafale pertama ke Indonesia menjadi simbol konkret pendalaman kerja sama strategis kedua negara.
“Pengiriman dalam beberapa bulan terakhir pesawat tempur Rafale pertama yang dibeli Indonesia menjadi ilustrasi yang sangat jelas,” ujar Macron.
Tidak hanya Rafale, kerja sama kedua negara juga berkembang ke bidang radar, pelatihan militer, latihan gabungan, penguatan angkatan laut, hingga pengembangan industri pertahanan.
Namun di balik ekspansi kerja sama tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai sejauh mana Indonesia benar-benar mendapatkan transfer teknologi dan manfaat industri.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menegaskan DPR akan memastikan kerja sama pertahanan tidak berhenti pada pembelian alutsista. Menurut Sukamta, kerja sama strategis dengan Prancis harus menjadi momentum memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.
“Bagi DPR, khususnya Komisi I, prinsip dasarnya sangat jelas: kerja sama pertahanan tidak boleh berhenti pada transaksi pembelian alutsista, tetapi harus menjadi instrumen untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional,” ujar Sukamta saat dihubungi Bisnis pada Jumat (29/5/2026).
Dia menekankan pentingnya transfer of technology, transfer of knowledge, joint production, hingga peningkatan kapasitas SDM dalam setiap kerja sama strategis.
“Indonesia tidak boleh terus berada pada posisi buyer, tetapi secara bertahap harus naik kelas menjadi partner produksi, pengembang teknologi, bahkan pada tahap tertentu menjadi bagian dari rantai pasok global industri pertahanan,” katanya.
Sukamta menekankan bahwa DPR ingin memastikan belanja pertahanan tidak hanya meningkatkan kekuatan militer, tetapi juga memberi efek berganda bagi industri nasional.
“Belanja pertahanan tidak hanya meningkatkan deterrence capability, tetapi juga menghasilkan multiplier effect bagi teknologi, industri, dan ekonomi nasional,” ujar Sukamta.
Diplomasi Palestina dan Politik Bebas Aktif
Selain pertahanan, isu Palestina menjadi salah satu topik utama dalam pertemuan Prabowo dan Macron. Kedua pemimpin sama-sama menegaskan dukungan terhadap solusi dua negara dan pentingnya mengakhiri pendudukan ilegal wilayah Palestina.
Kesamaan posisi tersebut dinilai membuka peluang Indonesia memperluas leverage diplomatiknya di Eropa. Sukamta mengatakan kemitraan strategis Indonesia–Prancis dapat menjadi aset diplomatik penting di tengah dunia yang semakin multipolar.
“Indonesia perlu memanfaatkan kemitraan strategis ini untuk membangun lebih banyak diplomatic leverage, termasuk mendorong negara-negara berpengaruh di Eropa agar mengambil langkah yang lebih konstruktif terhadap perdamaian yang adil bagi Palestina,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan Indonesia terhadap Palestina bukan hanya isu politik luar negeri, tetapi amanat konstitusi.
“Bagi Indonesia, dukungan terhadap Palestina bukan hanya isu politik luar negeri, tetapi amanat konstitusi untuk menentang penjajahan dalam segala bentuk,” katanya.
Sukamta juga menilai hubungan erat dengan Prancis menunjukkan Indonesia mampu tetap konsisten mendukung Palestina tanpa kehilangan ruang kerja sama dengan negara-negara besar.
“Ini menegaskan karakter politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif: independen, prinsipil, tetapi tetap dialogis dan konstruktif,” pungkas Sukamta.
Dunia Multipolar dan Ambisi Middle Power
Direktur Eksekutif Global Insight Forum Teuku Rezasyah melihat hubungan Indonesia–Prancis jauh melampaui sekadar hubungan bilateral biasa. Menurutnya, kemitraan strategis komprehensif dengan Prancis dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai qualified middle power atau kekuatan menengah yang berkualitas.
“Status RI tersebut akan semakin kokoh jika keduanya mampu memadukan kebijakan luar negeri dalam sebuah kebijakan gabungan,” ujar Rezasyah.
Dalam pandangannya, Indonesia membawa aspirasi Gerakan Non-Blok dan Organisasi Kerja Sama Islam, sementara Prancis mewakili jaringan Francophone dan kekuatan Eropa.
