Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) memandang Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) alias Whoosh, perlu mengerek tingkat keterisian jumlah penumpang agar mampu membayar utang.
Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian dan Angkutan Antarkota MTI Aditya Dwi Laksana mengungkapkan, meski terus mengalami peningkatan, sampai dengan saat ini okupansi pengguna Whoosh masih berkisar rata-rata 20.000 penumpang per hari. Pada liburan sekolah, mampu mencapai 24.000 penumpang per hari.
Padahal bila diasumsikan terisi penuh, jumlah penumpang Whoosh setidaknya mampu membawa 36.000 penumpang per hari dengan jumlah perjalanan yang sama seperti saat ini, yakni 62 perjalanan di hari biasa dan 56 perjalanan di akhir pekan.
Sementara mengacu pada studi yang dilakukan oleh salah satu perguruan tinggi, lanjut Adit, potensi penumpang Whoosh diproyeksikan dapat mencapai 30.000 penumpang per hari.
“Dalam pandangan saya, dengan jumlah penumpang sebesar ini setidaknya sudah mulai diproyeksikan akan dapat menutupi biaya operasional atau pun beban pinjaman Whoosh, namun tentu ini tantangannya tidak mudah,” ujarnya, Rabu (15/10/2025).
Adit menuturkan bahwa PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) harus mampu membidik penumpang dari kelas pekerja dan pengusaha, yang mampu meningkatkan okupansi di hari kerja.
Dengan demikian, KCIC tidak hanya bergantung kepada pengguna musim liburan atau akhir pekan seperti saat ini. Selain itu, KCIC juga harus mampu mengisi okupansi di jam-jam yang bukan merupakan jam favorit seperti di malam hari.
Di samping pendapatan dari tiket, Adit menilai KCIC harus mampu meningkatkan pendapatan yang tidak berasal dari tiket (nonfarebox revenue) agar tercipta diversifikasi pendapatan untuk menambah pendapatan KCIC yang tidak hanya bergantung pada tiket.
Misalnya, seperti dari sektor periklanan, penamaan stasiun, properti, penyewaan area komersial, hingga lahan parkiran.
Hingga saat ini, Kereta Cepat Whoosh telah melayani hampir 11,7 juta penumpang sejak pertama kali beroperasi, yakni pada 17 Oktober 2023.
Apabila membandingkan dengan potensi 30.000 orang per hari, artinya dalam satu tahun seharusnya jumlah penumpang Whoosh dapat mencapai 10,95 juta penumpang. Dalam dua tahun, artinya jumlah penumpang seharusnya mencapai hampir 22 juta.
Untuk diketahui, KCJB berada di bawah PT Kereta Api Indonesia (Persero). KAI melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memegang porsi saham sebesar 58,53% pada KCIC.
Secara umum pada semester I/2025, pendapatan KAI mencapai Rp16,84 triliun atau naik sekitar 2% secara tahunan atau year on year (YoY). Laba bersih naik 8% menjadi Rp1,18 triliun. Laba ini pun terpantau telah lebih tinggi dari laba 2022 dan 2023 yang masing-masing senilai Rp1,69 triliun dan Rp1,87 triliun.
Melihat Laporan Keuangan KAI 2024, tercatat PSBI mengalami kerugian mencapai Rp4,2 triliun. Sementara pada Laporan Keuangan KAI sampai dengan semester I/2025, kerugian telah mencapai Rp1,62 triliun.
Sementara pendapatan KAI dari KCIC pada 2024 tercatat senilai Rp76,3 milliar. Hingga semester I/2025, pendapatan mencapai Rp22,39 miliar.
Beban Utang Whoosh
Anggota Komisi VI DPR Darmadi Darianto sebelumnya menyoroti, utang kereta cepat menjadi beban dan dapat menggerus laba KAI yang mengalami tren kenaikan.
“Pada 2025 itu beban keuangan dari kerugian KCIC bisa mencapai Rp4 triliun lebih.
Sekarang 6 bulan, beban keuangan sudah Rp1,2 triliun. Beban KCIC sudah Rp950 miliar, kalau dikali dua sudah Rp4 triliun lebih, 2024 itu Rp3,1 triliun,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Agustus lalu.
Untuk itu, DPR mendorong KAI berkoordinasi dengan Danantara untuk mencari solusi agar urusan utang dapat menemukan titik terang.
Terkini, BPI Danantara menyebut pihaknya masih terus mengaji sejumlah opsi terkait penanganan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Kereta Cepat Whoosh.
CEO Danantara Rosan Roeslani menuturkan bahwa hingga saat ini pihaknya masih terus mengevaluasi sejumlah opsi yang dapat dilakukan dalam menangani utang proyek tersebut. Rosan menuturkan, proses evaluasi penanganan utang proyek Kereta Cepat dilakukan oleh COO Danantara, Dony Oskaria.
Dia juga menegaskan Danantara belum melakukan pembicaraan dengan kementerian lain, termasuk Kementerian Keuangan.
"Kita juga belum berbicara ke pihak lain, apalagi Kementerian Keuangan terkait hal ini. Kita lagi mencari opsi-opsi, kan selalu ada opsi satu, opsi dua, dan lainnya," jelas Rosan saat ditemui di Forbes Global CEO Conference 2025 di Jakarta pada Selasa (14/10/2025).