Kolaborasi keduanya dinilai dapat melahirkan pengaruh baru dalam percaturan global. Rezasyah juga mengusulkan gagasan menarik mengenai penerapan konsep Zone of Peace, Freedom and Neutrality atau ZOPFAN di Selat Hormuz.
Dia menilai bahwa, Indonesia dan Prancis dapat berkolaborasi membangun kawasan Selat Hormuz sebagai wilayah damai, bebas, dan netral di tengah meningkatnya ketegangan Iran–Israel dan ancaman terhadap jalur energi global.
“Keduanya dapat membangun sebuah ide Zone of Peace, Freedom and Neutrality dari Asia Tenggara untuk diterapkan di kawasan Selat Hormuz,” ujarnya.
Gagasan tersebut menunjukkan bagaimana hubungan Indonesia–Prancis kini mulai masuk ke ranah geopolitik global. Apalagi, kata Reza, dalam pernyataan bersama, kedua negara memang menyoroti meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan menegaskan pentingnya kebebasan navigasi.
Hal ini menjadi penting karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari. Gangguan di kawasan itu dapat langsung berdampak terhadap harga energi global. Indonesia sebagai importir minyak dan Prancis sebagai ekonomi industri sama-sama berkepentingan menjaga stabilitas kawasan tersebut.
Energi Bersih dan Transisi Hijau
Selain pertahanan dan geopolitik, transisi energi menjadi salah satu fokus baru hubungan Indonesia–Prancis. Kedua negara menegaskan dukungan terhadap implementasi Paris Agreement dan percepatan transisi energi.
Prancis juga mendukung implementasi Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia yang diluncurkan sejak KTT G20 Bali. JETP Indonesia sendiri memiliki nilai komitmen pendanaan internasional sekitar US$20 miliar yang bertujuan membantu percepatan pengurangan emisi karbon dan transisi energi bersih.
Dalam beberapa tahun terakhir, Prancis aktif mendukung proyek energi hijau di Indonesia melalui Agence Française de Développement (AFD). Kerja sama energi kedua negara juga berkembang ke bidang mineral kritis, kendaraan listrik, hingga kemungkinan pengembangan energi nuklir sipil.
Dalam pernyataan bersama, Indonesia menyatakan minat menjajaki kerja sama dengan Prancis terkait infrastruktur energi nuklir yang aman dan berkelanjutan. Hal ini menjadi menarik karena Indonesia selama bertahun-tahun masih berhati-hati terkait pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Di sisi lain, Prancis merupakan salah satu negara dengan teknologi nuklir paling maju di dunia. Sekitar 70% listrik Prancis berasal dari tenaga nuklir. Bagi Indonesia, kerja sama energi dengan Prancis berpotensi membuka akses terhadap teknologi energi rendah karbon yang lebih maju.
Pertaruhan Politik Luar Negeri Prabowo
Reza melanjutkan bahwa kunjungan Prabowo ke Prancis juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter politik luar negeri pemerintahannya.
Sejak dilantik pada Oktober 2024, Prabowo aktif melakukan lawatan ke berbagai negara besar, mulai dari China, Jepang, Amerika Serikat, Turki, Rusia, hingga negara-negara Timur Tengah dan Eropa.
Langkah itu menunjukkan upaya Indonesia memperluas ruang manuver diplomasi di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.
“Berbeda dengan era Perang Dingin yang bipolar, dunia saat ini bergerak menuju pola multipolar dengan munculnya berbagai kekuatan regional. Indonesia tampaknya ingin mengambil posisi sebagai middle power yang aktif membangun hubungan dengan semua pihak,” ucap Reza.
Meskipun hubungan Indonesia–Prancis berkembang pesat, tetapi Reza menekankan bahwa tantangan tetap ada. Salah satunya adalah memastikan seluruh komitmen benar-benar terealisasi.
Pengalaman masa lalu menunjukkan banyak kerja sama internasional berhenti di level MoU tanpa implementasi konkret. Oleh karena itu, pembentukan High Level Business Council dan berbagai working group menjadi penting agar kerja sama dapat berjalan berkelanjutan.
Rezasyah menilai Indonesia dan Prancis perlu membangun kerja sama yang realistis dan berkesinambungan.
“Diperlukan studi bersama yang jujur dan mendalam, demi terbangunnya kerja sama sekecil apapun namun mampu bergulir cepat dan berkesinambungan,” tandas Reza.